Bab 16 : Ningsih

0 dibaca

A

Maryam mencengkeram pinggiran dipan kayu hingga jemarinya memutih, kuku-kukunya hampir menembus serat kayu yang kasar dan lapuk. Di luar, Jakarta sedang diguyur hujan lebat yang seolah ingin menenggelamkan suara rintihannya di antara deru kendaraan yang sesekali melintas di kejauhan.


“Tarik napas, Maryam. Istighfar, Nduk. Sedikit lagi,” bisik Bu Sari yang malam itu membantu proses persalinan. Tangannya yang hangat mengusap dahi Maryam yang banjir keringat dingin, mencoba memberikan ketenangan yang bahkan ia sendiri sulit rasakan.


Namun, Maryam tidak hanya merasakan sakit fisik yang merobek raganya. Di balik kelopak matanya yang terpejam rapat, ia melihat bayangan pohon randu alas itu kembali muncul dengan sangat jelas. Akar-akarnya yang hitam merayap masuk ke dalam penglihatannya, seolah mencoba membelit janin yang sedang berjuang untuk keluar. Suara tawa parau ayahnya, Wongso, bergema di sela-sela petir yang menyambar, membawa hawa dingin yang kontras dengan udara Jakarta yang lembap.


“Jangan ambil dia,” rintih Maryam di sela deru napasnya yang pendek dan putus-putus. “Jangan anakku. Pergi!”


Joko duduk bersimpuh di samping kepala Maryam, membisikkan doa-doa yang sering kali terhenti oleh rasa cemas yang nyata. Wajahnya pias, matanya merah karena sudah terjaga selama belasan jam. Ia memegang tangan Maryam seerat mungkin, seolah-olah dengan cara itu ia bisa menjadi tameng bagi istrinya dari segala hal tak kasat mata yang sedang menagih janji.


“Mas, dia ada di sini,” kata Maryam dengan suara serak, matanya mendadak terbuka lebar, menatap lurus ke sudut ruangan yang gelap di belakang lemari pakaian. “Perempuan itu... dia berdiri di sana, Mas. Dia membawa bunga kantil.”


Joko menoleh ke arah sudut yang ditunjuk Maryam, namun ia tidak melihat apa-apa selain tumpukan kain bersih dan bayangan perabotan yang memanjang. “Tidak ada siapa-siapa, Maryam. Fokus pada bayinya. Lihat aku, Maryam. Kamu kuat, kita akan melewati ini bersama.”


Satu dorongan terakhir yang menguras seluruh sisa tenaganya membuat Maryam merasa dunianya sejenak menjadi putih bersih. Rasa panas yang membakar rahimnya mendadak berganti dengan sensasi kosong yang hampa. Detik berikutnya, keheningan yang mencekam menyergap ruangan itu. Terlalu hening. Tidak ada suara tangisan yang menyambut kehadiran nyawa baru.


Bu Sari terdiam, tangannya yang gemetar menimang sesosok kecil yang masih kemerahan dan tampak lunglai. Maryam menahan napas, jantungnya seakan berhenti berdetak di dalam rongga dadanya. Pikirannya langsung melayang pada peringatan yang menghantuinya selama ini bahwa perjalanan ini belum dibayar dengan darah.


“Ayo, Cah Ayu. Menangislah,” gumam Bu Sari dengan nada memohon, menepuk-nepuk punggung bayi itu dengan lembut namun tegas.


Detik-detik berlalu seperti keabadian yang menyiksa. Joko sudah menutup mukanya dengan satu tangan, bahunya terguncang hebat karena tangis yang ia tahan. Lalu, sebuah suara kecil, serak, dan tajam memecah kesunyian malam. Sebuah tangisan yang tidak terdengar seperti tangisan bayi biasa, melainkan seperti rintihan yang membawa beban ratusan tahun kesedihan, bergema mengisi setiap sudut rumah kecil mereka.


“Alhamdulillah,” bisik Bu Sari, air matanya luruh membasahi pipi yang mulai keriput. Ia segera membungkus bayi itu dengan kain jarik bermotif parang yang sudah disiapkan sejak lama.


Ketika bayi itu diletakkan di atas dada Maryam, rasa dingin yang tidak wajar langsung merayap ke kulitnya, menembus hingga ke sumsum tulang. Bayi perempuan itu berhenti menangis tepat saat bersentuhan dengan kulit ibunya. Matanya yang besar terbuka perlahan, menatap langsung ke dalam mata Maryam dengan sorot yang ganjil. Di dalam bola mata yang hitam pekat itu, Maryam tidak melihat kepolosan seorang bayi, melainkan sebuah kedalaman yang menyeramkan, seperti melihat ke dalam lubang gelap di bawah pohon randu alas.


“Ningsih,” bisik Maryam spontan. Nama itu keluar begitu saja dari mulutnya, seolah ada suara asing yang membisikkannya tepat di lubang telinganya.


Joko mendekat dengan hati-hati, mencium kening Maryam dan kemudian mencium kening bayi mereka dengan penuh haru. “Ningsih. Nama yang indah, Maryam. Artinya cinta, kan? Dia akan menjadi sumber cinta di rumah kita.”


Maryam hanya mampu mengangguk lemah, namun hatinya mencelos saat ia mulai membersihkan sisa darah di tubuh bayinya. Saat tangannya mengusap punggung kecil Ningsih, ia merasakan sesuatu di bawah kulit bayi itu yang membuatnya merinding. Di tengkuk Ningsih, terdapat tanda lahir berwarna kemerahan berbentuk lima jari kecil yang seolah sedang mencengkeram lehernya, persis seperti bekas cengkeraman yang pernah muncul di pergelangan tangan Maryam dulu.


“Dia sudah memberikan tandanya, Maryam,” suara perempuan dari mimpinya itu kini terdengar sangat nyata di tengah kesunyian, bukan lagi sekadar bisikan, melainkan desisan dingin di balik bantalnya. “Kamu tidak melarikan diri. Kamu hanya melahirkan wadah baru untukku.”


Maryam memeluk Ningsih lebih erat, mengabaikan hawa dingin yang mulai menjalar dari tubuh mungil itu ke jantungnya. Di luar, hujan mulai mereda, menyisakan bau tanah yang basah dan aroma bunga kantil yang tiba-tiba menyeruak masuk melalui celah jendela yang terkunci rapat, mengalahkan aroma minyak kayu putih di ruangan itu.


“Aku akan melindungimu, Ningsih,” bisik Maryam pada bayi yang kini tampak tertidur pulas dalam dekapannya. “Meski aku harus menghadapi ayahku sendiri, meski aku harus menghancurkan warisan ini dengan tanganku sendiri.”


Namun, saat Ningsih menarik napas dalam tidurnya, sudut bibir kecil bayi itu sedikit terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat mirip dengan senyuman Wongso sebelum ia memulai ritual hitamnya. Maryam tahu, Jakarta yang ia harapkan menjadi tempat perlindungan, kini resmi menjadi panggung baru bagi kutukan yang baru saja terlahir kembali dalam wujud yang paling ia cintai. Di kegelapan sudut ruangan, ia melihat bayangan perempuan berpakaian lusuh itu membungkuk hormat, menyambut tuan barunya yang baru saja tiba di dunia manusia.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk