Bab 6 : Pertempuran Sengit

1 dibaca

A

・°˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°.

Dari atas landasan Meriam Frontier, aku bisa melihat seluruh medan di depan tembok selatan pangkalan.

Tanahnya tidak rata. Bekas parit pertempuran sebelumnya sebagian sudah longsor, menyisakan cekungan-cekungan dangkal. Sementara itu, Gerbang Barat menutup satu-satunya celah sempit yang menembus tebing batu alami di sisi barat.

Entah siapa yang merancang tempat ini. Tak ada jalur pelarian, tak ada tempat persembunyian rahasia. Satu-satunya keuntungan kami cuma ketinggian tembok ini.

Selain itu, kerja bagus, bajingan! Kau sukses membuat jebakan maut yang sempurna.

Baiklah, Tenangkan dirimu, NullPointer.

Aku menghembuskan napas. Jemariku mengetuk-ngetuk pelan gagang teropong, sebelum akhirnya kuarahkan lensanya ke barisan golem di kejauhan.

Kita pasti bisa memenangkan ini, kan?

Terlepas dari serangan habis-habisan yang mereka lancarkan sekarang, pasti ada unit khusus yang mengawasi dari belakang formasi golem itu, bersembunyi di posisi aman yang jauh dari jangkauan bahaya.

“Core keparat itu pasti ada di sana... aku yakin itu.”

Bum! Krak!

Tanganku bergetar melihat golem dan para prajurit bentrok di garis depan benteng. Gemuruh pertarungan bergema ke segala penjuru.

Di bawah sana, Luke berdiri di tembok selatan, memberi komando sambil menghadapi monster-monster itu.

“Tahan barisan! Jangan biarkan mereka mendekat!”

Garis pertahanan Luke masih kokoh untuk saat ini, tapi jelas tidak akan bertahan lama.

Benar saja, formasi pertahanan mulai retak di beberapa titik. Pos pengintai kecil di ujung tembok sudah runtuh separuh. Asap hitam mengepul dari sana, entah karena serangan langsung atau tembakan nyasar entah dari pihak mana.

Kalau ini masih sebuah permainan, bukankah ini baru gelombang serangan awal?

Sialan!

Berapa lama lagi kita bisa bertahan? Sepuluh menit? Lima menit?

“Lihat di sana! Itu sinyal mereka!”

Teriakan seorang pengamat dari sisi lain Menara Meriam.

“Sam benar-benar berhasil menemukannya?” gumamku, yang hampir meneteskan air mata kebahagiaan.

Sekarang…

“Lucien!”

“Ya!”

“Di sana! Apa kamu melihatnya?” Aku menunjuk ke arah barat daya.

Lucien menyipitkan mata dan mengerutkan kening, mengamati area yang kutunjukkan.

Aku baru saja akan memberikan teleskop kepadanya, tapi...

“...Ya. Aku melihat sesuatu. Golem-golem yang sedang berkumpul?”

Lucien memastikannya hanya dengan penglihatan alaminya, tanpa teleskop.

Sialan, Bung! Kau benar-benar bisa melihat mereka?! Seberapa tajam penglihatanmu sebenarnya?

“Di antara mereka seharusnya ada si pemimpin, Core. Bisakah kamu mengidentifikasinya?”

“...” Lucien tampak tersentak.

“Maksud Anda... gumpalan batu kasar dengan retakan bercahaya redup di beberapa titik itu...?”

“Tepat sekali.”

“Ya... ya, saya melihatnya, Yang Mulia. Makhluk itu... sedikit menakutkan.”

“Jangan alihkan pandanganmu darinya, Lucien. Makhluk mengerikan itu akan segera menjadi debu di bawah tembakan meriam kita.”

Aku lalu mengalihkan pandangan ke para prajurit artileri.

“Putar meriamnya! Arahkan ke barat daya! Lucien dan aku akan menyempurnakan bidikannya!”

Sreeeg!

Para prajurit artileri menggeser perangkat di tanah, menyesuaikan arah meriam.

Meriam itu berdenyut, dialiri energi yang mengalir ganas, sebelum moncongnya mengarah ke sang Pemimpin golem di kejauhan.

“Meriam Frontier, siap ditembakkan!”

“Energi terisi penuh. Kita bisa menembak kapan saja!”

“Bagus sekali!”

Aku memegang lengan Lucien dan membimbingnya ke panel kontrol Meriam Frontier.

Meski senjata ini kuat, perangkat bidiknya sangat sederhana. Hanya ada garis bidik kasar untuk mengarahkan sasaran, lalu penembak harus menarik pelatuk berat untuk melepaskan tembakan.

“Pegang ini.”

Aku mendesak Lucien yang berdiri dengan cemas di depan pelatuk.

“Umm... Y-Yang Mulia.”

“Lucien? Ada apa?”

“Tangan saya gemetar.” Lucien berbalik menatapku, wajahnya sepucat kertas serta berkerut panik.

“Saya... saya belum pernah menembakkan senjata apa pun seumur hidup saya, apalagi meriam raksasa di tengah kepungan monster seperti ini. Bagaimana jika saya mengacaukannya?”

“Lucien.” Aku meletakkan tangan di bahunya, mencoba menenangkannya. “Tidak apa-apa jika meleset.”

“Apa?!” Pemuda itu tercengang.

“Aku yang akan memikul tanggung jawabnya.”

“...”

“Bahkan jika kamu melakukan kesalahan, bahkan jika kamu gagal, bahkan jika kamu mengacaukan semuanya! Tidak masalah. Aku yang akan menanggung akibatnya. Yang perlu kamu lakukan hanyalah membidik makhluk itu dan menarik pelatuknya. Itu saja.”

Menangani dampak dari sebuah kegagalan adalah tugas seorang komandan, bukan bawahannya.

Aku mencoba tersenyum meyakinkan, meski tak yakin seberapa berhasil menutupi kegugupanku sendiri.

“Kamu mencari pembalasan untuk temanmu, kan?.”

“Pembalasan... untuk temanku...”

Mendengar kata-kata itu, sebuah perubahan menguasai sorot mata Lucien. “Baiklah, Yang Mulia.”

Fiuh!

Mengambil napas dalam-dalam, Lucien menggenggam erat pelatuknya, bidikan tertuju jauh ke barat daya melalui alat bidik meriam.

Dengan penyesuaian tepat dari Lucien, laras meriam menggeser kemiringan dan arahnya.

Hanya butuh beberapa detik untuk menyempurnakan bidikan.

Klak!

Dengan sekuat tenaga, Lucien menarik pelatuknya.

Klang! Klang!

Roda gigi saling bergesekan, memicu reaksi berantai di seluruh mekanisme mesin.

Bzzzt!

Energi yang terfokus memercikkan arus kuat di ujung laras, kemudian...

BBAAAAM!

Bumi seakan retak di bawah kaki kami.

Peluru energi itu melesat membelah udara dengan kekuatan yang mengerikan. Efek overload dari inti generator menciptakan ledakan balik dan gelombang kejut yang menyapu seluruh area menara artileri.

Para prajurit artileri terpelanting ke udara seperti boneka kain, sementara aku langsung menjatuhkan diri ke lantai berbatu, menutupi telinga yang kini berdenging hebat.

Meski begitu, mataku tetap terbuka lebar, melacak jalur proyektil sihir yang baru saja ditembakkan.

Ayo kena!

Peluru meriam itu bersinar menyala melintasi langit.

Kena!

Tak lama kemudian, proyektil itu jatuh tepat ke tengah kerumunan titik-titik hitam di kejauhan.

“Kena!”

Aku berteriak, hampir tanpa berpikir.

BUM!

Ledakan kolosal menyusul dari kejauhan. Awan debu yang mengepul terlihat jelas bahkan dari posisi kami.

Aku buru-buru bangkit. “Apa kita mengenainya?!”

Jawaban datang bukan dari Lucien, melainkan dari seorang pengintai yang mengawasi lokasi tumbukan dari jauh melalui teleskopnya.

“Tembakan telak! Tembakan telak! Peluru mendarat tepat di tubuh makhluk itu!”

Mataku menyapu garis pertahanan yang mengelilingi landasan meriam. Sorakan serempak meletus dari para prajurit di landasan meriam.

Lucien sendiri tampak linglung. Para prajurit artileri berkerumun di sekitar anak itu, memberikan tepukan hangat di punggungnya.

“Kamu luar biasa, Nak! Ini benar-benar pertama kalinya buatmu?”

“Yah, aku...”

“Bagaimana kamu bisa membidik sesuatu yang begitu jauh? Itu hampir tidak terlihat, bahkan dengan teleskop!”

“Aku tidak tahu bagaimana aku melakukannya...”

Lucien menatap tangannya sendiri dengan takjub.

“Aku hanya... melakukan seperti yang disarankan Pangeran... saat aku memegang pelatuk, aku sepertinya tahu apa yang harus kulakukan, dan tubuhku bereaksi dengan sendirinya.”

Apakah ini semacam skill bawaan dari dalam gim, atau memang bakat alami Lucien? Tapi mana mungkin, bukannya dia seorang Field Surgeon?

“...Umm, Yang Mulia.”

Sialan, firasatku buruk.

“Apa?”

“Mereka mulai  bergerak.”

“Apa yang bergerak?”

“Monster-monster yang ada di sekitar Core... mereka mulai bergerak.”

Aku bergegas ke teleskop, menggantikan posisi pengintai itu, lalu mengintip melalui lensa.

“...!”

Dalam hitungan detik, para golem di belakang sana mulai bergerak serempak, membentuk apa yang tampak seperti... sebuah formasi bertahan?

Bajingan!

Legiun Golem seharusnya berhenti begitu sang Pemimpin mereka terbunuh, karena itu sama saja dengan menghancurkan otak mereka. Namun, golem-golem itu tetap bergerak, seakan tak terjadi apa pun.

Bukan cuma golem-golem yang tertembak meriam, golem-golem yang menyerang pangkalan kami juga sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur.

Ini hanya bisa berarti...

Tepat pada saat aku memikirkan kemungkinan itu.

Nguuung!!

Dengungan aneh dan mengancam bergema di seluruh medan perang. Tak perlu menebak milik siapa dengungan itu.

Hummmm!

Terlepas dari jaraknya, tekanan luar biasa dari suara itu membuatku sulit bernapas untuk sesaat. Sementara itu, para prajurit memegangi kepala mereka sambil berteriak.

“Apa yang terjadi? Ada apa ini?!”

“Bukankah kita mengenai bajingan itu?”

“Kenapa dia masih hidup?!”

Peluru meriam itu memang mengenai sasaran dengan akurat. Masalahnya, kerusakan yang ditimbulkan tidak cukup.

“Semuanya, kuatkan diri kalian! Tetap tenang! Terus tembaki monster itu!”

Saat aku berteriak, para prajurit yang gemetar berbalik menatapku serempak. Aku berteriak lebih keras.

“Isi peluru berikutnya! Sekarang!”

“B-baik...”

Sambil gemetar, para prajurit artileri sigap bekerja pada Meriam Frontier, mendinginkan laras yang terlalu panas dan menyiapkan peluru berikutnya.

Belum sempat kami bernapas lega…

Ngiiiiiiiiing!

Jeritan memekakkan telinga itu kembali merobek udara.

Gelombang suara yang dipenuhi amarah pekat itu seketika mengubah arus pergerakan Legiun Golem.

Secara serempak, ratusan golem yang tadinya fokus menggempur tembok bawah kini mendongak.

Ribuan mata semerah darah mengunci posisi kami di menara artileri. Keringat dingin langsung mengucur deras di pelipisku.

Cepat tanggap juga kau, Keparat!

Golem-golem yang tadinya menyerang seluruh pangkalan terdepan secara merata tiba-tiba berbalik arah, mulai menerjang ke arah kami.

“Mereka menyerbu posisi artileri!”

“Biarkan para prajurit di bawah menangani pertahanannya! Kalian isi saja peluru berikutnya! Cepatlah!” Desakku pada para prajurit artileri.

“Kita harus menghabisi Core sebelum mereka mencapai posisi artileri! Isi ulang peluru!”

Para prajurit artileri dengan tergesa-gesa mendinginkan Meriam Frontier dengan air, lalu mengisi amunisinya.

“Isi ulang selesai!” teriak salah seorang prajurit artileri.

“Lucien!”

Begitu kata-kataku terucap, Lucien menarik pelatuk. Klak!

Zzzzt zzap zzap!

Bum!

Energi tembakan meledak layaknya aliran listrik, lalu sebuah proyektil keluar dari moncong meriam. Aku menelan ludah gugup, melacak lintasan peluru itu lewat teleskop.

Proyektil itu membelah langit dan jatuh tepat mengenai sang Pemimpin, sekali lagi...

BUM!

“Kena.”


Peluru itu mendarat akurat di titik sang Pemimpin gol itu berdiri. Hal itu membuat bulu kudukku merinding


“Kena! Tembakannya kena! Tepat sasaran!”


Seorang prajurit yang kegirangan di belakang melompat-lompat. Namun, aku sama sekali tidak merasakan kegembiraan…


Nguuung!


Sebab golem=golem yang menyerbu ke arah kami tidak mengubah pergerakan mereka sedikit pun.

Bajingan! Serangan itu masih belum cukup!?

Dari kejauhan, jelas terlihat bajingan itu masih hidup. Rahangku mengeras.

Menurut ingatanku, kerusakan yang ditimbulkan meriam itu seharusnya bisa menghancurkannya dalam satu atau dua tembakan.

Bagaimana jika entitas ini berbeda dari yang pernah aku hadapi di gim, atau yang tertulis di forum? Bagaimana jika dia punya trik khusus? Atau, bagaimana jika dia memang tidak bisa dihancurkan dengan cara biasa?

Pikiran-pikiran suram mulai berkelebat di kepalaku. Aku cepat-cepat menggelengkan kepala, menepisnya.

Aku hanya bisa melakukan sebatas kemampuanku. Bertahan sampai saat-saat terakhir, mendorong sampai menemukan celah...!

“Yang Mulia!” Seorang prajurit artileri, setelah menyiapkan Meriam Frontier untuk tembakan berikutnya, bergegas melapor kepadaku.

“Inti generatornya sudah mencapai batas karena overload yang dipaksakan! Kerusakan larasnya juga serius! Kita hanya bisa menembak lebih sedikit dari yang diperkirakan semula!”

Sial! Keadaan semakin buruk.

“Cukup basa-basinya! Berapa tembakan lagi yang bisa kita lakukan?”

“Total lima kali... kita sudah menembakkan dua, jadi tiga kali lagi!”

Tiga kesempatan lagi.

Aku tidak punya pilihan lain selain berharap Core keparat itu musnah dalam tiga tembakan itu.

Tidak. Bahkan berharap saja tidak cukup.

Mataku menyapu garis pertahanan yang mengelilingi landasan meriam.

Aku bahkan tidak yakin apakah kita masih punya waktu untuk melepaskan tiga tembakan yang tersisa.

Buk! Buk buk!

Garis depan jebol.

Sekelompok golem meruntuhkan tembok dan mulai merangsek masuk.

“Argh!”

“Kuaah!”

Satu per satu para prajurit tumbang, jeritan mereka bergema saat menemui ajal.

Tak lama kemudian, golem-golem itu berhamburan masuk melalui dinding yang hancur.

Aku mengepalkan tinju, menatap gelombang kematian yang merangsek mendekat.

・°˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk