Dia di Luar

0 dibaca

A

Nenek Park masuk ke klinik pada pagi hari kedelapan membawa satu mangkuk, dan tidak bertanya kepada siapa pun.

Dia meletakkan mangkuk itu di pangkuan Kim Su-a, menarik kursi, duduk, dan berkata, “Makan. Dan jangan bilang kamu tidak lapar, karena aku bisa melihat tulang rusukmu dari pintu.”

Su-a menatap mangkuk itu.

Bubur. Dengan irisan daun bawang dan satu sendok minyak wijen yang sama, yang menurut semua orang seharusnya disimpan untuk hari yang lebih penting.

“Aku tidak tahu apa ini,” kata Su-a.

“Itu bubur.”

“Aku tahu namanya. Aku tidak tahu rasanya.”

Hening di klinik itu.

Nenek Park menatap mangkuknya, lalu menatap anak itu, dan Ji-ho melihat sesuatu terjadi pada wajah perempuan tua itu yang tidak pernah dia lihat terjadi pada siapa pun sebelumnya: sesuatu yang sangat keras di dalam dirinya patah, tetapi patah ke dalam, tidak keluar.

“Sepuluh tahun,” kata Nenek Park. Dan itu saja.

Lalu dia mengambil sendok, mengaduk bubur itu, meniupnya, dan menyodorkannya ke mulut Su-a seperti orang yang memberi makan anak yang sakit.

Su-a makan.

Satu sendok. Lalu dia berhenti, menutup mata, dan tidak bergerak selama hampir sepuluh detik, dan Seo-yeon melangkah maju karena dia mengira ada sesuatu yang salah.

Lalu Su-a membuka mata dan makan lagi.

Dan lagi.

Dia menghabiskan semangkuk penuh tanpa mengangkat kepala, dan ketika mangkuknya kosong, dia menyerahkannya kembali kepada Nenek Park dengan kedua tangan, dan berkata, “Terima kasih.”

Nenek Park mengambil mangkuk itu, berdiri, dan berkata dengan suara yang terlalu keras, “Besok aku bawa lagi. Dan kalau kamu tidak menghabiskannya, aku tidak akan membuatkan untuk yang lain juga, jadi pikirkan itu.”

Dia keluar.

Di ambang pintu dia berhenti, menoleh, dan menambahkan, “Kamu boleh panggil aku Nenek. Semua orang memanggilku Nenek.”

Lalu dia pergi sebelum siapa pun sempat menjawab.

Ji-ho berdiri di dekat jendela dan menatap ke luar, ke arah halaman, karena ada sesuatu di matanya yang tidak ingin dilihat siapa pun, dan karena dia sudah belajar sejak umur tujuh tahun bahwa menatap ke luar jendela adalah cara yang bisa diterima untuk tidak menatap siapa pun.

Di belakangnya, Kim Su-a berkata, “Orang-orangmu baik.”

“Tidak semuanya.”

“Yang di luar tidak punya yang baik.”

Ji-ho menoleh.

“Kamu pernah keluar dari ruang bawah,” katanya.

Bukan pertanyaan, dan Su-a tidak menjawabnya seperti pertanyaan. Dia hanya menunduk, menatap kedua telapak tangannya yang terlalu kecil, lalu mengangguk sekali.

Ji-ho keluar dari klinik tanpa mengatakan ke mana.


Dia kembali dua puluh menit kemudian membawa sebungkus kain.

Benda-benda dari sarang plafon itu tidak pernah dikembalikan kepada pemiliknya. Ji-ho menyimpannya di laci meja pos jaga sejak malam penemuan itu, terbungkus kain, bersama foto yang tidak pernah dia tunjukkan kepada siapa pun kecuali dirinya sendiri dalam kegelapan.

Dia meletakkan bungkusan itu di atas ranjang, di sebelah paha Su-a, dan membukanya.

Tiga barang.

Satu jepit rambut berwarna biru, kecil, catnya mengelupas di ujung.

Satu mobil-mobilan kayu sebesar telapak tangan, roda depannya patah.

Satu sendok, gagangnya tergores huruf K dengan pisau.

Su-a menatapnya.

Lama sekali dia tidak menyentuhnya.

Lalu dia mengangkat tangan dan menyentuh sendok itu dengan satu jari, seperti orang yang menyentuh sesuatu yang bisa pecah kalau dilihat terlalu lama.

“Kamu yang ambil,” kata Ji-ho.

“Ya.”

“Kenapa.”

Su-a tidak menjawab.

Ji-ho menunggu. Dia tidak mendesak, karena dia sudah belajar dari Seo-yeon bahwa mendesak hanya membuat orang mengarang jawaban, dan jawaban yang dikarang jauh lebih buruk daripada keheningan.

Lalu Su-a berkata, “Dari bawah, aku dengar suara kalian.”

“Suara apa.”

“Semua. Nenek memarahi panci. Pak Choi batuk setiap pagi jam lima, selalu tiga kali berturut-turut. Anak itu...” dia menunjuk ke arah pintu, ke arah Ha-neul yang sedang duduk di tangga, “...menangis waktu mainannya patah, dan dia tidak mau bilang kepada siapa pun karena dia malu.”

“Jadi kamu ambil barangnya.”

“Bukan untuk dimiliki.”

Su-a mengangkat jepit rambut itu, menggenggamnya di telapak tangan, menutup jari-jarinya di atasnya.

“Aku tidak pernah lihat muka kalian. Sepuluh tahun aku cuma dengar suara. Dan lama-lama aku tidak tahu apakah suara itu nyata, atau apakah aku yang membuatnya sendiri supaya aku tidak gila.”

Dia menatap Ji-ho.

“Kalau aku pegang barang ini, aku tahu orang itu pernah ada. Karena barang ini berat. Barang ini tidak bisa dikarang.”

Hening di klinik itu.

Seo-yeon berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan di saku jas labornya yang sudah pudar, dan Ji-ho tidak menoleh, tetapi dia tahu gadis itu ada di sana, dan dia tahu gadis itu mendengar semuanya.

“Berapa kali kamu naik ke atas,” tanya Ji-ho.

“Tidak tahu. Tidak pernah kuhitung.”

“Berapa kali kamu masuk dapur.”

Su-a ragu.

“Tiga kali.”

“Tiga kali dalam sepuluh tahun.”

“Tiga kali yang meninggalkan bekas,” kata Su-a pelan. “Yang lain tidak kusengaja.”

Ji-ho menahan napasnya.

“Panci Nenek Park,” katanya.

Su-a menunduk.

“Pancinya gosong,” katanya. “Nenek marah sepanjang malam. Aku dengar dari bawah. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, jadi aku cuci pancinya, lalu aku taruh di meja terbalik supaya tidak berdebu. Aku tidak sanggup menggantungnya. Terlalu berat untuk tanganku.”

Di ambang pintu, Nenek Park mengeluarkan bunyi.

Ji-ho menoleh. Perempuan tua itu berdiri di sana dengan mangkuk kosong yang tidak pernah dibawanya keluar, dan wajahnya adalah wajah orang yang menyusun ulang sepuluh tahun kenangan dalam waktu lima detik.

“Panci itu,” kata Nenek Park. “Aku kira aku yang pikun.”

“Bukan,” kata Su-a.

“Aku kira aku sudah mulai tidak ingat apa yang kulakukan semalam.”

“Bukan.”

Nenek Park melangkah masuk, berdiri di depan ranjang, menatap tiga barang di atas kain itu.

Lalu dia menatap Su-a.

“Dan gudang dapur,” katanya. “Kamu pernah masuk ke ruang di balik dinding itu?”

Su-a menggeleng.

“Tidak pernah.”

“Kenapa.”

“Karena ada orang di dalam.”

Klinik itu menjadi sangat sunyi.

“Siapa,” kata Nenek Park.

“Aku tidak tahu. Aku tidak pernah melihat mukanya. Aku cuma dengar dia berjalan, dan dia tidak berjalan seperti kalian. Dia berjalan seperti orang yang tidak pernah belajar cara berjalan di tempat yang sempit. Selalu menabrak sesuatu.”

“Kapan terakhir kamu dengar.”

Su-a menutup mata, mencoba mengingat.

“Empat bulan yang lalu,” katanya. “Lalu tidak pernah lagi.”


Ha-neul masuk karena Pak Choi yang menyuruhnya, dan Pak Choi masuk karena Ha-neul yang menariknya, dan pada akhirnya mereka berdua berdiri di depan ranjang itu dengan cara yang sama seperti orang yang berdiri di depan sesuatu yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Ji-ho menjelaskan dengan lima kalimat.

Anak itu menatap mobil-mobilan kayu di atas kain.

Lalu dia mengeluarkan tangan dari sakunya, menarik selembar kertas yang sudah dilipat empat kali, melipatnya lagi, dan menyimpannya kembali.

“Itu punyamu,” kata Ji-ho. “Kamu boleh ambil.”

Ha-neul tidak mengambilnya.

Dia menatap Su-a, lalu menatap mobil-mobilan itu, lalu menatap Su-a lagi.

“Kamu tidak punya mainan,” katanya.

Su-a tidak menjawab.

Anak itu mengangkat mobil-mobilan itu, membolak-baliknya, melihat roda depannya yang patah, dan menyerahkannya kepada Su-a dengan kedua tangan.

“Simpan saja,” katanya. “Aku sudah tidak main-main. Aku yang urut siram kebun sekarang.”

Su-a menerimanya.

Dia memegangnya dengan dua tangan di pangkuannya, dan tidak mengatakan terima kasih, karena ada kalanya terima kasih terlalu kecil untuk sesuatu, dan anak berumur dua belas tahun itu entah bagaimana tahu hal itu tanpa pernah diajari.

Pak Choi menatap sendok bergores K itu lama sekali.

Lalu dia berkata, “Aku punya empat. Ambil yang ini.”

“Tidak bisa,” kata Su-a.

“Kenapa tidak bisa.”

“Karena itu punyamu.”

“Aku yang membuat tandanya,” kata Pak Choi. “Dan aku yang mengatakan kepadamu bahwa itu milikmu. Itu namanya punya. Kamu tidak mengerti karena kamu terlalu lama tidak punya apa-apa.”

Seo-yeon melangkah maju, mengambil jepit rambut biru itu, dan memasangnya di rambut Su-a.

Tangan Su-a terangkat, menyentuhnya, menemukannya, dan jari-jarinya menutup di atasnya seperti orang yang memastikan sesuatu masih ada di tempatnya.

“Ukurannya pas,” kata Seo-yeon. “Aku dulu selalu kehilangan jepit. Mulai sekarang kalau kamu kehilangan, kamu tinggal ambil dari aku. Aku punya dua.”

Ji-ho berdiri di dekat jendela dan menatap ke luar, dan dia memikirkan sesuatu yang tidak akan pernah bisa dia katakan kepada siapa pun karena tidak ada kalimat yang cukup pendek untuk itu.

Sepuluh tahun mereka menyebut diri mereka penyintas.

Sepuluh tahun mereka mengira yang di bawah itu monster yang harus dikurung.

Dan selama sepuluh tahun, monster itu menyimpan jepit rambut, mainan kayu, dan sendok bergores K, bukan karena dia lapar, bukan karena dia ingin mengumpulkan, melainkan karena itulah satu-satunya cara yang dia tahu untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa orang-orang di atasnya pernah hidup.


Su-a menceritakannya di klinik, pada siang hari, dengan Dae-hyun, Seo-yeon, Seung-tae, dan Ji-ho mendengarkan.

Dia menceritakannya sambil duduk di ranjang dengan kaki yang tidak sampai ke lantai, dan suaranya adalah suara orang yang menceritakan sesuatu yang sudah dia ceritakan berkali-kali di dalam kepalanya sendiri selama sepuluh tahun.

“Yang di luar itu datang pertama kali empat bulan setelah ayah mengurungku.”

“Lewat terowongan?”

“Lewat terowongan. Waktu itu terowongannya belum rusak. Dia masuk, duduk di sudut, dan tidak bicara selama tiga hari. Aku tidak takut karena dia tidak berbau seperti mereka, dan karena dia tidak pernah menatapku seperti aku makanan.”

“Kapan dia bicara.”

“Hari keempat. Dia bertanya apa aku ingat namaku. Aku bilang ya. Dia bilang, bagus, simpan itu, jangan sampai hilang.”

“Kenapa.”

“Karena katanya, yang hilang bukan nyawa. Yang hilang ingatan. Dan kalau ingatannya habis, yang tertinggal di dalam tubuh itu bukan dia lagi.”

Hening.

“Dia bilang, dia sudah melihat itu terjadi pada yang lain. Yang digigit hari pertama bukan cuma kami berdua. Ada yang lain, di kota, yang tidak sempat dikurung. Dan dia sudah melihat apa yang terjadi pada mereka setelah ingatannya habis.”

“Apa yang terjadi,” tanya Seung-tae.

Su-a menoleh ke arah pria itu untuk pertama kalinya.

“Mereka tidak menjadi Penyeret,” katanya. “Mereka menjadi sesuatu yang lebih buruk. Penyeret tidak ingat apa-apa. Mereka ingat segalanya, tetapi semuanya salah. Mereka ingat nama orang yang mereka sayangi, dan mereka mengejar nama itu. Mereka ingat jalan pulang, dan mereka berjalan ke sana berulang-ulang sampai mereka hancur.”

Ruangan itu dingin.

“Dan yang paling buruk,” kata Su-a, “mereka menular. Bukan lewat gigitan. Lewat suara. Kalau mereka memanggil dan kamu menjawab, kamu mulai lupa juga.”

Ji-ho menelan ludah.

“Berapa lama sampai ingatannya habis,” tanya Seo-yeon.

“Tidak ada yang tahu. Dia bilang dia sudah menghitung sejak dia mulai lupa, dan dia mulai lupa enam minggu yang lalu.”

Enam minggu.

Ruangan itu seolah-olah menarik napas bersamaan.

“Jadi enam minggu yang lalu,” kata Ji-ho perlahan, “dia mulai kehilangan ingatannya. Dan pada minggu yang sama, terowongan itu rusak dari dalam.”

“Dia yang merusaknya,” kata Su-a. “Karena dia tidak bisa membuka pintunya dari luar lagi. Dia lupa caranya. Jadi dia mendobrak.”

“Dan dia mulai memberimu makan karena ayah berhenti.”

“Ya.”

“Dan goresan di gelang itu.”

“Dia yang membuatnya. Satu setiap hari. Supaya dia tidak lupa sudah berapa hari.”

“Dan catatan-catatannya. 지켜. 안. 조금만.”

Su-a mengangguk.

“Dia menulisnya di bawah, lalu menyuruh mayat membawanya ke atas. Karena dia tidak bisa masuk ke sekolah. Bukan karena dia tidak bisa membuka pintu, tapi karena dia takut.”

“Takut pada apa.”

“Pada dirinya sendiri. Katanya kalau dia masuk ke sini, dia mungkin tidak akan ingat untuk keluar. Dan kalau dia tidak ingat untuk keluar, dia akan mulai mencari adiknya. Dan kalau dia mulai mencari adiknya, dia akan membawa yang lain bersamanya.”

Ji-ho menutup mata.

Lalu dia membukanya dan bertanya, “Dan Penyelinap.”

“Dia yang memanggil mereka menjauh.”

“Bagaimana.”

Su-a mengangkat tangannya, menelapakkan tangan di udara, lalu menurunkannya perlahan.

“Aku tidak tahu caranya. Dia cuma berdiri di bukit, mengangkat tangan, dan mereka pergi. Tapi setiap kali dia melakukannya, dia kehilangan sesuatu. Seperti bayar.”

“Jadi malam pengepungan itu.”

“Bukan pengepungan,” kata Su-a. “Malam itu dia kehilangan ingatan tentang wajah ibunya. Dan dia berdiri di depan gerbang karena dia lupa harus ke mana lagi.”

Ji-ho teringat pada sosok di celah yang berhenti dua puluh meter dari gerbang, menunduk, mengangkat satu tangan, menunjuk.

Bukan menunjuk sebagai ancaman.

Menunjuk karena dia tidak tahu lagi apa yang sedang dia lihat.

“Dan delapan Penyelinap di aula,” kata Ji-ho.

“Itu dia yang mengurung kalian di dalam,” kata Su-a. “Supaya tidak ada yang keluar pada malam dia paling tidak bisa menahan mereka.”

Ji-ho menoleh ke arah Dae-hyun.

Pria itu berdiri di dekat pintu dengan tangan di saku, wajahnya kosong, dan Ji-ho tahu bahwa setiap kalimat yang diucapkan Su-a sedang menghancurkan satu per satu keyakinan yang membuat pria itu bisa berjalan tegak selama sepuluh tahun.

“Dan yang terakhir,” kata Ji-ho. “Gelang itu.”

“Dia mengembalikannya,” kata Su-a, “karena dia tahu minggu depan dia tidak akan ingat gelang itu milik siapa.”


Malam turun.

Keputusan diambil di ruang kepala sekolah dengan empat orang di dalam: Dae-hyun, Ji-ho, Seung-tae, dan Seo-yeon.

Su-a menolak ikut. Dia duduk di klinik dengan Nenek Park yang menyuruhnya tidur dan menolak pergi.

“Kalau hitungannya sudah delapan,” kata Seung-tae, “berarti besok dia selesai.”

“Besok atau malam ini,” kata Ji-ho.

“Dan kalau dia selesai?”

“Kalau dia selesai, yang ditahannya selama ini lepas. Semuanya. Empat ratus ekor di lembah, delapan Penyelinap di plafon, dan apa pun yang ada di gunung yang belum turun.”

Dae-hyun duduk di balik mejanya dan tidak berkata apa-apa untuk waktu yang sangat lama.

Lalu dia berkata, “Ada satu pilihan yang belum kita bicarakan.”

“Apa.”

“Su-a bilang dia bisa memanggil mereka menjauh. Sama seperti yang di luar.”

“Dia bilang dia bisa,” kata Seo-yeon, “tapi dia juga bilang dia tidak akan bisa berhenti memanggil. Dan kalau dia tidak bisa berhenti, dia menjadi apa yang dia takuti.”

“Dan dia menolak keluar,” kata Ji-ho. “Dia yang meminta dikurung, dan dia tidak pernah meminta dikeluarkan.”

“Karena itu,” kata Dae-hyun, “pilihannya bukan mengeluarkannya.”

Ji-ho menatapnya.

“Lalu apa.”

Dae-hyun mengangkat wajahnya, dan Ji-ho melihat sesuatu pada pria itu yang belum pernah dia lihat sejak pintu ruang bawah dibuka.

Bukan keputusasaan.

Penyerahan yang sudah selesai.

“Pilihannya adalah pergi ke sana,” kata Dae-hyun. “Menemui dia. Sebelum hitungannya selesai.”

“Di luar tembok.”

“Di luar tembok.”

Seung-tae berdiri.

“Gila,” katanya. “Empat ratus ekor di lembah, dan kamu mau mengirim anak ini keluar?”

“Aku tidak mau,” kata Dae-hyun. “Aku sudah sepuluh tahun menahan pintu, dan sekarang aku yang menyuruhnya dibuka.”

“Lalu kenapa kamu menyuruhnya.”

“Karena kalau dia selesai menghitung, yang datang bukan empat ratus. Yang datang adalah semuanya, dan kali ini tidak ada yang memanggil mereka menjauh.”

Hening.

Lalu Ji-ho berkata, “Saya akan pergi.”

“Tidak,” kata Seo-yeon.

Suara itu datang terlalu cepat, dan terlalu keras, dan itu adalah pertama kalinya Ji-ho mendengar Han Seo-yeon kehilangan kendali atas suaranya.

Ruangan itu diam.

Seo-yeon tidak menarik kembali kata itu. Dia hanya berdiri di sana dengan kedua tangan di sisi tubuhnya, menatap Ji-ho, dan membiarkan kata itu tinggal di udara.

“Kamu bilang,” kata Ji-ho pelan, “kasih tahu aku kalau kamu sudah selesai.”

“Aku tahu apa yang kukatakan.”

“Aku belum selesai.”

“Ji-ho...”

“Aku belum selesai,” ulang Ji-ho. “Dan aku kasih tahu kamu sekarang, supaya kamu tidak perlu menunggu.”

Seo-yeon menatapnya lama sekali.

Lalu dia mengangguk sekali, dan duduk, dan tidak mengatakan apa-apa lagi sepanjang malam itu.


Bunyi itu dimulai pada jam sebelas malam.

Bukan dari lembah.

Dari gunung.

Ji-ho berdiri di atas Tembok Utara bersama Seung-tae, Dae-hyun, Min-jae, dan Su-a yang dibawa naik karena dia yang pertama mendengarnya, jauh sebelum siapa pun.

Bunyi itu adalah bunyi ratusan kaki yang turun dari lereng Bukhansan.

Bukan berlari. Tidak terburu-buru. Turun dengan kecepatan yang sama, langkah yang sama, seolah-olah seluruh gunung itu sedang bergerak ke bawah mengikuti satu irama.

Seung-tae mengangkat teropong.

“Berapa,” kata Dae-hyun.

“Tidak bisa dihitung. Terlalu banyak.”

“Berapa kira-kira.”

“Lebih dari malam pengepungan. Jauh lebih banyak.”

Ji-ho menoleh ke arah Su-a.

Gadis itu berdiri di dekat dinding dengan kedua tangan memegang besi pagar, menatap ke arah gunung, dan wajahnya tidak menunjukkan ketakutan.

“Dia sudah lupa,” kata Ji-ho.

Su-a mengangguk.

“Atau,” katanya, “lebih buruk.”

Ji-ho menunggu.

Su-a menoleh, dan matanya menangkap cahaya lentera dengan cara yang tidak pernah dilakukan mata manusia.

“Dia tidak lupa,” katanya. “Dia berhenti mencoba mengingat.”

Ji-ho mencoba memahami perbedaan itu, dan tidak bisa, dan justru ketidakmampuannya itulah yang membuat seluruh tubuhnya menjadi dingin.

Karena lupa adalah kehilangan. Tetapi berhenti mencoba adalah pilihan.

Dan sesuatu yang sudah berhenti mencoba tidak perlu ditahan lagi.

Dari arah gunung, bunyi itu semakin dekat.

Lalu, di atas semua bunyi kaki itu, terdengar bunyi yang lain.

Satu bunyi.

Logam dipukul logam. Bergema panjang, berat, melintasi seluruh lembah.

Bel sekolah.

Bel yang clapper-nya dicabut Kim Dae-hyun sendiri sepuluh tahun yang lalu, digantung di menara air, dan tidak pernah dibunyikan oleh siapa pun sejak itu.

Seratus tiga puluh sembilan orang di halaman membeku bersamaan.

Ji-ho menoleh ke arah menara air.

Tidak ada siapa pun di sana.

“Kenapa dia membunyikan bel,” kata Seung-tae.

Su-a menjawab tanpa menoleh.

“Supaya kita keluar.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk