Bab 11 : Alberto

0 dibaca

A

・°˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°.

“...”

Pikiranku mendadak kosong.

Si abang hacker? Orang ini?

Jadi, bajingan yang menyeretku ke dalam semua ini adalah dia...?

Pikiranku berputar kencang layaknya badai. Tepat saat itu...

Bruk!

Alberto bersujud di lantai dengan tangan dan kaki terentang. Dahinya menempel erat pada ubin kamar mandi yang masih beruap.

“...?”

“Aku minta maaf karena sudah membuat Anda terseret kemari secara tiba-tiba!” Suaranya bergetar, mirip anak kecil yang takut dihukum.

“Tapi, aku... tidak! Dunia ini membutuhkan Anda, Tuan NullPointer!”

“...”

“Bisakah Anda mengulurkan tangan untuk membantu kami? Sekali ini saja!”

Mengulurkan tangan?

Aku menunduk dan menatap kedua tanganku. Keduanya terbungkus perban sampai mirip mumi, sementara jari-jariku bahkan tak bisa menggenggam apa pun.

Lucu juga permintaannya.

“Pertama-tama, tolong berdiri, Alberto.”

Kuletakkan kedua tangan berperbanku di bahunya, lalu menuntunnya bangun pelan-pelan.

Mata Alberto berkaca-kaca, tampaknya merasa tersentuh.

“Tuanku...! Anda baik sekali... Apakah Anda benar-benar akan membantu kami?!”

Aku tersenyum lembut lalu menjawab dengan nada meyakinkan.

“Bukan itu, tapi untuk ini...”

Tanganku masih bertengger di bahunya, jadi dia tak bisa ke mana-mana. Kutarik kepalaku ke belakang, lalu...

DUK!

“Kuaack?!”

Alberto terjengkang. Aku ikut terhuyung dan jatuh menimpa dadanya, lalu mengayunkan tinju berperbanku ke wajahnya.

“Mati! Mati! Sialan, matilah!”

Aku benar-benar akan menghabisi bajingan ini!

…

Setelah beberapa sesi pemukulan…

Alberto berlutut dengan tangan lemas di atas paha. Wajahnya babak belur, kacamata bulatnya bertengger miring di pangkal hidung.

“Maafkan aku...”

Aku menghela napas dan duduk di seberangnya. Pemukulan tadi memang cukup menjernihkan kepalaku. Sayang tanganku tidak sependapat. Rasanya berdenyut sampai ke siku.

“Sekarang, kita luruskan masalah ini. Jadi, kau user [UNKNOWN_000] yang ikut mengobrol di chat saat aku streaming gim itu.”

“I-itu benar...” Alberto menelan ludah.

“Siapa sebenarnya kau?”

“Eh, itu… Aku adalah sosok yang bisa disandingkan dengan dewa di dunia ini.”

Sambil menahan keinginan untuk memukulnya sekali lagi, kulempar pertanyaan berikutnya.

“Dan, kenapa kau menyeretku ke sini?”

“Jujur saja... aku tidak berniat membawa Anda, Tuanku. Sebenarnya, aku hanya ingin mengintip.”

“...Hah?” Aku memiringkan kepala sambil memelototinya.

Bajingan itu bertahan tiga detik.

“Sebentar saja! Serius! Aku cuma ingin melihat siapa yang masih bermain sebelum... yah, sebelum aku kembali ke dunia ini.”

“Itu tidak menjawab kenapa aku ada di sini, kan?”

“Itu dia masalahnya.” Alberto menunduk. “Waktu aku kembali, Anda ikut terbawa...”

“Jadi aku cuma ikut terbawa?”

“Betul!” Alberto mengangguk bersemangat.

“Itu bukan kabar baik, bajingan!”

“Jelaskan. Dari awal. Singkat saja.”

“Singkat itu relatif, Tuanku...”

“...”

“B-baik!”

Ia menjentikkan jari. Lalu, system window muncul dari udara kosong, melayang di antara kami dengan pendar biru pucat.

Aku menatapnya datar.

Layar status?

Sialan! Hidup ini memang tidak adil!

“Dunia ini punya sebuah True Ending.” Alberto mengusap darah di hidungnya dengan lengan baju.

“Sebuah akhir yang belum pernah dicapai siapa pun.”

Ia mengetuk udara di depannya, dan layar biru itu langsung berganti tampilan.

“Awalnya, tempat ini duniaku sendiri. Aku mengubahnya jadi sebuah gim, lalu memamerkannya ke makhluk-makhluk dari dunia lain.”

Layar itu menampilkan deretan nama server. Di antaranya, satu nama berdiri paling mencolok.

Earth.

Apakah Bumi cuma salah satu dari sekian banyak server?

“Para pemain itu menjelajah, bertarung, serta merumuskan taktik yang tak terhitung jumlahnya. Banyak dari strategi mereka yang tidak pernah terpikirkan olehku.”

Alberto terdiam sebentar.

“Aku ikut mencoba cara-cara mereka, berharap bisa sampai ke akhir itu. Dan… setiap kali gagal... aku akan memutar ulang dunia ini ke titik yang sama.” Suaranya makin melemah.

“Sudah tak terhitung berapa kali aku mengulangnya. Sampai sekarang, aku belum pernah sekali pun menyentuh akhir yang aku cari.”

Aku menatapnya tajam. “Jadi selama ini kau cuma menebak-nebak dari apa yang mereka lakukan?”

“Bisa dibilang begitu!”

“...Bukankah itu sama saja denganku? Soal True Ending, bahkan aku saja baru mendengarnya darimu.”

“Anda memang belum sampai ke sana, Tuanku. Akan tetapi, Anda orang yang rela menghabiskan ratusan jam membedah gim ini. Dan yang terpenting... Anda sekarang berada di dalamnya.”

“Hmm… Aku jadi penasaran, bagaimana kau bisa membawa ku kemari? Apakah ini ada hubungannya dengan direktori aneh yang kubuka?”

Alberto terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan.

“Yah... Anda yang membukanya, Tuanku. Itu sebenarnya gerbang kembaliku. Jujur saja, aku sendiri terkejut prosesnya secepat itu begitu Anda menembus enkripsinya.”

“Setelah Anda terseret, kupikir Anda punya peluang terbaik. Jadi aku bertaruh pada harapan itu dan menyusun tawaran ini.”

“Menyusun tawaran apanya! Kau menculikku, bajingan! Ditambah lagi membuangku ke tempat ini, ke dalam tubuh pangeran keparat ini?! Kau sama saja menjatuhkan hukuman mati padaku!”

“Umm, kalau boleh kubilang, ada semacam error, atau glitch... Aku juga tidak menduga situasi ini...”

Suaranya kian mengecil, dan Alberto kembali bersujud di bawah tatapan tajamku.

“Ah, bagaimanapun juga! Biar kulanjutkan dulu penjelasanku. Ini soal hadiah untuk Tuanku kalau Anda mau membantu kami.”

Aku mengerutkan kening.

“Hadiah?”

“Kalau Anda berhasil membawa dunia ini ke True Ending, aku akan mengabulkan satu permintaan Tuanku.”

“Sebuah permintaan...?”

Apa kita sedang membahas permohonan sakti ala Dragon Ball?

“Bukankah sudah kubilang, aku bisa disandingkan dengan dewa di dunia ini.”

Alberto menegaskannya dengan penuh percaya diri, padahal wajahnya masih memar bekas pukulanku. Meyakinkan sekali.

“Begitu Anda kembali ke dunia asal, aku bisa dengan mudah memberikan hadiah yang sangat murah hati.”

“Apa saja?”

“Apa saja!”

“Bahkan uang tunai 100 miliar Rupiah?”

“Cuma 100 miliar? Seratus triliun juga bisa. Anda mau lebih?”

Orang ini terlalu gampang mengumbar janji. Persis pejabat!

Tapi jujur saja, tawarannya menggiurkan. Satu permohonan. Keinginanku ada banyak.

…

”Wah, mantap teorinya, Bang! Kok aku baru tau?”

…

...Tidak.

Ada satu keinginan yang sangat kuharap bisa terwujud.

Aku menelan ludah. Kalau dia benar-benar bisa mengabulkan permohonan itu, maka...

Alberto menatapku dengan senyum lembut.

“Tuanku punya permohonan yang ingin diwujudkan, bukan? Bukan sesuatu yang remeh seperti uang, melainkan sesuatu yang jauh lebih berharga.”

“...”

“Hmm... aku penasaran apa itu?”

Penyesalan menyelimutiku. Penyesalan atas sesuatu yang tak bisa kutarik kembali.

“Aku akan mewujudkan permohonan Anda.” lanjutnya.

“...keinginan itu sudah hancur.”

“Selama keinginan itu masih bersemayam di hati Anda, keinginan itu belum hilang.”

Entah kenapa, Alberto bicara dengan penuh keyakinan, seolah tahu betul apa yang ia bicarakan. Sialan! Aku benar-benar ingin memukulnya sekali lagi!

“Buat kesepakatan denganku.”

“...”

“Bimbing dunia ini menuju True Ending. Jika berhasil, aku kabulkan keinginan Tuanku.”

Aku yang sejak tadi diam mendengus sinis.

“Kalau kekuatanmu sebesar itu, kenapa tidak kau selesaikan sendiri?”

“Yah itu… Ngomong-ngomong, kekuatanku ada batasnya. Di ‘luar’ dunia ini aku bisa memakai berbagai kekuatan, tapi di ‘dalam’, aku hanya manusia biasa. Itu sebabnya aku butuh perantara seperti Anda, Tuanku...”

Huff!

Aku belum sepenuhnya percaya pada orang ini, tapi setidaknya gambaran kasar situasinya sudah jelas.

“Satu pertanyaan lagi.”

“Ya?”

“Apa yang terjadi kalau aku mati di sini?”

“Kalau Anda berhasil mencapai akhir, “...Anda pulang dengan selamat ke dunia asal, tepat di momen ketika Anda sedang streaming, lengkap dengan permohonan yang Anda dambakan.”

Alberto menyunggingkan senyum tipis.

“Namun, semuanya selesai kalau Anda mati di sini.”

“...”

“Hidup ini ibarat one-coin game. Tidak ada fitur save, apalagi fitur load. Anda sudah memainkan gim ini berulang kali, Anda tahu itu, kan?”

Tentu saja aku tahu. Itu inti gim ini. Aspek lainnya masih bisa ditoleransi, tapi kematian itu mutlak dan tak bisa dibatalkan.

“Kalau Anda ingin kembali ke Bumi, aku bisa memulangkan Anda sekarang juga.”

“Apa? Serius?”

“Serius. Sebenarnya itu yang mau kutawarkan pertama kali begitu Anda sadar. Tapi Anda keburu nyaris mati di stage 0 gara-gara... komplikasi yang tak terduga...”

Sambil menggaruk kepala dengan canggung, Alberto menatapku lekat-lekat.

“Jadi, bagaimana? Mau mengambil kesempatan menyelesaikan True Ending dan mewujudkan keinginan Anda? Atau memilih kembali ke kehidupan sehari-hari yang damai, bebas dari ancaman kematian?”

“...”

“Pilihan sepenuhnya di tangan Tuanku.”

Normalnya, aku pasti langsung memilih pulang tanpa ragu.

Sayangnya, ada dua hal yang menahanku. Pertama, tekadku untuk mewujudkan permohonan itu. Kedua...

Rasa percaya diri.

Empat ratus jam aku mengobrak-abrik informasi gim ini. Masa tidak layak dicoba?

Yah… walaupun aku belum pernah menamatkannya sih…

Alberto menunggu dengan sabar, mulutnya terkatup rapat selagi aku menimbang-nimbang.

“Hmm...”

Setelah berpikir panjang, aku menarik napas dalam.

“...Aku ikut.”

Wajah Alberto langsung merekah.

“Serius?”

“Ya.”

Peluangnya tampak lebih dari sekadar menguntungkan.

Kalau begitu, bukankah ini pantas dipertaruhkan? Satu ronde pertaruhan...!

“Aku akan all in, jadi kau sebaiknya melakukan bagianmu dengan benar. Dan jangan lupa janjimu soal mengabulkan keinginanku kalau kita sampai di True Ending.”

“Tentu saja, Tuanku! Mulai sekarang, anggap saja aku anjing setia Anda!”

Alberto benar-benar bersujud dan mencoba menjilat kakiku seperti anjing.

Menjauh, dasar orang gila!

Kudorong dia menjauh sambil melotot.

“Baiklah kalau begitu... Intendant, Alberto. Untuk membimbing dunia ini ke arah yang semestinya, ayo kita mulai.”

“Hore! Perintahkan saja, Tuanku!”

Kuangkat tangan berperbanku dan kusodokkan ke dada pemuda itu.

“Besok pagi, sebelum aku mulai meninjau tugas-tugas resmiku, jual semua hasil jarahan dari Legiun Golem.”

“Eh?”

Wajah bajingan ini langsung membeku. Lumayan lucu, jadi tentu saja aku akan terus menekannya.

“Benda-benda itu pada dasarnya item untuk dikonversi jadi uang, kan? Kau pasti punya jalur penjualannya.”

“Memang benar, tapi ini sudah larut, pasar juga sudah tutup, jadi...”

“Aku tidak peduli. Buka lagi. Pedagang yang tertarik pada material itu pasti ada di kota ini.”

Kubekap mulutnya dengan telapak berperbanku, memotong protesnya.

“Diam dan lakukan saja, bajingan! Mau kau jual semalaman atau besok subuh, aku mau semuanya sudah jadi uang tunai waktu aku memeriksa tugas resmi besok. Mengerti?”

“Ah, dimengerti...”

Alberto terlihat lemas, tapi tetap menurut.

“Ratusan tabung bahan bakar, ditambah plat besi dan lain-lain. Jumlahnya besar sekali, bahkan di pasar terbuka. Apa rencana Tuanku dengan semua... uang ini?”

“Banyak yang harus kulakukan, tapi itu bukan urusanmu.”

Aku menggiringnya keluar dari kamar mandi sambil menggeram mengancam.

“Dapatkan uangnya malam ini, tanpa alasan. Kalau tidak, aku buat perhitungan denganmu!”

“Eh, apa?”

“Aku akan langsung nge-feed di mid lane!”

Ancaman ala troll itu menguras seluruh rona dari wajah Alberto.

“Aku pasti menjual semuanya!”

Brak!

Setelah si dewa gadungan membanting pintu, aku menghela napas dan melangkah ke bak mandi.

“Akhirnya bisa mandi.”

Hah?

Sialan, Airnya sudah dingin,

…

Keesokan harinya.

Aku terbangun dari tidur nyenyak di ranjang empuk nan bersih, lalu mendapati Luke menunggu di luar kamar, tertidur sambil mendengkur.

Kalau dia sempat mendengar keributan semalam, dia pasti pura-pura tidak dengar.

“Luke, kamu sebaiknya istirahat.”

Ia tersentak.

“Sa-saya sudah cukup beristirahat. Pagi ini saya bisa kembali melanjutkan tugas pengawalan.”

Hari memang masih pagi, tapi dia mungkin sudah menunggu di depan pintuku sejak sebelum matahari terbit. Pria ini benar-benar serius dengan tugasnya.

Tak lama kemudian, seorang pemuda datang dari kejauhan. Alberto.

“Huh, eh... Konversi uangnya, sudah selesai, Tuanku...”

Alberto, yang basah kuyup oleh keringat, menunjuk ke luar jendela.

Aku melongok keluar. Beberapa gerobak berderet, sarat kotak-kotak berisi koin emas. Karena jumlahnya fantastis, satu unit pasukan keamanan yang cukup besar ditugaskan menjaganya.

“Aku memanggil para pedagang, begadang semalaman... Menggelar lelang di pagi buta... Entah bagaimana, semuanya berhasil kukonversi jadi uang tunai.”

Dia benar-benar berhasil?

Kupikir paling banter setengahnya yang laku. Ternyata dia jauh lebih kompeten dari dugaanku. Oh, aku lupa, dia kan dewa gadungan…

Alberto menyodorkan setumpuk dokumen penjualan. Kulambaikan tangan berperbanku, menolaknya, lalu menyuruhnya langsung ke intinya.

“Sebut saja totalnya. Berapa?”

“Seluruh jarahan yang Tuanku kumpulkan totalnya 4,5 juta Gold!”

Mantap jiwa…

Luke melotot tak percaya, sementara aku bersiul puas. Dana operasional kami kini aman sepenuhnya.

Aku ingat di tahun ketiga gim ini, masuknya barang berkualitas tinggi memicu inflasi besar-besaran. Namun, untuk tahap awal permainan? Jumlah itu benar-benar tidak masuk akal!

Alberto menyelipkan selembar surat wesel ke sela perban di tanganku.

“Bagus. Kita berangkat sekarang. Bersiaplah, Luke.”

“Ke mana Yang Mulia hendak pergi?” tanya Luke sambil menyodorkan mantelku. Karena tanganku, dia sekalian membantu memakaikannya.

Aku menyunggingkan senyum tipis.

“Bukankah kita kekurangan hero di sisi kita? Aku butuh sekutu yang bisa diandalkan.”

“Hero…?” Wajah Luke tampak bingung.

Aku hanya menyeringai dan mengibas-ngibaskan wesel yang terselip di perbanku.

“Jadi… sebagai permulaan...”

Perhentian pertama, Guild Tentara Bayaran.

・°˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk