・°˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°.
“Membosankan sekali...”
Aku menggerutu sambil membenamkan diri lebih dalam ke kursi empuk kereta kuda. Rasa sakit yang terus-menerus di punggungku semakin memburuk akibat duduk berjam-jam.
Kereta itu berguncang tiap kali rodanya menggilas batu jalan, tapi anehnya, ritme guncangan itu sendiri yang justru melenakan.
Sudah tiga hari sejak kami meninggalkan pangkalan terdepan, menempuh perjalanan ke arah utara di dalam kereta ini. Laju kami sangat lambat karena harus merawat para prajurit yang terluka, termasuk diriku sendiri.
“Luke! Apa kita sudah sampai?”
Teriakan itu ditujukan kepada Luke yang sedang mengemudikan kereta. Sayangnya balasannya selalu sama.
“Kita akan segera sampai, Yang Mulia! Sebentar lagi!”
Sebab... aku sudah mendengarnya tidak kurang dari lima kali sebelumnya.
Kenapa percakapan ini terus berulang-ulang seperti anak kecil di dalam mobil?
”Ya ampun...”
Aneh juga kalau dipikir-pikir. Dunia ini sudah punya telegraf, pedang mekanik keren, bahkan Nina bisa merakit kursi roda sendiri dari rangka meriam. Tapi kenapa kami masih terguncang-guncang di atas kereta kuda selambat ini?
Di mana mobilnya?
…
Pertanyaan itu sebenarnya sudah pernah kulontarkan… yah, tentu saja tidak secara eksplisit.
Waktu masih di pangkalan, rasa bosan membuatku asal nyeletuk soal konsep transportasi ke Nina.
Di luar dugaan, gadis itu malah terdiam cukup lama, sampai aku pikir dia tidak mendengar pertanyaanku.
”...Tunggu. Maksud Anda, satu unit boiler kecil, dipasang langsung di rangka kereta, menggerakkan rodanya sendiri tanpa ditarik kuda?”
”Yah... kurang lebih begitu?”
”Y-Yang Mulia, bagaimana Anda bisa memikirkan hal semacam itu?”
Nina menatapku dengan takjub, seolah aku baru saja mengucapkan sesuatu yang sangat revolusioner.
Serius, aku hanya asal bicara, sista…
Namun, saat melihat Nina menatapku seolah aku dewa ilmu pengetahuan, aku refleks pasang muka sok misterius agar kelihatan makin jenius.
…
Kembali ke kereta yang masih berguncang pelan.
Aku merentangkan badan di kursi, tetapi gerakan itu memicu suara gemerincing pelan dari saku mantel.
Kurogoh saku tersebut untuk mengeluarkan sebuah bola logam, lalu menimang-nimangnya di telapak tangan yang masih dibalut perban.
‘Souvenir’ yang aneh…
Bola ini kami temukan di dalam inti pemimpin golem usai menumbangkannya kemarin. Materialnya hitam pekat, berhias ornamen perak berbentuk cabang yang melingkar rapi di bagian tengah.
Awalnya, aku tidak tahu harus diapakan benda ini. Namun, pola cabang perak itu... kenapa terasa begitu mirip dengan ranting berduri di gambar yang kutemukan saat streaming terakhir?
Jadi… kubawa pulang saja. Toh mungkin ada gunanya nanti.
Meskipun aku tidak yakin sih…
Andai dunia ini benar-benar punya fitur macam [inventory] gim RPG, bola ini pasti sudah kusimpan rapi di sana.
Berhubung tak ada hal semacam itu, jadi aku mengikatkannya ke seutas tali kulit, lalu menggantungnya di leher seperti jimat anti hantu.
Lumayan… terlihat cukup keren.
Jika saja ini benar-benar sebuah gim, benda seaneh ini biasanya berarti sesuatu, kan?
Sayang sekali, aku tidak memiliki sumber informasi seperti wiki atau apa pun yang bisa dicocokkan, yah… anggap saja belum… untuk sekarang.
Lagipula, soal bola misterius ini sebaiknya dipikirkan nanti saja.
Sebab, yang paling mengganggu pikiranku saat ini ialah: apa yang harus kulakukan setelah ini?
Sepanjang pertempuran sebelumnya, aku bahkan tidak sempat mengangkat senjata.
Secara harfiah, aku hanya memanipulasi orang lain sebagai alat. Merangkai mereka sedemikian rupa, lalu berharap formasi itu cukup kokoh melawan gempuran. Meski agak terlihat kejam, taktik itu nyatanya berhasil karena Lucien yang menjadi pembidiknya.
Masalahnya, aku tak ingin memaksa anak malang itu untuk berada di garis depan lagi. Ditambah lagi, entah tatapan macam apa yang diberikan oleh warga setempat karena reputasiku sebelumnya…
Aku tidak tahu jenis pemimpin macam apa yang mereka butuhkan. Aku bahkan tidak yakin jenis pemimpin macam apa yang sanggup kutawarkan, selain seseorang yang kebetulan membaca serta mengingat informasi dari wiki gim.
Pengetahuan itu pun ada batasnya. Cepat atau lambat, aku akan kehabisan halaman untuk dibaca ulang.
“Ah~ Persetan dengan semuanya!”
Sambil merenungkan jalan mana yang harus kutempuh demi kelangsungan hidup di masa depan, aku mendapati diriku menjambak rambut.
“Yang Mulia, saya melihat dindingnya!”
Suara Luke memecah lamunanku.
“Akhirnya!” Aku mencondongkan tubuh ke luar jendela kereta kuda untuk melihatnya sekilas.
Jadi, di sanalah tempatnya.
Di ufuk yang tidak terlalu jauh, sebuah kota yang diperkuat dengan dinding besi mulai menampakkan dirinya.
Frontiercross!
Aku menyipitkan mata, mencoba menyerap sebanyak mungkin detail dari kejauhan. Untungnya, aku hafal cerita di baliknya luar kepala.
Sebutan untuk benteng yang terletak di ujung paling selatan dunia ini. Bangunan itu didirikan untuk menahan gelombang monster yang terus-menerus merangsek naik dari abyss di selatan.
Dulu, ini adalah benteng terkuat milik kekaisaran yang menampung puluhan ribu prajurit. Bangunan ini dilengkapi dinding yang diperkuat besi, parit yang dipenuhi minyak, serta deretan meriam dan ballista yang mengesankan.
Namun, selama belasan tahun terakhir, seiring dengan menurunnya serangan monster, kekaisaran menarik pasukannya dari sini lalu memindahkan mereka ke medan perang lain.
Dunia ini terus-menerus berada dalam peperangan, sementara garis depan yang dipertahankan oleh kekaisaran bukan hanya di sini.
Sebagai pengganti pasukan militer, tentara bayaran pun disewa.
Mereka direkrut tanpa memandang kebangsaan atau tingkat skill. Terus terang saja, kekaisaran membutuhkan tameng manusia untuk mempertahankan garis depan ini.
Mereka yang terusir akibat konflik antar manusia, veteran yang sudah pensiun, maupun pemula yang tidak punya keahlian, ditarik ke tempat ini.
Dengan masuknya nyawa-nyawa yang bisa dikorbankan itu, tempat ini mengalami lonjakan pembangunan fasilitas seperti restoran, penginapan, serta bank.
Bertahun-tahun berlalu, dan kawasan itu berkembang secara tidak wajar menjadi formasi yang menyerupai sebuah kota.
Pada titik tertentu, orang-orang berhenti menyebut Frontiercross sebagai benteng. Alih-alih, ia mendapatkan julukan baru.
Kota Garis Depan.
Dan... untuk mengejek para tentara bayaran yang dibutakan oleh keserakahan serta berlomba menuju ajal mereka sendiri, tempat ini juga mendapat julukan lain yang kurang menyenangkan.
Kota Jagal Para Pengadu Nasib
Yah, apa pun itu.
“Jadi inikah Frontiercross?” Gumamku pelan, saat kereta kuda melewati gerbang kota selatan.
Aku tidak sepenuhnya menyadari ukuran kota ini sewaktu masih di mode administrasi gim. Pandanganku dulu hanya terbatas pada sudut mata elang dari langit, jadi aku tak pernah benar-benar mengapresiasi kebesarannya.
Mengalaminya langsung dengan mata manusia seperti ini memberikan dampak yang jelas berbeda.
Hmm… kondisinya juga jauh lebih kumuh dari yang kukira.
Aku mengerutkan kening, mengamati infrastruktur yang sudah usang itu. Tembok-tembok yang telah menahan serangan para monster selama bertahun-tahun tampak terkoyak akibat penelantaran.
Paritnya benar-benar mengering. Di bagian dalam kota, hasil ekspansi dan rekonstruksi yang tergesa-gesa membuat zonanya berantakan, tanpa penataan yang koheren.
Beberapa area sepertinya membutuhkan perhatian mendesak.
“Jadi, aku akan menjadi tuan tanah di kota ini?”
Sewaktu di dunia asalku, aku tidak punya satu pun properti atas namaku. Siapa sangka aspirasiku untuk memiliki tempat sendiri akan terwujud di dunia ini.
Meskipun terjebak di dunia asing dan mempertaruhkan nyawaku, aku tidak merasa terlalu sengsara.
Rombongan kafilah kami berjalan tertatih-tatih memasuki kota, mengambil rute jalan utama.
Penduduk kota berbondong-bondong keluar ke jalanan untuk menyaksikan tontonan itu, dengan ekspresi yang sama sekali tidak terlihat ceria.
Mana mungkin mereka ceria? Tuan tanah sekaligus komandan yang baru saja ditugaskan, nyaris tak selamat setelah mengirim pasukan langsung ke medan pertempuran.
Namun, kemuraman awal di wajah mereka segera berubah menjadi keterkejutan.
Tatapan mereka tertuju pada deretan gerobak yang berjalan tepat di belakang kereta yang kutumpangi.
“...Hei. Apa yang mereka bawa?”
“Bukankah itu...”
Kain penutup salah satu gerobak tersingkap, memperlihatkan tumpukan logam hitam yang disusun rapat hingga hampir memenuhi seluruh bak.
“Tabung bahan bakar?”
“Sebanyak itu?”
Gumaman mereka memastikan bahwa semuanya berjalan sesuai rencana. Mereka menebak dengan tepat.
Bertumpuk di atas kereta gerobak belakang adalah tabung bahan bakar, pelat besi, dan onderdil mesin yang kami bongkar paksa dari bangkai Legiun Golem.
Di dunia steampunk, sisa material semacam itu sama berharganya dengan minyak bumi. Setiap golem ternyata menyimpan boiler kecil di dalam tubuh batunya, cukup untuk menggerakkan sendi-sendi kasar mereka.
Dan boiler yang hancur bukan berarti tidak berharga, selama tabung bahan bakarnya masih utuh.
Material itu jadi sumber daya strategis bagi kota ini.
Onggokan logam itu juga menjadi alasan utama kita bisa mempertahankan garis depan ini, bahkan dengan banyaknya korban jiwa manusia.
Sayang akhir-akhir ini, seiring dengan menurunnya aktivitas monster, panen juga ikut merosot. Pendapatan kota pun kian menyusut.
Untungnya, kami telah menumpas Legiun Golem itu dan membawa pulang hampir 400 tabung bahan bakar, belum terhitung pelat besi dan onderdil lain yang masih bisa didaur ulang.
Kalau menurut catatan yang pernah kubongkar dari file gim, monster sekuat ini biasanya baru muncul jauh di pertengahan permainan, bukan di gelombang paling awal seperti kemarin. Oleh sebab itu, bahan bakar dari tubuh mereka jauh lebih murni daripada golem kelas bawah biasa.
Perkiraan kasarnya akan menilai material ini sangat tinggi, cukup untuk meredakan masalah anggaran untuk sementara waktu.
Kalau berhasil menaklukkan sebuah stage yang dianggap mustahil, hadiah sebesar ini memang pantas didapatkan.
Sayangnya, material bisa dihitung. Kepercayaan tidak. Wajah-wajah yang menyambut rombongan kami tadi sudah cukup jadi buktinya. Meski aku baru saja pulang membawa ratusan tabung bahan bakar.
Pada awal permainan, para warga tidak mempercayai si pemain, apalagi menyukainya.
Namun, menjelang tahun terakhir, warga akan memandang pemain dengan kasih sayang dan kesetiaan yang tak tergoyahkan.
Dan salah satu jalan tercepat menuju kepercayaan itu selalu sama.
Uang. Benda itu harus dihabiskan dengan bijaksana.
…
“Kita sudah sampai, Yang Mulia.”
Luke membukakan pintu kereta untukku. Aku pun melangkah keluar tanpa tergesa-gesa.
Meski bata merah dan marmer antiknya mulai menunjukkan jejak-jejak usia, kemegahan bangunan megah yang luas ini terasa jauh berbeda dari kamar tunggal yang dulu kutinggali.
Selagi aku sedang mengaguminya...
“Astaga, astaga, Tuanku!”
Seorang pria menerobos pintu rumah besar itu dan bergegas ke arah kami.
“Saya sangat lega Anda selamat, Tuanku!”
Dia adalah seorang pemuda berambut abu-abu berantakan, matanya mengintip dari balik kacamata tebal yang bertengger di hidungnya.
Pria yang tadi berlari menghampiriku ini mengoreksi panggilannya saat dia berhenti tepat di depanku.
“Tidak, tidak, saya tidak seharusnya memanggil Anda ‘Tuanku’. Mohon maafkan saya, Yang Mulia!”
“Tidak apa-apa, kamu boleh memanggilku ‘Tuanku’.”
Aku terkekeh pelan, meyakinkan pemuda berambut abu-abu ini. Dia kemudian menggenggam tanganku yang diperban dan menangis tersedu-sedu.
“Tuanku, saya sangat takut Anda menderita luka-luka!”
Butuh beberapa detik untukku benar-benar mengenali wajah di balik air mata dan kacamata tebal itu.
Alberto.
Di dalam gim, dia bertindak sebagai NPC yang bertanggung jawab atas manajemen kota. Hampir semua tugas administratif di Frontiercross ditangani melaluinya. Mulai dari membangun fasilitas, merekrut pasukan, hingga mengurus hal-hal kecil di dalam sistem.
Hal yang sama kemungkinan besar berlaku juga di sini. Tugas manajemen kota akan dijalankan bermitra dengannya.
“Silakan masuk! Kami sudah menyiapkan air mandi hangat untuk Anda, selain itu, makan malam juga sudah siap! Malam ini, Anda harus beristirahat!”
Dengan kelelahan hebat yang membebaniku, niatku memang untuk memulihkan diri hari ini.
Aku berhenti sejenak di ambang pintu, menoleh ke arah Luke, lalu mengangguk.
“Biarkan para prajurit beristirahat. Luke, kamu juga, santai saja dan tidurlah yang nyenyak.”
“Tapi, Yang Mulia, perlindungan Anda...”
“Kita sudah cukup lelah untuk hari ini. Beristirahatlah dengan baik, kita lanjutkan besok.”
Dengan enggan, Luke mengalah.
“Seperti keinginan Anda, Yang Mulia.”
Setelah membungkuk hormat padaku, Luke menuju kamarnya, yang sepertinya berada di lantai dasar.
Aku pun melangkah masuk mengikuti Alberto.
“Mari, Tuanku! Mandi air hangat akan menghapus penatnya perjalanan Anda dan sisa aroma pertempuran~”
“Baiklah, tunjukkan jalannya.”
Menerima tawaran Alberto, aku melangkah masuk ke kamar mandi yang bersebelahan dengan kamarku.
Bak mandi luas berisi air hangat memancarkan keharuman yang menenangkan. Sudah terlalu lama aku tidak mandi dengan benar.
Dengan tangan yang dibalut perban, aku canggung meraba satu per satu kancing kemejaku.
Namun...
“Huh... jujur saja, Tuan NullPointer.”
Jariku berhenti tepat di kancing terakhir.
“Pertempuran kemarin itu cukup luar biasa. Siapa yang menyangka Anda bisa menaklukkan tutorial dengan cara seperti itu. Bahkan aku sendiri tidak pernah membayangkannya.”
Aku berbalik secepat yang bisa dilakukan tubuh yang masih penuh perban.
“Kamu—“
Alberto berdiri tepat di depan pintu yang sudah terkunci rapat, tersenyum seolah baru saja memenangkan lelucon paling lucu yang pernah didengarnya.
“Ya, ini aku!”
Seringainya melebar.
“[UNKNOWN_000].”
・°˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!