Mereka menghabiskan empat puluh satu menit di dalam ruang itu sebelum Seung-tae berhasil mendobrak panelnya.
Butuh empat pukulan dengan bahu, dua tendangan, dan satu pukulan dengan gagang sekop yang diambil entah dari mana oleh Dae-hyun, yang kemudian Ji-ho sadari adalah benda yang sama yang dibawanya keluar dari Ruang Bawah pada jam tiga pagi enam minggu yang lalu.
Panel itu pecah.
Ruang gudang di luarnya kosong.
Dan sepatu bot kedua sudah tidak ada.
Begitu juga petanya.
Makanan curiannya masih tersusun rapi di rak. Goresan seratus sembilan hari masih ada di dinding. Tetapi benda yang bisa menunjukkan siapa pemiliknya, diambil dalam waktu empat puluh menit oleh sesuatu yang mengunci mereka dari luar tanpa membunuh mereka.
Ji-ho berdiri di ruang gudang yang kosong dan menghitung hal itu dengan saksama.
Yang mengunci mereka tidak ingin mereka mati.
Yang mengunci mereka hanya ingin mereka berhenti bertanya.
Dan sesuatu yang bisa mengunci empat orang dewasa di dalam ruangan tanpa membunuh satu pun dari mereka, sesuatu yang bisa berjalan keluar dari Ruang Bawah, menyapu koridor, meninggalkan telapak tangan setinggi tujuh puluh senti di dinding, dan mengembalikan sepatu bot ke tempat yang tidak akan ditemukan siapa pun, bukanlah sesuatu yang sedang bersembunyi.
Itu sesuatu yang sedang memilih untuk tidak terlihat.
Pagi itu Nenek Park membuat bubur.
Bukan bubur encer seperti dua minggu terakhir. Bubur kental, dengan irisan daun bawang yang masih hijau dari bedeng yang tidak ikut hancur, dan satu sendok minyak wijen yang sudah disimpannya sejak musim panas lalu untuk hari yang tidak pernah ditentukannya.
“Untuk apa,” tanya Min-jae, menatap mangkuknya dengan curiga.
“Untuk tidak mati,” kata Nenek Park. “Makan.”
“Tapi hari ini bukan...”
“Aku tidak butuh alasan untuk memberimu makan, anak bodoh. Aku butuh alasan untuk tidak memberimu makan, dan hari ini aku tidak punya.”
Mereka makan di halaman, di bawah langit kelabu, dengan seratus tiga puluh sembilan orang yang tidak ada yang tertawa terlalu keras dan tidak ada yang menangis, karena keduanya terasa seperti pengkhianatan terhadap orang yang tidak kembali.
Pak Choi duduk di sebelah Ha-neul dan menyerahkan kepada anak itu selembar kertas sobek yang berisi urutan menyiram, ditulis dengan tangan yang terbalut perban, hurufnya besar-besar dan miring.
“Yang ini baris utara,” katanya. “Jam lima. Yang ini baris timur, jam enam. Yang selatan tidak usah, tanahnya masih basah. Dan kalau kamu lihat tanahnya retak, bukan berarti kurang air. Berarti kebanyakan. Bu Kang dulu pernah menyiram sampai mati, dan aku harus menarik kelima belas tanamannya sendiri.”
Ha-neul menerima kertas itu dengan kedua tangan.
Dia melipatnya dua kali. Lalu empat kali. Lalu menyimpannya di saku dalam jaketnya, di tempat yang sama dengan tempat dia dulu menyimpan mobil-mobilan kayu.
Ji-ho melihat itu dari seberang halaman dan tidak mengatakan apa-apa.
Tetapi dia mencatatnya, karena itulah caranya, dan karena dia tahu bahwa anak itu baru saja melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh sebagian besar orang dewasa di sekolah ini: dia meletakkan sesuatu di tempat kosong, dan membiarkannya tinggal di sana.
Seo-yeon menemukannya di tangga darurat pada jam sepuluh.
“Boleh aku duduk,” katanya.
“Bukan kamu punya?”
Dia duduk.
Mereka tidak bicara selama cukup lama. Dari bawah terdengar bunyi panci dan bunyi anak-anak yang disuruh mandi, dan kedua bunyi itu terdengar seperti bunyi dari dunia yang masih berjalan, yang entah bagaimana bertahan meskipun segalanya sudah berubah.
“Dae-hyun menceritakan semuanya kepadamu,” kata Seo-yeon akhirnya.
“Sebagian.”
“Yang mana yang diceritakan.”
“Bahwa ada anak perempuan di balik pintu itu. Bahwa dia tidak mati dan tidak hidup. Bahwa sudah sepuluh tahun.”
“Dan yang tidak diceritakan.”
Ji-ho menatap tangga di bawahnya.
“Namanya.”
Seo-yeon mengangguk seolah-olah itu sudah dia duga.
“Aku mencari di arsip,” katanya.
“Arsip mana.”
“Arsip murid. Yang disimpan di ruang guru lantai dua, di lemari yang tidak pernah dibuka sejak Tahun Kedua. Aku mencari murid SD angkatan sepuluh tahun lalu yang namanya tidak ada di daftar penyintas.”
Ji-ho menoleh.
“Kamu bukannya dilarang.”
“Dilarang oleh siapa? Dae-hyun tidak pernah melarangku memeriksa arsip. Dia melarangmu masuk Ruang Bawah. Itu dua hal yang berbeda.”
Ji-ho hampir tersenyum.
“Dan?”
“Dan ada empat belas nama murid kelas satu SD yang tidak ada di daftar penyintas. Tiga belas di antaranya tercatat mati pada hari pertama, dengan keterangan singkat. Satu tidak punya keterangan apa-apa.”
Ji-ho menahan napas.
“Bukan tidak ada keterangan,” kata Seo-yeon. “Keterangannya dihapus. Kertasnya digosok sampai berlubang. Dan di buku induk, di kolom keterangan, ada bekas tinta yang ditekan terlalu keras oleh orang yang menulisnya, lalu mencoba menghapusnya tanpa berhasil.”
“Kamu bisa membacanya.”
“Aku bisa membaca dua huruf.”
Dia menatap Ji-ho.
“Kim,” katanya. “김.”
Hening di tangga itu.
“Kim Dae-hyun menulis nama anaknya sendiri di buku induk sekolah sepuluh tahun yang lalu,” kata Seo-yeon pelan. “Lalu dia mencoba menghapusnya. Dan selama sepuluh tahun tidak ada satu pun orang yang membuka lemari itu.”
“Karena tidak ada yang mencari.”
“Karena tidak ada yang mencari.”
Ji-ho berdiri.
“Terima kasih,” katanya.
“Untuk apa.”
“Untuk mencari.”
Seo-yeon tidak menjawab. Dia hanya menatap ke arah halaman, ke arah seratus tiga puluh sembilan orang yang sedang makan bubur di bawah langit kelabu, dan berkata sesuatu yang baru Ji-ho pahami artinya beberapa minggu kemudian.
“Kalau dia ada di bawah sana selama sepuluh tahun,” katanya, “berarti selama sepuluh tahun ini dia mendengar kita semua.”
Dae-hyun menemui Ji-ho di koridor bawah pada siang hari.
Kali ini dia yang memanggil. Dan kali ini dia tidak berdiri di depan pintu. Dia duduk di lantai, dengan punggung menempel dinding di seberang pintu baja, dan di pangkuannya ada sebuah mangkuk berisi bubur yang tidak dimakannya.
Ji-ho duduk di sebelahnya.
Mereka berdua menatap pintu baja itu. Dari baliknya, untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu, terdengar napas.
Pelan. Dalam. Teratur. Terlalu besar untuk manusia.
“Sepuluh tahun aku tidak pernah menjawab,” kata Dae-hyun.
Ji-ho menunggu.
“Kupikir kalau aku diam, dia akan lupa. Bahwa kalau tidak ada yang bicara kepadanya, ingatannya akan habis dengan sendirinya. Seperti api tanpa kayu.”
“Apakah berhasil.”
“Tidak. Yang terjadi justru sebaliknya. Semakin lama aku diam, semakin dia mengingat. Karena tidak ada yang lain untuk diingat.”
Dae-hyun meletakkan mangkuknya di lantai.
“Geom tidak membunuh inangnya,” katanya. “Geom menulis ulang. Itu yang diajarkan kepada kita pada Tahun Pertama, sebelum semuanya hancur dan tidak ada lagi yang sempat mengajarkan apa pun. Kita cuma ingat bagian yang berguna: otak, gigitan, api, lari. Yang tidak kita ingat adalah bagian yang penting.”
“Bagian yang mana.”
“Yang ditulis ulang itu bukan cuma tubuhnya.”
Dae-hyun menoleh.
“Penyeret kehilangan segalanya. Pelari kehilangan segalanya kecuali lapar. Penyelinap menyisakan cukup banyak untuk belajar. Alfa menyisakan cukup banyak untuk memimpin. Dan kadang-kadang, sangat jarang, prosesnya tidak selesai. Tulisan ulangnya macet di tengah. Yang lama tidak hilang, dan yang baru tidak selesai.”
“Yang Ingat.”
Dae-hyun mengangguk.
“Tidak mati. Tidak hidup. Itu bukan puisi, Yoon Ji-ho. Itu laporan medis yang tidak punya nama.”
Napas di balik pintu itu berhenti sebentar. Lalu mulai lagi.
“Berapa banyak,” tanya Ji-ho.
“Aku tidak tahu. Waktu itu tidak ada yang menghitung. Aku hanya tahu satu.”
Dia menunduk.
“Dan aku yang mengurungnya. Aku, dengan tangan ini, memasang gembok pertama. Dan aku yang memberinya makan setiap tiga hari selama sepuluh tahun, dengan jatah yang kuambil dari mulut seratus tiga puluh sembilan orang yang mempercayakanku nyawa mereka.”
“Guru...”
“Aku tidak mencari pengampunanmu.”
“Aku tidak akan memberikannya.”
“Tahu.”
Hening.
Dari balik pintu, napas itu berubah.
Bukan berhenti. Berubah menjadi sesuatu yang lebih dangkal dan lebih cepat, seperti napas orang yang baru saja menyadari bahwa ada seseorang di sisi lain pintunya.
Lalu terdengar bunyi.
Bukan ketukan. Bukan goresan.
Bunyi telapak tangan yang diletakkan pelan-pelan di sisi dalam baja setebal sepuluh senti, seolah-olah sesuatu di dalam sana sedang mencoba merasakan bentuk tangan yang berada di sisi luar.
Dae-hyun tidak bergerak.
Lalu, dari balik pintu, terdengar suara.
Bukan suara perempuan muda yang sabar.
Suara anak kecil. Rapuh. Seperti suara yang sudah lama tidak dipakai dan tidak pernah tumbuh bersamanya.
“Ayah.”
Dae-hyun menutup mata.
“Ayah, aku lapar.”
Dan Dae-hyun menangis.
Tidak bersuara. Bahunya tidak naik-turun. Hanya air mata yang turun di wajah pria berumur lima puluhan yang sudah sepuluh tahun tidak mengizinkan dirinya melakukan hal ini, dan yang melakukannya sekarang bukan karena dia lemah, melainkan karena untuk pertama kalinya anaknya meminta sesuatu yang bisa dia berikan.
Ji-ho berdiri, mengambil mangkuk bubur yang tidak dimakan itu dari lantai, dan meletakkannya di depan pintu baja.
Dari balik pintu, sesuatu menarik napas panjang, dan menciumnya.
Lalu Dae-hyun berkata, dengan suara yang hancur, “Enam minggu yang lalu dia mulai meminta lebih banyak. Dan aku tidak punya lebih banyak. Jadi aku berhenti memberi dan mulai menutup terowongan, seolah-olah yang kaukhawatirkan itu bisa diselesaikan dengan semen.”
Ji-ho menatap pintu itu.
“Lalu siapa yang memberinya makan enam minggu ini,” katanya pelan.
Dae-hyun mendongak, dan wajahnya adalah wajah orang yang baru saja memahami sesuatu yang seharusnya sudah dia pahami sejak lama.
Dari balik pintu baja itu, terdengar bunyi.
Satu pukulan.
Bukan ketukan sopan tiga kali.
Satu pukulan, dari dalam, dengan kekuatan yang membuat baja setebal sepuluh senti itu melengkung ke luar sejauh satu senti dan membuat seluruh koridor bergetar.
Lalu, dari balik pintu, suara itu bicara lagi.
Bukan kepada ayahnya.
Kepada Ji-ho.
“Bukan ayah yang kasih aku makan.”
Hening.
“Yang kasih aku makan berdiri di luar pagar.”
Lalu pintu baja itu melengkung lagi, dari dalam, lebih jauh.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!