Di atas Hutan Mati, langit menggantung rendah seolah siap runtuh menimpa ujung-ujung pohon pinus.
Arkan berjalan di antara Kael dan Wesi. Setiap kali sepatu kulitnya menghantam lumpur, lapisan tanah liat dan darah kering mengubahnya menjadi menjadi bongkahan kaku yang menggesek kulit kakinya setiap langkah.
Nila terkulai di punggung Arkan, napasnya tipis dan pendek, sesekali merintih kecil ketika langkah Arkan terperosok ke dalam lubang akar, tulang mereka beradu.
Kael berjalan di samping Arkan, matanya menatap lurus ke depan. Mantel hitam menutupi tubuh bagian bawahnya. Arkan melirik ke arah bahu dan dada Kael. Uap topis mengepul di rona merah kulitny. Bekas luka parah akibat hantaman monster setinggi tiga meter tadi malam lenyap. Tidak ada jahitan atau bekas parut. Arkan membuang muka.
“Berhenti,” langkah Kael terhenti.
Arkan berhenti, otot bahunya gemetar menahan beban Nila. Mereka berdiri di bawah batang pohon tumbang yang menghitam karena jamur.
Wesi jatuh berlutut. Ia menunduk, cairan kuning pahit memyembur dari mulutnya membasahi akar pohon.
Nila membuka matanya sedikit. “Monster itu... kenapa dia tidak mengejar?” Suaranya pecah di tengah kalimat. Napasnya menyentuh tengkuk Arkan,
Suara lonceng besi di kejauhan yang berdenting pelan.
Kael memeras rambutnya yang lepek, air mengalir melewati tengkuknya, jatuh menetes ke tanah. Matanya menatap ke arah jalur gelap yang baru saja mereka lalui. “Karena ada yang membunuhnya.”
Wesi meludah, punggung tangannya menyeka sisa cairan kuning dari mulutnya. Ia mengangkat wajahnya yang pucat, menatap Kael, matanya membesar. “Maksudmu... sesuatu yang lebih besar dari benda itu?”
“Bukan sesuatu,” suara Kael hampir tenggelam oleh deru angin hutan. “Seseorang. Monster setingkat itu dipenggal dengan satu gerakan bersih. Tidak ada sisa pertarungan yang lama. Hanya satu tebasan.”
Kael berdiri, menatap kabut bergerak tertiup angin. “Jika aku bisa hidup tanpa harus berpapasan dengan orang itu, aku lebih pilih begitu. Sekarang jalan. Kita tidak boleh berada di tempat terbuka saat kabut ini hilang.”
Dua jam kemudian, lumpur hitam yang kenyal berganti menjadi jalur tanah padat, Arkan menatap bekas roda kereta kuda yang dalam. Bau bangkai Gris-hound tercium dari selokan jalan, dikerubungi lalat-lalat hutan sebesar jempol. Ia menoleh ke tiang-tiang lonceng anti-monster berdiri tegak setiap seratus langkah. Besinya berkarat, permukaannya ditumbuhi lumut kerak yang tebal, lonceng itu berdentang lemah setiap kali angin menyentuh bandulnya.
Di kejauhan, tembok batu Kota Kruispunt berdiri seperti tebing buatan yang membelah dunia. Menara-menaranya yang tinggi tampak seperti tombak yang menusuk langit, cahaya merah samar di puncaknya.
Kereta pemburu melintas di samping mereka. Kereta dari kayu ek hitam yang diperkuat dengan lempengan besi. Dua ekor kuda beban menarik kereta, uap panas keluar dari kedua mulut kuda.
Arkan menatap taring di balik jeruji besi kereta, masih berlumuran lemak mayat. Lalu, menoleh ke tumpukan peti kayu kecil di samping jeruji. Tatapannya berhenti di segel lilin hitam kerjaan.
Para pemburu di atas kereta menatap mereka. Seorang pria dengan bekas luka bakar di lehernya, meludah ke arah kaki Arkan. “Lihat pemburu liar ini. Bau mereka lebih busuk dari monster yang mereka buru.”
Arkan menoleh ke sisi kereta di depannya, matanya menatap lambang izin berburu tergantung di sisi kereta. Tangannya mencengkeram erat tali pengikat Nila di punggungnya.
“Tolong! Di sana!” Suara teriakan dari kejauhan melengking memecah keheningan fajar.
Sekelompok warga sipil terkepung di tikungan jalan. Lima ekor Gris-hound, anjing-anjing tanpa kulit, susunan gigi jarum mencuat keluar dari gusi, mengitari mereka. Salah satu monster itu merobek betis pria tua yang mencoba melindungi seorang anak kecil.
Para pemburu di atas kereta melambatkan jalannya.
“Tidak ada Darah yang bisa dipanen dari anjing-anjing kurus itu,” gumam salah satu pemburu, ia menyulut pipa tembakaunya. Asap hitam pekat menyembur dari sela giginya. “Hanya membuang-buang tenaga dan ketajaman pedang.”
Arkan menurunkan Nila ke pelukan Wesi, lalu melesat. Kakinya menghantam lumpur. Salah satu Gris-hound melompat ke arahnya, mulut terbuka lebar, mengeluarkan bau busuk daging manusia.
CRACK.
Kapak Arkan menghantam tepat di tengah tengkorak monster itu. Tulang kepalanya hancur, darah abu-abu menyembur ke wajah Arkan.
Arkan memutar tubuhnya, menendang monster kedua, lalu menangkap rahang monster ketiga dengan tangan kirinya. Gigi jarum makhluk itu merobek kulit telapak tangan Arkan, darah segar mengucur.
Arkan menggunakan berat tubuhnya, membanting kepala monster itu ke batu penanda jalan hingga lehernya patah.
Kael bergerak ketika dua monster terakhir menyerang Arkan dari belakang. Pupil matanya menyempit menjadi garis hitam vertikal, kuku-kukunya memanjang, berubah menjadi cakar hitam yang tajam.
Kael menggeram, sisa Gris-hound melolong ketakutan. Monster-monster itu berbalik, lari masuk ke dalam kegelapan semak.
Arkan terengah-engah, menyeka darah dari telapak tangannya ke celananya yang sudah kotor. Wanita tua dari kelompok pengungsi mendekat, langkahnya pelan. Air mata mengembang di sudut matanya.
“Terima kasih, Tuan... terima kasih.” Tangan keriputnya menyentuh lengan Arkan yang terluka. “Setidaknya masih ada orang baik yang bertarung sebagai manusia.”
Wanita itu melirik Kael yang berdiri beberapa langkah di belakang Arkan. Ia menarik cucunya menjauh sebelum Kael sempat menatap mereka.
Kael menunduk, menatap cakarnya perlahan menyusut kembali menjadi kuku manusia. Ia lanjut berjalan menuju gerbang kota, meninggalkan Arkan yang masih berdiri di tengah jalan.
Arkan menatap gerbang kayu ek Kota Kruispunt. Asap hitam mengepul dari menara-menara pengawas, bercampur dengan bau tajam logam yang ditempa dan daging bakar yang hambar. Bau keringat, arang, dan kematian yang tertunda bercampur di udara.
Kael berjalan mendekatk penjaga pintu gerbang. Mereka memeriksa setiap botol Darah dan izin berburu dengan kasar. Manusia biasa yang ingin masuk untuk berdagang atau mencari perlindungan ditendang ke barisan belakang seperti ternak. Vessel dengan lambang kerajaam melenggang masuk melalui jalur khusus.
Kael menyelipkan sekeping koin perak yang sudah kusam ke tangan penjaga gerbang. Penjaga itu melirik Kael, lalu ke arah kapal Arkan. Ia menggeser palang besi gerbang.
Mereka melewati papan kayu besar penuh dengan poster buronan yang sudah basah terkena embun pagi yang berdiri di dekat gerbang. Arkan berhenti sejenak di depan papan itu.
“EKSEKUSI LANGSUNG: VESSEL ILEGAL - 50 KEPING EMAS.”
Arkan menatap di poster itu, wajah pria masih sangat muda, mantan tentara yang lari dari tugas.
Kael berhenti sesaat, matanya menatap nama Klev di salah satu poster yang sudah robek ujungnya. Gambar seorang pria dengan simbol tato militer di leher. Ia mendengus, lalu lanjut berjalan menembus kerumunan.
Mereka masuk ke distrik pemburu. Pandai besi menempa baja sepanjang malam, senjata-senjata yang dirancang khusus untuk menembus kulit monster. Bau alkohol murah dan darah segar dari rumah jagal monster menyatu di udara yang pengap.
Langkah kaki mereka terhenti di depan bar tua. Papan nama The Rusty Marrow terpantul dari pupil mata Arkan. Kael melangkah ke pintu, tangannya mendorong pintu kayu yang dibuat dari sisa kayu kapal.
Pupil mata Kael kembali menyempit, ia menelusuri setiap sudut bar. Obor redup dan puluhan kepala monster yang diawetkan menempel di dinding
Arkan duduk di kursi kayu yang berderit. Di sudut ruangan, sekelompok pemburu mengenakan jubah berlogo kerajaan meliriknya. Salah satu dari mereka, yang wajahnya kemerahan karena bir, tertawa keras.
“Lihat itu,” ia menunjuk kapak Arkan dengan jarinya yang gemuk. “Manusia normal mencoba bermain pahlawan di Hutan Mati. Berapa lama kau pikir otot susumu itu bertahan sebelum kau jadi kotoran monster, Hah?”
Arkan mencengkeram gagang kapaknya di bawah meja. Rahangnya mengeras, otot lehernya menonjol. Kael ikut berdiri di sampingnya, hawa dingin keluar dari pundaknya yang masih terbuka.
“Kalau mau bunuh-bunuhan, keluar.” Suara itu berat, datang dari balik meja bar.
Seorang pria tua dengan satu mata tertutup bekas luka bakar berdiri di balik meja bar, tangannya mengelap gelas kotor dengan kain yang kusam. Ruangan langsung sunyi. Taring dan kuku Kael memanjang sejenak, lalu kembali normal.
Pria yang mabuk kembali duduk ke kursinya saat matanya bertemu dengan mata si pria tua. Kael mundur, duduk di samping Arkan.
“Jalur dagang selatan hilang,” bisik seseorang di sudut bar, menyeka keringat dingin di lehernya. “Katanya diserang monster Darah.”
“Harga Darah juga naik,” sahut pria lain. Koin perak di jarinya beradu dengan meja. “Karena monster Darah dibiarin hidup lebih lama. Biar Darahnya makin kental.”
Di sudut bar lain, seseorang berdiri, berjalan menuju meja bar dengan langkah lunglai. “Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri,” teriak pria itu. “Kepala monster putus hanya dengan sekali tebas.”
Pria itu jatuh sebelum sampai ke meja bar. Botol di tangannya terlepas, menggelinding ke kakk Arkan.
DUNG... DUNG... DUNG...
Bel besar dari menara gerbang utama berbunyi tiga kali. Suara itu begitu keras, getarannya merambat di lantai kayu bar. Orang-orang di dalam bar berhenti bicara, gelas-gelas diletakkan di atas meja.
Suara derap kaki kuda serempak terdengar dari jalanan berlumpur di luar. Arkan melongok lewat jendela kecil yang berdebu.
Pasukan zirah putih dengan mantel merah darah masuk dengan formasi sempurna. Mereka membawa tombak panjang yang berkilau tajam di bawah cahaya fajar yang pucat, menunggangi kuda hitam besar. Simbol Darah digenggam tangan kerajaan bersinar terang di dada zirah mereka.
Kael menarik rendah tudung jubah kotornya. Gigi taringnya bergemeletuk membentur lidah. “Sial... kenapa mereka harus datang sekarang?”
Kabut tebal menggantung di jantung Hutan Mati. Api unggun kecil menyala di antara tumpukan tulang-tulang tua.
Seorang pria duduk di depannya, bersandar pada batang pohon pinus yang sudah mati. Wajahnya tersembunyi di balik mantel gelap. Sarung tangan kulitnya penuh bercak darah yang sudah mengering dan menghitam. Kepala monster setinggi tiga meter tadi malam tergeletak begitu saja seperti bongkahan batu tak berharga di samping kakinya.
Pria itu memegang sebuah botol kaca kecil di depan matanya. Darah Marun pekat bergerak liar, berdenyut seperti jantung setiap kali terkena cahaya api.
Matnay menatap botol itu, lalu memasukkannya ke dalam saku mantelnya. Ia menginjak api unggunnya hingga padam sepenuhnya.
Hutan kembali gelap. Hanya kabut yang tersisa.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!