“Kalian telat,” kata suara itu dari dalam celah.
Ji-ho tidak menjawab. Dia merangkak mundur dari mulut celah itu dengan lentera masih terarah ke bawah, dan tidak memalingkan wajah sampai Min-jae menyeretnya keluar dari panel akses.
“Ji-ho! Apa...”
“Turun,” kata Ji-ho. “Sekarang.”
Mereka turun. Min-jae memapahnya karena lututnya tidak mau menahan berat badannya sendiri, dan Seung-tae menutup panel akses dari belakang dengan tiga paku yang dipukul terburu-buru.
Di koridor lantai tiga, bertiga, Ji-ho berkata, “Ruang plafon itu tidak berhenti di ujung gedung. Dia turun. Mengikuti pipa. Sampai ke koridor bawah.”
“Ke pintu itu,” kata Seung-tae.
“Ke pintu itu.”
Seung-tae tidak bertanya bagaimana dia tahu. Dia hanya mengangkat senapan, memeriksa selongsong, dan berkata, “Berapa banyak yang bisa masuk lewat sana.”
“Lebarnya satu setengah meter, tingginya sembilan puluh senti. Penyelinap bisa. Pelari bisa. Penyeret tidak, terlalu kaku.”
“Jadi tidak ada yang namanya lantai aman lagi.”
“Tidak ada.”
Mantan tentara itu mengangguk sekali, seolah-olah seseorang baru saja mengonfirmasi sesuatu yang sudah dia duga sejak lama.
“Kalau begitu,” katanya, “gedung ini tidak bisa dipertahankan.”
“Gedung ini tidak pernah bisa dipertahankan,” kata Ji-ho. “Kita cuma berpura-pura selama sepuluh tahun karena yang di luar tidak pernah mencoba.”
Fajar datang tanpa matahari.
Bu Kang dikubur pada jam delapan pagi di lereng timur, di tanah yang tidak pernah dipakai karena terlalu berbatu.
Tidak ada upacara. Dae-hyun tidak mengizinkan waktu untuk itu, dan mungkin dia benar. Tetapi Ji-ho mencatat siapa yang datang, karena itulah kebiasaannya dan karena mencatat adalah satu-satunya cara yang ia tahu untuk menghormati sesuatu: tiga puluh satu orang. Sepertiga dari mereka datang hanya karena tidak tahu harus berada di mana lagi.
Pak Choi datang dengan kedua tangan terbalut perban, berdiri paling depan, dan tidak menangis. Nenek Park datang membawa satu mangkuk nasi yang diletakkannya di atas tanah di sebelah liang, lalu mengomel pelan tentang anak muda yang tidak bisa menjaga diri.
Ha-neul datang dengan mobil-mobilan kayu di saku, menggenggamnya sepanjang waktu, tidak pernah mengeluarkannya.
Seung-tae yang menggali.
Dia menolak bantuan siapa pun. Dia menggali selama satu setengah jam tanpa berhenti, tanpa melepas jaket, tanpa minum, dan tidak ada satu pun orang yang berani mendekat karena wajahnya adalah wajah yang tidak bisa diajak bicara.
Ji-ho berdiri di belakang dan mengerti apa yang sedang terjadi.
Seung-tae tidak sedang menggali kubur. Dia sedang membayar.
Bu Kang seharusnya tidak mati. Penyelinap itu masuk karena ada yang membiarkannya masuk, dan Seung-tae adalah kepala jaga. Fakta bahwa dia juga orang yang menarik pelatuknya, yang mencegah Bu Kang bangkit, tidak menghapus fakta yang pertama. Itu hanya menambah yang kedua.
Ji-ho menghargainya. Itu salah satu dari sedikit hal di dunia ini yang masih bisa dihargai: orang yang membayar hutangnya tanpa pernah mengakui bahwa dia punya hutang.
Ketika tanah terakhir dipadatkan, Seung-tae menancapkan sekopnya, berdiri tegak, dan berkata kepada tidak seorang pun khusus, “Aku akan ganti giliran jaga malam ini. Dan besok. Dan besoknya.”
“Kamu tidak tidur tiga hari,” kata Min-jae.
“Aku akan tidur setelah mereka tidak ada lagi.”
Pemeriksaan mayat Penyelinap dilakukan di ruang gudang yang dikosongkan, dengan pintu dikunci dari luar.
Ji-ho, Seo-yeon, dan Seung-tae.
Penyelinap pertama itu terbaring di atas meja dengan kepala yang hancur separuh oleh peluru Seung-tae.
Ji-ho memeriksanya tanpa perasaan apa pun, karena itulah satu-satunya cara yang dia tahu untuk melakukan hal seperti ini.
Tinggi seratus tujuh puluh senti. Berat mungkin lima puluh kilo. Jari-jari tangan memanjang, kuku hitam, ujungnya aus sampai ke daging, seperti kuku sesuatu yang sudah terlalu lama memanjat beton.
Kulit kelabu. Tidak membusuk.
“Aturan nomor tiga,” kata Ji-ho. “Penyelinap itu nokturnal.”
“Aturan nomor tiga salah,” kata Seung-tae. “Dia membunuh Bu Kang jam sepuluh pagi.”
“Dan dia ada di plafon klinik siang bolong.”
“Lalu kenapa kita masih memakai aturan itu?”
“Karena sisanya benar. Menunggu. Memanjat. Mengincar yang sendirian. Belajar dari kegagalan.” Ji-ho membalik tangan mayat itu. “Dan yang ini lebih penting dari semuanya: dia tidak menyerang duluan. Dia menunggu Bu Kang lengah. Itu yang kita pegang.”
Seo-yeon membuka mulut mayat itu dengan gagang sendok.
“Giginya,” katanya.
Ji-ho mencondongkan badan.
Gigi gerahamnya rata. Aus. Dan di antara gigi depan ada sisa serat yang tidak bisa dikenalinya.
“Bukan daging,” kata Seo-yeon. “Kayu. Atau kertas.”
“Dia memakan barang di sarangnya?”
“Atau dia memakan apa pun yang ada di dekatnya saat dia menunggu. Penyelinap menunggu berminggu-minggu, Ji-ho. Dia harus makan sesuatu.”
Ji-ho mengangguk, lalu memeriksa leher mayat itu.
Dan berhenti.
“Seung-tae,” katanya. “Lihat ini.”
Di leher sebelah kanan, di bawah rahang, ada satu luka.
Tepinya rapi. Dalam. Presisi. Dan di sekelilingnya ada jaringan parut.
“Sudah sembuh,” kata Seo-yeon, sudah di sebelahnya.
“Sama seperti Baek Seung-ho,” kata Ji-ho. “Sama seperti mayat yang memanggil namaku di balik pagar.”
Seung-tae menatap luka itu lama sekali.
“Berapa umur parutnya.”
Seo-yeon menekannya dengan dua jari. “Berminggu-minggu. Enam. Mungkin tujuh.”
Enam minggu.
Hening di gudang itu.
“Jadi begini,” kata Seung-tae perlahan. “Sesuatu membunuh mereka semua enam minggu yang lalu. Guru Baek. Yang di balik pagar. Dan Penyelinap ini. Lalu mereka bangkit kembali. Dan sekarang mereka bekerja untuk apa pun yang membunuh mereka.”
“Kurang lebih begitu,” kata Ji-ho.
“Bukan kurang lebih. Itu atau tidak sama sekali.”
“Kalau begitu iya.”
Seung-tae meletakkan senapannya di meja, dan itu pertama kalinya Ji-ho melihat pria itu meletakkan senjatanya dalam keadaan tidak terkunci.
“Berapa banyak yang seperti ini di luar sana,” katanya.
Ji-ho tidak menjawab.
Karena jawabannya ada di ujung lidahnya dan dia tidak sanggup mengucapkannya: semua. Semua yang ada di lembah itu mungkin sudah mati sekali, enam minggu yang lalu, dan dibangkitkan oleh sesuatu yang tahu caranya.
Pemburuan dimulai pada sore hari.
Ji-ho tidak menggunakan senjata api. Dia menggunakan tiga hal yang sudah dia pelajari selama sepuluh tahun dan satu hal yang baru dia pelajari kemarin.
Pertama: Penyelinap menunggu kelengahan. Maka kelengahan itu harus dipalsukan.
Kedua: Penyelinap mengincar yang sendirian. Maka yang sendirian harus dijadikan umpan.
Ketiga: Penyelinap belajar dari kegagalan. Maka perangkap tidak boleh diulang dua kali dengan bentuk yang sama.
Keempat, yang baru: Penyelinap yang satu ini mematuhi sesuatu. Maka kalau ada sesuatu yang memerintahkan mereka menjauh dari sekolah, sesuatu itu juga bisa memerintahkan mereka mendekat ke satu titik.
Ji-ho memilih ruang kelas 3-C di ujung koridor lantai tiga, yang jendelanya menghadap ke utara, yang tidak dipakai sejak Tahun Kelima.
Dia memasang jebakan dengan cara yang diajarkan kepadanya oleh seorang pria bernama Cho ketika dia masih dua belas tahun: kawat yang direntangkan setinggi lutut, terhubung ke kaleng berisi batu. Bunyinya tidak keras, tetapi bunyinya salah, dan yang paling penting, bunyinya datang dari arah yang tidak terduga.
Yang menjadi umpan adalah Ji-ho sendiri. Duduk sendirian di tengah ruang kelas, membaca buku, dengan lampu minyak yang sengaja dibiarkan terang.
Seung-tae di plafon. Min-jae di koridor. Dua orang lagi di tangga.
Mereka menunggu empat jam.
Pada jam ketiga, kaleng berbunyi.
Penyelinap itu masuk dari jendela, bukan dari plafon, dan dia tidak langsung menyerang. Dia berdiri di ambang jendela selama hampir dua menit, menelengkan kepala, mengamati Ji-ho yang tidak mendongak dari bukunya.
Menunggu.
Ji-ho membalik halaman.
Itu bagian yang paling sulit: membalik halaman dengan tangan yang tidak gemetar, pada saat sesuatu sedang memutuskan apakah kamu akan mati.
Penyelinap itu melangkah maju.
Tiga langkah.
Lalu, dari arah plafon, bunyi besi.
Seung-tae menjatuhkan diri lebih dulu, menembak dari jarak dua meter, dan Penyelinap itu roboh dengan kepala hancur.
Yang kedua datang dari arah yang tidak mereka duga: dari lemari di sudut ruang kelas, tempat papan tulis cadangan disimpan.
Min-jae memukulnya dengan kapak sebelum Ji-ho sempat berdiri.
Dan yang ketiga tidak datang sama sekali.
Mereka menunggu sampai fajar dan yang ketiga tidak pernah muncul.
Pencarian dua penjaga kebun yang hilang dilakukan pada hari berikutnya, karena setelah mereka menghitung, ada satu hal yang tidak bisa dijelaskan: gerbang kebun dibuka dua kali, tetapi tidak ada mayat di kebun, tidak ada mayat di halaman, dan tidak ada jejak yang keluar dari pagar.
Dua orang tidak bisa menghilang dari tempat seluas itu tanpa meninggalkan sesuatu.
Mereka menemukannya di ruang plafon sayap barat, di atas ruang gudang lantai satu.
Berbaring berdampingan.
Bukan terseret. Bukan terlempar. Dibaringkan berdampingan dengan tangan dilipat di dada, sepatu dijajarkan, wajah menghadap ke atas.
Persis seperti Baek Seung-ho.
Min-jae muntah lagi.
Ji-ho berjongkok di sebelah mereka dan memeriksa leher yang sama, luka yang sama, jaringan parut yang sama.
Enam minggu.
Dan dia mengerti sesuatu yang membuat seluruh pemburuan itu terasa seperti lelucon yang kejam.
Kedua penjaga itu tidak dibunuh oleh Penyelinap.
Mereka dibunuh oleh hal yang sama yang membunuh Penyelinap itu.
Dan hal itu membaringkan mereka dengan hormat.
Senja. Tembok Utara.
Ji-ho naik ke atas tanpa izin untuk ketiga kalinya dalam empat hari, dan kali ini Seung-tae tidak menyuruhnya turun. Pria itu hanya mengangguk dari menara, lalu kembali mengamati lembah.
Ji-ho berdiri di tepi tembok, menatap punggung bukit.
Sosok itu muncul pada menit kelima.
Berdiri di titik yang sama seperti sebelumnya, tidak bersembunyi, tidak bergerak.
Ji-ho mengangkat tangan kirinya.
Dia ragu sebentar. Lalu dia mengangkat lima jari.
Lima Penyelinap tersisa, menurut hitungannya: delapan turun dari gunung, tiga sudah mati, satu tidak pernah muncul, dan empat yang belum dia temukan. Lima, kalau yang tidak muncul itu dihitung.
Sosok itu melihatnya.
Lalu mengangkat tangannya sendiri.
Lima jari.
Ji-ho menahan napas.
Sosok itu menutup jarinya satu per satu. Lima. Empat. Tiga. Dua. Satu.
Lalu menggenggamnya menjadi tinju.
Dan mengangkat tinju itu ke arah leher sendiri, menyilangkannya sekali, dari kiri ke kanan.
Ji-ho menelan ludah.
Itu bukan ancaman. Kalau itu ancaman, gerakannya akan diarahkan ke Ji-ho.
Gerakan itu diarahkan ke dirinya sendiri.
Artinya: bunuh. Semuanya.
Sosok itu menurunkan tangan. Lalu menelapakkan kedua tangan ke depan, terbuka, tidak bersenjata, dan menunggu.
Menunggu jawaban.
Ji-ho mengangkat tangannya lagi. Lima jari.
Lalu dia menggenggamnya menjadi tinju, dan menyilangkan tinjunya di lehernya sendiri.
Mengangguk.
Sosok di punggung bukit itu membalas anggukan itu.
Satu gerakan. Pendek. Tidak lebih dari yang dilakukan oleh dua orang yang baru saja menyepakati sesuatu yang tidak ingin didengar oleh siapa pun.
Ji-ho menurunkan tangan, dan tangannya gemetar untuk pertama kalinya hari itu.
Bukan karena dia baru saja bersekutu dengan mayat hidup.
Tetapi karena dia baru saja menyadari bahwa makhluk di punggung bukit itu tidak meminta apa pun sebagai imbalan.
Dan di dunia ini, tidak ada yang memberi tanpa harga.
Kecuali sesuatu yang tidak punya apa-apa lagi untuk diminta.
Di atas kepalanya, dari ventilasi pos jaga yang selama ini dia kira terlalu sempit untuk apa pun, sesuatu menetes ke punggung tangannya.
Bukan air hujan.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!