Bulan kedua
Mereka berbelanja mingguan setiap Sabtu pagi di supermarket di Fatmawati, dengan satu troli dan dua daftar belanja yang tidak pernah cocok.
Daftar Jenar ditulis di notes beruang, tegak dan kecil-kecil, dikelompokkan per lorong supermarket. Lorong 3: sabun, sampo, pasta gigi. Lorong 5: beras, minyak, telur. Daftar Galih ditulis di belakang struk parkir, miring ke kanan, tanpa urutan apa pun. Susu. Roti. Kopi (JANGAN BELI KOPI SUPERMARKET). Telur. Sabun? Jeruk nipis.
“Kenapa jeruk nipis?” tanya Jenar di lorong buah.
“Buat masak.”
“Masak apa?”
“Belum tahu. Tapi masak apa pun enak pakai jeruk nipis.”
“Rendang?”
Galih berpikir. “Nggak.”
“Nasi goreng?”
“Bisa.”
“Mi instan?”
“Bisa banget.”
Jenar memasukkan satu kantong jeruk nipis ke troli tanpa berdebat lagi.
Di lorong deterjen, mereka berdebat selama tujuh menit soal pelembut pakaian.
“Yang biru,” kata Galih.
“Yang pink.”
“Yang pink baunya kayak permen karet.”
“Yang biru baunya kayak rumah sakit.”
“Itu bau bersih.”
“Itu bau karbol, Galih.”
Seorang ibu berdaster dengan dua anak kecil di troli menonton mereka dari ujung lorong sambil tersenyum. Galih melihatnya dan buru-buru memasukkan kedua botol ke troli.
“Dua-duanya,” katanya. “Aturan baru. Baju masing-masing pakai pelembut masing-masing.”
“Kalau dicuci bareng?”
“Kita nggak nyuci bareng. Aturan nomor tiga.”
Jenar memandangi dua botol pelembut di troli. Biru dan pink. Berdampingan.
“Oke,” katanya.
Di kasir, mereka berdebat lagi soal siapa yang bayar. Kasirnya, perempuan muda berkerudung hijau yang sudah melayani mereka empat Sabtu berturut-turut, akhirnya mengangkat tangan.
“Mas, Mbak, kayak biasa aja. Patungan. Saya bagi dua.”
Mereka saling pandang. Lalu mengeluarkan dompet masing-masing.
Masakan mereka gagal dengan cara yang konsisten.
Galih bisa menyeduh kopi dengan presisi dua detik, tapi tidak bisa menakar garam. Nasi gorengnya selalu terlalu asin di satu sisi wajan dan hambar di sisi yang lain. Jenar bisa menggambar denah rumah tiga lantai dengan skala satu banding lima puluh tanpa penggaris, tapi tidak bisa memotong bawang tanpa menangis dan tidak bisa menggoreng telur tanpa merusak kuningnya.
Suatu Minggu mereka mencoba memasak rendang. Resep dari YouTube. Tiga jam di atas kompor, bergantian mengaduk. Jenar membaca instruksi dari ponsel. Galih memegang sendok kayu besar.
Di jam kedua, ponsel Jenar bergetar. Hana. Jenar mengangkatnya dan berjalan ke teras belakang. Galih ditinggal sendirian dengan wajan dan instruksi terus aduk sampai kering.
Dua puluh menit kemudian, Jenar kembali ke dapur dan menemukan asap hitam.
Galih berdiri di depan kompor dengan sendok kayu di satu tangan dan ponsel di tangan yang lain. Ponselnya terbuka di laporan penjualan kedai Kemang. Rendangnya hitam di bagian bawah wajan. Hitam total.
Mereka berdua memandangi wajan itu dalam diam.
“Kamu bilang terus aduk,” kata Galih pelan.
“Terus aduk sampai kering. Bukan terus aduk sampai jadi arang.”
“Laporannya penting.”
“Laporannya bisa nunggu.”
“Rendangnya juga harusnya bisa nunggu.”
Jenar tertawa. Keras. Ia menutup mulutnya dengan tangan dan tertawa sampai bersandar di kulkas, sampai magnet bola voli bergeser dua senti.
Mereka makan malam dengan nasi padang bungkus dari warung di ujung jalan. Rendangnya enak. Tidak gosong sama sekali.
Di pintu kulkas, di bawah gambar krayon Kiki, muncul tulisan tegak dan kecil-kecil:
11. Jangan masak rendang lagi.
Di bawahnya, miring ke kanan:
Setuju. Pesan aja.
Bulan ketiga
Jenar mulai memperhatikan bahwa Galih selalu tahu kapan ia pulang.
Bukan karena ia menunggu di ruang tengah. Galih jarang di rumah sebelum jam delapan malam. Tapi setiap kali Jenar membuka pagar besi hijau dan melepas sepatu di teras, lampu teras sudah menyala. Setiap kali ia lembur sampai jam sepuluh, ada sepiring makanan di kulkas dengan label nama Jen. Tidak lagi Mbak Jenar. Hanya Jen.
Setiap kali ia hujan-hujanan karena lupa bawa payung, ada handuk bersih terlipat di kursi dekat pintu depan.
Ia tidak pernah bertanya bagaimana Galih tahu. Ia menduga jawabannya ada di jendela dapur Bu Ratmi, yang menghadap ke halaman belakang dan tampaknya menghadap ke segala hal lain juga.
Suatu sore di bulan ketiga, Bu Ratmi mencegatnya di depan pagar.
“Mbak Jenar,” katanya, dengan senyum yang terlalu lebar. “Mbak nggak kepanasan?”
“Kenapa, Bu?”
“Tiap hari Ibu lihat Mbak pakai kaus berkerah. Kemeja dikancing sampai atas. Di rumah juga. Jakarta panas gini.” Bu Ratmi mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan. “Ibu kalau di rumah pakai daster aja, Mbak. Leher harus bebas.”
Jenar tersenyum. Senyum wisuda. “Saya gampang masuk angin, Bu.”
“Oh.” Bu Ratmi mengangguk, tidak sepenuhnya percaya. “Mas Galih juga bilang gitu.”
Jenar berhenti. “Mas Galih?”
“Kemarin Ibu nanya ke Mas Galih, kok Mbak Jenar kayak orang Belanda, pakai baju rapet terus. Mas Galih bilang, mungkin dia gampang masuk angin, Bu.” Bu Ratmi memiringkan kepala. “Kalian ini jawabannya selalu sama, ya.”
Jenar masuk ke rumah dengan jantung berdebar dan tangan yang tanpa sadar menekan kerah kemejanya, tepat di atas liontin kecil yang tersembunyi di baliknya.
Mungkin dia gampang masuk angin.
Galih memperhatikan. Galih memperhatikan kerah bajunya.
Ibu Ratna datang untuk pemeriksaan pertama di hari Selasa sore, di akhir bulan ketiga.
Ia datang dengan tas kulit hitam, map merah yang sama, dan kacamata yang sama, dan berdiri di ambang pintu depan memandangi ruang depan yang sekarang penuh mesin roasting dan toples kopi dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Ini baru?” tanyanya.
“Lab kopi, Bu,” kata Galih. “Saya kerja dari sini.”
Ibu Ratna mengangguk dan mencatat sesuatu di map merahnya.
Pemeriksaannya tidak seperti yang Jenar bayangkan. Tidak ada pertanyaan hukum. Tidak ada formulir yang harus diisi. Ibu Ratna hanya berjalan pelan-pelan di dalam rumah, dari ruang ke ruang, memandangi segala sesuatu dengan mata yang tenang.
Ia berhenti di kamar Jenar. Melihat kasur single yang rapi dan meja belajar dengan coretan tipe-x di pojoknya.
Ia berhenti di ruang kerja. Melihat sofa kulit retak dengan selimut terlipat di ujungnya, dan papan selancar kuning yang bersandar di dinding. Melihat rak buku dengan kotak kecil berpita krem di sebelah foto akad dalam bingkai kecil.
Ia berdiri lama di depan rak itu. Tidak bertanya apa-apa.
Ia berhenti di depan pintu dengan stiker awan. Tidak membukanya. Hanya memandangi stiker itu, lalu memandangi Jenar dan Galih yang berdiri di belakangnya.
“Belum dibuka?” tanyanya pelan.
“Belum, Bu,” kata Jenar.
Ibu Ratna mengangguk. Mencatat sesuatu lagi.
Lalu ia berhenti di dapur. Di depan pintu kulkas.
Sebelas aturan. Dua tulisan tangan. Gambar krayon dinosaurus hijau. Kertas USG hitam putih dengan magnet bola voli. Percakapan-percakapan kecil yang menjalar ke bawah seperti tanaman rambat. Kamu bisa. Kamu bener. Martabaknya enak. (Maaf.) Setuju. Pesan aja.
Ibu Ratna membaca semuanya. Pelan. Dari atas ke bawah. Jenar merasakan wajahnya memanas dan tidak tahu kenapa. Di sebelahnya, Galih memandangi lantai.
Ibu Ratna berhenti di aturan nomor enam dan tujuh. Membacanya dua kali.
“Aturan nomor enam dan tujuh,” katanya. “Masih berlaku?”
Jenar dan Galih saling melirik.
“Masih, Bu,” kata Galih.
Ibu Ratna mengangguk pelan. Lalu ia menutup map merahnya. Melepas kacamata. Memandangi mereka berdua dengan mata yang tiba-tiba sangat lembut, sama seperti di kantornya di Kuningan waktu ia menceritakan Astri yang tertawa.
“Rumahnya ditempati dengan baik,” katanya. “Saya akan tulis begitu di laporan.”
“Makasih, Bu.”
Ibu Ratna memakai kacamatanya lagi. Berjalan ke pintu depan. Di ambang pintu, ia berhenti dan menoleh.
“Almarhumah Bu Astri pernah bilang sesuatu ke saya,” katanya. “Waktu tanda tangan wasiat. Setelah Pak Leknor keluar ruangan duluan buat ambil mobil.”
Jenar menahan napas.
“Beliau bilang, Bu, kalau suatu hari Ibu periksa rumah itu, dan pintu-pintunya masih banyak yang dikunci, tolong jangan salahin mereka. Adik-adik saya itu takut sama hal yang sama. Mereka cuma belum tahu.”
Ibu Ratna tersenyum tipis.
“Saya tanya, takut apa? Beliau cuma ketawa. Katanya, nanti juga Ibu tahu sendiri.”
Ia mengangguk sopan. Lalu pergi.
Jenar dan Galih berdiri di ambang pintu depan sampai mobil Ibu Ratna menghilang di tikungan.
Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang menanyakan apa maksudnya.
Bulan keempat
Sidang Fadlan akhirnya digelar. Hakim memutuskan hak asuh bersama. Kiki tinggal bersama Fadlan di hari biasa, dan bersama ibunya dua akhir pekan dalam sebulan.
Fadlan menelepon Galih dari tangga pengadilan agama sambil menangis dan tertawa bersamaan. Galih mendengarkannya di ruang depan, di sebelah mesin roasting yang drumnya berputar, dan tidak mengatakan apa-apa selama lima menit penuh kecuali iya, Lan dan gue tahu.
Waktu ia menutup telepon, ia berbalik dan menemukan Jenar berdiri di ambang ruang depan dengan dua cangkir kopi di tangan. Ia mendengar semuanya.
Jenar menyodorkan satu cangkir. Galih menerimanya.
“Kiki,” kata Jenar.
“Tinggal sama Fadlan.”
Jenar tersenyum. Lebar. Sampai ke mata. Galih memandangi senyum itu dan lupa meminum kopinya.
Dua minggu kemudian, di hari Sabtu yang bukan jadwal ibunya, Kiki datang dengan Rexi dan tiga dinosaurus lain di ransel. Ia berlari dari pagar ke ruang tengah tanpa melepas sepatu, dan Fadlan berteriak dari teras, dan Kiki tidak mendengar.
“TANTE GAMBAR! OM KOPI! Aturan nomor sepuluh!”
Mereka main dinosaurus sampai sore. Jenar menjadi Stego lagi. Galih menjadi Tri lagi, dan kali ini ia makan daun kering dari pot kamboja tanpa diminta.
Jenar sedang di dapur. Mencari toples teh melati di lemari atas, yang tadi siang Galih pindahkan ke rak paling tinggi supaya Kiki tidak bisa menjangkau gula batu di sebelahnya. Ia berjinjit di atas bangku plastik. Satu tangan di pinggiran lemari, satu tangan menggapai-gapai ke rak paling belakang.
Ia memakai kaus berkerah. Tentu saja. Kaus polo biru muda dengan dua kancing di kerah. Tapi kancing kedua sudah longgar sejak minggu lalu dan belum sempat ia jahit. Dan waktu ia meregangkan badan ke atas, mencondongkan tubuh ke depan, kancing itu terlepas dari lubangnya.
Liontin kecil itu meluncur keluar. Jatuh dari balik kerah. Tergantung bebas di ujung rantai tipis, berayun-ayun di udara, berkilau di bawah lampu dapur.
Jenar tidak menyadarinya. Tangannya baru saja menyentuh toples teh.
“Jen.”
Suara dari ambang dapur.
Jenar tersentak. Bangku plastik goyang. Ia mencengkeram pinggiran lemari. Menoleh.
Galih berdiri di ambang dapur, memegang gelas kosong. Ia memandanginya. Tidak ke wajahnya. Ke sesuatu di bawah dagunya.
Jenar merasakan liontin itu. Dingin, bergoyang di udara, di depan dadanya.
Dunia melambat.
Ia berbalik. Cepat. Memunggungi Galih, menghadap lemari, sambil pura-pura batuk dengan satu tangan menutup mulut dan tangan yang lain, di balik tubuhnya sendiri, meraup liontin itu dan menjejalkannya kembali ke balik kerah kaus polo. Mengancingkan kancing yang longgar. Dua kali, karena jarinya gemetar dan yang pertama meleset.
“Ya?” katanya ke arah lemari. Suaranya terlalu tinggi.
Hening di belakangnya.
“Kamu mau apa?” tanya Galih pelan.
“Teh.” Jenar mengambil toples teh melati dari rak. Turun dari bangku plastik. Berbalik, dengan toples di dada seperti tameng. “Kamu taruh terlalu tinggi.”
“Biar Kiki nggak nyampe gula batunya.”
“Aku juga nggak nyampe.”
“Maaf.”
Mereka berdiri berhadapan di dapur. Galih memegang gelas kosong. Jenar memeluk toples teh. Lampu dapur putih dan terlalu terang.
Mata Galih turun. Sebentar. Ke kerah kaus polo biru muda, yang sekarang terkancing rapi. Ke tangan Jenar yang, tanpa ia sadari, sudah naik dan menekan kerah itu, tepat di bawah tulang selangka.
Lalu mata itu kembali ke wajahnya.
Galih tidak berkata apa-apa.
Jenar juga tidak.
Hening di dapur. Kulkas berdengung. Di luar jendela, lampu dapur Bu Ratmi menyala.
Galih berjalan ke dispenser. Mengisi gelasnya. Meminumnya pelan, memunggungi Jenar. Meletakkan gelas itu di rak piring.
“Besok tehnya aku pindahin ke rak bawah,” katanya.
“Oke.”
“Gula batunya aku umpetin di tempat lain.”
“Oke.”
Ia berjalan keluar dapur. Tidak menoleh.
Jenar berdiri sendirian dengan toples teh melati di dada. Di balik kerah kaus polo biru muda, liontin kecil itu menekan kulitnya, hangat, di tempat yang sama selama setahun setengah.
Ia tidak tahu seberapa banyak yang Galih lihat. Kilatan saja, mungkin. Atau lebih. Atau semuanya.
Ia tidak tahu mana yang lebih ia takutkan. Bahwa Galih melihat. Atau bahwa Galih melihat, dan memilih tidak bertanya.
Galih duduk di sofa kulit retak di ruang kerja, dalam gelap, dan memandangi langit-langit.
Kilatan perak. Berayun di bawah lampu dapur. Sekilas, sebelum Jenar berbalik dan pura-pura batuk.
Ia tidak melihat bentuknya. Terlalu cepat. Terlalu jauh. Sesuatu yang kecil di ujung rantai tipis. Bisa bentuk apa saja.
Tapi ia melihat tangan Jenar. Yang naik ke kerahnya sendiri tanpa sadar dan menekannya, seperti orang yang memegangi luka supaya tidak berdarah.
Ia pernah melihat rantai itu sebelumnya. Di pesta pernikahan, waktu selendang Jenar melorot setelah lempar buket. Di lantai dapur, jam empat pagi, di balik kerah piyama, waktu ia menyelimutinya dengan kain batik cokelat.
Dan sekarang ini. Tiga kali. Selalu disembunyikan. Selalu buru-buru dimasukkan kembali.
Bu Ratmi bilang Jenar selalu pakai kaus berkerah. Di rumah juga. Di Jakarta yang panas.
Galih bisa bertanya. Besok pagi, di meja makan. Atau di pintu kulkas. Tiga kata. Kalung dari siapa?
Ia tidak akan bertanya.
Karena kalau ia bertanya, ia harus siap mendengar jawabannya. Dan ada dua jawaban yang mungkin, dan ia tidak yakin sanggup menerima yang mana pun.
Kalau kalung itu dari orang lain, ia akan tahu tempatnya.
Kalau kalung itu darinya, ia tidak tahu harus melakukan apa dengan dirinya sendiri.
Jadi ia memejamkan mata dan membiarkan pertanyaan itu tinggal di sana. Di langit-langit ruang kerja yang gelap. Seperti pintu dengan stiker awan di ujung lorong. Dikunci. Belum dibuka.
Pagi harinya, kopi ada di meja makan seperti biasa. Roti bakar selai kacang, tidak gosong.
Toples teh melati sudah pindah ke rak paling bawah lemari dapur. Di tutupnya menempel selotip kertas dengan tulisan miring ke kanan.
Gula batu di laci ketiga. Jangan kasih tahu Kiki.
Jenar memandangi toples itu lama. Lalu pintu kulkas.
Tidak ada tulisan baru di sana. Tidak ada yang berubah.
Tapi sejak hari itu, Jenar menyadari sesuatu. Setiap kali tangannya naik ke kerah, tanpa sengaja, saat ia gugup atau tertawa terlalu keras atau berpikir terlalu lama di meja gambar, ada mata yang mengikutinya dari ujung ruangan. Hanya sebentar. Lalu berpaling.
Galih tidak pernah menyebutnya. Jenar tidak pernah menjelaskannya.
Mereka berdua tahu. Dan mereka berdua pura-pura tidak tahu.
Seperti banyak hal lain di rumah itu.
Bulan kelima
Pak Hendro menelepon Jenar di hari Senin pagi, jam tujuh lewat lima, sebelum kantor buka.
“Gambarnya saya terima,” katanya tanpa salam. “Semuanya. Kontraktor mulai bulan depan.”
Jenar berdiri di dapur dengan ponsel di telinga dan cangkir kopi di tangan yang tiba-tiba gemetar.
“Makasih, Pak.”
“Ibu saya mau ketemu kamu. Katanya mau lihat anak muda yang gambar kamar mandinya.” Jeda. “Hari Sabtu. Bisa?”
“Bisa, Pak.”
“Bawa buku catatan kakak kamu.”
Pak Hendro menutup telepon.
Jenar berdiri di dapur dan memandangi pintu kulkas. Minggu lalu, setelah malam kalung itu, pintu kulkas sepi selama tiga hari. Lalu di hari keempat, di bawah gambar krayon Kiki, muncul tulisan miring ke kanan. Kopi di meja. Jangan lupa makan siang. Tanpa percakapan. Hanya instruksi.
Jenar mengambil spidol. Menulis dengan huruf yang lebih besar dari biasanya.
Pak Hendro terima gambarnya. SEMUA.
Pagi berikutnya, di bawahnya:
Aku tahu kamu bisa.
Dan di bawahnya lagi, lebih kecil:
Selamat, Jen.
Kopi pagi tidak pernah berhenti. Roti bakar selai kacang tidak pernah gosong lagi. Tapi sejak malam kalung itu, ada sesuatu yang berubah di pintu kulkas. Tulisan Galih lebih pendek. Lebih rapi. Seperti orang yang berbicara dengan hati-hati kepada seseorang yang bukan miliknya.
Jenar memperhatikan. Ia tidak tahu kenapa.
Ia tahu kenapa.
Menu “Senior” diluncurkan di sepuluh cabang Pratama Coffee di minggu ketiga bulan kelima.
Galih memberitahunya lewat pintu kulkas. Senior masuk menu hari ini. Semua cabang. Jenar membacanya sambil makan roti bakar dan tersenyum ke cangkir kopinya.
Siangnya, kantor terlalu berisik. Dua kontraktor proyek Pondok Indah bertengkar soal jadwal pengecoran di ruang rapat, dan Mas Bayu menengahi dengan suara yang semakin keras. Jenar menyampirkan tas di bahu dan keluar lewat pintu belakang.
Lima menit menyusuri trotoar Kemang. Toko bunga. Galeri seni yang lampunya selalu redup. Plang kayu gelap dengan huruf putih bersih.
Lonceng kecil di atas pintu kaca berbunyi.
“Kak Jenar!” Dita melambai dari balik bar. “Pojok?”
“Pojok.”
Jenar duduk di kursi kayu yang satu kakinya lebih pendek. Meletakkan laptop di meja. Tas di kursi seberang.
Di papan menu kapur di dinding di belakang bar, ada tulisan baru. Kapur putih, huruf tangan Dita yang besar-besar dan bundar, dengan gambar bintang kecil di sebelahnya.
BARU! SENIOR. Gayo. Cokelat, kayu manis, pala. Kopi untuk kamu yang harus kuat hari ini.
Jenar memandangi papan itu lama.
“Kak?” Dita sudah berdiri di sebelah mejanya dengan buku pesanan kecil. “Mau yang biasa?”
“Aku mau yang itu,” kata Jenar. Menunjuk papan menu.
“Senior? Baru keluar hari ini, Kak. Kata kantor pusat, bosnya sendiri yang bikin resepnya.” Dita tersenyum. “Namanya lucu, ya. Kata kantor pusat, yang ngasih nama bukan bosnya. Orang lain.”
Jenar tidak menjawab.
Kopi itu datang lima menit kemudian. Cangkir putih. Uap yang naik pelan. Bau cokelat dan rempah.
Ia menyesapnya. Pahit dan hangat dan sedikit pedas di ujung. Seperti hari rapat dengan Pak Hendro. Seperti meja pojok dengan kursi kosong di seberangnya.
Seperti malam di ruang depan, dengan noda arang di pipi seseorang dan label di toples kaca. Untuk Jenar.
Ia menghabiskannya sampai tetes terakhir.
Minggu berikutnya ia datang lagi. Dan minggu berikutnya. Dan setiap kali, sebelum ia sempat duduk, Dita sudah berteriak dari balik bar.
“Kak Jenar! Senior?”
“Senior.”
Dita tidak tahu. Tidak ada satu pun barista di kedai Kemang yang tahu bahwa perempuan di meja pojok dekat jendela, yang selalu membayar penuh dan tidak pernah minta diskon member, adalah orang yang memberi nama kopi itu. Bahwa ia tinggal serumah dengan bos mereka. Bahwa setiap pagi, di rumah itu, ada secangkir kopi di meja makan yang tidak ada di menu mana pun.
Jenar tidak pernah memberi tahu mereka.
Beberapa rahasia lebih mudah disimpan daripada kalung.
Bulan keenam
Suatu malam di bulan keenam, mereka tertidur di sofa.
Tidak direncanakan. Tidak pernah direncanakan. Hari Jumat malam, jam sembilan lewat, Jenar pulang lembur dan menemukan Galih di sofa ruang tengah dengan laptop di pangkuan dan film yang menyala di televisi tanpa ada yang menonton.
“Film apa?” tanya Jenar.
“Nggak tahu. Tadi aku nyalain terus lupa.”
Jenar duduk di ujung sofa yang lain. Hanya mau lima menit. Hanya mau melepas sepatu dan meluruskan kaki.
Filmnya ternyata film Korea tentang dua orang yang terjebak di stasiun kereta. Mereka menontonnya sampai habis. Lalu film berikutnya diputar otomatis. Film Jepang tentang anjing yang menunggu pemiliknya di stasiun selama bertahun-tahun.
Di pertengahan film kedua, Jenar menangis. Diam-diam. Ia mengusap pipinya dengan ujung lengan kemeja berkerah yang masih dikancing sampai atas.
Galih mengambil tisu dari meja kecil dan menyodorkannya tanpa menoleh dari layar.
Di pertengahan film kedua juga, Galih menangis. Lebih diam-diam lagi. Rahangnya mengeras. Matanya berkedip terlalu cepat.
Jenar mengambil tisu dan menyodorkannya tanpa menoleh.
Mereka tidak membahasnya.
Di suatu titik antara film kedua dan film ketiga, Jenar tertidur. Ia tidak ingat kapan. Yang ia ingat, kepalanya bersandar di sesuatu yang hangat dan sedikit keras, dan bau kopi dan kayu, dan napas yang naik turun pelan di bawah pipinya.
Seperti teras di Pangandaran. Seperti malam pertama.
Galih tidak tertidur. Ia duduk tegak di sofa dengan kepala Jenar di bahunya dan televisi yang menyala biru di ruangan yang gelap, dan tidak bergerak selama dua jam.
Ia memandangi puncak kepala Jenar. Rambut yang lepas dari jepitan. Kerah kemeja yang dikancing sampai atas, bahkan saat tidur.
Ia tahu ada kalung di balik kerah itu. Kalung dari seseorang. Dari temen. Dari wisuda.
Ia tidak menyentuhnya. Ia tidak mencoba melihat.
Ia hanya menarik kain batik cokelat keemasan dari sandaran sofa, pelan-pelan dengan satu tangan supaya tidak membangunkan, dan menyelimuti mereka berdua.
Jenar terbangun jam tiga pagi dengan leher pegal dan kain batik di bahu, di sofa ruang tengah yang gelap, sendirian.
Televisi sudah mati. Laptop Galih tertutup di meja kecil.
Di lantai di sebelah sofa, ada segelas air putih. Masih dingin.
Ia duduk. Memeluk kain batik itu. Memandangi foto di dinding dalam gelap.
Lalu ia bangun, berjalan ke dapur, dan membuka kulkas untuk minum. Cahaya kulkas yang kuning kekuningan tumpah ke lantai.
Ia melihat kalender di dinding sebelah kulkas. Kalender yang dulu basah kena cipratan galon, yang tanggal-tanggalnya luntur di bulan pertama. Sekarang sudah diganti kalender baru, dari toko bangunan langganan biro, dengan foto keramik di setiap halaman.
Tanggal hari ini dilingkari. Dengan spidol. Tinta yang hampir habis.
Ia tidak melingkarinya.
Di bawah lingkaran itu, tulisan kecil yang miring ke kanan.
6 bulan.
Jenar memandanginya lama.
Enam bulan. Setengah jalan. Sejak kantor notaris di Kuningan dengan AC yang terlalu dingin. Sejak dua kardus berhadapan di trotoar. Sejak tujuh aturan di notes beruang.
Setengah lagi. Enam bulan lagi. Lalu satu tahun selesai. Lalu syarat wasiat selesai. Lalu tidak ada lagi alasan bagi dua orang untuk tinggal di rumah yang sama.
Ia mengambil spidol dari laci. Tangannya melayang di atas kalender.
Lalu ia menutup kulkas, dan menulis di pintunya. Di bawah semua aturan, di bawah gambar krayon Kiki, di bawah Selamat, Jen yang kecil.
Setengah jalan.
Ia memandanginya. Lalu, dengan huruf yang lebih kecil lagi:
Setengahnya lagi gimana?
Ia menutup spidol. Kembali ke kamar. Berbaring di kasur single dengan seprai motif bunga-bunga kecil yang sudah pudar, dan menggenggam liontin di balik kerah piyamanya sampai tertidur.
Pagi harinya, jam lima lewat lima puluh, Galih berdiri di depan pintu kulkas dengan cangkir kopi di tangan.
Ia membaca dua baris itu. Lalu membacanya lagi.
Setengahnya lagi gimana?
Ia mengambil spidol dari laci. Membuka tutupnya. Tangannya melayang di bawah tulisan itu.
Lama.
Ponselnya bergetar di saku. Ia mengeluarkannya.
Email. Dari alamat yang tidak ia kenal. Subjeknya dalam bahasa Inggris.
Partnership Opportunity: Pratama Coffee Bali Flagship. Six-Month Launch Residency.
Galih memandangi layar ponselnya. Lalu tulisan di pintu kulkas.
Ia menutup spidol tanpa menulis apa-apa. Memasukkan ponselnya kembali ke saku. Meletakkan secangkir kopi di meja makan, di depan kursi Jenar.
Lalu ia berangkat ke kedai.
Di luar, langit Jakarta mendung. Awan kelabu yang menggantung rendah di atas atap-atap kompleks. Bau tanah basah yang belum turun.
Hujan besar akan datang.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!