Hari Minggu sore, Jenar sedang menggambar tampak samping rumah orang lain ketika bel pintu berbunyi.
Proyek Pondok Indah. Rumah dua lantai dengan jendela-jendela besar menghadap kolam renang. Proyek terakhir yang Leknor tangani sendiri, yang gambarnya ia tinggalkan setengah jadi di meja gambar di ruang kerja. Jenar memindahkannya ke meja lipat di pojok ruang tengah seminggu lalu. Kliennya menelepon kantor tiga kali, bertanya dengan sopan yang semakin tipis kapan gambar kerjanya selesai.
Jenar sudah menggambar ulang tampak samping ini empat kali. Setiap kali ia menarik garis, ia melihat garis Leknor di bawahnya, samar-samar di balik kertas kalkir. Tegak. Rapi. Tidak pernah melenceng dua milimeter.
Bel berbunyi lagi.
Galih di kedai. Selalu di kedai hari Minggu, karena hari Minggu paling ramai. Tidak ada tamu yang dijadwalkan. Aturan nomor lima.
Jenar meletakkan pensil dan berjalan ke pintu dengan kaus kebesaran dan rambut dijepit asal di atas kepala.
Ia membuka pintu.
Hanif berdiri di teras. Kemeja kotak-kotak biru. Celana bahan krem. Kacamata berbingkai tipis. Di tangan kanannya ada kantong plastik putih yang mengeluarkan uap samar dan bau santan dan daun jeruk. Di tangan kirinya ada kotak kecil. Kotak kardus putih, seukuran kotak cincin, diikat pita tipis warna krem.
“Hai, Jen,” katanya.
Jenar tidak langsung menjawab.
Dulu, kalau Hanif muncul di pintu rumah, ia akan panik. Ia akan lari ke kamar mandi untuk mengecek wajahnya. Ia akan berganti baju tiga kali. Ia akan menghitung detik sampai Hanif pergi, dan setelah ia pergi, ia akan memutar ulang setiap kata di kepalanya sampai subuh.
Sekarang ia berdiri di ambang pintu dengan kaus yang ada noda kopinya, dan tidak merasakan apa-apa kecuali lelah.
“Kak Hanif,” katanya. “Masuk.”
Hanif membawa soto Betawi dari warung di dekat SMP mereka. Warung Bang Jaelani, yang mangkuknya retak-retak dan kuahnya kental seperti bubur, yang dulu jadi tempat Hana dan Jenar makan setiap hari Jumat setelah ekstrakurikuler, dan kadang-kadang Hanif ikut kalau ia sedang libur kuliah.
“Kamu masih suka pakai paru, kan?” tanya Hanif sambil membuka bungkusan di meja makan.
“Masih.”
“Nggak pakai kentang.”
“Nggak pakai kentang.”
Hanif tersenyum kecil. “Aku masih inget.”
Dulu, kalimat itu akan membuat Jenar tidak bisa tidur tiga malam. Aku masih inget. Dulu, ia akan menganggapnya tanda. Bukti bahwa Hanif memperhatikannya. Bahwa tujuh tahun menunggu itu tidak sia-sia.
Sekarang ia hanya mengangguk dan mengambil dua mangkuk dari rak.
Mereka makan di meja makan bundar. Hanif duduk di kursi tamu, kursi yang biasa diduduki Galih. Jenar duduk di kursinya sendiri. Dua kursi di antara mereka kosong.
Sotonya enak. Sama persis seperti dulu. Jenar memakannya pelan-pelan dan merasakan kuah santan yang hangat mengalir ke perutnya, dan untuk sesaat ia hampir lupa kenapa Hanif ada di sini.
“Yuna titip salam,” kata Hanif.
“Makasih. Salam balik.”
“Dia mau dateng, sebenernya. Tapi dia jaga.”
“Nggak apa-apa.” Jenar menyendok paru. “Kalian jadi nikah kapan?”
Sendok Hanif berhenti. Sebentar. Hampir tidak kelihatan.
“Diundur,” katanya. “Jadwal jaga kami bentrok terus. Mungkin tahun depan.”
“Oh.”
“Iya.”
Ia menggaruk alisnya. Kebiasaan lama. Jenar melihatnya dan menunggu jantungnya melompat, seperti dulu.
Tidak melompat. Hanya berdetak. Biasa.
“Kamu gimana, Jen?” tanya Hanif setelah beberapa saat. “Beneran. Bukan jawaban sopan.”
Jenar meletakkan sendok. Memandangi kuah soto yang mulai dingin.
“Aku nggak tahu, Kak,” katanya jujur. “Kadang-kadang aku lupa. Aku bangun pagi, terus aku mikir, nanti sore aku harus mampir ke rumah Kak Leknor. Terus aku inget aku udah di rumah Kak Leknor. Terus aku inget kenapa.”
Hanif mengangguk pelan.
“Terus kadang-kadang aku nggak lupa sama sekali,” lanjut Jenar. “Kayak ada batu di sini.” Ia menyentuh dadanya. “Seharian. Nggak mau pindah.”
“Kamu tidur?”
“Kadang.”
“Makan?”
“Tiap pagi ada yang bikinin sarapan.”
Hanif mengangkat alis. “Siapa?”
Jenar tidak menjawab. Hanif memandang ke sekeliling ruang makan. Mesin espresso di meja dapur, yang jelas bukan milik Jenar. Sepatu laki-laki di rak dekat pintu belakang. Pintu kulkas dengan daftar aturan yang ditulis dua tulisan tangan berbeda.
“Oh,” kata Hanif. “Adiknya Kak Astri. Galih.”
“Kami tinggal di sini berdua. Wasiat Kak Leknor sama Kak Astri.” Jenar menjelaskan singkat. Syarat satu tahun. Tujuh malam. Rumah yang dijual kalau dilanggar.
Hanif mendengarkan dengan dahi berkerut.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya. “Tinggal sama dia?”
“Kenapa nggak apa-apa?”
“Nggak tahu.” Hanif ragu. “Waktu di IGD, dia kelihatan...”
“Kelihatan apa?”
“Kayak mau mukul aku.”
Jenar hampir tertawa. Hampir. “Dia emang mukanya gitu, Kak. Kayak kulkas.”
“Kulkas?”
“Panjang ceritanya.”
Hanif memandanginya lama. Lalu ia mengambil kotak kecil berpita krem yang tadi ia letakkan di sebelah mangkuk, dan mendorongnya pelan melintasi meja.
“Aku sebenernya ke sini buat ini,” katanya.
Jenar memandangi kotak itu. Kardus putih. Pita krem. Seukuran kotak cincin.
“Apa ini?”
“Buka aja.”
Ia menarik ujung pita. Simpulnya lepas dengan mudah. Ia membuka tutup kotaknya.
Di dalamnya, di atas kapas putih, ada dua benda.
Yang pertama adalah gelang. Gelang plastik rumah sakit, putih, sangat kecil. Terlalu kecil. Seukuran jari telunjuk Jenar. Kancingnya masih terkunci. Di permukaannya tertulis dengan tinta biru, dalam huruf kapital yang dicetak mesin: BY. NY. ASTRI AYUNINGTYAS. P. 2.450 GR.
Yang kedua adalah selembar kertas karton krem, dilipat dua. Jenar membukanya.
Dua jejak kaki. Tinta biru tua. Sangat kecil. Lebih kecil dari ibu jari Jenar. Sepuluh jari kaki yang mungil, masing-masing seperti biji kacang hijau. Garis-garis halus di telapaknya, jelas sekali, seperti peta sungai-sungai kecil.
Di bawahnya, tulisan tangan seorang perawat. Bayi Ny. Astri. Lahir 02.47 WIB.
Dan di bawahnya lagi, tulisan tangan yang lain. Tulisan dokter, miring dan terburu-buru, yang Jenar kenal dari resep-resep yang dulu Hana perlihatkan sambil tertawa. Jihan.
Nama itu ditambahkan belakangan. Tintanya berbeda. Hitam, bukan biru.
“Aku yang minta suster bikin cap kakinya,” kata Hanif pelan. “Setelah... setelah aku berhenti. Di rumah sakit kami, kadang-kadang itu dilakukan buat keluarga. Biar ada sesuatu. Aku nggak tahu kamu mau atau nggak. Aku simpen di loker aku tiga minggu. Aku nggak tahu kapan waktu yang tepat.”
Jenar tidak bisa bicara.
“Namanya aku tulis kemarin,” lanjut Hanif. “Hana bilang udah ada nisannya. Jihan. Aku pikir dia harus punya nama di sini juga.”
Jenar menyentuh jejak kaki itu dengan ujung jari. Tinta birunya sudah kering. Kertasnya sedikit kasar.
Sepuluh jari kaki. Masing-masing seperti biji kacang hijau.
Dedek nendang terus dari tadi. Kayaknya dia juga mau sate.
Kaki ini. Kaki ini yang menendang-nendang di perut Astri di jalan tol, di tengah hujan, di rest area dengan dua tusuk sate maranggi. Kaki ini yang Astri rasakan waktu ia mengetik pesan terakhirnya. Nanti aku kabarin kalau udah sampai.
Jenar merasakan sesuatu retak di dadanya. Bukan pelan-pelan, seperti malam di dapur dengan kopi Kona. Sekaligus. Seperti kaca yang dilempar batu.
Ia menutup mulutnya dengan tangan. Suara yang keluar dari tenggorokannya bukan suara yang pernah ia dengar dari dirinya sendiri.
Hanif sudah berdiri. Mengitari meja. Berlutut di sebelah kursinya.
“Jen.”
Jenar memeluk kertas karton itu di dadanya dan membungkuk sampai dahinya hampir menyentuh lutut.
Hanif memeluknya. Satu tangan di punggungnya. Satu tangan di kepalanya, di rambutnya yang dijepit asal. Jenar tidak menolak. Ia menempelkan wajahnya di bahu kemeja kotak-kotak biru itu dan menangis dengan suara yang pecah-pecah, keras, jelek, seperti anak kecil yang terjatuh dari sepeda.
Hanif juga menangis. Jenar bisa merasakannya dari cara bahunya bergetar. Dokter yang berusaha empat puluh menit. Yang memegang bayi itu di tangannya dan merasakannya tidak bernapas. Yang menyimpan jejak kakinya di loker selama tiga minggu karena tidak tahu kapan waktu yang tepat.
Mereka berpelukan di meja makan bundar, di antara dua mangkuk soto yang sudah dingin, dua orang yang dulu tidak pernah benar-benar saling mengenal, sekarang diikat oleh satu bayi yang tidak sempat membuka mata.
Galih membeli martabak di perempatan Fatmawati.
Ia tidak berniat membelinya. Ia sedang berhenti di lampu merah dalam perjalanan pulang dari kedai, lebih cepat dari biasanya karena listrik di ruko sebelah padam dan menyeret kedainya ikut padam, dan ia melihat gerobak martabak dengan lampu petromaks di trotoar. Asap mengepul dari wajan besar. Bau mentega dan gula.
Jenar tidak makan siang dua hari ini. Galih tahu karena bekal nasi yang ia siapkan di kulkas, dengan label nama Mbak Jenar ditulis di selotip kertas sesuai aturan nomor empat, masih utuh waktu ia pulang malam.
Ia menepi. Memesan martabak manis. Cokelat keju. Ekstra mentega.
Ia tidak tahu apakah Jenar suka cokelat keju. Ia tidak pernah bertanya. Tapi di pasar oleh-oleh Pangandaran, Jenar pernah berhenti di depan penjual kue pukis dan memandanginya lama, kue kecil berbentuk setengah lingkaran dengan taburan cokelat meses dan keju parut, dan tidak membelinya karena bilang sedang diet.
Diet dari apa? tanya Galih waktu itu.
Dari semua hal yang enak.
Kenapa?
Biar nggak nyesel pas pulang.
Ia tertawa waktu itu. Sekarang, di trotoar Fatmawati yang berdebu, sambil menunggu martabak yang digoreng, ia tidak tertawa. Ia hanya berdiri dengan tangan di saku dan memikirkan kalimat itu. Biar nggak nyesel pas pulang.
Martabak itu masih hangat di kotak kardusnya waktu ia sampai di depan pagar besi hijau jam empat sore.
Ada mobil di depan pagar. Sedan putih. Bukan mobil siapa pun yang ia kenal.
Galih memarkir mobilnya di belakang sedan itu. Memandangi pelat nomornya. Lalu stiker kecil di kaca belakang. Stiker parkir rumah sakit.
Ia turun. Membuka pagar. Pintu depan rumah tidak dikunci.
Ia masuk tanpa suara. Bukan karena sengaja. Karena kebiasaan. Kebiasaan dua minggu pulang malam ke rumah yang sunyi, melepas sepatu dengan pelan, berjalan di lorong dengan kaki telanjang supaya tidak membangunkan siapa pun.
Ia mendengar suara dari ruang makan.
Tangisan. Bukan tangisan yang tertahan, seperti di lorong samping di bawah bohlam kuning. Bukan tangisan yang pelan, seperti di lantai dapur dengan kopi Kona. Tangisan yang pecah. Keras. Seperti orang yang akhirnya dilempari batu.
Galih melangkah ke ambang ruang makan.
Dan berhenti.
Jenar duduk di kursinya. Membungkuk. Wajahnya di bahu seorang laki-laki yang berlutut di sebelahnya. Kemeja kotak-kotak biru. Kacamata berbingkai tipis yang sekarang miring di hidungnya. Satu tangan laki-laki itu di punggung Jenar. Tangan yang lain di rambutnya, di jepitan asal di atas kepala, mengusapnya pelan.
Hanif.
Kakaknya Hana.
Anggap aja ini mengisi waktu gue melupakan kakak lo.
Kotak martabak di tangan Galih tiba-tiba terasa sangat berat.
Ia tidak bisa bergerak. Ia berdiri di ambang ruang makan seperti orang yang salah masuk ruangan, dan memandangi Jenar menangis di pelukan laki-laki itu, dan merasakan sesuatu di dalam dirinya yang ia kira sudah mati di rest area setahun lalu tiba-tiba hidup lagi, dan menggigit.
Tiga minggu. Tiga minggu ia bangun jam setengah enam pagi untuk menyeduh kopi. Tiga minggu ia menggoreng roti di wajan yang terlalu panas sampai ia belajar sendiri cara yang benar. Tiga minggu ia berhenti di depan pintu kamar ini setiap malam dan mendengarkan, memastikan napas di baliknya teratur. Semalaman di lantai dapur dengan punggung di pintu kulkas, menunggu subuh, supaya kalau perempuan itu terbangun, ia tidak terbangun sendirian.
Dan perempuan itu tidak pernah menangis seperti ini di depannya.
Di depan laki-laki ini, iya.
Hanif mengangkat kepala.
Matanya merah. Kacamatanya berembun. Ia melihat Galih di ambang ruang makan, dengan kotak martabak di tangan dan wajah yang sudah menutup rapat seperti pintu besi.
Mereka saling memandang di atas kepala Jenar.
Hanif tidak melepaskan pelukannya. Tapi tangannya yang di rambut Jenar berhenti bergerak.
“Maaf,” kata Galih. Suaranya datar. Sopan. Petugas bank. “Saya ganggu.”
Jenar tersentak. Mengangkat kepala dari bahu Hanif. Menoleh.
Wajahnya hancur. Basah dan merah dan bengkak. Ada sesuatu di dadanya, dipeluk dengan dua tangan. Kertas. Karton krem.
“Galih,” katanya serak.
Galih tidak menunggu. Ia berjalan melewati ruang makan, ke dapur, dengan langkah yang sangat terukur. Ia membuka pintu kulkas. Meletakkan kotak martabak di rak tengah, di sebelah bekal nasi yang tidak dimakan. Ia mengambil spidol dari laci. Merobek selotip kertas. Menulis di atasnya dengan tangan yang, ia sadari dengan jengkel, sedikit gemetar.
Mbak Jenar.
Ia menempelkannya di tutup kotak martabak. Menutup kulkas. Pelan.
Lalu ia berdiri di dapur, memunggungi ruang makan, dan mencuci tangan di wastafel meskipun tangannya tidak kotor.
Hanif pulang sepuluh menit kemudian.
Jenar mengantarnya sampai ke teras. Di ambang pintu, Hanif berhenti dan menoleh ke dalam rumah, ke arah dapur, tempat Galih masih berdiri di depan wastafel mencuci satu cangkir yang sama untuk ketiga kalinya.
“Dia marah?” bisik Hanif.
“Nggak tahu.”
“Aku yang salah. Harusnya aku bilang dulu mau dateng.”
“Bukan salah Kakak.” Jenar memeluk kertas karton itu di dadanya. Kotak kecil di tangan kanan. “Makasih, Kak. Buat ini. Beneran.”
Hanif memandanginya. Lalu, dengan sedikit ragu, ia meletakkan tangan di bahu Jenar. Sebentar.
“Aku minta maaf, Jen,” katanya pelan. “Buat semuanya.”
Jenar tidak tahu semuanya itu apa. Mungkin empat puluh menit di ruang operasi. Mungkin tiga minggu jejak kaki di loker. Mungkin sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih tua, yang Hanif tidak pernah tahu dan tidak akan pernah Jenar ceritakan.
“Nggak ada yang perlu dimaafin, Kak,” katanya.
Hanif mengangguk. Ia berjalan ke pagar. Di sana ia berhenti lagi dan berbalik.
Galih sudah berdiri di ambang pintu depan, di belakang Jenar. Jenar tidak mendengarnya datang. Tangannya masih basah. Ia mengeringkannya dengan lap dapur.
Hanif dan Galih saling pandang melintasi halaman depan.
“Mas Galih,” kata Hanif.
“Dok.”
“Jagain dia, ya.”
Kalimat itu lagi. Dari Hana di bandara. Dari Astri di dapur. Sekarang dari laki-laki ini, di pagar besi hijau, dengan kacamata yang masih berembun.
Galih memandanginya lama.
“Dia bukan barang yang dititip-titipin,” katanya.
Hanif mengerjap. Jenar menoleh cepat ke belakang, ke wajah Galih yang datar dan dingin.
Lalu Hanif mengangguk pelan. Seperti mengerti sesuatu yang tidak Jenar mengerti. Ia masuk ke sedan putihnya dan pergi.
Jenar menutup pintu depan. Menguncinya. Berbalik.
Galih sudah berjalan kembali ke dapur. Ia membuka kulkas. Mengambil botol air. Tidak menuangnya ke gelas. Meminumnya langsung dari botol, lama, seperti orang yang baru lari maraton.
Jenar berdiri di ambang dapur. Kertas karton di dada. Kotak kecil di tangan.
“Galih.”
Ia tidak menoleh.
“Yang tadi itu...”
“Dia yang itu, kan?”
Jenar berhenti.
Galih menurunkan botol air. Masih memunggunginya. Memandangi pintu kulkas yang terbuka, cahaya putih kekuningan jatuh di wajahnya.
“Yang mana?” tanya Jenar pelan.
“Yang bikin kamu ke Pangandaran.”
Jenar menatap punggungnya. Kaus hitam kedai Pratama Coffee yang ada noda susu di bahunya. Rambut yang sedikit panjang di tengkuk, belum sempat dipotong sejak pemakaman.
Ia bisa berbohong. Ia bisa bilang bukan. Ia bisa bilang itu bukan urusan kamu.
Tapi ia baru menangis di bahu Hanif sampai kemeja kotak-kotak itu basah, dan ia terlalu lelah untuk berbohong.
“Iya,” katanya.
Galih diam. Rahangnya bergerak.
“Aturan nomor enam,” kata Jenar. “Jangan bahas pantai.”
“Aku nggak bahas pantai.” Galih akhirnya berbalik. Wajahnya tidak datar lagi. Ada sesuatu di sana yang Jenar tidak bisa baca. Bukan marah. Lebih rumit dari marah. “Aku nanya soal dia.”
“Kenapa?”
“Karena dia dateng ke rumah ini.”
“Dia dateng bawa...”
“Aku nggak peduli dia bawa apa.”
“Kamu nggak peduli?”
“Nggak.”
“Terus kenapa kamu nanya?”
Galih membuka mulut. Menutupnya.
Jenar menatapnya. Dan untuk pertama kalinya sejak Casa Lidia, sejak lorong sempit dengan foto-foto Venesia yang pudar, sejak kolam koi dan saya udah ngerti dan anggap nggak pernah ada, ia merasakan sesuatu yang lain di dadanya selain luka. Sesuatu yang kecil dan tajam dan sangat berbahaya.
Harapan.
“Kamu cemburu,” katanya. Pelan. Tidak percaya.
Wajah Galih menutup. Seketika. Seperti pintu besi yang dibanting.
“Nggak,” katanya.
“Galih...”
“Aku bilang nggak.”
Ia memasukkan botol air ke dalam kulkas. Menutup pintunya.
Keras.
Bunyinya menggema di dapur. Pintu kulkas terbanting ke badannya, dan seluruh kulkas bergetar. Magnet-magnet di pintunya berjatuhan. Magnet Bali. Magnet Yogyakarta. Magnet Singapura. Magnet bola voli, jatuh dan menggelinding di lantai keramik sampai ke kaki Jenar. Daftar aturan terlepas, melayang ke bawah seperti daun kering.
Dan kertas USG.
Kertas hitam putih itu meluncur dari pintu kulkas, pelan, berputar sekali di udara, dan jatuh telungkup di lantai dapur. Di antara magnet-magnet yang berserakan.
Dedek, 12 minggu.
Galih membeku.
Jenar membeku.
Mereka berdua memandangi kertas USG yang tergeletak telungkup di lantai. Di dada Jenar, kertas karton krem dengan jejak kaki biru tua. Di lantai, kertas hitam putih dengan bentuk kecil yang melengkung seperti kacang.
Bayi yang sama.
Galih berlutut. Pelan sekali. Seperti lututnya tiba-tiba tidak kuat. Ia mengambil kertas USG itu dengan dua tangan. Membaliknya. Memandanginya. Mengusap permukaannya dengan ibu jari, meskipun tidak ada debu di sana.
“Maaf,” bisiknya. Bukan pada Jenar. Pada kertas itu. “Maaf, Dek. Maaf.”
Ia berdiri. Memungut magnet bola voli dari kaki Jenar tanpa memandang wajahnya. Menempelkan kertas USG kembali di pintu kulkas, di tempat yang sama persis, dengan magnet bola voli di pojok kanan atas. Meluruskannya dengan ujung jari sampai tegak.
Lalu ia memungut daftar aturan dari lantai. Menempelkannya di sebelah kertas USG dengan magnet Bali.
Lalu ia berjalan keluar dari dapur. Melewati Jenar di ambang pintu tanpa menyentuhnya. Menyusuri lorong. Masuk ke ruang kerja.
Pintu tertutup. Pelan. Klik.
Jenar berdiri sendirian di dapur di antara magnet-magnet yang masih berserakan.
Ia memungut semuanya, satu per satu. Yogyakarta. Garut. Singapura. Menempelkannya kembali di pintu kulkas.
Lalu ia membuka pintunya.
Di rak tengah, di sebelah bekal nasi yang tidak ia makan dua hari, ada kotak kardus martabak. Masih sedikit hangat. Bau mentega dan cokelat. Di tutupnya, selotip kertas dengan tulisan spidol yang miring ke kanan, huruf-hurufnya sedikit bergetar.
Mbak Jenar.
Ia berdiri di depan kulkas yang terbuka sampai alarm pintunya berbunyi.
Galih tidak keluar dari ruang kerja sampai jam sebelas malam.
Ia duduk di sofa kulit yang retak dengan lampu dimatikan. Hanya cahaya lampu jalan dari jendela yang jatuh di lantai, kuning redup, berpola jeruji besi. Ponselnya di tangan. Layarnya mati.
Ia memikirkan tangan Hanif di rambut Jenar.
Ia memikirkan kertas USG yang jatuh telungkup di lantai.
Ia memikirkan dirinya sendiri, yang membanting pintu kulkas di rumah kakaknya, di dapur tempat kakaknya membisikkan nama bayi, seperti anak kecil yang marah karena tidak dapat mainan.
Kamu cemburu.
Ia menutup wajah dengan kedua tangan.
Jam sebelas lewat sepuluh, ia keluar untuk minum. Lorong gelap. Pintu kamar Jenar tertutup, tidak ada cahaya di bawahnya. Ia berjalan ke dapur tanpa menyalakan lampu.
Di meja makan bundar, di depan kursi tamu, kursinya, ada sesuatu.
Kotak kecil. Kardus putih. Pita krem yang diikat ulang, simpulnya sedikit miring.
Dan di atasnya, selembar kertas notes bergambar beruang. Tulisan tangan yang tegak dan kecil-kecil.
Ini Jihan. Kak Hanif yang minta suster bikinin. Dia yang pegang Jihan waktu itu, empat puluh menit. Aku nangis karena ini, bukan karena dia.
Kamu juga keluarganya. Kamu yang kasih dia nama.
J.
Galih memandangi kertas itu lama. Tangannya tidak mau bergerak.
Lalu ia duduk. Menarik ujung pita. Membuka tutup kotak.
Gelang plastik putih. Seukuran jari telunjuknya. BY. NY. ASTRI AYUNINGTYAS.
Kertas karton krem, dilipat dua. Ia membukanya.
Dua jejak kaki. Tinta biru tua. Sepuluh jari kaki, masing-masing seperti biji kacang hijau.
Dan di bawahnya, dengan tinta hitam, tulisan dokter yang miring dan terburu-buru. Jihan.
Galih menyentuh jejak kaki yang kiri dengan ujung telunjuknya. Telunjuknya lebih besar dari seluruh telapak kaki itu.
Artinya dunia.
Ia menangis tanpa suara di meja makan bundar, di dapur yang gelap, dengan jejak kaki keponakannya di bawah ujung jari. Seperti di rest area. Seperti di makam. Tapi kali ini ia tidak sendirian. Kali ini, di pintu kulkas di depannya, di bawah cahaya lampu jalan yang masuk dari jendela, kertas USG hitam putih itu menempel tegak di tempatnya, dengan magnet bola voli di pojok kanan atas.
Seolah menjaganya.
Jam sebelas lewat empat puluh, ia menutup kotak itu kembali. Mengikat pitanya. Simpulnya lebih rapi dari simpul Jenar.
Ia berdiri. Mengambil spidol dari laci dapur.
Ia berjalan ke kulkas. Di bawah aturan nomor delapan, di bawah makasih yang kecil, ia menulis. Tulisannya miring ke kanan. Huruf g-nya seperti kail pancing.
9. Pintu kulkas jangan dibanting.
Ia memandanginya. Lalu, di sebelahnya, dengan huruf yang lebih kecil, ia menambahkan satu kata.
(Maaf.)
Jenar keluar dari kamar mandi jam tujuh kurang lima dan menemukan secangkir kopi di meja makan. Masih mengepul.
Tidak ada roti bakar.
Di sebelah cangkir, di atas piring kecil, ada tiga potong martabak manis. Cokelat keju. Sudah dipanaskan ulang di wajan, pinggirnya sedikit renyah, menteganya meleleh lagi.
Kotak kecil berpita krem sudah tidak ada di meja makan. Jenar menemukannya nanti, jauh nanti, di rak buku di ruang kerja, di antara buku-buku arsitektur Leknor. Diletakkan tegak. Di sebelah foto Astri dan Leknor di hari akad, dalam bingkai kecil yang dulu ada di meja rias kamar utama. Galih pasti masuk ke kamar itu untuk mengambilnya. Kamar yang tidak ada di antara mereka yang mau masuki.
Tapi pagi itu Jenar belum tahu.
Pagi itu ia hanya berdiri di depan pintu kulkas dengan rambut terbungkus handuk, membaca aturan nomor sembilan.
(Maaf.)
Ia mengambil spidol dari laci. Di bawahnya, dengan tulisan tegak dan kecil-kecil, ia menulis.
Martabaknya enak.
Lalu, setelah berpikir sebentar, dengan huruf yang lebih kecil lagi, hampir tidak kelihatan:
Aku suka cokelat keju.
Ia duduk di meja makan dan memakan martabak itu untuk sarapan, tiga potong, sampai habis, dengan kopi yang manis tanpa gula, dan tidak menyesal sedikit pun.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!