・°˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°.
Cahaya selalu datang lebih dulu dibandingkan suara kemudian disusul oleh rasa, bau, sentuhan dan sebagainya. Itu adalah pengetahuan umum, yah... meskipun, ada beberapa kasus yang membuat urutannya berubah.
Mungkin, kali ini adalah kasus khusus tersebut.
Suara rintihan. Beberapa orang bicara bersamaan, mereka saling menimpali, saling beradu, entah apa yang mereka bicarakan. Ada bunyi logam, sesuatu seperti nampan jatuh atau alat bedah diletakkan terburu-buru juga ada disana. Semuanya terasa asing...
Sesuatu berdenyut di kepalaku, tumpul tapi dalam, menjalar sampai ke belakang mata. Dadaku terasa ditekan, seolah ada beban yang baru saja diangkat dari sana.
Aku bahkan belum sempat berpikir mengapa itu bisa terjadi. Yang kupikirkan cuma satu hal.
Mengapa kamarku seramai ini? Siapa pula yang membewa mereka kemari?!
Sial, badanku juga sakit...
Di sela rasa sakit itu, indra lain ikut menyusul. Alkohol medis, tajam, bercampur sesuatu yang lebih pekat dan amis.
Bau darah?
“...tekan lagi perbannya, jangan dilepas!”
“Di mana tandu lainnya?!”
“Hey, kita kehabisan morfin disini!”
Suara-suara itu datang lagi, tapi bukan ditujukan padaku. Apa aku cuma kebetulan berbaring di tengah tempat kerja orang lain? Dan kenapa mereka juga pakai morfin?
Aku memaksa mata terbuka. Cahaya oranye menyambut, lampu minyak bergoyang pelan mengikuti angin yang entah dari mana masuk.
Di sekelilingku, sosok-sosok bergerak cepat, membungkuk di atas tubuh-tubuh yang terbaring. Tangan mereka penuh darah dan perban.
Ini jelas bukan kamarku, kan?
Aku menurunkan pandangan ke tanganku sendiri.
Jari-jarinya lebih panjang dari yang kuingat dan sedikit kasar. Di jari manis kiri, melingkar sebuah cincin hitam yang tidak pernah kupakai seumur hidupku.
Ini juga bukan tanganku.
DUAR!
Tanah bergetar. Lampu minyak di atasku berayun liar, nyaris jatuh dari gantungannya. Salah satu pasien di dekatku menjerit, sementara orang yang menanganinya nyaris kehilangan keseimbangan.
Tubuhku pun bergerak sendiri, atau lebih tepatnya mulutku.
“Bajingan! Apa-apaan semua ini?!”
Untuk beberapa detik, seluruh isi tenda berhenti bergerak. Kepala-kepala menoleh ke arahku. Bahkan petugas medis yang sedang menjahit luka ikut mendongak sejenak, meski jarum masih menggantung di tangannya.
Aku cuma bisa membalas semua tatapan itu dengan wajah kosong.
Tepat di tengah keheningan canggung itu, kain tenda di seberang ruangan tersibak kasar.
“Tandu ini ke sektor tiga, sekarang!” seorang pemuda berteriak sambil membantu memapah tubuh yang berlumur darah.
Rambut pirangnya kusut, wajahnya kotor terkena jelaga dan debu. Begitu tatapannya bertemu tatapanku, gerakannya terhenti.
“Yang Mulia Arthur?”
Entah kenapa, wajahnya terasa tidak asing...
Aura mencolok, benar-benar mirip karakter utama—
Sebentar!
Bukankah dia persis seperti Luke? Luke dari [Ironbound: Last Bastion], gim yang menjadi topik streaming-ku sebelumnya?
”L-Luke...?” bisikku, masih setengah sadar.
Ini tidak masuk akal!
Pria itu menunduk, lalu berjalan mendekatiku.
Ugh! Terlalu dekat, Bung! Ayolah mundur sedikit, aku butuh ruang untuk bernapas.
“Syukurlah Yang Mulia sudah sadar. Anda sempat tak sadarkan diri akibat benturan keras waktu dinding benteng hancur.”
Yang Mulia? Siapa yang dia maksud?
“Eh... apa?”
Tunggu sebentar! Jangan-jangan—
DUAR!
Sesuatu menghantam dari balik tembok, menyebabkan bagian lain dari benteng runtuh.
Aku refleks berteriak sambil menutup telinga.
“Di–di mana kita?” tanyaku dengan suara serak.dari yang diperkirakan,” pemuda itu kemudian menoleh kerah petugas medis lalu menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, izinkan saya mengingatkan Anda. Sekarang kita ada di pangkalan depan kota benteng Frontiercross, Yang Mulia. Kita diserang oleh legiun Golem.”
Golem?!
“Ratusan unit mereka tiba-tiba mengepung tempat ini. Pertahanan kita nyaris runtuh. Beruntung, entah bagaimana mereka berhenti menyerang saat matahari tenggelam. mereka pasti akan langsung menyerang lagi begitu matahari terbit besok pagi.”
Isi kepalaku terlalu penuh sampai rasanya sulit untuk sekadar bersuara.
Golem. Aku ingat monster itu adalah salah satu monster ikonik dari [Ironbound: Last Bastion] yang paling sering menyiksa pemain di fase akhir gim.
Luke mendengus saat tatapannya menyapu dinding benteng.
DUAR! BRAK!
Bunga api beterbangan ke segala arah. Para prajurit di benteng bertumbangan satu per satu dengan darah menyembur ke mana-mana.
Belum sempat aku bertanya lebih jauh, tenda itu bergetar hebat. Debu dan serpihan kain berjatuhan dari langit-langit.
”Yang Mulia, kita harus keluar sekarang!” Luke menarik lenganku kasar, memaksaku berdiri walau kepalaku masih berdenyut.
“Tunggu, tunggu—“
Gelombang monster semakin banyak yang menembus pertahanan lapis pertama. Prajurit terluka membanjiri pos ini, sampai-sampai tenda medis kewalahan menampung mereka.
Aku tidak sempat melanjutkan protes.
Tubuhku sudah setengah diseret keluar tenda, lalu dibopong melewati barisan tandu darurat yang berjajar berantakan di lorong sempit antar tenda.
“Luke,” panggilku.
“Kau bilang sebelumnya namaku... Arthur?”
“Benar, Yang Mulia,” sahutnya tanpa menoleh.
”Aku benar-benar tidak ingat apa-apa. Bukan cuma nama ini, tapi... semuanya. Sebenarnya aku ini siapa?”
Langkah Luke melambat. Ada jeda sebentar sebelum dia menjawab. Dari samping, raut wajahnya kelihatan muram.
Kenapa dia malah sedih?
“Apakah Anda benar-benar tidak ingat?”
”Yang Mulia... Anda adalah putra ketiga dari Kaisar Agung Altair Blacktorn, Arthur Blacktorn. Dan... saya adalah Luke, pengawal Anda dari sejak kecil.”
Begitu dia selesai bicara, kepalaku langsung berdenging. Semua latar belakang cerita yang dulunya cuma kubaca sebagai teks di layar gim, mendadak terasa seperti ingatanku sendiri.
Pangeran ketiga Kekaisaran Blacktorn, Arthur ‘Soft Ember’ Blacktorn.
Aku menelan ludah.
Belum sempat aku mencerna semuanya lebih jauh, Luke sudah lebih dulu memanggulku di punggungnya. Ia kembali berlari kencang sambil menghindari puing-puing yang berjatuhan di sepanjang jalan.
Setiap langkahnya membuat isi perutku terguncang, persis seperti karung beras yang dilempar sembarangan ke atas gerobak.
Dan ketika guncangan itu akhirnya berhenti, kami sudah berada di depan pintu pusat komando pangkalan.
“Hmm.”
Walaupun bangunannya kelihatan hangus dan setengah hancur, tempat ini masih jauh lebih lebih baik daripada neraka di luar sana.
Luke menurunkanku dengan hati-hati di dalam ruangan.
“Tolong tetap di sini sampai matahari terbenam, Yang Mulia. Jangan keluar. Mengerti?”
”Eh... iya,” entah bagaimana aku berhasil menjawab. “Terima kasih, Luke...”
”...?”
Luke menatapku dengan kebingungan sebelum melesat kembali ke arah tembok.
Kenapa dia? Apa ucapan terima kasih sederhana saja benar-benar terasa seaneh itu?
Aku menepuk-nepuk debu dari pinggangku, lalu mengamati sekeliling.
“Ugh!”
“Sakit, sakit sekali...”
Bangunan pangkalan itu beralih fungsi menjadi bangsal darurat, dipenuhi oleh para prajurit yang terluka parah. Tubuh mereka dibalut perban yang basah oleh darah.
Rintihan kesakitan mereka memenuhi udara. Setiap kali dentuman menggema dari luar, mereka menggeliat ketakutan.
Namun, yang pertama kali membuatku tercengang bukan kondisi mengerikan ruangan ini...
“Demi Dewa!”
“Ya–Yang Mulia?!”
...melainkan reaksi mereka begitu melihatku.
Wajah para prajurit yang terluka itu langsung pucat pasi. Beberapa dari mereka buru-buru mencoba bangun, walau kaki mereka kelihatan jelas gemetaran.
“Kami... kami tidak bermalas-malasan, Yang Mulia!”
Suara seorang prajurit muda terdengar bergetar. Lengannya dibalut perban yang sudah dibanjiri darah.
”Luka ini tidak masalah. Kami siap kembali ke tembok. Tolong... tolong jangan—“
”Ampuni kami!” sela prajurit lain dengan suara nyaris menangis.
Aku refleks mengangkat kedua tangan, ikut panik.
”Tunggu dulu! Aku tidak berniat—“
Sayangnya, mereka sudah tidak mendengar. Satu per satu memaksakan diri berdiri dan berlari tertatih keluar, kembali menuju tembok yang masih diguncang dentuman.
“...”
Aku mematung dengan tatapan kosong, mengamati ruangan yang mendadak lengang.
“...Apa-apaan ini?!”
Bajingan! Reputasi macam apa yang sebenarnya dimiliki tubuh ini di luar sana?!
Oke... Hal pertama yang harus kulakukan adalah... tetap tenang.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungku. Satu... dua...
DUAR!
Sialan! Percuma saja.
Ruangan yang kini kosong itu cuma menyisakan satu kursi, tempat yang sedang kududuki sekarang.
Kucoba memaksa otakku memproses kegilaan ini satu per satu.
Pertama, segila apa pun kedengarannya, aku sepertinya benar-benar terjebak di dalam dunia gim.
Yap, gim sialan yang baru saja kumainkan belum lama ini, [Ironbound: Last Bastion].
Tidak ada penjelasan logis bagaimana aku bisa berakhir di sini, tapi kekacauan di luar sana adalah kenyataan yang mau tidak mau harus kuhadapi.
”Apa Anda masih merasa sakit, Yang Mulia?”
Sebuah kepala menyembul dari balik pintu. Ternyata Luke.
Aku membalasnya dengan anggukan lemah.
“Huh... Sepertinya aku baik-baik saja...”
Pemuda itu melangkah masuk. Ia mengusap noda darah yang mulai mengering di pipinya sambil menghela napas panjang.
“Matahari sudah mulai terbenam. Sisa-sisa Golem mulai mundur untuk membuat blokade. Entah bagaimana, kita berhasil bertahan hidup satu hari lagi. Siapa yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi besok...”
Mataku tertuju pada wajah Luke.
Sejujurnya, melihat dia berdiri di depanku sebagai manusia sungguhan terasa sangat menakjubkan, tapi sekaligus aneh.
”Luke, bagaimana nasib para prajurit yang terluka sebelumnya?”
“Hah?”
“Maksudku, prajurit yang sebelumnya ada di ruangan ini. Mereka lari berhamburan waktu aku masuk. Di mana mereka sekarang?”
Wajah Luke seketika memucat. “Mereka semua langsung bertugas di tembok pertahanan, Yang Mulia.”
“Apa para prajurit itu menyinggung perasaan Anda?” tambahnya hati-hati.
“Apa yang kamu bicarakan?” tanyaku dengan wajah bingung.
Pemuda itu buru-buru menunduk. “Tolong ampuni nyawa mereka, Yang Mulia. Siapa pun yang masih kuat memegang senjata sangat berharga saat ini. Kalau Anda mengeksekusi terlalu banyak prajurit, mental pasukan bisa hancur...”
Apa dia pikir kita sedang bahas menu sarapan?
Kenapa kata ‘mengeksekusi’ bisa meluncur mulus dari mulutnya?!
“Tidak, sudah kubilang aku tidak akan mengeksekusi mereka! Aku sedang tidak ingin membunuh siapapun! Mengerti?!”
Mendengar luapan emosiku, mata Luke terbelalak seolah dia baru saja menyadari sesuatu.
Tanganku mendadak terasa dingin.
Sebentar... Apa ‘Arthur’ yang asli sekejam itu?
“Dengar, aku tidak akan menyakiti mereka... Maksudku, suruh mereka kembali ke sini untuk beristirahat.”
”Hah?” Luke menatapku dengan raut kebingungan yang luar biasa.
“Udara masih sangat dingin. Nyalakan tungku pemanas dan biarkan mereka yang terluka beristirahat di sini. Bukankah mereka butuh memulihkan diri kalau harus bertarung lagi besok?”
“Eh... baiklah, Yang Mulia”
“Dan kau, Luke. Kita perlu bicara.”
Baru saja aku maju selangkah, pemuda itu malah mundur.
“Y-Yang Mulia... jangan bilang...”
“Hmm?”
”Apa Anda berencana mengeksekusi saya sebagai ganti nyawa mereka?”
Aku nyaris tersedak ludahku sendiri.
”Dengar, Sialan! Sudah kubilang aku tidak akan membunuh siapa pun, apa aku harus mengulanginya lagi?!”
“Berhenti menatapku seolah aku ini monster yang hobi melihat orang mati!”
Aku mengusap wajahku dengan kasar.
...
Hembusan angin dingin yang menyapu sisa-sisa benteng ini terasa menusuk tulang. Namun, rasa dingin sesungguhnya bukan berasal dari cuaca.
“...”
Perlahan, tatapanku menyapu sekeliling.
Aroma kematian menguar pekat di udara. Bangkai-bangkai Golem menumpuk di dasar tembok pertahanan, berbaur dengan jasad para prajurit yang berserakan di atasnya.
Bagaimana dengan Kaisar? Ayah Arthur pasti akan mengirimkan bala bantuan, kan? Maksudku, tidak mungkin dia—
Pikiranku terhenti.
Benar juga. Aku ingat, Ayahnya tidak mengirimnya ke garis depan ini sebagai sebuah kehormatan. Arthur dibuang. Ia hanyalah sampah politik yang sejak awal memang tidak diharapkan kembali pulang.
”Luke...” panggilku pelan. “Tanggal berapa sekarang?”
Pemuda yang dari tadi berdiri siaga di belakangku itu kelihatan bingung dengan pertanyaan dadakan ini. Walau begitu, dia tetap menjawabnya.
”Sekarang hari terakhir bulan Desember, tahun 620 kalender Kekaisaran, Yang Mulia. Lalu... seperti yang saya bilang sebelumnya, kita sedang ada di pangkalan depan kota benteng Frontiercross.”
“...dengan kata lain, besok adalah hari pertama bulan Januari, tahun 621?” potongku.
“Benar, Yang Mulia.”
Tahun 621 Kekaisaran, 1 Januari. Pangkalan garis depan.
Rasanya agak déjà vu...
Jelas saja! Aku sudah menghabiskan 400 jam lebih hidupku untuk membongkar gim ini sampai ke akar-akarnya.
Besok adalah stage pembuka dari [Ironbound: Last Bastion]. Bagian yang biasa disebut oleh para pemain sebagai ‘Tutorial’.
Misi tutorialnya sebenarnya sangat sederhana. Gim ini cuma memperkenalkan latar dunia, dasar-dasar pertarungan, lalu di akhir sesinya...
Semua orang termasuk Arthur akan mati—
“...!”
Kakiku mendadak lemas.
“Y-Yang Mulia? Apakah Anda baik-baik saja?”
Luke menatapku, alisnya bertaut, tangannya setengah terangkat seolah mau menahan tubuhku kalau-kalau aku roboh.
“Luke,” gumamku.
Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan kosong, lalu membisikkan satu kalimat.
“Kita tamat, Bajingan.”
・°˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!