Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, namun bagi Maryam, kota ini terasa seperti binatang raksasa yang sedang mendengkur gelisah. Uap panas membumbung dari aspal hitam yang retak-retak di sepanjang gang sempit daerah pemukiman padat tempatnya bernaung. Bau sampah yang membusuk bercampur dengan aroma minyak goreng jelantah dari gerobak pedagang kaki lima, menciptakan simfoni bau yang menyesakkan dada. Maryam berjalan dengan bahu merosot, mencoba menyatukan dirinya dengan kerumunan orang yang berlalu lalang agar ia tidak terlihat mencolok.
Pergelangan tangan kirinya terasa berdenyut-denyut pedih. Di bawah kain kusam yang ia lilitkan secara tergesa-gesa, luka itu masih basah. Ia bisa merasakan cairan hangat merembes, menempelkan kain itu ke kulitnya yang mulai menghitam. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti menarik beban tak kasat mata yang terikat pada pergelangan kakinya. Bayangan pohon randu alas dan tawa parau ayahnya, Wongso, masih bersemayam dengan kokoh di ceruk ingatannya, menolak untuk terkikis oleh hiruk-pikuk ibu kota.
Ia berhenti di sebuah warung kopi sederhana yang hanya terdiri dari meja kayu panjang dan beberapa bangku jengkok di pinggir parit yang airnya berhenti mengalir. Maryam merasa tenggorokannya sekering padang pasir yang terpanggang matahari. Ia merogoh saku roknya, memastikan beberapa lembar uang kumal hasil sisa upahnya di warteg Bu Sari masih ada di sana.
“Teh tawar hangat satu, Pak,” kata Maryam dengan suara serak, nyaris tak terdengar di tengah bisingnya mesin motor yang menderu di dekatnya.
Pria tua pemilik warung hanya mengangguk tanpa menoleh, tangannya sibuk mengaduk kopi di gelas plastik. Maryam duduk di ujung bangku, mencoba menyembunyikan tangannya yang dibalut kain di bawah meja. Namun, baru saja ia hendak mengatur napas, ia menyadari bahwa ia tidak sendirian di meja itu. Di ujung lainnya, seorang pria duduk dengan tenang.
Pria itu mengenakan kemeja flanel yang warnanya sudah memudar dan celana jin penuh noda tanah. Usianya mungkin sedikit di atas tiga puluh tahun, dengan rambut pendek yang berantakan dan kulit sewarna tembaga yang tampak tebal karena sering terpapar matahari. Namun, yang membuat Maryam mendadak waspada adalah ketenangan pria itu. Di tengah kekacauan Jakarta, pria ini seolah berada dalam gelembung kedamaiannya sendiri. Ia tidak bermain ponsel atau melamun kosong; ia hanya menatap gelas kopinya dengan pandangan yang dalam.
“Kain itu tidak akan bisa menghentikan darahnya, Maryam,” kata pria itu tiba-tiba.
Maryam tersentak. Jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari tulang rusuknya. Ia menoleh dengan cepat, matanya membelalak penuh ketakutan. Bagaimana pria asing ini tahu namanya? Bagaimana dia tahu tentang luka di balik kain itu?
“Siapa kamu?” tanya Maryam, suaranya bergetar hebat. Ia sudah bersiap untuk bangkit dan lari, meskipun kakinya terasa selemas jeli.
Pria itu mengangkat wajahnya. Matanya berwarna cokelat tua, jernih namun menyimpan kesedihan yang purba. Ia tidak tersenyum, tapi raut wajahnya tidak menunjukkan ancaman. Ia hanya menggeser posisi duduknya sedikit, memberikan ruang lebih luas bagi Maryam seolah ingin menunjukkan bahwa ia tidak berniat menyerang.
“Namaku Joko,” jawab pria itu pelan. “Dan aku tahu kamu baru saja menempuh perjalanan jauh dari tempat yang sangat gelap. Jakarta memang besar, tapi bau kemenyan dan darah yang kamu bawa bisa tercium dari jarak berkilo-kilo oleh orang yang tahu cara menciumnya.”
Maryam mematung. Telapak tangannya yang menghitam mulai terasa panas kembali, sebuah sensasi terbakar yang menjalar hingga ke siku. Ia merasa seperti baru saja tertangkap basah melakukan kejahatan besar.
“Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan. Aku cuma pendatang,” bisik Maryam, berusaha membela diri meski ia tahu itu sia-sia.
Joko menyesap kopinya perlahan, lalu meletakkan gelasnya kembali ke meja dengan denting halus yang anehnya terdengar lebih keras dari suara klakson di jalanan.
“Jangan bohong pada dirimu sendiri, Cah Ayu. Wongso bukan orang yang mudah melepaskan apa yang sudah ia tandai. Kamu pikir dengan naik bus berjam-jam, ikatan darah itu akan putus begitu saja? Kamu bukan pelari, kamu hanyalah anjing yang sedang menyeret rantainya sendiri,” kata Joko. Nada bicaranya datar, namun setiap katanya terasa seperti sembilu yang menyayat kesadaran Maryam.
Air mata mulai menggenang di sudut mata Maryam. Rasa lelah yang selama ini ia tekan habis-habisan mendadak tumpah. Ia merasa telanjang di depan pria bernama Joko ini. Segala rahasia yang ia bawa dari rumah, segala teror di bawah pohon randu alas, seolah terbentang jelas di atas meja warung kopi yang dekil itu.
“Kenapa kamu tahu namaku? Kenapa kamu tahu tentang ayahku?” Maryam menuntut jawaban, suaranya kini naik satu oktaf, memancing perhatian pria pemilik warung yang menoleh sekilas sebelum kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Joko menatap Maryam dengan iba. Ia mengulurkan tangannya di atas meja, telapak tangannya terbuka, menunjukkan bekas luka parut yang melintang di tengah, mirip dengan tanda yang mulai tumbuh di tangan Maryam.
“Karena aku juga pernah menjadi wadah yang mereka incar. Aku lari lebih dulu darimu, bertahun-tahun yang lalu. Tapi lihat aku sekarang, masih terjebak di antara dua dunia, tidak bisa sepenuhnya hidup dan tidak bisa sepenuhnya mati,” ujar Joko. Ia menarik kembali tangannya dan merogoh sesuatu dari saku kemejanya—sebuah kantong kecil berisi serbuk berwarna kekuningan.
“Ambil ini. Taburkan di lukamu sebelum matahari terbenam. Itu tidak akan menyembuhkannya secara total, tapi setidaknya akan membungkam mulut mereka yang terus memanggilmu dari kejauhan,” lanjut Joko sambil meletakkan kantong itu di depan Maryam.
Maryam menatap kantong kecil itu dengan ragu. Bau bunga kenanga yang sangat kuat mendadak menyeruak dari kantong tersebut, mengalahkan bau got dan asap knalpot di sekeliling mereka.
“Kenapa kamu membantuku?” tanya Maryam lirih.
Joko berdiri dari bangkunya, merapikan kemejanya yang kumal. Ia menatap ke arah langit Jakarta yang mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan, warna yang mengingatkan Maryam pada api sesajen ayahnya.
“Karena jika kamu jatuh, Jakarta akan menjadi jauh lebih gelap dari sekarang. Dan aku sudah bosan melihat kota ini dipenuhi oleh bayangan orang-orang mati yang tidak punya tempat pulang,” kata Joko.
Tanpa menunggu balasan dari Maryam, Joko melangkah pergi, menyelinap di antara kerumunan orang dan deretan motor yang parkir di pinggir jalan. Maryam mencoba memanggilnya, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Saat ia berkedip, sosok Joko sudah hilang ditelan kepadatan gang, seolah pria itu hanya bagian dari fatamorgana panas ibu kota.
Maryam menatap kantong kecil di atas meja, lalu beralih ke pergelangan tangannya. Darah yang merembes tadi kini terasa lebih dingin. Ia mengambil kantong itu dengan tangan gemetar, menyadari bahwa di kota asing yang tak mengenal namanya ini, ia baru saja menemukan satu-satunya orang yang benar-benar mengenali siapa dirinya yang sebenarnya. Pelariannya belum berakhir; justru di sinilah, di tengah belantara beton ini, perang yang sesungguhnya melawan warisan Wongso baru saja dimulai.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!