BAB 13 - Dua Suara dari Dua Sisi

0 dibaca

A

Fadlan muncul di depan pagar besi hijau hari Kamis jam delapan malam, dengan tas ransel di satu bahu, Kiki di bahu yang lain, dan wajah orang yang sudah tiga malam tidak tidur.

“Gal,” katanya waktu Galih membuka pintu. “Gue boleh nginep?”

Galih memandangi sahabatnya. Kemeja yang kusut. Mata merah. Kiki yang setengah tertidur di bahunya, memeluk dinosaurus plastik hijau yang sudah lecet di bagian ekor.

“Sidangnya besok?”

Fadlan mengangguk.

“Masuk.”

“Aturan nomor lima,” kata Fadlan, sudah melangkah melewati ambang pintu. “Gue tahu. Harus bilang dulu kalau mau bawa tamu nginep. Lo udah cerita. Gue minta maaf. Tapi di apartemen gue sepi banget, Gal. Kiki nanya terus besok kita ke mana. Gue nggak tahu harus jawab apa. Gue nggak bisa...”

Suaranya pecah di tengah.

Galih menutup pintu dan mengambil ransel dari bahu Fadlan tanpa berkata apa-apa.

Di ujung lorong, pintu kamar Jenar terbuka. Jenar muncul dengan kaus kebesaran dan kacamata baca yang jarang ia pakai di depan orang, pensil terselip di balik telinga. Ia melihat Fadlan. Melihat Kiki. Melihat wajah Galih.

“Aturan nomor lima,” kata Galih padanya, pelan. “Maaf. Aku nggak sempet bilang.”

Jenar memandangi Kiki yang mulai terbangun, mengucek mata dengan kepalan tangan kecil.

“Aturan nomor lima nggak berlaku buat yang umurnya di bawah tujuh tahun,” katanya.


Kiki berumur empat tahun tiga bulan, dan dalam dua puluh menit ia sudah menguasai seluruh rumah.

Ia berlari dari ruang depan ke dapur ke ruang tengah dengan kaus tidur bergambar roket yang kebesaran. Ia menemukan mesin roasting di meja jati dan memandanginya dengan mata terbelalak seperti menemukan pesawat luar angkasa. Ia menemukan meja gambar lipat Jenar di pojok ruang tengah dan pensil-pensil warna di kaleng bekas biskuit. Ia menemukan pintu dengan stiker awan di ujung lorong dan berdiri di depannya lama, jari kecilnya menyentuh stiker itu.

“Ini kamar siapa?”

Jenar, yang sedang menyiapkan susu cokelat di dapur, berhenti mengaduk.

Galih, yang sedang membongkar ransel Fadlan di ruang tengah, berhenti membongkar.

“Kamar tamu kecil,” kata Jenar dari dapur. Suaranya ringan. Terlalu ringan. “Lagi dikunci. Kuncinya ilang.”

“Oh.” Kiki menerima jawaban itu dengan kepercayaan penuh anak empat tahun. Ia melepaskan stiker awan dan berlari kembali ke ruang tengah.

Jenar mengaduk susu cokelat itu lebih lama dari yang perlu.

Fadlan duduk di sofa dengan kepala di tangan. Galih meletakkan secangkir kopi di depannya. Bukan pour over. Kopi tubruk, pekat dan kental, seperti yang dulu mereka minum di gerobak jam lima pagi.

“Minum,” kata Galih.

“Gue nggak bisa tidur kalau minum kopi.”

“Lo nggak bakal tidur juga kalau nggak minum.”

Fadlan tertawa kecil. Menyerah. Mengambil cangkirnya.

Kiki muncul di depan Jenar, yang sekarang duduk di lantai ruang tengah dengan segelas susu cokelat di tangan. Ia memandangi Jenar dari atas sampai bawah dengan kecurigaan yang serius.

“Tante siapa?”

“Jenar.”

“Tante Jenar tinggal di sini?”

“Iya.”

“Sama Om Galih?”

“Iya.”

Kiki mempertimbangkan informasi ini. Lalu menunjuk meja gambar lipat di pojok. “Itu punya Tante?”

“Iya.”

“Tante tukang gambar?”

“Arsitek.”

“Apa itu?”

“Orang yang gambar rumah.”

Kiki mengangguk dengan wajah sangat mengerti. “Tante Gambar.”

Jenar tertawa. Kiki tidak tertawa. Ia menoleh ke ruang depan, ke mesin roasting hitam di meja jati, ke toples-toples kaca berisi biji kopi. Lalu ke Galih di sofa.

“Om Galih Om Kopi,” katanya, dengan nada seperti hakim yang menjatuhkan putusan.

“Om Galih ya Om Galih,” protes Galih.

“Om Kopi,” ulang Kiki. Final.

Fadlan tertawa ke dalam cangkirnya. Tawa pertama sejak ia berdiri di depan pagar.

Lalu Kiki menyodorkan sesuatu ke hadapan Jenar. Dinosaurus plastik hijau. Tyrannosaurus. Ekornya lecet. Salah satu kaki depannya yang kecil hampir patah, ditambal selotip bening yang sudah menguning.

“Ini Rexi,” kata Kiki. “Dia galak. Tapi baik.”

Jenar memandangi dinosaurus itu.

Ia kenal lecet di ekornya. Ia kenal karena ia sendiri yang menyebabkannya, pagi terakhir di Pangandaran, waktu ia membuka kantong plastik hitam di kamar dua-empat-satu dan dinosaurus itu jatuh ke lantai keramik hotel. Ia memungutnya. Mengusap ekornya yang tergores. Membungkusnya dengan kertas koran sebelum memasukkannya ke kardus, dua bulan kemudian, untuk dikirim ke alamat yang ia cari sendiri.

“Dari mana Rexi?” tanyanya. Suaranya terdengar aneh di telinganya sendiri.

“Dari Om Kopi,” kata Kiki bangga. “Om Kopi beliin dari pantai. Om Kopi pergi ke pantai terus pulang bawa Rexi.”

Jenar tidak berani mengangkat kepala.

Tapi ia merasakannya. Tatapan dari arah sofa. Tatapan yang berhenti di dirinya, di tangannya yang memegang dinosaurus plastik hijau, dan tidak bergeser.

“Rexi ganteng,” katanya pada Kiki. Pelan. “Jagain dia baik-baik, ya.”

“Iya. Rexi tidur sama aku tiap malem.”

Jenar mengembalikan dinosaurus itu ke tangan kecil yang terulur. Lalu ia mengangkat kepala.

Galih sedang memandanginya dari sofa. Wajahnya tidak datar. Wajahnya bingung, dan terbuka, dan menanyakan sesuatu yang tidak ia ucapkan.

Jenar memalingkan wajah lebih dulu.


Mereka main dinosaurus di lantai ruang tengah sampai jam sembilan lewat.

Kiki yang mengatur. Kiki punya tiga dinosaurus lain di ranselnya, semuanya dengan nama dan kepribadian yang ia jelaskan panjang lebar. Stego yang penakut. Tri yang suka makan. Ptero yang bisa terbang tapi selalu jatuh. Rexi, tentu saja, adalah rajanya.

Jenar menjadi Stego. Galih menjadi Tri. Mereka berdua duduk bersila di atas karpet, di depan sofa, memegang dinosaurus plastik dan membuat suara-suara yang Kiki instruksikan dengan sangat serius.

“Stego harus nangis, Tante Gambar. Soalnya dia takut sama Rexi.”

“Hu... hu...”

“Nangisnya kurang keras.”

“HUUU...”

“Tri harus makan daun. Om Kopi, Tri harus makan daun.”

Galih memandangi dinosaurus plastik di tangannya. Lalu memandangi daun kering dari pot kamboja yang Kiki sodorkan.

“Om Kopi nggak mau makan daun,” katanya.

“Bukan Om Kopi. Tri.”

“Tri juga nggak mau.”

“Tri harus mau. Tri itu herbivora.”

Galih menyerah dan mendekatkan dinosaurus plastik ke daun kering sambil membuat suara mengunyah yang sangat meyakinkan. Kiki mengangguk puas. Jenar menunduk sampai dahinya hampir menyentuh karpet, bahunya berguncang.

“Tante Gambar kok ketawa?”

“Stego ketawa, bukan Tante.”

“Stego kan penakut. Penakut nggak ketawa.”

“Stego lagi seneng.”

“Kenapa?”

Jenar mengangkat kepala. Di seberangnya, Galih masih memegang dinosaurus plastik di atas daun kering. Rambutnya berantakan. Ada remahan daun di kausnya. Wajahnya yang dulu seperti kulkas sekarang pasrah total, seperti laki-laki yang sudah menerima nasibnya sebagai herbivora.

“Karena Tri lucu,” kata Jenar.

Galih memandanginya. Sudut bibirnya naik. Pelan.

Di sofa, Fadlan memandangi mereka berdua. Cangkir kopi tubruk di tangannya sudah kosong. Ia tidak berkata apa-apa. Tapi ia tersenyum, untuk pertama kalinya malam itu, dengan senyum yang tidak ada hubungannya dengan dirinya sendiri.

Lalu Kiki meletakkan Rexi di karpet dan memandangi foto di dinding di atas sofa. Foto pernikahan dalam bingkai kayu jati.

“Itu Tante Astri,” katanya.

Ruang tengah membeku.

“Iya,” kata Jenar pelan.

“Tante Astri mana?”

Fadlan menegakkan punggung di sofa. Membuka mulut. Galih mengangkat tangan sedikit ke arahnya. Biar.

Jenar meletakkan Stego di karpet. Ia menggeser duduknya, pelan, sampai ia di depan Kiki. Setinggi mata anak itu.

“Tante Astri udah pergi ke tempat yang jauh,” katanya. “Jauh banget. Nggak bisa pulang lagi.”

Kiki memandanginya dengan dahi berkerut. Berpikir keras.

“Kayak dinosaurus?”

Jenar mengerjap.

“Dinosaurus juga udah nggak ada,” jelas Kiki dengan sabar, seperti menjelaskan pada orang dewasa yang lambat mengerti. “Udah lama banget. Tapi kita masih punya tulangnya. Di museum. Jadi kita masih inget.”

Tenggorokan Jenar tercekat.

Di sebelahnya, Galih menunduk ke dinosaurus plastik di tangannya. Rahangnya bergerak.

“Iya,” kata Jenar. Suaranya nyaris tidak keluar. “Kayak dinosaurus. Udah nggak ada. Tapi kita masih inget.”

Kiki mengangguk puas. Lalu menguap lebar. Lalu, tanpa peringatan, ia merangkak ke pangkuan Jenar, memutar badan tiga kali seperti anak kucing mencari posisi, dan menyandarkan kepalanya di dada Jenar dengan Rexi di pelukannya.

“Aku ngantuk,” katanya.

Jenar membeku. Tangannya menggantung di udara. Ia tidak tahu harus meletakkannya di mana.

“Maaf,” kata Fadlan, mulai bangkit dari sofa. “Kiki, sini sama Papa...”

“Nggak mau. Mau sama Tante Gambar.”

Jenar pelan-pelan menurunkan tangannya. Melingkarkannya di punggung kecil itu. Hangat. Kecil sekali. Napas yang mulai melambat di dadanya.

Ia belum pernah menggendong anak kecil. Tidak pernah punya adik. Tidak pernah punya keponakan.

Hampir punya.

Ia memandangi rambut Kiki yang tipis dan lembut di bawah dagunya, dan memikirkan kamar dengan stiker awan di ujung lorong, dan boks bayi dari kayu jati yang menghadap jendela.

Ia tidak menangis. Ia hanya memeluk anak itu sedikit lebih erat.

Saat mengangkat kepala, ia menemukan Galih memandanginya. Tidak sembunyi-sembunyi. Tidak buru-buru memalingkan wajah seperti biasanya. Hanya memandangi. Jenar dengan anak kecil tertidur di dadanya, di lantai ruang tengah, di bawah foto kakak-kakak mereka.

Ada sesuatu di wajah itu yang Jenar tidak berani baca.


Kiki tidur di kamar Jenar malam itu. Ia menolak dipindahkan ke sofa bersama ayahnya. Ia berpegangan pada kaus Jenar dengan satu tangan dan Rexi dengan tangan yang lain, dan setiap kali Fadlan mencoba mengangkatnya, ia merengek tanpa membuka mata.

“Nggak apa-apa,” bisik Jenar. “Biar di sini.”

Fadlan memandanginya dengan rasa terima kasih yang terlalu besar untuk diucapkan. Ia tidur di sofa ruang tengah. Galih kembali ke sofa retak di ruang kerja.

Tapi tidak ada yang benar-benar tidur.


Jam dua belas lewat sepuluh, Galih menemukan Fadlan di teras belakang.

Duduk di tangga semen yang turun ke halaman, di bawah pohon mangga yang daunnya berdesir ditiup angin malam. Lampu teras mati. Hanya cahaya dari jendela dapur tetangga, rumah Bu Ratmi, yang jatuh samar di rumput.

Galih duduk di sebelahnya. Menyodorkan sebungkus rokok yang ia tahu Fadlan sudah berhenti sejak Kiki lahir.

Fadlan memandanginya. Mengambil satu. Tidak menyalakannya. Hanya memutar-mutarnya di jari.

“Gue takut, Gal,” katanya.

“Gue tahu.”

“Pengacaranya Rina punya daftar. Semua hal yang gue lakuin salah. Gue telat jemput Kiki dari PAUD dua kali bulan lalu. Gue pernah ninggalin dia di kedai sama barista pas gue rapat sama investor. Gue kerja sampai malem. Gue nggak punya rumah, cuma apartemen sewa.” Ia memutar rokok itu lebih cepat. “Semuanya bener. Semuanya bener, Gal.”

“Lo juga bangun jam lima tiap pagi buat bikinin dia nasi goreng bentuk dinosaurus.”

Fadlan tertawa kecil. “Itu nggak ada di daftar.”

“Harusnya ada.”

Mereka duduk dalam diam. Angin malam. Daun mangga berdesir. Seekor cicak berdecak di dinding.

“Makasih, Gal,” kata Fadlan akhirnya. “Udah bolehin nginep.”

“Rumah ini bukan punya gue sendiri.”

“Tapi tadi dia nggak keberatan.”

Galih tidak menjawab.

Fadlan memandanginya dari samping. Lama. Tatapan delapan tahun.

“Gal.”

“Hm.”

“Gue boleh nanya sesuatu?”

“Lo udah nanya.”

“Dinosaurus itu,” kata Fadlan. “Rexi. Lo nggak pernah beliin itu buat Kiki, kan?”

Galih tidak bergerak.

“Gue baru nyadar tadi,” lanjut Fadlan pelan. “Pas Kiki bilang dari Om Kopi, Om Kopi pergi ke pantai. Terus muka Jenar. Muka lo.” Ia memutar rokok di jarinya. “Kardus itu. Yang dateng ke Mampang tanpa nama. Isinya kaus gue yang kekecilan, dinosaurus, kain batik buat Kak Astri. Gue kira lo yang ngirim ke diri lo sendiri. Soalnya lo aneh banget pas itu. Tapi bukan, ya?”

Galih memandangi rumput yang gelap.

“Dia yang ngirim,” kata Fadlan. Bukan pertanyaan. “Jenar.”

Hening.

“Barang-barang gue ketinggalan di kamarnya,” kata Galih akhirnya. Sangat pelan. “Malam terakhir di Pangandaran.”

“Kenapa bisa ketinggalan di kamarnya?”

Galih tidak menjawab. Fadlan tidak perlu jawaban.

“Terus kenapa lo pergi?” tanya Fadlan. “Lo nggak pernah cerita, Gal. Lo pulang dari Pangandaran kayak orang yang abis dikubur idup-idup. Tiga minggu lo nggak ngomong sama siapa-siapa. Kak Astri nelepon gue tiap hari nanya lo kenapa. Gue nggak tahu harus jawab apa. Gue kira lo cuma masih marah sama gue soal kontrak.”

Galih mengambil rokok dari bungkusnya sendiri. Seperti Fadlan, ia tidak menyalakannya. Hanya memegangnya.

Lalu, untuk pertama kalinya sejak pangandaran, ia menceritakannya.

Malam terakhir. Ciuman di teras. Kasih aku waktu sampai Bandung. Kantong plastik yang tertinggal. Lorong lantai dua dengan lampu yang berkedip. Suara Jenar yang menembus kayu pintu.

Ya bukan gitu, Hana. Gue gak semurahan itu. Anggap aja ini mengisi waktu gue melupakan kakak lo.

Galih mengucapkannya kata per kata. Ia tidak perlu mengingat. Kalimat itu sudah terukir di kepalanya seperti prasasti.

Fadlan mendengarkan tanpa menyela. Waktu Galih selesai, ia diam lama.

“Kakak lo,” ulangnya. “Kakaknya Hana. Dokter yang tadi siang... yang lo ceritain dateng bawa soto.”

“Hanif.”

“Terus lo langsung pergi.”

“Gue denger sendiri, Lan.”

“Terus lo nggak pernah nanya ke dia? Sekali pun? Apa maksudnya?”

“Buat apa? Gue denger sendiri.”

Fadlan meletakkan rokok yang belum dinyalakan di anak tangga di sebelahnya. Memutar badan sedikit untuk menghadap Galih.

“Gal,” katanya. “Lo juga denger sendiri gue tanda tangan kontrak di belakang lo. Lo lihat sendiri berkasnya. Tanda tangan gue. Di atas meterai.”

Galih menoleh.

“Semuanya bener,” lanjut Fadlan. “Gue emang tanda tangan. Tapi alasannya bukan yang lo kira. Lo kira gue ngekhianatin lo. Ternyata gue lagi panik soal Kiki.” Ia berhenti. “Kalau waktu itu lo nggak ketemu Jenar di Pangandaran, kalau nggak ada yang nyuruh lo dengerin gue dulu, lo pasti masih nggak ngomong sama gue sampai sekarang.”

Galih memandangi rokok di jarinya.

“Itu beda,” katanya.

“Beda di mana?”

“Lo sahabat gue delapan tahun. Gue kenal lo. Dia...” Galih berhenti. “Gue baru kenal dia lima hari.”

“Terus sekarang?”

Galih diam.

“Sekarang lo udah kenal dia berapa lama?” desak Fadlan pelan. “Tinggal serumah sama dia berapa bulan? Bikinin dia kopi tiap pagi berapa kali? Lo tahu dia suka selai kacang, bukan meses. Lo tahu dia keramas tiap hari satu jam. Lo tahu dia nangis di dapur jam tiga pagi, soalnya lo cerita ke gue minggu lalu dan lo nggak sadar muka lo kayak apa waktu cerita.”

“Lan...”

“Dan cewek yang cuma ngisi waktu,” potong Fadlan, “nggak ngirim dinosaurus buat anak orang yang dia bahkan nggak kenal. Nggak nyari alamat kedai sendiri. Nggak bungkus pakai kertas koran biar nggak patah.”

Galih menunduk.

“Satu lagi,” kata Fadlan. “Hana.”

Galih mengangkat kepala.

“Lo tahu kenapa Hana benci banget sama lo?” Fadlan tersenyum tipis. “Di nikahan Kak Astri, dia bawa es buah dua gelas ke mana-mana. Katanya buat nyiram lo. Terus di bandara, dia nyuruh lo jagain Jenar kayak dia lagi ngancem mau bunuh lo.” Ia menggeleng pelan. “Cewek yang cuma ngisi waktu, Gal, nggak punya sahabat yang pengin nyiram lo pakai es buah. Sahabatnya cuma bakal bilang ya udah, lupain aja.”

Angin berdesir di daun mangga.

“Hana sahabatnya,” kata Galih akhirnya. “Dia pasti belain Jenar. Apa pun yang terjadi.”

“Mungkin.”

“Dia yang di telepon itu, Lan. Dia yang denger langsung Jenar bilang kayak gitu.”

Fadlan diam sebentar. Lalu bertanya, sangat pelan, “Lo pernah nanya langsung ke Jenar? Sekali aja? Maksud kamu apa waktu itu?”

Galih memandangi rokok yang tidak menyala di jarinya.

“Aturan nomor enam,” katanya. “Jangan bahas pantai.”

“Siapa yang bikin aturan itu?”

“Dia.”

“Terus lo langsung setuju?”

“Gue yang bikin aturan nomor tujuh.”

“Apa?”

“Jangan buka kamar itu.”

Fadlan memandanginya lama. Lalu memandang ke rumah, ke lorong yang gelap di balik pintu dapur, ke pintu dengan stiker awan di ujungnya.

“Kalian berdua,” katanya pelan, “ngunci semua pintu yang ada di rumah ini. Terus heran kenapa rumahnya sesak.”

Galih tidak menjawab.

Mereka duduk di tangga semen sampai jam satu, dua rokok yang tidak pernah dinyalakan di anak tangga di antara mereka.


Di kamar di ujung lorong yang lain, Jenar berbaring miring di tepi kasur single dengan Kiki di sebelahnya.

Kasurnya terlalu kecil untuk dua orang, meskipun salah satunya berumur empat tahun. Kiki tidur dengan tangan dan kaki terentang ke segala arah, seperti bintang laut. Satu kakinya menendang perut Jenar setiap sepuluh menit. Rexi terjepit di antara dagu Kiki dan bantal.

Jenar tidak bisa tidur. Tapi ia tidak keberatan.

Ponselnya bergetar di nakas. Ia meraihnya pelan-pelan supaya tidak membangunkan Kiki.

Hana. Panggilan video.

Di Belanda jam enam sore. Di Jakarta tengah malam.

Jenar menurunkan kaki dari kasur dengan sangat hati-hati. Kiki menggeliat, menggumamkan sesuatu tentang daun, lalu kembali tertidur. Jenar berjingkat ke ambang pintu, keluar, dan duduk di lantai lorong dengan punggung di dinding, di antara pintu kamarnya dan pintu kamar mandi.

Ia mengangkat panggilan itu. Suara dikecilkan sampai hampir tidak terdengar.

Wajah Hana muncul di layar. Syal tebal melilit leher. Hidung merah. Latar belakangnya kamar asrama yang sempit dengan jendela yang memperlihatkan langit kelabu dan atap-atap bata.

“Lo kok bisik-bisik?” bisik Hana.

“Ada anak kecil tidur di kamar gue.”

“Anak siapa?”

“Kiki. Anaknya Fadlan.”

Hana diam. Wajahnya berubah. “Fadlan di situ?”

“Nginep. Besok sidang hak asuh.”

“Gue tahu. Dia cerita tadi.” Hana menggigit bibir. “Dia nggak bilang mau nginep di tempat lo.”

“Kayaknya dia juga nggak ngerencanain.”

Hana menarik syalnya lebih tinggi sampai menutupi dagu. Matanya memandangi Jenar lewat layar, dan Jenar tahu tatapan itu. Tatapan yang sama di terminal tiga. Di pesta pernikahan. Di telepon malam terakhir di Pangandaran.

“Jen,” kata Hana. “Fadlan juga cerita hal lain.”

“Apa?”

“Soal kopi pagi. Soal lo sama Galih.” Hana ragu. “Soal kalian main dinosaurus bareng Kiki di lantai tadi. Dia kirim foto ke gue.”

Jenar memejamkan mata. “Fadlan kirim foto?”

“Lo sama Galih pegang dinosaurus plastik. Muka lo ketawa. Muka dia...” Hana berhenti. “Gue nggak pernah lihat muka dia kayak gitu.”

“Kayak apa?”

Hana tidak menjawab. Ia menunduk sebentar ke sesuatu di luar layar. Lalu kembali.

“Jen, dengerin gue.”

“Han...”

“Gue nggak mau jadi orang jahat di sini. Gue tahu dia bikinin lo kopi. Gue tahu dia yang ngasih nama Jihan. Gue tahu dia jagain lo di rumah sakit semaleman. Fadlan cerita semuanya. Dan gue tahu lo...” Suara Hana melunak. “Gue tahu lo masih pakai kalungnya. Dua tahun, Jen.”

Jenar menyentuh liontin di balik kausnya tanpa sadar.

“Tapi dia pernah pergi,” kata Hana. Pelan. Hati-hati. Seperti meletakkan sesuatu yang tajam di atas meja. “Tanpa satu kata. Tengah malem. Terus dia blokir lo. Terus dia pura-pura nggak kenal lo di depan kakak kalian. Dia injek kaki lo di bawah meja kayak lo penjahat.”

“Gue tahu.”

“Orang yang bisa ngelakuin itu sekali, Jen, bisa ngelakuin lagi.”

Jenar memandangi layar ponselnya. Wajah Hana yang kecil di sana, hidung merah, syal tebal. Sahabat yang terbang ke negara lain dan tetap menelepon setiap hari lewat WiFi kampus.

“Gue takut lo jatuh lagi,” bisik Hana. “Gue nggak ada di sana, Jen. Kalau lo jatuh, gue nggak bisa nangkep.”

“Gue nggak bakal jatuh.”

“Lo udah jatuh.”

Jenar tidak menjawab.

Di ujung lorong, dari arah dapur, ia mendengar pintu belakang terbuka. Langkah kaki. Dua orang. Suara Fadlan, pelan, mengatakan sesuatu. Suara Galih menjawab dengan satu kata.

Hana mendengarnya juga. Matanya bergeser ke pojok layar, seperti bisa melihat melewati bahu Jenar.

“Jen,” katanya, lebih pelan lagi. “Lo pernah nanya ke dia? Kenapa dia pergi waktu itu?”

Jenar memandangi lantai kayu lorong di bawah kakinya.

“Aturan nomor enam,” katanya.

“Apa?”

“Jangan bahas pantai. Itu aturan di kulkas.”

“Siapa yang bikin?”

“Gue.”

Hana memandanginya lama lewat layar. Di belakangnya, di langit kelabu Belanda, lampu jalan mulai menyala satu per satu.

“Aturan lo sendiri,” katanya pelan, “yang ngelarang lo nanya hal yang paling pengin lo tahu.”

Langkah kaki di lorong. Mendekat.

Jenar menurunkan ponselnya ke pangkuan dengan layar menghadap ke bawah.

Galih muncul dari arah dapur. Rambut berantakan karena angin malam. Bau udara malam dan daun mangga. Ia melihat Jenar duduk di lantai lorong dan berhenti.

Mereka saling pandang dalam gelap.

“Kiki tidur?” tanya Galih pelan.

“Kayak bintang laut.”

Sudut bibir Galih bergerak. Ia memandangi ponsel yang tertelungkup di pangkuan Jenar. Lalu wajahnya.

Ia membuka mulut. Seperti ingin mengatakan sesuatu. Seperti ingin menanyakan sesuatu.

Lo pernah nanya langsung ke Jenar?

Jenar melihatnya. Pertanyaan itu, di ujung bibirnya. Menunggu.

Aturan lo sendiri yang ngelarang lo nanya hal yang paling pengin lo tahu.

Di pangkuannya, suara Hana yang teredam dari speaker yang tertelungkup. “Jen? Jen, lo masih di situ?”

Galih menutup mulutnya.

“Selamat malam, Jen,” katanya.

“Selamat malam.”

Ia berjalan melewatinya. Pelan. Masuk ke ruang kerja. Pintu tertutup. Klik.

Jenar mengangkat ponselnya kembali. Hana memandanginya dari layar dengan wajah yang tahu terlalu banyak.

“Itu dia?”

“Iya.”

“Lo nggak nanya.”

“Dia juga nggak nanya.”

Hana menghela napas. Panjang. Kabut putih keluar dari mulutnya, karena kamar asramanya dingin.

“Kalian berdua,” katanya, “bego.”


Sidang Fadlan ditunda.

Hakimnya sakit. Pengacara Rina minta waktu tambahan untuk melengkapi berkas. Panitera pengadilan agama mengumumkannya di lorong yang penuh orang jam sembilan pagi, dan Fadlan berdiri di sana dengan kemeja batik yang disetrika Galih jam enam tadi, tidak tahu harus lega atau hancur.

Galih yang menyetir. Jenar tinggal di rumah bersama Kiki, karena Fadlan tidak mau anaknya melihat ruang sidang, dan Jenar meminta izin setengah hari dari biro dengan alasan yang membuat Mas Bayu mengangkat alis di telepon.

Ada anak kecil di rumah, Mas.

Anak siapa, Mbak?

Panjang ceritanya.

Rumah itu pagi hari dengan anak kecil di dalamnya adalah rumah yang berbeda.

Kiki bangun jam enam, menendang perut Jenar satu kali terakhir, lalu duduk tegak di kasur dan mengumumkan bahwa ia lapar. Jenar membuatkannya nasi goreng. Kiki bertanya kenapa nasi gorengnya tidak berbentuk dinosaurus. Jenar mencoba membentuknya jadi dinosaurus dengan sendok, dan hasilnya lebih mirip ayam yang habis dilindas truk. Kiki memakannya dengan wajah prihatin tapi sopan.

Di meja makan, di depan kursi Jenar, ada secangkir kopi. Masih hangat. Galih menyeduhnya jam lima lewat lima puluh, seperti biasa, sebelum berangkat menjemput Fadlan dari sofa. Di sebelahnya ada gelas kecil berisi susu cokelat. Dengan sedotan berbentuk spiral yang entah dari mana Galih dapatkan.

Kiki menemukan gelas susu itu dan memandanginya dengan takjub.

“Om Kopi yang bikin?”

“Iya.”

“Om Kopi baik.”

Jenar memandangi dua gelas di meja. Kopi hitam untuknya. Susu cokelat dengan sedotan spiral untuk Kiki.

“Iya,” katanya pelan. “Om Kopi baik.”

Mereka menghabiskan pagi di halaman belakang. Kiki mengejar kucing oranye dengan ekor yang samar-samar hijau pupus. Jenar duduk di tangga semen dengan laptop di pangkuan, pura-pura bekerja, tapi lebih banyak menonton. Mereka menemukan dua rokok yang tidak dinyalakan di anak tangga paling bawah, dan Jenar memungutnya diam-diam dan memasukkannya ke saku sebelum Kiki sempat bertanya.

Jam sebelas Kiki mulai menguap. Jam sebelas lewat sepuluh ia merangkak ke pangkuan Jenar di sofa ruang tengah, memutar badan tiga kali, dan tertidur dengan Rexi di pelukannya.

Jenar tidak bergerak. Ia duduk di sofa dengan anak kecil di dadanya, laptop tertutup di sebelahnya, dan menonton debu-debu kecil melayang di cahaya matahari yang masuk dari jendela. Rumah itu sunyi. Tapi bukan sunyi yang berat. Sunyi yang lain. Sunyi rumah yang ada anak kecil tidur di dalamnya.

Ia memandangi foto di dinding di atas kepalanya.

Kak, pikirnya. Kakak lihat? Ada anak kecil tidur di sofa Kakak.


Galih pulang jam satu siang dengan Fadlan di kursi penumpang, lebih pucat dan lebih diam dari waktu berangkat.

Ia membuka pintu depan pelan-pelan. Kebiasaan. Melepas sepatu di teras. Masuk.

Dan berhenti di ambang ruang tengah.

Jenar tertidur di sofa. Kepalanya bersandar ke samping, ke bantal di lengan sofa. Rambutnya lepas dari jepitan, jatuh menutupi separuh wajah. Mulutnya sedikit terbuka. Dan di dadanya, di pelukannya, Kiki tertidur dengan Rexi, satu tangan kecilnya menggenggam ujung kaus Jenar.

Cahaya matahari siang jatuh dari jendela, keemasan, di atas mereka berdua.

Di atas mereka, di dinding, foto pernikahan dalam bingkai kayu jati.

Di belakang Galih, Fadlan juga berhenti. Memandangi pemandangan yang sama.

“Gal,” bisik Fadlan.

“Hm.”

“Kak Astri pasti...”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Galih juga tidak menyelesaikannya. Tapi ia tahu kalimat itu. Ia sudah mendengarnya di kepalanya sejak ia berdiri di ambang ruang tengah. Dalam suara Astri. Dalam suara yang berbau vanila dan kopi dan minyak kayu putih.

Kalau suatu hari aku sama Leknor nggak ada, jagain dia, ya.

Galih berjalan pelan ke sofa. Mengambil kain batik cokelat keemasan dari sandaran. Membentangkannya di atas Jenar dan Kiki, dari bahu sampai kaki, dengan gerakan yang sudah ia kenal.

Jenar menggeliat sedikit. Matanya terbuka setengah. Ia melihat Galih di atasnya, dengan kain batik di tangan, dan wajahnya yang setengah tidur tidak menunjukkan kaget sedikit pun. Seolah memang itu yang ia harapkan lihat waktu bangun.

“Sidangnya?” bisiknya.

“Ditunda.”

“Fadlan?”

“Di belakang aku.”

Jenar melirik ke ambang pintu. Fadlan melambai kecil. Wajahnya lelah, tapi ia tersenyum melihat anaknya.

Jenar kembali memandangi Galih. Lama. Setengah tidur. Dengan anak kecil di dadanya dan kain batik yang baru saja diselimutkan.

“Galih,” bisiknya.

“Hm.”

Ia tidak melanjutkan. Matanya terpejam lagi. Ia tertidur sebelum sempat mengatakan apa pun.

Galih berdiri di sebelah sofa lama sekali.


Kiki pulang jam empat sore, setelah makan siang yang terlambat dan satu ronde terakhir main dinosaurus di karpet. Di ambang pintu, dalam gendongan ayahnya, ia melambaikan tangan dengan Rexi.

“Dadah, Tante Gambar! Dadah, Om Kopi!”

“Dadah, Kiki.”

Kiki memandangi mereka berdua yang berdiri berdampingan di ambang pintu. Dahinya berkerut. Berpikir keras.

“Om Kopi sama Tante Gambar nikah, ya?”

Fadlan tertawa sampai hampir menjatuhkan anaknya. Jenar menutup wajah dengan tangan. Galih memandangi langit sore dengan intensitas orang yang mencari pesawat.

“Bukan, Ki,” kata Fadlan, masih tertawa. “Belum.”

“Belum?”

“Ayo, pulang. Nanti telat mandi.”

“Tapi Papa bilang belum. Berarti nanti.”

“KIKI.”

Mobil Fadlan menjauh di jalan kompleks. Dari jendela belakang, Kiki melambai-lambaikan Rexi sampai tikungan.

Jenar dan Galih berdiri di teras dalam diam. Rumah di belakang mereka kembali sunyi. Tapi sunyinya berbeda sekarang. Ada remahan nasi goreng di karpet ruang tengah. Ada daun kering dari pot kamboja di lantai. Ada sedotan spiral di rak piring.

“Rumahnya jadi sepi lagi,” kata Jenar pelan.

“Iya.”

Mereka masuk. Jenar ke dapur, mengambil sapu untuk remahan nasi. Galih ke ruang tengah, memungut daun-daun kering.

Waktu Jenar membuka kulkas untuk mengambil air, ia melihatnya.

Di pintu kulkas, di bawah percakapan-percakapan mereka, di bawah Kamu bener dan Aku suka cokelat keju dan (Maaf.), ada sesuatu yang baru.

Gambar krayon. Hijau. Seekor dinosaurus dengan kepala terlalu besar dan tangan terlalu kecil, tersenyum lebar dengan gigi yang bergerigi. Di sebelahnya, dua orang dari lingkaran dan garis. Satu dengan rambut panjang dan pensil di tangan. Satu dengan cangkir di tangan.

Dan di bawahnya, tulisan tangan yang miring ke kanan. Huruf g-nya seperti kail pancing. Seperti ditulis sambil didikte oleh anak kecil yang sangat serius.

10. Rexi boleh main ke sini lagi. (Kata Kiki.)

Jenar memandanginya lama.

Lalu ia mengambil spidol dari laci. Di bawah tulisan itu, dengan huruf tegak dan kecil-kecil:

Setuju. (Kata Tante Gambar.)

Ia menutup kulkas. Berbalik.

Galih berdiri di ambang dapur dengan segenggam daun kering di tangan. Ia melihat spidol di tangan Jenar. Melihat pintu kulkas.

Mereka saling pandang.

Aturan nomor enam masih ada di sana. Di atas semuanya. Tulisan tegak dan kecil-kecil. Jangan bahas pantai.

Aturan nomor tujuh juga. Jangan buka kamar itu.

Dua pertanyaan menggantung di udara dapur, di antara mereka. Satu dari Fadlan, satu dari Hana. Dua suara dari dua sisi, menanyakan hal yang sama.

Lo pernah nanya langsung?

Jenar membuka mulut.

Galih membuka mulut.

Ponsel Galih bergetar di saku. Ia mengeluarkannya. Fadlan. Makasih, Gal. Makasih juga buat Jenar. Kiki udah nanyain kapan balik lagi. Terus satu lagi. Tanya dia, Gal. Tanya aja.

Galih memandangi layar ponselnya. Lalu memasukkannya kembali ke saku.

“Aku buang daun ini dulu,” katanya.

“Oke.”

Ia berjalan ke pintu belakang. Jenar berdiri di dapur dengan spidol di tangan, memandangi punggungnya.

Tidak ada yang bertanya.

Belum.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk