Jatah dipotong sepertiga pada pagi ketiga setelah penguburan.
Dae-hyun mengumumkannya sendiri dari atas meja di halaman, dengan suara yang tidak naik dan tidak turun, dan itulah yang membuatnya lebih menakutkan daripada kalau dia berteriak.
“Kebun kehilangan separuh tanamannya. Gedung utama tidak bisa dipakai malam hari. Dan kita kehilangan dua penjaga, satu petani, dan dua minggu kerja. Hitungannya tidak bisa ditawar.”
Ada yang menggerutu. Seorang ibu yang namanya tidak Ji-ho ingat bertanya apakah mereka bisa mengambil dari cadangan.
“Tidak ada cadangan,” kata Dae-hyun. “Sudah tidak ada sejak Tahun Ketujuh. Yang kalian sebut cadangan itu adalah bagian dari jatah bulan depan, dan aku sudah memakannya.”
Dia tidak menjelaskan lebih lanjut.
Tetapi Ji-ho menghitung.
Seratus tiga puluh sembilan orang, jatah dipotong sepertiga, selama waktu yang tidak ditentukan. Kebun kehilangan separuh tanaman. Gudang kehilangan sebagian isinya karena kebakaran. Dan dua penjaga yang seharusnya mengurus kebun itu sudah mati enam minggu yang lalu.
Enam minggu.
Ji-ho menghitung ulang.
Enam minggu yang lalu kebun itu masih utuh. Enam minggu yang lalu Dae-hyun memasang gembok baru di pintu Ruang Bawah dua bulan lebih cepat dari jadwal. Enam minggu yang lalu terowongan servis didorong dari dalam. Enam minggu yang lalu Dae-hyun keluar dari pintu itu jam tiga pagi membawa sekop.
Dan enam minggu yang lalu, menurut catatan dapur yang dipegang Nenek Park di kepalanya dan tidak pernah dituliskan di mana pun, jatah sudah mulai terasa lebih encer.
Ji-ho berdiri di belakang kerumunan dan tidak mengatakan apa-apa.
Tetapi dia ingat sesuatu yang diucapkan Nenek Park dua minggu lalu, yang tidak dia anggap penting pada saat itu.
“Sup kedelai makin encer,” gerutu nenek itu. “Aku tidak pernah bikin encer. Aku tidak tahu siapa yang mengambil kedelainya.”
Pak Choi mengambil alih kebun pada hari yang sama.
Dia tidak diminta. Dia hanya datang pada jam lima pagi dengan tangan yang masih terbalut perban, mengambil cangkul, dan mulai mencangkul baris pertama dengan cara mengimpit gagangnya di ketiak karena tangannya tidak bisa menggenggam.
Nenek Park memarahinya dari pintu dapur selama sepuluh menit.
Pak Choi tidak menjawab sepatah kata pun.
Pada jam ketujuh dia pingsan. Ha-neul yang menemukannya, berteriak, dan Seo-yeon datang berlari dari klinik dengan Perawat Im di belakangnya yang mengomel lebih keras daripada Nenek Park.
Mereka membaringkan Pak Choi di bawah pohon, dan Pak Choi membuka mata, dan berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar, “Dia yang mengajariku bedeng yang utara. Aku tidak tahu bedeng mana yang harus disiram duluan.”
Maka Ha-neul yang menjawab.
Anak itu berlutut di tanah di sebelahnya dan berkata, “Yang utara disiram duluan. Karena tanahnya lebih tinggi, jadi airnya turun ke bawah. Bu Kang yang bilang.”
Pak Choi menatapnya.
Lalu dia menutup mata, dan Ji-ho melihat bahu pria itu turun satu senti, seolah-olah sesuatu yang menahannya sejak pagi akhirnya lepas.
“Baik,” kata Pak Choi. “Kalau begitu kamu yang pegang urutan siramnya.”
Ha-neul mengangguk dengan sangat serius.
Ji-ho berdiri di balik pohon dan tidak ikut campur. Itu salah satu keputusan yang paling sulit yang pernah dia buat, karena bagian dari dirinya ingin melindungi anak itu dari pekerjaan orang dewasa. Tetapi bagian dirinya yang lain, bagian yang sudah membuatnya tetap hidup selama sepuluh tahun, tahu persis apa yang baru saja terjadi.
Ha-neul kehilangan mobil-mobilannya di sarang plafon. Dan sekarang anak itu punya sesuatu yang lain untuk dipegang.
Bunyi dari koridor bawah dimulai pada malam keempat.
Bukan ketukan. Bukan goresan.
Bunyi itu adalah bunyi banyak kuku yang menyeret beton, datang dari arah yang sama, pada waktu yang sama, dengan ritme yang sama.
Ji-ho turun sendirian, melanggar aturan barunya sendiri, karena dia sudah belajar bahwa kalau dia mengajak seseorang, orang itu bisa mati, dan kalau dia pergi sendirian, hanya dia yang bisa mati.
Dia berhenti di tikungan dengan lentera yang dimatikan.
Cahaya dari lentera dinding yang tersisa cukup untuk melihat.
Di depan pintu baja Ruang Bawah, berbaris lima Penyelinap.
Tidak menyerang pintunya. Tidak menggaruknya. Tidak mencoba masuk.
Berbaris menghadap pintu itu, berjajar rapi dengan jarak yang sama, dalam posisi berlutut.
Berlutut.
Ji-ho menahan napas di tikungan dan menghitung jarak ke tangga: sebelas langkah. Cukup dekat untuk lari kalau mereka menoleh.
Mereka tidak menoleh.
Salah satu dari mereka, yang paling tengah, mengangkat tangan kanannya.
Dan dengan kukunya, dia mulai menggores lantai beton.
Bunyinya membuat gigi Ji-ho ngilu. Kuku di atas beton, berulang-ulang, pelan, sabar, seperti orang yang menulis di atas kertas dengan pena yang hampir habis tintanya.
Butuh waktu hampir sepuluh menit.
Lalu Penyelinap itu menurunkan tangan, dan kelimanya bangkit berdiri bersamaan, berbalik, dan pergi ke arah terowongan plafon tanpa mengeluarkan bunyi.
Ji-ho menunggu lima menit penuh sebelum dia melangkah maju.
Di lantai beton, di depan pintu baja, tergores dua suku kata.
Hangul. Ditulis dengan kuku, dalam, sampai betonnya terkelupas dan kukunya ikut terkoyak, karena di akhir goresan ada noda gelap yang bukan beton.
아빠
Ayah.
Ji-ho memandang dua suku kata itu dan merasakan sesuatu yang sangat dingin naik dari punggungnya ke tengkuknya.
Bukan karena kata itu.
Tetapi karena cara kata itu ditulis. Huruf pertama tegak dan kuat. Huruf kedua melenceng ke kanan dan semakin melebar, seolah-olah tangan yang menulisnya kehilangan kendali di akhir.
Sama seperti catatan berdarah di telapak mayat yang memanggil namanya.
Sama seperti tinta di balik foto di sarang plafon.
Penulisnya sama.
Dae-hyun diturunkan ke koridor bawah pada jam sebelas malam, dan dia turun tanpa bertanya, tanpa marah, dan tanpa membawa siapa pun.
Itu yang membuat Ji-ho tahu bahwa pria itu sudah menduga.
Dae-hyun berdiri di depan pintu baja, menunduk, menatap dua suku kata yang tergores di beton.
Lama sekali dia tidak berkata apa-apa.
Lalu dia berkata, “Siapa.”
Bukan pertanyaan. Bukan seruan.
Itu adalah suara yang dikeluarkan oleh seseorang ketika satu-satunya hal yang dia yakini selama sepuluh tahun baru saja berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa dia pegang.
Ji-ho berdiri tiga meter di belakangnya.
“Guru.”
“Siapa yang mengajarimu kata itu,” kata Dae-hyun.
Suara itu tidak ditujukan kepada Ji-ho.
Dae-hyun berlutut.
Pria berumur lima puluhan yang memerintah seratus tiga puluh sembilan orang dengan tangan besi selama sepuluh tahun, yang tidak pernah tersenyum, yang tidak pernah menjelaskan, yang mengubur rahasianya lebih dalam daripada mayatnya, berlutut di atas beton yang kotor di depan pintu baja, dan meletakkan telapak tangannya di atas goresan itu seolah-olah dia bisa menghapusnya.
“Guru,” ulang Ji-ho.
Dae-hyun tidak mendengarnya.
Lalu dia berkata sesuatu yang tidak bisa dipahami Ji-ho pada saat itu, dan baru akan dia pahami beberapa bab kemudian, tetapi yang dicatatnya kata demi kata karena itulah kebiasaannya.
“Aku sudah membayar,” kata Dae-hyun. “Sepuluh tahun aku sudah membayar.”
Ji-ho melangkah maju.
“Guru. Bangun. Ada yang bisa melihat.”
“Tidak ada yang turun ke sini.”
“Saya turun.”
Dae-hyun menoleh.
Dan untuk kedua kalinya dalam dua minggu, Ji-ho melihat wajah Kim Dae-hyun tanpa topengnya. Yang pertama di lereng utara, ketika pria itu berdiri di depan terowongan yang hancur. Yang kedua sekarang, di bawah cahaya lentera yang hampir mati, di depan pintu yang menjadi seluruh hidupnya.
“Yoon Ji-ho,” kata Dae-hyun. “Ada berapa banyak hal yang kamu simpan sendirian?”
“Saya tidak mengerti.”
“Aku bertanya berapa banyak.”
Ji-ho diam. Lalu dia menjawab dengan jujur, karena dia sudah terlalu lelah untuk berbohong dan karena pria di depannya ini baru saja berlutut di atas beton.
“Empat,” katanya. “Yang pertama, gelang kakak saya. Yang kedua, catatan berdarah di telapak mayat. Yang ketiga, apa yang saya lihat di hutan enam minggu lalu. Yang keempat, bahwa saya sudah bicara dengan sosok di punggung bukit itu malam ini, dengan tangan saya sendiri, dan dia menyuruh saya membunuh lima Penyelinap yang tersisa.”
Dae-hyun menutup mata.
Lalu dia tertawa.
Bukan tertawa lucu. Bukan tertawa gila. Tertawa itu adalah bunyi yang dikeluarkan oleh seseorang yang baru saja menyadari bahwa semua pengorbanannya tidak pernah cukup, dan bahwa dunia ini tidak peduli seberapa mahal harga yang sudah dia bayar.
“Empat,” katanya. “Kamu simpan empat. Aku simpan satu. Dan satunya lebih berat daripada empatmu digabung.”
Dia berdiri.
Tangannya masih bertumpu di pintu baja.
“Kamu tahu apa yang paling lucu, Yoon Ji-ho? Selama sepuluh tahun aku mengajarimu bahwa tidak ada yang boleh menyimpan sesuatu sendirian. Bahwa setiap kali seseorang menyimpan sesuatu sendirian, orang mati.”
“Ya.”
“Dan aku benar. Setiap kali. Tidak pernah meleset.”
Dia menoleh, dan ada sesuatu di matanya yang belum pernah Ji-ho lihat pada siapa pun selama sepuluh tahun.
Bukan ketakutan. Bukan keputusasaan.
Penyerahan.
“Maka sekarang giliranku membayarnya,” kata Dae-hyun. “Karena aku yang paling lama menyimpannya sendirian.”
Ji-ho menunggu.
Malam itu sangat sunyi, dan dari balik pintu baja, untuk pertama kalinya sejak dia berdiri di koridor ini, tidak ada bunyi apa pun. Tidak ada napas. Tidak ada ketukan. Tidak ada goresan.
Semuanya diam, seolah-olah seluruh gedung sedang mendengarkan.
Dae-hyun membuka mulut.
Dan dia mengucapkan enam kata.
“Aku punya anak perempuan.”
Ji-ho tidak bergerak.
Di depannya, Kim Dae-hyun berdiri dengan telapak tangan menempel di baja, menatap dua suku kata yang tergores di lantai beton oleh kuku makhluk yang seharusnya tidak bisa menulis.
아빠
Ayah.
“Dia berumur tujuh tahun waktu itu,” kata Dae-hyun. Suaranya datar, tanpa nada, seperti orang yang sedang membacakan daftar nama. “Sekelas denganmu. Sebelum hari itu, dia tidak pernah menyebutku apa pun selain Ayah. Dan pada hari itu dia menyebutku untuk yang terakhir kalinya.”
Ji-ho menelan ludah.
“Di mana dia sekarang,” katanya.
Dae-hyun tidak menjawab.
Dia hanya menunduk, menatap lantai, menatap dua suku kata yang masih basah oleh darah kuku itu, dan membiarkan pertanyaan itu tinggal di udara tanpa dijawab.
Di belakang mereka, dari arah terowongan plafon, terdengar bunyi kuku yang menyeret beton.
Lima pasang.
Kembali.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!