Bab 15 : Rumah Kecil

0 dibaca

A

Di sebuah rumah petak kecil di ujung gang sempit daerah Tambora, Maryam duduk di atas dipan bambu, memperhatikan punggung seorang lelaki yang sedang sibuk menyeduh dua gelas teh tubruk. Ruangan itu begitu mungil, hanya cukup untuk satu dipan, sebuah lemari pakaian plastik yang pintunya sudah miring, dan sebuah kompor minyak tanah di sudut. Namun, bagi Maryam, rumah ini adalah benteng terakhirnya sebelum ia benar-benar runtuh ditelan oleh kegelapan yang ia bawa dari lereng gunung.


“Minumlah, tehnya masih panas. Bisa membantu meredam dingin di tulangmu,” kata Joko tanpa menoleh. Suaranya rendah dan tenang, seolah-olah ia sedang berbicara pada seseorang yang baru saja pulang dari pasar, bukan pada seorang perempuan yang memikul kutukan darah di pundaknya.


Maryam menerima gelas seng itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Uap hangatnya membelai wajahnya yang pucat. Ia menatap pergelangan tangannya yang kini dibalut kain kasa putih. Darah tidak lagi merembes keluar sesering dulu, namun rasa dingin yang menggigit di balik kulitnya tetap menetap di sana, seperti bongkahan es yang tak kunjung mencair.


“Kenapa kamu melakukan ini, Joko?” tanya Maryam pelan. Matanya menatap uap teh yang menari-nari ditiup angin malam. “Kamu tahu siapa aku. Kamu tahu apa yang mengikutiku. Kamu bisa saja pergi saat pertama kali melihat tanda di tanganku itu.”


Joko memutar kursi kayu kecilnya, duduk menghadap Maryam. Cahaya lampu bohlam lima watt yang menggantung di langit-langit memberikan bayangan dramatis pada garis-garis wajahnya yang keras namun menyimpan kelembutan yang aneh.


“Aku sudah memberitahumu tempo hari,” jawab Joko tenang. “Jakarta ini penuh dengan orang mati yang berjalan. Sebagian dari mereka dibunuh oleh kemiskinan, sebagian lagi oleh kesepian. Tapi kamu berbeda, Maryam. Kamu sedang bertarung dengan sesuatu yang lebih tua dari kota ini. Dan entah kenapa, melihatmu bertahan sejauh ini membuatku merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, masih ada harapan bagi orang-orang seperti kita.”


Maryam terdiam. Sudah tiga bulan berlalu sejak pertemuan pertama mereka di warung makan itu. Selama itu pula, Joko selalu ada di sana. Lelaki itu tidak banyak bertanya, tidak juga mencoba menjadi pahlawan yang berlebihan. Ia hanya memberikan ruang, sebuah kehadiran yang konstan di tengah hiruk-pikuk kota yang asing. Perlahan, dinding pertahanan yang dibangun Maryam mulai retak. Rasa takut yang biasanya memenuhi rongga dadanya kini sedikit demi sedikit tergeser oleh perasaan yang lebih hangat, sesuatu yang belum pernah ia rasakan bahkan saat ia masih berada di bawah perlindungan Sumini.


“Tapi suara itu masih ada,” bisik Maryam lagi, kali ini hampir menyerupai rintihan. “Dia sering berbisik di malam hari. Dia bilang, rumah ini terlalu kecil untuk menyembunyikanku. Dia bilang, ayahku akan segera menjemput wadahnya.”


Joko bangkit dari kursinya, mendekat ke arah Maryam, lalu duduk di tepi dipan. Ia meraih tangan Maryam yang dingin, menggenggamnya dengan mantap.


“Kalau begitu, kita harus membuat rumah ini menjadi lebih dari sekadar tempat persembunyian,” kata Joko dengan nada bicara yang sangat serius. “Kita harus mengikat janji. Di atas kertas, di hadapan Tuhan, dan di depan mata para penjagamu yang gelap itu. Kita akan membuktikan bahwa kamu bukan lagi milik Wongso. Kamu adalah milikmu sendiri, dan milikku.”


Maryam tersentak. Jantungnya berdegup kencang, memompa darah yang terasa panas sekaligus menyakitkan. “Apa maksudmu?”


“Mari kita menikah, Maryam,” ucap Joko tanpa ragu sedikit pun. “Bukan karena aku ingin menyelamatkanmu sendirian, tapi karena aku ingin kita saling menjaga. Aku tidak punya apa-apa selain rumah kecil ini dan keberanian untuk tidak berpaling saat hantu-hantumu muncul. Jika kamu bersedia, kita akan hadapi mereka bersama.”


Air mata yang sudah lama tertahan di pelupuk mata Maryam akhirnya tumpah juga. Bukan tangisan ketakutan yang biasanya ia keluarkan di bawah pohon randu alas, melainkan tangisan seorang manusia yang akhirnya menemukan jangkar di tengah badai. Ia mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya di bahu Joko yang kokoh. Bau keringat dan tembakau dari baju Joko terasa jauh lebih menenangkan daripada wangi bunga kantil yang selalu menghantuinya.


Pernikahan itu berlangsung seminggu kemudian, jauh dari kemegahan dan tanpa pesta yang meriah. Dilaksanakan di sebuah musala tua yang dindingnya sudah berlumut di sudut gang, hanya dihadiri oleh seorang penghulu tua, Pak RT sebagai saksi, dan beberapa tetangga yang tidak terlalu peduli. Maryam mengenakan kebaya putih sederhana miliknya sendiri, sementara Joko mengenakan kemeja batik yang sudah agak pudar warnanya.


“Saya terima nikah dan kawinnya Maryam binti Wongso...”


Kalimat ijab kabul itu mengalun di udara yang lembap. Saat nama ayahnya diucapkan, Maryam merasakan hawa dingin mendadak menyerbu tengkuknya. Lampu musala sempat berkedip beberapa kali, dan suara anjing melolong panjang di kejauhan terdengar menyahut doa-doa yang dipanjatkan. Namun, genggaman tangan Joko di atas meja kayu di depannya tetap kokoh, tidak goyah sedikit pun.


Setelah prosesi selesai dan mereka kembali ke rumah petak itu, suasana terasa berbeda. Ruangan yang sempit itu kini tidak lagi terasa menyesakkan. Cahaya lampu yang remang seolah membungkus mereka dalam sebuah gelembung ketenangan yang rapuh namun berharga.


“Sekarang kamu adalah istriku,” bisik Joko saat mereka duduk berdua di atas dipan, malam itu. “Jangan takut lagi pada bayangan. Jika mereka datang, mereka harus melewatiku terlebih dahulu.”


Maryam menatap suaminya dengan perasaan syukur yang mendalam. Namun, di sudut matanya, ia melihat sesuatu yang membuatnya terpaku. Di balik jendela yang tertutup rapat, di sela-sela kegelapan gang, ia melihat sepasang mata merah yang sedang mengintip. Mata itu tidak marah, justru terlihat sedang tersenyum penuh kemenangan.


“Terima kasih, Mas Joko,” kata Maryam sambil memeluk suaminya erat-erat, mencoba menulikan telinganya dari tawa lirih yang tiba-tiba bergema di dalam kepalanya.


Suara itu berkata dengan sangat jelas, “Selamat, Maryam. Sekarang persembahan kita sudah bertambah satu orang lagi. Rumah ini memang kecil, tapi cukup luas untuk menjadi kuburan kalian berdua.”


Maryam memejamkan mata rapat-rapat, mengabaikan bisikan itu. Untuk saat ini, di dalam pelukan Joko, ia ingin percaya bahwa cinta bisa menjadi perisai yang lebih kuat daripada ilmu hitam mana pun. Di rumah kecil itu, di tengah bisingnya Jakarta, Maryam mencoba untuk benar-benar hidup, meski ia tahu bahwa maut kini sedang duduk manis di ambang pintunya, menunggu saat yang tepat untuk mengetuk.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk