The Figure in Black

1 dibaca

A

Jalan menuju pusat kota Ravellune tidak pernah lurus. Ia berkelok mengikuti sungai kecil yang setengah alirannya sudah lama mengering, seakan kota itu enggan menunjukkan tujuannya terlalu cepat.

Polly berlari kecil di depan Rosalie, berhenti sesekali untuk mengendus batu atau akar yang menonjol dari tanah. Rosalie mengendurkan tali kekang, membiarkan anjing itu memilih arah selama arah itu masih benar. Udara pagi membawa bau roti dari salah satu rumah yang mereka lewati. Gema lonceng gereja yang baru selesai berbunyi masih menggantung di telinganya, lambat menghilang seperti embun yang belum sepenuhnya diserap tanah.

Toko kelontong berdiri di ujung jalan utama, jendelanya penuh keranjang buah yang tersusun rapi. Seorang pria tua berdiri di depan pintu, menyapu debu yang sebenarnya sudah tak ada.

“Pagi, Nona.” Ia mengangkat topinya sedikit. “Anda penghuni baru rumah kosong itu? Keluarga Arden.”

“Rosalie.” Ia mengangguk, mengulurkan tangan, lalu menariknya kembali begitu sadar pria itu masih memegang sapu.

“Timothy. Orang-orang memanggilku Timmy.” Ia balas mengangguk, lalu melirik Polly yang kini duduk dengan lidah terjulur. “Jadi, Nona Arden, apa yang Anda butuhkan?”

“Ibu saya ingin membuat pai apel.”

“Ah.” Timothy menunjuk keranjang di sudut. “Yang itu baru datang kemarin. Masih ada embun paginya kalau kau lihat dekat-dekat.”

Rosalie mengikat tali kekang Polly pada tiang, lalu mendekat ke keranjang.

Dari sudut matanya, ia melihat seorang pria datang dari arah yang sama dengan arahnya tadi.

Pria itu membuka topi hitamnya, meletakkannya di depan dada. Jas hitamnya berekor panjang hingga ke belakang lutut, seragam yang lazim dikenakan seorang kepala pelayan. Rosalie pernah melihat pakaian semacam itu beberapa kali di kota, pada orang-orang yang melayani keluarga bangsawan dan mereka yang hidup berkecukupan. Rambut peraknya menangkap cahaya matahari dengan cara yang hampir berlebihan bagi rambut sewarna itu.

Pandangan mereka bertaut sesaat sebelum pria itu berpaling ke arah Timothy. Matanya kekuningan, sesuatu yang seharusnya Rosalie catat sebagai tidak biasa, tapi entah kenapa terasa wajar begitu ia melihatnya.

“Selamat pagi, Tuan Crowe. Pisau pesanan Anda sudah tiba. Mau melihat dulu?”

Pria itu mengangguk, masuk ke toko bersama Timothy. Bel di atas pintu berdenting.

Mengintip terasa tak sopan bagi Rosalie, bahkan lewat kaca depan sekalipun. Ia kembali pada apel-apelnya, memilih beberapa, menimbangnya di tangan seperti kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar berguna. Polly masih betah menunggu di dekat tiang.

Rosalie mengangkat sedikit rok gaunnya, membentuk ceruk untuk membawa apel-apel itu ke meja kasir. Ia melangkah pelan, matanya menyisir lantai teras toko---hingga di depan pintu, nyaris menabrak Tuan Crowe.

Apel berjatuhan dari roknya. Polly menggonggong, berusaha menangkap satu yang menggelinding ke jalan.

“Maaf,” kata Tuan Crowe. Ia ikut berjongkok memunguti apel bersama Rosalie. Mata mereka bertemu lagi, sedetik, tidak lebih.

“Saya yang seharusnya minta maaf, Tuan,” balas Rosalie, menunduk, meraih apel-apelnya sendiri.

Timothy datang membawa keranjang kecil, memasukkan apel-apel ke dalamnya, lalu mengejar satu butir yang sudah sampai jalan.

“Maaf sudah merepotkan, Timmy.”

Timothy menggeleng. “Seharusnya aku yang minta maaf, Nona Arden. Tak seharusnya aku lupa memberimu keranjang.”

Rosalie terkekeh. Tuan Crowe mengangkat topinya sedikit, pamit, lantas meninggalkan toko.

Di dalam, Timothy memasukkan apel ke tas kertas. “Yang tadi itu pelayan di Mansion Vale. Gideon Crowe. Kalau ada yang keluar dari mansion itu, biasanya dia.”

“Mansion Vale?” Dahi Rosalie mengernyit.

“Mansion di dekat rumahmu. Yang banyak bunganya.” Timothy menyerahkan tas itu, lalu berhenti sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu yang tak sepenuhnya ingin ia katakan. “Sebaiknya kau berhati-hati, Nona Arden. Beritahu juga orang tuamu.”

“Kenapa?”

“Ada sarang binatang buas di dekat sana. Keluarga yang dulu menempati rumahmu pernah diserang. Itu sebabnya mereka pindah.”

Ia mengucapkannya sama datarnya seperti tadi menyebut harga apel.

Rosalie mengangguk, mengucapkan terima kasih, lalu keluar dari toko. Ia tidak bertanya lebih jauh, meski satu bagian dari dirinya ingin tahu lebih banyak tentang apa yang baru saja dikatakan pria tua itu---tentang binatang buas yang tak disebutkan jenisnya, tentang keluarga yang pergi tanpa cerita yang jelas kenapa.

Rosalie membiarkan Polly menariknya kembali ke jalan pulang.

Di persimpangan menuju rumah, seorang anak laki-laki berlari melintas membawa amplop, menuju kantor pos yang baru saja membuka jamnya. Kereta pagi terdengar jauh, entah datang atau pergi, suaranya menghilang sebelum sempat menjadi lebih dari sekadar desir.

Rosalie melewati mansion itu lagi. Kali ini ia tidak berhenti. Tapi langkahnya melambat tanpa ia perintahkan, dan matanya menyusuri jendela lantai dua sebelum sempat ia tahan.

Tidak ada siapa pun di sana. Hanya tirai yang bergerak sedikit, seolah baru saja dilepaskan dari genggaman seseorang.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk