BAB 9 - Aturan di Pintu Kulkas

0 dibaca

A

Mereka pindah di hari yang sama, di jam yang sama, tanpa janjian.

Jenar tahu itu bukan kebetulan. Itu kebodohan. Dua orang yang sama-sama berpikir, aku pindah Sabtu pagi, biar dia belum dateng, biar aku bisa pilih kamar duluan.

Mobil pikap sewaan Hana berhenti di depan pagar besi hijau rumah Jalan Kenanga nomor dua belas jam sepuluh kurang lima. Jenar turun dengan kardus pertama di pelukan.

Dan dari arah berlawanan, sebuah mobil pikap lain berhenti tepat di depannya. Bak belakangnya penuh kardus, satu mesin espresso yang dibungkus selimut, dan papan selancar kuning yang diikat tali rafia.

Fadlan yang menyetir. Galih turun dari kursi penumpang dengan kardus pertama di pelukan.

Mereka berdiri berhadapan di trotoar. Kardus lawan kardus.

“Mbak Jenar.”

“Mas Galih.”

Di belakang Jenar, Hana menurunkan kaca jendela pikap dan menjulurkan kepala. “Oh, bagus. Kalian kompak lagi.”

Di belakang Galih, Fadlan menurunkan kaca jendelanya juga dan melihat Hana. Wajahnya langsung berubah. Senyum yang terlalu lebar untuk jam sepuluh pagi.

“Hana.”

“Fadlan.”

“Kamu bantu pindahan juga?”

“Kamu juga?”

“Iya.”

“Oh.”

“Iya.”

Jenar dan Galih memandangi sahabat masing-masing. Lalu saling memandang. Untuk sepersekian detik, ada sesuatu yang lewat di antara mereka. Sesuatu yang hampir seperti geli bersama. Hampir.

Lalu Galih berbalik dan membuka pagar.


Rumah itu berbau debu dan melati layu.

Sudah dua minggu sejak tahlilan hari ketujuh. Tante Imas dan keluarga dari Garut sudah pulang. Ibu-ibu pengajian sudah tidak datang. Tikar-tikar sudah digulung dan dikembalikan ke masjid. Yang tersisa hanya bunga-bunga di vas yang sudah cokelat dan kering, gelas-gelas plastik yang terlupa di bawah sofa, dan sunyi.

Sunyi yang berat. Sunyi yang punya bentuk.

Jenar meletakkan kardusnya di lantai ruang tengah. Ia tidak menoleh ke dinding di atas sofa. Ia tahu apa yang ada di sana. Bingkai kayu jati. Lima orang di pelaminan. Dua yang di tengah dengan bahu bersentuhan.

Galih meletakkan kardusnya di sebelah kardus Jenar. Ia juga tidak menoleh ke dinding.

Mereka berdiri berdampingan di tengah ruang tengah, dikelilingi kardus-kardus, dan memandangi lorong yang menuju kamar-kamar.

Empat pintu.

Kamar utama di ujung. Pintunya tertutup. Di baliknya ada kasur yang masih dilapisi seprai batik pilihan Astri, lemari yang masih berisi kemeja biru muda yang disetrika tiga kali, dan meja rias dengan botol parfum vanila yang tutupnya tidak rapat.

Kamar Jenar yang dulu, di sebelah kiri. Pintunya terbuka separuh.

Ruang kerja Leknor, di sebelah kanan. Meja gambar besar, rak penuh buku arsitektur, sofa kulit tua yang sudah retak di bagian sandaran.

Dan kamar di ujung lorong yang lain. Kamar nenek. Kamar yang pintunya ditempeli stiker kecil berbentuk awan, yang Astri beli di toko perlengkapan bayi dan tempelkan sendiri sambil berdiri di atas bangku, sementara Leknor memeganginya dan terus bilang hati-hati, hati-hati.

Pintu itu tertutup. Rapat.

“Kamar utama,” kata Galih.

“Nggak,” kata Jenar.

“Aku juga nggak.”

Mereka diam.

“Aku ambil kamar aku yang dulu,” kata Jenar.

“Oke.”

“Kamu?”

Galih memandangi lorong. Pintu kamar utama. Pintu ruang kerja. Pintu dengan stiker awan.

“Ruang kerja,” katanya. “Ada sofa.”

“Sofanya retak.”

“Nggak apa-apa.”

“Kamu bakal sakit punggung.”

“Nggak apa-apa, Mbak.”

Jenar tidak berdebat lagi. Ia mengangkat kardusnya dan berjalan ke kamarnya yang dulu. Di ambang pintu ia berhenti.

Kamar itu masih sama. Kasur single dengan seprai motif bunga-bunga kecil yang sudah pudar. Meja belajar dengan coretan tipe-x di pojoknya, bekas Jenar kelas dua SMP menulis inisial yang kemudian ia hapus dengan panik. Poster band yang sudah ia lupa namanya. Jendela kecil yang menghadap ke halaman belakang, ke pohon mangga.

Di atas kasur ada tumpukan seprai bersih yang terlipat rapi. Dan di atasnya, selembar kertas notes kecil bergambar beruang.

Buat kamu kalau main ke sini. Seprai baru, udah aku cuci. Jangan tidur di sofa lagi kayak kemarin, nanti lehermu sakit. A.

Tulisan Astri. Bulat dan besar dan sedikit miring. Lingkaran kecil di atas huruf i.

Jenar tidak tahu kapan kertas itu diletakkan di sana. Mungkin minggu lalu. Mungkin sebulan lalu. Waktu terakhir Jenar menginap setelah lembur di kantor dan tertidur di sofa ruang tengah, dan Astri menyelimutinya dengan kain batik cokelat keemasan yang entah dari mana.

Ia meletakkan kardusnya di lantai. Pelan. Duduk di tepi kasur. Memegang kertas itu dengan dua tangan.

Tidak menangis.

Belum.


Jam dua siang, semua kardus sudah masuk. Mesin espresso Galih sudah bertengger di meja dapur, di sebelah rice cooker bekas yang dulu Astri paksa selipkan ke kardus pindahan Jenar, yang sekarang pulang lagi ke rumah ini. Papan selancar kuning bersandar di dinding ruang kerja. Meja gambar lipat Jenar berdiri di pojok ruang tengah, karena kamarnya terlalu kecil.

Hana dan Fadlan duduk di teras belakang dengan dua gelas es teh, pura-pura tidak duduk berdekatan. Kiki berlarian di halaman mengejar kucing tetangga, kucing oranye yang ekornya masih samar-samar hijau pupus dari insiden cat berbulan-bulan lalu.

Jenar berdiri di dapur, memandangi keduanya dari jendela.

“Kalian kapan jadiannya?” tanyanya lewat jendela.

Hana tersedak es teh. Fadlan tiba-tiba sangat tertarik pada genteng.

“Kita nggak jadian,” kata Hana.

“Dia ke Bandung sepuluh kali, Han.”

“Lembang itu luas!”

Di sebelah Jenar, Galih sedang membuka kardus berisi cangkir-cangkir. Ia berhenti. Menoleh ke jendela.

“Fadlan,” katanya. “Sepuluh kali?”

“Urusan kopi, Galih.”

“Kita nggak punya supplier di Lembang.”

“Sekarang punya.”

“Sejak kapan?”

“Sejak... gue cari.”

Jenar tertawa. Keluar begitu saja, pendek dan tidak sengaja, seperti bersin. Tawa pertamanya sejak telepon jam satu lewat tujuh belas menit.

Di sebelahnya, Galih juga tertawa. Pelan. Hampir tanpa suara.

Mereka berdua berhenti tertawa di saat yang sama. Saling melirik. Lalu cepat-cepat kembali ke kardus masing-masing.

Di teras, Hana dan Fadlan saling pandang. Fadlan mengangkat alis. Hana menggeleng pelan, jangan.


Hana pulang jam empat. Ia memeluk Jenar di depan pagar lama sekali.

“Visa gue udah keluar,” bisiknya. “Gue berangkat tiga minggu lagi. Gue bisa tunda. Gue bisa minta tunda satu semester.”

“Jangan.”

“Jenar...”

“Lo udah nunggu ini dua tahun, Han. Jangan.” Jenar melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu sahabatnya. “Gue nggak apa-apa.”

Hana memandanginya. Mata yang sudah terlalu sering bengkak dua minggu terakhir.

“Lo belum nangis,” kata Hana pelan. “Dari malem itu. Lo belum nangis sekali pun.”

“Gue udah nangis.”

“Kapan?”

Jenar tidak menjawab.

Hana menatapnya lama. Lalu melirik ke dalam rumah, ke ambang pintu ruang tengah, tempat Galih sedang berdiri memegang dua cangkir kopi yang baru ia seduh untuk Fadlan dan dirinya sendiri. Galih melihat Hana melihatnya, dan wajahnya menutup lagi. Sopan. Datar.

Hana menoleh kembali ke Jenar.

“Kalau dia macem-macem sama lo,” bisiknya, “lo telepon gue. Gue terbang dari Belanda.”

“Deal.”

“Gue serius.”

“Gue tahu.”

Pikap Hana menjauh di jalan kompleks. Di belakangnya, pikap Fadlan menyusul, dengan Kiki melambai-lambai dari jendela dan Fadlan membunyikan klakson dua kali ke arah pikap di depannya. Hana membalas dengan klakson tiga kali.

Jenar berdiri di depan pagar sampai kedua mobil itu hilang di tikungan.

Lalu ia berbalik. Rumah itu berdiri di depannya, cat putih yang mulai mengelupas di bawah jendela, genteng merah, pohon mangga yang menjulang dari balik atap.

Dan di ambang pintu, dengan dua cangkir kopi yang sekarang tidak ada yang meminumnya, Galih.

Tinggal mereka berdua.


Makan malam pertama mereka adalah nasi padang bungkus yang dibeli Galih di ujung jalan, dimakan di meja makan bundar, di kursi yang paling berjauhan.

Meja makan itu bundar. Empat kursi. Kursi Leknor dan kursi Astri kosong. Tidak ada yang menyentuhnya. Jenar duduk di kursi yang dulu selalu ia duduki sejak kecil. Galih duduk di seberangnya, di kursi yang dulu jarang dipakai, kursi tamu.

Bunyi kertas nasi dibuka. Bunyi sendok di piring melamin. Bunyi jam dinding di ruang tengah.

Tik. Tik. Tik.

Jenar tidak pernah menyadari jam dinding itu berbunyi sekeras ini.

“Rendangnya enak,” kata Galih akhirnya.

“Iya.”

“Warungnya baru?”

“Udah lama. Dari aku SD.”

“Oh.”

Tik. Tik. Tik.

“Galonnya tinggal setengah,” kata Jenar.

“Besok aku beli.”

“Aku bisa beli.”

“Aku yang beli, Mbak.”

“Kenapa?”

“Karena berat.”

“Aku bisa ngangkat galon.”

Galih meletakkan sendoknya. Memandanginya dari seberang meja bundar. “Mbak mau ngangkat galon?”

“Aku bisa.”

“Oke. Besok Mbak yang beli galon.”

Jenar mengunyah rendangnya. Galih mengunyah rendangnya. Jam dinding berdetak.

“Kita butuh aturan,” kata Jenar.

Galih mengangkat kepala.

“Satu tahun,” lanjut Jenar. Ia meletakkan sendoknya dan menegakkan punggung, seperti di rapat kantor. “Kita bakal tinggal serumah satu tahun. Kita nggak bisa kayak gini terus. Diem-dieman. Rebutan galon. Kita butuh aturan. Biar jelas. Biar nggak ada salah paham.”

Salah paham. Kata itu jatuh di atas meja makan seperti gelas yang pecah. Galih memandangi Jenar lama.

“Oke,” katanya. “Aturan.”

Jenar berdiri. Mengambil pulpen dan notes dari tasnya di sofa. Notes bergambar beruang, yang ia temukan di meja belajar kamarnya tadi siang, milik Astri. Ia duduk lagi dan membuka halaman kosong.

“Aturan nomor satu,” kata Jenar, dan menulis sambil bicara. “Kamar mandi.”

Rumah itu punya dua kamar mandi. Satu di dalam kamar utama. Satu di lorong. Tidak ada yang mau masuk ke kamar utama.

“Pagi, aku duluan,” kata Jenar. “Aku masuk kantor jam delapan.”

“Aku buka kedai jam tujuh.”

“Kamu nggak harus buka kedai sendiri. Kamu punya sepuluh kedai. Kamu punya karyawan.”

“Aku suka buka kedai sendiri.”

“Jam berapa kamu mandi?”

“Setengah enam.”

Jenar memandanginya. “Kamu mandi jam setengah enam pagi?”

“Kenapa?”

“Kamu manusia apa ayam?”

Sudut bibir Galih bergerak. Hampir. Ia menunduk ke nasi padangnya.

“Oke,” kata Jenar, menulis. “Setengah enam sampai enam, Mas Galih. Enam sampai tujuh, aku.”

“Satu jam?”

“Aku keramas.”

“Tiap hari?”

“Iya, tiap hari. Kenapa?”

“Nggak apa-apa.” Galih mengangkat kedua tangan. “Satu jam. Oke.”

Aturan nomor dua. AC. Jenar suka dua puluh empat derajat. Galih suka delapan belas. Mereka berdebat lima menit, sampai Jenar menunjuk bahwa kamar mereka terpisah dan AC-nya juga terpisah, dan Galih mengakui itu benar dan mereka berdua merasa bodoh.

Aturan nomor tiga. Cucian. Masing-masing mencuci sendiri. Mesin cuci dipakai bergantian. Jangan tinggalkan cucian basah di dalam mesin lebih dari dua jam.

“Kenapa dua jam?” tanya Galih.

“Nanti bau.”

“Kamu pernah ninggalin?”

“Itu bukan urusan kamu.”

Aturan nomor empat. Belanja bulanan patungan. Belanja pribadi masing-masing. Label nama di makanan yang disimpan di kulkas.

“Label nama,” ulang Galih.

“Iya. Biar nggak ada yang makan punya orang lain.”

“Kamu takut aku makan yogurt kamu?”

“Aku nggak makan yogurt.”

“Terus apa?”

“Pokoknya label nama.”

Galih menggeleng pelan. Tapi ia mengangguk.

Aturan nomor lima. Tamu. Harus bilang dulu kalau mau bawa teman menginap.

“Aku nggak bakal bawa siapa-siapa,” kata Galih.

“Aku juga.”

“Kecuali Fadlan.”

“Kecuali Hana.”

“Mereka pasti bakal dateng barengan.”

“Pasti.”

Hening. Jam dinding berdetak.

Jenar memandangi daftar di notes beruang itu. Lima aturan. Tulisan tangannya yang tegak dan kecil-kecil, tulisan arsitek. Di bawah lima aturan itu masih ada ruang kosong.

Ia menulis angka enam. Pulpennya berhenti.

Lalu ia menulis. Pelan. Dengan huruf yang sedikit lebih besar dari yang lain.

6. Jangan bahas pantai.

Ia memutar notes itu dan mendorongnya ke seberang meja.

Galih membacanya.

Ia membaca lama. Jauh lebih lama dari yang dibutuhkan untuk membaca tiga kata. Jenar melihat matanya berhenti di kata terakhir. Pantai. Rahangnya bergerak.

Lalu ia mengambil pulpen dari tangan Jenar. Jari-jari mereka bersentuhan sebentar di batang pulpen. Galih tidak menarik tangannya secepat biasanya.

Ia menulis di bawah aturan nomor enam. Tulisannya miring ke kanan. Huruf g-nya seperti kail pancing.

7. Jangan buka kamar itu.

Ia memutar notes itu kembali dan mendorongnya ke Jenar.

Jenar membacanya. Ia tahu kamar yang mana. Tidak perlu ditulis. Pintu dengan stiker awan. Kamar hijau pupus. Boks bayi dari kayu jati yang mereka rakit berdua, yang menghadap jendela supaya hal pertama yang dilihat bayi itu setiap pagi adalah pohon mangga.

“Sampai kapan?” tanyanya pelan.

“Sampai kita siap.”

“Kalau kita nggak pernah siap?”

Galih tidak menjawab.

Jenar merobek halaman itu dari notes. Berdiri. Berjalan ke kulkas. Kulkas dua pintu warna perak, yang di pintunya masih menempel magnet-magnet oleh-oleh Astri dari berbagai kota. Bali. Yogyakarta. Garut. Singapura. Sebuah magnet bentuk bola voli.

Di antara magnet-magnet itu, masih menempel juga selembar kertas. Hasil USG. Hitam putih. Bentuk kecil yang melengkung seperti kacang, dengan tulisan tangan Astri di pojoknya. Dedek, 12 minggu.

Jenar memandangi kertas USG itu lama.

Lalu ia menempelkan daftar aturan di sebelahnya, dengan magnet bola voli.

Ia tidak menggeser kertas USG itu. Galih, yang sekarang berdiri di belakangnya, juga tidak memintanya.


Galih tidak bisa tidur.

Sofa di ruang kerja Leknor memang retak di bagian sandaran, dan retakannya tepat di bawah tulang belikatnya, dan setiap kali ia berbalik, kulit sofa itu berbunyi seperti orang mengeluh. Tapi bukan itu alasannya.

Ruangan itu berbau Leknor. Kertas kalkir dan tinta dan kopi tubruk yang terlalu kental. Di meja gambar masih ada gambar yang belum selesai, tampak depan sebuah rumah dengan jendela besar, dan pensil 2B yang tergeletak di sebelahnya dengan ujung yang sudah tumpul. Seolah Leknor hanya keluar sebentar untuk membuat kopi dan akan kembali.

Galih berbaring telentang dan memandangi langit-langit.

Jam dua belas. Jam dua belas lewat tiga puluh. Jam satu.

Lalu ia mendengar air.

Bukan dari kamar mandi. Dari belakang. Dari luar. Bunyi keran yang dibuka, dan air yang jatuh ke ember plastik, dan sesuatu yang digosok.

Ia bangkit. Kulit sofa mengeluh. Ia berjalan ke jendela ruang kerja yang menghadap ke samping rumah, ke lorong sempit di antara dinding rumah dan pagar tetangga, tempat mesin cuci dan bak cuci semen berada, di bawah atap seng yang sudah berkarat.

Lampu di lorong itu menyala. Satu bohlam kuning redup yang tergantung dari kabel.

Jenar berjongkok di depan bak cuci semen.

Ia memakai piyama biru muda yang lengannya digulung sampai siku. Rambutnya diikat asal. Di tangannya ada sikat cuci plastik hijau. Di dalam bak, di bawah keran yang terbuka, ada sepotong kain hitam.

Jins hitam. Yang lututnya kotor tanah merah. Yang ia pakai di Purwakarta dan di makam dan di koridor rumah sakit. Yang belum ia ganti selama dua hari.

Ia menggosoknya.

Keras. Terlalu keras. Sikat plastik itu bergerak maju mundur di bagian lutut, dan air yang mengalir dari kain itu berwarna merah kecokelatan. Merah bata. Mengalir ke saluran pembuangan di dasar bak, berputar-putar, lalu hilang.

Jenar menggosok lagi. Menuang sabun colek. Menggosok lagi. Airnya masih merah.

Galih berdiri di balik jendela gelap dan tidak bisa bergerak.

Ia melihat tangan Jenar. Buku-buku jarinya memerah. Kulitnya mengelupas sedikit di satu tempat, di punggung jari telunjuk, karena sabun colek dan sikat plastik dan gesekan yang terlalu keras.

Ia tidak berhenti.

Airnya mulai jernih. Merah muda. Lalu hampir bening. Tapi Jenar masih menggosok, di tempat yang sama, di lutut kiri jins itu, seolah ada noda yang hanya bisa dilihat dirinya sendiri.

Lalu ia berhenti.

Sikat plastik jatuh ke dalam bak. Tangannya mencengkeram pinggiran semen. Bahunya naik, lalu turun. Naik lagi. Turun lagi.

Galih menunggu. Menunggu bahu itu mulai berguncang. Menunggu tangis yang Hana bilang belum datang sejak malam itu.

Tidak datang.

Jenar hanya berjongkok di sana, di bawah bohlam kuning, dengan tangan di pinggiran bak dan kepala tertunduk, dan napas yang naik turun pelan-pelan. Seperti orang yang sedang menahan sesuatu yang sangat berat supaya tidak jatuh.

Senyumnya kayak orang yang lagi nahan sesuatu biar nggak jatuh.

Tangan Galih sudah di gagang jendela. Ia bisa membukanya. Ia bisa keluar lewat pintu dapur. Ia bisa berjongkok di sebelahnya di lorong sempit itu dan tidak mengatakan apa-apa, seperti waktu di pasir basah pagi pertama.

Tangannya tidak bergerak.

Anggap nggak pernah ada.

Saya setuju.

Di lorong, Jenar menegakkan tubuh. Ia mematikan keran. Memeras jins itu dengan kedua tangan, memutarnya sampai airnya habis. Mengibaskannya sekali. Menggantungnya di tali jemuran plastik di bawah atap seng, dengan dua jepitan kayu.

Lalu ia berdiri di sana, memandangi jins itu yang meneteskan air ke semen.

Dan ia berbisik sesuatu. Terlalu pelan untuk didengar dari balik kaca. Galih melihat bibirnya bergerak. Dua kata. Mungkin tiga.

Lalu ia mematikan lampu dan masuk lewat pintu dapur.

Galih berdiri di jendela yang gelap sampai ia mendengar pintu kamar Jenar tertutup di lorong. Pelan. Klik.

Ia kembali ke sofa. Berbaring. Memandangi langit-langit.

Tidak tidur sampai subuh.


Pagi harinya, jam lima lewat lima puluh, Galih keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan menemukan Jenar sudah berdiri di depan pintu dengan handuk di bahu dan wajah kesal.

“Kamu telat sepuluh menit,” katanya.

“Airnya dingin.”

“Itu bukan alesan.”

“Pemanas airnya rusak. Aku harus nungguin.”

Jenar menyipitkan mata. Galih mengangkat bahu. Mereka bertukar tempat di lorong sempit, dan bahu mereka hampir bersentuhan, dan keduanya menggeser tubuh ke dinding pada saat yang sama sehingga tidak ada yang bersentuhan.

Pintu kamar mandi tertutup.

Galih berjalan ke dapur. Menyalakan mesin espresso. Selama mesin itu memanaskan air dengan bunyi mendesis, ia berdiri di jendela dapur yang menghadap lorong samping rumah.

Jins hitam masih tergantung di tali jemuran. Sudah setengah kering. Bagian lututnya bersih. Tidak ada jejak merah bata sedikit pun.

Tapi bahannya sudah pudar di bagian itu. Abu-abu, bukan hitam lagi. Seperti bekas luka.

Galih memandanginya sampai mesin espresso berbunyi klik, tanda airnya sudah panas.

Ia menyeduh dua cangkir. Tanpa berpikir. Tangannya yang bergerak sendiri, kebiasaan delapan tahun di balik bar. Dua cangkir kopi hitam, tanpa gula.

Lalu ia memandangi cangkir yang kedua. Berdiri di atas meja dapur, mengepul.

Aturan tidak menyebut apa-apa soal kopi.

Ia meletakkan cangkir itu di meja makan. Di depan kursi yang dulu selalu diduduki Jenar sejak kecil. Tanpa catatan. Tanpa label nama.

Lalu ia mengambil cangkirnya sendiri, kunci mobil, dan berangkat ke kedai sebelum pintu kamar mandi terbuka.


Jenar keluar dari kamar mandi jam tujuh kurang lima dengan rambut terbungkus handuk dan menemukan secangkir kopi di meja makan.

Ia berhenti di ambang dapur.

Rumah sepi. Kunci mobil di gantungan sudah tidak ada. Mesin espresso masih hangat dan berkedip-kedip lampu hijaunya.

Kopi itu sudah tidak mengepul. Suam-suam kuku. Hitam. Ia mendekat dan menghirupnya. Tidak ada gula.

Ia menyesapnya.

Manis. Tidak ada gula, ia tahu tidak ada gula. Tapi manis. Seperti buah ceri, seperti cokelat, seperti sesuatu yang asam tapi menyenangkan di pinggir lidah.

Seperti kopi yang diseduh ulang di kedai Kang Asep, di gang belakang pasar ikan, sebelas bulan yang lalu.

Jenar meletakkan cangkir itu. Pelan. Tangannya gemetar.

Ia memandangi pintu kulkas. Daftar aturan di sebelah kertas USG. Tujuh aturan. Tidak ada satu pun soal kopi.

Ia duduk di kursi yang dulu selalu ia duduki sejak kecil, di meja makan bundar yang tiga kursinya kosong, dan menghabiskan kopi itu sampai tetes terakhir.

Lalu ia mengambil ponsel dari saku piyama. Membuka aplikasi pesan. Menggulir sampai ke bawah, jauh ke bawah, melewati percakapan dengan Hana dan grup kantor dan grup keluarga yang sekarang sunyi, sampai ke nama yang sudah sebelas bulan tidak ia buka.

Galih (kulkas).

Pesan terakhir di sana masih pesannya sendiri. Galih? Kamu di mana? Belanjaan kamu ketinggalan di kamar aku. Satu centang abu-abu.

Dan di atasnya, foto profil. Lingkaran abu-abu kosong, sama seperti setahun terakhir.

Jenar memandanginya. Ibu jarinya melayang di atas layar.

Lalu, di depan matanya, lingkaran abu-abu itu berubah.

Sebuah foto muncul. Pelan, seperti gambar yang dimuat di sinyal lemah. Gerobak kopi tua dari kayu, dicat hijau yang sudah mengelupas, dengan latar gerbang kampus dan pohon-pohon angsana. Foto yang sama. Foto yang ia lihat terakhir kali di malam sebelum pagi terakhir di Pangandaran.

Di bawah namanya, tulisan kecil berwarna abu-abu. Online.

Satu centang abu-abu di pesan sebelas bulan lalu berubah jadi dua.

Jenar menahan napas.

Ia menunggu. Menunggu dua centang itu berubah biru. Menunggu tulisan mengetik... muncul di bawah nama itu.

Tidak ada.

Hanya online, selama tiga puluh detik. Lalu terakhir dilihat baru saja.

Dua centang abu-abu. Tidak dibaca. Tapi tidak lagi diblokir.

Jenar meletakkan ponselnya di meja makan, di sebelah cangkir kopi yang kosong. Tangannya menemukan liontin kecil di balik kaus piyamanya. Menggenggamnya.

Dan di dapur rumah yang terlalu sunyi, di meja makan bundar dengan tiga kursi kosong, dengan kertas USG dan tujuh aturan di pintu kulkas yang tidak satu pun menyebut soal kopi, Jenar Masayu akhirnya menangis.

Pelan. Hampir tanpa suara. Dengan dahi di atas meja dan tangan menggenggam kalung perak yang masih, setelah sebelas bulan, tidak menghitam sedikit pun.

Tidak ada yang melihatnya.

Kali ini, ia bersyukur untuk itu.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk