Ravellune pagi itu masih basah oleh embun yang belum sepenuhnya diusir matahari. Asap dari cerobong-cerobong rumah mengepul lurus sebelum angin membelokkannya ke arah hutan, dan di sanalah asap itu menghilang, seolah hutan menyimpan segala sesuatu yang dikirim kepadanya tanpa pernah mengembalikannya.
Di dapur keluarga Arden, aroma mentega leleh dan gula yang gosong tipis di pinggir loyang mengalahkan udara dingin dari luar. Ibu Rosalie, dibantu Cecile Rowan, menghabiskan waktu hingga siang membuat kudapan untuk para tetangga---biskuit mentega keemasan, tart berisi selai merah tua, disusun rapi dalam keranjang anyaman dan ditutup kain linen putih seperti sesuatu yang lebih berharga daripada bentuknya.
Menjelang sore, Cecile berpamitan pulang bersama Polly, membawa serta bagiannya sendiri untuk makan malam. Sebelum pergi, ia sempat memberi Lilian dan Rosalie petunjuk singkat---rumah siapa yang perlu dikunjungi lebih dulu, dan bagaimana sebaiknya bersikap di depan masing-masing penghuninya.
Jade tinggal di kamar, mengeluhkan punggungnya setelah seharian membenahi rumah, lalu berbaring tengkurap tanpa niat bangun lagi hari itu. Rosalie menenteng tiga keranjang, ibunya membawa dua, dan mereka keluar halaman menuju jalan berbatu Ravellune.
Langkah Rosalie ringan, hampir berlari kecil, sampai ia tiba di depan mansion Vale. Taman di balik pagar besi itu tumbuh subur---mawar putih condong berat oleh kelopaknya sendiri, rerumputan di sela batu jalan setapak dipangkas terlalu rapi untuk sesuatu yang tumbuh liar.
Ia memperlambat langkah, sempat berniat menjadikannya kunjungan pertama, keranjang teratas sudah bergeser ke lengan yang lain seakan bersiap diserahkan. Tapi hawa dingin menyentuh tengkuknya lebih dulu daripada tangannya menyentuh pagar, dan niat itu surut begitu saja, tanpa alasan yang bisa ia jelaskan pada dirinya sendiri.
Rosalie mengangkat wajah ke jendela-jendela gelap di lantai dua, lalu berputar, dan menjauh. Langkahnya sedikit lebih cepat dari yang ia sadari.
⋆♱✮♱⋆
Di balik salah satu jendela itu, Lucien duduk dengan buku yang halamannya tak berganti sejak beberapa jam sebelumnya, jarinya berhenti di tengah kalimat yang tak lagi ia baca. Dua cangkir di meja kecil di hadapannya belum bergeser sejak Gideon pergi, dan isinya sudah lama dingin.
Ia sudah mengikuti langkah Rosalie sejak gadis itu keluar dari rumahnya. Sesuatu di dadanya mengunci tepat ketika langkah itu berhenti di depan pagarnya sendiri, cukup lama untuk membuatnya berdiri tanpa sadar. Ketika langkah itu berlanjut lagi, ia melepaskan napas yang sebenarnya tak perlu ia tahan.
Lucien meletakkan buku, pergi ke jendela lain untuk mengawasi punggung Rosalie menjauh, dan tangannya mencengkeram kusen lebih erat daripada yang diperlukan hanya untuk melihat. Lalu ia berbalik keluar ruangan, satu tangan menutupi hidung, seolah ingin mengusir bau yang baru saja tercium.
⋆♱✮♱⋆
Rumah berikutnya bercat merah muda cerah, dirambati tanaman di satu sisi dindingnya. Rosalie mengetuk tiga kali, dan seorang gadis berambut merah dengan bintik-bintik di wajah membuka pintu, senyumnya lebar hingga hampir menampakkan seluruh giginya.
“Wah! Kamu tetangga baru di sebelah mansion Vale, ya?”
Sebelum Rosalie sempat menjawab, suara lain menyahut dari dalam. “Siapa itu, Clara?”
Seorang wanita muncul di belakang gadis itu---wajah dan rambut yang sama, hanya lebih tua, dengan lumpur mengering di ujung blus dan roknya.
“Perkenalkan, saya Rosalie Arden,” katanya.
“Aku Clara Mercer!” Gadis itu nyaris berteriak. “Namamu cantik sekali.”
“Clara---“ Suara wanita di belakangnya terdengar lelah, lalu beralih ramah pada Rosalie. “Aku Eliza, ibunya. Semoga kalian betah di Ravellune.”
Rosalie menyodorkan satu keranjang. “Ibu saya membuat terlalu banyak kudapan pagi ini.”
Eliza mengintip isinya sebentar, tersenyum. “Terima kasih. Ini terlihat lezat.”
“Shortbread dan tart selai!” seru Clara, merebut keranjang dari tangan ibunya. “Kami akan menikmatinya.”
Mereka saling melambai singkat sebelum Rosalie melanjutkan jalannya.
Rumah berikutnya adalah bangunan batu tua yang terawat, dengan bau campuran rumah lama yang tertutup, membuat hidung Rosalie sedikit berkerut. Wanita tua berambut kelabu tersanggul membuka pintu, punggungnya bungkuk namun langkahnya masih kuat tanpa tongkat. Matanya sempat melirik ke belakang Rosalie sebelum kembali padanya.
“Kau putri penghuni baru rumah kosong itu?”
“Ya. Ibu saya membuat banyak kudapan pagi ini.” Rosalie menyerahkan salah satu keranjang yang tersisa.
Wanita itu menerimanya, menatap Rosalie lebih lama dari yang terasa wajar. “Maria Harrow,” katanya akhirnya, mengulurkan tangan.
“Rosalie Arden.” Mereka berjabat tangan. Telapak Maria terasa kering, genggamannya bertahan sedetik lebih lama daripada yang lazim untuk sebuah perkenalan.
Ada jeda yang membuat Rosalie tanpa sadar menelan liur. “Rumah kalian bagus, Nona,” kata Maria. “Hanya saja---“ Kalimatnya berhenti sendiri. Dia menggeleng. “Tidak apa-apa. Terima kasih kudapannya.”
Pintu tertutup, sedikit lebih keras dari yang diperlukan.
Rosalie masih berdiri di anak tangga, mendengarkan gema pintu itu mereda di balik kayu. “Sama-sama,” katanya, entah pada siapa.
Keranjang terakhir masih tergantung di pergelangan tangannya yang sudah ringan sekarang, hampir tak berbobot dibanding yang ia rasakan sejak keluar rumah tadi. Ia menarik napas panjang dan kembali melangkah menyusuri jalan berbatu.
Baru beberapa langkah kemudian, Rosalie sadar ke arah mana kakinya membawanya.
Pagar besi mansion Vale sudah muncul di ujung jalan, hitam, dan diam di antara cahaya senja yang mulai memudar.
Satu keranjang belum diserahkan. Ia bisa saja membawanya pulang dan menyerahkannya besok. Tidak ada yang akan bertanya. Tapi kakinya sudah melangkah lebih dulu daripada pikirannya sempat membantah.
Kali ini, Rosalie tidak membiarkan hawa dingin di tengkuknya menghentikannya.
Tangannya akhirnya menyentuh pagar.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!