Bab 8 : Kaki Gunung

0 dibaca

A

Paru-paru Maryam terasa seperti dihujam ribuan jarum es saat ia memuntahkan air sungai yang asin dan berbau lumut. Tubuhnya tergeletak di atas pasir kasar yang dipenuhi kerikil tajam. Ia tidak tahu berapa lama ia tak sadarkan diri atau bagaimana raga ringkihnya bisa terdampar di tepian yang lebih tenang ini. Langit di atas sana bukan lagi kelabu subuh, melainkan putih susu yang pekat oleh kabut gunung. Dingin yang menusuk tulang membuat jemarinya membiru, namun rasa panas di tengkuknya belum juga hilang. Entitas di dalam dirinya masih ada, mendengkur halus seperti kucing yang kenyang setelah hampir menenggelamkan inangnya sendiri.


Maryam bangkit dengan sisa tenaga yang ada. Kakinya gemetar, kain jarik yang ia kenakan sudah robek di bagian bawah, menyingkap luka lecet yang merembeskan darah segar. Ia memaksakan diri melangkah, menjauhi suara gemericik sungai yang kini terdengar seperti bisikan ribuan mulut yang meminta tumbal. Di depannya, sebuah jalan setapak yang ditumbuhi ilalang setinggi pinggang membentang menuju sebuah lembah.


Setelah berjalan hampir satu jam dengan napas yang putus-putus, pemandangan di depannya mulai berubah. Kabut perlahan tersingkap, menampakkan deretan atap seng berkarat dan dinding-dinding kayu yang menghitam karena usia. Sebuah kota kecil, atau mungkin lebih tepat disebut desa besar yang terisolasi, berdiri membisu di kaki gunung yang menjulang perkasa. Tidak ada keceriaan di sana. Hanya ada aroma belerang yang menyengat dan bau kayu bakar yang basah.


Maryam melangkah masuk ke jalanan utama yang berbatu. Suasana sangat sepi, meski jam di tangannya yang sudah mati menunjukkan waktu seharusnya orang-orang mulai beraktivitas. Beberapa orang tampak melintas dengan sarung melilit leher, wajah-wajah mereka pucat dan mata mereka kosong. Mereka menatap Maryam, namun bukan tatapan penuh tanya layaknya orang asing yang melihat pendatang, melainkan tatapan yang seolah-olah mereka sudah lama menunggu kedatangannya.


Ia berhenti di depan sebuah warung kecil yang pintunya hanya terbuka separuh. Seorang lelaki tua dengan mata sebelah kiri yang tertutup selaput putih sedang duduk di bangku panjang, menyesap kopi yang uapnya mengepul tipis.


“Permisi, Pak,” suara Maryam parau, nyaris tidak keluar dari tenggorokannya yang luka. “Apa saya boleh numpang duduk sebentar? Saya... saya tersesat.”


Lelaki itu tidak langsung menjawab. Ia meletakkan gelas kopinya dengan perlahan, menciptakan bunyi benturan kecil yang menggema di kesunyian jalan. Mata kanannya yang masih berfungsi menatap Maryam dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapan itu berhenti cukup lama pada tanda merah di pergelangan tangan Maryam, bekas tarikan tangan gaib di sungai tadi.


“Duduklah, Nduk. Kaki gunung ini memang suka menyesatkan orang yang hatinya sedang berperang,” kata lelaki itu dengan suara berat yang bergetar.


Maryam duduk di ujung bangku, menjaga jarak. Ia bisa merasakan degup jantungnya sendiri yang berpacu. Di dalam kepalanya, suara tawa itu kembali muncul, kali ini lebih halus, seperti desiran angin di sela daun randu.


“Kota ini... namanya apa, Pak?” tanya Maryam, mencoba mengalihkan perhatian dari suara di kepalanya.


Lelaki tua itu terkekeh kecil, memperlihatkan deretan gigi yang menghitam. “Orang-orang menyebutnya lereng terakhir. Tapi bagi orang seperti ayahmu, tempat ini punya nama lain.”


Darah Maryam mendadak membeku. Ia tidak pernah menyebutkan siapa ayahnya. Ia bahkan belum menyebutkan namanya sendiri. Ia mencengkeram pinggiran bangku kayu itu hingga kukunya memutih.


“Bapak kenal ayah saya?” tanya Maryam, suaranya gemetar hebat.


Lelaki itu condong ke depan, bau tanah pemakaman dan tembakau tercium kuat dari napasnya. “Wongso tidak mungkin mengirim wadahnya ke sini kalau bukan untuk diselesaikan, bukan? Kami sudah mencium bau randu alas itu sejak kamu melewati batas sungai batu tadi subuh.”


Maryam hendak berdiri dan lari, namun kakinya terasa seberat timah. Pintu warung yang tadinya terbuka separuh kini tertutup sendiri dengan dentuman keras, seolah ada tangan tak terlihat yang membantingnya. Di saat yang sama, entitas di dalam tubuh Maryam bergejolak hebat, membuat lambungnya mual luar biasa.


“Jangan takut, Maryam,” bisik suara di dalam kepalanya, namun kali ini suara itu terdengar persis seperti suara Wongso, ayahnya. “Kamu tidak sedang melarikan diri. Kamu sedang pulang.”


Lelaki tua itu kemudian merogoh saku bajunya yang lusuh dan mengeluarkan sebuah benda kecil yang dibungkus kain kafan kusam. Ia meletakkannya di atas meja, tepat di depan Maryam. Ketika kain itu terbuka, Maryam nyaris berteriak. Di dalamnya terdapat potongan kuku manusia yang masih kering dan sejumput rambut panjang yang diikat dengan benang merah.


“Ini milik ibumu, Sumini,” kata lelaki itu datar.


Maryam menggeleng kuat-kuat. “Tidak mungkin! Simbok di rumah! Simbok menyuruhku pergi!”


Lelaki itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan belas kasihan sekaligus kekejaman. “Simbokmu memberikan bagian dari dirinya agar kamu bisa sampai di sini hidup-hidup. Tapi di kota ini, nyawa harus dibayar dengan nyawa. Kamu pikir siapa yang menarikmu keluar dari sungai itu? Bukan Tuhan, Maryam. Tapi perjanjian yang sudah ditandatangani dengan darahmu sendiri.”


Tiba-tiba, dari arah luar warung, terdengar suara langkah kaki yang serempak. Puluhan orang kini berdiri di depan warung yang tertutup itu, membisu di balik kabut. Maryam bisa merasakan kehadiran mereka bukan sebagai manusia, melainkan sebagai bayangan-bayangan lapar yang mengelilingi mangsanya.


“Sekarang, buka pintunya, Maryam,” perintah lelaki tua itu sambil menunjuk ke arah pintu keluar. “Mereka ingin melihat apakah wadah ini cukup kuat untuk menampung Sang Penghuni Gunung, ataukah kamu hanya akan berakhir seperti saudara-saudaramu yang lain, menjadi tumbal di bawah akar pohon randu.”


Maryam menoleh ke arah pintu, jantungnya terasa mau copot. Di balik celah kayu pintu yang retak, ia melihat mata merah yang tak terhitung jumlahnya sedang mengintip ke dalam, menanti dengan sabar. Ia baru menyadari satu hal yang mengerikan: pelariannya selama ini bukanlah menuju kebebasan, melainkan langkah demi langkah menuju altar persembahan yang telah disiapkan ayahnya sejak ia dilahirkan.


Tangannya gemetar saat menyentuh gerendel pintu. Di dalam kepalanya, entitas itu kini tidak lagi tertawa. Ia sedang bersiap untuk mengambil alih sepenuhnya.


“Jangan buka, Maryam...” sebuah bisikan lirih terdengar dari sudut warung yang gelap, suara yang sangat ia kenal, suara Sumini yang merintih kesakitan.


Namun tangan Maryam sudah terlanjur menarik gerendel itu hingga terbuka. Begitu pintu berayun terbuka, cahaya putih kabut yang menyilaukan masuk ke dalam ruangan, bersamaan dengan suara teriakan yang bukan berasal dari mulut manusia. Di hadapannya, bukan jalanan kota yang ia lihat, melainkan sebuah jurang kegelapan yang tak berdasar, dan di tengah kegelapan itu, ayahnya, Wongso, berdiri tegak sambil memegang sebuah keris yang berlumuran darah segar yang masih mengepul.


“Selamat datang di rumah yang sebenarnya, anakku,” kata Wongso dengan suara yang bergema di seluruh lembah gunung.


Maryam belum sempat berteriak ketika ratusan tangan hitam terjulur dari balik kabut, mencengkeram bahu dan lehernya, menariknya masuk ke dalam kegelapan yang menanti di balik ambang pintu.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk