Pengepungan

2 dibaca

A

Bel besi dibunyikan sebelas kali sebelum Dae-hyun berhasil menghentikannya.

Bunyi itu bukan tanda bahaya lagi. Bunyi itu sudah menjadi bunyi kepanikan, dan kepanikan menyebar lebih cepat daripada Geom. Ji-ho melihatnya dari atas tembok: orang-orang berlarian di halaman tanpa arah, ada yang membawa anak, ada yang membawa karung, ada yang membawa pisau dapur. Dua orang berkelahi di depan pintu asrama karena satu ingin lari ke gerbang utama dan satu ingin turun ke bawah tanah.

Bawah tanah. Itu yang membuat Ji-ho menoleh tajam.

“Min-jae,” katanya. “Turun. Cari siapa pun yang menuju ruang bawah. Hentikan. Pukul kalau perlu.”

“Kenapa?”

“Karena kalau mereka masuk ke sana, mereka tidak akan keluar.”

Min-jae tidak bertanya lagi. Dia sudah turun tangga sebelum kalimat itu selesai.

Ji-ho kembali menatap lembah.

Lingkaran itu tidak bergerak.

Enam puluh meter. Rapat. Sempurna. Tiga ratus lebih, mungkin empat ratus, berdiri diam dalam barisan yang melengkung mengikuti kontur tanah seperti jarum jam yang lengkap.

Tidak ada yang menabrak pagar. Tidak ada yang menggeram. Tidak ada yang memukul besi.

Dari atas menara, Seung-tae menurunkan senapan.

“Mereka tidak menyerang,” katanya.

“Belum,” kata Dae-hyun dari bawah.

Pria itu sudah naik ke tembok, jaketnya akhirnya terkancing, dan dia berdiri di tepi dengan tangan menggenggam besi pagar sampai buku-bukunya memutih.

“Yoon Ji-ho,” katanya tanpa menoleh. “Kamu bilang mereka terorganisir.”

“Ya.”

“Berikan alasan kenapa mereka berdiri diam dan bukan menabrak.”

Ji-ho memandang lingkaran itu sekali lagi. Dia tidak mencari jawaban. Dia mencari pola.

“Mereka tidak lapar,” katanya.

“Itu bukan jawaban.”

“Itu jawabannya. Penyeret mengejar suara dan bau. Pelari mengejar gerakan. Kalau empat ratus makhluk berdiri enam puluh meter dari seratus empat puluh orang yang tidak bisa lari, berarti bukan lapar yang menggerakkan mereka. Berarti sesuatu yang lain.”

“Apa.”

“Saya tidak tahu. Tapi kalau yang menggerakkan mereka bukan lapar, maka dinding ini tidak berguna. Karena dinding dirancang untuk menahan sesuatu yang lapar.”

Dae-hyun menoleh untuk pertama kalinya. Matanya merah.

“Keluar dari tembok,” katanya. “Sekarang.”

Ji-ho tidak bergerak.

“Guru. Kalau saya turun, tidak ada orang di sini yang bisa membaca apa yang mereka lakukan berikutnya.”

“Aku tidak butuh kamu membaca. Aku butuh kamu diam.”

“Ya, dan itulah sebabnya sekolah ini akan selesai malam ini.”

Seung-tae menurunkan senapan dari bahu dan menembak.

Satu tembakan. Satu Penyeret di sisi timur roboh.

Lingkaran itu tidak bereaksi.

Tidak ada yang menoleh ke arah bunyi. Tidak ada yang bergerak ke arah bangkai. Tidak ada satu pun reaksi terhadap bunyi tembakan yang seharusnya mengumpulkan seluruh gerombolan ke titik itu.

Itu lebih menakutkan daripada serangan.

“Mereka tidak peduli pada bunyi,” bisik Ji-ho.

Lalu dia melihatnya.

Di titik paling utara lingkaran, satu sosok keluar dari barisan dan mulai berjalan.

Tinggi. Terlalu tinggi. Bahunya sempit dan lengannya terlalu panjang, seperti lengan orang yang digambar oleh anak kecil. Dia berjalan tegak, tanpa langkah terseret, dan setiap sosok yang dia lewati menyingkir tanpa menoleh, seperti air yang dibelah.

Dia tidak menuju ke gerbang utama.

Dia menuju celah.

Celah di sisi barat yang ditinggalkan terbuka. Yang menghadap ke gerbang kebun.

“Sekarang kamu mengerti,” kata Dae-hyun pelan. “Celah itu bukan jalan keluar untuk kita.”

“Bukan,” kata Ji-ho. “Celah itu dibuat untuk dia.”


Hal berikutnya terjadi terlalu cepat untuk disebut pertempuran.

Tiga puluh Pelari memisahkan diri dari barisan selatan dan berlari.

Tidak ada transisi. Tidak ada ancaman. Mereka hanya berlari, dan dalam empat detik mereka sudah berada di separuh jarak.

“TEMBOK SELATAN!” teriak Pak Choi.

Seung-tae berlari menyeberangi tembok, senapan terangkat, menembak dua kali. Dua Pelari roboh. Dua puluh delapan sisanya tidak melambat.

Ji-ho berlari ke arah yang berlawanan.

“KE MANA KAMU!” teriak Min-jae dari bawah.

“Menara air!”

Dia naik ke menara air dengan cara yang sudah dilatihnya selama enam tahun: lewat pipa luar, tiga langkah, lompat, pegang siku besi, dorong. Di puncak menara ada drum besi bekas yang dulu dipakai untuk menampung air hujan. Sekarang drum itu kering, dan bagian dalamnya berkarat.

Ji-ho mengangkat besi penyangga yang disiapkan di sana sejak Tahun Ketujuh, memukul drum itu, dan terus memukul.

Bunyinya tidak keras. Bunyinya salah.

Logam berkarat yang dipukul menghasilkan dengung panjang yang melengking dan bergetar, tidak seperti bunyi apa pun di alam, dan bunyi seperti itu, menurut aturan nomor empat yang dipegang seluruh penyintas, menarik mereka lebih kuat daripada darah.

Dua puluh delapan Pelari berbelok.

Bukan melambat. Bukan ragu. Belok. Serentak. Seperti satu makhluk dengan dua puluh delapan kaki.

Mereka berlari menuju menara air.

“Ji-ho!” teriak Min-jae.

Ji-ho sudah turun dari menara sebelum Pelari pertama sampai. Dia mendarat, berlari, dan melihat Min-jae berdiri di tengah halaman dengan kapak terangkat, mulutnya terbuka, tidak menyadari bahwa dia berada tepat di jalur lari dua puluh delapan Pelari.

Aturan nomor dua: Pelari buta pada satu target. Kalau dia sudah mengunci seseorang, dia tidak akan mempedulikan yang lain sampai target itu mati.

Mereka tidak mengunci Min-jae.

Mereka mengunci bunyi.

“MIN-JAE, TIARAP!”

Min-jae menoleh, melihat dua puluh delapan makhluk yang berlari ke arahnya dalam jarak lima belas meter, dan membeku.

Ji-ho tidak punya waktu untuk menarik. Dia menabrak.

Bahunya masuk ke dada Min-jae, mereka berdua jatuh ke tanah, dan dua puluh delapan Pelari lewat di atas mereka tanpa memperlambat langkah. Satu menginjak punggung Ji-ho. Satu menendang kapak Min-jae sampai mental.

Lalu mereka semua sudah di kaki menara air, memukul drum itu dengan tangan kosong, berdesakan, menginjak satu sama lain, dalam kebisingan yang membuat seluruh halaman bergetar.

Ji-ho bangkit. Bahunya terasa seperti ditusuk dari dalam.

“Kamu gila,” kata Min-jae dari tanah.

“Bunyi,” kata Ji-ho. “Mereka mengejar bunyi, bukan kita.”

“Dan kalau drum itu selesai?”

“Mereka akan cari bunyi lain. Atau mereka berdiri. Pelari tidak bisa diam lama. Mereka akan mulai saling menabrak, dan itu yang kita tunggu.”

“Berapa lama?”

“Sepuluh menit.”

“Lalu?”

“Lalu kita bisa membunuh mereka satu-satu seperti yang kita lakukan selama sepuluh tahun.”

Min-jae menatapnya dari tanah dengan mulut terbuka.

“Kamu merencanakan ini.”

“Tidak. Aku cuma tahu apa yang mereka lakukan kalau tidak bisa menemukan apa yang mereka cari.”


Sembilan menit kemudian, dua puluh delapan Pelari itu sudah menjadi tujuh belas bangkai dan sebelas makhluk yang saling mencengkeram di kaki menara air dengan sia-sia. Seung-tae menyelesaikan sisanya dengan tembakan dari jarak dekat, satu per satu, tanpa terburu-buru.

Di halaman, Ha-neul berdiri mematung di dekat pintu asrama dengan sesuatu di tangannya.

Karung beras. Separuh terisi.

Anak itu mengangkatnya, menyerahkannya kepada Bu Kang, dan berkata, “Ini yang tidak sempat dibawa orang dewasa.”

Bu Kang menatap karung itu. Lalu menatap anak itu. Lalu menangis, diam-diam, tanpa suara, sambil memegangi karung beras seperti memegangi bayi.

Ji-ho melihat itu dari kejauhan dan tidak mengatakan apa-apa.

Tetapi dia mencatatnya, karena itulah yang selalu dia lakukan: dia mencatat siapa yang masih bisa melakukan sesuatu yang tidak perlu ketika dunia sedang runtuh. Orang-orang seperti itu adalah yang paling mungkin bertahan, dan orang-orang seperti itu adalah yang paling layak dibela.


Sosok tinggi itu tiba di celah pada menit keempat belas.

Ji-ho berada di atas tembok utara, dan dari sana dia bisa melihat semuanya dengan jelas karena bulan akhirnya keluar dari balik awan.

Sosok itu berhenti di depan gerbang kebun.

Dua puluh meter. Dekat. Sangat dekat.

Ji-ho mengangkat teropong yang dipinjamnya dari pos jaga.

Melalui lensa yang retak di pojoknya, wajah itu muncul.

Dan Ji-ho mengerti mengapa seluruh instingnya memberontak sejak malam di apotek itu.

Wajah itu tidak membusuk.

Kulitnya kelabu, ya. Bibirnya hitam, ya. Tetapi tidak ada jaringan yang membusuk. Tidak ada pipi yang bolong. Tidak ada hidung yang luruh. Tidak ada lalat. Tidak ada bau yang sampai ke atas tembok, padahal angin bertiup dari arahnya.

Dan matanya.

Mata Penyeret putih seluruhnya. Mata Pelari berawan. Mata makhluk yang memanggil namanya tiga malam lalu sudah gelap dan pecah.

Mata makhluk ini jernih.

Hitam. Utuh. Dan menatap lurus ke arah teropong, ke arah mata Ji-ho, seolah dia tahu persis bahwa ada sepasang mata di balik lensa itu.

Ji-ho menurunkan teropong.

Tangannya tidak bisa berhenti gemetar kali ini.

Sosok itu mengangkat satu tangan.

Di seluruh halaman, seratus empat puluh orang yang berlindung di balik tembok menahan napas bersamaan.

Sosok itu menunjuk.

Tidak ke arah gerbang. Tidak ke arah menara. Tidak ke arah dapur.

Ke arah Ji-ho.

Lalu dia menurunkan tangan, membalikkan badan, dan berjalan kembali ke celah.

Dan lingkaran itu mulai mencair.

Tiga ratus mayat hidup mundur tanpa suara, dalam urutan terbalik dari urutan kedatangan mereka, seperti air yang ditarik ke saluran pembuangan. Dua menit. Tiga menit.

Lembah itu kosong.

Tidak ada bangkai. Tidak ada jejak yang tertinggal selain tanah yang terinjak rata.

Guryong bernapas kembali.

Di halaman ada yang tertawa. Ada yang menangis. Ada yang berdoa dengan suara keras untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun. Nenek Park berdiri di pintu dapur dan mengumpat panjang dengan suara yang bergetar.

Ji-ho tidak ikut bernapas lega.

Dia menoleh ke arah Dae-hyun.

Pria itu berdiri di tempat yang sama sejak tadi, kacamata isolasinya miring, tangannya masih menggenggam besi pagar.

Wajahnya seputih kapur.

Dan dia tidak menatap lembah.

Dia menatap Ji-ho.

Ji-ho turun dari tembok, berjalan mendekat, dan berhenti satu setengah meter di depannya. Suasana di sekitar mereka terlalu ramai untuk pembicaraan ini, tapi tidak ada yang memperhatikan mereka.

“Itu bukan serangan,” kata Ji-ho.

Dae-hyun tidak menjawab.

“Mereka tidak mencoba masuk. Mereka tidak mencoba membunuh siapa pun. Kalau mereka mau, empat ratus ekor bisa merobohkan pagar selatan dalam lima menit. Mereka datang untuk menunjukkan sesuatu.”

“Diam,” kata Dae-hyun. Suaranya berat.

“Dan yang mereka tunjuk adalah saya.”

Dae-hyun akhirnya menoleh, dan di matanya ada sesuatu yang membuat Ji-ho mundur setengah langkah tanpa sadar.

Bukan kebencian. Bukan ketakutan.

Pengenalan.

Seperti orang yang akhirnya melihat sesuatu yang sudah dia takuti akan datang sejak sepuluh tahun lalu.

“Yoon Ji-ho,” kata Dae-hyun. “Mulai malam ini, kamu tidak keluar tembok. Kamu tidak naik ke tembok. Dan kalau ada yang menanyakan namamu padamu dari luar pagar, kamu tidak menjawab.”

“Guru...”

“Tidak ada yang namanya Guru malam ini. Pergi tidur.”

Dae-hyun berjalan menjauh.

Ji-ho berdiri sendirian di halaman yang mulai sepi, menatap gerbang kebun yang masih terbuka, dan berpikir tentang jari manis yang pernah patah, tentang tujuh goresan di pelat perak, tentang mata yang jernih di wajah yang tidak membusuk.


Di lereng Bukhansan, pada ketinggian delapan ratus meter, sosok tinggi itu duduk di bawah pohon yang sudah mati sejak Tahun Kedua.

Dia tidak tidur. Makhluk sepertinya tidak tidur.

Di pangkuannya ada selembar kain yang dilipat rapi, dan di dalam lipatan itu ada sisa-sisa benda yang sudah tidak bisa dikenali lagi, kecuali oleh pemiliknya.

Dia mengangkat pergelangan tangan kirinya.

Di sana tidak ada gelang. Sudah tidak ada sejak dia menyerahkannya tadi siang, di atas meja kasir apotek yang berdebu, dengan tujuh goresan yang dia buat sendiri satu per satu selama tujuh hari terakhir.

Dia tidak tahu kenapa dia menghitung.

Yang dia tahu hanya satu hal, dan hal itu datang kepadanya dalam bentuk yang bukan pikiran dan bukan kata-kata, melainkan sesuatu yang lebih tua daripada keduanya.

Sesuatu yang tersisa dari manusia yang pernah dia miliki sebelum tulisan ulang itu selesai.

Tujuh hari.

Tujuh hari lagi, dan dia tidak akan bisa menahan yang lain.

Dia menurunkan tangan, menatap ke arah lembah, ke arah sekolah yang berdiri di bawah bulan seperti gigi yang tersisa.

Dan dari tenggorokannya yang tidak butuh udara, keluar satu bunyi.

Bukan geraman.

Bunyi itu adalah bunyi yang dikeluarkan oleh sesuatu yang sedang berusaha mengingat cara menyebut sebuah nama.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk