Yang Dibawa ke Gerbang

0 dibaca

A

Matahari belum naik ketika Pak Choi mengetuk pintu kamar Ji-ho.

Bukan mengetuk. Menggaruk.

Ji-ho sudah bangun sebelum suara itu selesai. Dia tidur dengan jaket, sepatu di kaki, dan pisau di bawah bantal, karena malam sebelumnya adalah malam di mana empat ratus mayat hidup berbaris mengelilingi sekolahnya dan pergi tanpa alasan yang bisa dijelaskan.

“Ada apa,” katanya, sudah berdiri.

Pak Choi tidak masuk. Pria itu berdiri di ambang pintu dengan lentera yang tangannya bergetar, dan wajahnya adalah wajah orang yang sudah melewati batas ketakutan dan sekarang hanya tinggal kosong.

“Di gerbang utama,” katanya. “Ada sesuatu.”

“Berapa banyak.”

“Bukan banyak. Satu.”

“Penyeret?”

“Bukan.”

Ji-ho mengambil jaketnya.

“Bukan Penyeret,” ulang Pak Choi. “Dan bukan Pelari. Pak Oh sudah melihatnya dari menara sejam yang lalu. Dia tidak menyuruhku membunuhmu. Dia menyuruhku memanggilmu.”

“Memanggil saya.”

“Katanya, panggil Yoon Ji-ho. Bukan Kepala Sekolah. Kamu.”


Gerbang utama Guryong menghadap ke jalan aspal yang menurun ke lembah. Di kedua sisi gerbang ada menara jaga setinggi enam meter, dan pada jam lima subuh kedua menara itu menyala dengan lentera ganda.

Oh Seung-tae berdiri di menara timur dengan senapan yang tidak diangkat.

Di tanah, empat meter dari gerbang, di luar pagar, ada sesuatu yang diletakkan.

Bukan dilempar. Diletakkan.

Seseorang berlutut untuk meletakkannya.

Ji-ho berjalan mendekat dengan lentera di tangan, dan pada jarak tiga meter dia berhenti, karena kakinya menolak melangkah lebih jauh.

Itu mayat seorang laki-laki.

Berbaring telentang. Kedua tangan dilipat di dada. Kedua mata tertutup. Jaketnya dirapikan hingga menutupi perut, dan sepatunya dijajarkan sejajar, ujung ke ujung, seperti sepatu yang disusun di depan pintu kamar tidur.

Tidak ada mayat hidup yang melakukan ini.

Tidak ada alam yang melakukan ini.

Seseorang membaringkan orang ini dengan hormat.

“Baek Seung-ho,” bisik Seung-tae dari atas menara.

Ji-ho tidak menjawab. Dia tidak bisa.

Guru Baek. Guru Fisika. Pria lima puluhan yang selalu membawa penggaris kayu panjang dan memukulkannya ke papan tulis kalau ada murid yang tidak memperhatikan. Pria yang pada Hari Hitam berdiri di pintu aula, meneriakkan nama-nama murid, menahan pintu itu dengan bahunya sementara anak-anak keluar lewat jendela.

Pria yang Ji-ho lihat mati.

Bukan mati dengan cara yang rapi. Ji-ho berumur tujuh tahun saat itu, duduk di tangga darurat, menolak turun, menolak berpegangan pada tangan kakaknya, menolak berpaling, dan karena itu dia melihat semuanya.

Dia melihat Guru Baek terjatuh. Dia melihat gerombolan itu menutupi tubuhnya seperti air yang naik. Dia melihat tangan pria itu terangkat dan tidak turun lagi.

Sepuluh tahun. Dia sudah melihat kematian ini dalam tidurnya lebih dari seratus kali.

Dan sekarang mayat itu terbaring di depan gerbang sekolahnya, bersih, utuh, dengan mata yang ditutup oleh tangan yang masih tahu cara menghormati orang mati.

“Tidak mungkin,” kata Ji-ho.

“Tidak mungkin,” setuju Seung-tae. “Tapi itu ada di sana.”

Ji-ho berjongkok.

Wajah itu sama. Garis-garisnya sama. Bahkan tahi lalat di bawah telinga kiri sama. Hanya saja tidak ada luka sobek, tidak ada tulang yang mencuat, tidak ada satu pun tanda gigitan di seluruh tubuh yang terlihat.

Kecuali satu.

Di leher sebelah kanan, di bawah rahang, ada satu luka.

Tepi rapi. Dalam. Presisi.

Ji-ho menurunkan lentera sampai cahayanya hampir menyentuh kulit mayat itu.

Luka yang persis sama dengan luka di leher mayat yang memanggil namanya tiga malam lalu.

“Siapa yang melihat ini,” katanya.

“Aku,” kata Seung-tae. “Pak Choi. Dan kamu.”

“Kepala Sekolah?”

“Belum kubangunkan.”

“Bagus. Jangan dulu.”

Ji-ho menoleh ke arah menara. “Berapa lama mayat ini di sana?”

“Tidak ada pada jam dua. Ada pada jam empat. Di antara itu, aku tidak tahu, karena aku tertidur dua puluh menit dan itu kesalahanku.”

“Tidak ada jejak?”

“Ada. Tapi tidak seperti yang kamu kira.”

Seung-tae menurunkan lentera dari menara, menyorot tanah di sekitar mayat itu.

Satu pasang jejak kaki. Telanjang. Masuk dari arah lembah, berhenti di mayat, lalu kembali ke arah lembah.

Jejaknya dalam. Terlalu dalam untuk orang yang tidak membawa beban.

“Dia menggendongnya,” kata Ji-ho.

“Beratnya mungkin tujuh puluh kilo. Dan dia berjalan dari lembah ke sini tanpa menyisakan satu pun jejak tangan, tanpa menyisakan satu pun titik darah, tanpa menyeret sedikit pun.”

Jejak telanjang kaki.

Bukan sepatu bot.

Ji-ho mencatatnya. Jejak bot militer di kebun berminggu-minggu lalu, dan jejak telanjang kaki malam ini. Dua pelaku berbeda. Atau satu pelaku yang tahu caranya mengganti jejak.

“Tangannya,” kata Seung-tae.

Ji-ho menunduk.

Kedua tangan mayat itu terlipat, tapi tidak rapat. Di antara telapak tangan ada sesuatu.

Ji-ho mengeluarkan pisau dan, dengan ujung bilah, membuka lipatan jari itu pelan-pelan.

Kertas.

Sama seperti yang dulu. Buku tulis bergaris. Sobek di dua sisi.

Di atasnya, dua baris yang ditulis dengan darah yang sudah mengering menjadi cokelat kehitaman.

Baris pertama: 구룡. Guryong.

Baris kedua: satu kata.

안. Dalam.

Bukan “di luar”. Bukan “di lembah”.

Dalam.

Ji-ho berdiri.

Dia berjalan ke pagar, berdiri di depan besi itu, dan menatap ke arah lembah yang mulai terang.

Di kejauhan, di titik yang sama dengan tempat sosok itu berdiri tiga malam lalu, ada sesuatu yang berdiri.

Tidak bersembunyi. Tidak bergerak.

Menunggu.


Seo-yeon memeriksa mayat itu di klinik pada jam tujuh, setelah mayatnya dimasukkan dengan izin Dae-hyun yang diberikan tanpa satu pertanyaan pun.

Itu, Ji-ho sadari, adalah hal yang paling mencurigakan sepanjang pagi itu.

Kim Dae-hyun tidak bertanya.

Dia datang, melihat wajah Baek Seung-ho, dan berkata, “Bawa ke klinik. Jangan ada yang melihat selain kalian berdua.” Lalu dia pergi ke kantornya dan mengunci pintu.

Perawat Im disuruh keluar. Min-jae disuruh menjaga pintu. Ha-neul disuruh ke dapur.

Di dalam klinik yang ditutup itu, Seo-yeon bekerja tanpa bicara selama hampir dua puluh menit.

Ji-ho berdiri di sudut.

Lalu Seo-yeon berdiri, melepas sarung tangan, dan berkata, “Ada empat hal yang tidak masuk akal.”

“Sebutkan.”

“Pertama. Tidak ada rigor mortis. Kaku mayat seharusnya mulai dua jam setelah mati dan mencapai puncaknya pada dua belas jam. Mayat ini mati paling cepat tiga jam yang lalu, tapi ototnya sudah lemas seluruhnya. Seperti orang yang mati empat puluh delapan jam yang lalu.”

“Kedua.”

“Suhunya. Tujuh belas derajat. Klinik ini dua puluh dua. Dan dia tidak berada di luar cukup lama untuk sedingin itu.”

“Ketiga.”

“Luka di leher itu. Tepinya sudah menutup. Bukan menutup karena mengering, Ji-ho. Menutup karena sembuh. Ada jaringan parut di tepinya. Jaringan parut tidak terbentuk dalam tiga jam. Butuh berminggu-minggu.”

Ji-ho merasakan sesuatu di tengkuknya yang tidak ada hubungannya dengan suhu.

“Berapa lama.”

“Enam minggu. Mungkin tujuh.”

Enam minggu.

Sama dengan umur darah di kertas pertama.

Sama dengan perkiraan umur lubang di gudang kebun.

“Dan yang keempat,” kata Seo-yeon.

Dia menoleh, dan untuk pertama kalinya sejak Ji-ho mengenalnya, Han Seo-yeon terlihat benar-benar kehilangan kata-kata.

“Baek Seung-ho tidak punya luka di leher sepuluh tahun lalu,” katanya. “Aku ingat. Aku delapan tahun, aku bersembunyi di bawah meja guru, dan aku melihatnya jatuh. Aku yang menutup matanya. Perawat Im membantuku.”

Dia menarik napas.

“Waktu aku menutup matanya, lehernya utuh.”

Ji-ho menatap mayat itu. Menatap luka yang rapi. Menatap jaringan parut yang berumur enam minggu di leher seorang pria yang mati sepuluh tahun yang lalu.

“Jadi,” kata Seo-yeon pelan, “seseorang melukai leher mayat ini enam minggu yang lalu. Bukan malam ini. Enam minggu yang lalu. Dan luka itu sembuh.”

“Mayat tidak sembuh.”

“Mayat tidak sembuh,” ulang Seo-yeon. “Tapi yang di atas meja ini bukan mayat. Rigornya tidak ada, suhunya salah, lukanya menyembuh. Dia tidak membusuk. Dan tidak ada satu pun tanda bahwa dia pernah membusuk.”

Hening.

Lalu Ji-ho berkata, “Kamu tahu apa artinya.”

“Jangan suruh aku mengatakannya.”

“Katakan.”

Seo-yeon menatapnya lurus. “Artinya selama sepuluh tahun ini, kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada orang-orang yang hilang.”


Jam sembilan pagi. Matahari keluar sebentar, lalu tertutup awan lagi.

Ji-ho berdiri di atas Tembok Utara, melanggar larangan Dae-hyun untuk kedua kalinya dalam dua belas jam, karena ada satu hal yang harus dia lakukan sebelum mayat itu dikubur.

Sosok itu masih di sana.

Di titik yang sama.

Ji-ho menuruni tembok, berjalan ke gerbang, dan berdiri di depan pagar. Jarak mereka tinggal dua puluh meter. Cukup dekat untuk membunuhnya dalam empat detik kalau makhluk itu mau.

Di belakangnya, Seung-tae menaikkan senapan ke bahu.

“Yoon Ji-ho,” panggil pria itu dari atas menara. “Minggir.”

“Tembak kalau dia bergerak,” kata Ji-ho. “Bukan kalau saya bergerak.”

Sosok itu bergerak.

Satu langkah. Lalu satu langkah lagi. Berjalan lambat, dengan kedua tangan di samping badan, telapak terbuka menghadap ke depan.

Gerakan itu bukan gerakan mayat hidup. Itu gerakan manusia yang mendekati anjing liar.

Ji-ho tidak menyadari bahwa dia berhenti bernapas.

Sosok itu berhenti pada jarak empat meter.

Cukup dekat untuk Ji-ho melihat warna matanya di bawah cahaya pagi.

Hitam. Jernih. Tidak berawan.

Dan sosok itu berlutut.

Bukan jatuh. Berlutut. Satu lutut lebih dulu, lalu yang lain, dengan gerakan yang hati-hati seperti orang yang sedang meletakkan sesuatu yang sangat rapuh ke atas tanah.

Dia meletakkan sesuatu di atas aspal.

Lalu dia mundur.

Satu langkah. Dua langkah. Lima langkah. Sepuluh.

Lalu dia berdiri, membalikkan badan, dan berjalan kembali ke arah lembah tanpa sekali pun menoleh.

Ji-ho menunggu sampai sosok itu hilang di balik pepohonan.

Lalu dia membuka pintu kecil di pagar, melangkah keluar, dan berjongkok.

Di atas aspal, di tengah debu, ada sebuah gelang.

Perak. Tipis. Pelat baja sebesar kuku kelingking.

Persis seperti yang ada di sakunya.

Kecuali ukurannya.

Gelang ini setengahnya.

Ukuran pergelangan tangan anak-anak.

Ji-ho memungutnya. Jarinya tidak bisa memegangnya dengan benar karena tangannya gemetar terlalu keras, dan dia harus memegangnya dengan dua tangan seperti orang yang memegang air.

Di pelat kecil itu ada ukiran yang sama. 구룡.

Dan di sisi lainnya, lebih kecil, nyaris habis: 윤지호.

Yoon Ji-ho.

Bukan Ji-hwan.

Namanya sendiri.

Dia ingat sekarang. Dia ingat dengan sangat jelas, dengan cara yang membuat dadanya sesak.

Umur tujuh tahun. Malam sebelum Hari Hitam. Kakaknya pulang ke asrama dengan dua gelang, meletakkan yang kecil di pergelangan adiknya, mengancingkannya terlalu longgar, lalu tertawa dan berkata, “Besok aku kencangkan. Jangan bilang Ibu.”

Besoknya, ibu mereka tidak menjawab telepon.

Dan pada siang hari berikutnya, di tangga darurat yang penuh asap, gelang itu lepas dari pergelangannya dan jatuh entah ke mana.

Dia sudah mencarinya selama sepuluh tahun.

Dan makhluk yang tidak seharusnya bisa mengingat apa pun itu menyimpannya.

Selama sepuluh tahun.

Di balik jaketnya, di saku dalam, gelang yang besar terasa panas.

Ji-ho berdiri di tengah jalan aspal yang kosong, memegang dua gelang yang terpisah sepuluh tahun, dan untuk pertama kalinya sejak umur tujuh tahun, Yoon Ji-ho menangis.

Tidak bersuara. Tidak lama. Hanya tujuh detik, dan tidak ada yang melihatnya kecuali Oh Seung-tae, yang menurunkan senapannya dan tidak berkata apa-apa.


Ketika dia kembali ke dalam, Min-jae sudah menunggunya di halaman.

“Kepala Sekolah mencarimu,” kata Min-jae. “Dia ada di kantor. Dia sudah... dia sudah sejak tadi.”

“Sejak kapan.”

“Sejak kamu keluar.”

“Dan?”

“Dan dia menyuruhku mengatakan satu hal kalau kamu sudah kembali.”

Min-jae menelan ludah. Wajahnya pucat.

“Katanya, tanyakan kepada Yoon Ji-ho, enam minggu yang lalu, apa yang dia lihat di hutan.”

Ji-ho membeku.

Enam minggu.

Enam minggu yang lalu dia memang melihat sesuatu di hutan. Dia melihat sesuatu yang tidak dilaporkannya kepada siapa pun, karena dia sendiri tidak percaya apa yang dilihatnya, dan karena melaporkan hal seperti itu akan membuatnya dipenjara di ruang isolasi sampai Dae-hyun memutuskan dia waras.

Enam minggu yang lalu, dia melihat Kim Dae-hyun keluar dari pintu ruang bawah pada jam tiga pagi.

Dengan sekop.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk