・°˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°.
Pangkalan depan kota benteng, Frontiercross.
Markas besar yang dikhususkan untuk komandan.
“...”
Aku sedang terkunci dalam adu tatap yang sengit dengan pantulan di cermin, ...dan sejujurnya, aku yang kalah.
Memantul kembali padaku adalah sosok pria yang... sedikit mencolok, dihiasi dengan rambut hitam pekat serta mata yang berkilau seperti langit malam.
Pangeran ketiga dari Kekaisaran Blacktorn, Arthur ‘Soft Ember’ Blacktorn.
Menurut halaman wiki yang pernah aku baca, Sejak kecil, Arthur dikenal sebagai pribadi yang berhati lembut.
Rakyat jelata menyukainya, tapi di kalangan bangsawan, kebaikan itu dianggap aib. Mereka menganggapnya lemah. Mereka mengejeknya dengan julukan, Soft Ember. Bara yang redup.
Fitnah pun mulai bermunculan satu per satu. Tuduhan pemborosan kas negara, kedekatan yang tidak pantas dengan putri-putri bangsawan, sampai rumor soal kondisi mentalnya yang tidak stabil, semua sengaja digulirkan.
Pada akhirnya, ayahnya tidak punya pilihan lain selain ‘mengamankan’ posisi putra ketiganya dari intrik istana.
”Arthur, dengan ini aku menugaskanmu sebagai penguasa sekaligus komandan kota benteng, Frontiercross. Dedikasikan dirimu untuk menjaga ketenteraman Kekaisaran dengan membasmi para monster yang mengancam.”
Ditugaskan memimpin garis depan di tempat terkutuk ini sama saja dengan vonis mati, yah... tapi itu dibungkus rapi agar terlihat terhomat.
Dan sialnya, si bajingan Arthur ini memang sudah tidak waras. Kenapa pula dia menerimanya?!
Ditambah lagi... bajingan itu juga membawa sebagian besar prajurit dari kota Frontiercross kemari hanya untuk di bantai batu-batu sialan itu.
Tatapanku lalu beralih menuju setumpuk dokumen, peta operasional yang penuh noda minyak, serta catatan logistik yang berserakan di atas meja kayu...
Tidak ada layar status transparan. Tidak ada tombol pause seperti novel-novel isekai yang pernah kubaca.
Bagus. Realistis sekali hidup ini, ya.
Aku menghela napas panjang, lalu duduk di satu-satunya kursi yang masih utuh di ruangan itu.
Di dalam gim, stage ini memang dirancang untuk kalah, mau pakai strategi apa pun.
Kualitas kami kalah jauh. Sementara di sisi lain, monster-monster itu... ya, batu, secara harfiah!
Mereka akan dengan mudah meremukkan para prajurit kami seperti kerupuk.
Selama tiga tahun perjalanan waktu di dalam gim, monster golem baru menjadi target yang bisa dilawan pada periode tahun terakhir.
Dihadapkan dengan ratusan monster keparat itu sejak awal permainan, Menang rasanya seperti mimpi...
Ugh, sialan! Bukan itu yang harus dipikirkan sekarang!
Oke. Tenang.
Santai...
Panik tidak akan mengubah apa pun.
Aku pernah menghabiskan berjam-jam siaran cuma untuk membedah satu baris dialog NPC yang dianggap tidak penting oleh sembilan puluh sembilan persen pemain.
Kalau ada satu hal yang aku kuasai, itu bukan bertarung, bukan pula memimpin pasukan...
“Luke,” panggilku.
...melainkan membaca detail yang orang lain lewatkan.
Kalau begitu, mari kita mulai dari sana!
“Berikan aku laporan lengkapnya..”
Pemuda itu tersentak sedikit, lalu mengangguk cepat. “Baik, Yang Mulia.”
Ia bergegas ke meja baja di tengah ruangan, tempat sebuah peta taktis pangkalan terdepan Frontiercross tergelar, penuh coretan tinta dan pin logam kecil yang menandai posisi.
Beberapa lembar laporan bertumpuk di sudut meja yang kertasnya masih basah, entah oleh keringat atau darah, aku memilih tidak bertanya.
“Tembok pertahanan bagian utara dan timur mengalami keruntuhan parsial,” Luke mulai, menunjuk garis merah di peta.
“Kita kehilangan sekitar tiga puluh persen kekuatan tempur hari ini. Sisa personel yang masih bisa bertugas kurang dari enam ratus orang, termasuk yang cedera ringan.”
“Amunisi meriam?”
“Kurang dari dua ratus butir untuk seluruh dinding. Bubuk mesiu cadangan nyaris habis karena gudang utama terbakar kemarin.” Ia berhenti sejenak.
“Persediaan makanan bisa bertahan tiga hari kalau dijatah ketat. Obat-obatan lapangan hampir kosong.”
“Lalu Golemnya?”
“Pengintai menghitung setidaknya delapan ratus unit yang mengepung dari selatan dan barat. Kebanyakan ukuran sedang, tapi ada sekitar dua lusin unit besar. Dua di antaranya menghancurkan bagian tembok utara.”
Delapan ratus?
Aku terkekeh.
Itu terlalu absurd, bung. Serius, terlalu absurd!
“Yang Mulia?” Luke menatapku, jelas tidak yakin harus khawatir atau tidak.
“Bukan apa-apa,” kataku, berdiri dari kursi. “Aku ingin keluar sebentar.”
“Keluar? Di luar masih-“
“Aku tahu.”
Aku tidak menunggu bantahannya. Kaki ini masih terasa asing, terlalu panjang dari yang biasa kupakai, tapi aku memaksa diri berjalan santai keluar dari ruang komando.
Di belakang, terdengar langkah kaki Luke yang menyusulku perlahan.
Udara di luar dingin, jauh lebih dingin dari yang kuduga.
Aku mendongak.
Sesuatu yang putih turun perlahan dari langit gelap, bercampur dengan abu hitam yang masih beterbangan dari puing-puing tembok utara. Butiran salju dan jelaga jatuh bersamaan, satu bersih satu kotor, tapi dari jauh keduanya sama-sama terlihat seperti debu.
Aku mengulurkan tangan. Satu butir salju mendarat di telapak, lalu segera meleleh
Musim dingin.
Tentu saja. Kalender bilang besok tanggal satu Januari. Kenapa aku baru sadar sekarang?
Di dunia asalku, salju cuma sesuatu yang kulihat di film atau di siaran orang lain, dibungkus musik latar yang menenangkan, direkam dari balik jendela hangat.
Baru kali ini aku benar-benar merasakan salju turun. Sayangnya, ini malah terjadi di tengah kepungan ratusan monster pembunuh.
Seperti lelucon buruk yang sengaja dirancang semesta.
Aku menurunkan pandangan, menyusuri jalan setapak yang penuh puing dan bercak darah yang mulai membeku. Di sepanjang jalan, para prajurit duduk bersandar ke dinding, sebagian menunduk diam, sebagian lainya menatap kosong ke arah tembok yang runtuh.
Rasa takut itu terasa hampir seperti sesuatu yang bisa disentuh, mengambang di antara asap dan salju.
“...persetan dengan semua ini,” seseorang menggumam, cukup keras untuk terdengar. Seorang prajurit muda, dahinya diperban asal, menendang puing kecil di depannya. “Pangeran keparat, bajingan-“
Ia berhenti begitu menyadari siapa yang lewat.
Aku hanya melirik sekilas, lalu terus berjalan. Tentu saja, persetan dengan prajurit sebelumnya...
Luke mempercepat langkah di belakangku, tegang, seolah bersiap menahanku kalau aku tiba-tiba berbalik. Mungkin ia sudah membayangkan skenario terburuk, seperti memenggal kepala orang itu? Mungkin.
“Yang Mulia,” ia memanggil hati-hati.
Aku tidak menjawab.
Karena mataku sudah tertuju ke tempat lain. Sebuah struktur tinggi yang menjulang di atas atap-atap gudang dan barak. Di atasnya terpasang meriam raksasa.
“...itu?” gumamku.
Luke mengikuti arah pandanganku dengan kebingungan.
“Luke,” kataku, berbalik menghadapnya sambil menyeringai.
“Y-ya, Yang Mulia?”
“Aku butuh sesuatu yang lain darimu.”
Ia menegang, jelas bersiap mendengar perintah aneh lagi.
“Kumpulkan para Jeager terbaik di pangkalan ini!”
...
Beberapa saat kemudian, lorong di luar ruangan sudah dipenuhi lima orang.
Diriku, Luke.
Serta tiga wajah baru.
Aku menatap ketiga orang di depanku bergantian, lalu menoleh ke Luke.
Ketiganya jelas bukan sosok terkenal, mungkin mereka adalah hero kelas rendah yang biasa di abaikan.
Ngomong-ngomong, Di Ironblood, hero adalah unit dengan statistik jauh di atas rata-rata. Beberapa di antara sanggup membalikan keadaan pertempuran seketika.
Namun, tetap saja, kemenangan tak bisa mengandalkan segelintir hero saja. Prajurit biasa, meski jauh lebih lemah, tetap jadi tulang punggung yang menahan garis pertahanan tetap utuh.
Benar, kan? Mana mungkin cuma berbekal beberapa hero saja sanggup bertahan melawan gempuran ribuan monster sekaligus?
Hmm...,
Aku malah teringat dengan Dynasty Warrior!
Selain itu, prajurit biasa juga tidak pernah benar-benar seragam. gim ini membagi mereka ke dalam beberapa role sesuai keahliannya masing-masing.
“Apakah mereka Jaeger yang kuminta?”
Singkatnya, mereka adalah unit penembak jitu atau sniper. Di dalam gim, role ini sangat dihargai. Terlebih, aku membutuhkan mereka untuk bisa menjatuhkan target berbahaya di tengah kekacuan seperti saat ini.
Namun...
“...Maaf, Yang Mulia.” jawab Luke, sedikit menunduk.
“...?”
“Di pangkalan depan ini serta kota Frontiercross, kita tidak memiliki seorang Jaeger pun.”
“...Apa katamu?!”
“Divisi Jaeger ditarik ke ibu kota tiga bulan lalu, sebelum penunjukan Anda sebagai komandan di sini. Sejak itu, kita tidak pernah mendapat penggantinya.”.
“Yang paling mendekati keahlian itu di pangkalan ini, dengan segala hormat, hanya mereka bertiga.”
Bajingan! Kenapa aku berharap sesuatu yang mudah, untuk sekali saja!?
Aku memijat pangkal hidungku lalu melihat kembali ke arah mereka bertiga.
Luke menunjuk ke arah perempuan berambut merah itu.
“Nina, pernah bertugas sebagai penembak meriam sebelum dipindah ke divisi Machinist. Tangannya masih paling stabil di antara siapa pun yang tersisa di sini.”
Bung, kau membawa seorang teknisi mesin?
Luke mengalihkan fokusnya ke pemuda berbadan besar di sebelah Nina.
“Sam pernah memegang senapan berat sebelum menjadi seorang Sapper, Yang Mulia.”
Seingatku, unit Sapper merupakan Engineer Combat Class, mereka memasang peledak, membuka jalur. Yang lebih penting, senjata utama mereka adalah kapak...
Guratan otot wajahku semakin terlihat.
“Lalu Lucien...” Luke ragu sejenak. “Dia yang terbaik dalam membidik dari ketiganya.”
Aku memiringkan kepala dengan ekspresi pasrah.
“...Kenapa dia meringkuk seperti itu?”
Seorang pemuda kurus berdiri agak menjauh dari yang lain. Kacamatanya retak di satu sisi, meski lensanya masih menempel entah bagaimana caranya. Ia mengenakan medis yang dulunya mungkin putih.
Seorang Field Surgeon?
Dia terlihat baik-baik saja, tetapi dia terisak-isak. Apa yang sedang terjadi?
“Lucien kehilangan seorang rekan hari ini,” Nina menjelaskan, memaksakan sebuah senyuman pedih. “Mohon pengertiannya, Yang Mulia.”
Aku menatap Lucien lebih lama. Seorang petugas medis. Mungkin salah satu dari sedikit yang tersisa.Tampaknya ia baru saja merawat yang terluka beberapa saat yang lalu.
“Ayo, Lucien.” Aku berjongkok, menepuk bahunya pelan.
“Aku tahu kamu sedang berduka, tetapi kamu harus bangkit. Kehilangan seorang rekan memang memilukan, tetapi kamu harus bertahan hidup, kan?”
“Bertahan hidup?”
Suara marah memotong dari sisi lain, itu Sam.
“Anda bilang kami harus bertahan hidup? Apakah Anda sungguh-sungguh mengatakan itu, Pangeran?”
Aku melihat ke arahnya.
Sam melangkah maju satu langkah. Luke langsung menegangkan bahu, siap bergerak kalau situasi memburuk.
“Anda yang membawa kami ke neraka ini dengan perintah bodoh itu!”
“...”
“Jangan pura-pura peduli sekarang! Kita semua dikutuk untuk mati gara-gara kamu, Bajingan!”
Rasanya tidak adil. Aku bukan pihak yang patut disalahkan, bung. Si bajingan Arthur ini yang membuat kekacauan, lalu akulah yang mewarisi masalahnya.
Pembelaan itu melonjak ke ujung lidahku, tetapi aku kembali menelannya. Siapa yang akan percaya lelucon itu?
Yang lebih penting, aku benar-benar bisa berempati dengan perasaan Sam.
Tapi di sisi lain, aku mengerti kemarahan Sam. Seorang komandan baru tiba-tiba datang dan melemparkan pasukan ke medan perang tanpa persiapan. Tentu saja mereka marah.
...yah, itu memang menjengkelkan, tetapi...
“Sam.”
...aku tidak bisa membiarkan hal itu menggoyahkanku.
“Apakah kamu menantangku, putra Kaisar sekaligus Komandan Tertinggi garis depan di sini?”
Saat suaraku merendah menjadi bisikan, hal itu membuat Sam tersentak mundur. Sepertinya dia teringat rumor-rumor tentang diriku.
Tatapanku mendingin, satu sudut bibirku terangkat membentuk seringai miring yang dingin dan mengancam.
Kalau sampai aku kehilangan kendali di sini, semuanya bisa runtuh. Karenanya, sejak awal, mereka harus mengikutiku tanpa ragu.
“Bagus...”
Kalau reputasi “tidak stabil” yang katanya melekat pada diriku ini bisa kupakai sebagai alat, kenapa tidak sekalian kupinjam saja?
“Luke!”
“Penggal kepala bajingan kurang ajar ini. Sekarang!”
・°˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!