Aturan nomor delapan tidak pernah tertulis. Tapi dalam dua minggu, keduanya menaatinya lebih rajin daripada tujuh aturan yang lain.
Setiap pagi, jam enam kurang lima, ada secangkir kopi di meja makan. Di depan kursi Jenar. Hitam, tanpa gula, kadang masih mengepul, kadang sudah suam-suam kuku kalau Jenar terlalu lama keramas. Tidak ada catatan. Tidak ada label nama.
Di hari ketiga, ada roti bakar di sebelahnya. Dua lembar. Mentega dan meses cokelat, dipotong diagonal.
Di hari kelima, roti bakarnya gosong di pinggir. Jenar memakannya tanpa komentar.
Di hari ketujuh, rotinya tidak gosong, dan mesesnya diganti selai kacang. Jenar tidak pernah bilang ia lebih suka selai kacang. Ia hanya meninggalkan dua lembar roti bermeses yang tidak habis di hari keenam, dan menghabiskan roti selai kacang di hari ketujuh sampai remah terakhir.
Mereka tidak pernah membicarakannya.
Galih sudah pergi ke kedai waktu Jenar keluar dari kamar mandi. Jenar sudah tidur waktu Galih pulang, atau pura-pura tidur, dengan lampu kamar dimatikan dan telinga yang mendengarkan bunyi pagar besi, kunci diputar, sepatu dilepas di teras, langkah di lorong yang berhenti sebentar di depan pintu kamarnya, lalu lanjut ke ruang kerja.
Selalu berhenti sebentar. Dua detik. Tiga.
Jenar tidak tahu kenapa. Ia tidak pernah bertanya.
Soal galon, Jenar kalah telak.
Ia sudah bersumpah di meja makan malam pertama. Aku bisa ngangkat galon. Jadi di hari Sabtu pagi, waktu galon di dispenser tinggal seperempat dan tukang galon langganan mengantarkan dua galon baru ke teras, Jenar berdiri di depan salah satunya dengan tangan di pinggang, seperti atlet angkat besi yang sedang menghitung beban.
Sembilan belas liter. Sembilan belas kilo. Ditambah plastiknya.
Ia bisa.
Ia jongkok. Memeluk galon itu. Mengangkat.
Galon itu naik sepuluh senti dari lantai teras dan berhenti di sana, bergoyang, seperti tidak yakin ingin ikut dengannya.
“Oke,” gumam Jenar. “Oke, oke, oke.”
Ia berjalan. Pelan. Terhuyung. Melewati ambang pintu. Melewati ruang tengah. Galon itu memeluknya balik, dingin dan berat dan licin di bagian bawah karena embun.
Di ambang dapur, ia mendengar pintu ruang kerja terbuka.
Galih keluar dengan kaus kusut dan rambut berantakan. Hari Sabtu. Satu-satunya hari ia bangun jam delapan. Ia berhenti di lorong dan memandangi Jenar yang sedang memeluk galon di tengah jalan menuju dispenser, wajahnya merah, lututnya menekuk.
“Mbak.”
“Jangan.”
“Aku belum ngomong apa-apa.”
“Muka kamu udah.”
Galih mengangkat kedua tangan dan bersandar di dinding lorong. Menonton.
Jenar sampai di dispenser. Sekarang bagian yang sulit. Galon itu harus dibalik, diangkat setinggi dada, lalu dimasukkan ke lubang di atas dispenser tanpa menumpahkan setetes pun.
Ia menarik napas panjang. Membalik galon.
Air langsung menyembur dari mulut galon yang tutupnya belum ia buka dengan benar. Ke kakinya. Ke lantai. Ke kaus piyamanya. Jenar memekik dan hampir menjatuhkan semuanya, dan dalam kepanikan ia malah membalik galon itu lagi, dan air menyembur ke arah sebaliknya, ke dinding dapur, ke kalender, ke magnet-magnet di pintu kulkas.
Dua tangan muncul dari belakangnya dan menangkap galon itu.
Galih mengangkatnya dengan satu gerakan. Membalik. Menekan mulutnya ke lubang dispenser. Bluk. Air naik ke tabung bening dengan bunyi gelembung yang besar dan puas.
Hening.
Jenar berdiri di genangan air dengan piyama basah dari dada sampai lutut. Rambutnya meneteskan air. Ada kalender yang basah di dinding, dan tanggal-tanggal di bulan ini mulai luntur tintanya.
Galih berdiri di sebelahnya, juga basah di bagian depan kaus.
Mereka memandangi dispenser yang sekarang penuh dan tenang, seperti tidak terjadi apa-apa.
“Aku bisa ngangkat galon,” kata Jenar pelan.
“Iya.”
“Yang tadi itu tutupnya yang salah.”
“Iya.”
“Aku ngangkatnya udah bener.”
“Iya, Mbak. Ngangkatnya udah bener.”
Jenar menoleh dan melihat bahu Galih bergetar. Tidak kelihatan dari depan. Tapi dari samping, jelas. Rahangnya dikunci. Matanya menyipit. Ia sedang menahan tawa dengan seluruh kekuatan di tubuhnya.
“Kamu ketawa,” tuduh Jenar.
“Nggak.”
“Bahu kamu goyang.”
“Kedinginan. Basah.”
“Galih.”
Tawanya pecah. Tidak bisa ditahan lagi. Pendek dan keras, seperti bersin. Ia langsung menutup mulut dengan tangan dan memalingkan wajah ke kulkas, tapi sudah terlambat.
Jenar menatapnya. Lalu, tanpa izinnya, bibirnya sendiri ikut bergetar.
Ia mengambil gelas plastik dari rak piring, mengisinya dengan air dari dispenser yang baru terisi, dan menyiramkannya ke punggung Galih.
Galih berbalik dengan mulut terbuka.
“Nah,” kata Jenar. “Sekarang kita sama-sama basah.”
Mereka berdiri di dapur yang banjir, basah kuyup, saling memandang. Lalu Galih tertawa lagi, kali ini tidak ditahan, dan Jenar ikut tertawa, dan tawanya aneh dan serak dan sudah lama tidak dipakai, seperti pintu yang engselnya berkarat.
Tawa mereka berhenti di saat yang sama. Seperti biasa. Seperti ada saklar di antara mereka yang tiba-tiba dimatikan.
Galih berdehem. “Aku ambil pel.”
“Aku ambil lap.”
Mereka mengepel dapur dalam diam. Tapi di satu titik, waktu Jenar berjongkok untuk mengelap kalender yang luntur, ia melihat Galih di sudut matanya. Berdiri di dekat kulkas dengan gagang pel di tangan. Memandangi kertas USG di pintu kulkas, yang ujungnya basah terkena cipratan air.
Galih mengambil selembar tisu dari meja. Menempelkannya pelan-pelan di ujung kertas USG itu, menyerap airnya, sangat hati-hati, seperti menyeka air mata dari pipi seseorang.
Jenar memalingkan wajah sebelum Galih menyadari ia melihatnya.
Pemanas air masih rusak di minggu kedua.
Galih sudah menelepon tukang dua kali. Tukang pertama tidak datang. Tukang kedua datang, memandangi pemanas air itu selama sepuluh menit, menggeleng, dan bilang harus ganti baru. Tiga juta.
“Tiga juta?” Jenar memandangi pemanas air di dinding kamar mandi lorong, kotak putih yang sudah menguning, dengan lampu indikator yang tidak mau menyala. “Kak Leknor beli ini baru dua tahun lalu.”
“Kata tukangnya elemennya kebakar.”
“Elemennya kebakar karena apa?”
“Kata tukangnya nggak tahu.”
“Tukangnya nggak tahu, tapi tahu harus ganti baru tiga juta?”
Galih mengangkat bahu. “Aku bukan tukang.”
“Aku juga bukan.” Jenar menyipitkan mata ke kotak putih itu. “Tapi aku arsitek.”
Hari Minggu sore itu, Galih pulang dari kedai dan menemukan Jenar berdiri di atas bangku plastik di kamar mandi lorong, dengan obeng di mulut, senter di kepala yang diikat pakai karet rambut, dan ponsel yang menyangga di tepi wastafel memutar video YouTube dengan judul Cara Memperbaiki Water Heater Tidak Panas Sendiri Tanpa Tukang.
Tutup pemanas air sudah terbuka. Kabel-kabel merah dan biru terjulur keluar.
Galih berdiri di ambang pintu kamar mandi. “Mbak.”
Jenar tidak menoleh. “Jangan.”
“Aku belum...”
“Aku tahu muka kamu.”
“Listriknya udah dimatiin?”
Jenar berhenti. Obeng di mulutnya bergerak. Ia memandang ke atas, ke kabel-kabel yang terjulur. Lalu ke bawah, ke Galih.
“Udah,” katanya, sedikit terlalu lambat.
Galih berbalik dan berjalan ke kotak meteran listrik di dekat pintu dapur. Jenar mendengar bunyi klik. Lampu kamar mandi mati. Hanya senter di kepalanya yang tersisa.
Hening dalam gelap.
“Sekarang udah,” kata Galih dari dapur.
Jenar memejamkan mata dan menggigit obeng lebih keras.
Mereka memperbaikinya berdua. Jenar di atas bangku, membaca instruksi dari video dan mengurai kabel. Galih di bawah, memegang senter kedua dan ponsel, memutar ulang video setiap kali laki-laki di YouTube itu bicara terlalu cepat dengan logat Surabaya yang kental. Ternyata bukan elemennya yang kebakar. Ternyata termostatnya yang kotor, penuh kerak kapur dari air tanah Cilandak yang keras. Jenar membersihkannya dengan sikat gigi bekas dan cuka.
Satu jam kemudian, Galih menaikkan saklar di kotak meteran. Lampu indikator pemanas air menyala merah.
Mereka berdua berdiri di kamar mandi lorong yang sempit, memandangi lampu merah kecil itu.
Jenar menyalakan keran shower. Airnya dingin. Lalu hangat. Lalu panas, mengepul, memenuhi kamar mandi dengan uap.
“Nah,” kata Jenar. Bangga. Senter masih di kepalanya. “Tiga juta.”
Galih memandanginya. Senter di dahi. Bekas kerak kapur putih di pipi. Rambut yang lepas dari ikatan dan menempel di pelipis karena keringat. Obeng terselip di saku celana pendeknya.
“Kamu,” katanya pelan, lalu berhenti.
“Apa?”
Ia menggeleng. “Nggak.”
“Apa, Galih?”
“Kamu keren.”
Jenar mengerjap.
Galih sudah berbalik dan keluar dari kamar mandi sebelum ia sempat membalas. Tapi Jenar melihat telinganya. Merah. Sampai ke tengkuk.
Keesokan paginya, jam lima lewat lima puluh, Galih keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan wajah yang tidak menggigil untuk pertama kalinya dalam dua minggu.
Di meja makan, di depan kursi Jenar, ada secangkir kopi. Dan dua lembar roti bakar selai kacang. Tidak gosong sedikit pun.
Hana berangkat ke Belanda di hari Jumat malam, penerbangan jam sebelas lewat empat puluh.
Fadlan meminta Galih menyetir. “Gue nggak bisa nyetir pulangnya,” katanya di telepon, suaranya aneh. “Gue tahu diri gue.”
Jadi mereka berempat di satu mobil. Galih menyetir. Jenar di kursi penumpang depan, karena Hana dan Fadlan sudah duduk di kursi belakang sebelum ada yang sempat berdebat. Koper besar Hana di bagasi. Koper kabin di kaki Fadlan.
Satu jam perjalanan ke bandara. Tol lingkar luar macet di Pondok Pinang. Tidak ada yang bicara banyak.
Jenar melirik spion tengah sekali. Di kursi belakang, Hana dan Fadlan duduk di ujung masing-masing, jendela lawan jendela, dengan jarak satu orang di antara mereka. Tangan Hana di pahanya sendiri. Tangan Fadlan di pahanya sendiri.
Di tengah, di jok yang kosong, jari kelingking mereka bersentuhan. Hampir tidak. Tapi bersentuhan.
Jenar mengalihkan pandangan ke jendela sebelum ada yang menyadarinya.
Di sebelahnya, Galih juga sedang melirik spion tengah. Mata mereka bertemu di pantulan kaca kecil itu. Galih mengangkat alis sedikit. Jenar menahan senyum dan menggeleng pelan. Jangan.
Galih kembali memandang jalan. Tapi sudut bibirnya naik.
Terminal tiga penuh orang, lampu putih, dan pengumuman keberangkatan dalam tiga bahasa.
Hana memeluk Jenar di depan pintu masuk keberangkatan internasional. Lama. Sampai orang-orang harus berbelok di sekitar mereka.
“Gue bakal telepon tiap hari,” bisik Hana.
“Jangan. Nanti tagihan lo mahal.”
“Gue pakai WiFi kampus.”
“Oke. Tiap hari.”
“Lo harus makan.”
“Gue makan.”
“Lo harus tidur.”
“Gue tidur.”
“Lo harus nangis kalau mau nangis.”
Jenar tidak menjawab. Tapi pelukannya mengencang.
Hana menarik diri. Memandang wajah Jenar dengan kedua tangan di pipinya, seperti ibu yang memeriksa anaknya sebelum berangkat sekolah. Lalu matanya bergeser. Melewati bahu Jenar. Ke laki-laki yang berdiri dua langkah di belakangnya, dengan tangan di saku celana dan wajah yang sopan dan datar.
Hana melepaskan Jenar. Berjalan dua langkah. Berdiri tepat di depan Galih.
Ia harus mendongak. Galih jauh lebih tinggi. Tapi Hana berdiri dengan dagu terangkat seperti yang lebih tinggi adalah dirinya.
“Gue titip Jenar,” katanya.
Galih memandanginya. “Saya nggak...”
“Gue nggak nanya lo mau atau nggak. Gue bilang gue titip.” Suara Hana pelan, supaya Jenar tidak mendengar. Tapi Jenar mendengar. “Dia nggak punya siapa-siapa lagi. Dia nggak bakal bilang dia butuh apa-apa. Dia nggak bakal nangis di depan lo. Tapi dia butuh. Jadi lo jagain dia.”
Galih diam.
“Dan kalau lo nyakitin dia lagi...” Hana berhenti. Menggigit bibir. Di belakangnya, Jenar menahan napas.
“Lagi?” tanya Galih pelan.
Hana mengerjap. Seperti baru sadar ia hampir mengatakan sesuatu yang tidak boleh ia katakan. Janji, Han.
Galih menunggu. Matanya menyipit sedikit. Bukan marah. Bingung. Seperti orang yang menemukan satu kata yang tidak cocok di kalimat yang ia kira sudah ia hafal.
“Kalau lo nyakitin dia,” ulang Hana, lebih tegas, tanpa kata lagi, “gue terbang balik dari Belanda. Gue nggak peduli berapa harga tiketnya.”
Galih memandanginya lama. Lalu, pelan, ia mengangguk.
“Oke,” katanya.
“Oke apa?”
“Oke, saya jagain dia.”
Hana menatapnya. Seperti mencari kebohongan di wajahnya. Seperti tidak menemukannya dan tidak tahu harus merasa apa.
Lalu ia berbalik. Ke Fadlan.
Fadlan berdiri di sebelah troli koper dengan tangan di saku jaket. Wajahnya aneh. Seperti orang yang sedang berusaha keras tidak memasang wajah apa pun.
“Hana,” katanya.
“Fadlan.”
“Kamu hati-hati.”
“Iya.”
“Makan yang bener. Di sana dingin.”
“Iya.”
“Kalau ada apa-apa...”
“Aku telepon kamu,” kata Hana. “Aku tahu.”
Fadlan mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Kantong kertas cokelat kecil, dilipat di bagian atas dan dijepit dengan penjepit kayu.
“Kopi,” katanya. “Dari Lembang. Supplier baru.”
Hana memandangi kantong itu. Lalu tertawa. Tawa yang pecah di tengah jadi sesuatu yang lain.
“Kamu beneran cari supplier di Lembang.”
“Aku harus punya alasan buat bolak-balik, kan?”
Hana mengambil kantong itu. Memeluknya di dada. Lalu, tanpa peringatan, ia berjinjit dan mencium pipi Fadlan. Cepat. Sekali. Lalu berbalik dan mendorong troli ke pintu masuk tanpa menoleh.
Fadlan berdiri membeku. Tangannya terangkat ke pipi.
Di balik pintu kaca, Hana berhenti. Menoleh sekali. Melambai. Lalu menghilang di antrean pemeriksaan.
Tidak ada yang bicara selama sepuluh detik.
“Lan,” kata Galih akhirnya.
“Diem.”
“Lan.”
“Gue bilang diem, Gal.”
“Lembang itu luas, ya?”
Fadlan memutar badan dan meninju bahu Galih. Keras. Galih tertawa sambil mengusap bahunya. Jenar tertawa juga, menutup mulut dengan tangan.
Lalu Fadlan berhenti meninju. Ia berdiri di tengah terminal tiga yang terlalu terang, dengan tangan masih terkepal, dan matanya tiba-tiba merah.
“Setahun, Gal,” katanya pelan. “S2-nya setahun.”
Galih berhenti tertawa. Ia melangkah maju dan merangkul bahu sahabatnya. Tidak berkata apa-apa. Hanya merangkul, dan menepuk punggungnya dua kali, dan membiarkan Fadlan menunduk di bahunya di tengah terminal yang ramai.
Jenar memandangi mereka berdua.
Laki-laki yang pergi tanpa pamit di tengah malam. Yang memblokir nomornya di rest area. Yang memanggilnya Mbak dan menginjak kakinya di bawah meja. Sekarang berdiri merangkul sahabatnya yang menangis diam-diam di tengah bandara, dan tidak melepaskannya.
Ia tidak tahu mana yang Galih yang sebenarnya.
Galih tidak pernah tahu apa yang membangunkannya malam itu.
Mungkin sofa. Retakan di sandaran yang menekan tulang belikatnya. Mungkin kucing tetangga di atap seng. Mungkin tidak ada apa-apa. Mungkin hanya kebiasaan baru yang tidak ia sadari, terbangun setiap beberapa jam dan mendengarkan rumah, seperti penjaga malam.
Jam tiga lewat sepuluh.
Rumah sunyi. Jam dinding di ruang tengah berdetak. Kulkas berdengung.
Lalu ia mendengarnya.
Bukan air, kali ini. Bukan sikat plastik di bak semen. Bunyi yang lain. Sangat pelan. Tersendat-sendat, seperti seseorang yang berusaha bernapas di bawah air.
Dari dapur.
Galih bangkit. Sofa mengeluh. Ia berjalan ke lorong dengan kaki telanjang, pelan, melewati pintu kamar Jenar yang terbuka separuh dan kasurnya yang kosong.
Lampu dapur tidak menyala. Hanya lampu kulkas yang terbuka, cahaya putih kekuningan yang tumpah ke lantai keramik.
Jenar duduk di lantai. Punggung di pintu lemari bawah. Kaki ditekuk, lutut di dada. Di pangkuannya ada toples kaca. Toples kue kering, dengan tutup merah, dan label kertas yang ditempel di sisinya dengan selotip.
Tutupnya terbuka. Bau nastar menguar ke seluruh dapur. Mentega dan nanas dan kayu manis.
Jenar memeluk toples itu dengan dua tangan. Dahinya di atas tutup yang terbuka. Bahunya berguncang.
Galih berhenti di ambang dapur.
Ia bisa membaca labelnya dari sini. Tulisan tangan yang bulat dan besar dan sedikit miring. Lingkaran kecil di atas huruf i.
Buat Jenar kalau lembur. Jangan dihabisin sekali duduk! A.
Toples itu pasti di lemari atas. Di balik tumpukan piring. Jenar pasti mencari sesuatu, gelas mungkin, atau teh, dan menemukannya.
Satu minggu lalu, dari balik jendela ruang kerja, Galih menonton Jenar menggosok jins di bak semen dan tidak bergerak. Tangannya di gagang jendela dan tidak bergerak.
Dia nggak bakal nangis di depan lo. Tapi dia butuh.
Galih melangkah masuk.
Lantai keramik dingin di bawah telapak kakinya. Jenar mendengar langkahnya dan tersentak. Mengangkat kepala. Wajahnya basah dan merah dan hancur di bawah cahaya kulkas. Ia buru-buru mengusap pipinya dengan punggung tangan, tapi air matanya terus turun, dan usapannya tidak berguna.
“Maaf,” katanya. Suaranya pecah. “Aku bangunin kamu. Maaf. Aku balik ke kamar...”
“Jangan.”
Jenar berhenti di tengah gerakan berdiri.
Galih tidak mendekat. Ia tidak berjongkok di sebelahnya. Tidak menyentuh bahunya. Tidak bilang sabar, ya atau nggak apa-apa atau Kak Astri udah tenang. Semua kalimat itu sudah ia dengar ratusan kali di tahlilan, dari mulut orang-orang yang tidak pernah menyetrika kemeja atau membisikkan nama bayi di dapur.
Ia hanya berdiri di tengah dapur dan berkata, “Tunggu sebentar.”
Lalu ia berbalik dan berjalan ke ruang kerja.
Ranselnya masih tersandar di kaki meja gambar Leknor. Ransel yang sama yang ia bawa dari Kona. Ia belum membongkarnya sepenuhnya. Ia tidak bisa. Setiap kali ia membuka ritsletingnya, bau kabut dan tanah vulkanik keluar, dan ia menutupnya lagi.
Ia membukanya sekarang.
Di dasar ransel, dibungkus kaus abu-abu supaya tidak pecah, ada kantong kertas cokelat kecil. Dilipat tiga kali di bagian atas. Label tulisan tangan dari kakek pemilik kebun, dalam huruf kapital yang goyah. KONA. PEABERRY. FOR YOUR SISTER. CONGRATULATIONS.
Galih memandangi label itu lama.
Lalu ia membawanya ke dapur.
Jenar masih duduk di lantai. Ia tidak berdiri. Ia memandangi Galih yang kembali dengan kantong kertas di tangan, dan wajahnya bingung di balik air mata.
Galih tidak menyalakan lampu dapur. Ia menyalakan lampu kecil di bawah lemari atas, yang cahayanya kuning dan redup. Lalu mengeluarkan penggiling kopi manual dari kardus di bawah wastafel, yang belum ia bongkar sejak pindahan. Penggiling kayu dengan engkol besi, yang ia beli di pasar loak di Bandung waktu umur dua puluh dan tidak pernah ia ganti meskipun sekarang ia punya mesin yang harganya dua puluh kali lipat.
Ia menuang biji kopi ke dalamnya. Menimbangnya dengan mata. Mulai memutar engkol.
Krek. Krek. Krek.
Bunyinya pelan dan berirama. Mengisi dapur yang sunyi. Bau kopi yang baru digiling menyebar, bercampur dengan bau nastar, dan untuk sesaat dapur itu tidak berbau duka.
Jenar memperhatikan dari lantai. Tangisnya mulai mereda. Bukan berhenti. Hanya pelan. Seperti hujan yang berubah jadi gerimis.
“Itu apa?” tanyanya serak.
“Kopi.”
“Aku tahu itu kopi.”
Galih terus memutar engkol. Krek. Krek.
“Dari Kona,” katanya. “Hawaii. Kebun yang aku datengin pas...” Ia berhenti. Memutar engkol lagi. “Pas itu.”
Jenar diam.
“Kak Astri minta dibawain,” lanjut Galih. Suaranya datar. Terlalu datar. Seperti jembatan yang dipasang di atas jurang. “Waktu di bandara. Dia bilang, bawain aku kopi Kona. Satu cangkir. Pas Jihan udah lahir. Buat ngerayain.”
Engkolnya berhenti.
Jenar mengangkat kepala.
“Jihan,” ulangnya.
Galih tidak menoleh. Ia membuka laci penggiling kecil di bawah engkol. Bubuk kopi yang baru digiling, cokelat tua dan halus dan wangi.
“Itu namanya,” katanya ke bubuk kopi itu. “Kak Astri yang milih. Dia bisikin ke aku di dapur ini, pas tujuh bulanan. Dia bilang jangan kasih tahu siapa-siapa. Dia mau kasih tahu Kak Leknor pas lahir. Kejutan.”
“Nisannya,” kata Jenar. Suaranya nyaris hilang. “Waktu aku balik ke makam, papan nisannya udah ganti. Udah ada namanya. Aku nggak tahu siapa yang...”
“Aku.”
Jenar menutup mulutnya dengan tangan.
“Artinya dunia,” kata Galih. “Dalam bahasa Persia. Kak Astri bilang anak itu bakal jadi dunia buat Kak Leknor.”
Ia menuang air ke ketel. Menyalakan kompor. Api biru menyala di bawah ketel, dan bunyinya satu-satunya suara di dapur itu.
Jenar menangis lagi. Tapi berbeda sekarang. Tidak tersendat. Tidak tertahan. Keluar begitu saja, pelan dan jujur, seperti orang yang akhirnya berhenti menahan pintu.
Galih tidak menoleh. Ia berdiri di depan kompor, menunggu air mendidih, memberi Jenar punggungnya supaya ia bisa menangis tanpa ditonton. Ia menyiapkan dua cangkir. Menyiapkan saringan kertas. Menunggu.
Air mendidih. Ia mematikan api. Menunggu setengah menit.
Lalu ia menuang. Pelan. Melingkar. Seperti di kedai Kang Ujang. Seperti yang ia ajarkan pada barista-baristanya di Mampang.
Bau kopi Kona memenuhi dapur. Berbeda dari kopi mana pun yang pernah Jenar cium. Manis dan lembut, seperti karamel dan kacang, dengan sesuatu yang asam dan cerah di ujungnya, seperti buah yang baru dipetik.
Galih membawa dua cangkir itu.
Dan ia melakukan sesuatu yang tidak Jenar duga. Ia duduk di lantai.
Tidak di sebelahnya. Di seberangnya. Punggung di pintu kulkas yang masih terbuka sedikit, cahayanya jatuh di bahu Galih. Kakinya ditekuk seperti kaki Jenar. Ada satu meter lantai keramik di antara mereka.
Ia menyodorkan satu cangkir melintasi jarak itu.
Jenar mengambilnya dengan dua tangan. Hangat. Sangat hangat.
“Ini buat Kak Astri,” katanya pelan.
“Iya.”
“Terus kenapa kamu kasih ke aku?”
Galih memandangi cangkirnya sendiri. Uap naik dari permukaannya, meliuk-liuk di cahaya kulkas.
“Karena dia nggak bisa minum,” katanya. “Terus kopinya harus diminum sama orang yang dia sayang. Kalau nggak, sia-sia. Kopi itu nggak boleh disimpen lama-lama. Nanti apek. Nanti rasanya ilang.”
Jenar memandanginya.
“Kak Astri sayang kamu,” lanjut Galih pelan. “Kamu tahu itu, kan?”
Jenar mengangguk. Tidak bisa bicara.
Ia menyesap kopi itu.
Dan ia menangis lagi. Tapi sambil tersenyum. Karena kopinya enak sekali. Karena Astri pasti akan menghabiskan cangkir ini dalam tiga tegukan dan minta tambah. Karena Leknor pasti akan melarangnya dan Astri pasti tidak akan mendengarkan. Karena ia bisa membayangkan semua itu dengan sangat jelas, di dapur ini, di bawah lampu kuning kecil, dan membayangkannya sakit sekali, dan juga indah sekali.
Mereka minum dalam diam. Duduk di lantai dapur dengan satu meter keramik di antara mereka. Kulkas berdengung. Jam dinding berdetak.
“Kak Leknor lupa nama lengkap Kak Astri pas akad,” kata Jenar tiba-tiba. “Kamu yang bisikin.”
Galih mengangkat kepala. “Kamu lihat?”
“Aku duduk di barisan depan.”
Sudut bibir Galih bergerak. “Dia pucet banget. Kayak mau pingsan.”
“Dia latihan semaleman. Aku denger dari kamarku. Dia ngomong sendiri di ruang kerja. Saya terima nikah dan kawinnya Astri Ayuningtyas. Seratus kali. Terus pas beneran, lupa.”
Galih tertawa. Pelan. Ke dalam cangkirnya.
“Kak Astri cerita,” katanya, “hari pertama dia kerja di biro, dia kira Kak Leknor tukang servis AC.”
“Aku tahu! Dia cerita di Casa Lidia.”
“Terus Kak Leknor turun dari tangga, ngelap tangan, terus bilang saya yang nanda tangan kontrak kerja kamu kemarin.”
“Pakai muka datar.”
“Pakai muka datar banget.”
Jenar tertawa. Air mata dan tawa, bercampur, tidak bisa dipisahkan lagi. Galih tertawa juga. Dan kali ini tidak ada saklar yang tiba-tiba mati. Tawa mereka pelan-pelan reda sendiri, seperti gelombang yang sampai di pantai dan surut dengan tenang.
Mereka bercerita. Tentang Leknor yang menjemput Jenar di sekolah dengan motor butut. Tentang Astri yang mematahkan hidungnya sendiri di final voli kejuaraan daerah dan tetap main sampai set kelima. Tentang Leknor yang menyetrika kemeja tiga kali. Tentang Astri yang menggedor pintu kamar Galih tiga hari setelah pemakaman ayah mereka, lalu menyerah dan duduk di depan pintu itu dan membacakan buku komik keras-keras sampai Galih akhirnya membuka pintu untuk menyuruhnya diam.
“Dia gitu terus,” kata Galih. “Nggak pernah nyerah. Nyebelin banget.”
“Kayak kamu.”
Galih mengangkat kepala.
“Kamu nggak nyerah bikinin aku kopi,” kata Jenar pelan. “Tiap pagi. Dua minggu. Padahal aku nggak pernah bilang makasih.”
Galih memandanginya melintasi satu meter lantai dapur. Lama. Cahaya kulkas di bahunya. Cangkir kosong di tangannya.
“Kamu nggak perlu bilang makasih,” katanya.
“Tapi aku mau.”
“Kalau gitu bilang.”
“Makasih.”
“Sama-sama.”
Hening. Tapi bukan hening yang berat. Hening yang lain. Hening seperti di teras hotel malam pertama, jam dua pagi, dengan selimut di lutut.
Jenar menguap. Tidak sengaja. Ia menutup mulut dengan tangan, malu.
“Tidur,” kata Galih.
“Sebentar lagi.”
“Udah jam empat.”
“Sebentar lagi,” ulang Jenar, dan kepalanya bersandar ke pintu lemari di belakangnya, dan matanya terpejam.
Galih menunggu. Lima menit. Sepuluh.
Napas Jenar melambat. Teratur. Cangkir kosong di tangannya miring, hampir jatuh.
Galih bangkit pelan-pelan. Mengambil cangkir itu dari tangannya. Meletakkannya di meja dapur. Ia menutup toples nastar yang masih terbuka di pangkuan Jenar, pelan, supaya kuenya tidak jadi lembek. Menempatkannya di meja, di sebelah cangkir.
Lalu ia berdiri memandangi Jenar yang tertidur di lantai dapur.
Ia bisa membangunkannya. Menyuruhnya pindah ke kamar. Tapi wajahnya, untuk pertama kalinya sejak Galih melihatnya lagi di Casa Lidia, terlihat tenang. Tidak menahan apa-apa.
Ia berjalan ke ruang tengah. Di atas sofa, terlipat rapi di sandarannya, ada selembar kain. Kain yang dulu selalu ada di sana. Yang Astri pakai untuk menyelimuti kakinya setiap malam sambil menonton televisi. Yang ia pakai untuk menyelimuti siapa saja yang tertidur di sofa itu.
Galih mengambilnya.
Kain batik. Cokelat keemasan.
Tangannya berhenti.
Ia mengenali motifnya. Ia mengenali warnanya. Ia mengenali sobekan kecil di ujungnya, tempat label harga dulu disematkan dengan peniti. Ia membelinya sendiri, di pasar oleh-oleh Pangandaran, di kios yang penjualnya bilang buat pacarnya, A? dan ia menjawab buat kakak saya.
Ia meninggalkannya di kamar dua-empat-satu. Di dalam kantong plastik hitam. Bersama kaus kekecilan untuk Fadlan dan dinosaurus untuk Kiki.
Dan tiga minggu sebelum pernikahan kakaknya, kantong itu sampai di kedainya di Mampang.
Galih memberikan kain ini pada Astri. Astri memakainya setiap malam. Menyelimuti siapa pun yang tertidur di sofa. Tetap, tapi pengertiannya digeser: Galih sudah menduga sejak dulu bahwa Jenar pengirimnya. Yang baru ia pahami malam itu adalah kain itu berputar kembali, dipakai Astri untuk menyelimuti Jenar setiap kali ia menginap.
Ia berdiri di ruang tengah yang gelap dengan kain batik di tangan, di bawah foto pernikahan dalam bingkai kayu jati.
Anggap aja ini mengisi waktu gue melupakan kakak lo.
Orang yang mengisi waktu, pikirnya, tidak repot-repot mengirim kardus ke kedai yang alamatnya harus dicari sendiri. Tidak repot-repot membungkus dinosaurus plastik supaya tidak patah. Tidak menyimpan kalung perak yang rantainya masih kelihatan di leher, setahun kemudian, di pesta pernikahan.
Atau mungkin iya. Mungkin orang baik memang begitu. Mengembalikan barang orang lain, meskipun orang itu cuma pengisi waktu.
Ia tidak tahu.
Ia kembali ke dapur. Berjongkok di depan Jenar. Membentangkan kain batik itu dan menyelimutinya, pelan, dari bahu sampai kaki. Menariknya sedikit lebih tinggi supaya lehernya tertutup.
Di balik kerah kaus piyama Jenar, rantai perak tipis berkilau di bawah lampu kuning kecil.
Galih memandanginya. Tangannya berhenti di udara, di atas bahu Jenar.
Sesenti.
Lalu ia menarik tangannya kembali. Berdiri. Mematikan lampu kulkas dengan menutup pintunya.
Ia tidak kembali ke sofa. Ia duduk lagi di lantai dapur, di seberang Jenar, dengan punggung di pintu kulkas. Satu meter keramik di antara mereka. Menunggu subuh.
Seperti penjaga malam.
Jenar terbangun jam enam lewat sepuluh dengan leher pegal, punggung sakit, dan bau kopi di hidungnya.
Ia di lantai dapur. Kain batik cokelat keemasan menyelimutinya sampai leher.
Ia duduk pelan-pelan. Kain itu melorot ke pangkuan. Ia mengenalinya. Tentu saja ia mengenalinya. Ia yang membungkusnya dengan kertas koran sebelum memasukkannya ke kardus untuk dikirim ke kedai di Mampang, setahun lalu. Ia yang diselimuti kain ini oleh Astri di sofa ruang tengah, belasan kali, di malam-malam ia lembur, tanpa pernah mengatakan pada Astri bahwa ia tahu dari mana kain ini berasal.
Siapa yang menyelimutinya sekarang?
Ia menoleh.
Dapur kosong. Lampu kuning kecil di bawah lemari sudah mati. Di meja dapur, cangkir kosong semalam sudah dicuci dan ditelungkupkan di rak. Toples nastar tertutup rapat.
Di meja makan, di depan kursinya, secangkir kopi. Masih mengepul. Dan dua lembar roti bakar selai kacang.
Rumah sunyi. Kunci mobil tidak ada di gantungan.
Jenar berdiri. Memeluk kain batik itu di dada. Berjalan ke meja makan dan duduk.
Ia memandangi pintu kulkas. Tujuh aturan dalam tulisan tangannya dan tulisan tangan Galih. Kertas USG di sebelahnya. Magnet bola voli.
Ia mengambil pulpen dari tasnya.
Lalu ia berjalan ke kulkas dan, di bawah aturan nomor tujuh, dengan tulisan tangannya yang tegak dan kecil-kecil, tulisan arsitek, ia menambahkan satu baris.
8. Roti bakarnya jangan gosong lagi.
Ia mundur selangkah dan memandanginya. Lalu, setelah ragu sebentar, ia menambahkan satu kata lagi di bawahnya, lebih kecil.
Makasih.
Galih pulang jam sembilan malam. Kedai Mampang sedang ramai-ramainya, dan ia menutup kasir sendiri karena kepala barista sakit. Rumah gelap. Lampu kamar Jenar sudah mati.
Ia melepas sepatu di teras. Masuk. Berjalan ke dapur untuk minum.
Ia membuka kulkas. Mengambil botol air. Menutup pintunya.
Lalu ia melihatnya.
Baris kedelapan. Tulisan tegak dan kecil-kecil. Dan di bawahnya, satu kata, lebih kecil lagi.
Galih berdiri di dapur yang gelap dengan botol air dingin di tangan, memandangi pintu kulkas, dan untuk pertama kalinya sejak Pangandaran, ia tersenyum dengan cara yang sampai ke matanya.
Di lorong, dalam perjalanan ke ruang kerja, ia berhenti di depan pintu kamar Jenar.
Dua detik. Tiga.
Dari balik pintu itu, samar sekali, ia mendengar napas yang teratur. Tidur yang sungguhan. Bukan pura-pura.
Ia melanjutkan langkah.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!