Aula dipilih bukan karena paling kuat, melainkan karena paling sedikit pintu.
Dua pintu. Enam jendela di ketinggian empat meter yang sudah dilas sejak Tahun Kedua. Atap beton tanpa ruang plafon yang bisa dimasuki. Dan lantai miring ke arah panggung, yang membuat siapa pun yang berdiri di pintu bisa melihat seluruh ruangan.
Seratus tiga puluh sembilan orang dipindahkan ke sana sebelum matahari terbenam.
Prosesnya memakan waktu dua jam dan menghasilkan kekacauan yang tertib. Kasur lipat, karung tidur, selimut, panci, ember, dan dua karung beras yang dipikul berempat. Anak-anak kecil ditidurkan di barisan depan dekat panggung. Orang tua di tengah. Yang bisa memegang senjata di barisan belakang, dekat pintu.
Nenek Park mengatur penempatan dengan sendok kayu, memukul bahu siapa pun yang berdiri di tempat yang menurutnya salah.
“Kamu tidak bisa tidur di dekat pintu, kamu mendengkur. Pindah.”
“Nenek, ini tempatku dari kemarin...”
“Kemarin tidak ada Penyelinap di plafon. Pindah.”
Pada jam delapan malam pintu dikunci dari dalam dengan balok kayu, dan aula itu menjadi satu-satunya ruangan di seluruh Guryong yang berisi lebih dari seratus orang yang bernapas pada saat yang sama.
Ji-ho berdiri di dekat pintu timur dan menghitung pintu, jendela, ventilasi, dan orang.
Lalu dia mendongak.
Langit-langit aula itu tinggi. Tujuh meter di titik tertinggi, dengan balok beton yang melintang dan empat lampu minyak yang digantung pada kawat.
Tidak ada ruang plafon. Itulah alasan mereka memilih tempat ini.
Tetapi ada baloknya.
Dan balok itu cukup lebar untuk sesuatu yang bisa memanjat.
Malam turun tanpa bulan.
Ji-ho tidak tidur. Dia jarang tidur, dan malam ini alasannya bukan kebiasaan.
Pada jam sebelas, dia melihat yang pertama.
Bergerak di sepanjang balok melintang yang ketiga, dari arah barat, dengan kecepatan rendah dan gerakan yang tidak pernah membuat balok itu bergetar. Seperti laba-laba yang sudah belajar cara tidak mengganggu air di jaringnya sendiri.
Ji-ho tidak mengangkat senjata. Dia hanya menghitung.
Satu.
Yang kedua muncul dari sisi timur pada jam sebelas lewat dua puluh menit.
Dua.
Yang ketiga dan keempat bersamaan, di balok yang paling dekat dengan pintu.
Tiga. Empat.
Pada jam dua belas malam, ada delapan di atas mereka.
Ji-ho menghitungnya dua kali, lalu tiga kali, karena jumlahnya tidak masuk akal.
Delapan.
Padahal kemarin tinggal lima. Dan mereka sudah membunuh tiga.
Tiga yang dibunuh, tiga yang datang.
Jumlahnya tidak pernah berkurang.
Ji-ho menurunkan pandangan, menatap lantai miring aula yang penuh manusia yang tertidur, dan merasakan sesuatu yang lebih dingin daripada semua yang pernah dia rasakan di gedung ini.
Mereka tidak sedang diserang.
Mereka sedang ditahan.
Delapan Penyelinap di atas balok tidak mencoba turun. Tidak mencoba mendekat. Mereka hanya berada di sana, diam, menggantung di kegelapan, menutup semua jalur keluar tanpa menyentuh siapa pun.
Kalau seratus tiga puluh sembilan orang ini panik dan berlari ke pintu, mereka akan mati.
Maka delapan makhluk di atas tidak perlu melakukan apa-apa selain ada.
Itu bukan perburuan.
Itu pengurungan.
Dan pertanyaan yang membuat Ji-ho tidak bisa bernapas adalah: dikurung untuk apa?
Pada jam satu pagi, seorang anak kecil menangis.
Bukan tangis keras. Tangis yang tertahan, basah, dari mulut yang ditutup tangan ibunya, dan itu jauh lebih buruk, karena bunyi yang tertahan adalah bunyi yang membuat semua orang yang mendengarnya membayangkan hal yang lebih buruk dari kenyataannya.
Nenek Park bangun.
Ji-ho melihatnya dari seberang ruangan: perempuan tua itu berjalan melewati barisan orang yang tidur tanpa membawa lampu, tanpa membunyikan apa pun, menemukan anak itu dalam gelap, dan duduk di sebelahnya.
Dia tidak mengatakan “diam”. Dia tidak mengatakan “jangan menangis”.
Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya, menyerahkannya kepada anak itu, dan berbisik terlalu pelan untuk terdengar.
Tangis itu berhenti dalam waktu kurang dari tiga puluh detik.
Ji-ho tidak tahu apa yang diberikannya, dan dia tidak akan pernah tahu, karena Nenek Park tidak pernah memberitahu siapa pun, dan karena itu adalah jenis kebaikan yang tidak pernah dijelaskan oleh orang yang melakukannya.
Tetapi dia mencatatnya.
Karena itulah yang selalu dia lakukan, dan karena dia tahu bahwa sekolah ini tidak bertahan karena temboknya.
Pada jam dua, Seo-yeon duduk di sebelahnya.
Dia datang tanpa bunyi, membawa kotak perban kecil, dan tidak meminta izin. Dia hanya mengambil lengan kiri Ji-ho, meletakkannya di pangkuannya sendiri, dan mulai membuka balutannya.
“Perbanmu basah,” katanya.
“Saya tidak sempat.”
“Kamu tidak pernah sempat.”
Dia membersihkan lukanya dengan gerakan yang dia tahu akan menyakitkan, dan Ji-ho tidak mengeluarkan suara, dan Seo-yeon tidak meminta maaf, karena meminta maaf untuk sesuatu yang harus dilakukan adalah cara lain untuk mengatakan bahwa dia menyesal telah menyentuhnya.
“Sudah semburan,” katanya. “Tiga hari lagi sembuh.”
“Bagus.”
“Aku tidak selesai.”
Dia membalutnya lagi, mengikat simpulnya, lalu tidak melepaskan lengan itu.
“Ji-ho,” katanya. “Berapa lama lagi kamu akan terus begini.”
“Begini bagaimana.”
“Tidak tidur. Tidak makan teratur. Menyimpan empat hal yang tidak kamu ceritakan kepada siapa pun. Dan tersenyum kepada Ha-neul seolah-olah kamu tidak baru saja melihat mayat yang dibaringkan dengan rapi di ruang plafon.”
Ji-ho menatap ke arah panggung.
“Aku tidak punya rencana,” katanya.
“Aku tahu.”
“Rencananya adalah besok.”
“Dan besoknya?”
“Besok lagi.”
Seo-yeon menarik napas pelan.
“Aku tidak minta kamu berhenti,” katanya. “Aku tahu kamu tidak akan berhenti, dan aku tidak mau kamu berhenti, karena kalau kamu berhenti, separuh orang di ruangan ini mati dalam seminggu.”
Dia melepaskan lengan Ji-ho.
“Yang aku minta cuma satu.”
“Apa.”
“Kasih tahu aku kalau kamu sudah selesai.”
“Selesai apa.”
“Selesai menjadi orang yang harus menyelamatkan semua orang sendirian.”
Ji-ho menoleh.
Wajahnya berada tiga puluh senti dari wajah Seo-yeon, dan cahaya dari lampu minyak yang paling jauh tidak sampai ke sudut ini, jadi dia hanya bisa melihat garis rahangnya dan bayangan matanya.
“Aku tidak tahu caranya,” katanya.
“Tidak ada yang tahu caranya,” kata Seo-yeon. “Makanya aku bilang kasih tahu aku, bukan berhenti.”
Lalu dia berdiri dan kembali ke barisan depan, ke tempat anak-anak tidur, dan tidak menoleh sekali pun.
Ji-ho duduk di sana selama lama sekali, dengan punggung menempel dinding, menatap delapan bayangan di atas balok beton, dan merasakan sesuatu di dadanya yang tidak punya nama dan tidak ingin dia beri nama.
Pada jam tiga, Ji-ho pergi.
Dia menyuruh Min-jae ikut karena aturan baru, dan dia memilih Min-jae karena Min-jae tidak akan bertanya alasan sebelum mereka bergerak.
Mereka keluar lewat jendela ventilasi di belakang panggung, selebar empat puluh senti, yang sudah tidak dipakai sejak Tahun Keempat karena kawatnya berkarat.
Ji-ho memotong kawatnya malam itu juga, diam-diam, tanpa memberitahu siapa pun. Itu adalah persiapan yang tidak dia laporkan, dan itu menjadi rahasia kelimanya.
Mereka merangkak keluar, turun ke selokan, berlari menyusur sisi timur gedung utama, masuk lewat pintu gudang yang tidak dijaga karena semua penjaga ada di aula.
Koridor bawah gelap total.
Ji-ho menyalakan lentera dengan sumbu setinggi satu milimeter.
Mereka berjalan dua puluh langkah.
Dan berhenti.
Pintu baja Ruang Bawah terbuka.
Tidak setengah. Tidak selebar jari.
Terbuka penuh, terdorong ke dinding, dan gemboknya tergantung terbuka di besi, tidak dipaksa, diputar dengan kunci.
Min-jae mengeluarkan bunyi di tenggorokannya.
“Ji-ho...”
“Sst.”
Ji-ho mengangkat lentera.
Koridor di depan pintu itu bersih.
Bukan bersih karena tidak dipakai. Bersih karena disapu.
Debu yang biasanya menumpuk di sepanjang dinding tersapu ke satu sisi, membentuk gundukan kecil yang rapi di sudut, dengan pola sapuan yang melengkung ke arah yang sama.
Sesuatu menyapu koridor ini.
Sesuatu yang tahu caranya menyapu.
Lalu Ji-ho melihatnya.
Di dinding, setinggi tujuh puluh senti dari lantai, ada bekas telapak tangan di debu yang menempel di tembok.
Kecil.
Bukan tangan anak laki-laki berumur tujuh belas. Bukan tangan orang dewasa.
Tangan anak-anak.
Dengan jari manis yang lebih pendek dari seharusnya.
Ji-ho menurunkan lentera perlahan, dan tangannya tidak gemetar, dan justru itu yang membuat Min-jae mundur satu langkah.
“Ji-ho,” bisik Min-jae. “Ayo pergi. Sekarang.”
“Sebentar.”
“Tidak ada sebentar. Pintunya terbuka, Ji-ho. Pintu itu tidak pernah terbuka.”
Ji-ho melangkah maju.
Satu langkah. Dua langkah.
Dia berhenti di ambang pintu, mengangkat lentera setinggi bahu, dan membiarkan cahaya itu masuk ke dalam Ruang Bawah sejauh yang bisa dicapainya.
Cahaya itu menempuh dua meter dan berhenti.
Selebihnya adalah kegelapan yang tidak memantulkan apa pun. Bukan gelap karena jauh. Gelap karena sesuatu di dalam sana menyerap cahaya itu, atau karena ruang itu lebih dalam daripada seluruh lantai dasar gedung ini.
Bau keluar dari sana.
Bukan bau bangkai. Tanah basah. Kapur. Dan sesuatu yang sangat lembut, seperti bau kain yang sudah terlalu lama disimpan.
Ji-ho mengangkat lentera lebih tinggi.
“Siapa di sana,” katanya.
Tidak ada jawaban.
Lalu, dari dalam kegelapan itu, terdengar suara.
Suara perempuan muda. Jernih. Tenang. Sabar. Dan sangat, sangat pelan, seolah-olah dia sedang berbicara dari jauh, atau seolah-olah dia sedang berbicara tanpa bernapas.
“Kamu yang punya gelang itu, ya.”
Ji-ho tidak bisa bergerak.
Di sebelahnya, Min-jae menjatuhkan kapaknya.
Bunyi besi di atas beton itu menggema di seluruh koridor bawah.
Dan dari dalam gelap, suara itu berkata lagi.
“Yang kecil. Yang dikembalikan ke kamu.”
Lalu, setelah jeda yang panjang:
“Yang besar masih dia pakai.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!