Bab 4 : Perintah Konyol

1 dibaca

A

・°˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°.

Aku menatap Sam, lalu beralih ke Luke yang berdiri kaku.

“Kenapa?”

Wajah Luke memucat seketika. “Yang Mulia, tapi—“

“Kau tak mendengar perintahku?”

“Sam bertarung mati-matian hari ini. Dia menahan gelombang kedua sendirian selama hampir sepuluh menit sebelum bala bantuan datang. Kesalahannya hanya—“

“Apa? Apakah aku harus mengulangi perintah itu lagi?” potongku, tanpa menaikkan suara.

Pandanganku kembali ke prajurit yang berlutut di depanku. “Sam.”

Bahu prajurit itu tersentak.

“Kau pasti sedang berpikir, ‘Toh kita semua akan mati di sini, jadi apa bedanya mati di tangan pangeran bodoh ini dengan mati dibunuh monster di luar sana’ Apakah aku benar?”

Seolah tertampar oleh isi pikirannya sendiri, bahu Sam bergetar hebat, sementara seringaiku makin lebar.

“Sayang sekali, itu sangat berbeda, dasar bodoh.”

“...?”

“Bukankah itu sudah jelas?” Jariku terangkat, menunjuk ke ujung lorong.

Di sana terdapat sebuah telegraf nirkabel yang entah bagaimana masih bisa berfungsi di tengah perang ini. Benda itu dipakai untuk meminta bantuan selama beberapa hari terakhir.

Meskipun sepertinya kami akan musnah lebih dulu sebelum bantuan apa pun tiba. Ugh! Yah… persetan dengan itu! Intinya adalah...

“Kau tahu apa fungsi benda itu, Sam?”

Langkahku maju perlahan, sengaja memperlambat tiap kata yang keluar dari mulutku.

“Setiap laporan pertempuran dari garis depan dikirim lewat telegraf itu, langsung ke Departemen Militer di ibu kota. Nama-nama yang gugur, sebab kematian, bahkan status terakhir mereka, semuanya dicatat resmi di sana.”

“Sekarang, bayangkan dua laporan berbeda.”

Satu jari terangkat.

“Yang pertama. Prajurit Sam, gugur di garis depan Frontiercross, menahan gelombang monster seorang diri sebelum bala bantuan tiba.”

Jari kedua menyusul.

“Yang kedua. Prajurit Sam, dieksekusi atas perintahku karena menghina keluarga kekaisaran secara terbuka.”

“Ugh...” Erangan tertahan keluar dari mulut Sam. Ia pun dengan perlahan menundukkan kepalanya.

Kepalaku miring.

“Kau prajurit aktif, kan? Itu artinya siapa pun yang kau tinggalkan di rumah, entah orang tua, istri, atau anak… hidup pasti mereka bergantung pada tunjangan Kekaisaran.”

Wajah Sam sontak kehilangan warna. Bahunya yang tadinya kaku karena amarah kini bergetar karena hal yang jauh lebih dingin daripada amarah.

“Ba—bagaimana Anda bisa...”

Tubuhku condong mendekat, berbisik tepat di telinganya. “Sayang sekali, tanpa tunjangan itu, mereka mungkin akan pindah ke jalanan sebelum musim dingin ini berakhir.”

Bruk!

Sam langsung ambruk, menghantamkan dahinya begitu keras ke lantai batu

“Sa—Saya mohon ampun, Yang Mulia Pangeran!”

“Kumohon... saya memohon belas kasihan Anda...!”

Fiuh!

Syukurlah dia mau menurut! Aku sempat panik setengah mati kalau-kalau bajingan ini nekat memberontak karena sakit hati.

Tentu saja, aku sama sekali tidak berniat membunuh Sam. Lagipula… bajingan bodoh mana yang akan melakukannya?

Dalam keadaan genting seperti ini, setiap ksatria dan prajurit adalah aset yang tak ternilai. Namun di atas segalanya, sangat penting untuk menegaskan otoritasku di sini.

Situasinya begitu kritis. Akan sulit untuk mendapatkan kepercayaan bawahanku hanya dalam satu malam.

Pada akhirnya, hanya ada satu cara untuk membuat mereka mengikutiku, rasa takut.

Strategi yang kotor memang, tapi aku tidak punya pilihan lain.

“Menghina keluarga kaisar secara langsung, kau tentu saja pantas dipenggal, akan tetapi...”

Aku mengangkat bahu dengan santai.

“Yah, mengingat situasi sulit yang sedang kita hadapi dan keberanianmu sebelumnya… aku akan mengabaikannya kali ini.”

Tanpa menunggu jawaban Sam yang masih gemetar, aku berbalik menatap Luke. Pria itu tampak menahan napasnya sejak tadi.

“Batalkan perintah eksekusinya.”

“Baik, Yang Mulia.” ucap Luke sambil menghembuskan napas lega.

Tempat ini adalah pertaruhan dengan risiko tinggi. Satu langkah salah dan kami semua akan binasa. Beruntung, unjuk kekuatanku di awal ini sepertinya membuahkan hasil.

“Nah, kalau begitu!”

Aku menepuk tanganku sekali lalu menyapu pandangan ke seluruh kelompok.

“Bukankah lebih baik bertahan hidup bersama daripada mati bersama?”

Semua orang mengangguk, wajah mereka menunjukkan campuran antara bingung dan lega

Aku mengulurkan tanganku kepada Sam di hadapan semua orang.

Ekor mataku menangkap Nina dan Lucien yang saling bertukar pandang, tidak yakin harus lega atau semakin waspada terhadapku.

Bagus.

Selama mereka masih ragu, selama itu pula mereka akan menurut. Itu sudah lebih dari cukup untuk memulai.

“Aku tidak akan berdalih! Karena kesalahanku, pasukan kita berada di ambang kehancuran.”

Mata semua orang terbelalak. Mungkin mereka terkejut melihat seorang pangeran mengakui kesalahannya untuk pertama kalinya.

“Namun sekarang bukanlah waktunya untuk meratapi kesalahan di masa lalu. Kita harus mencari tahu cara untuk bertahan hidup dari monster batu keparat itu.”

Aku mengamati wajah mereka satu per satu.

Luke, Nina, Sam dan... Lucien, yang masih meringkuk dan menangis di sudut ruangan.

Wajah orang-orang yang mungkin akan mati esok hari, tapi tetap berdiri untuk melawan bersamaku.

“Aku punya rencana untuk memukul mundur mereka.”

Mendengar kata-kataku, mata Luke membelalak. “Sungguh? Apakah Anda yakin, Yang Mulia?”

“Tentu saja peluangnya kecil, tapi apa pilihan lain yang kita punya?”

“Karena itu, kumohon, percayalah padaku sekali ini saja, dan ikuti aku.”

Riak keterkejutan menyebar di antara semua orang.

Entah itu keterkejutan atas gagasan kemungkinan meraih kemenangan, atau ketidakpercayaan pada ocehan seorang pangeran gila, aku tidak peduli.

Toh, kalau tidak ingin mati, mereka tidak punya pilihan lain selain mengikutiku.

Tak ada kata-kata, hanya anggukan kepala.

“Bagus,” kataku, lalu berbalik menghadap yang lain. “Kalau begitu, kita bisa mulai ...”

Aku menghela napas sebelum berbalik ke arah mereka berempat.

“Seorang Field Surgeon, seorang Machinist, dan... seorang Sapper...”

Benar juga, mereka bertiga bukan Jaeger murni. Sialan… peluang kemenangannya menjadi semakin kecil…

Kepalaku berdenyut sesaat, entah kenapa sebuah pepatah tiba-tiba terasa pas untuk situasi ini.

“Jangan lihat gelasnya, lihat isinya.”

Aku mengusap wajah, lalu berbalik ke peta perang di atas meja kayu itu.

Baiklah… coba saja…

“Luke. Berapa lama Golem butuh waktu dari titik kemunculan sampai ke pagar terluar?”

“Sekitar... satu jam, Yang Mulia.” Luke tampak sedikit kaget dengan arah pertanyaan itu, tapi cepat menjawab. “Kalau mereka jalan terus tanpa berhenti.”

“Berhenti?”

Ini? Mereka seperti golem yang pernah kubaca di forum.

“Ya, Mereka selalu berhenti di titik yang sama, sekitar lima menit, sebelum lanjut lagi. Kami sempat mengira itu jebakan, tapi tidak terjadi apa-apa selama jeda itu.”

“Titik yang sama, maksudmu?”

“Dekat reruntuhan menara pengawas lama. Perkiraan, Tujuh ratus meter dari tempat ini.”

Lokasi itu langsung kutandai di kepalaku, dan seringai kecil muncul tanpa kusadari.

“Golem besar selalu di depan?”

“Tidak selalu.” Luke menjawab cepat, seperti ini bagian yang menurutnya justru layak disampaikan. “Kadang tengah, kadang malah paling belakang. Kami tidak pernah bisa nebak.”

“Begitu…”

Aku menoleh ke arah satu-satunya gadis di kelompok ini, “Nina,”

“Ya, Yang Mulia.”


Nina menatapku penuh perhatian, seolah menggantungkan diri pada setiap kalimat yang keluar dari mulutku. Sayang, wajahnya langsung muram begitu mendengar kalimat berikutnya.

“Kau akan memimpin divisi Artillery besok.”

Nina menatapku seolah aku salah sebut nama. “Maaf, Yang Mulia? Saya memang pernah memegang meriam, tapi sekarang saya hanya seorang Machinist…”

Aku mengabaikan protes Nina lalu mengalihkan wajah ke Sam.

“Dan, Sam,”

“Baik, Yang Mulia.”

“Kau akan memimpin pasukan gerilya melalui lorong timur. Tugasmu menyusup diam-diam ke tengah pasukan musuh dan membuat kekacauan.”

“Gerilya? Aku? Sabotase?” Jawabnya sambil menunjuk dirinya sendiri.

Menepis reaksinya, aku beralih ke anggota berikutnya yang masih duduk meringkuk.

“Lucien.”

Dia tersentak. “Y-ya? Kalau soal korban, saya sudah—“

“Bukan itu.” Aku menggeleng. “Kau akan bertugas di garis depan besok. Gunakan  meriam Frontier untuk menyerang target-target musuh yang paling berbahaya.”

Lucien, yang nyaris tidak bisa menahan air mata, tampak terpana mendengar pernyataanku.

“Terakhir, Luke. Kau akan memimpin sisa prajurit dan mengamankan garis depan.”

“...”

Mulut pengawalku juga ternganga, terpana oleh pembagian peran yang sangat konyol. Yah, reaksi mereka persis seperti yang sudah kuantisipasi. Selain Luke, semua orang mendapatkan tugas di luar role mereka.

Di tengah keheningan, Nina mengutarakan pikirannya dengan hati-hati.

“Jadi, jika saya memahami instruksi Yang Mulia... saya, seorang Machinist, akan menjadi pemimpin divisi Artillery di garis depan.”

“Tepat.”

“Sam, seorang Sapper yang tingginya lebih dari dua meter, akan menyusup ke tengah pasukan musuh untuk melakukan sabotase.”

“Tepat sekali.”

“Dan Lucien…, seorang Field Surgeon yang seumur hidup belum pernah memegang meriam, akan menjadi penembak meriam Frontier?”

“Bagus. Pemahamanmu luar biasa, Nina.”

“Bolehkah saya bertanya satu hal lagi, Yang Mulia? Tanpa mengurangi rasa hormat.” Nina menatapku khawatir. “Apakah kepala Anda sempat terbentur sesuatu?”

Ugh… sialan, mereka memang memiliki pikiran seperti itu!

“Rasa skeptis kalian memang beralasan. Lagipula, sekadar mendengar instruksi ini pasti terdengar seperti satu lagi tindakan sinting dari seorang pangeran bodoh, kan?”

Semua orang meringis serempak.

Pemikiran yang sama jelas terpancar dari wajah mereka. Rencana ini memang menentang segala logika pertempuran konvensional.

“Tapi kalian semua punya ‘kemampuan’ untuk menjalankan peran yang kutugaskan, bukan?” Seringai licik terukir di bibirku, sementara mataku mengamati wajah mereka satu per satu.

“Apakah aku salah?”

“...”

Mendengar itu, mereka saling bertukar pandang, bingung.

Aku menghela napas. Sepertinya mereka membutuhkan penjelasan logis.

Baiklah, kita mulai dari yang paling dekat.

“Nina.”

“Ya, Yang Mulia?”

Jariku menyusuri garis pagar barat terluar. “Menurut laporan, meriam-meriam di pos ini rusak separuh, apakah itu benar?”

“Itu benar, Tapi—“ Nina maju setengah langkah, alisnya berkerut.

“Sebagai seorang Machinist, aku yakin kau tahu persis mana bagian yang bisa dipaksa jalan dan mana yang benar-benar akan meledak kalau dipaksa. Itu bedanya seorang teknisi dengan prajurit biasa yang cuma bisa menarik pelatuk.”

“Kau tidak perlu menembak, tugasmu hanyalah memastikan benda itu tidak meledak di wajah mereka sendiri sebelum sempat menembak sekali pun. Itu akan mengurangi korban jiwa yang tidak perlu.”

Nina menatapku lama, seperti mencerna tiap kata itu satu per satu. Lalu, perlahan, bahunya turun.

“...Baik, Yang Mulia.”

Aku berbalik, mengalihkan pandangan ke Sam.

“Apakah kamu dari distrik barat, Sam.”

Sebuah tato kecil terlihat di pergelangan tangan kirinya. Tiga garis melingkar, disilang satu garis lurus di tengah.

Aku pernah membaca soal itu di laporan kriminal yang iseng kubaca dulu, tentang distrik-distrik kumuh di pinggiran ibu kota. Simbol itu semacam penanda geng jalanan, tempat anak-anak tanpa nama keluarga belajar mencuri sebelum belajar membaca.

Sam tetap kaku dan tidak merespons, tetapi diamnya sudah menjadi konfirmasi yang cukup. Aku menganggukkan kepala.

“Kudengar pencurian marak di sana.” Aku mengangkat bahu.

“...?!”

Fiuh! Ternyata benar. Untung saja aku pernah baca soal ini!

“Dengar.” Aku menurunkan suaraku, cukup pelan agar hanya dia yang mendengar. “Aku tak peduli dari mana asalmu, atau apa yang pernah kau lakukan sebelum jadi prajurit.”

Sam menatapku lama, matanya penuh kewaspadaan yang perlahan luntur jadi sesuatu yang lebih rumit.

“Kau bisa melakukannya, kan?”

Ia menunduk sesaat, lalu mengangguk pelan. “...Saya akan coba, Yang Mulia.”

“Bagus. Kalau begitu kamu akan mengikuti instruksiku.”

Kini tersisa satu orang.

Aku berbalik menghadap Lucien, yang masih meringkuk di sudut ruangan, bahunya bergetar pelan setiap kali isakan lolos dari mulutnya.

“Lucien.”

“Dia pasti sangat berharga bagimu…”

Lucien tetap diam. Aku menunggu, membiarkan hening itu bekerja sendiri.

“...Dia, dia adalah teman dari kampung halamanku, dia sudah kuanggap seperti kakak sendiri… Kami dari panti asuhan yang sama.”

“Panti asuhan itu sangat miskin,” lanjutnya, “tapi orang-orang di sana baik pada kami.”

“Saat usia kami dua belas tahun, Vlad dan aku kabur dari sana.”

Vlad. Pasti itu nama temannya yang gugur…

“Vlad punya bakat bertarung jarak dekat. Aku... cukup beruntung memiliki keterampilan medis. Kami bertahan hidup sebagai tentara bayaran selama bertahun-tahun setelahnya.”

“...”

“Kami bekerja keras bersama. Berjanji akan menyokong adik-adik kami di panti asuhan, begitu semua ini selesai.”

Lucien menenggelamkan wajahnya lebih dalam ke telapak tangannya sendiri.

“Tapi dia meninggal. Begitu saja.”

“...”

“Seekor golem menyerangku saat aku lengah, lalu Vlad melindungiku. Dia mati tepat di depan mataku! Semua itu... demi menyelamatkan orang lemah sepertiku!”

Tiga orang lain di ruangan ini terdiam, mengamati Lucien menangis dengan wajah serba salah, tak tahu harus berbuat apa.

“Vlad punya impian. Punya kemampuan untuk mewujudkannya. Tapi di tempat terkutuk ini...”

“...”

“Mengapa Anda memanggil kami kemari, Yang Mulia?” Suaranya tiba-tiba naik, tajam menembus isak tangisnya sendiri.

“Apakah ada tujuan agung di balik semua ini? Atau nyawa kami hanya hiburan bagi Anda?”

Air mata terus mengalir dari matanya yang sudah memerah dan bengkak.

“Kembalikan Vlad, Yang Mulia. Kumohon... aku ingin temanku kembali...”

Aku meresapi perkataan Lucien dalam diam, lalu mengangguk pelan.

“Bencilah aku, Lucien. Simpanlah rasa dendam kepadaku jika memang harus.”

Aku meletakkan tangan di bahunya yang masih bergetar.

“Tapi ingat, temanmu mengorbankan nyawanya untuk melindungimu.”

“...”

“Apakah kau hanya akan duduk di sini menunggu ajalmu?”

Aku menajamkan tiap kata berikutnya.

“Akankah kau membuang nyawa yang sudah dilindungi Vlad sampai napas terakhirnya, hanya karena kau terlalu takut mati di bawah komando pangeran yang tak berguna ini?”

“Aku...”

“Kau harus bertarung.” Tanganku meremas bahunya, sedikit lebih erat.

“Balaskan dendammu!”

“...”

Aku memasang senyuman jahat.

“Oh, dan juga...” Aku berdiri, menyapu pandangan ke seluruh ruangan, memastikan semua orang mendengar ini.

“Karena semua ini adalah kesalahanku sebagai komandan tertinggi di sini, kau boleh membunuhku setelah pertempuran ini berakhir. Bagaimana?”

Semua orang tersentak.

Lucien terdiam. Pertarungan batin di mata anak itu berlangsung singkat sebelum tatapannya mengeras.

“...Ya.”

Sialan, Itu jujur sekali, Bung! Ugh!, jantungku….

“Bagus.”

Aku melepaskan bahu Lucien dan menunjuk diriku sendiri dengan ibu jari.

“Berjanjilah padaku akan hal ini. Jika kita selamat dari cobaan ini, tidak peduli kapan pun itu, tanganmulah yang akan mengakhiri hidupku.”

“Yang Mulia—?!” Luke mencoba menyela, tapi gerakan tanganku yang cepat membungkamnya sebelum kata berikutnya sempat keluar.

“Sekalipun rencana ini berantakan, toh kita semua ditakdirkan untuk mati. Meskipun begitu, di tanganmulah aku akan menemui ajalku. Aku bersumpah, demi kehormatan keluarga kekaisaran.”

“...”

“Jadi... meskipun hanya untuk pertempuran besok, ikuti perintahku.”

Saat Lucien mendongak menatapku, gejolak ketakutan di matanya perlahan mulai mereda. Hal itu memunculkan seringai lain muncul di mulutku.

Kebencian sekalipun bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar saat dibutuhkan.

Bahkan jika kebencian itu diarahkan kepadaku, aku akan menyambutnya dengan tangan terbuka.

Lucien memaksakan dirinya bangkit. Kakinya gemetar, akan tetapi kini berdiri tegak dengan pijakan mantap.

Aku menyapu pandangan ke arah empat orang yang ada di ruang ini. Sebuah senyuman puas terukir di wajahku.

Papan catur sudah tertata.

“Baiklah, Semuanya!”

Apakah strategi gila ini akan membawa kami pada pemusnahan total atau kemenangan telak, fajar esok hari yang akan menjawabnya.

Yang harus kami lakukan sekarang hanyalah mempertaruhkan segalanya dalam pertarungan ini.

“Mulai detik ini sampai pertempuran berakhir... akulah pemegang komando tertinggi kalian!”

・°˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk