Bab 9 : Akhir dari Sebuah Pertempuran

1 dibaca

A

・°˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°.

“Wah, mantap teorinya, Bang! Kok aku baru tau?”

Sebuah pesan melompat masuk ke kolom chat yang sedari tadi kosong melompong.

Aku tertegun. Itulah pesan pertama yang pernah mampir di channel-ku semenjak aku menekan tombol live. Weh, saking gugupnya, aku bahkan tak tahu harus merespons apa.

“Aku subscribe ya, Bang. Tapi janji bakal streaming terus, ya?”

Aku ingat pernah mengetik jawaban untuk pesan itu. Sayang sekali… aku lupa dengan isinya.

Suara notifikasi chat itu pun memanjang, lalu meleleh menjadi sesuatu yang lain.

Hmm… apa ada orang yang menahan sakit di ruangan yang sama denganku?

…

“Ugh!”

Mataku perlahan terbuka.

Langit-langit kayu yang hangus. Pipa uap melintang di atas kepalaku, mendesis pelan setiap beberapa detik, meneteskan embun ke lantai.

“Apa yang terjadi?”

Itu pertanyaan pertama yang meluncur dari mulutku, yah… sebenarnya, aku bahkan belum tahu apa aku masih punya tubuh untuk bertanya.

Aku berusaha duduk. Rasa sakit yang membakar langsung menjalar dari lengan sampai ke bahu, lalu tubuhku pun kembali ambruk ke ranjang.

​”Sial...”

​Aku menunduk, mengamati keadaanku saat ini.

​Seluruh tubuh bagian atasku dibalut perban ketat. Kedua tanganku dibungkus layaknya mumi, membuat jari-jariku tidak bisa digerakkan sama sekali.

​”Apa yang sebenarnya—“

​”Anda harus beristirahat, Yang Mulia.”

Suara seorang wanita menyela dari sisi kananku.

“Lucien sudah menangani luka bakar Anda sebisanya. Sayangnya, ini bukan luka yang bisa sembuh dalam beberapa hari.”

Aku menoleh, cukup cepat sampai leherku ikut berdenyut.

Di sisi ranjang, tenggelam di balik tumpukan dokumen sambil menulis dengan tekun, tampak seorang wanita berambut merah.

“Nina?” Dalam keadaan linglung, namanya keluar begitu saja dari mulutku.

“Anda tidak sadarkan diri selama tiga hari.”

Nina meletakkan pena bulunya dan tersenyum tipis padaku.

“Saya sempat takut Anda tidak akan bangun lagi setelah apa yang Anda lakukan pada meriam itu.”

“Yah... aku masih hidup.”

Nina tersenyum lembut. Kertas-kertas di genggamannya bergemerisik pelan saat ia merapikannya.

“Apakah Anda ingin mendengar laporannya sekarang? Atau Anda butuh istirahat lebih lama?”

Meski sekujur tubuhku masih berdenyut nyeri, laporan tetaplah laporan, aku memintanya meringkas situasinya.

“Tembakan pamungkas itu menghancurkan sang Pemimpin, sementara sisa Legiun Golem kini telah sepenuhnya dilumpuhkan,” katanya lugas.

“Kita menang, Yang Mulia.”

“...”

“Benarkah?”

Kami selamat.

Kami baru saja berhasil melewati stage tutorial sialan ini dengan susah payah.

“Beruntung kita masih memiliki Lucien... kemampuan medisnya sangat membantu. Dia merawat yang terluka sampai bala bantuan tiba keesokan harinya.”

Nina menoleh ke jendela. Di luar, para prajurit sibuk berlalu-lalang.

“Permintaan yang kita kirim lewat telegraf selama berhari-hari akhirnya sampai…” Gadis itu menghela napas pendek, nyaris seperti tertawa.

“Terlambat satu hari saja, mungkin tidak ada yang tersisa untuk mereka temukan.”

“Mereka sudah mengangkut jenazah kawan-kawan kita serta membereskan puing golem. Pembersihan hampir selesai.”

“Yang Mulia, Anda menderita luka bakar serius di tangan, lengan, bahu, dan leher.”

Nina menjelaskan lukaku dengan tenang, seolah sedang membacakan laporan kerusakan mesin.

“Setibanya kita di Frontiercross nanti, Anda harus mengunjungi rumah sakit. Bahkan setelah pulih, bekas lukanya mungkin akan tetap permanen.”

“Bekas luka itu murah,” kataku. “Jauh lebih murah daripada nyawa yang masih ada di sini.”

Rasa perih di balik perban seakan setuju denganku, meski dengan caranya sendiri yang tidak menyenangkan.

Nina mengembuskan napas lega, lalu bergeser sedikit untuk merapikan dokumen di pangkuannya.

Baru saat itu aku menyadari sesuatu. Gadis itu tidak duduk di kursi…

Benda yang menopangnya adalah rangka logam beroda, dirakit dari dudukan meriam yang sudah dipotong lalu disambung ulang. Dua roda gigi besar menempel di sisi kiri dan kanan, lengkap dengan tuas rem yang jelas-jelas bekas tuas pengunci laras.

Jari-jariku yang terbalut perban ikut kaku.

“Nina.”

“Hm?”

Nina mengikuti arah pandanganku, lalu terkekeh muram.

“Ah, Ini… ini karya saya selama dua hari terakhir, Yang Mulia. Cukup nyaman, yah… meskipun rodanya masih berdecit jika ku belokan ke kiri.”

“Nina.”

“Saat gerbang barat jebol, salah satu golem besar menghantam dinding tepat di sebelah saya,” katanya, dengan nada seringan sebelumnya.

“Saya terlempar. Punggung saya membentur balok penopang. Untungnya sang Pemimpin mati tak lama setelah itu, jadi tidak ada serangan lanjutan.”

Ia memijat pelan pahanya sendiri, mungkin sekadar karena tangannya butuh melakukan sesuatu.

“Sepertinya tulang belakang saya cedera cukup parah. Saya tidak bisa menggerakkan tubuh bagian bawah sama sekali.”

​”...”

“Jangan dipikirkan terlalu dalam, Yang Mulia.”

Nina berkata lembut saat aku hanya bisa membeku, kesulitan mencari kata-kata.

“Toh, tangan saya masih utuh. Selama tangan ini masih bisa memutar sekrup, saya masih seorang Machinist.”

“Lagipula, saya sudah cukup bersyukur kita masih bisa hidup.”

Aku membuka mulut. Tidak ada yang keluar.

Nina membiarkan hening itu berlangsung beberapa detik, lalu mengalihkan pembicaraan.

“Soal jumlah korban, sebaiknya Anda dengar langsung dari Luke. Dia yang menyusun daftarnya.”

“Berapa yang tersisa?”

Nina terdiam sejenak.

“Dari tiga ribu orang yang ada di pangkalan terdepan ini sebelum Legiun Golem pertama kali menyerang... tersisa sekitar empat puluh yang masih bernapas. Sebagian besar tidak akan bisa kembali bertugas.”

Empat puluh?

Aku mengepalkan kedua tangan, lalu berhenti begitu perban di telapakku menjerit protes.

“Sialan...”

Apakah mungkin ada jalan yang berbeda? Strategi yang terlewatkan? Sebuah cara untuk menyelamatkan setidaknya satu orang lagi...?

“Yang Mulia. Anda bukanlah dewa.”

Nina mengamati wajahku dengan hati-hati.

“Mustahil menyelamatkan semua orang dalam skenario itu. Anda sudah melakukan yang terbaik, bukan?”

“Tapi... akulah yang memimpin mereka kemari.”

Aku ingin berteriak bahwa ini bukan salahku. Bahwa Arthur, pemilik tubuh inilah yang seharusnya bertanggung jawab. Namun kata-kata itu tidak sanggup kukeluarkan.

Selama aku menghuni tubuh ini, aku ikut menanggung tanggung jawabnya.

“Tidak ada yang memprediksi legiun sebesar itu akan bergerak sejauh ini, Yang Mulia. Tidak ada yang mengira mereka akan menyerang dalam skala seperti itu setelah sekian lama tenang. Itu sebabnya keberangkatan Anda tidak ditentang siapa pun.”

Nina berusaha menghibur, matanya tidak lepas dari wajahku.

“Strategi Anda mungkin terkesan nekat, tapi itu bukanlah tindakan gegabah. Di pertempuran terakhir, Anda membuktikan kemampuan Anda lewat manuver berani yang membuahkan kemenangan telak.”

“...”

“Jadi... jangan terlalu menyalahkan diri Anda sendiri.”

​Aku menggigit bibir bawah.

Tepat saat itu, pintu bangsal menghantam dinding.

“Yang Mulia!”

Seorang pemuda menerobos masuk, matanya langsung terbuka lebar melihatku sudah terbangun.

Melihat pria bertubuh menjulang itu berlari tergesa-gesa, entah mengapa ia malah mengingatkanku pada seekor golden retriever raksasa yang hendak menerjang majikannya.

“Luke?”

“Saya sangat gembira Anda sudah sadar, Yang Mulia...”

Tiba di sisiku, mata Luke tampak berkaca-kaca.

“Apa Anda merasa kesakitan? Biar saya panggilkan Lucien.”

​”Tidak usah. Aku bisa menahannya.”

Aku memaksakan senyum kecut, lalu menunjuk perban yang membalut tubuh pria itu dengan daguku, karena tanganku sedang tidak bisa diandalkan.

​”Heh, kamu sendiri juga babak belur. Memangnya aman berlarian seperti itu?”

​”Seperti yang Anda tahu, daya tahan adalah kelebihanku.”

Yah, itu akurat. Bagaimanapun, dia adalah seorang hero SSR saat di gim.

“Saya sudah menyusun daftar korban, Yang Mulia.”

Luke mengeluarkan setumpuk dokumen dari saku mantelnya. Di atas tumpukan itu tergeletak sekantong kecil pelat logam. Pelat pengenal prajurit, masing-masing bercap nomor dan satuan.

“Banyak kawan kita yang jasadnya tidak bisa ditemukan... tapi kami sudah mengumpulkan semua yang tersisa.”

Aku menatap kantong pelat itu lama sekali, sampai Luke berdeham pelan.

“Laporan resminya sudah disiapkan untuk dikirim ke Departemen Militer menggunakan telegraf. Saya menunggu Anda untuk menandatanganinya.”

“Di mana kalian mengumpulkan jasad kawan-kawan kita?” kataku tiba-tiba.

​”Semuanya ditempatkan di lapangan terbuka, sebelah utara dari pangkalan terdepan.”

​”Aku ingin melihat mereka.”

​Saat aku mencoba mengangkat tubuhku yang gemetar, Nina dan Luke tersentak lalu bergegas menahanku.

“Yang Mulia!” seru Luke.

“Anda tidak boleh memaksakan diri, Yang Mulia! Anda butuh istirahat...” timpal Nina panik.

“Mereka gugur di bawah komandoku.”

Seluruh tubuhku menjerit protes, tapi aku tetap memaksakan diri.

“Aku harus melihat mereka. Bantu aku, Luke.”

Luke menimbang beberapa detik sebelum berbalik dan berlutut, menawarkan punggung besarnya kepadaku.

“Naiklah, Yang Mulia. Saya akan menggendong Anda.”

Dalam keheningan, punggung Luke terasa begitu kokoh. Langkah kakinya sangat stabil, menahan setiap guncangan agar tidak sampai ke lukaku yang masih basah. Entah mengapa, hal itu terasa cukup menenangkan.

“Luke, apa kamu mau mempertimbangkan untuk jadi kereta kudaku secara pribadi?”

“Jika Anda menitahkannya, saya siap.”

“Cuma bercanda, kawan. Jangan terlalu dianggap serius.”

…

Saat Luke menggendongku keluar, pandanganku langsung tertuju pada seorang pemuda yang bersandar lemas di dinding.

Itu Lucien. Pemuda berambut cokelat ikal itu menatap kosong ke kejauhan. Kacamata retaknya tak lagi bertengger di wajah, melainkan tergenggam di tangannya.

“Lucien.”

Mendengar panggilanku, ia perlahan menoleh.

“Yang Mulia. Anda sudah bangun.”

“Bagaimana matamu?”

Aku sempat khawatir penglihatannya rusak permanen. Darah yang merembes dari bawah matanya saat tembakan ketiga bukan pemandangan yang bisa kulupakan begitu saja.

Lucien menyunggingkan senyum tipis di balik wajah lelahnya.

“Sudah jauh lebih baik. Sejak kemarin saya bisa melihat hampir seperti sedia kala.”

“Kemarin.” Aku mengerutkan kening. “Jadi selama dua hari sebelumnya kamu hampir tidak bisa melihat apa-apa?”

“...Kurang lebih begitu.”

“Dan kamu tetap merawat yang terluka?”

“Jari saya sudah hafal ke mana harus bergerak, Yang Mulia.”

Aku tidak tahu harus tertawa atau memakinya. Apa aku juga harus menyeretnya ke pengadilan militer karena bertugas dalam keadaan buta?

Entah bakat macam apa yang dimiliki anak ini. Seorang Field Surgeon yang seumur hidup tidak pernah memegang senjata, lalu membidik sesuatu yang tidak terlihat lewat teleskop, empat kali berturut-turut.

Aku sudah membongkar gim ini sampai ke akar-akarnya dan tidak pernah menemukan satu baris pun yang menjelaskan hal semacam itu.

Mungkin memang tidak semua hal di dunia ini tertulis di dalam file.

“Lucien. Berkat dirimu, kita memenangkan pertempuran ini.”

“...”

“Kalau kamu mau, aku bisa memberimu dana pensiun yang cukup untuk hidup nyaman seumur hidup, sekaligus membebaskanmu dari medan perang ini. Kamu dulunya tentara bayaran. Mulai sekarang kamu bebas memilih jalanmu sendiri.”

Namun, Lucien perlahan menggelengkan kepala.

“Yang Mulia.”

“Anda sendiri yang bilang, saya adalah pelatuk Anda.”

“...”

“Selain itu, saya ingin tahu.”

Tatapannya kembali tersesat ke arah barisan tembok yang runtuh.

“Dari mana asal monster-monster itu? Siapa yang memanggil mereka, kenapa, dan bagaimana caranya? Dan untuk apa kita harus mengorbankan sebanyak ini?”

Tenggorokanku mengering. Aku tahu sebagian jawabannya, tapi tidak ada cara mengatakannya tanpa terdengar seperti orang gila.

“...Jika suatu hari aku menemukan jawabannya,” kataku akhirnya, “kau juga akan kuberi tahu, Lucien.”

“Kalau begitu saya akan menunggu.” Lucien memasang kacamata retaknya kembali. “Mohon izinkan saya terus mendampingi Anda, Yang Mulia.”

Aku mengangguk, lalu menggerakkan daguku ke arah utara.

“Kalau begitu temani aku sekarang. Kamu lebih berhak berdiri di sana daripada aku.”

…

Pangkalan terdepan. Lapangan utara.

Jasad-jasad itu dibaringkan berjajar rapi, siap untuk dikembalikan ke alam.

Bagi mereka yang jasadnya berhasil kami temukan, setidaknya ada penghormatan terakhir yang bisa diberikan. Namun banyak juga yang tidak meninggalkan jejak.

Untuk mereka, kami menyalakan api.

Pembakar bertekanan yang dibawa dari kuil Frontiercross mendesis pelan saat katupnya dibuka. Api suci itu menyembur biru ke udara malam, memercikkan bunga api ke tanah lapang. Ritual pun masih butuh mesin di dunia ini.

Aku berdiri dalam diam, tatapanku tertuju pada kobaran api. Nyala itu menari dengan gerak yang membuat bulu kudukku berdiri, seolah dipenuhi amarah yang tidak sempat disalurkan pemiliknya.

“...”

Aku mengerti sekarang.

Tidak ada taktik yang lebih hebat. Tidak ada jalan yang lebih baik. Tidak ada yang lebih sia-sia daripada terus terpaku pada apa yang sudah lewat.

‘Aku’ telah memilih pertempuran ini, mengeksekusinya, lalu… inilah hasilnya.

Jadi ini adalah tanggung jawabku untuk memikulnya.

Bahu inilah yang akan menanggung bebannya.

“Setelah upacara darurat ini selesai, kumpulkan semua jasad dan bawa mereka ke Frontiercross.”

“Eh?”

Luke tersentak, seolah salah dengar.

“Bukankah kita akan meninggalkan mereka di sini?”

Setiap tahunnya, ribuan nyawa melayang di sepanjang garis depan Frontiercross.

Ini dunia tempat biaya pemakaman lebih mahal daripada harga nyawa itu sendiri. Nyawa murah membanjiri garis depan ini, lalu lenyap dalam usaha mempertahankannya.

Jika setiap korban dimakamkan, pemakamannya akan penuh sesak dalam hitungan bulan. Karena itu jasad biasanya dibiarkan saja di alam liar.

Tempat kematian tumbuh lebih subur daripada bunga liar.

Aku berniat mengubah dunia ini.

“Ada sebidang tanah kosong di sebelah barat Frontiercross. Buatlah pemakaman di sana. Kuburkan mereka semua dan adakan upacara peringatan.”

Aku ingat tanah itu di dalam file peta yang pernah kubongkar, cukup luas.

“Yang Mulia, biayanya akan—“

“Potong dari tunjangan komandanku. Semuanya, kalau perlu.”

Aku sebenarnya tidak sedang memberi hadiah pada orang mati. Mereka tidak akan pernah tahu apakah namanya diukir di batu nisan atau dibiarkan membusuk.

Yang membutuhkan adalah mereka yang masih hidup. Kalau mereka melihat sendiri bahwa kematian di sini diperlakukan sebagai sesuatu yang berarti, mereka akan punya alasan lebih kuat untuk tidak lari saat gelombang berikutnya datang.

“...”

“Satu hal lagi. Laras Meriam Frontier yang hangus itu, jangan dibuang.”

“Meriam itu sudah tidak bisa diperbaiki, Yang Mulia.”

“Aku tahu. Lebur dan jadikan penanda di pemakaman itu.”

Logam itu pernah membakar telapak tanganku sampai ke tulang. Rasanya pantas jika benda itu yang berdiri di sana, menjaga mereka.

“Dan tetapkan satu hari dalam setahun untuk menghormati mereka. Hari saat jasad terakhir tiba di Frontiercross, apa pun tanggalnya nanti. Catat tanggalnya baik-baik.”

Biar tanggal itu ditentukan oleh perjalanan mereka sendiri, bukan olehku.

​Luke, yang tadinya hendak menyela, menelan kembali kata-katanya lalu mengangguk setuju.

“Saya akan mematuhi perintah Anda.”

…

Upacara pemakaman darurat pun dimulai.

Para pendeta dari pasukan bantuan memercikkan air suci dari tabung-tabung logam kecil, memberkati perjalanan ratusan jasad menuju alam baka.

Ritualnya singkat, tapi jumlah korban membuat pemakaman itu berlangsung berjam-jam.

Aku menyaksikan seluruh prosesnya tanpa sekali pun melangkah mundur.

Di bawah cahaya bulan yang sedingin es, upacara itu akhirnya berakhir. Hawa dingin merayap dari tanah, membekukan dataran yang bahkan tak mampu dihangatkan oleh api suci.

“Luke.”

“Ya, Yang Mulia?”

Gigiku bergemeretak. Tubuhku menggigil saat aku bersandar pada punggungnya.

“Aku tidak akan goyah lagi.”

“...”

“Aku tidak akan... goyah lagi.”

Luke bungkam, meresapi kata-kataku dalam diam.

Di kejauhan, aku bisa mendengar bunyi ketukan telegraf dari dalam pangkalan. Pendek, panjang, pendek. Berulang-ulang tanpa berhenti.

Seseorang sedang mengirimkan ribuan nama ke ibu kota.

“Mari kita kembali.”

Aku melemparkan tatapan terakhir kepada para prajurit yang gugur di bawah perintahku. Lalu, dengan ketegasan yang baru, aku bersuara.

“Ke Frontiercross.”

Aku memejamkan mata di punggung Luke. Untuk pertama kalinya sejak terbangun di dunia ini, aku tidak berusaha menahannya.

…

Di suatu tempat di dalam kepalaku, di layar yang tidak ada dan tidak akan pernah bisa kutunjukkan pada siapa pun, sesuatu bergeser dengan bunyi klik yang sangat familiar.

[STAGE 0 SELESAI!]

[MVP: Lucien]

[Stage selanjutnya]

[STAGE 1 “Kota Para Pejuang”]

Kebiasaan lama memang susah mati ya…

・°˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk