DUA PERJALANAN

0 dibaca

A

Udara di dalam ruangan mendingin oleh embusan angin dari kisi-kisi jendela besi berukir, kontras dengan terik matahari Batavia yang memanggang jalanan batu di luar. Tidak ada suara dentum meriam atau derap sepatu kuda militer. Hanya suara gesekan ujung pena di atas kertas perkamen dan dengung pelan kipas angin gantung dari langit-langit kayu jati.

Aku duduk di atas kursi sandaran beludru hijau, topi segitiga berbulu domba kuletakkan di atas lutut. Di sekelilingku, meja-meja kerja besar dipenuhi tumpukan bundel laporan finansial setinggi dada. Para pejabat tinggi VOC berjas hitam kelimis lalu-lalang tanpa suara, membawa map-map tebal berlabel stempel lilin merah.

Pintu ganda di ujung ruangan berderit pelan. Seorang juru tulis membungkuk, mempersilakan aku masuk ke ruang kerja utama Gubernur.

Gubernur Hindia Belanda berdiri di dekat jendela, kedua tangannya melipat di punggung, menatap lurus ke arah kanal pelabuhan yang dipadati tiang-tiang kapal dagang.

”Kolonel Hendrick Van der Velde.”

Aku bangkit berdiri, memberi hormat militer sekadarnya. “Tuan Gubernur.”

Ia berbalik pelan. Wajahnya pucat, matanya dikelilingi lingkaran hitam keletihan birokrasi. Ia menunjuk kursi di seberang meja kerja dengan dagu. “Duduk.”

Aku kembali duduk. Bundel laporan berikat benang sutra digeser ke hadapanku. “Anda tahu mengapa Dewan Tujuh Belas di Amsterdam mengirim Anda ke Hindia?” tanya Gubernur, menatapku tajam.

”Tidak, Tuan,” jawabku tenang.

Gubernur tersenyum tipis. “Bagus. Karena jika Anda tahu, Anda mungkin akan menolak penugasan ini.”

Ia melangkah kembali ke kursinya, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu mahoni. “Enam tahun terakhir, kas VOC di wilayah ini selalu mengalami defisit yang tidak masuk akal. Laporan dari gudang rempah tidak pernah cocok dengan manifest kapal yang berlabuh. Pajak dari pelabuhan pesisir hilang di tengah jalan. Muatan perak berkurang sebelum sempat dimasukkan ke dalam brankas benteng.”

Aku mendengarkan dalam diam, jemariku meremas pinggiran topi di atas lutut.

”Kami membutuhkan seseorang yang bersih dari jaringan pedagang lokal di Batavia,” lanjut Gubernur. “Seseorang yang tidak memiliki utang budi dengan para sindikat pelabuhan, dan yang terpenting... seseorang yang tidak mudah dibeli.” Ia berhenti sejenak. “Nama Anda yang diajukan.”

Dokumen penugasan dengan stempel basah Dewan Hindia disorongkan ke hadapanku.

”Mulai hari ini,” suara Gubernur merendah, “Anda memimpin audit penuh atas seluruh administrasi keuangan dan logistik VOC di seluruh wilayah Hindia.”

Aku berdiri meninggalkan ruangan itu beberapa menit kemudian.

Di sepanjang koridor batu benteng yang lembap, para pegawai administrasi yang berlalu-lalang menatapku sekilas. Sebagian membungkuk memberi hormat kaku, sebagian besar lainnya langsung mengalihkan pandangan, mempercepat langkah, dan menghindari kontak mata.

Saat menuruni anak tangga batu menuju halaman benteng, langkahku melambat sesaat.

Di antara kerumunan buruh angkut dan pedagang pribumi yang keluar-masuk gerbang, seorang perempuan berdiri memeluk keranjang anyaman di dadanya. Wajahnya tertutup caping bambu, tetapi matanya terangkat sejenak ke arahku, lalu segera menunduk ketika seorang serdadu melintas. Hanya beberapa detik.

Aku bahkan tidak mengenalnya. Namun entah mengapa, tatapan singkat itu tetap tertinggal di benakku ketika aku melanjutkan langkah menuju kantor administrasi.

Bau debu tua dan tinta asam mengepung rongga hidungku sejak matahari belum sepenuhnya naik ke puncak tiang bendera.

Di hadapanku, meja kayu panjang dipenuhi tumpukan buku besar bersampul kulit babi. Aku membuka halaman demi halaman laporan logistik bulan lalu, mencocokkan angka demi angka menggunakan ujung pena.

Seorang kepala gudang pribumi berdiri di samping mejaku, kedua tangannya bertumpu sopan di depan perut, sementara keringat mengalir deras di pelipisnya.

”Gudang rempah sektor pelabuhan melapor ada tiga puluh peti pala diterima minggu ini,” kataku tanpa mendongak, mataku meneliti kolom hitung.

Kepala gudang itu menelan ludah. “B-benar, Tuan Kolonel.”

”Manifest bongkar muat kapal De Dordrecht mencatat hanya dua puluh tujuh peti.” Aku mendongak, menatap matanya lurus-lurus. “Mana yang benar?”

Ruangan arsip mendadak sunyi senyap. Suara goresan pena dari meja-meja pegawai lain di sudut ruangan berhenti total. Kepala gudang itu menunduk semakin dalam, jemarinya meremas ujung seragam linennya.

”...mungkin juru tulis salah menulis angka di pelabuhan, Tuan,” jawabnya terbata-bata.

”Tiga peti rempah senilai ratusan gulden tidak mungkin salah ditulis,” kataku datar, menutup buku log itu. “Besok pagi, saya akan turun langsung menghitung isi gudang nomor empat.”

Kepala gudang itu membungkuk kaku dan mundur perlahan dalam diam.

Malam merayap turun. Pelita minyak di atas meja kerjaku berkedip-kedip melawan angin malam yang menyusup lewat jeruji jendela.

Gedung administrasi sudah kosong. Seluruh pegawai pulang sebelum lonceng malam berbunyi, meninggalkan tumpukan angka yang sengaja dibiarkan berantakan di setiap meja. Aku menarik buku harian bersampul kulit domba dari saku mantelku, membuka halaman kosong, dan mencelupkan pena ke dalam botol tinta.

...Batavia ternyata bukan sekadar kota rempah. Kota ini dibangun di atas tumpukan angka-angka palsu. Para pegawai di sini terlalu takut untuk bersuara, dan mereka yang tidak takut justru adalah orang-orang yang paling diuntungkan dari kekacauan ini...

...Setiap catatan keuangan yang kubuka selalu menyisakan selisih. Seseorang sengaja membuat lubang besar di dalam pembukuan kompeni, dan lubang itu semakin dalam semakin aku mencarinya...

...Semua orang di benteng ini tampak menyembunyikan sesuatu di balik seragam rapi mereka...

Tetesan tinta terakhir mengering perlahan di atas kertas buram.

Lampu neon kuning di langit-langit kamar kos berukuran tiga kali tiga meter berdengung pelan, memantulkan bayangan tiga orang yang duduk bersila di atas lantai ubin dingin.

“Gimana tadi?” Almaz menutup buku catatan Hendrick, lalu menoleh ke arah Abde dan Xavier.

Abde mendesah panjang. “Apanya?”

“Catatan Hendrick.”

“Maz...” Abde mengusap wajahnya pelan. “Dari tadi yang kita bahas bukan Hendrick.”

Almaz mengernyit.

“Kita lagi mikirin gimana caranya berangkat.” Abde menunjuk ponsel, dompet, dan buku catatan yang berserakan di lantai. “Lo malah asyik tenggelam di diary itu.”

Xavier terkekeh pelan. “Gue udah bilang juga. Kalau nggak gue tarik bukunya, paling besok pagi lo masih baca.”

Almaz tersenyum tipis, lalu menutup diary sepenuhnya. “Iya... maaf.”

Abde menggeleng pelan. “Denger dulu. Kita udah sepakat, kan? Nggak ada kampus, nggak ada pemerintah. Berarti logistik perjalanan kita tanggung sendiri. Bertiga.” Ia menarik dompetnya ke tengah lantai. “Jadi sekarang bukan mikirin Hendrick dulu.”

Abde menatap Almaz dan Xavier bergantian. “Sekarang kita hitung... kita sanggup berangkat sejauh apa.”

Ponsel Xavier dan dompet Abde tergeletak di depan mereka bertiga.

Abde membalik dompetnya kosong. “Gue cuma pegang uang saku buat bayar cicilan UKT semester ini.”

Xavier menggeser kunci kontaknya ke tengah lingkaran, menatap benda itu tajam. “Mobil gue masih bisa digadai. Nilainya cukup buat nutup ongkos jalan dua minggu.”

Almaz meraih ponselnya, membuka aplikasi mobile banking, ia menatap saldo tabungannga di layar ponselnya. “Tabungan gue cukup buat beli bensin pulang-pergi. Nggak lebih.”

Suara dengung kulkas tua di sudut kamar mengisi keheningan.

Abde menarik buku catatan spiral lusuh ke hadapannya. Ia membuka tutup pulpen, mencoret-coret lembaran kertas.

“Bensin motor lo kurang lebih habis tiga ratus ribu buat PP ke lokasi arsip daerah,” tulis Abde sambil menggumam pelan.

“Kalau kita numpang tidur di SPBU atau masjid pinggir jalan, kita nggak perlu keluar duit buat penginapan,”

Xavier merentangkan peta wilayah Jawa Barat, menindihnya dengan asbak rokok. “Jangan gila. Kita butuh tempat buat nge-charge laptop dan nyimpen file scan. Sewa kos harian paling murah lima puluh ribu.”

Almaz kembali membuka salinan fotokopi jurnal ekspedisi, meraba permukaan kertasnya yang kasar. “Kita nggak butuh tempat nyaman. Kita cuma butuh akses ke lokasi yang dicatat dalam log pelayaran.”

Abde mengetuk ujung pulpennya di atas meja. Xavier menghitung sisa limit di dompet digitalnya.

“Kita mulai dari mana?” Abde menoleh ke arah Almaz.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk