BAB 15 - Lilin Vanila

0 dibaca

A

Hujan turun jam tujuh malam, dan tidak berhenti.

Jenar pulang tepat sebelum langit pecah. Ia baru melepas sepatu di teras waktu petir pertama menyambar di atas kompleks, begitu dekat sampai kaca jendela ruang depan bergetar dan anjing tetangga di ujung jalan menyalak ketakutan. Lalu air turun. Bukan gerimis. Bukan hujan biasa. Air yang jatuh seperti ditumpahkan dari ember raksasa, memukul genteng dan atap seng di lorong samping dengan bunyi seperti ribuan kerikil.

Ia berdiri di ruang tengah dengan tas kerja masih di bahu dan memandangi jendela yang berubah jadi dinding air.

Rumah itu sunyi di bawah semua bunyi hujan. Galih belum pulang. Kedai Mampang tutup jam sepuluh di hari Jumat.

Jenar menyalakan lampu ruang tengah. Menyalakan lampu dapur. Menyalakan lampu teras. Menyalakan semua lampu yang bisa ia nyalakan, sampai rumah itu terang benderang seperti toko swalayan dua puluh empat jam.

Ia tidak takut gelap. Ia tidak pernah takut gelap.

Ia hanya tidak suka hujan deras di malam hari. Sejak setengah tahun lalu. Sejak telepon jam satu lewat tujuh belas menit dan suara polisi muda yang terlalu hati-hati dan hujan di seberang telepon, di jalan tol yang gelap dan basah.

Ia memasak mi instan. Rasa soto. Memakannya di meja makan bundar sambil membaca ulang tulisan terakhirnya di pintu kulkas.

Setengah jalan.

Setengahnya lagi gimana?

Tidak ada jawaban di bawahnya. Pagi tadi ia membacanya dan tidak ada jawaban. Kopi ada di meja seperti biasa, roti bakar selai kacang seperti biasa, tapi di bawah pertanyaannya hanya ada ruang putih yang kosong.

Jam delapan lewat dua puluh, petir menyambar lagi. Lebih dekat. Terlalu dekat.

Semua lampu mati.


Kegelapan datang sekaligus. Bukan pelan-pelan. Seperti ada yang menutup mata Jenar dengan tangan.

Kulkas berhenti berdengung. Jam dinding di ruang tengah masih berdetak, tapi hanya itu. Tidak ada lagi bunyi lain di dalam rumah. Hanya hujan di luar, memukul-mukul genteng, dan bunyi jam, dan napas Jenar sendiri yang tiba-tiba terdengar sangat keras.

Ia duduk diam di meja makan dengan mangkuk mi instan di depannya. Tidak bisa melihat mangkuknya. Tidak bisa melihat tangannya sendiri.

Oke, pikirnya. Oke. Mati listrik. Biasa. Jakarta. Hujan. Mati listrik.

Ia meraba-raba meja sampai menemukan ponselnya. Menyalakan senter. Cahaya putih tumpah ke meja makan, ke mangkuk mi, ke tiga kursi kosong di sekeliling meja bundar.

Baterai ponselnya tinggal dua puluh tiga persen.

Ia berdiri. Berjalan ke jendela dapur. Di luar, seluruh kompleks gelap. Rumah Bu Ratmi di belakang gelap. Lampu jalan di depan pagar mati. Hanya kilat sesekali yang menerangi atap-atap basah dengan cahaya ungu kebiruan, lalu gelap lagi.

Lilin. Pasti ada lilin di rumah ini.

Ia membuka laci dapur satu per satu dengan senter ponsel. Laci sendok. Laci plastik klip. Laci ketiga, tempat Galih menyembunyikan gula batu dari Kiki. Laci keempat, yang penuh barang-barang yang tidak jelas fungsinya. Karet gelang. Tutup botol. Obeng kecil. Kunci-kunci yang tidak cocok dengan pintu mana pun.

Dan di pojok belakang, kotak kardus kecil.

Jenar menariknya keluar. Membukanya.

Lilin. Enam batang. Bukan lilin putih biasa yang dijual di warung untuk mati listrik. Lilin aromaterapi dalam gelas kaca kecil, warna krem, dengan label kertas yang ditulis tangan. Vanila. Buat malem-malem capek.

Tulisan yang bulat dan besar dan sedikit miring. Lingkaran kecil di atas huruf i.

Jenar memandangi gelas lilin itu dalam cahaya senter ponsel. Lama.

Lalu ia tertawa. Pelan. Tidak sengaja.

Karena tentu saja. Tentu saja Astri tidak menyimpan lilin mati listrik biasa. Tentu saja Astri menyimpan lilin vanila yang ia labeli sendiri dengan tulisan buat malem-malem capek, di laci keempat, di antara karet gelang dan tutup botol.

Ia menyalakan satu dengan korek api dari kompor. Nyala kecil. Kuning keemasan. Bau vanila langsung merambat ke seluruh dapur, manis dan hangat, dan seperti cardigan cokelat susu dan pelukan di depan restoran Italia.

Jenar menyalakan satu lagi. Dan satu lagi.

Ia meletakkannya di lantai dapur. Tiga gelas kecil dengan nyala yang bergoyang-goyang. Lalu ia duduk di lantai, bersandar di pintu lemari bawah, di tempat yang sama persis dengan malam kopi Kona. Memeluk lutut.

Di luar, hujan tidak berhenti.


Pintu depan terbuka jam delapan lewat empat puluh lima.

Jenar mendengarnya. Bunyi kunci diputar. Pintu didorong. Hujan yang tiba-tiba lebih keras karena tidak ada lagi dinding yang menahannya. Lalu pintu ditutup lagi, dan bunyi hujan kembali teredam.

Langkah kaki basah di lantai kayu. Terburu-buru.

“Jen?”

Suara Galih. Dari ruang tengah. Keras. Lebih keras dari biasanya.

“Jen!”

“Di dapur.”

Langkah kaki itu berhenti. Lalu berlanjut. Lebih cepat.

Galih muncul di ambang dapur dengan senter ponsel di tangan.

Ia basah kuyup. Dari rambut sampai sepatu. Kemeja hitam Pratama Coffee menempel di tubuhnya seperti kulit kedua. Air menetes dari ujung rambutnya ke dahi, ke hidung, ke dagu. Celana jinsnya gelap karena air. Sepatunya, yang lupa ia lepas di teras, meninggalkan jejak genangan kecil di lantai kayu dari pintu depan sampai ke sini.

Ia berdiri di ambang dapur dan memandangi Jenar yang duduk di lantai dengan tiga lilin di depannya.

Napasnya memburu.

“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya.

“Nggak apa-apa.”

“Listriknya mati se-Cilandak. Ada pohon tumbang di Fatmawati, kena kabel. Aku lihat di grup RT.” Ia mengusap air dari wajahnya dengan punggung tangan. Tidak berhasil. Air terus menetes. “Aku telepon kamu tiga kali. Nggak diangkat.”

Jenar melihat ponselnya di lantai di sebelahnya. Mode senyap. Tiga panggilan tak terjawab.

“Maaf. Aku nggak denger.”

Galih memandanginya. Lalu memandangi lilin-lilin di lantai. Lalu kembali ke wajahnya.

Sesuatu di bahunya turun. Seperti orang yang baru saja meletakkan beban berat yang ia bawa dari jauh.

“Kamu pulang cepet,” kata Jenar. “Kedai tutup jam sepuluh.”

“Aku tutup duluan.”

“Kenapa?”

Galih tidak menjawab. Ia memandangi lilin-lilin itu lagi. Bau vanila. Ia pasti menciumnya. Ia pasti mengenalinya.

“Itu lilin Kak Astri,” katanya pelan.

“Aku nemu di laci keempat.”

“Laci keempat itu laci sampah.”

“Kak Astri naruh lilin aromaterapi di laci sampah.”

“Kedengerannya kayak dia banget.”

Jenar tertawa. Galih tidak tertawa, tapi sudut bibirnya bergerak.

Ia masih berdiri di ambang dapur. Basah kuyup. Air menetes dari kemejanya ke lantai.

“Kamu mau ganti baju dulu?” tanya Jenar.

Galih memandangi dirinya sendiri, seperti baru sadar ia basah. “Iya.”

“Nanti masuk angin.”

“Kayak kamu?”

Jenar mengangkat kepala.

Galih sudah berbalik ke lorong. Tapi Jenar sempat melihat senyum miringnya, sekilas, dalam cahaya senter.


Lima menit kemudian, Galih kembali ke dapur dengan kaus abu-abu kering, celana training, handuk di leher, dan rambut yang masih setengah basah. Ia membawa sesuatu di tangan. Termos hitam.

Ia duduk di lantai. Di seberang Jenar. Punggung di pintu kulkas yang mati. Satu meter keramik di antara mereka, dan tiga lilin vanila di tengahnya.

Seperti malam kopi Kona.

Ia membuka termos. Uap naik, tipis dan wangi, melengkung di atas nyala lilin.

“Aku bawa dari kedai,” katanya. “Sisa terakhir sebelum tutup. Masih panas.”

“Senior?”

“Senior.”

Ia menuang ke tutup termos dan menyodorkannya melintasi lilin. Jenar menerimanya. Hangat di kedua telapak tangan.

Galih menuang untuk dirinya sendiri ke gelas plastik yang ia ambil dari rak.

Mereka minum dalam diam. Hujan di luar. Jam dinding di ruang tengah berdetak. Nyala lilin bergoyang setiap kali ada angin yang menyusup lewat celah jendela.

“Kak Astri beli lilin ini di mana, ya?” tanya Jenar akhirnya.

“Bandung. Pas liburan sama Kak Leknor. Tahun lalu.”

“Kok tahu?”

“Dia beli selusin. Katanya enam buat dia, enam buat aku. Aku nggak mau. Katanya apartemen aku bau kopi basi, harus diharumin.” Galih memutar gelas plastiknya. “Aku nggak pernah ambil jatah aku. Mungkin itu yang di laci.”

Jenar memandangi enam lilin di kotak kardus yang masih terbuka di sebelahnya. Tiga sudah menyala.

“Berarti ini punya kamu,” katanya.

“Berarti ini punya kita.”

Jenar mengangkat kepala.

Galih tidak memandanginya. Ia memandangi nyala lilin di tengah. Seolah kata kita tidak baru saja keluar dari mulutnya.


Mereka mulai bercerita. Seperti malam kopi Kona. Tapi berbeda.

Malam itu mereka bercerita sambil menangis. Malam ini, entah bagaimana, di lantai dapur yang gelap dengan lilin vanila dan hujan yang tidak berhenti, mereka bercerita sambil tertawa.

“Kak Leknor sama Kak Astri pernah berantem soal AC,” kata Jenar. “Di kantor. Di depan semua orang. Kak Astri bilang ruangan kayak kulkas. Kak Leknor bilang dua puluh dua derajat itu suhu optimal untuk konsentrasi. Terus Kak Astri naikin jadi dua puluh enam. Terus Kak Leknor turunin lagi. Terus naik lagi. Tiga hari.”

“Terus siapa yang menang?”

“Mas Bayu. Dia copot remotnya, dia umpetin di laci mejanya. Sampai sekarang nggak ada yang tahu remotnya di mana.”

Galih tertawa. Keras. Tawa yang keluar dari perut dan menggema di dapur yang kosong.

“Kak Astri pernah nyanyi karaoke di nikahan temen voli-nya,” katanya. “Lagu dangdut. Di depan tiga ratus orang. Dia nggak bisa nyanyi. Sama sekali. Suaranya kayak kucing kejepit pintu.”

“Kak Astri? Beneran?”

“Dia pakai kacamata hitam. Terus goyang. Aku rekam. Videonya masih ada di laptop aku.”

“Aku mau lihat.”

“Nggak boleh.”

“Kenapa?”

“Dia bilang kalau aku nyebarin, dia bakal gentayangan.”

Jenar tertawa sampai tersedak kopi. Ia menutup mulut dengan tangan, dan kopi menetes ke dagunya, dan ia tertawa lebih keras karena itu.

Galih menyodorkan handuk dari lehernya tanpa berkata apa-apa.

“Kak Leknor pernah nyanyi sekali,” kata Jenar setelah tawanya reda. Pelan. “Aku umur tujuh. Nenek sakit. Kak Leknor harus jemput aku dari sekolah naik motor butut. Aku nangis di jalan, soalnya aku takut nenek nggak pulang dari rumah sakit. Terus Kak Leknor nyanyi. Di atas motor. Lagu anak-anak. Balonku.”

Galih diam.

“Suaranya jelek banget,” lanjut Jenar. Matanya basah, tapi ia tersenyum. “Sumbang. Dia nggak hafal liriknya. Dia ganti-ganti warnanya. Hijau, kuning, kelabu, merah muda, dan hijau lagi. Aku ketawa sampai berhenti nangis. Terus pas kita sampai rumah, dia bilang ke aku, jangan bilang siapa-siapa aku bisa nyanyi.”

“Dia nggak bisa nyanyi.”

“Makanya jangan bilang siapa-siapa.”

Galih tertawa pelan. Lalu berhenti. Memandangi Jenar lewat nyala lilin.

“Kamu baru aja bilang ke aku,” katanya.

Jenar mengerjap. Lalu tertawa lagi. “Iya. Maaf, Kak.”

Mereka berdua memandang ke langit-langit, seolah Leknor ada di sana, di balik genteng dan hujan, menggeleng dengan wajah datar.

“Mereka lucu, ya,” kata Jenar. “Dua orang yang nggak cocok sama sekali.”

“Kak Leknor kayak buku manual.”

“Kak Astri kayak kembang api.”

“Tapi mereka jadi.”

“Mereka jadi,” ulang Jenar pelan.

Hening sebentar. Nyala lilin bergoyang. Bau vanila.

“Kamu tahu,” kata Jenar, “ini pertama kalinya aku ngomongin mereka tanpa nangis.”

Galih memandanginya. “Aku juga.”

“Kenapa bisa, ya?”

Galih tidak langsung menjawab. Ia memandangi lilin di tengah. Lalu Jenar. Lalu lilin lagi.

“Mungkin karena lilinnya,” katanya. “Bau Kak Astri.”

“Mungkin.”

“Atau karena gelap. Nggak ada yang lihat.”

“Mungkin.”

“Atau...” Galih berhenti.

Jenar menunggu. Galih tidak melanjutkan.


Hujan mulai melambat sedikit di jam sepuluh. Tidak berhenti. Hanya berubah dari ember raksasa jadi gerimis besar yang konstan.

Listrik masih mati.

Lilin kedua sudah habis setengah. Kopi di termos sudah habis. Mereka masih duduk di lantai dapur, masing-masing dengan punggung di pintu lemari yang berbeda. Tapi entah kapan, entah bagaimana, satu meter keramik di antara mereka menyusut. Galih bergeser untuk menuang kopi. Jenar bergeser untuk menjangkau lilin yang miring. Galih bergeser untuk mengambil handuk yang jatuh.

Sekarang jaraknya setengah meter. Lalu kurang.

Lalu Jenar menoleh dan bahu mereka hampir bersentuhan.

Mereka berdua sekarang bersandar di pintu kulkas. Berdampingan. Kaki terjulur ke depan, ke arah lilin-lilin yang bergoyang.

“Galih.”

“Hm.”

“Kamu tahu kamu itu apa?”

“Apa?”

“Ipar paling nyebelin sedunia.”

Galih menoleh. Wajahnya sangat dekat sekarang. Nyala lilin menyala di matanya, dua titik kecil keemasan.

“Kenapa?”

“Kamu bikinin aku kopi tiap pagi, terus nggak pernah bilang kenapa. Kamu nulis kamu bisa di kulkas terus pura-pura nggak pernah nulis. Kamu pindahin toples teh ke rak bawah terus umpetin gula batu di laci ketiga. Kamu pulang basah kuyup di tengah hujan badai dan nggak ngasih tahu kenapa kamu tutup kedai duluan.”

Galih memandanginya.

“Kamu nyebelin,” ulang Jenar. Suaranya lebih pelan. “Nyebelin banget.”

“Kamu juga,” kata Galih.

“Aku kenapa?”

“Kamu ipar paling berisik sedunia.”

“Aku nggak berisik.”

“Kamu nulis setengahnya lagi gimana di kulkas jam tiga pagi.”

Jenar berhenti. Wajahnya memanas.

“Kamu baca?”

“Aku selalu baca.”

“Kamu nggak jawab.”

“Aku nggak tahu jawabannya.”

Hening.

Hujan di atap seng. Jam dinding. Nyala lilin yang bergoyang, menyala di mata mereka berdua.

Dan kemudian, Jenar tidak pernah bisa memastikan siapa yang bergerak duluan.

Mungkin dia. Mungkin Galih. Mungkin mereka berdua, di detik yang sama, kompak seperti di Casa Lidia waktu mereka berteriak apa bersamaan. Kompak seperti waktu mereka memalingkan wajah bersamaan di depan tiramisu. Kompak seperti waktu mereka tertawa bersamaan di depan pintu untuk foto Bu Endang.

Yang ia tahu hanya, di satu detik wajah Galih sepuluh senti dari wajahnya, dengan nyala lilin di matanya, dan di detik berikutnya, tidak ada jarak lagi.

Bibirnya dingin. Masih sedikit dingin dari hujan. Lalu hangat.

Ciuman itu tidak seperti di balik pintu kamar dua-empat-satu, yang canggung dan gigi bertabrakan. Tidak seperti di teras dengan lampu neon yang berkedip, yang dalam dan yakin. Ciuman ini pelan dan ragu-ragu dan sangat berhati-hati, seperti dua orang yang meraba-raba dalam gelap, mencari pintu di rumah yang sudah mereka tinggali enam bulan tapi tidak pernah benar-benar mereka kenali.

Lalu tidak lagi ragu-ragu.

Tangan Galih naik ke pipi Jenar. Jari-jarinya, yang masih sedikit dingin, menyusup ke rambut di belakang telinganya. Jenar menggenggam kaus abu-abu di dada Galih. Menariknya lebih dekat. Merasakan detak jantung di bawah telapak tangannya. Cepat. Tidak beraturan. Sama seperti di Pangandaran.

Tidak pernah melambat. Tidak pernah, sejak saat itu.

Jari-jari Galih turun. Dari telinga ke rahang. Dari rahang ke leher. Ke kerah piyama Jenar.

Berhenti.

Jenar merasakannya. Ujung jari Galih menyentuh sesuatu di balik kerah. Rantai tipis. Dingin. Di kulitnya.

Tangan Galih diam di sana. Sedetik. Dua detik.

Jenar membeku.

Tapi Galih tidak menariknya. Tidak menyingkapnya. Ia hanya membiarkan jarinya di sana, di atas rantai tipis di balik kain, dan menciumnya lebih dalam. Seolah rantai itu tidak ada. Seolah rantai itu, apa pun artinya, bukan alasan untuk berhenti.

Jenar memejamkan mata lebih rapat.

Dunia menyempit jadi gelap dan hangat dan bau vanila. Jadi hujan di atap seng dan napas yang bercampur dan detak jantung yang tidak jelas lagi milik siapa.

Lalu listrik menyala.

Semuanya sekaligus.

Lampu dapur di atas kepala mereka menyala putih terang, membakar mata. Kulkas di belakang punggung mereka hidup dengan bunyi dengung keras dan getaran yang merambat ke tulang belakang. Di ruang tengah, televisi yang tadi sore lupa dimatikan menyala dengan suara iklan yang terlalu keras. DAPATKAN DISKON HINGGA LIMA PULUH PERSEN. Di ruang depan, mesin roasting berbunyi bip tiga kali. Di lorong, lampu teras dan lampu ruang tengah dan lampu kamar mandi, semua lampu yang tadi Jenar nyalakan dalam kepanikan, menyala bersamaan, seperti rumah itu tiba-tiba terbangun dan berteriak.

Mereka melompat terpisah seperti tersengat listrik.

Jenar membentur pintu lemari bawah dengan punggungnya. Galih membentur pintu kulkas. Salah satu magnet jatuh. Magnet Singapura, menggelinding di lantai keramik sampai ke lilin yang masih menyala.

Mereka duduk di lantai dapur yang tiba-tiba terang benderang. Terengah. Saling memandang.

Dalam cahaya putih lampu dapur, semuanya terlihat terlalu jelas. Rambut Galih yang berantakan. Bibir Jenar yang merah. Tiga lilin vanila yang sekarang kelihatan kecil dan konyol di bawah lampu neon. Kertas USG di pintu kulkas di atas kepala Galih, hitam putih, dengan magnet bola voli. Daftar aturan di sebelahnya.

6. Jangan bahas pantai.

Televisi di ruang tengah masih berteriak soal diskon.

Galih berdiri. Cepat. Terlalu cepat. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Berbalik memunggungi Jenar. Menghadap wastafel. Menyalakan keran. Mematikannya lagi.

“Itu,” katanya ke arah wastafel. Suaranya serak. “Itu kesalahan.”

Jenar masih duduk di lantai.

Ia merasakan kata itu masuk ke dadanya. Pelan. Seperti air dingin yang dituang ke gelas yang terlalu panas. Retak.

Kesalahan.

Seperti anggap aja itu nggak pernah ada. Seperti saya udah ngerti. Seperti satu centang abu-abu dan kamar hotel yang kosong.

Galih masih memunggunginya. Bahunya kaku. Tangannya mencengkeram pinggiran wastafel.

“Kita lagi sedih,” lanjut Galih, masih ke arah wastafel. “Lampunya mati. Ada lilin Kak Astri. Kita lagi inget mereka. Terus...” Ia berhenti. “Itu kesalahan. Maaf.”

Jenar berdiri. Pelan. Merapikan kerah piyamanya. Menekannya, tanpa sadar, tepat di bawah tulang selangka.

Ia bisa bilang bukan. Ia bisa bilang itu bukan karena sedih. Ia bisa bilang aku nggak pernah lepas kalung ini, dan itu dari kamu, dan aku nulis setengahnya lagi gimana karena aku takut setengah tahun lagi kamu pergi.

Tapi Galih memunggunginya. Lagi. Seperti di lorong hotel. Seperti di kolam koi.

Dan harga diri, yang sudah setahun setengah ia pakai seperti baju zirah, naik ke tenggorokannya lebih cepat daripada kebenaran.

“Iya,” katanya. Suaranya datar. Tenang. Ia tidak tahu dari mana ketenangan itu datang. “Kesalahan.”

Galih menoleh. Sedikit. Hanya separuh wajahnya.

Jenar melihatnya. Di separuh wajah itu, sesuatu yang lewat. Cepat. Seperti bayangan awan di atas air muara.

Lalu hilang.

“Baik,” kata Galih.

“Baik.”

Jenar membungkuk. Meniup lilin-lilin vanila satu per satu. Asap tipis naik dari sumbu, meliuk-liuk, dan bau vanila berubah jadi bau asap.

Ia memasukkan tiga gelas lilin itu ke kotak kardus bersama tiga yang lain. Menutupnya. Mengembalikannya ke laci keempat. Di antara karet gelang dan tutup botol.

Lalu ia berjalan keluar dapur. Melewati Galih yang masih berdiri di depan wastafel. Tidak menyentuhnya.

Di ruang tengah, ia mematikan televisi. Iklan diskon berhenti di tengah kalimat.

Rumah itu sunyi lagi. Terang benderang dan sunyi.

Ia masuk ke kamarnya. Menutup pintu. Pelan. Klik.


Galih tidak kembali ke ruang kerja sampai jam dua belas.

Ia berdiri di dapur, di depan wastafel, lama sekali. Lalu ia memungut magnet Singapura dari lantai. Menempelkannya kembali di pintu kulkas.

Ia memandangi pintu kulkas itu. Sebelas aturan. Gambar krayon dinosaurus. Kertas USG.

Setengahnya lagi gimana?

Masih tidak ada jawaban di bawahnya.

Ia tahu ia berbohong. Ia tahu itu bukan karena sedih. Bukan karena lilin. Bukan karena gelap. Ia tahu itu sejak ia memutar kemudi di jalan Fatmawati yang banjir, melewati pohon tumbang dan kabel yang putus, karena ia melihat di grup RT bahwa seluruh Cilandak mati listrik dan ia tahu Jenar sendirian di rumah, dan ia tahu Jenar tidak suka hujan deras di malam hari sejak telepon jam satu lewat tujuh belas menit, dan ia tidak bisa berpikir apa pun lagi selain pulang.

Ia tahu.

Tapi ia juga ingat jarinya di leher Jenar. Rantai tipis di balik kain piyama. Dingin.

Kalung yang selalu disembunyikan. Selalu buru-buru dimasukkan kembali. Dari seseorang yang ia tidak tahu siapa, dan tidak berani ia tanyakan.

Dan ia ingat kalimat itu. Yang sudah setahun setengah terukir di kepalanya.

Anggap aja ini mengisi waktu gue melupakan kakak lo.

Enam bulan lagi, syarat wasiat selesai. Enam bulan lagi, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tinggal. Dan malam ini, di lantai dapur dengan lilin vanila, dengan kopi Senior dan cerita tentang karaoke dangdut dan lagu Balonku, ia membiarkan dirinya lupa. Lupa bahwa ia pernah jadi pengisi waktu sekali.

Ia tidak mau jadi pengisi waktu dua kali. Pengisi duka. Pengisi mati listrik. Seseorang yang kebetulan ada di lantai dapur waktu lampu padam.

Jadi ia bilang kesalahan. Sebelum Jenar sempat mengatakannya lebih dulu.

Dan Jenar bilang iya.

Galih mematikan lampu dapur dan berjalan ke ruang kerja.


Di ruang kerja, di sofa kulit yang retak, ia membuka laptop.

Email itu masih di sana. Di kotak masuk. Sudah ia baca tujuh kali sejak pagi.

Partnership Opportunity: Pratama Coffee Bali Flagship. Six-Month Launch Residency.

Investor baru. Jaringan resor di Uluwatu. Mereka ingin membuka kedai Pratama Coffee sebagai jangkar di kompleks resor baru mereka di tebing, dengan roastery sendiri dan program pelatihan barista lokal. Konsep yang sudah Galih impikan sejak gerobak di depan kampus. Tapi dengan satu syarat.

We would require you to personally lead the launch on-site for the first six months.

Enam bulan. Di Bali. Mulai bulan depan.

Enam bulan, tepat enam bulan, adalah sisa waktu syarat wasiat.

Tujuh malam. Tidak boleh lebih dari tujuh malam berturut-turut.

Galih memandangi layar laptop. Kursor berkedip di kolom balasan yang kosong.

Ia tidak mengetik apa-apa. Tapi ia juga tidak menghapus email itu.

Ia menutup laptop, berbaring di sofa kulit yang retak, dan memandangi langit-langit ruang kerja. Di rak buku di sebelahnya, kotak kecil berpita krem dan foto akad dalam bingkai kecil. Leknor dan Astri. Tersenyum.

Kalian berdua kayak dua orang yang lagi nahan napas di dalem air. Nunggu siapa yang duluan nggak kuat.

Galih memejamkan mata.


Jenar terbangun jam enam lewat sepuluh.

Ia berbaring lama di kasur single, memandangi langit-langit. Noda bekas bocor berbentuk pulau di pojok dekat AC. Sama seperti kemarin. Sama seperti setiap hari.

Bibirnya masih ingat.

Ia bangun. Mandi. Keramas satu jam, seperti biasa. Keluar dengan rambut terbungkus handuk.

Di meja makan, di depan kursinya, ada secangkir kopi. Masih mengepul. Dan dua lembar roti bakar selai kacang.

Seperti biasa.

Rumah sunyi. Kunci mobil tidak ada di gantungan.

Jenar berdiri di ambang dapur. Memandangi cangkir kopi itu. Lalu, pelan, memandangi pintu kulkas.

Di bawah Setengah jalan, di bawah Setengahnya lagi gimana?, sekarang ada tulisan baru. Miring ke kanan. Huruf-hurufnya lebih kecil dari biasanya. Lebih rapi. Seperti ditulis dengan sangat hati-hati, oleh orang yang sudah berdiri lama di depan kulkas sebelum memutuskan apa yang harus ditulis.

Kayak setengah yang pertama.

Jenar membacanya. Sekali. Dua kali.

Kayak setengah yang pertama.

Aturan. Jarak. Kopi tanpa kata. Dua kursi di meja bundar yang dipilih paling berjauhan. Tujuh malam, tidak lebih. Satu tahun, lalu selesai.

Ia berdiri di depan pintu kulkas lama sekali. Air mata tak tertahan dari sudut matanya, Ia mengigit bibirnya menyeka ir mata dengan punggung tangannya.

Lalu ia mengambil cangkir kopi dari meja makan. Kopinya sudah suam-suam kuku. Ia menyesapnya.

Pahit.

Untuk pertama kalinya dalam enam bulan, kopi pagi itu terasa pahit.

Ia tidak tahu apakah Galih salah menyeduhnya. Atau lidahnya sendiri yang berubah.

Ia menghabiskannya sampai tetes terakhir. Lalu mencuci cangkirnya, meletakkannya terbalik di rak piring, dan berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya.

Roti bakar selai kacang tertinggal di meja makan. Tidak disentuh.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk