Rebecca Valentine tersenyum begitu elegan. Matanya bersinar bagaikan cahaya bulan. Rambut merahnya tergerai indah, begitu serasi dengan gaun merah yang dikenakannya. Gaun itu memiliki potongan terbuka di bagian punggung dan menonjolkan lekuk belahan dadanya.
Kini ada dua wanita yang berhasil memenjarakan perhatian para pria di aula pesta.
Jasmine Laurent bukan lagi satu-satunya pencuri perhatian. Malam ini, seorang primadona baru telah muncul di kalangan aristokrat.
Lucien membuka mulut dan berkata, “Kalau aku tidak salah, kau adalah Rebecca Valentine yang baru saja menggantikan ayahmu.”
Rebecca tersenyum semakin manis.
“Suatu kehormatan karena kau masih mengingatku, Tuan Moretti.”
Rebecca kemudian mengulurkan tangan kanannya yang memegang segelas alkohol ke arah Lucien.
“Maukah kau menerima minuman ini, Tuan Moretti?”
Seketika, semua mata tertuju kepada Rebecca, Lucien, dan Jasmine.
Tatapan mereka seolah berkata, Berani sekali Rebecca Valentine menawarkan minuman kepada Lucien Moretti di depan Jasmine.
Namun, Lucien menerima gelas yang diberikan Rebecca tanpa sedikit pun penolakan.
“Oh, tentu. Terima kasih, Nona Valentine.”
Seluruh aula mendadak hening, seolah semua orang sedang menonton sebuah film di bioskop dan tokoh utamanya adalah Lucien serta Rebecca.
Jasmine, yang sejak tadi berdiri di samping Lucien, hanya bisa membeku.
Suaminya menerima segelas minuman dari wanita lain dan bahkan terlihat begitu ramah.
Lucien yang sekarang berdiri di hadapannya benar-benar berbeda dari Lucien yang biasa ia kenal.
Jasmine sungguh ingin meninggalkan tempat itu.
Sementara itu, Rebecca merasa sangat bangga karena minuman pemberiannya diterima oleh Lucien.
Itu berarti dirinya berhasil menarik perhatian Lucien Moretti.
Namun, rasa bangga itu tidak bertahan lama.
Lucien justru menyodorkan gelas tersebut kepada Jasmine.
“Minumlah, sayang,” pinta Lucien.
Sorot matanya memancarkan kehangatan, tetapi di baliknya terselip sesuatu yang membuat Jasmine bergidik—sebuah ancaman halus bahwa permintaannya tidak dapat ditolak.
Awalnya Jasmine ragu menerima minuman itu. Namun, sekali lagi, ia harus mengingat bahwa permintaan Lucien bukanlah sesuatu yang bisa ia tolak begitu saja.
Akhirnya, Jasmine mengambil gelas tersebut dari tangan Lucien.
Kemudian, ia melirik Rebecca dan memperlihatkan senyum meremehkan.
Dasar wanita tidak tahu diri.
Rebecca membeku. Ekspresinya berubah muram.
Ia sadar sedang menjadi tontonan semua orang. Dan apa yang dilakukan Lucien barusan pasti akan menjadikannya bahan tertawaan di kalangan para mafia.
Lucien kemudian mengambil gelas minuman dari tangan kiri Rebecca, lalu berkata santai,
“Terima kasih.”
Apa-apaan ini?
Lucien baru saja mempermainkan Rebecca seolah-olah wanita itu hanyalah seorang pelayan yang mengantarkan minuman untuk mereka.
Suasana tegang yang sempat menyelimuti aula perlahan mencair. Perbincangan demi perbincangan kembali terdengar.
Namun, tidak seorang pun berani membahas kejadian barusan.
Lucien dan Jasmine pun melangkah pergi, meninggalkan Rebecca yang masih terpaku di tempatnya.
Rebecca merasa kesal sekaligus dipermalukan.
Namun, di dalam hati, ia bersumpah akan membalas penghinaan yang diberikan Lucien dan Jasmine.
Jasmine meletakkan gelas minuman itu di atas meja, lalu menggantinya dengan minuman lain.
Melihat tindakan tersebut, Lucien bertanya heran, “Kenapa kau menukarnya?”
Jasmine menjawab datar, “Aku tidak mau menerima minuman yang diberikan wanita lain kepadamu. Itu membuatku jijik.”
Lucien tertawa geli.
Jemarinya menyentuh dagu Jasmine, lalu perlahan mengangkat wajah wanita itu agar menatapnya.
“Kau terlihat sangat manis ketika cemburu.”
Lucien amat menikmati kecemburuan Jasmine.
Kalau hanya karena segelas minuman saja Jasmine sudah cemburu seperti ini, bagaimana jika ada wanita lain yang mengajaknya berdansa malam ini?
Mungkin Jasmine benar-benar akan merobek wanita itu.
“Siapa yang cemburu?” sanggah Jasmine. “Aku hanya merasa jijik. Aku berdiri tepat di sana, tetapi dia seolah-olah tidak melihatku.”
Jasmine mengutarakan kekesalannya.
Suaminya baru saja digoda oleh wanita lain tepat di hadapannya sendiri. Bagaimana mungkin ia tidak merasa kesal?
Sejak awal, Lucien seharusnya tidak menerima minuman dari Rebecca.
“Itu namanya cemburu, Jasmine.”
Lucien tersenyum penuh kemenangan.
“Lihat betapa kau sangat mencintaiku, kelinci putihku.”
Kalau saja mereka tidak sedang berada di sebuah pesta, Lucien pasti sudah mencium bibir merah Jasmine yang menggoda itu.
“Hentikan, Lucien.” Mata Jasmine membara oleh pemberontakan. “Aku manusia. Jadi, perlakukan aku layaknya seorang manusia.”
Kali ini Jasmine benar-benar kesal berkat Rebecca.
Ia melepaskan tangan Lucien yang masih berada di dagunya, kemudian menenggak segelas alkohol dalam sekali teguk.
Lucien tidak tahan untuk tidak tertawa.
Ia benar-benar menikmati wajah kesal sang istri.
Menurut Lucien, Jasmine saat ini terlihat sangat menggemaskan.
Jasmine mengambil segelas minuman lagi dan menenggaknya. Namun, masih ada sedikit minuman yang tersisa di dalam gelas.
Lucien terus memperhatikan tingkah istrinya yang menggemaskan.
Sorot matanya perlahan turun ke gelas yang berada di tangan Jasmine.
Tiba-tiba, ia meraih tangan Jasmine dan mengarahkannya ke mulutnya. Lucien kemudian menghabiskan sisa minuman di dalam gelas tersebut.
Jasmine tersentak.
“Lucien!”
“Manis sekali,” ujar Lucien.
Para tamu yang menyaksikan pemandangan itu hanya bisa terpana.
Lucien sangat romantis terhadap istrinya.
Semua orang tahu bahwa Lucien Moretti adalah pria yang mengerikan. Namun, di hadapan Jasmine, ia berubah menjadi seorang suami yang begitu romantis dan penuh perhatian.
Mereka hanya tidak tahu bahwa di balik setiap perlakuan manis itu tersembunyi sebuah obsesi yang perlahan menjerat Jasmine semakin erat.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!