Rasa sakit itu menetap lama setelah Rosalie meninggalkan pagar rumahnya. Tenggorokan Lucien berdenyut, kering dengan cara yang tak bisa dipadamkan air atau anggur, hanya bisa ia tahan dengan menelan liur berulang kali, seolah tubuhnya masih percaya cara itu akan menolong. Ia memijat batang hidungnya, berharap bau itu---manis, hangat, terlalu dekat---pergi bersama senja.
Ia akhirnya berbaring di kamarnya, menatap langit-langit yang tak memiliki penerangan. Gelap tak pernah mengganggu Lucien. Ia sudah lama berhenti membutuhkan cahaya untuk melihat.
Lalu telinganya menangkap suara itu.
Ketukan terdengar dua kali sebelum Lucien bangkit dari ranjang. “Gideon!” Ia memanggil, sebelum ingat rumah itu kosong selain dirinya sendiri.
Ia turun dengan langkah kaku, nyaris tersandung di anak tangga terakhir saat ketukan ketiga terdengar lebih dekat dari yang seharusnya. Melalui lubang intip, ia melihat Rosalie berdiri menyamping ke taman, matanya melebar antusias pada bunga-bunga yang tumbuh liar di sana.
Lucien membuka pintu.
Rosalie berbalik cepat, rambut cokelatnya mengikuti gerak tubuhnya. “Maaf mengganggu, Tuan.” Pandangannya sempat menelusuri Lucien dari kaki ke kepala. “Anda pasti Tuan Vale.”
Lucien mengangguk. “Ada perlu apa?” Suaranya serak, tertahan.
“Rosalie Arden. Kami baru pindah ke rumah seberang.” Ia mengangkat keranjang di tangannya. “Ibu saya membuat kudapan untuk para tetangga. Kami ingin memperkenalkan diri.”
“Untukku?”
Rosalie mengangguk.
Tangan pucat Lucien terjulur, lalu berhenti sesaat sebelum mencapai keranjang---jeda yang tak perlu ada, kecuali ia tak lagi memercayai tangannya sendiri di dekat sesuatu yang hangat. Rosalie menuntunnya menerima keranjang itu dengan lembut. Jemarinya menyentuh kulit Lucien---dingin, jauh lebih dingin daripada udara sore itu sendiri---dan tangan Lucien menegang di bawah sentuhan itu.
“Semoga kalian suka tart selai dan shortbread-nya,” kata Rosalie sambil melepaskan keranjang sepenuhnya. Ia mengangguk sopan. “Saya permisi, Tuan Vale.”
“Terima kasih.”
Rosalie membalikkan badan, melangkah menjauh dari halaman mansion.
Lucien menunggu sampai gadis itu benar-benar hilang dari pandangan sebelum menutup pintu. Ia membawa keranjang itu ke ruang sebelah, meletakkannya di meja kopi, lalu kembali ke jendela. Rosalie sudah setengah perjalanan menuju rumahnya, tetapi Lucien masih berdiri di sana.
Senja turun perlahan di luar, mengubah pagar besi dan mawar-mawar putih menjadi siluet abu-abu, menelan warna satu per satu sampai yang tersisa hanya bentuk. Tak satu pun lampu gas di mansion itu dinyalakan untuk menyambutnya.
“Namanya Rosalie,” bisik Lucien, pada ruangan yang tak punya siapa pun untuk mendengarnya selain dirinya sendiri. Ia baru beranjak dari jendela ketika Rosalie telah tiba di halaman rumahnya sendiri.
⋆♱✮♱⋆
Gideon pulang lebih larut dari biasanya malam itu. Satu tangannya memegang botol kaca besar berisi cairan merah, tangan yang lain memegang pisau besar yang baru dibelinya di toko kelontong pagi tadi. Ada noda merah di ujung lengan dan celananya, cukup samar, tertelan warna hitam pakaiannya.
Ia menemukan Lucien di ruang baca, buku yang sama masih terbuka di halaman yang sama seperti pagi tadi. Ruangan gelap tanpa cahaya sama sekali, hanya mengandalkan sinar bulan yang masuk melalui jendela-jendela yang kini terbuka lebar.
“Kau belum pindah dari kursi itu.” Gideon meletakkan pisaunya di meja dekat pintu. Angin meniup tirai, mengangkatnya sedikit, lalu menjatuhkannya lagi.
“Aku sudah pindah.” Lucien membalik satu halaman, meski matanya tak benar-benar mengikuti barisnya. “Dan kembali.”
Gideon menuangkan isi botolnya pada satu gelas kosong di meja depan Lucien. “Ke mana?”
“Pintu depan.” Lucien menutup bukunya. “Seorang gadis membawa kudapan.”
Dahi Gideon mengernyit. Ia meletakkan botol itu di atas meja, memperhatikan apa saja yang ada di sana. Tersembunyi di bawah bayangan dinding, sebuah piring berisi dua tart selai dan satu shortbread.
“Jangan bilang kau makan ini.” Gideon mengangkat satu tart ke depan matanya. Selai merah tua mengilap di antara lapisan pastry yang retak. Ada satu gigitan kecil di sana.
Lucien mengangkat pandangan. “Aku hanya mencicipi.”
Jeda yang mengikuti cukup panjang untuk membuat Gideon membuang seluruh kudapan itu lewat jendela.
“Jangan mengulanginya lagi.”
“Aku baik-baik saja, Gideon.” Lucien berdiri, berjalan ke jendela yang menghadap rumah Arden. Rumah itu gelap kecuali satu cahaya kecil di jendela lantai dua. Sebuah siluet berjalan bolak-balik di sana, tak sadar sedang diperhatikan.
Gideon mengenal nada suara itu, dan tak menyukainya. Ia pernah mendengarnya sekali, bertahun-tahun lalu.
“Lucien,” panggilnya pelan. “Sebaiknya kau menahan diri.”
“Aku tidak berencana melakukan apa pun.” Ada sesuatu yang hampir seperti hiburan di suaranya, meski tak sampai jadi senyum. “Aku hanya menyambut tetangga baru kita.”
“Kau tidak pernah membuka pintu sebelumnya.”
Lucien tidak menjawab itu. Pandangannya tetap tertuju pada rumah di seberang. Gideon tidak mengatakan apa-apa lagi.
Cahaya di rumah Arden padam beberapa saat kemudian. Lucien masih berdiri di sana, tangannya bertumpu pada kusen kayu dengan tekanan yang sedikit lebih keras dari yang seharusnya perlu.
Gideon membawa pisau barunya keluar ruangan. Ia melirik Lucien sekali sebelum menutup pintu rapat.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!