・°˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°.
“Nina.”
Aku mencoba bangkit meskipun tubuhku terus saja gemetar.
“Yang Mulia, waktu kita hampir habis. Cepatlah!” teriaknya di kejauhan.
Nina terus menahan laju puluhan golem lewat tembakan presisi meriamnya, sembari berteriak lantang penuh keberanian.
“Jangan biarkan kematian kami menjadi sia-sia!”
Jangan biarkan kematian kami menjadi sia-sia!”
Sambil menggertakkan gigi, aku balas berteriak.
“Apa yang kalian lakukan, pasukan artileri!?”
Pasukan artileri masih berusaha pulih dari keterkejutan akibat reruntuhan dinding yang menghantam mereka. Namun aku tetap membentak keras.
“Isi peluru terakhir!”
“Tapi, Yang Mulia.”
Salah seorang petugas artileri yang ikut terjatuh dan cedera pergelangan kaki hingga tak bisa berdiri, melapor dengan suara parau.
“Seperti yang sudah saya laporkan sebelumnya, meriam ini sudah melampaui batas daya tahannya.”
“...”
“Inti generatornya juga sudah mencapai batas. Jika kita menembak, meriam ini akan meledak.”
“Lalu kenapa? Toh kita semua akan mati juga oleh monster-monster batu itu!”
Aku melangkah menuju Meriam Frontier yang roboh tergeletak di landasan menara. Penopangnya telah hancur berkeping-keping, tetapi untungnya badan meriam itu masih utuh.
“Bukankah lebih baik mati sambil bertarung? Biar pun kita hangus jadi abu, setidaknya kita harus bertaruh.”
“...”
Para prajurit artileri terdiam dan menatapku.
“Bagaimana Anda akan membidiknya?” ucap pria yang sama..
Aku pun ikut mendongak, mengikuti arah pandang mereka. Puing-puing reruntuhan telah membentuk dinding tinggi di sekeliling kami, seolah kami terjebak di dasar sebuah kolam batu.
Di atas dinding-dinding itu, langit hanya tampak sebagai lingkaran sempit, sementara posisi Core sendiri sama sekali tak terlihat dari sini.
“Kita tidak bisa melihatnya. Kita bahkan tidak punya sudut tembak untuk bidikannya. Penopangnya juga sudah rusak.”
“Pegang meriam ini dengan tangan kalian.” Jika tak ada rotan, akar pun jadi. Tanpa penopang, kami hanya perlu tenaga manusia untuk menahannya tetap stabil.
“Kita tidak perlu membidik. Biarkan saja Lucien yang melakukannya.”
Aku sendiri tidak sepenuhnya paham bagaimana anak itu bisa memiliki akurasi semengerikan itu. Aku hanya berharap Lucien... tidak, aku percaya dia bisa melakukannya.
“Isi peluru terakhir. Ini perintah.”
“...Dimengerti.”
Prajurit artileri itu berhenti berdebat dan dengan patuh mulai memasukkan amunisi terakhir ke dalam meriam.
Aku berjalan menghampiri Lucien, yang duduk di tanah sambil bernapas tersengal-sengal.
“Lucien.”
“...”
Lucien menoleh ke arahku dengan tatapan lelah. Darah merembes dari bawah matanya, wajahnya pucat pasi mengerikan. Dia terengah-engah menahan rasa sakit.
“Ini yang terakhir kalinya. Kamu hanya perlu menembak satu kali lagi.”
“...”
“Satu kali lagi saja. Kumpulkan tenagamu sekali lagi.”
“...Yang Mulia.” Lucien menundukkan kepalanya dengan lemah.
“Apa gunanya semua ini? Tidak peduli apa pun yang aku lakukan... tidak ada yang berubah.”
“Satu tembakan lagi, monster itu akan tamat.”
“Tidak, bukan itu maksudku.”
Uhuk! Uhuk!
Anak itu terbatuk keras, lalu bergumam dengan nada kosong.
“Anggaplah aku menarik pelatuknya sekali lagi. Anggaplah aku berhasil membunuh sang Pemimpin Golem itu. Apa yang akan berubah?”
Raut keputusasaan terlihat jelas di wajah Lucien yang pucat.
“Aku akhirnya mengerti. Separuh dari kawan-kawanku sudah tiada. Pembalasan dendam sebesar apa pun yang aku cari tidak akan bisa mengembalikan mereka.”
“...”
“Selalu seperti ini. Tidak peduli sekeras apa pun aku berjuang, dunia ini hanya terus merenggut segalanya dariku. Tidak ada yang berubah.”
“Lucien.”
“Aku sudah muak. Aku tidak ingin hidup seperti ini lagi. Aku ingin bersama teman-temanku...”
“Lucien!”
Aku menyela ucapannya dengan sebuah pertanyaan.
“Apa kamu pikir dunia ini tidak adil?”
Sempat tertegun sejenak, Lucien akhirnya mengangguk.
“Ya.”
“Apa kamu merasa hidup ini tetap menyakitkan bahkan setelah kamu berhasil melewati rintangan yang begitu berat?”
“...iya.”
Menanggapi jawaban Lucien, aku menyeringai.
“Berhenti mengocehkan omong kosong yang sudah jelas itu, dasar bajingan bodoh!”
Aku mencengkeram kerah baju Lucien dengan kasar, menariknya ke arahku.
“Tentu saja tingkat kesulitan gim ini tidak masuk akal. Tidak ada fitur save atau load di gim sampah ini juga!”
Yah, walau kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa kusadari, bukankah itu memang benar?
Bukan cuma gim ini yang keterlaluan. Sejak awal, kehidupan nyata memang sudah seperti itu.
“Tidak adil, tidak masuk akal, tidak ada yang berjalan sesuai keinginan kita! Itulah kehidupan! Siapa yang tidak tahu soal itu?”
Kita hidup di tengah kenyataan pahit ini.
Meskipun begitu...
“Lalu kenapa? Apa kamu mau menyerah begitu saja dan menerima kematian dengan pasrah?”
Akankah aku membuang strategi ini begitu saja?
Tidak! Strategi harus tetap berjalan.
“Sampai saat kehidupan ini benar-benar berakhir… Aku akan bertarung! Aku akan menyusun rencana dan berjuang mati-matian sampai akhir!”
Dengan itu, aku melempar Lucien ke tanah.
Aku menghunus pedang yang selama ini tersemat di sisiku, senjata yang belum pernah sekali pun kukeluarkan dari sarungnya.
“Jika kamu sebegitu menginginkan kematian!”
Aku menyodorkan gagang pedang itu ke tangan Lucien. Tubuhnya langsung menegang.
“Tusukkan pedang ini ke lehermu sendiri.”
“...”
“Tapi jika kau seorang pengecut yang tidak punya nyali untuk melakukannya, Lucien...”
Dengan acuh tak acuh, aku membuang pedang itu dan duduk di depan Lucien, menyejajarkan pandangan kami.
“Maka jadilah pelatukku.”
“... apa?”
“Hentikan tangis untuk kawan-kawanmu yang gugur. Satu-satunya alasan yang kamu butuhkan untuk tetap hidup dan berguna adalah aku, tuanmu.”
Aku meletakkan kedua tanganku di bahu Lucien dan mempererat cengkeramanku.
“Jangan mencari-cari alasan yang tidak perlu untuk hidup. Kamu adalah pionku! Prajuritku! Pelatukku! Hanya itu yang perlu kamu lakukan!”
“...”
“Itu sudah cukup, Lucien.”
Itulah titik baliknya.
Aku terus mencengkeram bahu Lucien, satu-satunya harapan yang kumiliki, tanpa mempedulikan notifikasi sistem yang tiba-tiba menutupi sebagian pandanganku.
“Ini perintah, Pelatuk.”
Aku tidak yakin apa dampak dari kata-kataku, tapi bahu Lucien yang tadinya bergetar hebat... perlahan mulai tenang.
Aku mengangguk dengan serius.
“Hancurkan kepala bajingan itu, mengerti?”
“...”
Lucien hanya terdiam kaku seperti patung, tak ada satu pun respons yang keluar darinya.
Detik-detik hening itu terasa begitu panjang, sampai akhirnya...
“...Baik, Yang Mulia.”
Perlahan, kepalanya mulai mengangguk. Wajahnya masih di ambang tangis, tapi dia menahannya dengan tegar, lalu menatap tajam ke arahku.
“Jika itu adalah perintah Anda.”
Aku bangkit dari hadapan Lucien, mengusap wajah yang basah oleh peluh dan debu, lalu melangkah kembali menuju reruntuhan meriam.
“Yang Mulia,” ucap prajurit artileri, setelah selesai memuat peluru terakhir.
“Tidak ada air untuk digunakan sebagai pendingin. Dalam keadaan seperti ini...”
“Minggir!” Aku menempatkan diriku di samping Meriam Frontier yang tergeletak di tanah.
“Biar aku yang tangani.”
“Ya-Yang Mulia?!”
Semua orang di sana terkejut dan mencoba mencegahku.
“Itu sangat panas! Jika Anda menyentuhnya sekarang, akibatnya akan jauh lebih parah daripada sekadar luka bakar biasa!”
“Aku tak peduli!”
Panas yang menyengat sudah menerpa wajahku bahkan sebelum tanganku menyentuh logam itu, seolah memperingatkan apa yang akan terjadi. Namun, persetan dengan itu!
Aku menarik menarik napas dalam-dalam lalu berbalik.
“Kamu sudah siap, Lucien?”
Lucien duduk di tanah dengan mata terpejam, tangannya perlahan bertumpu pada pelatuk meriam.
“Yang Mulia… bahu Anda…”
“Aku tahu.” Suaraku sedikit pecah di ujung kalimat, tapi aku memaksakan nada setegas mungkin. “Tak masalah...”
Lucien menggigit pelan bibirnya yang pucat. “...aku masih mengingat posisi monster itu.”
“Bagus!” Aku mencengkeram laras Meriam Frontier dengan kedua tanganku.
Wusss!
Sarung tanganku hangus dalam sekejap, disusul kulit telapak tanganku yang mulai melepuh di baliknya.
“Argh, uh...”
Bau daging yang terbakar tercium di tengah aroma kain yang hangus.
Namun aku mengertakkan gigi dan menahannya. Hanya inilah satu-satunya hal yang bisa kulakukan saat ini.
“Ugh... Arrrghhh!”
Aku menjerit, memanggul laras itu ke atas bahuku.
Bahuku terbakar. Di bawah panas yang luar biasa dan beban yang teramat berat, tubuhku berada di ambang keruntuhan. Rasanya seolah aku bisa hancur menjadi tumpukan abu kapan saja.
Kemudian...
“Bantu Yang Mulia!”
Para prajurit artileri yang tersisa bergegas mendekat dan ikut menahan laras dari sisiku. Aroma daging yang terbakar juga menguar dari tangan mereka yang mencengkeram laras.
Bersatu dalam teriakan yang sama, kami berhasil mengarahkan moncong meriam itu ke arah langit.
Bum! Bum!
Di saat bersamaan, platform yang kami pijak bergetar hebat, retakan menjalar cepat dari dinding yang baru saja diserang golem raksasa. Namun, aku tetap menghentakkan kaki, lalu berteriak sekencang-kencangnya.
“Lucien!”
Pada saat itu juga, mata Lucien terbuka lebar. Matanya yang cokelat menatap lurus ke langit, dan di dalamnya, secercah cahaya putih menyilaukan berdenyut.
“Tembak!”
Lucien menarik pelatuk dengan mengerahkan seluruh sisa tenaganya,
Klak!
Energi dari inti generator yang bergejolak itu merambat naik menembus meriam, memercik layaknya kabel bertegangan tinggi. Meskipun aliran energi yang begitu dahsyat melewati tubuhku, entah bagaimana aku tetap bisa berdiri tegak.
Pada detik berikutnya...
BUM!
Dengan ledakan yang menggetarkan bumi, tembakan terakhir melesat keluar.
Temukan sasaranmu!
Tatapanku mengikuti proyektil kuning cerah yang meluncur ke udara, sementara monster-monster batu terus menyerbu dari segala arah...
Peluru itu membumbung tinggi menembus langit, lalu menukik turun membentuk jalur parabola yang tajam, jatuh bagaikan bintang jatuh.
Kumohon, kenalah...
Itulah pikiran terakhirku sebelum kegelapan menelan kesadaranku.
…
Saat sang Pemimpin mendeteksi peluru yang datang, dia mengeluarkan dengungan yang memekakkan telinga sekali lagi. Golem-golem penjaga langsung berdesakan, saling menumpuk membentuk tembok daging untuk melindunginya.
Namun, semua itu sia-sia sejak awal.
Peluru itu ditembakkan dari jantung posisi artileri yang sudah porak-poranda, menuju musuh yang bahkan tak terlihat oleh penembaknya sendiri.
Bahkan andai Meriam Frontier beroperasi pada kapasitas maksimalnya sekalipun, jarak serta medan membuat akurasinya mengerikan.
Nguuung!
Namun, melawan segala kemustahilan yang ada...
Peluru itu menghantam sang Pemimpin dengan presisi yang mencengangkan.
Arah angin.
Diabaikan.
Jarak.
Diabaikan.
Puluhan, bahkan ratusan monster yang menghalangi jalurnya.
Diabaikan.
Peluru itu menembus semua pertahanan berlapis itu lalu mencapai sang Pemimpin, seolah hanya menjalankan sebuah hasil mutlak yang telah ditentukan sejak awal.
NGUUUUNG!
Entah karena amarah atau ketakutan, Core berdengung keras saat tembakan itu menghantam tepat di tubuhnya.
BUM!
Namun, peluru itu memusnahkan kepala sang Pemimpin dalam satu sapuan bersih.
・°˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!