Di Balik Pintu

2 dibaca

A

Fajar menemukan Asrama B dalam keadaan separuh hangus dan separuh lagi hitam oleh air.

Tidak ada yang mati. Itu yang terus diulang-ulang orang-orang sepanjang pagi, seolah-olah mengucapkannya cukup sering akan mengubahnya menjadi kemenangan.

Tidak ada yang mati. Ada yang pingsan karena asap. Ada yang kakinya terkilir karena melompat dari lantai dua. Pak Choi tangannya melepuh sampai tidak bisa menggenggam sendok. Tiga anak kecil batuk-batuk terus sejak subuh.

Tetapi tidak ada yang mati.

Ji-ho berdiri di halaman dengan jaket yang berbau jelaga dan menghitung hal-hal yang tidak bisa dijelaskan.

Satu: api mulai di ruang cuci, ruangan yang isinya cuma ember, sabun, dan mesin jahit rusak. Tidak ada kompor di sana. Tidak ada lilin. Tidak ada listrik sejak sepuluh tahun lalu.

Dua: pintu ruang cuci terkunci dari luar dengan kunci yang hanya dipegang oleh Bu Kang dan Dae-hyun.

Tiga: api itu menyala pada jam yang sama dengan saat gerbang kebun dibuka untuk kedua kalinya.

Empat: tidak ada satu pun mayat hidup di sekitar pagar malam itu. Tidak satu pun. Padahal empat ratus ekor baru saja mengepung mereka dua hari sebelumnya.

Ji-ho mencatat yang keempat dua kali, karena yang keempat adalah yang paling tidak masuk akal.

Kebakaran menghasilkan asap, teriakan, bunyi bel, dan bau daging yang menghanguskan. Bau darah manusia adalah umpan terkuat. Bunyi manusia panik adalah yang kedua.

Tetapi malam itu, tidak ada yang datang.

Seolah-olah sesuatu di luar sana memerintahkan mereka untuk menjauh.


Klinik penuh.

Seo-yeon bekerja dengan lengan baju digulung sampai siku dan rambut diikat dengan kain perban karena karetnya hilang. Perawat Im duduk di kursi sudut, membalut tangan Pak Choi dengan gerakan lambat tapi pasti, sambil mengomel tanpa henti.

“Kalau kamu tidak bisa memegang sendok, kamu tidak bisa makan. Kalau kamu tidak bisa makan, kamu mati. Jadi diamlah dan biarkan aku membalut tanganmu.”

Pak Choi menangis. Bukan karena sakit. Karena dia sudah empat puluh tahun memegang sendok dan tidak pernah memikirkan hal itu.

Ji-ho berdiri di ambang pintu.

Dia tidak datang untuk menjenguk.

Dia mencari dua orang.

Yang pertama berada di sudut, membalut tangan, mengomel, hidup, tubuhnya di sana, mulutnya bergerak, suaranya tepat seperti suara yang dia dengar semalam dari balik pintu baja dan juga sama sekali tidak seperti itu.

Yang kedua berada di dapur, yang bisa dia dengar dari kejauhan karena suaranya menembus dua pintu dan satu koridor.

“...karena kalian semua tidak pernah belajar menutup panci! Aku sudah bilang seribu kali, tutup pancinya, kalau tidak, debunya masuk, dan debu itu bukan debu biasa, debu itu abu!”

Nenek Park. Hidup. Berteriak. Di dapur.

Ji-ho menutup mata selama satu detak.

Suara di balik pintu itu memanggilnya dengan suara yang sudah dia dengar setiap hari selama sepuluh tahun. Tetapi pemilik suara itu berada empat puluh meter jauhnya, di dapur, menyumpahi panci.

Dan Perawat Im ada di klinik.

Maka suara di balik pintu itu bukan milik siapa pun yang dia kenal.

Itu tiruan.

Dan sesuatu di balik pintu baja itu tahu persis suara apa yang harus dipakai untuk membuat Yoon Ji-ho memutar gagang pintu.


Kantor kepala sekolah.

Dae-hyun tidak duduk. Dia berdiri di depan jendela dengan secangkir teh yang sudah dingin, dan dia tidak menoleh ketika Ji-ho masuk.

“Saya tidak menulis laporannya,” kata Ji-ho.

“Aku tahu.”

“Saya akan menulisnya. Nanti.”

“Tidak perlu.”

Dae-hyun menoleh, dan wajahnya adalah wajah orang yang sudah melewati semalam tanpa tidur dan tidak berniat tidur besok pun.

“Kamu mendengar suara di balik pintu itu,” katanya.

“Ya.”

“Suara siapa.”

“Saya tidak tahu. Itu yang ingin saya tanyakan.”

Dae-hyun meletakkan cangkirnya di tepi jendela. Tangannya tidak stabil.

“Yoon Ji-ho,” katanya. “Kemari.”

Dia berjalan keluar dari kantor, menuruni tangga, melewati koridor utama, dan berhenti di depan pintu baja.

Dia berdiri di sana selama hampir sepuluh detik tanpa berkata apa-apa.

Lalu dia berkata, “Ada sesuatu di bawah sana.”

Ji-ho menunggu.

“Sudah berapa lama, Guru?”

Dae-hyun tidak menjawab pertanyaan itu. Dia menjawab yang lain.

“Kamu ingat ruang ketel?”

“Ruang ketel sudah ditutup sebelum wabah. Sekolah pakai gas sejak Tahun...”

“Sejak delapan tahun sebelum wabah. Betul. Ruang ketel ditutup, pintunya dilas, dan tidak ada yang memikirkannya lagi. Yang tidak diketahui siapa pun kecuali aku dan Kepala Sekolah waktu itu adalah begini: gedung ini dibangun tahun tujuh puluh sembilan, sebelum ada gas. Waktu itu batu bara diantar dengan truk, dan truk itu masuk lewat terowongan servis di lereng utara, menurunkan batu bara ke corong, dan corong itu menyambung ke ruang bawah.”

Ji-ho merasakan sesuatu turun di perutnya.

“Terowongan itu tidak ditutup,” kata Dae-hyun. “Cuma ditutup dari dalam, dengan papan dan semen. Delapan tahun lalu aku yang memeriksa sendiri. Masih utuh.”

“Delapan tahun lalu.”

“Ya.”

“Dan sekarang?”

Dae-hyun menatapnya lama.

“Sekarang tidak utuh.”


Perjalanan ke lereng utara memakan waktu dua puluh menit, dan mereka pergi berdua saja karena Dae-hyun melarang siapa pun ikut.

Mulut terowongan itu berada di balik semak yang sengaja ditanam, dua ratus meter dari pagar, di titik yang tidak terlihat dari menara mana pun.

Papan dan semennya sudah hancur.

Bukan hancur karena lapuk. Bukan hancur karena air.

Hancur karena didorong dari dalam.

Ji-ho berjongkok di depan mulut terowongan dengan lentera yang dia arahkan ke dalam.

Terowongan itu lebarnya satu meter, tingginya satu setengah meter, dan menurun dengan kemiringan sekitar dua puluh derajat. Dindingnya beton tua, retak, berair.

Di lantainya ada lumpur.

Bukan lumpur yang mengendap. Lumpur yang tergores oleh sesuatu yang diseret, berulang kali, dalam satu jalur yang sama.

Jalur itu masuk.

Dan jalur itu keluar.

“Berapa lama,” bisik Ji-ho.

“Aku menemukannya enam minggu yang lalu.”

Enam minggu.

Ji-ho menoleh. “Anda yang membawa sekop.”

Kali ini Dae-hyun tidak berpura-pura.

“Aku menutupnya enam minggu yang lalu. Dengan semen baru. Dan dengan papan baru. Aku yang memasangnya sendiri, sendirian, jam tiga pagi, supaya tidak ada yang melihat.”

“Tetapi tidak berhasil.”

“Tidak berhasil.”

Dae-hyun berdiri di depan mulut terowongan, menatap kegelapan di bawah tanah itu, dan suaranya berubah menjadi sesuatu yang belum pernah Ji-ho dengar dari mulut pria itu.

Suaranya menjadi suara ayah.

“Yang ada di bawah sana,” katanya, “tidak masuk dari luar. Dia tidak pernah keluar. Dan dia tidak menggigit siapa pun selama sepuluh tahun lebih, karena kalau dia mau, kita semua sudah mati sejak Tahun Pertama.”

Ji-ho menelan ludah.

“Guru. Siapa yang ada di bawah sana?”

Dae-hyun menutup mata.

Dan di situlah, di lereng Bukhansan yang basah oleh embun pagi, Ji-ho akhirnya mengerti mengapa Kim Dae-hyun bisa memerintah seratus empat puluh orang dengan tangan besi selama sepuluh tahun tanpa pernah sekalipun tersenyum.

Karena pria itu sedang menahan pintu.

Bukan pintu sekolah.

Pintu di bawah kakinya.

“Dia tidak akan membunuhmu,” kata Dae-hyun akhirnya. “Itu yang paling aneh. Dia bisa. Dia lebih kuat dari Alfa mana pun yang pernah kamu lihat, karena dia bukan sekadar mayat hidup. Tetapi dia tidak membunuh. Dia mengetuk. Dia bicara. Dia meniru suara.”

“Meniru.”

“Dia mengingat.”

Dae-hyun membuka mata.

“Enam minggu yang lalu dia mulai mengetuk lebih keras. Enam minggu yang lalu terowongan itu rusak dari dalam. Dan enam minggu yang lalu, Yoon Ji-ho, kamu melihat sesuatu di hutan yang tidak mau kamu ceritakan kepadaku.”

Ji-ho tidak menjawab.

“Kalian berdua berubah pada minggu yang sama,” kata Dae-hyun. “Aku tidak tahu apa hubungannya. Tapi aku tahu ini: selama sepuluh tahun, dia diam. Dan sekarang dia tidak diam lagi.”


Mereka kembali sebelum matahari tinggi.

Di koridor bawah, di depan pintu baja, Dae-hyun berhenti dan tidak melangkah lebih jauh.

“Mulai hari ini, pintu ini dijaga dua orang, dua puluh empat jam. Aku tidak peduli berapa banyak jatah yang harus kukurangi.”

“Guru.”

“Ya.”

“Yang meniru suara Perawat Im semalam. Yang memanggil nama saya. Kalau dia mengingat, dan kalau dia mengenal saya...”

Dae-hyun menatapnya.

Dan Ji-ho akhirnya mengucapkan kalimat yang sudah dia simpan di balik gigi selama sepuluh tahun, kalimat yang tidak pernah diucapkannya kepada siapa pun, tidak kepada Min-jae, tidak kepada Seo-yeon, tidak kepada siapa pun yang pernah bertanya mengapa dia tidak pernah ikut memperingati Hari Hitam.

“Kakak saya,” katanya. “Yoon Ji-hwan. Dia menggendong saya keluar dari aula pada Hari Hitam. Dia digigit saat melindungi saya. Saya melihatnya diseret masuk ke dalam asap dan saya tidak melihatnya lagi.”

Suara Ji-ho tidak berubah. Itu yang paling dia banggakan.

“Dan sebelum dia turun, dia menyuruh saya menunggu. Dia bilang, tunggu di sini, jangan keluar, aku akan kembali. Saya menjawab, janji.”

Hening di koridor itu.

“Dan saya menunggu empat puluh menit. Lalu saya lari.”

Dae-hyun tidak berkata apa-apa.

“Saya meninggalkan dia,” kata Ji-ho. “Bukan dia yang meninggalkan saya. Saya yang meninggalkan dia. Dan sekarang ada sesuatu di luar sana yang memanggil nama saya dengan suara yang seharusnya tidak bisa diingat oleh apa pun, dan ada sesuatu di balik pintu ini yang meniru suara perawat saya.”

Dia berhenti.

“Saya tidak bertanya apa yang ada di bawah sana, Guru. Saya bertanya siapa. Karena saya sudah tahu jawabannya, dan saya tidak sanggup mendengarnya diucapkan oleh orang lain.”

Dae-hyun meletakkan tangan di bahunya.

Tangan itu berat. Hangat. Dan bergetar.

“Yoon Ji-ho,” katanya. “Kamu salah satu anak paling berani yang pernah kulihat. Dan kamu tidak tahu apa-apa.”

Lalu dari balik pintu baja itu, terdengar ketukan.

Satu.

Dua.

Tiga.

Pelan. Tertib. Sopan, bahkan.

Wajah Dae-hyun berubah. Bukan menjadi pucat. Menjadi sesuatu yang jauh lebih buruk: lega.

“Dia mengetuk,” bisiknya.

“Guru?”

“Dia selalu mengetuk tiga kali dulu,” kata Dae-hyun. “Sebelum dia bicara. Seolah-olah dia masih ingat cara mengetuk pintu kamar orang tua.”

Ji-ho menatap pintu itu.

“Sebelum dia bicara apa,” katanya.

Dae-hyun menelan ludah.

“Sebelum dia memberitahu kita berapa hari lagi.”

Lalu, dari balik baja setebal sepuluh senti itu, terdengar suara.

Bukan suara anak kecil. Bukan suara Perawat Im.

Suara perempuan muda. Jernih. Tenang. Dan sangat sabar, dengan kesabaran sesuatu yang sudah menunggu selama sepuluh tahun dan tidak keberatan menunggu sedikit lebih lama.

“Ayah,” kata suara itu. “Buka.”

Hening sepanjang satu tarikan napas.

“Sudah sampai tujuh.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk