Bunyi yang membangunkan Ji-ho bukan teriakan.
Bunyi yang membangunkannya adalah berhentinya bunyi langkah penjaga di koridor.
Ji-ho sudah tidur dengan separuh telinga terbuka sejak umur delapan. Tubuhnya tidak bangun karena suara keras. Tubuhnya bangun karena suara yang seharusnya ada, tidak ada.
Dia duduk, memakai sepatu dalam keadaan berdiri, dan keluar dari kamar asrama sebelum otaknya selesai mencari alasan.
Koridor lantai dua kosong. Lampu minyak masih menyala. Di ujung koridor, jendela yang menghadap ke selatan memperlihatkan warna langit yang masih kelabu, tidak lebih dari setengah jam menjelang subuh.
Dari bawah, dari arah kebun, terdengar suara orang berlari. Banyak.
Ji-ho turun lewat tangga darurat, melompati empat anak tangga terakhir, dan keluar ke halaman dengan pisau sudah di tangan.
Kebun rusak.
Bukan rusak karena diserang. Rusak karena dilalui.
Lapangan olahraga yang diubah menjadi kebun itu luasnya separuh lapangan sepak bola. Bedeng-bedengnya disusun memanjang dari timur ke barat, dipisahkan jalan setapak selebar setengah meter, ditanami sawi, kentang, bawang, dan satu petak khusus di pojok utara untuk tanaman obat yang dirawat Seo-yeon sendiri.
Dari gerbang kebun sampai ke bedeng paling jauh, ada jalur lurus selebar badan yang menginjak semuanya.
Tanaman patah. Tanah tercabut. Air selokan meluap ke jalan setapak.
Pak Choi berdiri di tengah kehancuran itu dengan mulut terbuka. Bu Kang memegangi dadanya. Tiga petani yang mengurus kebun berlutut di tanah seperti orang yang sedang mengubur keluarganya.
“Siapa,” tanya Ji-ho.
Tidak ada yang menjawab.
“Berapa banyak yang masuk?”
Pak Choi menoleh, dan wajahnya bukan wajah orang yang melihat kehancuran. Itu wajah orang yang melihat sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
“Tidak ada yang masuk,” katanya.
Ji-ho berjalan ke gerbang kebun.
Gerbang itu terbuat dari rangka besi yang dilas, tingginya dua meter, dengan rantai tebal dan gembok besar. Dae-hyun memasang sendiri gembok itu setahun lalu, dan kuncinya hanya ada dua. Satu di kantor kepala sekolah. Satu di pos jaga.
Gembok itu masih utuh.
Tergantung. Terkunci. Tidak ada goresan. Tidak ada bekas patah. Tidak ada bekas digergaji.
Dan gerbangnya terbuka selebar satu meter.
Ji-ho memeriksa rantainya. Masih utuh, tidak putus. Lalu dia melihat ujung rantai yang lain.
Rantai itu tidak dipasang ke besi gerbang. Rantai itu dililitkan longgar, cukup longgar untuk dilepas dari atas tanpa membuka gembok.
Bukan dijebol.
Dibuka.
Dari dalam.
“Seseorang membukanya,” kata Pak Choi dari belakangnya.
“Seseorang membukanya dari dalam,” koreksi Ji-ho.
Dia berjongkok di depan gerbang, meneliti tanah.
Tanah di kebun itu lembap karena disiram sore kemarin. Jejak apa pun akan terekam dengan jelas.
Jejak pertama yang dia temukan adalah jejak telanjang kaki.
Banyak. Ratusan. Masuk dari gerbang, menyebar ke seluruh bedeng, lalu keluar lagi lewat gerbang yang sama.
Ji-ho mengikuti garis jejak itu dengan mata. Polanya tidak seperti gerombolan.
Gerombolan menyebar. Gerombolan menabrak satu sama lain. Gerombolan meninggalkan jejak yang saling menimpa, berputar, tidak tentu arah.
Jejak ini tidak begitu.
Jejak ini berbaris.
“Mereka masuk,” gumam Ji-ho. “Berbaris. Mengelilingi kebun sekali. Lalu keluar lagi.”
“Dan tidak makan apa pun,” tambah Pak Choi.
Ji-ho mendongak.
Itu benar. Tidak ada tanaman yang dimakan. Tidak ada umbi yang digali. Tidak ada satu pun sawi yang patah karena digigit, hanya karena diinjak. Petak tanaman obat Seo-yeon, yang paling rapuh dan paling lunak, masih utuh sepenuhnya.
Tiga ratus mayat hidup berjalan melewati kebun yang penuh makanan dan tidak menyentuh apa pun.
“Mereka tidak datang untuk makan,” kata Ji-ho.
“Lalu untuk apa?”
Ji-ho berdiri dan mengikuti jejak itu kembali ke dalam kebun, dan di situlah dia melihat jejak yang kedua.
Jejak sepatu bot.
Militer. Sol karet dengan pola chevron yang dalam. Ukuran besar.
Dan jejak kaki kiri memiliki satu ciri yang membuatnya mudah dikenali: pola chevrons-nya terhapus di bagian tumit, tersisa separuh, seolah-olah solnya terkelupas.
Ji-ho mengikuti jejak itu.
Dari gudang kebun, ke gerbang, keluar.
Bukan masuk.
Keluar.
“Pak Choi,” katanya. “Kunci gudang ada di siapa?”
“Di saya. Kenapa?”
“Gudangnya. Buka.”
Gudang kebun berukuran tiga kali empat meter. Berisi cangkul, sekop, karung benih, dua drum air, dan rak kayu untuk menyimpan hasil panen.
Lantainya tanah padat.
Di tengah lantai ada lubang.
Lebarnya enam puluh senti. Panjangnya hampir dua meter. Kedalamannya sejauh yang bisa dilihat Ji-ho dengan lentera, lebih dari satu meter.
Kosong.
Di sekeliling dinding tanah lubang itu ada goresan.
Bukan goresan sekop. Goresan sekop meninggalkan lengkungan halus berulang. Goresan ini tidak beraturan, lebarnya tidak sama, dan yang paling penting, arahnya tidak masuk.
Goresan ini mengarah ke atas.
Ji-ho berjongkok. Dia mengulurkan tangan, berhenti sejengkal dari tanah, dan menyadari tangannya gemetar.
Sepuluh tahun. Sepuluh tahun dia hidup berdampingan dengan mayat hidup, dan selama sepuluh tahun itu dia membangun satu keyakinan yang membuatnya masih bisa tidur: mereka tidak mengubur. Mereka tidak menggali. Mereka tidak merencanakan sesuatu yang harus disembunyikan.
Goresan di dinding tanah ini dibuat oleh jari manusia.
Yang menggalinya berada di dalam.
Dan yang menggalinya keluar dengan cara mendaki dinding lubangnya sendiri.
“Yoon Ji-ho.”
Dae-hyun berdiri di pintu gudang.
Entah sudah berapa lama dia di sana. Wajahnya belum dicuci, kacamatanya miring, dan dia masih memakai jaket tidur.
“Guru,” kata Ji-ho. “Kebun dibuka dari dalam.”
“Aku sudah dengar.”
“Ada yang dikubur di sini. Sudah keluar.”
Dae-hyun melangkah masuk. Dia melihat lubang itu, melihat goresannya, melihat jejak sepatu bot di tanah, lalu dia menegakkan badan dan berkata dengan suara yang tidak berubah sedikit pun:
“Angin.”
Ji-ho menatapnya.
“Angin membuka gembok yang masih terkunci.”
“Rantainya longgar. Angin bisa menggeser besi kalau rantai tidak kencang. Itu kelalaian penjaga. Aku akan hukum Pak Choi.”
“Goresan di dinding lubang ini dari jari manusia.”
“Kamu melihat apa yang kamu ingin lihat. Sudah tiga hari kamu bercerita tentang mayat hidup yang berbaris, mayat hidup yang bicara, mayat hidup yang menulis. Sekarang mayat hidup yang menggali. Besok apa?”
Ji-ho tidak menjawab.
Dae-hyun berjalan ke luar, lalu berhenti dan berbalik. Cahaya subuh mulai masuk, dan untuk pertama kalinya Ji-ho melihat sesuatu pada wajah pria itu yang tidak pernah dia lihat selama sepuluh tahun.
Bukan ketakutan.
Kelelahan. Kelelahan yang sudah berumur sepuluh tahun dan tidak pernah diakui.
“Tutup lubang itu,” kata Dae-hyun. “Isi dengan kapur. Jangan ada yang masuk ke sini selain petani. Dan kalau kamu bicara tentang ini kepada siapa pun selain aku, kamu tidak keluar tembok sampai musim semi.”
Dia pergi.
Ji-ho berdiri sendirian di gudang itu.
Lalu dia menunduk dan melihat sesuatu yang tadi terlewat.
Di tepi lubang, tertinggal di tanah yang mengeras, ada bekas jari tangan kiri.
Lima jari. Rapi. Bertekanan merata. Jari manisnya lebih pendek dari seharusnya, seolah jari itu pernah patah dan tidak disambung dengan benar.
Ji-ho tahu jari itu.
Dia pernah melihat jari itu menggenggang gagang pintu tangga darurat, sepuluh tahun yang lalu, ketika kakaknya mendorongnya lebih dulu ke dalam tangga dan berkata, jangan bilang Ibu.
Bukan itu yang membuat lututnya hampir jatuh.
Yang membuat lututnya hampir jatuh adalah warna tanah di sekitar bekas jari itu.
Kering. Berumur berminggu-minggu.
Bukan malam ini.
Bukan kemarin.
Lubang ini digali berminggu-minggu yang lalu.
Seseorang sudah keluar dari bawah tanah Guryong jauh sebelum gerbang kebun dibuka, jauh sebelum mayat itu memanggil namanya di balik pagar, jauh sebelum Pelari di apotek menatap wajahnya tanpa menggigit.
Hari itu berjalan seperti hari biasa, dan itulah yang membuatnya terasa salah.
Nenek Park membuat sup kedelai dengan porsi yang lebih encer dari biasanya. Anak-anak kecil berlari di koridor lantai satu sampai Bu Kang membentak mereka. Seo-yeon mengganti perban Pak Choi yang tangannya teriris cangkul.
Ji-ho menemui Seo-yeon di klinik pada jam istirahat siang.
“Tanaman obatmu tidak apa-apa,” katanya. “Aku sudah periksa.”
“Terima kasih.”
“Ada yang tidak kuberitahukan kepadamu.”
Seo-yeon menatapnya. “Aku tahu.”
“Kamu tahu?”
“Kamu punya wajah khusus untuk menyimpan rahasia. Kamu tidak menyadarinya, tapi wajahmu jadi sangat ramah.”
“Ramah.”
“Sangat ramah. Seperti orang yang sedang meminta maaf karena tidak akan menjawab.”
Ji-ho diam. Lalu dia mengeluarkan selembar kertas dari sakunya, membukanya, dan meletakkannya di atas meja di depan Seo-yeon.
Kertas itu masih sama. Dua baris. Nama Ji-ho, dan satu kata.
지켜 (Lindungi).
Seo-yeon membacanya tanpa menyentuh kertasnya.
“Tulisan tangan orang dewasa,” katanya. “Dan... ini bukan tinta.”
“Bukan.”
“Ini darah. Sudah tua. Mungkin enam minggu.”
Ji-ho menunggu.
“Dan ada satu hal lagi,” kata Seo-yeon pelan. “Orang yang menulis ini menulisnya dalam keadaan gelap. Lihat. Baris kedua miring ke bawah. Dan jarak antarhurufnya melebar di akhir. Orang yang menulis dengan darah tanpa cahaya kehilangan kendali di huruf terakhir.”
“Maksudmu.”
“Maksudku dia menulis ini sambil tidak bisa melihat kertasnya. Atau sambil kehilangan kendali atas tangannya.”
Dia mengembalikan kertas itu.
“Ji-ho,” katanya. “Kapan terakhir kali kamu tidur lebih dari empat jam?”
Ji-ho melipat kertasnya. “Tahun lalu.”
“Pergi tidur malam ini. Aku yang akan membangunkanmu kalau ada apa-apa.”
“Kamu tidak boleh melakukannya.”
“Aku baru saja melakukannya.”
Dia tidak tersenyum. Dia tidak mendekat. Dia hanya kembali ke buku catatannya, dan Ji-ho keluar dari klinik itu dengan perasaan yang tidak bisa dia beri nama.
Malam turun lebih cepat dari biasanya.
Ji-ho naik ke Tembok Utara pada jam sembilan, satu jam sebelum gilirannya, karena dia tidak bisa tidur dan karena dia tahu.
Yang dia tidak tahu adalah seberapa cepat semuanya terjadi.
Pada jam sembilan lewat sepuluh menit, lentera di menara utara mulai bergoyang.
Bukan karena angin, tapi karena tanah yang bergetar. Ji-ho berlari ke tepi tembok.
Mereka datang dari tiga arah sekaligus. Dari jalan aspal di timur, dari dasar lembah di selatan, dari lereng hutan di barat. Tidak berlari. Tidak berteriak. Bergerak dengan kecepatan yang sama, dalam jarak yang sama, seolah-olah jarak itu diukur oleh seseorang yang tahu caranya mengukur.
Pak Choi di menara mulai membunyikan bel.
Besi dipukul besi. Tiga kali. Itu kode pengepungan, dan kode itu belum pernah dipakai sejak Tahun Keenam.
Orang-orang berlarian di halaman. Dae-hyun keluar dari gedung utama dengan jaket yang belum dikancing. Seung-tae muncul di atas menara dengan senapan panjang dan wajah yang kosong dari segala ekspresi.
Ji-ho tidak berpaling dari lembah.
Dia menghitung.
Mereka berhenti pada jarak yang persis sama. Enam puluh meter dari pagar. Tidak ada yang lebih dekat, tidak ada yang lebih jauh.
Lalu mereka berputar.
Bukan berkumpul. Berputar. Menyebar mengikuti garis keliling, membentuk lingkaran sempurna yang mengelilingi seluruh kompleks Guryong.
Lingkaran itu menutup dalam waktu kurang dari empat menit.
Ji-ho mengikuti garis lingkaran itu dengan matanya, dari utara ke timur, ke selatan, ke barat, dan kembali ke utara.
Lingkaran itu lengkap.
Kecuali satu titik.
Di sisi barat, di seberang gerbang kebun, ada celah selebar delapan meter. Tidak ada satu pun mayat hidup di sana.
Celah itu tidak menghadap ke gerbang utama. Tidak menghadap ke dapur. Tidak menghadap ke asrama.
Celah itu menghadap persis ke gerbang kebun.
Ji-ho menelan ludah.
Celah dalam pengepungan bisa berarti dua hal. Bisa berarti jalan keluar. Bisa berarti jalan masuk.
Yang membuat tengkuknya dingin adalah kesadaran berikutnya: kalau mereka mau menyerang, mereka tidak akan menyisakan celah. Kalau mereka mau mengurung, mereka tidak akan menyisakan celah.
Celah ini bukan untuk mereka.
Celah ini dibuat agar sesuatu bisa lewat.
Dan pada saat kesadaran itu selesai terbentuk di kepalanya, Ji-ho menoleh ke arah kebun.
Dua jam yang lalu, atas perintah langsung Kim Dae-hyun, gerbang kebun dikunci dengan rantai baru, gembok baru, dan dijaga oleh dua orang bersenjata.
Gerbang itu berdiri terbuka.
Lebar.
Dan kedua penjaganya tidak ada di sana.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!