“Jangan bergerak,” kata Ji-ho.
Seo-yeon berdiri tiga meter darinya dengan nampan yang masih di tangan, wajahnya mendongak ke arah plafon.
“Apa...”
“Jangan mendongak. Turunkan nampannya. Pelan. Lalu jangan melihat ke atas lagi.”
“Kenapa.”
“Karena kalau kamu melihat ke atas, dia tahu kamu tahu. Dan kalau dia tahu kamu tahu, dia tidak menunggu lagi.”
Seo-yeon menurunkan nampan itu ke meja tanpa bunyi.
Itu yang paling dikagumi Ji-ho darinya, meskipun dia tidak pernah mengatakannya: Han Seo-yeon tidak pernah melakukan hal yang tidak diminta. Tidak ada gerakan tambahan. Tidak ada pertanyaan kedua. Tidak ada kepanikan yang dipamerkan.
Dia menurunkan nampan, melangkah dua langkah ke samping, berdiri di sebelah Ji-ho, dan menunggu.
Bagus.
Karena aturan nomor tiga, yang diajarkan kepada setiap anak di Guryong sebelum mereka diizinkan keluar dari asrama sendirian, berbunyi: Penyelinap tidak menyerang duluan. Dia menunggu kamu lengah.
Dan aturan yang tidak tertulis, yang tidak diajarkan kepada siapa pun karena hanya bisa dipelajari dari mayat, berbunyi: Penyelinap mengincar yang sendirian.
Mereka berdua sekarang tidak sendirian.
“Itu tadi tidak menyerang kita semalam,” bisik Seo-yeon.
“Tidak.”
“Ada di plafon sepanjang malam. Di atasmu. Dan dia tidak menyerang.”
“Tidak.”
“Kenapa.”
“Karena kamu di sini.”
Ji-ho menggeser kakinya setengah langkah ke kiri, menjauh dari Seo-yeon.
Di atas plafon, bunyi itu bergeser juga. Setengah langkah. Mengikuti.
Ji-ho menggeser kembali ke kanan, mendekat ke Seo-yeon.
Bunyi di plafon diam.
“Dia mengikuti jarak,” bisik Ji-ho. “Bukan kita. Jarak antara kita berdua.”
“Dia menghitung.”
“Dia belajar.”
Darah di lantai papan di antara mereka sudah mengering menjadi titik cokelat sebesar uang logam. Bukan dari mereka.
Dari sesuatu di atas.
“Kita keluar,” kata Ji-ho. “Bersama. Jangan berlari. Jangan menoleh ke atas. Pintu ada di belakangmu, dua langkah. Mundur bersamaku.”
Mereka mundur.
Dua langkah. Empat langkah. Enam.
Plafon bergeser di atas mereka dengan bunyi kuku yang menyeret kayu, pelan, sinkron, seperti bayangan yang setia.
Sepuluh langkah. Dua belas.
Pintu.
Ji-ho meraih gagangnya tanpa memutar kepala, mendorongnya terbuka, dan mereka berdua keluar ke koridor pada saat yang sama.
Lalu Ji-ho berteriak.
“PENYELINAP! LANTAI DUA! SEMUA KE HALAMAN!”
Suara itu menggema di seluruh gedung.
Di atas plafon, untuk pertama kalinya, ada bunyi yang berbeda.
Bukan kuku. Bukan gesekan.
Bunyi napas.
Tiga puluh detik kemudian koridor penuh dengan orang, dan itu membuat segalanya lebih buruk.
Penyelinap mengincar yang sendirian. Tetapi Penyelinap juga belajar dari kegagalan, dan kerumunan yang panik bukanlah sesuatu yang ada dalam buku aturan mana pun.
“Keluar semua!” teriak Seung-tae dari ujung koridor. Dia sudah memegang senapan, dan dia sudah memahami situasinya dalam waktu yang lebih singkat daripada kebanyakan orang. “Halaman! Sekarang! Tidak ada yang berhenti mengambil barang!”
Seratus orang turun tangga dalam kekacauan yang tertib. Itu salah satu keanehan Guryong yang tidak pernah Ji-ho pahami sepenuhnya: sekolah ini dilatih dengan latihan kebakaran selama puluhan tahun sebelum wabah, dan latihan itu ternyata lebih berguna daripada semua senjata yang pernah mereka kumpulkan.
Dalam dua menit halaman penuh.
Dan Ji-ho berdiri di depan pintu gedung utama, menahan napas, menghitung orang.
Seratus tiga puluh sembilan.
“Siapa yang kurang,” katanya.
Min-jae, yang entah bagaimana sudah berada di sebelahnya dengan kapak, menjawab tanpa ditanya.
“Ha-neul di dapur bersama Nenek. Seo-yeon di sini. Perawat Im di sini. Pak Choi di sini. Guru Kim di sini. Kurang satu.”
“Siapa.”
“Bu Kang.”
Ji-ho menutup mata.
Bu Kang. Enam puluhan. Mengurus kebun bersama Pak Choi. Kakinya pincang sejak Tahun Ketiga.
“Kapan terakhir kamu melihatnya.”
“Tadi pagar. Dia bilang mau ke ruang jahit ambil benang.”
Ruang jahit. Lantai dua. Ujung koridor. Paling jauh dari tangga.
“Mana panggilnya,” kata Ji-ho.
“Sudah tiga kali.”
Mereka masuk bertiga.
Seung-tae, Min-jae, dan Ji-ho. Itu komposisi yang disengaja. Seung-tae membawa senjata jarak jauh dan disiplin. Min-jae membawa kekuatan. Ji-ho membaca.
Demamnya masih ada, tapi demam tidak membunuhnya hari ini, dan dia sudah memutuskan bahwa kalau hari ini adalah hari kematiannya, maka kematiannya akan terjadi di lantai dua bersama dua orang yang tidak akan membiarkannya sendirian.
Koridor lantai dua gelap. Lampu minyak dibiarkan menyala di ujung, dan cahaya yang redup itu justru lebih buruk daripada kegelapan total, karena menciptakan bayangan tempat sesuatu bisa bersembunyi.
Mereka berjalan berjajar. Tidak ada yang bicara.
Ruang jahit berada di ujung, pintunya separuh terbuka.
Bau darah keluar dari sana.
Banyak darah.
Min-jae melangkah maju. Ji-ho menahan dadanya dengan satu lengan.
“Jangan,” bisiknya. “Lihat dulu.”
Mereka melihat.
Bu Kang tergeletak di dekat mesin jahit dengan kepala yang menengok ke arah pintu, seolah-olah dia sempat mendengar sesuatu dan mendongak sebelum itu terjadi. Lehernya robek. Bahunya robek. Dan di paha kirinya ada bekas gigitan yang dalam.
Tetapi tidak ada luka di otaknya.
Seung-tae berjongkok, memeriksa luka leher dengan mata yang tidak berkedip.
“Tidak dimakan,” katanya.
“Tidak,” kata Ji-ho.
“Penyelinap membunuh untuk membunuh?”
“Penyelinap membunuh untuk menghilangkan saksi,” kata Ji-ho. “Dia tahu dia terdengar. Jadi dia membunuh orang yang paling dekat dan paling lambat. Itu bukan kelaparan. Itu taktik.”
Min-jae muntah di sudut ruangan.
Ji-ho tidak menegurnya. Dia sendiri harus menahan sesuatu di kerongkongannya dengan cara yang sama seperti dia menahan tangannya supaya tidak gemetar: dengan menghitung, bukan dengan merasakan.
“Berapa lama lagi sampai dia bangkit,” tanya Min-jae dengan suara bergetar.
Seung-tae menjawab. “Tiga puluh menit. Kurang kalau lukanya dekat ke jantung.”
“Seung-tae.”
“Aku tahu.”
Mantan tentara itu berdiri, mengangkat senapan, dan menembak kepala Bu Kang tanpa ragu dan tanpa memalingkan wajah.
Bunyi tembakan itu memantul di koridor kosong seperti bel terakhir.
“Ke mana perginya,” kata Seung-tae, menurunkan senapan.
Ji-ho berjongkok di dekat pintu, memeriksa lantai.
Darah ada di mana-mana, tetapi di antara genangan itu ada pola yang tidak acak.
Satu jejak kaki telanjang, kecil, mengarah dari ruang jahit ke jendela di ujung koridor.
Bukan ke plafon.
Ke jendela.
“Dia tidak lari ke plafon,” kata Ji-ho. “Dia keluar lewat jendela.”
“Ke luar gedung?”
“Ke atap. Atau ke selokan. Atau ke mana pun yang lebih tinggi.”
Ji-ho berdiri dan menatap jendela itu.
“Dia tidak bersembunyi,” katanya. “Dia pergi ke tempat yang bisa dia pakai untuk melihat kita semua.”
Malam itu Guryong tidak tidur.
Dae-hyun membagi seratus tiga puluh sembilan orang menjadi tiga kelompok di dua gedung, dengan aturan baru yang diumumkan sendiri olehnya dari atas meja di halaman: mulai malam ini, tidak ada satu pun orang yang berada sendirian di mana pun. Tidak di kamar mandi. Tidak di dapur. Tidak di gudang. Kalau kamu harus buang air, kamu ditemani.
Ada yang tertawa gugup. Tidak ada yang membantah.
Ji-ho duduk di tangga depan dengan punggung menempel dinding, memegang pisau di pangkuan, dan menghitung.
Penyelinap tidak menyerang duluan. Penyelinap menunggu kelengahan. Penyelinap mengincar yang sendirian. Penyelinap nokturnal. Penyelinap memanjat. Penyelinap belajar dari kegagalan.
Enam ciri.
Dari enam ciri itu hanya satu yang tidak cocok dengan apa yang terjadi hari ini.
Penyelinap nokturnal.
Makhluk ini menyerang Bu Kang pada jam sepuluh pagi.
Makhluk ini berada di plafon klinik pada siang bolong.
Makhluk ini tidak peduli pada siang dan malam.
“Min-jae,” katanya.
“Ya.”
“Bawa lentera. Banyak. Semua yang ada.”
“Untuk apa.”
“Untuk membuktikan sesuatu yang tidak ingin aku benar.”
Ruang atas plafon gedung utama bisa dimasuki lewat panel akses di ujung koridor lantai tiga, dan tidak ada yang pernah memasukinya selama sepuluh tahun, karena tidak ada alasan dan karena tangganya patah pada Tahun Keenam.
Min-jae mengangkat Ji-ho di bahunya.
Ji-ho mendorong panel itu, naik, dan menyalakan lentera.
Ruang itu lebarnya satu setengah meter, tingginya tidak cukup untuk berdiri, dan membentang sepanjang seluruh gedung.
Lantainya papan kayu yang dilapisi debu setebal jari.
Dan debu itu tidak utuh.
Ada jalur yang bersih membentang di tengah ruang, selebar badan, mengkilap oleh gesekan berulang, dari ujung ke ujung.
Sesuatu sudah melewati jalur ini ribuan kali.
Ji-ho merangkak maju.
Sampai ke titik tengah, di atas koridor lantai dua, dia menemukannya.
Sarangnya.
Bukan sarang tikus. Bukan sarang burung.
Di antara balok-balok kayu ada celah selebar badan yang telah dilapisi dengan sesuatu. Kain. Kertas. Rambut. Dan potongan-potongan tanaman kering yang dianyam menjadi semacam alas, dengan kerapian yang mengingatkannya pada cara Nenek Park melipat selimut.
Di atas alas itu ada barang-barang.
Bukan tersebar. Disusun.
Satu jepit rambut berwarna biru, kecil, dengan cat yang mengelupas di ujungnya.
Ji-ho mengenalinya. Seo-yeon memakainya setiap hari selama dua tahun, sampai jepit itu hilang pada musim panas lalu dan dia hanya berkata, “Sudah tua,” dan tidak pernah memakai yang lain.
Satu mainan. Mobil-mobilan kayu, sebesar telapak tangan, roda depannya patah.
Milik Ha-neul. Anak itu menangis tiga malam karenanya pada Tahun Kelima, dan Ji-ho yang membuatkan gantinya dari potongan kayu, yang tidak pernah dianggap sama oleh anak itu.
Satu sendok. Gagangnya tergores huruf K, dibuat dengan pisau.
Milik Pak Choi. Semua sendok Pak Choi ditandai seperti itu sejak Tahun Kedua, karena dia pernah kehilangan satu dan dihukum Dae-hyun.
Dan satu foto.
Ji-ho mengangkatnya dengan dua tangan.
Foto sekolah. Potret murid, ukuran tiga kali empat, latar biru muda. Di dalamnya ada seorang anak laki-laki berumur tujuh tahun dengan rambut yang dipotong terlalu pendek, seragam yang kebesaran, dan mata yang menatap ke kamera tanpa tersenyum.
Anak itu memakai gelang perak kecil di pergelangan kiri.
Foto itu diambil dua hari sebelum Hari Hitam.
Ji-ho membaliknya.
Di bagian belakang, dengan pensil, tulisan tangan remaja laki-laki. Miring ke kanan. Tekanannya kuat pada huruf pertama setiap kata.
내 동생, 지호
Adikku, Ji-ho.
Ji-ho menutup mata.
Dia mengenal tulisan ini. Dia mengenalnya lebih baik daripada wajahnya sendiri di cermin, karena tulisan ini ada di sampul buku pelajarannya, di kertas catatan yang ditinggalkan di meja makan, di secarik kertas yang diselipkan ke dalam tasnya pada pagi hari terakhir sebelum dunia berakhir, yang berbunyi: jangan keluar kelas sampai aku datang.
Tulisan Yoon Ji-hwan.
Tetapi di bawahnya ada satu baris lagi.
Ink-nya berbeda. Tinta, bukan pensil. Dan tekanannya tidak kuat. Tangannya mengekor ke bawah, huruf-hurufnya melebar di akhir, seperti tulisan yang dibuat oleh tangan yang tidak bisa melihat kertasnya.
미안. 일곱이 됐어.
Maaf. Sudah sampai tujuh.
Dan di bawahnya, lebih kecil, nyaris tidak terbaca.
Tanggal.
Hari ini.
Ji-ho menurunkan foto itu.
Tangannya tidak gemetar lagi. Tangannya tidak pernah segemas ini dan tidak pernah setenang ini pada saat yang bersamaan, karena sekarang dia mengerti sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya menjadi sangat dingin.
Yang membuat sarang ini bukan Penyelinap.
Penyelinap tidak menyusun barang. Penyelinap tidak menulis. Penyelinap tidak meminta maaf.
Yang membuat sarang ini sudah ada di atas plafon mereka sejak lama. Yang mengambil jepit rambut Seo-yeon, mainan Ha-neul, sendok Pak Choi, bukan untuk dimakan, bukan untuk dimainkan, melainkan karena itulah satu-satunya cara yang diketahuinya untuk tetap berada di dekat orang-orang yang tidak bisa dia dekati.
Ji-ho merangkak mundur, menurunkan lentera, dan menyorotkan cahaya ke arah ujung ruangan yang belum dia periksa.
Ruang plafon itu tidak berhenti di ujung gedung.
Ada celah yang mengarah ke bawah, gelap, dan celah itu turun. Menembus dinding. Mengikuti pipa lama. Menuju ke bawah, ke lantai dua, ke lantai satu, ke koridor bawah.
Ke arah pintu baja.
Ji-ho menatap celah itu, dan lentera di tangannya tidak cukup kuat untuk mencapai dasarnya.
Lalu, dari dalam celah itu, terdengar ketukan.
Satu.
Dua.
Tiga.
Sopan. Tertib. Sama seperti yang dia dengar dari balik pintu baja di koridor bawah.
Lalu sebuah suara.
Bukan suara anak kecil.
Suara perempuan muda. Jernih. Tenang. Dan sangat sabar.
“Kalian telat.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!