Mereka pergi sebelum fajar, dengan cara yang sama seperti mereka datang.
Tidak ada bunyi. Tidak ada perintah. Tidak ada gerakan turun dari balok. Ji-ho, yang tidak tidur sepanjang malam, hanya menyadari bahwa langit-langit itu kosong ketika cahaya kelabu pertama masuk lewat jendela tinggi dan dia bisa melihat balok beton itu dengan jelas.
Kosong.
Delapan ekor menghilang dari aula berukuran tiga ratus meter persegi tanpa membangunkan satu pun dari seratus tiga puluh sembilan orang yang tidur di bawahnya.
Ji-ho berdiri, membuka balok pintu, dan melangkah keluar sendirian.
Halaman kosong. Tidak ada bangkai. Tidak ada jejak darah. Tidak ada satu pun tanda bahwa delapan makhluk menghabiskan semalam di atas kepala mereka.
Yang paling menakutkan bukan bahwa mereka bisa masuk. Yang paling menakutkan adalah bahwa mereka bisa pergi, dan mereka memilih untuk pergi.
Penghitungan dilakukan di halaman pada jam enam pagi.
Seratus tiga puluh sembilan orang, berdiri berbaris dalam tiga kelompok. Dae-hyun menghitung dari depan, Bu Kang digantikan oleh Pak Choi yang menghitung dari belakang dengan tangan yang masih terbalut.
Seratus tiga puluh sembilan.
Tidak ada yang mati.
Tidak ada yang luka.
Ji-ho berdiri di barisan belakang dan menghitung untuk ketiga kalinya, karena dia tidak percaya pada angka yang terlalu bagus.
Maka hitungan ketiga itulah yang membuatnya sadar.
Seratus tiga puluh sembilan sudah termasuk Ha-neul?
Dia menghitung barisan anak-anak.
Tujuh belas anak. Dua belas di bawah sepuluh tahun. Lima remaja. Dan Jeong Ha-neul tidak ada di antara mereka.
Ji-ho menemukannya di dapur, duduk di lantai di sudut dekat drum air, memegang botol air kosong, dengan lutut ditarik ke dada.
Anak itu tidak menangis. Dia sudah melewati tahap menangis, dan itu yang membuat Ji-ho ingin memukul sesuatu.
“Kamu keluar lewat ventilasi belakang panggung,” kata Ji-ho.
Ha-neul mendongak.
“Kawatnya...”
“Aku yang memotongnya.”
“Oh.”
Hening.
Ha-neul meletakkan botolnya.
“Anak yang menangis tadi,” katanya. “Yang ditenangkan Nenek. Dia mau minum. Aku pikir kalau aku bangun, aku bisa mengambil air tanpa membangunkan siapa pun. Aku tidak mau membuat ribut.”
Ji-ho berjongkok di depannya.
“Lalu?”
“Lalu aku ke dapur. Pintunya tidak dikunci.”
Ji-ho menahan napasnya.
“Pintu dapur selalu dikunci dari dalam oleh Nenek sebelum tidur. Selalu.”
“Aku tahu.”
“Dan malam ini terbuka.”
“Terbuka,” ulang Ha-neul. “Dan ada orang di dalam.”
Ji-ho tidak bergerak.
“Kamu melihatnya?”
“Tidak. Aku dengar bunyi dari ruang gudang, lalu aku sembunyi di bawah meja. Dan dia lewat. Aku cuma lihat kakinya.”
“Kaki.”
“Sepatu bot. Hitam. Dan sebelah kiri...” Ha-neul menunjuk tumitnya sendiri. “...solnya tidak rata. Terkelupas. Aku lihat dari bawah meja karena lantainya miring.”
Ji-ho menutup mata selama satu detak.
Sepatu bot militer. Sol kiri terkelupas.
Sama seperti jejak di kebun. Sama seperti sepatu bot Oh Seung-tae.
“Berapa lama dia di dalam.”
“Tidak lama. Dia ambil sesuatu. Lalu dia keluar lewat pintu belakang, bukan lewat pintu yang kulewati.”
“Kamu melihat wajahnya?”
“Tidak.”
“Tingginya?”
Ha-neul menggeleng.
“Aku cuma lihat kakinya, Ji-ho. Aku tidak berani melihat yang lain.”
Ji-ho mengulurkan tangan dan menarik anak itu berdiri.
“Dengar,” katanya. “Kamu melakukan hal yang sangat bodoh. Kalau ada apa-apa, kamu mati, dan tidak ada yang tahu di mana kamu berada sampai pagi.”
“Aku tahu.”
“Dan kamu juga melakukan hal yang paling berguna yang dilakukan siapa pun malam ini.”
Ha-neul menatapnya.
“Karena sekarang ada saksi,” kata Ji-ho. “Dan saksi lebih berharga daripada senjata.”
Ruang gudang dapur dikunci dari luar dengan rantai yang tidak pernah dibuka kecuali Nenek Park ada di sana.
Nenek Park membukanya pada jam tujuh pagi, mendengarkan semuanya tanpa bertanya, lalu berkata satu kalimat:
“Kedelai hilang lagi.”
“Berapa banyak,” tanya Ji-ho.
“Dua genggam. Tiga hari sekali. Sudah enam minggu.”
Enam minggu.
Ji-ho menoleh ke arah Seo-yeon yang berdiri di ambang pintu, dan dia tahu gadis itu menghitung hal yang sama.
Enam minggu yang lalu: jatah mulai menyusut. Terowongan didorong dari dalam. Dae-hyun keluar dari Ruang Bawah jam tiga pagi membawa sekop. Lubang digali di gudang kebun. Luka di leher Baek Seung-ho, dua penjaga, dan Penyelinap. Darah di catatan pertama.
Semuanya pada minggu yang sama.
Nenek Park mengangkat satu karung kosong dan membaliknya.
“Dan bukan cuma kedelai,” katanya. “Beras juga. Sedikit-sedikit. Tidak pernah banyak. Seperti orang yang tidak mau ketahuan, bukan seperti orang yang lapar.”
Ji-ho berjongkok di depan rak kayu di sudut.
Lantai di bawah rak itu kotor, tetapi ada satu bagian yang tidak kotor.
Dua garis selebar tiga puluh senti, paralel, melintang di lantai berdebu, dari dinding ke arah rak.
Seperti sesuatu berat yang diseret berulang-ulang.
Ji-ho mengikuti garis itu dengan mata.
Berhenti di dinding.
Dia mengetuk dindingnya dengan buku jari.
Kosong.
“Bukan kosong,” kata Seung-tae dari pintu.
Ji-ho menoleh.
Mantan tentara itu berdiri di ambang dengan wajah yang belum dicuci dan mata yang merah setelah tiga malam tanpa tidur.
“Aku tahu ruang itu ada,” katanya. “Aku menemukannya delapan bulan yang lalu. Dan aku tidak melaporkannya.”
Dae-hyun, yang baru saja masuk, berhenti di belakangnya.
“Jelaskan,” katanya.
Seung-tae menceritakannya di ruang kosong lantai dua, dengan pintu dikunci dan hanya empat orang di dalam: dia, Dae-hyun, Ji-ho, dan Seo-yeon.
“Delapan bulan yang lalu aku menemukan terowongan servis di lereng utara. Yang batu bara.”
Dae-hyun tidak bereaksi. Itu yang paling mencurigakan.
“Aku tidak melaporkannya karena pada saat itu aku mengira ada penyintas di luar yang memakainya. Aku pikir kalau aku melapor, kalian akan menutupnya, dan kalau kalian menutupnya, kita kehilangan satu-satunya jalan keluar darurat yang tidak diketahui siapa pun selain aku.”
“Dan?” kata Dae-hyun.
“Aku memakainya. Tujuh kali. Keluar malam, cari jejak, kembali sebelum subuh. Tidak pernah ketahuan, tidak pernah membawa apa pun masuk, tidak pernah membunuh apa pun dalam radius dua kilometer supaya jejaknya tidak tertarik ke sini.”
“Kenapa kamu tidak bilang.”
“Karena kamu menyimpan sesuatu di balik pintu bawah itu, dan aku ingin tahu apa dulu sebelum aku bicara.”
Ruangan itu diam.
Lalu Dae-hyun berkata, dengan suara yang sangat pelan, “Dan sekarang?”
“Sekarang aku tahu bahwa delapan bulan terakhir ini aku bukan satu-satunya yang memakai terowongan itu. Dan aku salah orang.”
“Maksudmu,” kata Ji-ho.
“Aku mengikuti jejak sepatu bot itu ke sini enam kali. Enam kali. Selalu berhenti di dapur. Selalu hilang di ruang gudang. Dan setiap kali aku mengira itu aku yang ceroboh meninggalkan jejak.”
Dia mengangkat kakinya dan meletakkan sepatu botnya di atas meja.
Sol kirinya terkelupas di tumit.
“Ini sepatu botku. Satu-satunya pasang yang kupunya. Dan aku tidak pernah ke dapur malam-malam.”
Dae-hyun menatap sepatu itu.
Lalu dia berkata, “Buka ruang di balik dinding itu.”
Panelnya berada di balik rak, tersembunyi oleh karung beras kosong yang ditumpuk dengan rapi.
Seung-tae membukanya dengan mencongkel dua paku yang longgar.
Ruang di baliknya selebar satu setengah meter, panjangnya dua meter, tingginya satu meter dua puluh.
Dan ruang itu bukan gudang.
Ruang itu adalah tempat tinggal.
Di sudut ada tumpukan karung yang diratakan menjadi alas tidur, dengan selimut tipis yang dilipat. Di dinding ada paku tempat jaket digantung. Di lantai ada ember kecil, dan di dalam ember itu ada air bersih.
Dan di rak yang dipaku ke dinding, tersusun rapi: kedelai, beras, garam dalam bungkusan kain, dan tiga kaleng yang sudah kosong.
Makanan curian.
Tidak ada yang memakannya di sini. Semua dibungkus, disusun, disiapkan untuk dibawa keluar.
Ji-ho mengangkat lentera.
Di dinding, di sebelah alas tidur, ada goresan.
Ratusan.
Goresan vertikal, dikelompokkan lima-lima dengan satu goresan miring yang melintang, seperti orang yang menghitung hari.
Ji-ho menghitung kelompoknya.
Lima puluh dua kelompok.
Dan di ujungnya, masih berlanjut dengan goresan yang lebih baru, lebih dalam, lebih tergesa-gesa.
Seratus tujuh. Seratus delapan. Seratus sembilan.
Seratus sembilan hari.
Tiga setengah bulan.
Seseorang tinggal di dalam dinding dapur Guryong selama tiga setengah bulan tanpa diketahui siapa pun, dan menghitung hari.
Dan di bawah goresan terakhir, lebih kecil, ada satu coretan yang bukan goresan.
Gambar.
Sebuah pintu, terbuka.
“Seung-tae,” kata Ji-ho. “Sepatu bot yang satunya. Cari.”
Seung-tae mencari di balik karung.
Dan menemukannya.
Sepatu bot militer. Hitam. Sol kiri terkelupas di tumit, polanya terhapus separuh.
Sepasang. Bukan miliknya.
Di dalam sepatu bot kiri ada selembar kertas yang dilipat.
Ji-ho membukanya.
Peta. Digambar tangan, tidak rapi, tetapi akurat: denah Guryong, gedung utama, asrama, dapur, kebun, Tembok Utara.
Dan satu lingkaran, digambar berulang-ulang sampai kertasnya hampir berlubang, di titik yang sama.
Koridor bawah. Pintu baja.
Ji-ho menurunkan kertas itu.
Di sebelahnya, Dae-hyun berdiri dengan wajah yang tidak bisa dibaca.
“Guru,” kata Ji-ho. “Goresan di dinding ini seratus sembilan hari. Terowongan itu rusak enam minggu yang lalu. Empat puluh dua hari.”
“Aku tahu caranya berhitung.”
“Jadi yang tinggal di sini mulai menghitung enam puluh tujuh hari sebelum terowongan rusak.”
Dae-hyun tidak menjawab.
Ji-ho menoleh ke arah Seung-tae, lalu kembali ke arah Dae-hyun, lalu ke arah panel yang terbuka.
Dan pada saat itu, tanpa bunyi, tanpa angin, tanpa satu pun dari mereka yang menyentuhnya, panel itu menutup.
Terdengar bunyi klik.
Terkunci.
Keempatnya berdiri dalam kegelapan yang hanya diterangi satu lentera, di ruangan selebar satu setengah meter, terkunci dari luar.
Seung-tae memukul panel itu dengan bahu. Tidak bergerak.
Dae-hyun memanggil. Tidak ada jawaban.
Lalu, dari sisi lain panel kayu itu, sangat dekat, seolah-olah mulut itu menempel di kayu tepat di sebelah telinga Ji-ho, terdengar suara.
Suara perempuan muda. Jernih. Sabar.
“Kamu salah orang.”
Ji-ho tidak bernapas.
“Sepatu bot itu dipinjam,” kata suara itu.
Hening sepanjang satu detak jantung.
“Dan yang meminjamnya sudah enam minggu tidak butuh sepatu.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!