Nama Itu

5 dibaca

A

Tiga hari berlalu tanpa apa pun yang bisa disebut kejadian.

Itu, bagi Ji-ho, adalah bagian yang paling mengkhawatirkan.

Dunia luar tidak pernah memberikan tenggang waktu. Gerombolan yang kemarin duduk di lembah seharusnya bangkit, menyebar, menabrak pagar, atau setidaknya kembali menjadi kekacauan. Tetapi mereka tidak melakukan apa-apa. Barisan itu bertahan selama tiga malam, duduk, menghadap utara, diam. Pada malam keempat mereka tidak ada sama sekali.

Lenyap tanpa sisa. Tanpa bangkai. Tanpa jejak seretan.

“Mungkin mereka pergi,” kata Min-jae sambil mengunyah roti kering. “Bagus, kan?”

“Mereka tidak pergi,” kata Ji-ho.

“Kamu lihat sendiri mereka hilang.”

“Yang pergi meninggalkan jejak. Tiga ratus ekor tidak bisa hilang tanpa jejak. Mereka bersembunyi.”

“Di mana?”

Ji-ho tidak menjawab, karena dia tidak tahu, dan karena tidak tahu adalah jawaban yang tidak bisa diterima oleh siapa pun di Guryong.

Hari ketiga juga membawa satu berita kecil yang tidak dianggap berita oleh siapa pun kecuali Ji-ho: Nenek Park kehilangan satu panci.

Bukan panci yang dicuri. Panci yang dipindahkan. Dari gantungan di dapur ke atas meja di sudut ruang makan, dalam keadaan bersih, terbalik, dengan posisi yang terlalu rapi.

“Kamu yang taruh?” tanya Nenek Park kepada semua orang.

Tidak ada yang menaruhnya.

“Berarti aku yang menaruhnya sambil tidur,” gerutu nenek itu. “Aku sudah pikun. Besok-besok kalau aku tersesat, jangan dicari.”

Tertawa kecil. Lalu semua orang lupa.

Ji-ho tidak lupa. Dia menghitung jarak dari gantungan ke meja itu: sebelas langkah, melewati dua pintu. Dan dia mencatat satu hal yang tidak dicatat orang lain. Panci itu berat. Nenek Park tidak sanggup mengangkatnya dengan satu tangan lagi sejak Tahun Ketujuh.


Malam itu giliran jaga jatuh pada Ji-ho dan Min-jae.

Min-jae tidak suka giliran jaga. Dia menghabiskan dua jam pertama dengan mengeluh tentang segala hal: tentang jatah nasi yang makin sedikit, tentang Seung-tae yang tidak pernah tersenyum, tentang cuaca, tentang sepatunya yang solnya mulai terkelupas di sebelah kiri.

“Kamu tahu apa yang paling aku rindukan,” katanya, “bukan listrik, bukan internet, bukan ayam goreng. Yang paling aku rindukan adalah tidak tahu kapan aku akan mati. Dulu aku tidak tahu. Itu enak. Sekarang aku tahu persis: kalau ada bunyi aneh, aku mati dalam empat puluh detik.”

“Tiga puluh,” kata Ji-ho.

“Terima kasih, itu sangat membantu.”

Lentera di menara menyala pelan. Seung-tae sudah turun sejak jam sepuluh, digantikan oleh dua penjaga yang lebih tua, Pak Choi dan Bu Kang. Dari tempat Ji-ho berdiri di atas tembok, dia bisa melihat punggung Pak Choi yang membungkuk, dan asap rokok lilinnya yang naik lurus karena udara malam tidak bergerak sama sekali.

Jam dua lewat sedikit, Min-jae berhenti bicara.

Bukan karena dia mengantuk. Karena dari balik pagar, di luar batas cahaya lentera, ada bunyi.

Bunyi langkah.

Satu pasang kaki. Pelan. Tidak terseret.

“Bunyi apa itu,” bisik Min-jae.

Ji-ho mengangkat tangan.

Langkah itu berhenti. Lalu mulai lagi. Mendekat. Konsisten. Tidak pernah lebih cepat, tidak pernah lebih lambat, dan yang paling mengganggu: tidak pernah salah langkah.

Penyeret tersandung. Penyeret menabrak. Penyeret jatuh dan bangun dengan bunyi basah.

Ini tidak.

“Ini bukan Penyeret,” bisik Min-jae.

“Bukan.”

“Pelari?”

“Pelari tidak berjalan.”

Mereka berdua berdiri di atas tembok dengan punggung menempel beton, dan Ji-ho menyadari tangannya sudah berada di gagang pisau tanpa dia ingat kapan tangannya berpindah ke sana.

Sosok itu keluar dari gelap.

Laki-laki. Tinggi sedang. Pakaiannya masih utuh, yang sudah jarang terjadi setelah sepuluh tahun. Jaket kerja berwarna gelap, celana panjang, sepatu karet. Kulit wajahnya kelabu kebiruan, bibirnya hitam, dan di leher sebelah kanan ada luka robek yang sudah mengering menjadi lubang sebesar ibu jari. Tetapi dia berdiri tegak. Bahunya tidak membungkuk. Keempat anggota tubuhnya bergerak dengan koordinasi yang tidak pernah dimiliki Penyeret.

Dia berhenti tujuh meter dari pagar.

Di titik yang persis sama dengan tempat Pelari di apotek berhenti di depan Ji-ho.

“Ji-ho,” bisik Min-jae. “Itu... dia berdiri seperti orang.”

“Diam.”

Sosok itu mendongak.

Tidak menatap ke arah gerbang. Tidak menatap ke arah menara. Tidak menatap ke arah lentera yang terang, yang seharusnya menjadi hal pertama yang menarik perhatian makhluk yang mengejar cahaya.

Dia menatap lurus ke atas tembok.

Ke wajah Ji-ho.

Lalu dia membuka mulut.

Dan dia berbicara.

Suara itu tidak seperti apa pun yang pernah Ji-ho dengar. Bukan raungan. Bukan geraman. Suara itu adalah suara manusia yang dipaksa keluar dari tenggorokan yang sudah lama tidak dipakai, setiap suku katanya dibentuk dengan susah payah, basah, bergetar, seperti orang yang mencoba berbicara dengan mulut penuh air.

Dua suku kata pertama tidak jelas.

Yang ketiga jelas.

“Ji...ho...ya.”

Min-jae mengeluarkan bunyi di tenggorokannya seperti orang yang mau muntah.

Ji-ho tidak bergerak.

Pak Choi di menara tidak mendengar apa pun. Dia sedang membelakangi mereka, menyalakan rokok lilin kedua.

Sosok itu menunggu.

Tiga detak jantung. Lima.

Lalu dia berbicara lagi.

“Kamu... bilang... tunggu.”

Udara di atas tembok itu berubah menjadi sesuatu yang padat.

Ji-ho merasakan telapak tangannya basah. Dia merasakan lututnya mengunci. Dia merasakan sesuatu yang selama sepuluh tahun dia simpan di bawah lapisan paling dalam dari dirinya, sesuatu yang dia bungkus dengan rutinitas dan kewaspadaan dan humor kering, retak dari dalam seperti kaca yang tidak pecah tapi tidak utuh.

Karena tidak ada satu pun orang di dunia ini yang tahu janji itu.

Tidak Dae-hyun. Tidak Seo-yeon. Tidak Min-jae, yang sudah berteman dengannya sejak mereka berdua berumur enam tahun dan tidak pernah mendengar sepatah kata pun tentang hal itu.

Janji itu diucapkan di tangga darurat gedung SMA, sepuluh tahun lalu, oleh seorang anak laki-laki berumur tujuh tahun yang berpegangan pada lengan kakaknya.

Kakaknya berkata: tunggu di sini, jangan keluar, aku akan kembali.

Anak itu menjawab: janji.

Lalu kakaknya turun ke dalam asap.

Dan anak itu menunggu selama empat puluh menit.

Lalu dia lari.

Min-jae mencengkeram lengan Ji-ho. “Ji-ho. Itu tadi... dia bilang...”

Bunyi tembakan memotong kalimatnya.

Satu tembakan.

Kepala sosok itu pecah.

Ji-ho menoleh. Oh Seung-tae berdiri di atas menara dengan senapan yang masih mengepul. Entah sejak kapan dia kembali, entah sejak kapan dia berada di sana. Pak Choi menyingkir dengan wajah pucat.

“Turun,” kata Seung-tae dari atas. “Sekarang.”


Di bawah, di luar pagar, mayat itu sudah tidak bergerak.

Seung-tae menyuruh mereka membuka gerbang setengah. Dia sendiri yang melangkah keluar dengan senapan di bahu dan senter di tangan, memeriksa tanah di sekitar bangkai dengan teliti seperti orang yang mencari jejak di tempat kejadian perkara.

“Tidak ada yang lain,” katanya. “Sendirian.”

“Dia tidak sendirian waktu datang,” kata Ji-ho. “Dia datang dari utara. Jejaknya dari arah hutan.”

“Jejaknya dari arah mana pun tidak penting. Yang penting dia mati.”

Seung-tae berjongkok di sebelah bangkai itu. Senter menyapu wajah yang sudah hancur separuh.

Lalu dia berhenti.

“Yoon Ji-ho,” katanya tanpa menoleh. “Kemari.”

Ji-ho melangkah maju. Min-jae mengikuti, tapi Seung-tae mengangkat satu tangan tanpa menoleh dan Min-jae berhenti.

“Dia berbicara,” kata Seung-tae.

Itu bukan pertanyaan.

Ji-ho tidak menjawab.

Seung-tae menggeser senternya ke tangan kiri mayat itu.

Tangan itu masih menggenggam sesuatu.

Bukan senjata. Bukan batu.

Segumpal kain yang sudah mengeras oleh darah kering, dibalut di sekitar telapak tangan seperti perban yang dibuat oleh seseorang yang tidak punya perban.

“Dia memegang ini sejak sebelum mati,” kata Seung-tae. “Atau sejak sebelum... apa pun dia ini.”

Ji-ho berjongkok.

Bau besi dan tanah basah, sama seperti di apotek.

Dengan hati-hati, menggunakan ujung pisau, dia membuka lipatan kain itu.

Di dalamnya ada selembar kertas. Bukan kertas HVS. Kertas dari buku tulis bergaris, sobek di dua sisi, menguning oleh darah yang sudah berumur berminggu-minggu.

Di atas kertas itu ada tulisan.

Tulisan tangan orang dewasa, hurufnya miring, tekanannya tidak rata, seperti ditulis oleh tangan yang gemetar. Dan tulisan itu hanya terdiri dari dua baris.

Baris pertama: nama Ji-ho, dalam hangul. 지호.

Baris kedua: satu kalimat pendek.

지켜. Lindungi.

Ji-ho membacanya dua kali. Lalu tiga kali.

Tidak ada nama pengirim. Tidak ada tanggal. Tidak ada keterangan tentang apa yang harus dilindungi, atau dari siapa.

Hanya kata itu.

“Apa itu,” tanya Seung-tae.

“Kertas.”

“Jangan main-main dengan aku, anak bodoh. Aku mendengar suara dari balik pagar malam ini. Aku mendengar ada yang memanggil namamu. Dan sekarang ada kertas berisi namamu di tangan mayat yang seharusnya tidak bisa menulis, tidak bisa berpikir, dan tidak bisa berjalan tegak.”

Ji-ho melipat kertas itu dan menyimpannya di saku yang sama dengan gelang itu. Kedua benda itu sekarang berada dalam jarak satu jengkal, dan dia tidak tahu mana yang lebih menakutkan.

“Bagaimana dia tahu namamu,” ulang Seung-tae.

Ji-ho berdiri. Menatap bangkai itu. Menatap luka di leher mayat itu yang mengering menjadi lubang.

Luka itu bukan gigitan.

Gigitan Geom meninggalkan bekas yang khas: robekan tidak rata, jaringan yang tercabik, dan warna kehitaman yang menyebar dari tepi luka. Ji-ho sudah melihat ratusan luka seperti itu. Dia bisa mengenalinya dengan mata tertutup.

Luka di leher ini berbeda. Tepinya rapi. Dalamnya Presisi.

Luka ini dibuat oleh pisau.

“Ji-ho,” desak Seung-tae. “Jawab aku.”

“Tidak ada yang tahu nama itu,” kata Ji-ho pelan. “Di dunia ini tidak ada yang tahu janji itu kecuali aku dan dia.”

“Dia siapa.”

Ji-ho tidak menjawab. Dia tidak bisa.

Karena jawabannya tidak mungkin, dan dia tahu betul bahwa tidak mungkin adalah satu-satunya jawaban yang ada.

Di belakang mereka, Min-jae berseru.

“Ji-ho! Tangannya!”

Ji-ho menoleh.

Kepala mayat itu sudah hancur. Otaknya sudah tersebar di tanah. Tetapi tangan kanannya, tangan yang baru saja memegang kertas itu, sedang bergerak.

Bukan kejang. Bukan reflek.

Jari telunjuknya terangkat. Pelan. Terkendali.

Lalu lengan itu naik.

Dan jari itu menunjuk.

Bukan ke arah hutan. Bukan ke arah lembah. Bukan ke arah gerbang.

Jari itu menunjuk lurus ke arah gedung utama Guryong, ke lantai dasar, ke satu pintu yang tidak pernah dibuka, yang dicat ulang tiga kali, yang digembok dengan gembok baru setiap enam bulan.

Ke pintu Ruang Bawah.

Ji-ho berdiri di sana, menatap jari mayat yang menunjuk, sementara angin malam akhirnya turun dari Bukhansan dan mengguncang seluruh lembah yang kosong.

Di dalam sakunya, kertas itu terasa hangat.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk