Fajar datang tanpa warna.
Di lembah, empat ratus mayat hidup duduk menghadap sekolah dalam barisan yang tidak berubah sedikit pun sejak tengah malam. Mereka tidak menyerang. Mereka tidak bergerak. Mereka menunggu, dan cara mereka menunggu itulah yang membuat tangan Oh Seung-tae tidak pernah lepas dari gagang senapannya sepanjang giliran jaga.
Kim Su-a berdiri di atas Tembok Utara dengan selimut melilit bahu. Kakinya tidak sampai ke lantai besi kalau dia berdiri terlalu dekat ke pagar, jadi dia berdiri agak mundur, menatap ke bawah lewat celah besi, dan matanya tidak berkedip sama sekali.
“Kamu tidak boleh menyebut nama kamu,” katanya.
Ji-ho menoleh. “Kenapa.”
“Jangan.”
“Itu bukan jawaban.”
Su-a tidak memalingkan wajahnya dari lembah.
“Di bawah sana ada empat ratus,” katanya. “Empat ratus itu tidak mendengar. Mereka hanya mengikuti yang paling dekat. Tapi yang di gunung mendengar. Dan yang mendengar tidak butuh melihat kamu. Dia butuh tahu siapa yang harus dipanggil.”
Ji-ho menatap punggung gadis itu.
“Jadi dia mencari nama.”
“Dia mencari nama,” kata Su-a. “Kamu punya nama yang sudah dia dengar sepuluh tahun.”
Hening di atas tembok.
“Dari siapa,” kata Ji-ho.
Su-a tidak menjawab.
Keputusan dikunci di ruang kepala sekolah dalam waktu sepuluh menit, karena Dae-hyun tidak memberi waktu lebih.
“Dua orang,” katanya. “Bukan tiga. Bukan empat. Kalau dua tidak kembali, tidak ada yang menyusul.”
“Aku ikut,” kata Park Min-jae.
Kalimat itu diucapkan sebelum Ji-ho sempat membuka mulut, dan diucapkan dengan nada orang yang mengumumkan cuaca, bukan dengan nada orang yang menawarkan diri.
“Kamu tidak bisa,” kata Seung-tae.
“Kenapa tidak bisa.”
“Karena kamu yang pegang urutan dapur.”
Min-jae menatap pria itu lama.
“Aku sudah ajarkan urutan dapur kepada Ha-neul kemarin,” katanya. “Tiga minggu. Anak itu lebih telaten daripada aku.”
Seung-tae tidak punya jawaban untuk itu.
Dae-hyun menatap Min-jae dari balik mejanya.
“Kenapa kamu ikut,” tanyanya.
Min-jae mengangkat bahu.
“Karena tidak ada yang menunggu aku di sini,” katanya. “Bukan dengan maksud apa-apa. Cuma begitu adanya.”
Ruangan itu diam.
Lalu Dae-hyun mengangguk.
Mereka keluar lewat gerbang kebun pada pukul enam pagi.
Gerbang kebun, bukan gerbang utama. Karena gerbang kebun adalah gerbang yang dibuka dari dalam tanpa merusak gembok, dan karena menurut Su-a, gerombalan tidak akan melihat perbedaan itu, tetapi yang di gunung akan melihatnya.
“Jalan lurus,” kata Su-a sebelum mereka turun. “Jangan berhenti. Jangan menoleh. Kalau ada yang menatap kamu, jangan balas menatap. Dan kalau kamu mendengar seseorang memanggil dari belakang, jangan jawab.”
“Bagaimana kalau yang memanggil itu kamu,” tanya Min-jae.
“Panggilannya tidak akan memakai suaraku,” kata Su-a. “Itu yang membuatnya berbahaya.”
Ji-ho menuruni tangga tembok dengan senapan di tangan dan parang di sabuk.
Di bawah, pagar kebun sudah lama hilang. Yang tersisa hanya tanah yang pernah ditanami, kini dipenuhi batang kedelai yang dipanen setengah matang, dan tanah itu basah oleh embun.
Mereka berjalan.
Empat ratus kepala menoleh bersamaan.
Bukan gerakan yang serentak seperti mesin. Lebih lambat dari itu, seperti angin yang menyapu ladang, satu per satu, dari ujung kiri ke ujung kanan, dan Ji-ho merasakan sesuatu di tengkuknya yang tidak pernah dia rasakan di hadapan gerombolan mana pun selama sepuluh tahun.
Mereka tidak sedang melihat mangsa.
Mereka sedang melihat seseorang yang mereka perhatikan lewat.
Min-jae mengangkat senapan.
“Turunkan,” kata Ji-ho.
“Ji-ho...”
“Turunkan. Kalau kamu menembak, mereka tidak akan mengejar kamu. Mereka akan mengejar sekolah. Dan yang menahan mereka tidak ada di atas sana hari ini.”
Min-jae menurunkan senapan.
Mereka berjalan terus.
Dan barisan itu membuka.
Ji-ho akan mengingat bagian ini untuk sisa hidupnya, dan dia akan mencoba menceritakannya kepada orang lain tiga kali, dan tiga kali dia akan berhenti di tengah, karena tidak ada cara mengatakannya tanpa terdengar seperti orang yang berdusta.
Barisan itu membuka menjadi lorong.
Bukan karena mereka mundur. Bukan karena mereka minggir. Mereka membuka dengan cara yang lebih mengerikan daripada itu: mereka menunduk.
Empat ratus mayat hidup, berbaris di tanah berlumpur, menundukkan kepala serentak saat dua manusia berjalan lewat di antara mereka, seperti barisan penonton yang memberi hormat kepada sesuatu yang tidak bisa mereka lihat.
Lorong itu lebarnya dua meter.
Tepat dua meter. Tidak lebih, tidak kurang.
“Ji-ho,” bisik Min-jae. “Ini bukan kebetulan.”
“Ini bukan untuk kita,” kata Ji-ho. “Ini untuknya.”
“Untuk siapa.”
Ji-ho tidak menjawab.
Mereka berjalan di antara empat ratus kepala yang menunduk itu selama hampir seratus meter, dan tidak ada satu pun yang mengangkat tangan, tidak ada satu pun yang menggeram, tidak ada satu pun yang menggeser kakinya walau setengah jengkal.
Di ujung lorong, tanahnya naik sedikit.
Dan di atas gundukan tanah itu, ada seseorang yang duduk.
Dia duduk dengan punggung tegak dan kedua tangan di atas lutut, seperti orang yang sedang menunggu giliran di kantor, dan dia terlalu besar untuk ukuran manusia yang pernah dikenal Ji-ho.
Tingginya hampir dua meter. Bahunya lebar, tetapi bukan bahu orang gemuk. Bahunya seperti bahu orang yang dibuat ulang oleh sesuatu yang tidak peduli pada proporsi.
Kulitnya pucat, tidak membusuk, tidak retak.
Dan matanya jernih.
Mata yang jernih itulah yang paling menyakitkan. Karena Ji-ho sudah sepuluh tahun membunuh makhluk dengan mata seperti susu basi, dan mata yang jernih membuatnya tidak bisa mengangkat senapan.
Sosok itu mengangkat wajahnya.
Dan berkata, “Kamu sudah besar.”
Ji-ho berhenti.
Tangannya ingin memegang senapan, tetapi tangannya tidak mau.
“Kak,” katanya.
Satu suku kata. Dan itu adalah pertama kalinya Yoon Ji-ho mengucapkan kata itu kepada seseorang dalam sepuluh tahun.
Sosok itu menatapnya lama.
Lalu dia mengangguk, perlahan, seperti orang yang mengangguk kepada sesuatu yang tidak sepenuhnya dipahaminya.
“Kamu punya sesuatu untukku,” katanya.
Ji-ho mengeluarkan gelang itu dari sakunya.
Gelang perak kecil, ukuran anak-anak, dengan tujuh goresan penuh di bagian dalam pelat dan satu goresan yang baru setengah.
Dia menyodorkannya.
Sosok itu tidak mengambilnya.
Dia hanya menatapnya, lalu menoleh ke arah Ji-ho, dan berkata dengan nada yang sangat biasa,
“Itu punya adikku.”
Jantung Ji-ho berhenti.
“Aku ini adikmu,” katanya. “Aku Ji-ho. Yoon Ji-ho.”
Sosok itu menatapnya.
Lama sekali.
Lalu dia mengangkat tangan, dan Ji-ho tidak bergerak karena dia tidak sanggup bergerak, dan jari-jari yang sedingin tanah itu menyentuh pipinya, dan ibu jarinya menyusuri tulang pipinya seperti orang yang memeriksa apakah sesuatu itu nyata.
“Tidak,” katanya pelan. “Ji-ho masih kecil.”
“Sepuluh tahun, Kak.”
“Sepuluh tahun,” ulang sosok itu. Dan dia menurunkan tangannya, dan menatap kedua telapak tangannya sendiri seolah-olah tidak yakin telapak tangan itu miliknya.
Di belakang Ji-ho, Min-jae mengeluarkan bunyi kecil.
Sosok itu menoleh ke arah bunyi itu, dan untuk pertama kalinya Ji-ho melihat sesuatu yang bukan ketenangan di wajahnya.
“Siapa itu,” katanya.
“Temanku.”
“Namanya.”
Dan Ji-ho, yang sudah sepuluh tahun hidup dengan perasaan bersalah yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun, yang sudah kehilangan kakaknya di hutan pada hari pertama wabah dan menyalahkan dirinya sendiri sejak umur tujuh tahun, melakukan hal yang paling manusiawi yang bisa dilakukan seseorang di tempat itu.
Dia berkata keras-keras, supaya kakaknya tahu bahwa dia datang membawa orang baik.
“Namanya Park Min-jae!”
Empat ratus kepala terangkat bersamaan.
Bukan menunduk kali ini. Terangkat. Semua menoleh ke arah Ji-ho dan Min-jae dengan gerakan yang begitu serempak sehingga bunyi leher yang berderit terdengar seperti satu bunyi panjang yang berguling di atas lembah.
Min-jae mundur satu langkah.
Lalu sosok itu berdiri.
Dia berdiri tanpa tumpuan tangan, dalam satu gerakan, dan tingginya menjulang di atas mereka berdua, dan dia mengangkat satu tangan ke arah lembah.
Telapak terbuka.
Lalu diturunkan perlahan.
Dan empat ratus kepala itu kembali menunduk.
Semuanya. Dalam waktu tiga detik.
Ji-ho menatapnya, dan dia mengerti bahwa yang baru saja dia lihat adalah sesuatu yang mustahil, dan bahwa hal itu baru saja terjadi di depan matanya untuk kedua kalinya dalam hidupnya, dan bahwa selama sepuluh tahun ini ada satu makhluk di lembah ini yang memegang empat ratus mayat hidup di telapak tangannya seperti orang yang menahan anjing dengan satu kata.
Sosok itu duduk kembali.
Duduknya lambat, kaku, seperti orang yang baru saja kehabisan sesuatu.
Lalu dia menatap Ji-ho.
Dan berkata, “Siapa nama kamu.”
Tidak ada bunyi di lembah itu selain napas Min-jae.
Ji-ho menelan ludah.
“Aku baru saja bilang.”
“Kapan.”
“Baru saja.”
Sosok itu mengerjap. Dia menunduk, menatap tanah di antara kedua kakinya, dan Ji-ho melihat sesuatu terjadi pada wajahnya yang jauh lebih buruk daripada kesedihan.
Dia sedang mencari sesuatu di dalam dirinya sendiri, dan dia tahu persis di mana dia meletakkannya, dan tempat itu kosong.
“Aku ingat wajahmu,” katanya. “Aku ingat wajahmu sejak tadi. Tapi nama yang kamu bilang tadi sudah tidak ada.”
“Kak...”
“Ulangi.”
“Yoon Ji-ho.”
Sosok itu mengulanginya. “Yoon Ji-ho.”
“Ya.”
“Yoon Ji-ho,” katanya lagi, seperti orang yang menghafal sesuatu dengan keras-keras supaya tidak hilang. Lagi. “Yoon Ji-ho.”
Lalu dia menoleh ke arah Min-jae.
“Dan kamu.”
Min-jae menatap Ji-ho. Ji-ho menggeleng hampir tidak kelihatan.
“Park Min-jae,” kata Min-jae juga.
Sosok itu mengulanginya, lalu menutup mata, dan mengulang kedua nama itu bergantian empat kali, dan Ji-ho menyadari bahwa yang sedang dia saksikan bukanlah pertemuan.
Yang sedang dia saksikan adalah seseorang yang sedang menyumpal lubang di dalam kepalanya dengan dua nama, dan dia tahu lubang itu tidak akan bisa disumpal.
Ketika dia membuka mata, dia berkata, “Delapan.”
Ji-ho menahan napas.
“Delapan apa.”
“Hari.”
“Sejak kapan.”
“Sejak aku tahu.”
Sosok itu mengangkat pergelangan tangannya. Di situ, melingkar di kulitnya yang pucat, ada gelang perak yang lebih besar, dan di bagian dalam pelatnya ada goresan yang sama.
“Tujuh sudah lewat,” katanya. “Yang kedelapan sedang berjalan.”
Ji-ho menatap gelang itu, lalu menatap wajah kakaknya, lalu menatap ke arah lembah yang menunduk.
“Dan kalau yang kedelapan selesai,” katanya.
“Yang kutahan lepas.”
“Empat ratus itu.”
“Empat ratus itu tidak ada apa-apanya.”
Ji-ho menunggu.
Sosok itu menoleh ke arah gunung.
Bukan ke arah puncak. Ke arah lereng yang lebih rendah, ke arah tempat bunyi kaki turun semalam.
“Yang kedelapan bukan aku,” katanya.
Ji-ho membeku.
“Lalu siapa.”
Sosok itu menoleh kembali kepadanya, dan matanya yang jernih itu menatapnya lurus, dan dia mengucapkan lima kata yang membuat seluruh darah Ji-ho turun ke telapak kakinya.
“Dia tidak ada di gunung.”
Hening.
“Dia ada di dalam.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!