BAB 12 - Pengantin Baru di Kenanga Dua Belas

0 dibaca

A

Hari Jumat malam, di bawah Aku suka cokelat keju, muncul tulisan baru.

Senin aku rapat sama klien Pondok Indah. Klien terakhir Kak Leknor. Doain.

Tulisan Jenar. Tegak. Kecil-kecil. Tapi huruf-huruf di akhir kalimat sedikit lebih besar dari yang di depan, seperti orang yang menulis sambil menahan napas.

Sabtu pagi, di bawahnya, tulisan yang miring ke kanan.

Klien yang mana? Pak Hendro?

Sabtu malam.

Kok tahu?

Minggu pagi.

Kak Astri pernah cerita. Katanya Pak Hendro nyebelin. Katanya Kak Leknor harus revisi pintu depan tujuh kali soalnya Pak Hendro nggak suka arah bayangannya jam empat sore.

Minggu malam, Jenar berdiri di depan kulkas lama sekali sebelum menulis.

Delapan kali. Aku nemu revisi kedelapan di laci meja gambar.

Senin pagi, jam lima lewat lima puluh, di bawah semuanya, dengan spidol yang hampir habis tintanya:

Kamu bisa.


Jenar membaca dua kata itu tujuh kali sambil makan roti bakar selai kacang, dan membacanya sekali lagi sebelum mengunci pintu depan.

Di dalam tas kerjanya, di sebelah gulungan gambar dan laptop, ada termos kecil warna hitam yang tidak ia masukkan sendiri. Masih hangat waktu ia menyentuhnya. Di tutupnya menempel selotip kertas.

Buat pas rapat. Jangan minum kopi kantor. Kopi kantor Kak Leknor itu robusta sachet, bikin deg-degan.

Jenar tertawa sendirian di dalam taksi online. Sopirnya melirik lewat spion. Jenar pura-pura sedang membaca pesan.


Ruang rapat biro Leknor ada di lantai dua sebuah rumah tua di Kemang yang disulap jadi kantor. Jendela besar menghadap pohon ketapang. Meja kayu panjang yang Leknor rancang sendiri dari bekas bantalan rel kereta. Di dindingnya tergantung maket-maket rumah yang pernah dibangun biro itu, dilindungi kotak kaca yang berdebu.

Pak Hendro Wirawan datang lima belas menit terlambat, dengan istrinya dan seorang asisten yang membawakan tas kulitnya.

Ia berumur enam puluhan. Rambut putih yang disisir rapi ke belakang. Kemeja batik sutra. Cincin batu akik hijau di jari manis kanan. Ia berjalan masuk ruang rapat seperti orang yang sudah biasa masuk ke ruangan mana pun dan langsung jadi yang paling penting di sana.

Ia memandang ke sekeliling. Ke Mas Bayu, drafter senior yang sudah bekerja dengan Leknor sepuluh tahun. Ke Mbak Rini, desainer interior yang dulu satu tim dengan Astri. Ke dua drafter muda yang duduk di ujung meja dengan laptop terbuka.

Lalu ke Jenar, yang berdiri di kepala meja, di tempat yang dulu selalu diduduki Leknor.

“Ini siapa?”

“Jenar Masayu, Pak,” kata Jenar. Ia mengulurkan tangan. “Adik almarhum Pak Leknor. Saya yang sekarang pegang biro.”

Pak Hendro menjabat tangannya. Singkat. Jabat tangan orang yang tidak benar-benar ingin menjabat.

“Adik?” Ia memandangi Jenar dari atas sampai bawah. Blus putih yang disetrika dua kali pagi tadi. Rok hitam. Rambut dikuncir rendah. Liontin kecil di balik kerah. “Umur berapa?”

“Dua puluh tiga, Pak.”

“Baru lulus?”

“Tahun lalu, Pak. Arsitektur ITB.”

Pak Hendro mengangguk pelan. Lalu ia menoleh ke Mas Bayu. “Mas Bayu, saya mau ngomong sama yang senior. Soal gambar kerjanya.”

Ruangan itu hening.

Mas Bayu mengerjap. Ia melirik Jenar. Jenar melihat sesuatu di wajahnya, sesuatu yang tidak ia sukai. Bukan hinaan. Keraguan. Laki-laki yang sudah sepuluh tahun menggambar di sebelah kakaknya, dan tidak yakin apakah adik bosnya yang berumur dua puluh tiga tahun layak berdiri di kepala meja.

“Pak,” kata Mas Bayu pelan. “Mbak Jenar yang ngerjain revisi gambarnya.”

“Saya nggak nanya siapa yang ngerjain. Saya nanya siapa yang senior.”

“Saya, Pak,” kata Jenar.

Pak Hendro menoleh padanya. Alisnya terangkat.

“Saya pemilik biro ini sekarang,” kata Jenar. Suaranya tidak bergetar. Ia terkejut sendiri. “Saham kakak saya diwariskan ke saya. Jadi saya yang senior. Maaf kalau Bapak kecewa. Tapi saya yang Bapak ajak ngomong.”

Istri Pak Hendro, perempuan kecil berkerudung abu-abu yang dari tadi diam, menunduk sedikit. Jenar melihat sudut bibirnya bergerak.

Pak Hendro memandanginya lama. Lalu duduk. Menyilangkan kaki.

“Silakan,” katanya. Nadanya jelas-jelas mengatakan saya kasih kamu lima menit sebelum saya pindah biro.


Lima menit pertama adalah bencana.

Jenar membuka gambar tampak samping di layar proyektor. Pak Hendro langsung menunjuk. “Kenapa atapnya lebih tinggi dari gambar sebelumnya?”

“Karena revisi struktur, Pak. Untuk bentang...”

“Saya nggak minta atapnya ditinggiin.”

“Tapi kalau nggak ditinggiin, bentang balok...”

“Pak Leknor nggak pernah ngubah apa-apa tanpa nanya saya dulu.”

Jenar menelan ludah. Ia membuka gambar berikutnya. Denah lantai satu. Pak Hendro menunjuk lagi. Kenapa dapurnya di sana. Kenapa pintu gudangnya menghadap ke situ. Kenapa jendela kamar tidur utama lebih kecil dua puluh senti.

Setiap pertanyaan seperti batu kecil yang dilempar. Tidak ada yang cukup besar untuk menjatuhkan. Tapi semuanya, bersama-sama, membuat Jenar mulai goyah.

Ia melihat dirinya dari luar. Perempuan dua puluh tiga tahun di kepala meja, dengan tangan yang mulai berkeringat di atas mouse, menjawab pertanyaan dengan suara yang semakin kecil. Mas Bayu yang menunduk ke laptop, pura-pura mencatat. Mbak Rini yang meremas-remas pulpen.

Di layar proyektor, denah lantai satu. Garis-garis yang ia gambar ulang empat kali, karena setiap kali ia melihat garis Leknor di bawahnya, samar-samar di balik kertas kalkir.

Tangannya berhenti di atas mouse.

Garis Leknor.

Ia teringat laci meja gambar di ruang kerja. Bukan cuma revisi kedelapan pintu depan yang ia temukan di sana. Ada juga buku catatan kecil bersampul kulit cokelat, yang Leknor selalu bawa ke mana-mana dan selalu isi dengan tulisan kecil-kecil yang tegak dan rapi. Jenar membacanya semalaman di hari Sabtu. Setiap halaman. Setiap coretan.

Dan di ruang kerja itu juga, di rak buku, di antara buku-buku arsitektur, ada sesuatu yang tidak ia duga. Kotak kecil berpita krem. Di sebelahnya, foto Leknor dan Astri di hari akad, dalam bingkai kecil yang dulu ada di meja rias kamar utama.

Kamar yang tidak ada di antara mereka yang mau masuki.

Galih masuk ke kamar itu. Untuk mengambil foto. Untuk meletakkannya di sebelah jejak kaki Jihan. Supaya Jihan tidak sendirian.

Jenar memikirkan itu, di depan layar proyektor, dengan Pak Hendro yang masih menunjuk-nunjuk jendela kamar tidur utama.

Lalu ia memikirkan dua kata di pintu kulkas. Kamu bisa.

Ia menegakkan punggung.

“Pak,” katanya. Tidak keras. Tapi cukup untuk membuat Pak Hendro berhenti di tengah kalimat. “Boleh saya nanya satu hal?”

Pak Hendro mengerutkan kening. “Silakan.”

“Ibu Bapak masih tinggal sama Bapak?”

Keheningan yang berbeda. Pak Hendro mengerjap. Di sebelahnya, istrinya menoleh cepat.

“Kenapa nanya soal itu?”

“Karena kakak saya nulis soal beliau.” Jenar mengeluarkan buku catatan kulit cokelat dari tasnya. Membukanya di halaman yang sudah ia tandai dengan kertas tempel kuning. “Rapat ketiga. Bulan April. Kakak saya nulis, Ibu Pak Hendro, delapan puluh satu tahun, pakai kursi roda sejak jatuh di kamar mandi tahun lalu. Pak Hendro nggak mau ngomong soal ini di depan orang. Tapi beliau yang paling penting di rumah ini. Semua desain harus bisa dilalui kursi roda tanpa beliau merasa jadi beban.”

Ruangan itu sangat sunyi.

Pak Hendro tidak bergerak. Wajahnya, untuk pertama kalinya, tidak terlihat seperti orang yang paling penting di ruangan mana pun.

“Atapnya saya tinggiin,” lanjut Jenar pelan, “karena kakak saya mau kamar ibu Bapak ada di lantai satu, di sisi timur, dapet matahari pagi. Tapi kamar itu harus punya kamar mandi sendiri yang pintunya lebar satu meter, bukan delapan puluh senti, supaya kursi roda bisa masuk tanpa harus miring-miring. Jadi dinding strukturnya geser. Jadi baloknya harus lebih panjang. Jadi atapnya naik tiga puluh senti.”

Ia mengklik mouse. Denah lantai satu di layar. Ia memperbesar sisi timurnya. Kamar dengan jendela besar. Kamar mandi dengan pintu geser yang lebarnya ditandai angka merah. 100 cm.

“Dapurnya pindah,” lanjutnya, “supaya jalur dari kamar ibu Bapak ke meja makan nggak lewat tangga. Pintu gudangnya ngadep ke sana supaya nggak ngehalangin lorong. Jendela kamar tidur utama Bapak lebih kecil dua puluh senti karena dindingnya harus nahan balok yang lebih panjang. Kakak saya nggak sempet jelasin ke Bapak. Rapat terakhirnya sama Bapak dijadwalkan minggu setelah...” Suaranya tersendat. Hanya sebentar. “Minggu setelah kecelakaan.”

Ia menutup buku catatan itu. Meletakkannya di atas meja kayu bantalan rel. Di depan Pak Hendro.

“Saya nggak nanya Bapak dulu,” katanya. “Maaf. Saya cuma ngerjain apa yang kakak saya tulis. Kalau Bapak nggak setuju, saya bisa revisi. Tapi saya pikir Bapak harus tahu kenapa.”

Pak Hendro memandangi buku catatan bersampul kulit cokelat di depannya.

Tangannya bergerak. Pelan. Menyentuh sampulnya. Membuka halaman yang ditandai kertas tempel kuning.

Ia membaca lama.

Istrinya meletakkan tangan di lengannya. Pak Hendro tidak menepisnya.

“Leknor,” kata Pak Hendro akhirnya. Suaranya berbeda. Serak. “Leknor datang ke rumah saya empat kali. Saya kira dia mau ngecek tanah. Ternyata dia...” Ia berhenti. Menggeleng pelan. “Ibu saya bilang ada anak muda yang ngajak dia ngobrol di teras tiap kali datang. Nanya-nanya soal kamar mandinya. Soal jam berapa beliau suka duduk di luar. Saya kira itu tukang ukur.”

Ia menutup buku catatan itu. Mengusap sampulnya dengan ibu jari, seperti mengusap kepala anak kecil.

Lalu ia mengangkat kepala dan menatap Jenar. Lama. Seperti baru benar-benar melihatnya.

“Dua minggu,” katanya. “Saya kasih kamu dua minggu buat gambar kerja lengkap. Kalau saya suka, kita lanjut.”

“Makasih, Pak.”

“Jangan makasih dulu.” Pak Hendro berdiri. Merapikan kemeja batik sutranya. Lalu, dengan gerakan yang canggung, seperti orang yang tidak terbiasa melakukannya, ia mengulurkan tangan lagi. “Kakak kamu orang baik.”

Jenar menjabat tangannya. Kali ini jabatan tangannya tidak singkat.

“Iya, Pak,” katanya. “Dia orang baik.”


Setelah Pak Hendro dan istrinya pergi, Jenar duduk sendirian di ruang rapat dan membuka termos hitam.

Kopinya masih hangat. Ia menuangnya ke tutup termos yang sekaligus jadi cangkir kecil. Menyesapnya.

Manis tanpa gula.

Mas Bayu mengetuk pintu yang terbuka. Masuk dengan dua gelas air mineral. Meletakkan satu di depan Jenar. Duduk di kursi di sebelahnya, bukan di seberang.

“Mbak,” katanya pelan.

“Mas Bayu.”

“Maaf yang tadi.” Ia memandangi gelas airnya. “Saya ragu. Saya pikir Mbak belum siap.”

“Aku juga pikir gitu.”

Mas Bayu tertawa kecil. “Pak Leknor dulu juga gitu. Rapat pertamanya sama klien besar, sepuluh tahun lalu, dia salah sebut nama klien tiga kali.”

Jenar mengangkat kepala.

“Beneran,” kata Mas Bayu. “Kliennya namanya Pak Susanto. Pak Leknor manggil Pak Sutanto. Terus Pak Suganto. Terus Pak Susanto tapi bilangnya kayak nanya. Pak Susanto?”

Jenar tertawa. Tawa yang pecah di tengah jadi sesuatu yang lain, dan ia menutup mulut dengan tangan, dan Mas Bayu pura-pura sibuk dengan gelas airnya sampai ia tenang lagi.

“Buku catatannya,” kata Mas Bayu kemudian. “Pak Leknor nggak pernah ngasih lihat siapa-siapa. Saya kerja sepuluh tahun, saya nggak pernah tahu isinya.”

“Aku nemu di laci.”

“Mbak baca semuanya?”

“Semalaman.”

Mas Bayu mengangguk. Lalu berdiri. Di ambang pintu, ia berhenti dan menoleh.

“Mbak,” katanya. “Pak Leknor pasti bangga.”


Jenar tidak langsung pulang.

Setelah jam kantor berakhir dan drafter-drafter muda pulang satu per satu, ia menyampirkan tas di bahu, keluar lewat pintu belakang biro, dan berjalan lima menit menyusuri trotoar Kemang yang rindang. Melewati toko bunga. Melewati galeri seni yang lampunya selalu redup. Sampai ke sebuah bangunan kecil di sudut jalan dengan plang kayu gelap dan huruf putih bersih.

Pratama Coffee. Kemang.

Ia berhenti di depan pintu kacanya.

Sudah lama sekali. Sejak sebelum telepon jam satu lewat tujuh belas menit. Sejak sebelum rest area dan sate maranggi dan hujan di Cipularang.

Astri yang pertama kali membawanya ke sini. Minggu pertama Jenar bekerja di biro, di hari ketika kantor terlalu berisik karena dua kontraktor bertengkar soal pondasi di ruang rapat. Astri menarik lengannya dan berkata, ayo kabur, dan membawanya ke sini.

Jenar ingat berhenti di depan pintu yang sama, sama seperti sekarang, dengan jantung yang tiba-tiba berdebar karena membaca kata Pratama di plang itu.

Ini kedai adik Kakak? tanyanya waktu itu, pura-pura tidak tahu.

Iya. Tapi yang ini jarang dia datengin. Dia lebih sering di Mampang. Astri mendorong pintu. Terus jangan bilang-bilang ke barista. Aku nggak pernah bilang aku kakaknya bos. Biar dilayani kayak biasa. Biar tahu kopinya beneran enak atau cuma dienak-enakin.

Jenar mendaftar membership hari itu. Atas namanya sendiri. Ia bersikeras membayar penuh setiap kali, bahkan waktu Astri mencoba mentraktirnya. Ia tidak pernah menyebut hubungannya dengan siapa pun. Dan ia memilih cabang ini, bukan Mampang, karena di sini ia bisa duduk di dekat jendela tanpa takut pintunya terbuka dan seseorang berkemeja hitam masuk.

Ia mendorong pintu kaca itu sekarang.

Lonceng kecil di atasnya berbunyi. Bau kopi dan roti panggang. Musik jazz pelan dari speaker di langit-langit, aturan Fadlan. Meja-meja kayu. Orang-orang dengan laptop. Dan di balik bar marmer yang menghadap ke dinding, barista perempuan berambut pendek yang sedang mengelap mesin espresso mengangkat kepala.

“Kak Jenar!”

Jenar tersenyum. Senyum wisuda.

“Halo, Dita.”

“Lama banget nggak ke sini, Kak. Udah sebulan lebih.” Dita meletakkan lapnya. “Mejanya kosong tuh, yang pojok. Kayak biasa?”

“Kayak biasa.”

Meja pojok dekat jendela. Kursi kayu yang satu kakinya sedikit lebih pendek sehingga bergoyang kalau didorong. Jenar duduk di sana dan meletakkan tas di kursi seberang. Kursi yang dulu selalu diduduki Astri, dengan kaki disilangkan dan cardigan cokelat susu dan cerita-cerita yang tidak pernah habis.

Dita mengantarkan kopinya lima menit kemudian. Hitam. Tanpa gula. Ia meletakkannya di meja lalu tidak langsung pergi.

“Kak,” katanya, sedikit ragu. “Kak Astri nggak ikut? Udah lama juga nggak ke sini.”

Jenar memandangi cangkirnya.

Dita tidak tahu. Tentu saja tidak tahu. Astri tidak pernah bilang ia kakak bos. Di kedai ini, Astri hanyalah Kak Astri, pelanggan yang selalu memesan latte dengan susu oat dan selalu tertawa terlalu keras, yang membawa temannya yang pendiam dan duduk di pojok dekat jendela. Seluruh kantor pusat pasti sudah tahu kakak Pak Galih meninggal. Tapi tidak ada yang tahu bahwa kakak Pak Galih dan Kak Astri yang suka latte susu oat adalah orang yang sama.

Jenar bisa menjelaskan. Ia bisa bilang semuanya.

“Dia lagi jauh,” katanya.

Dita mengangguk tanpa curiga. “Salam ya, Kak. Bilang kita kangen. Kalau dia dateng lagi, aku bikinin latte gratis.”

“Nanti aku sampein.”

Dita kembali ke bar. Jenar duduk sendirian di pojok dekat jendela, dengan termos hitam yang sudah kosong di dalam tas dan secangkir kopi hitam di depannya, dan memandangi kursi di seberang.

Ia tidak menangis. Ia hanya duduk di sana sampai langit di luar jendela berubah jingga, sampai kopinya dingin, sampai ia merasa cukup kuat untuk pulang ke rumah yang tidak lagi kosong.


Galih pulang jam tiga sore hari itu, lebih cepat dari biasanya, dengan dua kardus besar di bagasi mobil.

Satu berisi mesin roasting kecil. Mesin sangrai kopi seukuran oven microwave, dari besi hitam dengan corong di atas dan drum kecil berputar di dalamnya. Yang lain berisi karung-karung goni kecil, masing-masing bertuliskan nama daerah dengan spidol. Gayo. Kintamani. Toraja. Flores Bajawa.

Cabang baru Fadlan, yang sekarang jalan dengan modal investor dan atas nama Fadlan sendiri, butuh menu khusus. Kopi yang tidak ada di sembilan cabang lain. Galih yang harus mengembangkannya. Biasanya ia melakukannya di gudang kedai Mampang, di ruangan kecil di belakang dapur yang panas dan berisik.

Ia berdiri di ruang depan rumah Kenanga, memandangi meja panjang dari kayu jati yang dulu dipakai Leknor untuk menerima klien. Jendelanya besar. Menghadap halaman depan dan pohon kamboja. Cahaya sorenya bagus.

Ia tidak tahu kenapa membawa mesin itu ke sini. Kedai Mampang punya ruangan sendiri. Punya ventilasi. Punya segalanya.

Tapi rumah ini kosong dari jam tujuh pagi sampai jam tujuh malam. Dan Jenar pulang ke rumah yang kosong. Dan dua malam lalu, waktu Galih pulang jam sebelas, ia menemukan Jenar tertidur di meja gambar lipat di pojok ruang tengah, kepala di atas lengan, pensil di tangan, lampu meja masih menyala, dan rumah yang sunyi sekali.

Ia meletakkan mesin roasting itu di ujung meja jati. Menyambungkan kabelnya. Menuang segenggam biji hijau Gayo ke dalam corong.

Drumnya mulai berputar.

Dalam sepuluh menit, bau biji kopi yang disangrai memenuhi ruang depan. Lalu ruang tengah. Lalu lorong. Lalu seluruh rumah. Bau yang hangat dan dalam, seperti roti dipanggang dan kacang dibakar dan sesuatu yang manis di ujungnya. Bau yang membuat rumah itu, untuk pertama kalinya sejak pemakaman, tidak berbau debu dan melati layu.

Galih berdiri di jendela ruang depan, memandangi pohon kamboja, dan mendengarkan biji-biji kopi mulai retak di dalam drum. Krek. Krek-krek. Retakan pertama. Seperti hujan kecil di atap seng.


Jenar mencium bau itu dari ujung jalan.

Ia turun dari taksi di depan pagar besi hijau jam enam sore, masih dengan blus putih dan tas kerja dan termos hitam yang sudah kosong. Ia berhenti di trotoar. Menghirup udara.

Kopi.

Bukan kopi yang diseduh. Kopi yang dimasak. Hangat dan dalam dan manis. Keluar dari jendela ruang depan yang terbuka, melayang ke halaman, ke pagar, ke trotoar.

Ia membuka pagar. Melepas sepatu di teras. Masuk.

Ruang depan berubah. Meja jati yang dulu kosong sekarang penuh. Mesin hitam dengan drum berputar. Karung-karung goni. Timbangan digital. Deretan toples kaca kecil berisi biji kopi dengan warna berbeda-beda, dari cokelat muda seperti kayu pinus sampai hitam mengilap seperti aspal basah. Buku catatan terbuka dengan tulisan miring ke kanan, angka-angka dan suhu dan menit.

Galih berdiri di tengah semuanya. Celemek kulit cokelat. Lengan kemeja digulung sampai siku. Ada noda arang di pipinya. Ia sedang menuang biji kopi yang baru disangrai ke nampan besi besar dan mengaduknya dengan sendok kayu supaya cepat dingin.

Ia mendongak waktu Jenar muncul di ambang pintu.

Mereka saling pandang.

“Ini apa?” tanya Jenar.

“Lab,” kata Galih.

“Lab?”

“Lab kopi. Buat menu cabang baru Fadlan.” Ia berhenti mengaduk. Wajahnya sedikit ragu, seperti anak kecil yang ketahuan membawa kucing liar pulang. “Gudang di Mampang panas. Di sini cahayanya bagus. Kalau kamu nggak suka, aku pindahin.”

Jenar memandangi ruang depan yang sekarang berbau seperti kedai Kang Ujang dan terlihat seperti laboratorium ilmuwan gila.

“Nggak,” katanya. “Nggak usah dipindahin.”

Galih mengangguk. Kembali mengaduk. Lalu, tanpa mengangkat kepala:

“Rapatnya?”

Jenar meletakkan tas kerja di kursi. Termos hitam di atasnya.

“Pak Hendro kasih dua minggu.”

Galih berhenti mengaduk. Mengangkat kepala.

“Dia nyuruh aku ngomong sama yang senior,” kata Jenar. “Aku bilang aku yang senior.”

Sudut bibir Galih naik. Pelan. Lalu terus naik, sampai jadi senyum miring di satu sisi yang sudah lama sekali tidak Jenar lihat.

“Kamu bilang gitu?”

“Aku bilang gitu.”

“Ke Pak Hendro?”

“Ke Pak Hendro.” Jenar tidak bisa menahan senyumnya sendiri. “Terus aku bacain buku catatan Kak Leknor soal ibunya. Terus dia nangis. Dikit. Terus dia bilang Kak Leknor orang baik.”

Galih meletakkan sendok kayu di nampan. Memandanginya lama. Noda arang di pipinya. Celemek kulit cokelat. Biji-biji kopi yang masih mengepul di nampan.

“Aku bilang kamu bisa,” katanya pelan.

“Iya. Di kulkas.”

“Aku bener, kan?”

“Kamu bener.”

Galih tersenyum lagi. Lalu ia menoleh ke deretan toples kaca, memilih satu, membukanya. Menuang sedikit ke telapak tangan. Biji kopi cokelat tua yang mengilap.

“Mau coba?” tanyanya. “Gayo. Baru aku roasting kemarin. Belum ada namanya.”

Jenar mengangguk.

Galih menggilingnya dengan penggiling kayu berengkol besi. Menyeduhnya dengan ketel leher angsa yang ia bawa dari kedai. Menuang pelan, melingkar, seperti di dapur jam tiga pagi. Jenar berdiri di sebelahnya di meja jati dan menonton, dan tidak sadar ia berdiri sangat dekat, sampai lengan mereka hampir bersentuhan.

Hampir.

Galih menyerahkan cangkir. Jenar menyesap.

“Ini kayak apa, ya,” katanya, berpikir. “Kayak cokelat? Tapi pahit. Terus ada rasa kayak rempah.”

“Kayu manis,” kata Galih. “Sama sedikit pala.”

“Kok bisa? Nggak dikasih kayu manis?”

“Nggak. Itu dari tanahnya. Dari Aceh. Tanahnya bikin kopinya kayak gitu.”

Jenar menyesap lagi. Memandangi cangkir itu.

“Terus namanya apa?”

“Belum ada. Kan aku bilang.”

“Kasih nama dong.”

Galih memandanginya. “Kamu yang kasih.”

“Aku?”

“Kamu yang pertama nyoba.”

Jenar memikirkannya sungguh-sungguh. Menyesap sekali lagi. Menahan kopi itu di mulut, seperti yang ia lihat Galih lakukan di kedai Kang Ujang, dan merasakannya. Pahit dan hangat dan sedikit pedas di ujung. Seperti hari ini. Seperti rapat yang dimulai dengan batu-batu kecil dan berakhir dengan buku catatan bersampul kulit. Seperti meja pojok dekat jendela dengan kursi kosong di seberangnya.

“Senior,” katanya.

Galih mengerjap. Lalu tertawa. Keras. Tawa yang keluar dari perut, yang membuat biji-biji kopi di nampan bergoyang.

“Senior,” ulangnya. “Oke. Namanya Senior.”

Ia mengambil spidol dan selotip kertas. Menulis dengan huruf miring ke kanan. Menempelkannya di toples kaca.

SENIOR. Gayo. Untuk Jenar.

Jenar memandangi label itu. Untuk Jenar. Tidak ada Mbak.

Ia tidak berkata apa-apa. Tapi malam itu, di pintu kulkas, di bawah Kamu bisa, ia menulis dengan huruf yang sedikit lebih besar dari biasanya:

Kamu bener.


Ibu-ibu arisan datang hari Sabtu jam sepuluh pagi, tanpa pemberitahuan, dengan dua belas rantang dan satu kaleng Khong Guan berisi gulungan kertas.

Jenar sedang di kamar mandi. Galih sedang di ruang depan, menyangrai biji Toraja dengan kaus oblong yang robek di ketiak dan celana pendek yang tidak serasi.

Bel berbunyi.

Galih membuka pintu dengan celemek kulit dan noda arang di dahi. Ia berhadapan dengan dua belas ibu-ibu berkerudung warna-warni dan gamis bermotif bunga, yang semuanya berhenti bicara di saat yang sama dan memandanginya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Yang berdiri paling depan adalah perempuan gemuk berumur lima puluhan dengan kerudung ungu dan tas kulit yang dijepit di ketiak. Bu Wati. Istri Pak RT. Galih mengenalnya dari tahlilan, perempuan yang memimpin doa dengan suara paling keras.

“Assalamualaikum,” kata Bu Wati.

“Waalaikumsalam, Bu.”

“Mas Galih, ya? Adiknya almarhumah Mbak Astri?”

“Iya, Bu.”

Bu Wati mengangguk. Lalu tersenyum lebar. “Kami dateng buat arisan.”

Galih mengerjap. “Arisan, Bu?”

“Iya. Arisan ibu-ibu kompleks. Bulan ini giliran rumah almarhumah Mbak Astri.” Bu Wati mengangkat kaleng Khong Guan di tangannya. “Kami udah rapat, udah sepakat. Arisannya tetep diadain di sini. Buat doa bersama juga. Mbak Astri itu yang paling rajin dateng arisan. Paling rame. Kami pikir, beliau pasti mau arisannya tetep jalan.”

Di belakang Bu Wati, sebelas ibu-ibu lainnya mengangguk-angguk.

“Kami udah bawa makanan semua,” lanjut Bu Wati. “Mas nggak usah repot. Tinggal sediain tempat.”

Galih memandangi dua belas rantang. Dua belas kerudung warna-warni. Satu kaleng Khong Guan.

“Bu,” katanya. “Sebentar ya, Bu.”

Ia menutup pintu. Pelan. Berbalik. Berjalan cepat ke lorong.

Pintu kamar mandi terbuka. Jenar keluar dengan rambut terbungkus handuk, kaus piyama, dan wajah yang masih setengah tidur.

“Siapa?”

“Arisan,” kata Galih.

“Apa?”

“Arisan ibu-ibu. Dua belas. Bulan ini giliran rumah Kak Astri. Mereka udah di depan pintu. Bawa rantang.”

Jenar memandanginya. Lalu memandang lorong ke arah pintu depan. Lalu kembali ke Galih.

“Dua belas?”

“Dua belas.”

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Mereka saling pandang dalam kepanikan murni. Handuk di kepala Jenar mulai melorot.

“Oke,” kata Jenar. “Oke. Kamu ganti baju. Itu kaus kamu robek.”

Galih melihat ketiaknya. “Oh.”

“Aku ganti baju. Aku buka pintu. Kita gelar tikar di ruang tengah. Kamu bikin teh.”

“Teh?”

“Ibu-ibu minum teh.”

“Aku bisa bikin kopi.”

“Galih, ibu-ibu umur lima puluh nggak minum pour over Gayo.”


Mereka minum pour over Gayo.

Awalnya Galih menyeduh teh. Dua teko besar teh melati dengan gula batu, seperti yang Jenar suruh. Tapi Bu Ratmi, ibu berkerudung hijau yang duduk paling dekat ke ruang depan, mencium bau biji kopi yang baru disangrai dan menoleh dengan mata berbinar.

“Itu bau apa, Mas? Kok enak banget?”

“Kopi, Bu. Saya lagi nyangrai.”

“Kopi apa?”

“Toraja, Bu.”

“Ibu mau coba, dong.”

Lima menit kemudian, Galih berdiri di depan meja jati di ruang depan dengan dua belas cangkir berjajar, menyeduh satu per satu dengan ketel leher angsa, sementara dua belas ibu-ibu berdesakan di ambang pintu ruang depan menontonnya seperti menonton acara masak di televisi.

“Kok nuangnya muter-muter gitu, Mas?”

“Biar rata, Bu.”

“Nggak pakai gula?”

“Coba dulu tanpa gula, Bu. Kalau nggak suka, nanti saya kasih gula.”

Bu Ratmi menyesap. Diam. Lalu memandangi cangkirnya dengan mata terbelalak.

“Kok manis?”

“Dari bijinya, Bu.”

“Nggak pakai gula tapi manis?”

“Iya, Bu.”

“Ya Allah.” Bu Ratmi menoleh ke ibu-ibu lainnya. “Ini kopinya ajaib!”

Jenar berdiri di ambang dapur dengan nampan berisi kue lapis dan pastel dari rantang-rantang, menonton Galih dikelilingi dua belas ibu-ibu yang bergantian minta diseduhkan, dan menahan tawa sampai perutnya sakit.

Galih melirik ke arahnya. Tatapan yang sangat jelas berarti tolong.

Jenar mengangkat bahu dan membawa nampannya ke ruang tengah.


Setelah kopi, setelah doa bersama yang dipimpin Bu Wati dengan suara yang membuat kaca jendela bergetar, setelah semua rantang dibuka dan semua kue lapis dimakan, ibu-ibu duduk melingkar di tikar ruang tengah, dan Bu Wati membuka kaleng Khong Guan.

“Nah, sekarang kocokan,” katanya.

Jenar dan Galih duduk di pinggir lingkaran, di sofa yang digeser ke dinding, berdampingan karena tidak ada tempat lain. Di bawah foto pernikahan dalam bingkai kayu jati. Ada jarak satu jengkal di antara mereka.

“Mas Galih sama Mbak Jenar ikut duduk sini aja,” kata Bu Wati, menepuk tikar di sebelahnya. “Sebagai tuan rumah.”

Mereka pindah ke tikar. Duduk bersila. Berdampingan. Jarak satu jengkal masih ada. Tapi di tikar, di antara dua belas ibu-ibu yang duduk berdesakan, satu jengkal itu jadi terlihat sangat jelas.

Bu Ratmi, yang sekarang jadi penggemar nomor satu Galih, memandangi mereka berdua dengan tatapan yang tiba-tiba sangat tertarik.

“Mbak Jenar,” katanya. “Ini Mas Galih suaminya, ya?”

Jenar tersedak teh melati.

“Bukan, Bu,” kata Galih cepat.

“Oh, belum?” Bu Ratmi mengangguk-angguk penuh pengertian. “Masih tunangan?”

“Bukan, Bu. Saya adiknya almarhumah Kak Astri. Dia adiknya almarhum Kak Leknor.”

“Oh, jadi ipar.”

“Iya, Bu.”

“Tapi tinggal serumah?”

Hening di lingkaran tikar. Dua belas pasang mata menoleh.

“Iya, Bu,” kata Jenar, dengan suara orang yang baru menginjak ranjau. “Karena wasiat. Rumahnya diwarisin berdua. Harus ditempatin bareng.”

“Oh.” Bu Ratmi mengangguk lagi. Lalu menoleh ke ibu di sebelahnya. Bu Endang, berkerudung kuning, yang terkenal sebagai admin grup WhatsApp RT. Mereka saling pandang. Senyum kecil yang penuh arti.

“Bagus itu,” kata Bu Endang. “Biar rumahnya tetep di keluarga. Sekalian aja, ya.”

“Sekalian apa, Bu?”

“Ya, sekalian. Kalian kan udah serumah. Udah kenal keluarga masing-masing. Cocok.” Bu Endang tersenyum lebar. “Almarhumah Mbak Astri pasti seneng.”

“Bu, bukan gitu...” kata Galih.

“Mas Galih bikinin kopi buat Mbak Jenar tiap pagi, ya?” potong Bu Ratmi.

Jenar dan Galih membeku.

“Kok Ibu tahu?” tanya Jenar sebelum bisa mencegah dirinya sendiri.

“Ibu lihat dari jendela dapur, Mbak. Rumah Ibu kan pas di belakang. Tiap pagi jam enam kurang, lampu dapur sini nyala. Mas Galih bikin kopi. Terus ditaruh di meja. Terus pergi.” Bu Ratmi tersenyum penuh kemenangan. “Terus Mbak Jenar keluar, minum kopinya sendirian, sambil senyum-senyum.”

“Saya nggak senyum-senyum, Bu.”

“Senyum, Mbak. Ibu lihat.”

Seluruh lingkaran tikar tertawa. Galih menunduk dan memandangi tikar pandan dengan intensitas orang yang mencari jalan keluar di lantai.

Jenar merasakan wajahnya terbakar dari leher sampai ujung telinga.

“Yang satu lagi,” kata Bu Endang, sekarang benar-benar menikmati. “Kok Mas Galih manggil istrinya Mbak? Ibu dengar tadi. Mbak, nampannya taruh sini. Kok manggil istri pakai Mbak?”

“Bu, dia bukan istri saya.”

“Iya, iya. Calon.”

“Bukan calon juga, Bu.”

“Belum calon.” Bu Endang mengangguk sabar, seperti menjelaskan pada anak kecil. “Nanti juga jadi.”

“Bu...”

“Kocok, kocok!” seru Bu Wati, mengangkat kaleng Khong Guan tinggi-tinggi, menyelamatkan mereka tanpa sengaja. “Nanti keburu Zuhur!”

Kaleng itu dikocok. Bunyi gulungan kertas di dalamnya seperti biji kopi di drum sangrai. Bu Wati membuka tutupnya dan mengulurkannya pada Jenar.

“Tuan rumah yang ambil.”

Jenar memandangi kaleng itu. Gulungan-gulungan kertas kecil, diikat karet gelang warna-warni. Ia memasukkan tangan. Mengambil satu. Menyerahkannya pada Bu Wati.

Bu Wati membuka karet gelangnya. Membuka gulungan kertasnya. Membaca.

Senyumnya membeku.

Lingkaran tikar tiba-tiba sangat sunyi.

“Kenapa, Bu?” tanya Bu Ratmi.

Bu Wati tidak menjawab. Ia memandangi kertas kecil itu lama. Lalu, pelan, memutarnya dan memperlihatkannya pada semua orang.

Tulisan tangan yang bulat dan besar dan sedikit miring. Lingkaran kecil di atas huruf i.

Astri. Kenanga 12.

Jenar menutup mulutnya dengan tangan.

Di sebelahnya, Galih tidak bergerak. Tidak bernapas.

“Ibu lupa ngeluarin namanya,” kata Bu Wati pelan. Suaranya yang biasanya keras sekarang hampir berbisik. “Ibu lupa. Ya Allah. Maaf, Mbak. Maaf, Mas.”

Tidak ada yang bicara. Salah satu ibu di ujung lingkaran mulai menangis pelan. Lalu yang lain.

Bu Wati mengusap matanya dengan ujung kerudung ungunya. Lalu, dengan napas panjang, ia menegakkan punggung dan memandangi Jenar dan Galih.

“Nggak,” katanya. “Nggak apa-apa. Ini rezeki Mbak Astri. Mbak Astri yang narik. Lewat tangan Mbak Jenar.”

Ia mengambil amplop cokelat dari tas kulitnya. Amplop berisi uang arisan bulan ini. Menyerahkannya dengan kedua tangan pada Jenar.

“Ini buat kalian.”

Jenar memandangi amplop itu. Tidak bisa mengangkat tangan.

Galih yang mengambilnya. Pelan. Dengan dua tangan, seperti menerima sesuatu yang sangat berat.

“Makasih, Bu,” katanya. Suaranya serak. “Uangnya nanti kami sumbangin ke yayasan voli putri di Garut. Kak Astri dulu atlet voli. Dia pasti mau.”

Bu Wati memandanginya. Lalu mengangguk pelan, matanya basah.

“Almarhumah pasti bangga sama kalian berdua,” katanya.

Kalian berdua.

Jenar merasakan sesuatu menyentuh punggung tangannya di atas tikar pandan. Hangat. Ringan. Hanya sebentar.

Jari kelingking Galih. Di sebelah jari kelingkingnya.

Tidak menggenggam. Hanya bersentuhan. Seperti jari kelingking Hana dan Fadlan di jok belakang mobil dalam perjalanan ke bandara.

Satu jengkal di antara mereka sudah tidak ada.

Tidak ada yang menarik tangannya.


Ibu-ibu pulang jam dua belas lewat, setelah azan Zuhur, dengan rantang-rantang kosong dan tiga kantong kopi Toraja yang Galih bungkus dengan tergesa-gesa di atas meja jati.

Bu Endang pulang terakhir. Di teras, ia berhenti, mengeluarkan ponsel, dan mengangkatnya.

“Foto dulu, ya. Buat grup RT.”

“Bu, nggak usah...”

“Sebentar aja. Buat kenang-kenangan arisan terakhir Mbak Astri.” Bu Endang melambai-lambai. “Mas, Mbak, berdiri deket pintu. Deketan. Senyum.”

Mereka berdiri di ambang pintu. Berdampingan. Galih dengan celemek kulit yang lupa dilepas. Jenar dengan kaus yang ada noda kue lapis di bagian dada.

“Deketan lagi, Mas. Jangan kayak musuhan.”

Jenar tertawa. Tawa yang tidak bisa ditahan. Kalimat yang sama, persis, yang diteriakkan fotografer di pelaminan. Kayak orang musuhan aja.

Galih menoleh padanya. Melihat ia tertawa. Dan ikut tertawa. Bahu mereka bersentuhan di ambang pintu.

Bu Endang memotretnya tepat di saat itu.


Jam sembilan malam, ponsel Jenar bergetar.

Grup WhatsApp RT 05 Kenanga Asri. Seratus dua puluh tiga anggota. Jenar dimasukkan ke grup itu di hari ketiga setelah pemakaman, dan belum pernah membukanya.

Ia membukanya sekarang.

Foto. Dua orang di ambang pintu rumah bercat putih yang mengelupas di bawah jendela. Laki-laki bercelemek kulit dengan noda arang di dahi. Perempuan berkaus dengan noda kue lapis di dada. Mereka berdua tertawa, kepala sedikit miring ke arah satu sama lain, bahu bersentuhan.

Di bawahnya, pesan dari Bu Endang (Admin).

Arisan bulan ini di rumah Almh. Mbak Astri, Kenanga 12. Terima kasih tuan rumah Mas Galih & Mbak Jenar. Kopinya luar biasa!! Semoga Almh. Mbak Astri & Alm. Mas Leknor husnul khatimah. Aamiin.

Selamat datang juga pengantin baru di Kenanga 12!! 🥰🥰🥰

Di bawahnya lagi, empat puluh tujuh balasan.

Aamiin.

Aamiin ya Allah.

MasyaAllah cocok banget.

Kapan resepsinya Bu?

Mas Galih yang kopi itu ya? Bikin kedai di kompleks dong Mas!!

Ganteng suaminya Mbak Jenar.

Bu Endang itu bukan suami istri katanya.

Belum. Nanti juga.

Aamiin.

AAMIIN.

Jenar menatap layar ponselnya dengan mulut terbuka.

Pintu ruang kerja terbuka di ujung lorong. Langkah kaki telanjang di lantai kayu. Galih muncul di ambang ruang tengah dengan ponsel di tangan dan wajah yang sama persis dengan wajahnya sendiri.

Mereka saling pandang.

“Kamu udah lihat?” tanya Galih.

“Kapan resepsinya, Bu?”

“Ganteng suaminya Mbak Jenar.”

“Belum. Nanti juga.”

“AAMIIN. Pakai huruf besar.”

Jenar tertawa. Keras. Tanpa bisa ditahan. Ia menjatuhkan diri ke sofa, menutup wajah dengan bantal, dan tertawa sampai perutnya sakit, sampai matanya berair.

Galih bersandar di ambang pintu dan tertawa juga. Pelan dulu, lalu lebih keras. Lalu ia duduk di lengan sofa di ujung yang lain, dan mereka berdua tertawa di ruang tengah yang terang, di bawah foto pernikahan dalam bingkai kayu jati.

Tawa mereka tidak berhenti tiba-tiba. Tidak ada saklar yang dimatikan. Tawa itu reda sendiri, pelan-pelan, sampai yang tersisa hanya napas yang masih sedikit tersengal dan senyum yang belum mau pergi.

Galih memandangi layar ponselnya lagi.

“Ibu-ibu nanya,” katanya, “kenapa aku manggil kamu Mbak.”

Jenar menurunkan bantal dari wajahnya.

“Terus kamu jawab apa?”

“Aku nggak jawab. Mereka keburu kocokan.”

“Oh.”

Hening sebentar. Jam dinding berdetak.

“Jadi,” kata Galih. Ia tidak memandangi Jenar. Ia memandangi foto di dinding, dua orang di tengah pelaminan dengan senyum yang tidak sampai ke mata. “Mulai sekarang...”

Ia berhenti.

Jenar menunggu.

“Jen aja,” katanya.

Jenar memandanginya. Sisi wajahnya. Rahang yang tidak mengeras kali ini. Telinga yang merah lagi. Sampai ke tengkuk.

“Oke,” katanya pelan. “Jen aja.”

“Kamu juga.”

“Juga apa?”

“Jangan panggil aku Mas.”

“Terus apa?”

Galih akhirnya menoleh. Senyum miring di satu sisi.

“Galih aja. Kayak dulu.”

Kayak dulu.

Kata-kata itu melayang di udara ruang tengah, di antara mereka, di bawah foto pernikahan dan jam dinding yang berdetak. Dua kata yang, secara teknis, melanggar aturan nomor enam.

Tidak ada yang menunjuknya.

“Oke,” kata Jenar. “Galih.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk