Bab 7 : Sungai Batu

0 dibaca

A

Suara gemuruh air yang menghantam bebatuan mulai menenggelamkan sunyi hutan pinus. Maryam mempercepat langkahnya, mengabaikan rasa perih di telapak kaki yang kini nyut-nyutan. Udara di sekitar sini terasa lebih dingin dan lembap, membawa aroma lumut basah dan bau amis tanah yang pekat. Begitu ia keluar dari rimbunnya pepohonan, sebuah pemandangan ganjil membentang di hadapannya.


Sungai itu tidak seperti sungai pada umumnya. Airnya hitam pekat, mengalir deras di sela-sela ribuan batu besar berwarna abu-abu gelap yang berserakan tidak beraturan. Beberapa batu berukuran sebesar kerbau, tampak seperti punggung raksasa yang sedang bersembunyi di bawah permukaan air.


“Berhenti sejenak, Maryam. Kamu haus, bukan?”


Bisikan itu kembali merayap di telinganya, begitu dekat hingga Maryam bisa merasakan hembusan dingin yang fiktif di tengkuknya. Ia berhenti di pinggir aliran air, menatap pantulan dirinya yang samar di permukaan yang beriak.


“Aku harus terus jalan,” gumam Maryam dengan suara parau. Kerongkongannya memang terasa seperti diampelas, kering dan panas.


“Lihatlah ke sana, di tengah sungai. Kamu tidak sendirian.”


Maryam mengangkat pandangannya. Di antara kepulan kabut tipis yang mengambang di atas air, ia melihat sesuatu. Di atas sebuah batu datar yang paling besar di tengah arus, berdiri sebuah bayangan tinggi. Sosok itu mengenakan kain jarik kusam yang menjuntai hingga menyentuh air, namun anehnya, kain itu tidak bergerak ditiup angin maupun terseret arus yang deras.


“Siapa di sana?” teriak Maryam. Suaranya pecah, tertelan suara air.


Sosok itu tidak menjawab. Ia tetap berdiri membelakangi Maryam, menghadap ke arah hulu sungai. Rambutnya panjang menjuntai, hitam dan tampak lengket seperti terkena lumpur. Maryam memicingkan mata, berusaha memastikan apakah itu manusia atau hanya sekadar tumpukan sampah sungai yang tersangkut.


“Mungkin itu ibumu, Maryam. Mungkin dia mengejarmu lewat jalan pintas,” suara di kepalanya terkekeh, nada ejekannya semakin kental.


“Simbok tidak mungkin di sini. Dia di rumah,” sahut Maryam tegas, meski hatinya mencelos. Tangannya gemetar saat ia mulai melangkah meniti batu-batu kecil untuk menyeberang.


Satu langkah, dua langkah. Batu yang ia injak terasa licin luar biasa. Maryam harus menjaga keseimbangan agar tidak jatuh ke dalam aliran air yang tampak begitu lapar. Saat ia sampai di tengah sungai, hanya terpaut beberapa meter dari batu besar tempat sosok itu berdiri, bau busuk tiba-tiba menyengat hidungnya. Bau bangkai yang sudah berhari-hari membusuk di bawah terik matahari.


“Nduk...”


Suara itu sangat pelan, hampir menyerupai desiran angin, namun Maryam mengenalinya. Itu suara ibunya. Namun, ada yang salah. Suara itu tidak datang dari belakangnya kali ini. Suara itu datang dari sosok yang berdiri di atas batu besar itu.


“Simbok?” bisik Maryam. Kakinya terpaku pada sebuah batu bulat yang goyah.


Sosok itu mulai bergerak. Perlahan, sangat perlahan, ia memutar tubuhnya. Maryam menahan napas, dadanya terasa sesak seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya. Saat wajah sosok itu mulai terlihat di balik helai rambut yang kusut, Maryam ingin berteriak, namun suaranya macet di tenggorokan.


Wajah itu tidak memiliki mata. Hanya ada dua lubang hitam yang mengucurkan cairan kental berwarna merah gelap. Kulitnya pucat kebiruan, persis seperti mayat yang tenggelam terlalu lama. Namun yang paling mengerikan adalah mulutnya yang robek hingga ke telinga, membentuk senyuman ganjil yang dipaksakan.


“Kenapa kamu lari, Maryam?” tanya sosok itu. Suaranya kini berubah menjadi serak dan berat, seperti perpaduan suara Sumini dan Wongso. “Warisan itu tidak bisa ditinggalkan. Kamu adalah rumah kami.”


“Kamu bukan ibuku!” teriak Maryam. Ia mencoba mundur, namun kakinya terpeleset.


Byur!


Maryam jatuh terduduk di air yang dinginnya menusuk tulang. Arus sungai yang kuat langsung menyambar tubuh kerempengnya, menyeretnya menjauh dari tumpuan batu. Ia berusaha menggapai apa saja, namun batu-batu di sekitarnya terasa terlalu licin dan besar untuk dicengkeram.


Sosok di atas batu itu kini membungkuk, menatap Maryam yang terseret arus dengan tatapan kosong dari lubang matanya. Ia tidak mengejar, ia hanya memperhatikan sambil tertawa pelan. Tawa yang sama yang didengar Maryam di bawah pohon randu alas.


“Jangan melawan, Maryam. Sungai ini tidak menuju ke hilir. Sungai ini menuju ke tempat di mana kita semua berasal,” bisik entitas di dalam kepalanya, kali ini suaranya terdengar sangat tenang, hampir seperti sebuah nina bobo yang mematikan.


Maryam mencoba berpegangan pada sebuah akar pohon yang menjuntai di pinggir sungai, namun tepat saat jemarinya menyentuh akar itu, sesuatu yang dingin dan licin melilit pergelangan kakinya dari dalam air. Sesuatu yang terasa seperti jemari manusia yang sangat banyak dan panjang.


“Lepas!” jerit Maryam sambil menendang-nendang air.


Alih-alih terlepas, tarikan itu justru semakin kuat, menyeret tubuhnya masuk ke bagian sungai yang lebih dalam. Maryam sempat menghirup napas terakhir sebelum kepalanya tenggelam sepenuhnya ke dalam air hitam yang membekukan. Di bawah permukaan, di tengah kegelapan air sungai, ia melihat puluhan pasang mata merah menyala sedang menunggunya dengan mulut terbuka lebar.


Cahaya subuh yang mulai mengintip di ufuk timur sama sekali tidak sanggup menembus kedalaman air tempat Maryam kini berjuang untuk tetap bernapas, sementara tangisan tanpa suara mulai memenuhi rongga telinganya. Arus itu membawanya bukan ke desa sebelah, melainkan semakin jauh ke jantung kegelapan yang selama ini disembunyikan oleh ayahnya. Dan tepat sebelum kesadarannya hilang, Maryam merasakan sepasang tangan yang sangat kuat memeluknya dari belakang, menariknya jatuh lebih dalam ke dasar sungai batu yang tak berujung.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk