BAB 16 - Satu Lilin

0 dibaca

A

Di hari kedua, kopi pagi masih ada di meja makan.

Jenar keluar dari kamar mandi jam tujuh kurang lima dan melihatnya. Cangkir putih. Masih mengepul. Dua lembar roti bakar selai kacang di piring kecil, dipotong diagonal.

Ia berdiri di ambang dapur lama sekali.

Kayak setengah yang pertama.

Setengah yang pertama juga ada kopi pagi. Tapi setengah yang pertama, kopi pagi itu berarti sesuatu. Sekarang ia tidak tahu artinya apa. Kebiasaan, mungkin. Sopan santun. Sesuatu yang dilakukan orang yang tinggal serumah dengan ipar, seperti mematikan lampu teras dan menutup pintu kulkas pelan-pelan.

Ia tidak menyentuhnya.

Ia berangkat ke kantor dengan perut kosong. Kopi itu tertinggal di meja makan, pelan-pelan mendingin, seperti roti bakar kemarin.


Di hari ketiga, Galih berdiri di dapur jam lima lewat lima puluh dengan cangkir kosong di tangan.

Mesin espresso sudah menyala. Lampu hijaunya berkedip. Air di dalamnya sudah panas.

Di rak piring, dua cangkir terbalik. Cangkir kemarin, yang ia temukan tadi malam masih penuh di meja makan, dingin, dengan lapisan tipis di permukaannya. Cangkir hari sebelumnya, yang ia temukan dalam keadaan yang sama.

Roti bakar selai kacang, dua hari, dua kali, tidak disentuh.

Galih memandangi cangkir kosong di tangannya.

Kayak setengah yang pertama.

Ia yang menulis kalimat itu. Ia yang memilih setiap katanya, jam dua pagi, setelah berdiri di depan kulkas hampir satu jam. Ia yang bilang kesalahan lebih dulu. Ia tidak berhak berharap cangkir itu kosong waktu ia pulang.

Tapi ia berharap.

Ia meletakkan cangkir kosong itu kembali di rak. Mematikan mesin espresso. Lampu hijaunya padam.

Lalu ia berangkat ke kedai, dan untuk pertama kalinya sejak hari kedua di rumah itu, tidak ada apa pun di meja makan di depan kursi Jenar.


Jarak di rumah yang sama ternyata bisa dibangun dengan sangat rapi.

Jenar mulai bangun jam lima. Mandi jam lima lewat lima belas, sebelum jadwal Galih, dengan keramas yang dipercepat jadi dua puluh menit. Ia berangkat ke kantor jam enam, sebelum langit terang, sebelum lampu dapur Bu Ratmi menyala, sebelum pintu ruang kerja terbuka.

Galih mulai pulang jam sebelas malam. Tidak lagi jam delapan. Tidak lagi jam sembilan. Jam sebelas, kadang dua belas, waktu lampu kamar Jenar sudah mati dan rumah sudah gelap.

Mereka tidak bertemu di dapur. Tidak bertemu di lorong. Tidak bertemu di kamar mandi, karena jadwalnya sekarang tidak lagi bersinggungan sama sekali.

Belanja mingguan di hari Sabtu berhenti. Jenar belanja sendiri di hari Jumat malam, di minimarket dekat kantor, dengan kantong plastik yang ia bawa naik taksi. Galih belanja sendiri di hari Minggu siang. Di kulkas, rak mereka terpisah. Rak atas untuk Jenar. Rak bawah untuk Galih. Label nama di setiap kotak. Aturan nomor empat, dijalankan dengan ketat.

Pelembut pakaian biru dan pink tetap berdampingan di rak di atas mesin cuci. Tidak ada yang memindahkannya.

Mesin roasting di ruang depan sunyi. Galih memindahkan sebagian karung goni dan toples kaca ke gudang kedai Mampang. Meja jati kembali kosong. Hanya satu toples yang tertinggal di ujungnya, yang labelnya miring ke kanan. SENIOR. Gayo. Untuk Jenar.

Tidak ada yang memindahkannya juga.

Dan pintu kulkas sunyi.

Sebelas aturan. Gambar krayon Kiki. Kertas USG. Semua percakapan kecil yang menjalar ke bawah seperti tanaman rambat. Lalu Setengah jalan. Setengahnya lagi gimana? Kayak setengah yang pertama.

Lalu tidak ada apa-apa.

Minggu pertama, Jenar berdiri di depan kulkas setiap malam sebelum tidur, memandangi ruang putih di bawah tulisan terakhir Galih. Spidol di tangan. Tutupnya terbuka.

Ia tidak menulis apa pun.

Minggu kedua, ia berhenti berdiri di depan kulkas.


Bu Ratmi mencegatnya di depan pagar di minggu ketiga, jam enam pagi, waktu Jenar baru keluar dengan tas kerja dan langit masih kelabu.

“Mbak Jenar! Pagi banget.”

“Pagi, Bu.”

Bu Ratmi berdiri di depan pagarnya sendiri dengan daster batik dan sapu lidi, pura-pura menyapu dedaunan yang tidak ada. Ia memandangi Jenar dari atas sampai bawah. Kantung mata. Kerah kemeja yang dikancing sampai atas. Rambut yang masih setengah basah karena tidak sempat dikeringkan.

“Mbak,” katanya pelan. “Mas Galih sakit?”

Jenar berhenti. “Kenapa, Bu?”

“Lampu dapur sini udah nggak nyala jam enam kurang.” Bu Ratmi menunjuk ke rumah Kenanga dua belas dengan sapu lidinya. “Udah tiga minggu. Ibu kira Mas Galih sakit. Atau pergi. Tapi mobilnya masih ada tiap malem.”

Jenar tidak menjawab.

Bu Ratmi memandanginya lama. Lalu, pelan, ia meletakkan sapu lidinya di pagar.

“Mbak,” katanya. “Berantem?”

“Nggak, Bu.”

“Oh.” Bu Ratmi mengangguk. Tidak percaya. “Kalau berantem, baikan cepet-cepet, ya. Jangan kelamaan. Nanti keras kayak nasi kemarin.”

“Kami nggak berantem, Bu.”

“Iya, iya.” Bu Ratmi mengambil sapu lidinya lagi. Lalu, sebelum kembali menyapu dedaunan yang tidak ada, ia berkata tanpa menoleh, “Ibu kangen lihat Mbak senyum-senyum di meja makan.”

Jenar berjalan ke ujung jalan untuk menunggu taksi, dan tidak menoleh ke belakang, karena ia tahu kalau menoleh, Bu Ratmi akan melihat wajahnya.


Di minggu keenam, biro dapat tender.

Proyek besar. Sekolah dasar swasta di Bintaro, tiga lantai, dengan perpustakaan dan taman di atap. Klien baru yang datang karena Pak Hendro merekomendasikan biro Leknor pada teman arisannya. Tenggat presentasinya sepuluh hari.

Jenar tidak pulang tiga malam berturut-turut.

Bukan tidak pulang ke rumah. Aturan tujuh malam, ia menghitungnya dengan cermat. Ia pulang jam tiga pagi, tidur empat jam, mandi, berangkat lagi jam delapan. Tapi ia tidak benar-benar pulang. Tubuhnya pulang. Kepalanya masih di meja gambar di lantai dua biro, di antara gambar tampak depan dan potongan melintang dan detail tangga yang harus aman untuk anak umur enam tahun.

Ia lupa makan siang di hari pertama. Di hari kedua, ia makan roti dari minimarket jam sebelas malam sambil menggambar. Di hari ketiga, Mas Bayu meletakkan nasi kotak di mejanya jam dua siang dan tidak pergi sampai Jenar membuka tutupnya.

Ia menyalakan mode jangan diganggu di ponselnya di hari pertama. Pesan-pesan masuk dan menumpuk tanpa dibaca. Grup kantor. Grup RT. Hana. Hana lagi. Hana tiga kali. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan membacanya setelah presentasi.

Di hari keempat pagi, ia bangun di sofa ruang rapat biro dengan leher pegal, kertas kalkir menempel di pipinya, dan ponsel yang mati karena baterainya habis.

Kantor masih sepi. Jam enam lewat sedikit.

Ia duduk. Memandangi gambar-gambar yang berserakan di meja kayu bantalan rel. Sudah hampir selesai. Tinggal detail taman atap.

Di dinding, di dalam kotak kaca yang berdebu, maket-maket rumah yang pernah dibangun biro itu. Rumah-rumah kecil dari karton putih dan kayu balsa, dengan pohon-pohon dari busa hijau. Leknor yang membuatnya. Sepuluh tahun. Satu per satu.

Jenar memandangi maket-maket itu, dan tiba-tiba ia sangat lelah. Bukan lelah karena tidak tidur. Lelah yang lain. Lelah seperti orang yang sudah terlalu lama berenang dan tidak melihat pantai.

Ia mengemasi laptopnya. Keluar lewat pintu belakang.


Lima menit menyusuri trotoar Kemang yang masih basah sisa hujan semalam. Toko bunga yang belum buka. Galeri seni yang lampunya selalu redup. Plang kayu gelap dengan huruf putih bersih.

Kedai Kemang baru buka. Lonceng kecil di atas pintu berbunyi, dan satu-satunya orang di dalam adalah Dita, yang sedang menata croissant di etalase kaca dengan rambut pendek yang masih basah.

“Kak Jenar!” Dita mengangkat kepala. Senyumnya lebar, lalu sedikit goyah waktu melihat wajah Jenar lebih jelas. “Pagi banget, Kak.”

“Pagi, Dit.”

“Pojok?”

“Pojok.”

Jenar duduk di kursi kayu yang satu kakinya lebih pendek. Meletakkan laptop di meja. Tas di kursi seberang. Kursi yang kosong. Selalu kosong.

Ia menyalakan laptop. Membuka file taman atap. Memandangi layar tanpa benar-benar melihat.

“Senior, Kak?” tanya Dita dari balik bar.

“Senior.”

Lima menit. Sepuluh. Jenar menggambar garis. Menghapusnya. Menggambar lagi.

Lalu ia mendengar langkah kaki mendekat. Lebih dari satu. Dan suara-suara pelan, berbisik-bisik, dan sesuatu yang berbau seperti cokelat.

Ia mengangkat kepala.

Dita berdiri di depan mejanya. Di belakangnya, dua barista lain yang baru datang, masih memakai jaket, celemek cokelat belum diikat. Dita memegang piring kecil dari keramik putih. Di atasnya, sepotong kue cokelat. Bukan kue besar. Sepotong kecil, seukuran telapak tangan, dengan lapisan ganache yang mengilap dan taburan serpihan cokelat.

Dan satu lilin. Tipis. Warna emas. Menyala.

“Selamat ulang tahun, Kak Jenar!”

Tiga suara. Tidak kompak. Satu terlalu cepat, satu terlalu lambat, satu terlalu keras.

Jenar memandangi mereka. Memandangi kue itu. Memandangi lilin yang bergoyang pelan di udara pagi.

“Hah?” katanya.

Dita mengerjap. Senyumnya sedikit goyah lagi. “Kak... hari ini ulang tahun Kakak, kan? Di sistem member tertulis hari ini.”

Jenar tidak bergerak.

Hari ini.

Ia mencoba mengingat tanggal. Tanggal berapa sekarang. Hari apa. Kemarin Selasa? Atau Rabu? Presentasi tender hari Jumat. Sepuluh hari dari minggu lalu. Berarti hari ini...

Ia menoleh ke ponselnya di sebelah laptop. Layarnya hitam. Mati.

Ia menoleh ke layar laptop. Di pojok kanan bawah, kecil, di sebelah ikon baterai.

Tanggal.

Hari ini.

“Oh,” katanya.

“Kakak lupa?” Dita memandanginya dengan mata terbelalak. “Kakak lupa ulang tahun sendiri?”

“Aku...” Jenar tertawa. Tawa kecil yang pecah di tengah. “Iya. Kayaknya lupa.”

Dita meletakkan piring kecil itu di meja, di sebelah laptop. Lilin tipis warna emas itu bergoyang.

“Ini dari program member, Kak,” katanya, sedikit malu. “Tiap member yang ulang tahun dapet kue sama minuman gratis. Aturan kantor pusat. Katanya bosnya yang bikin program ini dari lama. Soalnya bosnya suka kalau orang ngerasa diinget.”

Jenar memandangi kue itu.

Bosnya suka kalau orang ngerasa diinget.

“Tiup, Kak,” kata salah satu barista yang lain. Laki-laki muda dengan jerawat di dagu. “Terus minta sesuatu.”

Jenar memandangi lilin itu.

Tahun lalu, di meja ini, ada kue juga. Lebih besar. Kue red velvet dengan krim keju, yang Astri pesan diam-diam dari toko kue di Senopati dan dititipkan ke Dita tiga hari sebelumnya. Tahun lalu ada dua puluh tiga lilin kecil warna-warni, dan Astri yang menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan suara kucing kejepit pintu, paling keras dari semua orang di kedai itu, sampai pelanggan di meja sebelah ikut bertepuk tangan. Tahun lalu Astri duduk di kursi seberang, kaki disilangkan, cardigan cokelat susu, dan bilang, make a wish, Jen, yang gede, jangan yang kecil-kecil.

Jenar tidak ingat apa yang ia minta tahun lalu.

Ia memandangi kursi di seberang. Tas kerjanya di sana. Kursi yang kosong.

Tahun ini, satu-satunya yang ingat hari ulang tahunnya adalah sistem membership di kedai kopi milik laki-laki yang tiga minggu lalu berhenti menyeduhkan kopinya.

“Kak?” Dita memandanginya dengan khawatir.

Jenar menunduk. Meniup lilin itu.

Nyalanya padam. Asap tipis naik dari sumbu, meliuk-liuk di udara pagi, seperti asap lilin vanila di lantai dapur.

Ia tidak meminta apa-apa. Ia tidak tahu harus meminta apa.

Ketiga barista bertepuk tangan. Tidak kompak. Dita mengeluarkan ponsel dari saku celemeknya.

“Foto dulu ya, Kak. Buat laporan program member. Aturan kantor pusat juga.”

Jenar mengangkat kepala. Memegang piring kecil itu di depan dada, di bawah kerah kemeja yang dikancing sampai atas.

Ia tersenyum. Senyum wisuda. Senyum yang ia latih di depan cermin.

Dita memotretnya.

“Makasih, Kak. Selamat ulang tahun.”

“Makasih, Dit.”

Ketiga barista kembali ke balik bar. Jenar duduk sendirian di meja pojok dekat jendela dengan sepotong kue cokelat dan secangkir “Senior” yang dingin.

Ia memakan kue itu pelan-pelan. Sendok demi sendok. Cokelatnya enak. Pahit dan manis. Ada sedikit rasa kopi di dalam ganache-nya.

Waktu kuenya habis, ia menyadari pipinya basah.

Ia tidak tahu sejak kapan.


Presentasi tender sekolah di Bintaro berjalan baik. Kliennya, seorang kepala yayasan berumur lima puluhan dengan kerudung biru dan kacamata tebal, bertanya soal ketinggian pagar taman atap dan jarak antarjeruji tangga, dan Jenar menjawab semuanya tanpa membuka catatan.

Tapi ia tidak ingat apa pun dari presentasi itu. Yang ia ingat hanya lilin warna emas yang bergoyang di udara pagi, dan kursi kosong di seberang meja.

Ia pulang jam sembilan malam. Rumah gelap. Mobil Galih tidak ada di depan pagar.

Ia mengisi daya ponselnya di kamar. Layarnya menyala.

Empat puluh tujuh notifikasi.

Hana. Sebelas pesan. Tiga panggilan video tak terjawab. Yang pertama dikirim jam tujuh pagi waktu Belanda, jam dua belas siang di Jakarta, empat hari lalu. JEN SELAMAT ULANG TAHUN AAAAA dengan dua puluh emoji kue. Lalu. Jen? Kok nggak bales? Lalu. Lo lembur ya? Gue telepon. Lalu. Jen lo nggak apa-apa? Lalu, yang terakhir, tadi sore. Kalau lo udah baca ini, telepon gue. Nggak peduli jam berapa.

Jenar menatap layar ponselnya lama.

Empat hari lalu. Ulang tahunnya empat hari lalu. Hari ini bukan hari ulang tahunnya. Dita salah? Tidak. Laptopnya. Tanggal di laptop yang ia lihat pagi itu.

Ia menggulir ke pesan grup kantor. Mas Bayu. Mbak, selamat ulang tahun kemarin ya. Maaf baru tahu dari Mbak Rini. Dikirim tiga hari lalu.

Jenar menutup mata.

Ulang tahunnya empat hari lalu. Di tengah lembur tender. Waktu ponselnya dalam mode jangan diganggu. Waktu ia makan roti dari minimarket jam sebelas malam sambil menggambar tangga untuk anak umur enam tahun.

Dan pagi ini, kedai Kemang merayakannya terlambat karena Jenar tidak datang ke kedai selama seminggu. Sistem membership mencatat tanggalnya, dan Dita menyimpan jatah birthday treat itu sampai member bernama Jenar muncul lagi di meja pojok dekat jendela.

Ia bahkan tidak sadar hari itu sudah lewat.

Jenar meletakkan ponselnya di kasur. Lalu, setelah beberapa saat, mengangkatnya lagi dan menelepon Hana.

Di Belanda jam tiga sore. Hana mengangkat di dering pertama.

“JEN.”

“Hai, Han.”

“Lo di mana aja? Gue udah mau nelepon polisi!”

“Lembur. Tender. Ponsel gue mati.”

“Empat hari?”

“Empat hari.”

Hana diam di seberang. Lalu, pelan, “Lo lupa ulang tahun lo sendiri, ya?”

Jenar tidak menjawab.

“Jen...”

“Kedai kopi yang inget,” kata Jenar. Suaranya aneh. “Tadi pagi. Mereka kasih kue. Satu lilin. Mereka kira hari ini. Soalnya gue baru dateng lagi hari ini.”

“Kedai kopi yang mana?”

“Yang di Kemang. Yang dulu sering gue datengin sama Kak Astri.”

Hening di seberang. Lama.

“Kedai punya siapa, Jen?”

Jenar memandangi langit-langit kamarnya. Noda bekas bocor berbentuk pulau di pojok dekat AC.

“Lo tahu punya siapa.”

Hana menghela napas panjang. “Galih inget ulang tahun lo?”

“Dia nggak tahu ulang tahun gue. Dia nggak pernah nanya.” Jenar tertawa kecil. “Kita udah tiga minggu nggak ngomong, Han.”

“Kenapa?”

Jenar tidak menjawab. Ia tidak bisa. Bukan karena aturan nomor enam. Karena ia sendiri tidak tahu harus mulai dari mana. Lilin vanila. Lantai dapur. Listrik yang menyala. Kesalahan.

“Jen,” kata Hana pelan. “Selamat ulang tahun. Dua puluh empat. Gue sayang lo.”

“Makasih, Han.”

“Terus satu lagi.”

“Apa?”

“Tahun depan jangan lupa lagi. Kalau lo lupa, gue terbang dari Belanda cuma buat nyanyiin lagu ulang tahun pakai suara paling jelek yang gue punya.”

Jenar tertawa. Tawa yang pecah jadi sesuatu yang lain di tengah jalan.

“Suara lo nggak sejelek Kak Astri.”

“Nggak ada yang sejelek Kak Astri,” kata Hana. “Itu bakat.”


Galih membuka laporan mingguan jam sebelas malam, di ruang kerja, dengan lampu meja gambar Leknor sebagai satu-satunya cahaya.

Laporan yang sama setiap minggu. File PDF tebal yang dikirim bagian operasional kantor pusat setiap Kamis malam. Penjualan per cabang. Menu terlaris. Keluhan pelanggan. Stok biji kopi. Jadwal pelatihan barista.

Dan di bagian paling belakang, dua halaman yang selalu ia baca paling lama. Program member.

Galih yang membuat program itu. Tujuh tahun lalu, waktu Pratama Coffee baru punya dua cabang. Kartu member dari kertas karton cokelat, dicap setiap kali beli kopi. Sepuluh cap, gratis satu. Dan di hari ulang tahun, sepotong kue dan satu lilin, dan barista harus menyanyikan lagu selamat ulang tahun meskipun suaranya jelek.

Fadlan bilang itu buang-buang uang. Galih bilang itu satu-satunya hal yang membuat pelanggan kembali bukan karena kopinya, tapi karena mereka merasa diingat.

Sekarang kartunya sudah jadi aplikasi. Capnya sudah jadi poin digital. Tapi kuenya masih ada. Lilinnya masih ada. Dan setiap minggu, kantor pusat mengumpulkan foto-foto birthday treat dari sepuluh cabang dan menaruhnya di dua halaman terakhir laporan. Galih yang memintanya. Ia suka melihat wajah-wajah itu. Orang-orang asing yang tersenyum di depan kue cokelat kecil dengan satu lilin.

Ia menggulir pelan.

Cabang Mampang. Seorang bapak tua berkemeja batik, memegang kue dengan dua tangan, tersenyum ompong. Pak Sugeng, 71 tahun, member sejak 5 tahun lalu.

Cabang Tebet. Dua mahasiswi yang berpelukan, satu memegang kue, satu memegang lilin. Kak Nadia, 21 tahun.

Cabang Kemang.

Galih berhenti menggulir.

Seorang perempuan duduk di meja pojok dekat jendela. Kursi kayu. Laptop terbuka di sebelahnya. Di belakangnya, jendela besar dengan cahaya pagi yang kelabu.

Ia memegang piring kecil dari keramik putih di depan dadanya. Sepotong kue cokelat. Satu lilin warna emas yang sudah ditiup, asap tipis masih melengkung dari sumbunya.

Kemeja putih. Kerah dikancing sampai atas.

Ia tersenyum. Senyum yang Galih kenal. Senyum yang ia lihat pertama kali di Casa Lidia, di atas taplak meja kotak-kotak merah putih. Senyum yang dipakai seperti baju zirah. Yang tidak pernah sampai ke mata.

Matanya lelah. Kantung mata gelap. Rambut yang masih setengah basah, diikat asal.

Di bawah foto, keterangan kecil dalam huruf abu-abu.

Kak Jenar. Member sejak 16 bulan lalu. Menu favorit: Senior. Catatan barista: Kak Jenar lupa ulang tahunnya sendiri. Birthday treat diberikan terlambat 4 hari karena member tidak datang minggu ini.

Galih memandangi foto itu lama sekali.

Enam belas bulan.

Ia menghitung di kepalanya. Enam belas bulan lalu. Sebulan setelah pernikahan kakaknya. Sebulan setelah kolam koi dan anggap aja itu nggak pernah ada. Sebulan setelah saya setuju.

Jenar mendaftar jadi member di kedainya. Di cabang Kemang. Lima menit dari biro Leknor. Satu-satunya cabang yang hampir tidak pernah Galih datangi.

Enam belas bulan. Dan ia tidak pernah tahu.

Ia membuka aplikasi internal di laptopnya. Sistem member. Mengetik nama itu di kolom pencarian dengan jari yang tiba-tiba kaku.

Jenar Masayu.

Riwayat transaksi. Ratusan baris. Hampir setiap minggu. Kadang dua kali seminggu. Kopi hitam tanpa gula, di bulan-bulan awal. Lalu, sejak bulan kelima, hampir setiap transaksi adalah menu yang sama. Senior.

Kolom diskon member. Kosong. Setiap baris. Enam belas bulan.

Tidak pernah sekali pun ia memakai potongan harga. Tidak pernah memakai poin gratis yang sudah menumpuk sampai ratusan. Tidak pernah mengklaim satu pun hadiah.

Membayar penuh. Setiap kali.

Dan di awal-awal riwayat itu, di bulan-bulan pertama, ada transaksi-transaksi yang selalu berpasangan. Dua minuman. Satu kopi hitam. Satu latte susu oat.

Latte susu oat.

Galih memejamkan mata.

Astri. Astri yang selalu memesan latte susu oat. Astri yang tidak pernah bilang pada barista mana pun bahwa ia kakak bos. Astri yang membawa Jenar ke sini.

Transaksi berpasangan itu berhenti delapan bulan lalu. Tepat di minggu kecelakaan.

Setelah itu, hanya satu minuman. Kopi hitam. Lalu Senior. Selalu di cabang Kemang. Selalu di meja yang sama, kata catatan barista. Pojok dekat jendela.

Galih menutup aplikasi itu. Lalu kembali ke laporan. Ke foto itu.

Senyum yang tidak sampai ke mata.

Kak Jenar lupa ulang tahunnya sendiri.

Empat hari lalu. Hari Senin. Ia pulang jam sebelas malam hari itu. Rumah gelap. Lampu kamar Jenar mati. Ia berdiri di depan pintu kulkas sebentar, memandangi ruang putih di bawah Kayak setengah yang pertama, lalu masuk ke ruang kerja tanpa menyalakan lampu.

Empat hari lalu, Jenar berulang tahun di lantai dua biro Leknor, sendirian, dengan roti minimarket dan gambar tangga sekolah, dan tidak ada satu pun orang di rumah ini yang tahu.

Galih berdiri. Kursi meja gambar Leknor terdorong ke belakang dan membentur rak buku. Kotak kecil berpita krem bergoyang di raknya. Foto akad dalam bingkai kecil hampir jatuh.

Ia menangkapnya. Meletakkannya kembali. Tegak.

Leknor dan Astri tersenyum dari balik kaca bingkai.


Jam dua belas lewat empat puluh, rumah sunyi.

Galih berdiri di lorong gelap di depan pintu kamar Jenar. Tidak ada cahaya di bawah pintunya. Napas di baliknya, samar sekali, teratur. Tidur.

Di tangannya ada selembar kartu.

Ia menemukannya di laci meja gambar Leknor. Kartu ucapan kosong dari kertas daur ulang warna krem, sisa satu set yang dulu Leknor pakai untuk mengirim ucapan terima kasih ke klien setelah proyek selesai. Di bagian depannya ada gambar tangan Leknor sendiri. Sketsa pensil sebuah rumah kecil dengan pohon di halamannya dan jendela yang menyala.

Galih duduk di meja gambar Leknor lama sekali sebelum menulis. Ia menulis tiga kali. Membuang dua yang pertama. Yang ketiga ia tulis dengan sangat pelan, dengan huruf yang miring ke kanan tapi lebih rapi dari biasanya.

Sekarang ia berjongkok di depan pintu kamar Jenar. Lantai kayu lorong dingin di bawah lututnya.

Ia teringat selembar kertas notes hotel bergambar logo pohon kelapa, di lorong lantai dua di Pangandaran, dua tahun kurang sedikit yang lalu. Ia berjongkok seperti ini juga. Di depan pintu kamar dua-empat-satu. Dengan jantung yang berdebar seperti anak SMA. Kalau kamu laper, aku di lobi. Kalau nggak, abaikan aja kertas ini.

Ia menyelipkan kartu itu di bawah pintu. Pelan. Supaya tidak ada bunyi.

Kartu itu meluncur masuk dan menghilang di kegelapan.

Galih tetap berjongkok di sana. Dua detik. Tiga. Seperti setiap malam, dulu, sebelum ia berhenti pulang jam delapan. Mendengarkan napas di balik pintu.

Lalu ia berdiri dan berjalan ke ruang kerja.


Jenar menemukan kartu itu jam lima pagi, waktu ia turun dari kasur dan kakinya menginjak sesuatu yang tipis dan kaku di lantai dekat pintu.

Ia memungutnya. Menyalakan lampu kamar.

Kartu krem dari kertas daur ulang. Sketsa pensil rumah kecil dengan pohon di halaman dan jendela yang menyala.

Ia mengenali gambarnya. Garis-garis yang tegak dan rapi. Tidak pernah melenceng dua milimeter.

Tangan Leknor.

Ia membukanya. Tulisan di dalamnya miring ke kanan. Huruf g-nya seperti kail pancing.

Selamat ulang tahun, Jen.

Maaf aku tahunya dari laporan kedai. Maaf juga telat empat hari. Dan maaf soal kopi pagi.

Dita bilang kamu lupa ulang tahun kamu sendiri. Jangan lupa lagi. Kalau kamu lupa, biar aku yang inget.

Kartunya punya Kak Leknor. Aku nemu di laci meja gambar. Aku pikir dia pasti mau kamu dapet satu.

G.

Jenar duduk di tepi kasur.

Ia membaca kartu itu sekali. Dua kali. Tiga kali. Ia membaca biar aku yang inget tujuh kali.

Ia tidak menangis. Tidak kali ini. Ia hanya duduk di tepi kasur single dengan seprai motif bunga-bunga kecil yang sudah pudar, dengan kartu krem di kedua tangan, dan merasakan sesuatu di dadanya yang sudah tiga minggu terasa seperti batu, pelan-pelan, sangat pelan, mulai retak.

Laporan kedai. Dita. Jadi ia tahu. Ia tahu soal membership. Soal meja pojok. Soal Senior.

Mungkin ia tahu soal latte susu oat.

Jenar membuka laci nakas.

Kotak bekas jam tangan. Di bawah tumpukan struk belanja. Ia membukanya. Gantungan kunci papan selancar kuning, huruf H yang terlalu besar. Dua rokok yang tidak pernah dinyalakan, dari tangga semen malam Kiki menginap. Kertas notes hotel bergambar logo pohon kelapa, yang ia bawa pulang dari Pangandaran dan tidak pernah bisa ia buang.

(G.)

Ia meletakkan kartu krem itu di atas semuanya. Menutup kotaknya. Menutup lacinya.

Lalu ia bangun, mandi, keramas dua puluh menit, dan berangkat ke kantor jam enam, seperti tiga minggu terakhir.

Tapi sebelum keluar, ia berhenti di depan pintu kulkas.

Ruang putih di bawah Kayak setengah yang pertama. Masih kosong.

Ia memandanginya. Spidol di tangan. Tutupnya terbuka.

Ia tidak menulis apa-apa. Belum.

Tapi pagi itu, di minimarket dekat kantor, waktu ia membeli roti untuk sarapan, ia berdiri di depan rak selai lama sekali. Lalu ia mengambil satu toples selai kacang. Dan malamnya, waktu ia pulang dan rumah masih gelap dan mobil Galih masih belum ada di depan pagar, ia meletakkan toples itu di rak bawah kulkas.

Rak Galih.

Tanpa label nama.


Galih menemukan toples selai kacang itu jam sebelas lewat dua puluh malam, waktu ia membuka kulkas untuk minum.

Rak bawah. Raknya. Di sebelah susu dan telur dan kotak-kotak dengan label nama Galih dalam tulisan tangannya sendiri.

Satu toples selai kacang. Baru. Segelnya belum dibuka. Tanpa label nama.

Ia berdiri di depan kulkas yang terbuka lama sekali, sampai alarm pintunya berbunyi.

Ia menutupnya. Lalu memandangi pintu kulkas.

Tidak ada tulisan baru di sana. Ruang putih yang sama di bawah tulisannya sendiri.

Tapi selai kacang itu ada di raknya.

Galih tidak tahu apa artinya. Ia tahu apa artinya. Ia tidak berani tahu apa artinya.

Ia berjalan ke ruang kerja. Di lorong, di depan pintu kamar Jenar, ia berhenti.

Dua detik. Tiga.

Di balik pintu, napas yang teratur.

Ia melanjutkan langkah.

Di ruang kerja, ia membuka laptop. Email dari Uluwatu masih di kotak masuk. Belum dijawab. Tenggat jawaban yang mereka minta tinggal tiga minggu lagi.

Ia memandanginya. Lalu menutup laptop tanpa membalas.

Besok pagi, pikirnya. Besok pagi aku nyalain mesin espresso lagi.

Ia tidak tahu apakah ia berani.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk