Gemboknya dibuka pada jam empat sore, dengan tiga orang yang menonton dan tidak ada satu pun yang bicara.
Dae-hyun memegang kuncinya selama hampir satu menit tanpa memasukkannya ke lubang. Tangannya bergetar terlalu keras untuk seseorang yang tidak pernah bergetar, dan dia tidak mencoba menyembunyikannya.
Ji-ho berdiri di sebelahnya dengan lentera. Seo-yeon berdiri di belakang mereka berdua dengan kotak perban, karena ada seseorang di ruangan itu yang mungkin membutuhkan pertolongan medis, dan karena Han Seo-yeon tidak pernah membiarkan dirinya berada di tempat yang tidak ada gunanya.
Dae-hyun akhirnya memasukkan kuncinya.
Klik.
Gembok itu jatuh ke lantai beton dengan bunyi yang terdengar seperti bunyi terakhir di dunia.
Tidak ada yang bergerak selama lima detik penuh.
Lalu pintu itu terbuka.
Bukan didorong dari dalam. Bukan didorong Dae-hyun.
Pintu itu bergerak ke luar dengan sendirinya, perlahan, seolah-olah udara di dalam ruangan itu akhirnya diizinkan keluar setelah sepuluh tahun ditahan.
Bau datang lebih dulu.
Tanah basah. Kapur. Kain lama. Dan di bawahnya ada sesuatu yang sangat tipis, sama sekali tidak seperti bau bangkai: bau rambut yang tidak pernah dicuci dengan air yang mengalir, bau kertas yang disimpan terlalu lama, dan bau seseorang yang sudah hidup terlalu lama di ruangan yang tidak pernah melihat matahari.
Ji-ho mengangkat lentera setinggi bahu dan membiarkan cahayanya masuk.
Ruang itu lebih kecil daripada yang dibayangkannya.
Empat kali lima meter. Dinding beton yang dicat putih lima puluh tahun yang lalu dan sekarang tinggal kelabu mengelupas. Tidak ada jendela. Tidak ada ventilasi yang terlihat, kecuali satu corong besi di sudut atas yang dulu dipakai untuk menurunkan batu bara, dan yang sekarang menganga hitam.
Di lantai ada kasur tipis yang sudah penyok menjadi bentuk tubuh, dua selimut yang dilipat terlalu rapi untuk orang yang tidak pernah diajari melipat selimut, satu ember, dan satu rak yang berisi gelas-gelas plastik bekas yang disusun berdasarkan ukurannya.
Dan di dinding, di sepanjang tiga sisi, dari lantai sampai setinggi seratus enam puluh senti, ada gambar.
Ratusan.
Ditulis dengan arang, dengan ujung paku, dengan apa pun yang bisa meninggalkan bekas.
Gambar gedung. Gambar pagar. Gambar pohon. Gambar orang-orang yang berdiri berbaris. Gambar lapangan dengan garis-garis yang tidak pernah ada. Gambar burung.
Dan di dinding yang paling dekat dengan kasur, diulang ratusan kali dengan ukuran yang berbeda-beda, selalu di pojok yang sama: sebuah lingkaran dengan garis-garis yang memancar dari pinggirannya.
Matahari.
Dari sesuatu yang tidak pernah melihat matahari selama sepuluh tahun.
Ji-ho menurunkan lentera.
Dan melihatnya.
Dia duduk di ujung kasur, di sudut yang paling jauh dari pintu, dengan lutut ditarik ke dada dan kedua tangan menutupi wajah, karena cahaya lentera adalah hal pertama yang masuk ke ruangan itu selain makanan, dan sepuluh tahun kegelapan membuat cahaya menjadi sesuatu yang menyakitkan.
Kecil.
Sangat kecil. Tubuhnya tidak lebih besar dari tubuh anak dua belas tahun, meskipun menurut perhitungan Ji-ho dia seharusnya tujuh belas.
Rambutnya hitam, panjang, tidak diikat, menutupi separuh wajahnya.
Kulitnya sangat pucat. Bukan pucat seperti mayat, melainkan pucat seperti kertas yang tidak pernah terkena cahaya, dengan urat biru tipis yang terlihat di pergelangan tangannya.
Dan dia memakai seragam sekolah.
Seragam SD Guryong, warna biru dongker dengan kerah putih, yang sudah sepuluh tahun terlalu kecil untuk tubuhnya dan sekarang menempel ketat di bahunya, dengan lengan yang berhenti di pertengahan lengan bawah dan keliman yang naik di atas pergelangan kaki.
Seragam murid kelas satu.
Dia menurunkan tangan perlahan, dan matanya terbuka.
Mata itu gelap. Jernih. Utuh. Dan sama sekali tidak berawan, tidak seperti mata Penyeret, tidak seperti mata makhluk yang memanggil nama Ji-ho dari balik pagar.
Mata itu adalah mata manusia.
“Jangan,” katanya. Suaranya bergetar karena cahaya. “Jangan dekat-dekat.”
Bukan suara perempuan muda yang sabar yang mereka dengar dari balik pintu.
Bukan suara anak kecil yang meminta makan kepada ayahnya.
Ini suara ketiga. Rapuh, tipis, seperti suara orang yang berbicara untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama.
Ji-ho menyadari sesuatu yang membuat tengkuknya dingin.
Dua suara yang mereka dengar selama ini bukan dua suara. Itu satu suara yang dipakai bergantian, seperti orang yang berganti-ganti pakaian karena tidak pernah memiliki satu pun yang pas.
Dia meniru suara perempuan dewasa ketika dia ingin didengar.
Dia meniru suara anak kecil ketika dia ingin disayang.
Dan suara yang ketiga ini, yang tidak meniru siapa pun, adalah suara yang tidak pernah didengar siapa pun selama sepuluh tahun.
Suara yang sebenarnya.
“Ayah,” kata Dae-hyun.
Suara pria itu hancur pada suku kata pertama.
Dia melangkah maju, dan Ji-ho menahan lengannya, bukan karena dia takut, melainkan karena dia sudah belajar bahwa dalam sepuluh tahun terakhir, setiap kali seseorang melangkah maju terlalu cepat, seseorang mati.
“Pelan,” bisiknya.
Dae-hyun berhenti. Lalu dia berlutut.
Bukan berlutut seperti orang yang berdoa. Berlutut seperti orang yang ingin berada pada ketinggian yang sama dengan orang yang dia sakiti.
“Su-a,” katanya.
Kim Su-a.
Nama yang selama sepuluh tahun tidak diucapkan oleh satu pun manusia di dunia ini.
Gadis kecil itu menatapnya.
Lalu dia mengulurkan tangan kirinya.
Telapaknya menghadap ke atas, jari-jarinya terbuka, dan Ji-ho melihatnya dengan sangat jelas dalam cahaya lentera.
Jari manisnya lebih pendek dari seharusnya.
Tulangnya pernah patah dan disambung oleh seseorang yang tidak tahu caranya, sehingga jari itu berhenti satu ruas lebih pendek dari jari di sebelahnya, dengan sudut yang miring sedikit ke dalam.
Ji-ho tidak bisa bernapas.
Dua minggu yang lalu, di gudang kebun, dia berjongkok di depan lubang yang digali dari dalam, melihat bekas tangan di tanah yang mengering, dan dia mengenali jari itu.
Dan dia tahu siapa pemiliknya.
Dia tahu, dengan kepastian yang tidak pernah memberinya ruang untuk ragu sedikit pun, bahwa jari itu milik Yoon Ji-hwan, bahwa kakaknya menggenggam gagang pintu tangga darurat sepuluh tahun yang lalu, bahwa makhluk di balik pagar itu adalah kakaknya, dan bahwa seluruh dunia akan menjadi lebih masuk akal kalau itu benar.
Tetapi tangan ini bukan tangan laki-laki berumur delapan belas tahun.
Tangan ini adalah tangan anak perempuan berumur tujuh tahun yang tidak pernah tumbuh.
Dan Ji-ho mengerti, di ruangan beton selebar empat meter itu, bahwa dia sudah membohongi dirinya sendiri dengan cara yang paling mudah dan paling mematikan.
Bukan karena buktinya mengarah ke Ji-hwan.
Tetapi karena dia ingin buktinya mengarah ke Ji-hwan.
Karena kalau yang menggali lubang itu adalah kakaknya, maka rasa bersalahnya punya alamat. Kalau yang menatapnya dari balik pagar adalah kakaknya, maka sepuluh tahun rasa bersalah itu bisa dibayar dengan satu kalimat maaf.
Dan kalau bukan kakaknya, maka rasa bersalahnya tidak punya alamat. Dan dia harus hidup dengan itu.
Ji-ho menurunkan lentera karena tangannya mulai gemetar dan dia tidak ingin siapa pun melihatnya.
Di depannya, Kim Dae-hyun meraih tangan anaknya dan memegangnya dengan kedua tangan, dan menangis tanpa suara di atas telapak tangan yang terlalu kecil itu.
“Ayah minta maaf,” katanya. “Ayah minta maaf. Ayah minta maaf.”
Kim Su-a tidak menjawab.
Dia membiarkan tangannya dipegang, tetapi dia tidak membalas genggaman itu, dan Ji-ho mencatatnya, karena itulah kebiasaannya, dan karena dalam sepuluh tahun hidup berdampingan dengan kematian dia sudah belajar bahwa yang paling berbahaya bukanlah makhluk yang menyerang, melainkan makhluk yang sudah lama berhenti membalas genggaman.
Lalu Su-a menoleh ke arah Ji-ho.
“Kamu yang punya gelang itu,” katanya.
Ji-ho menelan ludah.
“Ya.”
“Aku dengar dari bawah. Setiap kali kamu lewat koridor. Gelangnya bunyi kalau kamu jalan.”
Ji-ho tidak menyadari bahwa gelang itu berbunyi.
“Aku tahu namamu sebelum kamu tahu namaku,” kata Su-a. “Karena ayah menyebut namamu. Beratus-ratus kali. Di depan pintu. Waktu dia tidak tahu aku bisa dengar.”
Dae-hyun mendongak.
“Kamu dengar...”
“Ayah bicara sendiri setiap malam,” kata Su-a. Suaranya datar, tanpa kemarahan, dan itulah yang membuatnya tidak tertahankan. “Ayah bilang, Yoon Ji-ho itu anak yang paling berani yang pernah kulihat. Ayah bilang, kalau ada yang bisa menyelamatkan mereka, itu dia. Ayah bilang, aku tidak bisa memberitahunya karena kalau dia tahu, dia akan membuka pintu ini.”
Hening.
Lalu Su-a berkata, “Dan sekarang dia sudah membukanya.”
Seo-yeon melangkah maju dengan kotak perban, berlutut di ambang pintu tanpa masuk, dan meletakkan kotak itu di lantai beton di depan Su-a.
“Namaku Han Seo-yeon,” katanya. “Aku yang mengurus klinik. Kalau kamu mau, aku bisa memeriksamu. Tidak perlu sekarang. Tidak perlu besok. Kapan saja kamu mau.”
Su-a menatap kotak itu lama sekali.
Lalu dia menatap Seo-yeon, dan untuk pertama kalinya sejak pintu itu terbuka, sesuatu di wajahnya berubah.
“Ada orang yang menanyakan apa yang kumau,” katanya.
Tidak ada yang menjawab, karena tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa selama sepuluh tahun, tidak ada satu pun manusia yang pernah menanyakan apa yang dia mau.
“Terima kasih,” kata Su-a.
Lalu dia menoleh kembali ke arah Ji-ho, dan wajahnya kembali menjadi wajah yang tidak bisa dibaca.
“Kamu berpikir ayah yang mengurung aku,” katanya.
Ji-ho tidak menjawab.
“Semua orang berpikir begitu. Kamu berpikir begitu. Dia di luar sana berpikir begitu.”
Dia menunjuk ke arah corong besi di sudut atas, ke arah terowongan, ke arah utara, ke arah luar.
“Padahal tidak.”
Dae-hyun mengangkat wajahnya.
“Su-a...”
“Ayah tidak mengurung aku,” kata Kim Su-a. “Aku yang minta dikurung.”
Ruang beton itu menjadi sangat sunyi.
Dari corong besi di sudut, angin turun dengan bunyi pelan seperti napas.
“Kenapa,” tanya Ji-ho.
Kim Su-a menurunkan tangannya ke lantai, menelapakkan kedua tangan di beton, dan mencondongkan badannya sedikit ke depan dengan cara yang membuat Ji-ho teringat pada sesuatu yang pernah dilihatnya sepuluh tahun lalu, di lapangan sekolah, pada barisan orang-orang yang berdiri menghadap gunung.
“Karena kalau aku keluar,” katanya, “mereka akan datang.”
“Mereka siapa.”
“Semua.”
Ji-ho menelan ludah.
“Untuk apa.”
Kim Su-a menatapnya, dan di matanya ada sesuatu yang bukan kesedihan dan bukan kemarahan, melainkan kelelahan yang berumur sepuluh tahun.
“Untuk mendengarkan,” katanya.
Lalu dia menambahkan, sangat pelan:
“Dan yang di luar itu paling lama menunggu.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!