Pemeriksaan dilakukan pada pagi hari di klinik, setelah Kim Su-a setuju untuk dibawa keluar dari ruang bawah.
Butuh dua jam untuk meyakinkannya, dan yang meyakinkannya bukan Dae-hyun, bukan Ji-ho, melainkan Han Seo-yeon yang berkata, “Kamu tidak harus keluar. Tapi kalau kamu tidak keluar, aku tidak bisa memeriksamu, dan kalau aku tidak bisa memeriksamu, aku tidak akan tahu apa yang salah denganmu. Dan aku tidak suka tidak tahu.”
Su-a menatapnya lama.
Lalu dia berkata, “Aku tidak apa-apa.”
“Itu bukan jawaban atas pertanyaanku.”
“Kamu bertanya apa yang salah. Tidak ada yang salah.”
“Kalau tidak ada yang salah, kenapa kamu tidak mau keluar.”
Su-a tidak menjawab.
Lalu dia bangkit berdiri, dan melangkah keluar dari ruang bawah untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, dengan kaki telanjang di atas beton koridor, dan tidak ada satu pun dari mereka yang berani menyentuhnya untuk membantunya berjalan.
Hasil pemeriksaannya membuat Seo-yeon terdiam selama hampir satu menit.
Suhu tubuh: tiga puluh satu koma dua derajat.
Denyut: dua puluh dua kali per menit.
Refleks cahaya pada mata: ada, normal.
Tidak ada pembusukan. Tidak ada nekrosis. Tidak ada bau.
Giginya utuh, tanpa karang, tanpa lubang, dan yang paling aneh, tanpa tanda-tanda pernah dipakai untuk makan daging apa pun selama sepuluh tahun.
“Kamu makan apa,” tanya Seo-yeon.
“Nasi. Kedelai. Kadang sayur. Air.”
“Berapa banyak.”
“Sedikit.”
“Seberapa sedikit.”
Su-a mengangkat tangan dan menunjukkan dengan ibu jari dan telunjuk: sebesar satu sendok makan.
“Sehari?”
“Tiga hari.”
Seo-yeon menuliskannya, lalu berhenti menulis, lalu menuliskannya lagi karena tangannya tidak mau percaya pada apa yang baru saja ditulisnya.
“Dan kalau kamu tidak makan?”
Su-a menatapnya.
“Lapar,” katanya.
“Dan kalau lapar?”
“Aku mulai mendengar mereka lebih keras.”
Hening di klinik itu.
Ji-ho berdiri di dekat pintu, bersandar di kusen, dan tidak ikut campur, karena ini bukan pertanyaannya dan karena kalau dia ikut campur dia akan mengajukan pertanyaan yang salah.
Seo-yeon memeriksa pergelangan kaki kiri Su-a.
Di sana, di atas tumit, ada bekas luka.
Dua lengkungan. Gigi manusia. Satu di atas, satu di bawah, dengan jarak yang terlalu lebar untuk mulut anak-anak.
Sudah sepuluh tahun. Sudah sembuh sempurna. Tidak ada jaringan parut yang menonjol, tidak ada perubahan warna, hanya dua garis putih tipis yang akan dilewatkan oleh siapa pun yang tidak mencari.
“Gigitan,” kata Seo-yeon.
“Ya.”
“Siapa yang menggigitmu.”
Su-a menoleh ke arah ayahnya.
Dae-hyun, yang berdiri di sudut klinik dengan kedua tangan di saku, mengangguk sekali.
“Hari pertama,” katanya.
Dae-hyun menceritakannya di ruang kosong lantai dua, dengan pintu dikunci, pada siang hari.
Dia menceritakannya tanpa duduk. Dia berdiri di depan jendela seperti orang yang tidak sanggup menatap siapa pun saat mengatakannya.
“Hari pertama, jam sepuluh pagi. Kita masih mengira ini kerusuhan. Kita masih mengira polisi akan datang. Anak-anak dikumpulkan di aula, aku yang mengurus, Kepala Sekolah sudah tidak ada sejak jam delapan.”
“Lalu apa yang masuk,” tanya Ji-ho.
“Bukan gerombolan,” kata Dae-hyun. “Kalau gerombolan, kami semua mati. Yang masuk satu.”
“Satu.”
“Satu. Berjalan dari pintu utama aula, melewati barisan kursi, tidak menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak menyerang siapa pun yang berteriak, tidak menyerang yang lari, tidak menyerang yang memukulnya dengan kursi. Dia berjalan seperti orang yang tahu ke mana dia mau.”
“Ke mana.”
“Ke dua anak.”
Ji-ho menahan napas.
“Su-a duduk di barisan ketiga. Dan di dekat pintu samping ada murid SMA yang membantu mengatur evakuasi, laki-laki, tingkat akhir. Makhluk itu berhenti di depan Su-a lebih dulu. Menunduk. Menggigit tumitnya. Lalu dia berjalan ke murid SMA itu dan menggigit lengannya.”
“Dan setelah itu.”
“Dia berjalan keluar.”
“Selesai?”
“Selesai. Tidak makan. Tidak membunuh. Tidak menoleh lagi. Dia keluar dari aula, menyeberangi lapangan, dan naik ke hutan.”
Ruangan itu diam.
“Waktu itu belum ada yang namanya Alfa,” kata Dae-hyun. “Kata itu baru dipakai Tahun Kedelapan, ketika mereka mulai muncul di mana-mana dan memimpin gerombolan. Tapi yang masuk ke aula hari itu... dia sudah seperti itu sejak hari pertama.”
“Berarti Alfa pertama bukan muncul Tahun Kedelapan.”
“Bukan. Yang muncul Tahun Kedelapan adalah yang kedua dan seterusnya. Yang pertama datang pada hari pertama. Dan dia tidak pernah kembali.”
Ji-ho mencatatnya, karena itulah kebiasaannya, dan karena dia tahu bahwa ini adalah jenis detail yang akan menjadi sangat penting jauh di kemudian hari.
“Lalu apa yang terjadi pada Su-a dan murid SMA itu,” tanya Seo-yeon.
“Mereka tidak berubah,” kata Dae-hyun. “Yang lain tumbang dalam beberapa menit. Mereka berdua tidak. Mereka berdiri. Mereka sadar. Dan mereka bicara.”
“Apa yang mereka katakan.”
“Su-a memanggilku. Ayah. Dan murid SMA itu...” Dae-hyun berhenti. “Murid SMA itu menyebut nama seseorang. Terus-menerus. Satu nama, berulang-ulang, seperti orang yang tidak bisa mengingat hal lain.”
Ji-ho merasakan sesuatu turun di perutnya.
“Nama siapa.”
Dae-hyun menoleh untuk pertama kalinya.
“Tidak penting,” katanya.
“Guru.”
“Tidak penting,” ulang Dae-hyun, dan suaranya tidak naik, tetapi suaranya menjadi sesuatu yang tidak bisa ditembus. “Yang penting adalah apa yang terjadi berikutnya.”
“Apa.”
“Aku membawa Su-a ke ruang bawah. Melalui terowongan servis, karena koridornya sudah penuh. Dan di tangga menuju ruang bawah, dia berhenti, menarik tanganku, dan berkata: Ayah, kunci pintunya.”
Dia menarik napas.
“Dia berumur tujuh tahun. Dan dia tahu apa yang akan dia jadi.”
Hening.
“Dan murid SMA itu?”
“Dia lari.”
“Ke mana.”
“Ke hutan. Mengikuti arah yang sama dengan makhluk yang menggigitnya. Sebelum sempat aku cegah, sebelum sempat siapa pun menyentuhnya, dia sudah melewati lapangan dan masuk ke pepohonan. Aku tidak mengejarnya karena ada delapan puluh anak di belakangku, dan karena aku hanya punya dua tangan.”
Dae-hyun menatap lantai.
“Dan karena, kalau aku jujur, aku tidak mau mengejarnya.”
“Kenapa.”
“Karena kalau aku membawanya kembali, aku harus mengurung dua anak di ruang bawah. Dan kalau aku mengurung dua anak, keberanian anak yang satu akan menular ke yang lain, dan yang satu tidak akan membiarkan aku mengunci pintunya.”
Ji-ho menelan ludah.
“Berapa umur murid SMA itu,” katanya pelan.
Dae-hyun tidak menjawab.
“Guru. Berapa umur.”
“Delapan belas.”
“Tingkat akhir.”
“Ya.”
Ji-ho menutup mata.
Di kepalanya, nama itu sudah terbentuk sejak kata “tingkat akhir” diucapkan, dan dia tidak pernah meragukannya sedetik pun, dan justru ketiadaan keraguan itulah yang membuatnya takut, karena dia sudah belajar bahwa keyakinan yang datang terlalu mudah biasanya bukan keyakinan, melainkan keinginan.
“Guru tahu siapa,” katanya.
“Aku tahu siapa.”
“Dan tidak mau menyebutnya.”
“Tidak mau menyebutnya.”
“Kenapa.”
Dae-hyun menatapnya dengan mata yang sangat lelah.
“Karena kalau aku menyebutnya,” katanya, “kamu akan berhenti berpikir dan mulai mencari. Dan kalau kamu mulai mencari, kamu akan keluar dari tembok. Dan kalau kamu keluar dari tembok dalam keadaan seperti ini, Yoon Ji-ho, kamu tidak akan kembali. Dan sekolah ini akan kehilangan satu-satunya orang yang bisa membaca mereka.”
Ji-ho berdiri.
Dia berjalan ke jendela, berdiri di sana dengan kedua tangan di saku, menatap lembah yang kosong, dan tidak mengucapkan nama itu.
Tidak karena dia tidak tahu.
Tetapi karena kalau dia mengucapkannya, maka itu menjadi nyata, dan begitu menjadi nyata, tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain pergi mencarinya.
Su-a ditemui di klinik pada sore hari, duduk di ranjang dengan kaki yang tidak sampai ke lantai.
Ji-ho menarik kursi dan duduk di depannya.
“Kamu tahu siapa yang di luar itu,” katanya.
“Tahu.”
“Siapa namanya.”
“Dia tidak pernah memberitahuku namanya.”
Ji-ho menunggu.
“Tapi dia pernah menulis sesuatu,” kata Su-a. “Dia tidak bisa melihat apa yang dia tulis, jadi dia mengucapkannya keras-keras sambil menulis. Supaya tidak lupa.”
“Apa yang dia tulis.”
Su-a menatapnya.
“내 동생,” katanya.
Adikku.
Ji-ho tidak bergerak.
Di sakunya, di balik jaket, dua gelang perak itu saling berbunyi pelan, dan dia mendengarnya untuk pertama kalinya, persis seperti yang dikatakan Su-a.
Bunyi logam kecil yang berdenting setiap kali dia melangkah.
Selama sepuluh tahun dia membawa kakaknya di sakunya tanpa pernah mendengarnya.
“Kapan terakhir dia ke sini,” katanya.
“Tadi malam.”
“Jam berapa.”
“Tidak tahu. Tidak ada jam di bawah.”
“Apa yang dia lakukan.”
“Duduk.”
Su-a menunjuk sudut ruang bawah.
“Di situ. Tidak bicara. Tidak makan. Cuma duduk, dan menghitung.”
“Menghitung apa.”
“Hari.”
Ji-ho mencondongkan badan ke depan.
“Di mana dia menghitungnya.”
“Di dinding. Di sebelah gambar matahari.”
“Berapa sekarang.”
Su-a tidak menjawab.
Dia mengangkat tangan kirinya, menunjuk ke arah koridor, ke arah tangga, ke arah ruang bawah.
“Tujuh,” katanya. “Lalu tadi malam dia menambah satu lagi. Cuma setengah.”
Ji-ho menahan napas.
“Setengah.”
“Dia membuat satu goresan penuh, lalu satu goresan pendek. Seperti orang yang tidak yakin apakah dia akan sempat menyelesaikannya.”
Ji-ho berdiri.
Dia berjalan ke pintu, berhenti di ambangnya, menoleh, dan berkata, “Kalau dia sudah selesai menghitung, apa yang terjadi.”
Kim Su-a menatapnya dari atas ranjang dengan mata yang terlalu tua untuk wajahnya.
“Kalau dia sudah selesai,” katanya, “berarti dia tidak ingat lagi apa yang dia hitung.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!