Asap di Asrama

2 dibaca

A

Kantor kepala sekolah berbau minyak tanah dan kertas lama.

Kim Dae-hyun duduk di balik mejanya dengan kedua tangan dilipat, dan dia tidak mempersilakan Ji-ho duduk.

“Enam minggu yang lalu,” katanya.

Ji-ho berdiri.

“Aku bertanya sekali,” lanjut Dae-hyun. “Dan aku ingin jawaban yang tidak membuatku harus bertanya dua kali.”

“Apa yang saya lihat di hutan.”

“Apa yang kamu lihat di hutan.”

Ji-ho sudah menyiapkan jawabannya sejak dia berjalan menaiki tangga. Dia menyusunnya dengan hati-hati, mengujinya, membuangnya, menyusun yang baru. Dan sekarang, berdiri di depan meja itu, dia mengerti bahwa semua persiapan itu sia-sia, karena kebohongan terbaik di dunia ini tidak akan bertahan lima detik di bawah tatapan mata Kim Dae-hyun.

Maka dia memilih sesuatu yang lain.

“Saya melihat rusa,” katanya.

Hening.

“Rusa.”

“Rusa jantan. Tanduknya patah sebelah. Berdiri di tengah jalan setapak di utara, sekitar empat ratus meter dari pagar. Saya tidak melaporkannya karena saya pikir rusa tidak penting.”

Dae-hyun menatapnya.

Lima detik.

Delapan detik.

Lalu pria itu mengeluarkan napas panjang melalui hidung, membuka laci, dan mengeluarkan kertas kosong.

“Tulis,” katanya. “Waktu, tanggal, jarak, arah angin. Semua yang kamu lihat. Serahkan besok pagi.”

“Guru...”

“Tulis.”

Ji-ho mengambil kertas itu.

Begitu dia berbalik, Dae-hyun berkata, “Dan Yoon Ji-ho.”

Ji-ho berhenti di ambang pintu.

“Kalau kamu berbohong kepadaku lagi,” kata Dae-hyun tanpa mendongak, “aku tidak akan mengurungmu. Aku tidak akan mengurangi jatahmu. Aku akan mengumumkan ke seluruh Guryong bahwa kamu sudah bicara dengan mayat hidup yang memanggil namamu, dan bahwa kamu menyimpan gelang kakakmu yang seharusnya mati sepuluh tahun lalu.”

Ji-ho menelan ludah.

“Biarkan mereka yang memutuskan apa yang harus dilakukan terhadapmu.”

“Itu bunuh diri,” kata Ji-ho pelan. “Bukan untuk saya. Untuk sekolah.”

“Ya,” kata Dae-hyun. “Itu sebabnya aku tidak akan melakukannya, selama kamu mengatakan yang sebenarnya kepadaku.”

Dia mendongak akhirnya.

“Aku sudah menjaga seratus empat puluh orang selama sepuluh tahun dengan satu aturan: tidak ada yang menyimpan sesuatu sendirian. Setiap kali seseorang menyimpan sesuatu sendirian, orang mati. Selalu begitu. Tidak pernah sekali pun meleset.”

Ji-ho keluar tanpa menjawab.

Di tangannya, kertas itu terasa lebih berat daripada seharusnya.


Api mulai pada jam sebelas malam.

Bukan di kamar. Bukan di dapur. Di ruang cuci lantai satu Asrama B, ruangan yang pintunya selalu dikunci karena isinya cuma ember, sabun, dan dua mesin jahit yang sudah rusak sejak Tahun Kedua.

Bau asap datang lebih dulu.

Ji-ho terbangun karena asap, bukan karena bunyi. Itu hal pertama yang diajarkan Perawat Im kepadanya pada Tahun Pertama, dan itu satu-satunya pelajaran yang tidak pernah dia lupakan: orang mati karena asap jauh lebih sering daripada karena api, dan asap tidak pernah membangunkanmu dengan suara.

Dia bangun, menyambar jaket, dan membuka pintu.

Koridor lantai dua sudah kelabu.

“MIN-JAE!” teriaknya.

Tidak ada jawaban.

Dia berlari ke kamar sebelah, menendang pintunya, dan menemukan Min-jae masih tidur dengan mulut terbuka. Ji-ho menyeretnya turun dari ranjang dengan satu tangan, menyiramkan air dari botol ke wajahnya, dan menamparnya dua kali.

“Apa, apa, APA...”

“Api. Turun. Sekarang.”

Min-jae langsung sadar. Itu kelebihannya yang paling berharga: dia tidak pernah butuh penjelasan kedua.

Di koridor sudah ada orang berlarian. Asap menggulung dari ujung tangga seperti kabut yang naik terlalu cepat. Seorang anak kecil menangis di suatu tempat. Bu Kang berteriak menyuruh semua orang ke halaman.

Ji-ho berlari ke arah yang berlawanan.

Ha-neul tidur di kamar 208, di ujung koridor, paling dekat dengan tangga. Kalau api naik dari lantai satu, kamar 208 adalah kamar pertama yang akan terperangkap.

Dia menendang pintunya. Terkunci.

Dia menendang lagi, keras, dengan tumit. Engsel kayunya retak pada tendangan ketiga, dan dia masuk.

Ha-neul tidak ada di sana.

Ranjangnya kosong, selimutnya tersingkir, dan jendelanya terbuka.

Ji-ho mengerti dalam satu detik: anak itu sudah keluar lewat jendela, dengan cara yang diajarkan Ji-ho kepadanya enam bulan lalu, dan sekarang dia entah di mana.

“HA-NEUL!”

Tidak ada jawaban. Asap semakin tebal.

Ji-ho merangkak ke lantai, mengambil napas setinggi tiga puluh senti dari lantai, dan keluar.

Di halaman, seratus orang berkumpul dalam keadaan separuh berpakaian. Nenek Park berdiri di depan dapur dengan sendok kayu di tangan, mengatur antrean ember dari selokan ke pintu asrama dengan suara yang mengalahkan semua suara lain.

“Pak Choi! Jangan bawa ember kosong ke atas, bodoh! Isi dulu! Kamu pikir airnya akan tumbuh di lantai dua?”

“Nenek, api...”

“Api tidak peduli kamu lelah. Angkat embernya!”

Ji-ho berlari melewati mereka.

“JEONG HA-NEUL!”

Dari arah dapur, satu suara kecil menjawab.

“Di sini.”

Anak itu berdiri di dekat drum air dengan kedua tangan memegang ember yang terlalu besar untuknya. Mukanya hitam oleh jelaga. Alisnya hangus sebelah.

“Kamu yang membunyikan bel,” kata Ha-neul.

Ji-ho menatapnya.

“Aku lari ke dapur lebih dulu. Nenek bilang jangan, tapi aku pikir kalau aku berteriak saja tidak ada yang dengar. Jadi aku memukul belnya.”

Bel dapur. Besi tua yang digantung di dekat pintu, yang tidak pernah dipakai sejak Tahun Kelima.

Anak itu menyelamatkan seratus orang dengan memukul bel.

Ji-ho mengulurkan tangan, mengusir jelaga dari alis Ha-neul dengan ibu jari, dan berkata, “Bagus.”

Hanya itu.

Lalu dia berbalik dan berlari ke arah kebun, karena dia tahu.


Gerbang kebun terbuka lagi.

Tidak dirusak. Rantai baru yang dipasang Dae-hyun dua hari lalu tergantung longgar di besi, gemboknya utuh, dan daun gerbangnya berayun pelan karena angin malam.

Ji-ho melangkah masuk dengan lentera di tangan dan berjongkok di tanah.

Jejaknya ada.

Sepatu bot militer. Pola chevron. Sol kiri terkelupas di tumit.

Sama seperti enam minggu yang lalu.

Dia mengikuti jejak itu.

Dari gerbang, menyusuri jalan setapak di sisi timur kebun, melewati bedeng yang sudah diinjak rata, menuju ke gedung utama. Bukan ke pintu depan. Ke pintu samping yang mengarah ke koridor bawah.

Koridor yang menuju Ruang Bawah.

Ji-ho berjalan mengikuti jejak itu dengan lentera yang dia rendahkan sampai nyaris padam. Kakinya tidak mengeluarkan bunyi. Napasnya dia atur melalui mulut dengan lidah menempel ke langit-langit, cara yang diajarkan Seung-tae kepadanya pada Tahun Kedelapan.

Jejak itu berhenti di depan pintu baja.

Dan pintu baja itu tidak tertutup rapat.

Ada celah selebar dua jari di sisi engselnya, dan di dalam celah itu tidak ada cahaya sama sekali. Bukan gelap karena lampu dimatikan. Gelap karena tidak ada cahaya yang pernah ada di sana.

Ji-ho berdiri tiga meter darinya.

Jantungnya berdetak di telinganya.

Lalu dia mendengar suara dari balik pintu.

Suara anak perempuan.

Sangat pelan. Seperti orang yang tidak diperbolehkan berbicara keras selama waktu yang sangat lama, sampai suaranya sendiri menjadi rapuh.

“Ayah?”

Ji-ho tidak bergerak.

Tidak ada jawaban.

Lalu suara itu lagi.

“Ayah... aku dengar langkah. Ayah?”

Dan di situlah Ji-ho membuat keputusan yang akan dia sesali selama sisa hidupnya.

Dia tidak mendorong pintu itu.

Bukan karena dia takut. Bukan karena dia ragu. Tetapi karena dia adalah anak yang besar di dunia di mana setiap pintu yang terbuka bisa berisi gigi, dan dia sudah dilatih selama sepuluh tahun untuk menghitung sebelum membuka apa pun.

Dia menghitung.

Satu.

Dua.

Tiga.

Dan pada hitungan ketiga, dia sadar bahwa dia mengenal suara itu.

Tidak, dia tidak mengenalnya. Suara itu terlalu rusak, terlalu pelan, terlalu lama tidak dipakai. Tetapi ada sesuatu dalam cara suara itu menyebut kata “ayah”, cara lidahnya menempel di langit-langit pada suku kata pertama seolah-olah kata itu pernah diucapkan ribuan kali dan tidak pernah diucapkan selama sepuluh tahun, yang membuat tengkuk Ji-ho dingin dari atas ke bawah.

Dia mundur satu langkah.

Lalu dia berlari.


Pos jaga Tembok Utara kosong, karena semua orang sedang memadamkan api.

Kecuali satu.

Oh Seung-tae duduk di bangku kayu dengan sepatu botnya dilepas, kaus kaki kirinya berlubang di tumit, dan kepalanya bersandar ke dinding.

Tertidur.

Tidak dalam. Tidur tentara yang dangkal, yang bisa bangun dalam setengah detik.

Ji-ho berjalan mendekat tanpa suara, berjongkok, dan memeriksa sepatu bot itu.

Sol kanan: pola chevron utuh, karet tebal, sedikit retak di ujung.

Sol kiri: pola chevron terhapus di bagian tumit, tersisa separuh.

Terhapus persis seperti jejak di kebun.

Ji-ho menahan napas.

Lalu dia melihat hal yang kedua.

Tanah.

Bukan debu. Lumpur basah, cokelat kehitaman, menempel tebal di sela-sela pola sol, masih lembap.

Tembok Utara adalah beton. Pos jaganya beton. Tidak ada tanah di seluruh lantai dua dan tidak ada lumpur di mana pun di kompleks ini kecuali satu tempat.

Kebun.

Dan hutan di luar pagar.

Seung-tae tidak keluar malam ini. Ji-ho sendiri melihatnya di menara pada jam sembilan, dan pos jaganya berada di ujung yang berlawanan dari asrama.

Ji-ho berdiri perlahan, mundur tiga langkah, keluar dari pos jaga tanpa membuat bunyi, dan berlari kembali ke koridor bawah.

Pintu baja itu sudah tertutup.

Rapat.

Gemboknya terpasang. Baru. Kunci diputar sampai bunyi klik terakhir.

Ji-ho berdiri di depannya dengan lentera yang tinggal separuh sumbunya, dan menatap baja itu seolah-olah baja itu bisa menjawab.

Di dalam, tidak ada suara apa pun.

Lalu, dari balik pintu, ada bunyi.

Bukan ketukan. Bukan goresan.

Suara.

Sangat dekat, seolah-olah mulut itu menempel di sisi lain baja.

“Ji-ho-ya.”

Ji-ho membeku.

“Jangan buka pintunya.”

Dan Ji-ho mengenal suara itu.

Dia sudah mendengar suara itu setiap hari selama sepuluh tahun, di koridor, di dapur, di klinik, memanggilnya untuk makan, memarahinya karena tidak makan, menyuruhnya tidur.

Dia mengangkat tangan untuk memegang gagang pintu.

Lalu, dari balik baja itu, sesuatu mulai menangis.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk