Aspal Jakarta yang panas seolah hendak melelehkan sol sandal jepit Maryam yang sudah tipis. Di terminal tadi, ia sempat terpaku selama beberapa menit, hanya untuk melihat arus manusia yang bergerak begitu cepat seperti sekumpulan semut yang terganggu sarangnya. Tidak ada yang menoleh padanya. Tidak ada yang berbisik di balik punggungnya. Di kota ini, Maryam hanyalah butiran debu di tengah badai polusi yang menyesakkan dada.
Ia menggendong tas kainnya lebih erat. Di dalamnya terdapat sisa uang hasil kerja kerasnya di warteg Bu Sari, beberapa potong pakaian, dan sebuah harapan kosong bahwa kutukan itu tidak ikut menyeberangi perbatasan provinsi. Maryam berjalan menyusuri trotoar yang penuh dengan pedagang kaki lima. Aroma minyak goreng yang dipanaskan berulang kali, asap knalpot hitam dari bus kota yang menderu, serta bau got yang menguap karena terik matahari menyergap indra penciumannya. Semuanya terasa sangat nyata dan kasar, berbeda jauh dengan bau dupa atau kembang kantil yang biasa menghantuinya.
Setelah bertanya ke sana kemari dan menumpang angkot yang sesak hingga bahunya bersentuhan dengan lengan orang asing yang berkeringat, Maryam sampai di sebuah gang sempit di daerah Jakarta Pusat. Gang itu hanya cukup untuk dilewati satu motor. Di sisi kiri dan kanan, rumah-rumah petak berdiri berhimpitan, dengan jemuran pakaian yang melintang di atas kepala, menghalangi cahaya matahari.
“Cari siapa, Neng?” seorang perempuan paruh baya dengan daster batik pudar menegurnya. Perempuan itu sedang duduk di depan rumahnya sambil mengipasi diri dengan potongan kardus.
“Saya cari kos-kosan murah, Bu. Katanya di sekitar sini ada,” jawab Maryam pelan. Suaranya terdengar parau karena debu jalanan.
Perempuan itu memperhatikannya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tatapannya tidak mengandung kebencian, hanya rasa ingin tahu yang praktis. “Oh, punya Bu Linda di ujung gang itu. Kamarnya kecil, tapi airnya lancar. Kamu dari mana? Kelihatannya capek sekali.”
“Dari Jawa Tengah, Bu. Mau cari kerja di sini,” Maryam mencoba tersenyum, meski otot wajahnya terasa kaku.
“Ya sudah, sana samperin. Bilang saja disuruh Bu RT. Nama saya Bu RT di sini,” kata perempuan itu sambil kembali mengayunkan kardusnya.
Maryam mengangguk dan melanjutkan langkahnya. Ia menemukan rumah yang dimaksud. Bu Linda, pemilik kos itu, adalah wanita yang bicara cepat dan tidak suka berbasa-basi. Tanpa banyak tanya soal latar belakang, ia langsung menunjukkan sebuah kamar di lantai dua yang hanya bisa diakses melalui tangga besi yang berkarat dan curam.
Kamarnya sangat kecil, mungkin hanya dua kali tiga meter. Di dalamnya hanya ada sebuah kasur tipis di lantai, sebuah lemari plastik yang pintunya miring, dan satu lampu bohlam kuning yang redup. Jendelanya hanya berupa celah kecil yang menghadap ke atap seng tetangga.
“Satu bulannya sekian. Bayar di muka. Listrik jangan pakai rice cooker kalau tidak mau jepret,” kata Bu Linda sambil menjulurkan tangan, meminta uang sewa.
Maryam merogoh sakunya, menghitung lembaran uang yang sudah agak kumal, lalu menyerahkannya. Setelah menerima kunci cadangan yang sudah menghitam, Bu Linda pergi meninggalkannya sendirian.
Maryam menutup pintu kayu yang tipis itu dan mengunci gerendelnya. Ia menyandarkan punggungnya di pintu, lalu perlahan merosot jatuh ke lantai semen yang terasa dingin. Ruangan itu pengap dan berbau debu, tapi bagi Maryam, ini adalah benteng pertahanannya yang pertama. Ia memejamkan mata, mencoba mendengarkan detak jantungnya sendiri di tengah kebisingan suara televisi dan teriakan anak-anak dari luar gang.
“Aku sudah sampai,” bisiknya pada diri sendiri.
Ia menunggu. Ia menunggu suara tawa melengking itu. Ia menunggu bisikan parau ayahnya atau dingin yang merayap di tengkuknya. Namun, yang terdengar hanyalah suara mesin motor yang digeber di kejauhan dan suara tetangga sebelah yang sedang mengomeli suaminya.
Maryam membuka tasnya, mengeluarkan sebotol air mineral yang sudah hangat. Ia meminumnya hingga tandas. Rasa haus yang membakar di kerongkongannya sedikit mereda. Ia memandang sekeliling kamar. Tidak ada pohon randu alas di sini. Tidak ada hutan pinus yang gelap. Hanya tembok kusam dengan bekas coretan pensil yang entah dibuat oleh siapa.
Ia merasa menang. Untuk sementara, ia merasa telah berhasil mengubur Maryam yang lama di bawah tumpukan beton Jakarta.
Sore harinya, Maryam memutuskan untuk keluar mencari makan. Ia berjalan ke arah jalan besar dan menemukan sebuah warung nasi sederhana. Sambil makan, ia memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Ada buruh bangunan yang tertawa keras sambil merokok, ada pegawai kantor yang tampak layu karena tekanan pekerjaan, dan ada pengemis yang duduk diam di pojokan.
“Neng, mau tambah teh manisnya?” tanya pelayan warung, seorang pemuda dengan handuk kecil melilit di lehernya.
“Boleh, Mas,” jawab Maryam.
“Baru ya di sini? Mukanya asing,” pemuda itu menuangkan teh panas ke dalam gelas plastik berisi es batu.
“Iya, baru sampai tadi siang.”
“Hati-hati di Jakarta, Neng. Jangan gampang percaya sama orang. Di sini kalau tidak cerdik, bisa habis dimakan keadaan,” pemuda itu memberikan nasihat yang terdengar tulus namun dingin.
“Terima kasih, Mas. Saya akan ingat itu,” jawab Maryam singkat.
Setelah selesai makan, Maryam kembali ke kosannya. Hari mulai gelap. Langit Jakarta tidak pernah benar-benar hitam, selalu ada rona kemerahan dari pantulan lampu-lampu kota yang seolah tidak pernah tidur. Ia menaiki tangga besi yang berderit setiap kali kakinya berpijak.
Saat sampai di depan pintunya, Maryam berhenti. Ia melihat ada sesuatu di lantai, tepat di depan ambang pintu kamarnya. Sebuah benda kecil yang tampak kontras dengan lantai semen yang kotor.
Maryam berjongkok untuk mengambilnya. Jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba. Itu adalah sekuntum bunga kantil yang masih segar, putih kekuningan dengan aroma yang sangat kuat. Padahal di sepanjang gang tadi, ia tidak melihat satu pun pohon bunga atau orang yang menjual bunga rontok.
Ia menggenggam bunga itu. Jemarinya gemetar. Aroma bunga itu menusuk hidungnya, mengalahkan bau debu dan asap yang tadi ia hirup. Maryam segera membuka pintu kamarnya, masuk ke dalam, dan menguncinya rapat-rapat.
Ia duduk di tepi kasur, menatap bunga itu di bawah cahaya lampu bohlam yang berkedip-kedip. Tiba-tiba, lampu itu mati.
Kamar menjadi gelap gulita. Maryam menahan napas. Di tengah kegelapan itu, ia mendengar suara halus, seperti gesekan kain di lantai semen. Suara itu berasal dari sudut kamar yang paling gelap, di dekat lemari plastik yang miring.
“Kamu pikir jarak bisa memutuskan rantai itu, Maryam?”
Suara itu bukan berasal dari kepalanya. Suara itu terdengar nyata, seolah seseorang berdiri hanya beberapa jengkal darinya. Suaranya kering, dingin, dan membawa aroma tanah basah yang sudah lama terkubur.
Maryam memejamkan mata rapat-rapat, mencoba meraba-raba mencari korek api di saku tasnya. Tangannya menyentuh sesuatu yang dingin dan berbulu di atas kasur, tepat di samping pahanya. Ia tersentak, menjauh hingga punggungnya menabrak tembok.
“Jangan takut,” bisik suara itu lagi, kali ini tepat di telinganya. “Aku hanya ingin memastikan wadahku tetap terjaga. Jakarta terlalu bising untukmu. Kamu butuh aku agar tidak tersesat.”
Tiba-tiba lampu menyala kembali dengan suara dengungan pendek. Kamar itu kosong. Tidak ada siapa-siapa di sudut kamar. Tidak ada sesuatu pun di atas kasur. Hanya Maryam yang duduk meringkuk dengan napas yang memburu.
Namun, saat ia melihat ke telapak tangannya, bunga kantil itu sudah tidak ada. Sebagai gantinya, telapak tangannya menghitam, seolah baru saja menggenggam arang yang panas, dan tanda kemerahan di pergelangan tangannya kini mulai mengeluarkan tetesan darah segar yang jatuh satu per satu ke atas kasur tipisnya.
Jakarta ternyata tidak sepi seperti yang ia bayangkan. Kota ini memang luas, tapi bagi sesuatu yang sudah menetap di dalam jiwanya, tidak ada tempat yang cukup jauh untuk bersembunyi. Maryam menatap darahnya sendiri dengan pandangan kosong. Ia baru saja menyadari bahwa pelariannya bukanlah sebuah awal baru, melainkan hanya perpindahan panggung untuk drama yang lebih mengerikan.
Ia meraih bantalnya, memeluknya erat-erat, dan menangis tanpa suara. Di luar, suara klakson kendaraan masih bersahutan, mengabaikan satu jiwa yang baru saja menyadari bahwa ia telah membawa nerakanya sendiri ke tengah-tengah kota.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!