・°˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°.
Ada satu hal yang kupelajari semalam. Mimpi buruk paling menyebalkan bukanlah yang datang saat kau tidur, melainkan yang menyapamu tepat saat fajar mulai terbit.
Kini aku berdiri di atas tembok pertahanan, menyaksikan garis emas di cakrawala yang perlahan melebar.
Semalaman penuh, tak satu pun dari kami sempat tidur barang sejenak. Namun, entah kenapa, justru di detik-detik terakhir ini, suasana terasa terlalu sunyi.
Aku menoleh sekilas ke belakang. Prajurit-prajurit yang tersisa berjaga di posisi masing-masing, mata mereka semua terpaku ke arah yang sama, tempat ratusan sosok batu telah ‘tidur’ sejak semalam.
Mereka menunggu hal yang sama denganku.
Memang, semesta kadang punya selera humor yang buruk. Jawabannya datang tepat saat cahaya menyentuh salah satu dari keparat itu.
Golem pertama bergerak. Disusul puluhan, lalu ratusan.
Dari kejauhan, sosok-sosok batu yang sejak malam diam membisu itu mulai bangkit hampir bersamaan, seperti ada aba-aba tak terdengar yang menggerakkan mereka semua sekaligus.
Retakan di tubuh mereka melebar. Debu dan pecahan batu kecil berjatuhan dari sendi-sendi kasar itu.
Setiap kali kaki raksasa mereka menghantam tanah, getaran menjalar sampai ke telapak kakiku, menembus lantai batu tembok pertahanan.
Bajingan!
Aku memang pernah membaca soal Golem-Golem ini di forum, tahu detail tentang pola gerak mereka, titik lemah mereka, bahkan estimasi jumlah per gelombang serangan.
Namun, tak ada satu pun deretan angka dan statistik itu yang benar-benar menyiapkanku untuk momen ini.
Dengan susah payah, aku menelan ludah untuk membasahi tenggorokanku.
Benarkah kami bisa menaklukkan mereka? Di saat pasukan kami sudah kian menipis? Atau akankah ini menjadi akhir dari segalanya?
“Yang Mulia.”
Suara itu datang dari belakang. Aku pun menoleh, lalu mendapati Luke berdiri di sana, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang sulit disembunyikan.
“Di luar sini dingin. Kita sebaiknya kembali ke dalam.”
“Aku baik-baik saja, Luke. Tenang saja, aku perlu memahami formasi mereka. Bukankah ini cara kita menentukan posisi kita sendiri?”
Luke terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya pelan, tidak membantah lagi.
Ini bukan sekadar omong kosong. Aku benar-benar sedang menilai formasi mereka.
Lebih spesifiknya... aku sedang mencoba untuk menentukan lokasi sang Pemimpin di antara mereka.
Sialnya, aku sendiri tidak yakin apakah dia benar-benar ada di antara mereka. Yang kumiliki hanyalah keyakinan buta pada ingatan tentang gim itu. Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.
“Yang Mulia benar-benar penuh teka-teki.”
Luke tiba-tiba memecah lamunanku.
“Hah?”
“Baru beberapa hari yang lalu, Anda tampak sangat rapuh.”
Kekhawatiran tergambar di wajahnya.
“Saya sangat khawatir Anda mungkin akan melakukan sesuatu yang nekat...”
“Ah. Soal itu… benarkah?”
“Ya. Sejak aku mulai melayani Yang Mulia... Anda tampak selalu gelisah, seolah-olah mendambakan kematian dengan cara tertentu...”
Tak lama kemudian, sebuah senyuman tulus menghiasi bibir pengawalku.
“Sekarang, Anda terasa berbeda.”
Tentu saja berbeda, Bung! Aku ini orang lain yang merasuki tubuh tuanmu!
“Ha! Bukankah aku pangeran yang emosinya ‘tidak stabil’? Perubahan suasana hati yang drastis seharusnya bukan hal aneh, kan?”
“Saya tidak yakin apakah ini karena tekanan atau ada hal lain...”
“...”
“Tapi Tolong, tetaplah menjadi seperti ini di masa depan, Yang Mulia.”
“Jika masa depan itu memang ada… Yah, mari kita berikan yang terbaik hari ini demi ‘masa depan’ itu, Luke.”
“Siap, Yang Mulia!”
Ugh! Antusias sekali.
Setelah cukup menganalisis formasi musuh, aku kembali ke markas bersama si pengawal berambut pirang itu. Kami berjalan dalam diam.
“Luke, jika rencana ini gagal... jangan selamatkan aku. Larilah.”
“Maaf, apa maksud Anda?”
“Kamu punya kemampuan untuk bertahan hidup.”.
Bahkan jika aku gugur, kamu harus melindungi dunia ini.
Dengan pemikiran itu, aku berbicara dengan sungguh-sungguh. Namun…
“Yang Mulia.”
“Seorang pengawal tidak pernah meninggalkan tuannya.”
Pria itu menjawab sambil tersenyum.
“Bahkan jika tuannya itu adalah orang sinting yang tidak kompeten?”
“Anda tidak pernah tidak kompeten atau sinting, Yang Mulia. Aku selalu memegang teguh keyakinan itu.”
“...”
“Sekarang aku akan pergi untuk mengumpulkan kelompok inti. Sampai jumpa sebentar lagi.”
Dengan membungkuk, Luke bergegas menuju barak.
Tak lama setelah kepergiannya, aku tersenyum.
Luke.
Satu-satunya karakter terkuat di sepanjang stage tutorial, yang di setiap percobaanku dulu, selalu berdiri di sisi Arthur sampai napas terakhirnya, tak peduli seberapa buruk keputusan yang kuambil sebagai pemain.
Dan sekarang, di sini, dia masih sama. Masih berdiri di sisiku, bahkan sebelum aku sempat membuktikan diriku pantas mendapatkannya.
“Terima kasih, Teman,” gumamku pelan.
…
Strategi ini sangat sederhana. Yah, ini sangat mendasar hingga hampir memalukan untuk menyebutnya sebagai sebuah strategi.
“Legiun Golem, tidak perlu kujelaskan lagi, kita tidak bisa mengalahkan mereka dengan taktik biasa.”
“Apa kalian tahu kelemahan terbesar dari para batu-batu keparat itu?”
Semua orang tampaknya tidak tahu. Jadi, aku pun melanjutkan penjelasanku.
“Mereka bertindak sebagai sebuah kawanan. Setiap individu makhluk ini tidak memiliki kemampuan untuk berpikir. Jadi... menurut kalian, siapa yang memberikan perintah?”
Luke menawarkan jawaban.
“Pemimpin?”
“Yah lebih tepatnya.. Core. Di dalam kawanan monster ini, ada satu entitas yang memberikan perintah, Golem Core.”
“Tapi itu...”
Aku tahu apa yang ingin diungkapkan oleh Luke. Aku pun mengangguk.
“Bajingan itu tersembunyi di antara para golem, hanya mengeluarkan perintah kepada boneka-bonekanya.”
“...”
“Dalam keadaan normal, mustahil untuk melukainya. Menemukannya saja sulit, bahkan jika kita berhasil menemukannya, pertahanannya juga tidak kalah tangguh.”
“Untuk itu aku menugaskan Sam untuk bergerilya di selatan benteng.”
“Kemudian Lucien.”
“Memiliki kemampuan untuk membidik entitas itu dari jauh.”
Sam yang akan bertindak sebagai mata pengintai untuk mencari entitas itu lalu memberi tanda, sementara Lucien yang akan menarik tuas pelatuknya.
Dengan kombinasi ini, tembakan mematikan dari jarak jauh ke jantung pertahanan sang Pemimpin bukan lagi hal mustahil.
“Tapi, Yang Mulia...”
Luke berkeringat deras.
“...meskipun Core bukanlah entitas tipe petarung, dia tetap tidak begitu lemah hingga bisa dibunuh hanya dengan proyektil peluru biasa. Bahkan jika Lucien entah bagaimana bisa menembaknya dari jauh...”
“Bukankah aku sudah bilang dia akan menggunakan Meriam Frontier?”
Aku menunjuk ke atas kepala kami.
“Kita gunakan mesin pamungkas itu.”
Sebuah meriam uap mutakhir yang sangat kuat. Itu pasti akan memberikan kerusakan yang signifikan pada sang Pemimpin.
“Meriam Frontier memang meriam yang sangat kuat. Tapi jangkauannya tidak terlalu jauh, Yang Mulia,” timpal Nina.
“Tenang saja, Aku sudah memperhitungkan bagian itu. Kita akan membuat inti generatornya mengalami overload, bukankah itu bisa meningkatkan jangkauannya?”
Gagasannya cukup lugas, tetapi membuat inti meriam itu menjadi kacau sama saja dengan mengatakan bahwa kamu akan menghancurkan mesin itu. Jika mesin rusak, meriam tersebut umumnya sudah tidak bisa diperbaiki lagi.
Namun, apakah meriam itu lebih penting dibanding situasi kami saat ini?
Persetan! Tentu saja aku sudah siap untuk menghancurkannya!
“Jadi begini rencananya! Sam akan menemukan lokasi Core, Lucien yang menjatuhkannya. Sementara itu, kalian berdua...”
Aku menatap Luke dan Nina secara berurutan.
“... tahan para keparat itu agar tidak mendekat.”
Keduanya menelan ludah dengan berat. Aku memberi isyarat kepada Luke.
“Luke, kamu yang bertanggung jawab atas seluruh pasukan. Tahan mereka selama mungkin sambil menjaga garis depan tetap utuh.”
“Dimengerti.”
“Khususnya menara pusat tempat Meriam Frontier berada. Menara itu harus dilindungi apa pun yang terjadi. Tidak ada pengecualian!”
“Aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk itu.”
Luke menegaskan dengan ekspresi penuh tekad. Aku mengalihkan perhatianku kepada Sam, yang berdiri di sampingnya.
“Sam.”
“Siap, Tuan!”
“Ambil ini.”
Aku menyerahkan sebuah sabuk penuh dengan energy bar kepada Sam. Dia mengambilnya tanpa banyak bicara.
“Sisa-sisa yang ada di benteng, semuanya kukumpulkan untukmu.”
“Golem-golem itu hanyalah boneka bodoh. Mereka hanya mengejar manusia terdekat.”
Semakin aku terus berbicara kepada Sam, wajahnya semakin memucat.
“Ditambah lagi, indra mereka juga tumpul, jadi kalau kau bersembunyi dengan benar, mereka tidak akan menemukanmu.”
“...”
“Tarik mereka menjauh dari pangkalan, sembunyi, ulangi. Begitu mereka mulai kehilangan jejakmu, arahkan lagi perhatian mereka ke dirimu sambil mencari posisi sang Pemimpin. Bisakah kamu melakukannya?”
Sam mengangguk dengan mantap.
“Aku akan mencobanya, Tuan.”
“Terima kasih. Semoga berhasil. Aku mengandalkanmu!”
Aku menepuk bahu Sam lalu beralih ke Nina.
“Nina.”
“Ya, Yang Mulia.”
“Sebagai seorang Machinist, kau mungkin pertama kali memimpin pos penjagaan, Nina. Maaf karena harus memberimu peran yang menantang. Gerbang Barat adalah pintu masuk lain menuju menara pusat tempat Meriam Frontier berada.”
“...”
Kalau titik itu runtuh, garis depan ikut runtuh bersamanya.
“Celah jalurnya sempit. Golem-golem itu tidak akan bisa masuk lebih dari satu atau dua ekor bersamaan.”
“...”
“Yang perlu kamu lakukan hanyalah... bertahan hidup. Itu saja.”
Namun, meskipun mendapat tugas sulit, Nina sepertinya tidak gentar sedikit pun.
“Aku akan melakukan yang terbaik, Yang Mulia.”
Darah merembes dari bibirnya yang digigit erat, tapi suaranya tidak sedikit pun goyah.
“Bagus sekali.”
Tinggal satu orang lagi yang belum kuberi perintah.
“Lucien.”
“...”
“Kamu ikut denganku.”
Lucien mengangguk dalam diam. Wajahnya diselimuti rasa takut, tetapi dia tidak melarikan diri ataupun menghindari tatapanku.
Dan dengan itu, arahan misi pun selesai. Aku sebenarnya ingin memberikan beberapa perintah lagi, tetapi...
Bum! Bum! Bum!
Suara drum yang bergema dari luar menandakan pergerakan maju musuh-musuh kami.
“Legiun Golem mulai bergerak! Monster-monster itu berkumpul!”
Teriakan panik dari seorang pengintai bergema. Punggungku menegang, seolah tubuh ini tahu lebih dulu apa yang akan datang.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak sekencang mungkin.
“Semua pasukan! Siapkan posisi”
...
Di landasan Meriam Frontier.
Seorang prajurit altileri menatapku, wajahnya dipenuhi keringat dingin.
“Apakah Anda benar-benar yakin, Yang Mulia?”
“Jangan khawatir, ikuti saja instruksinya.”
“Siap, Tuan!”
Prajurit itu menarik tuas meriam tersebut.
Bzzzt!
Getaran menjalar ke seluruh landasan, disusul cahaya yang mengalir di sepanjang laras meriam seperti darah lava yang baru dibebaskan dari perutnya sendiri.
Dalam keadaan normal, aku pasti akan terpesona oleh tontonan ini. Sayangnya, dunia tidak lagi menyisakan waktu untuk kekaguman semacam itu.
Aku melemparkan pandanganku ke sisi lain tembok.
“Tahan barisan!”
Suara Luke menggelegar dari garis depan, memecah kabut pagi yang mulai luruh oleh gemuruh langkah ratusan raksasa batu.
“Untuk Kekaisaran Blacktorn!”
“Untuk mereka yang sudah gugur!”
“Dan untuk kita yang masih berdiri!”
Gaungnya menyebar di sepanjang tembok. Untuk sejenak, hanya ada deru mesin dan hembusan angin. Lalu, dari ratusan tenggorokan, teriakan itu meledak seperti ledakan boiler yang lama ditahan.
“UNTUK BLACKTORN!”
Meriam-meriam mulai berputar. Katup uap dibuka. Di bawah langit yang semakin gelap oleh debu dan asap, tembok depan Frontiercross bersiap menyambut badai.
Luke melirik ke arahku sekilas, memberi satu anggukan singkat sebelum kembali menghadap musuh.
Aku membalasnya dengan anggukan yang sama.
Ada Sam yang bersiap untuk berkelana ke luar tembok, Nina yang berdiri tegak di gerbang barat dan juga Lucien tepat di sampingku.
Semua orang di tempatnya. Tidak ada lagi ruang untuk keraguan, tidak ada lagi waktu untuk rencana cadangan.
Inilah awalnya.
Tutorial stage yang akan mendikte hidup atau mati kami semua, dan satu-satunya aba-aba pembukanya adalah gemuruh langkah ratusan monster batu keparat yang haus darah.
・°˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!