Demam

3 dibaca

A

Demamnya mulai dengan hal yang paling bodoh yang pernah terjadi padanya.

Luka sepanjang empat senti di lengan bawah kiri, dari sengatan besi atap ruang cuci yang dia jebol untuk mencari Ha-neul.

Dia tidak melaporkannya karena ada tiga puluh orang yang lebih parah darinya dan dua ember air yang tersisa.

Itu keputusan yang salah, dan Seo-yeon memberitahunya dengan cara yang paling tidak menyenangkan: sambil memegang lengannya dengan dua tangan dan tidak melepaskannya.

“Sudah dua hari,” katanya. “Dua hari kamu biarkan ini.”

“Aku sibuk.”

“Kamu sibuk memikirkan yang lain dan tidak pernah memikirkan dirimu sendiri, dan itu bukan keberanian, Ji-ho. Itu cuma cara lain untuk tidak peduli.”

Dia melepaskan lengan Ji-ho dan mencuci tangan di baskom.

“Tiga puluh delapan setengah,” katanya. “Besok pagi mungkin empat puluh. Kalau lukanya kotor, kamu akan koma dalam tiga hari.”

“Berapa peluangnya.”

“Dua puluh persen.”

“Jadi delapan puluh persen aku baik-baik saja.”

“Jadi dua puluh persen kamu mati karena hal yang paling bodoh di dunia mati yang paling bodoh ini.”

Ji-ho mencoba tersenyum. Ternyata tersenyum sakit.

Seo-yeon menuang alkohol ke kapas dan tidak memberinya peringatan.

Ji-ho menggigit rahang sampai bunyi giginya terdengar.

“Bagaimana kalau,” kata Seo-yeon, masih menekan kapas itu, “kamu mencoba tidak menjadi orang yang paling tidak bisa direpotkan di seluruh Guryong, hanya selama satu minggu.”

“Aku akan mencoba.”

“Tidak. Kamu tidak akan mencoba. Tapi aku akan tetap di sini.”

Dia membalut lengan itu, mengikat simpulnya, lalu duduk di kursi di sebelah ranjang.

“Bawa bukumu,” katanya.

“Tidak.”

“Ji-ho.”

“Bawa bukumu, Seo-yeon. Tidurlah di kamarmu. Kalau kamu jatuh sakit karena menjaga aku, itu salahku, dan aku tidak sanggup menambah satu lagi.”

Seo-yeon menatapnya selama lima detak penuh.

Lalu dia berdiri, mengambil bukunya, keluar, dan kembali tiga menit kemudian dengan selimut tambahan dan satu botol air.

Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya duduk.

Dan Yoon Ji-ho, yang sudah belajar sejak umur tujuh tahun bahwa tidur adalah keadaan paling berbahaya di dunia ini, membiarkan matanya tertutup karena untuk pertama kalinya ada seseorang yang akan tetap terjaga menggantikannya.


Mimpi itu tidak datang seperti mimpi.

Mimpi itu datang seperti ingatan yang tidak memiliki izin untuk masuk.

Aula sekolah. Umur tujuh tahun. Kursi-kursi plastik biru yang belum sempat dilipat, karena upacara pagi dibatalkan di tengah, karena ada yang jatuh di barisan depan, dan jatuhnya tidak seperti orang pingsan.

Jatuhnya seperti boneka yang dilempar.

Lalu yang kedua. Yang ketiga. Lalu suara-suara.

Dan yang paling diingatnya bukan itu.

Yang paling diingatnya adalah apa yang terjadi setelahnya.

Orang-orang yang jatuh itu bangkit. Dan sebagian dari mereka tidak menyerang.

Guru Baek berdiri dari antara kursi-kursi yang terjungkal, dengan lengan kanannya robek dari siku sampai pergelangan, darahnya menggenang di lantai aula, dan dia tidak menyerang siapa pun. Dia berdiri. Dia menatap lengannya sendiri dengan ekspresi yang sangat tenang, seperti orang yang melihat jam tangan yang rusak. Lalu dia berjalan.

Tidak terseret. Tidak terburu-buru. Berjalan melewati barisan kursi, melewati anak-anak yang meringkuk, melewati meja guru, keluar dari pintu samping aula.

Dan di luar, di lapangan, sudah ada barisan.

Tiga puluh orang. Empat puluh. Berdiri berjajar, menghadap utara, ke arah Bukhansan.

Mereka tidak menggeram. Mereka tidak saling menabrak. Mereka berdiri dalam jarak yang sama seperti barisan upacara.

Dan Guru Baek berjalan ke ujung barisan itu, berhenti, dan berdiri menghadap gunung bersama yang lain.

Di antara mereka ada satu sosok yang lebih tinggi.

Sosok itu menoleh.

Menoleh ke belakang, ke arah pintu aula, ke arah anak laki-laki berumur tujuh tahun yang berdiri di sana dengan tangan berpegangan pada kusen.

Dan menatapnya.

Lalu barisan itu bergerak. Naik ke lereng. Masuk ke hutan. Hilang.

Ji-ho terbangun dengan selimut yang basah oleh keringat dan satu kata di mulutnya.

“Bukan gigitan.”

Seo-yeon mendongak dari bukunya.

“Apa?”

“Bukan gigitan,” ulang Ji-ho. Suaranya serak. “Yang membunuh mereka bukan gigitan. Mereka sudah terinfeksi dari udara. Yang digigit... yang digigit berbeda.”

“Ji-ho, kamu demam.”

“Guru Baek. Aku melihatnya bangkit. Dia tidak menyerang siapa pun. Dia berjalan ke luar dan bergabung dengan barisan, lalu mereka naik ke gunung. Aku melihatnya. Aku berumur tujuh tahun dan aku melihatnya.”

Seo-yeon menutup bukunya.

“Ji-ho,” katanya pelan. “Itu mimpi.”

“Bukan mimpi.”

“Kamu pernah bercerita tentang ini kepada siapa pun?”

“Kepada Kakak.”

“Dan?”

“Dia bilang aku berani karena mengingatnya. Dia tidak bilang aku bohong.”

Seo-yeon tidak menjawab.

Tetapi dia mencatat sesuatu di bukunya, dan Ji-ho tidak bisa melihat apa, dan dari sudut pena yang dipegangnya dia tahu tulisan itu bukan catatan medis.


Hari kedua demamnya berubah menjadi hari yang tidak bisa dia ingat dengan urutan yang benar.

Dia ingat Min-jae datang dan duduk terlalu dekat dan menanyakan terlalu banyak hal, sampai Seo-yeon mengusirnya.

Dia ingat Ha-neul datang dengan semangkuk sup dan menumpahkan separuhnya karena tangannya gemetar, lalu menangis, lalu ditenangkan Nenek Park yang entah bagaimana bisa terdengar marah dan lembut pada saat yang bersamaan.

Dia ingat Perawat Im memeriksa matanya dengan lampu kecil dan mengatakan sesuatu dalam bahasa yang tidak dia tangkap.

Dia ingat, pada satu titik, Dae-hyun berdiri di ambang pintu klinik tanpa masuk, menatapnya dari kejauhan selama cukup lama sampai Seo-yeon menoleh, lalu pria itu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Dan dia ingat malam itu.

Jam tidak diketahui. Lampu minyak sudah dipadamkan sampai tinggal satu, di sudut paling jauh.

Ji-ho setengah sadar. Tubuhnya terlalu berat untuk digerakkan, dan itu adalah perasaan yang paling dibencinya sepanjang hidupnya: tidak bisa mengangkat tangan untuk mencapai pisau.

Dia merasakan udara berubah.

Bukan angin. Ada sesuatu yang menutupi cahaya.

Lalu dia merasakan tangan di dahinya.

Dingin. Sangat dingin. Bukan dingin logam. Dingin tanah.

Telapak itu lebar, jari-jarinya panjang, dan tekanannya sangat hati-hati, seolah-olah tangan itu takut melukai.

Ji-ho mencoba membuka mata.

Dia tidak bisa.

Dia mencoba berbicara. Tidak ada suara yang keluar.

Tangan itu tinggal di dahinya selama hampir sepuluh detik. Lalu sebuah ibu jari menyentuh pelipisnya, menyusuri tulang pipinya, berhenti di rahang, dengan gerakan yang sama persis dengan gerakan yang dilakukan makhluk di apotek itu ketika menatap wajahnya dari jarak sejengkal.

Memeriksa. Memastikan. Mengenali.

Lalu tangan itu pergi.

Ji-ho tidak ingat kapan dia tertidur kembali.


Pagi datang dengan cahaya kelabu yang masuk dari jendela klinik.

Ji-ho bangun.

Demamnya turun. Tidak hilang, tapi turun, dan kepalanya cukup jernih untuk menghitung.

Dia menghitung.

Malam pertama Pelari di apotek tidak menggigitnya: hari pertama.

Malam pengepungan: hari kedua.

Mayat Guru Baek di gerbang: hari ketiga.

Kebakaran: hari keempat.

Hari ini: hari ketujuh.

Tujuh goresan.

Tujuh hari.

“Sudah sampai tujuh.”

Dia duduk terlalu cepat. Kepalanya berputar. Dia menunggu sampai berhenti, lalu menurunkan kaki dari ranjang dan berdiri.

Dan melihat lantai.

Dari jendela ke ranjangnya, ada jejak.

Kaki telanjang. Basah. Lumpur cokelat kehitaman, menempel di papan kayu, mengering menjadi tepian yang mengelupas.

Bukan kaki besar. Kaki kecil. Ukuran anak-anak, atau perempuan.

Jejak itu datang dari jendela, berhenti di sebelah ranjangnya, dan kembali ke jendela.

Tidak ada yang menginjak lebih jauh dari itu.

Di meja kecil di sebelah ranjang, di sebelah botol air, ada sesuatu yang tidak ada kemarin.

Segumpal kain yang diikat.

Ji-ho membukanya dengan jari yang masih gemetar.

Daun.

Tiga jenis, semuanya masih segar, dipetik tidak lebih dari enam jam yang lalu. Dia mengenali dua: daun yang biasa direbus Perawat Im untuk menurunkan panas, dan satu lagi yang tumbuh hanya di ketinggian, di lereng atas Bukhansan, dekat bebatuan.

Yang ketiga tidak dikenalnya.

Di bawah daun-daun itu ada sehelai kain yang lebih kecil, dilipat dua.

Di atasnya ada tulisan. Bukan darah kali ini. Arang.

Satu kata.

조금만. Sebentar.

Bukan perintah. Bukan ancaman.

Janji.

Ji-ho memegang kain itu dan tidak tahu apakah dia harus menangis atau mengambil pisaunya.


Dia berjalan ke jendela.

Jendela klinik menghadap ke utara. Dari sana, di atas atap gedung asrama, terlihat punggung bukit yang menurun ke lembah dan, lebih jauh, lereng Bukhansan yang mulai kehilangan warnanya karena musim.

Sosok itu ada di sana.

Di titik yang sama dengan tiga hari lalu.

Bahkan dari jarak sejauh ini, Ji-ho tahu itu dia, karena tidak ada satu pun pohon di garis itu yang bergoyang, sementara semua pohon di sekitarnya bergoyang.

Sosok itu mengangkat lengan.

Ji-ho mencondongkan badan ke depan, telapak tangannya menekan kaca dingin.

Sosok itu menunjuk.

Bukan ke arah sekolah. Bukan ke arah gerbang.

Ke arah Bukhansan.

Ke arah lereng yang kosong, ke arah hutan yang tidak pernah dimasuki siapa pun dari Guryong selama sepuluh tahun, karena tidak ada jalan ke sana dan tidak ada alasan untuk pergi ke sana.

Ji-ho mengikuti garis telunjuk itu.

Lalu dia melihatnya.

Di lereng, di antara pepohonan yang mulai gundul, ada sesuatu yang bergerak.

Bukan berjalan. Bukan berlari.

Bergerak di atas tanah dengan kecepatan yang salah, terlalu rendah, terlalu cepat, seperti bayangan yang melompat dari satu batu ke batu lain.

Banyak.

Ji-ho tidak bisa menghitungnya karena mereka tidak pernah berada di tempat terbuka lebih dari satu detik.

Sosok di punggung bukit itu menurunkan tangan, lalu berbicara.

Tidak berteriak. Tidak berbisik.

Tetapi entah bagaimana, dengan jarak lebih dari satu kilometer, dengan angin yang bertiup ke arah yang salah, kata itu sampai ke telinga Ji-ho dengan jelas sempurna, seolah-olah diucapkan tepat di belakang kepalanya.

“Penyelinap.”

Satu kata.

Lalu sosok itu membalikkan badan, berjalan turun ke arah lembah, dan hilang.

Ji-ho berdiri di depan jendela klinik dengan lengan yang masih terbalut dan kaki yang gemetar, menatap lereng gunung yang mulai bergerak.

Di belakangnya, pintu klinik terbuka.

Seo-yeon masuk dengan nampan di tangan, melihat wajahnya, dan menurunkan nampan itu.

“Apa yang kamu lihat?”

Ji-ho menjawab tanpa menoleh.

“Mereka tidak datang dari lembah,” katanya. “Mereka datang dari gunung. Dan mereka sudah lari.”

Seo-yeon mendekat ke jendela.

Lama sekali dia tidak berkata apa-apa.

Lalu dia berkata, pelan sekali, “Ji-ho. Berapa lama Penyelinap butuh untuk turun dari lereng itu ke sini?”

Ji-ho sudah menghitungnya.

“Empat jam.”

“Dan berapa lama kamu tidur semalam?”

Ji-ho menelan ludah.

Lalu dia mendongak.

Ke arah langit-langit klinik.

Dan di sana, di plafon kayu yang sudah retak sejak Tahun Ketiga, ada satu papan yang posisinya tidak rata dengan yang lain.

Papan itu bergeser tiga senti dari tempatnya seharusnya.

Dan dari celah di atasnya, sesuatu menetes ke lantai papan di antara mereka.

Bukan air.

Dan dari celah itu, tepat di atas kepala mereka, terdengar suara.

Satu kata. Diucapkan dengan hati-hati oleh sesuatu yang baru belajar mengucapkannya.

“Penyelinap.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk