BAB 17 - Kursi di Seberang

0 dibaca

A

Galih menyalakan mesin espresso jam lima lewat tiga puluh lima.

Lebih pagi dari biasanya. Lebih pagi dari jadwal mandinya. Ia berdiri di dapur yang masih gelap dengan kaus tidur dan rambut berantakan, dan menunggu lampu hijau di mesin itu berhenti berkedip.

Di rak bawah kulkas, toples selai kacang yang segelnya sudah ia buka tadi malam. Satu sendok. Hanya satu. Ia memakannya langsung dari toples, berdiri di depan kulkas yang terbuka, jam setengah dua belas malam, seperti orang yang takut ketahuan.

Lampu hijau berhenti berkedip. Air sudah panas.

Galih mengambil dua cangkir dari rak. Menggiling biji “Senior” dengan penggiling kayu berengkol besi, pelan, supaya bunyinya tidak terlalu keras. Menakar dengan mata. Menyeduh dengan ketel leher angsa, melingkar, seperti di lantai dapur jam tiga pagi.

Bau kopi memenuhi dapur. Cokelat. Kayu manis. Sedikit pala.

Ia meletakkan satu cangkir di meja makan. Di depan kursi Jenar.

Lalu ia berdiri di ambang dapur dengan cangkirnya sendiri dan menunggu.

Dari arah lorong, ia mendengar pintu kamar mandi terbuka. Langkah kaki di lantai kayu. Pintu kamar Jenar. Lalu, beberapa menit kemudian, pintu kamar itu terbuka lagi, dan langkah kaki bergerak cepat ke arah depan rumah.

Pintu depan. Kunci diputar. Pagar besi hijau berderit.

Lalu tertutup.

Galih berdiri di ambang dapur dengan cangkir di tangan. Jam lima lewat lima puluh dua. Delapan menit lebih pagi dari biasanya.

Ia tidak lewat dapur. Ia tidak menoleh ke meja makan. Ia bahkan mungkin tidak mencium bau kopinya.

Galih berjalan ke meja makan. Duduk di kursi tamu. Di seberang kursi Jenar. Dua cangkir di atas meja bundar, dan dua kursi kosong di antaranya, dan satu kursi kosong lagi di depan cangkir yang masih mengepul.

Ia meminum kopinya sendiri. Lalu, setelah beberapa saat, menarik cangkir yang satu lagi ke arahnya dan meminumnya juga.

Pahit.


Hanif mengirim pesan di hari Rabu siang, waktu Jenar sedang di ruang rapat biro membahas revisi taman atap sekolah Bintaro dengan Mas Bayu.

Jen, kamu ada waktu minggu ini? Aku mau ngobrol. Ngopi aja. Sebentar.

Jenar memandangi layar ponselnya.

Tiga bulan lalu, Hanif duduk di meja makan bundar dan menyerahkan kotak kecil berpita krem. Sejak itu, pesan-pesan singkat sesekali. Menanyakan kabar. Mengirim tautan artikel tentang duka. Satu kali mengirim foto boks bayi kosong di rumah sakit tempat ia bekerja, dengan keterangan donasi dari keluarga pasien, aku inget kamu. Jenar membalas semuanya dengan sopan dan singkat.

Tapi Hanif tidak pernah mengajak bertemu. Tidak sejak soto Betawi.

Ia mengetik. Ada apa, Kak?

Balasannya datang cepat. Terlalu cepat untuk seorang dokter yang seharusnya sibuk.

Nanti aku cerita. Kamu yang pilih tempatnya. Deket kantor kamu aja biar kamu nggak repot.

Jenar memandangi pesan itu lama.

Deket kantor. Kemang. Ada dua puluh kafe dalam radius lima ratus meter dari biro Leknor. Kafe dengan kursi rotan dan tanaman gantung. Kafe dengan musik keras dan kue-kue warna pastel. Kafe waralaba dengan logo hijau.

Jarinya mengetik sebelum ia berpikir.

Pratama Coffee Kemang. Jumat jam 4.

Ia mengirimnya. Lalu memandanginya. Lalu tidak tahu kenapa ia memilih tempat itu.

Ia tahu kenapa.

Karena itu satu-satunya tempat di dekat kantor yang terasa seperti rumah. Karena di sana ada kursi kayu yang satu kakinya lebih pendek dan jendela besar dan Dita yang berteriak Senior? sebelum ia sempat duduk. Karena di sana ia pernah menangis di depan sepotong kue cokelat dengan satu lilin, dan tidak ada yang menanyakan kenapa.

Karena, di tempat mana pun di Jakarta, itu satu-satunya tempat yang terasa aman.

Ia tidak berpikir lebih jauh dari itu.


Hana menelepon hari Kamis malam, jam sembilan di Jakarta, jam empat sore di Belanda.

“Jen. Lo udah denger?”

“Denger apa?”

Hana diam di seberang. Lalu, pelan, “Kak Yuna mutusin Kak Hanif.”

Jenar yang sedang melipat baju di kasur berhenti melipat.

“Kapan?”

“Dua minggu lalu. Mama baru cerita ke gue tadi. Kak Hanif nggak bilang siapa-siapa. Dia cuma nggak dateng ke acara keluarga Kak Yuna, terus Mama nanya, terus dia bilang udah nggak jadi.” Hana menghela napas. “Katanya Kak Yuna yang mutusin. Katanya Kak Yuna bilang Kak Hanif udah lama kayak orang yang nggak di sini.”

Jenar memandangi baju di tangannya. Kaus berkerah warna biru muda. Kancing keduanya sudah dijahit ulang.

“Terus?” tanyanya.

“Terus...” Hana ragu. “Jen, Kak Hanif ngajak lo ketemu, ya?”

Jenar diam.

“Dia cerita ke gue kemarin,” lanjut Hana cepat. “Dia nanya-nanya soal lo. Lo gimana. Lo masih sedih atau nggak. Lo...” Ia berhenti. “Lo lagi deket sama siapa.”

“Han...”

“Gue nggak jawab apa-apa. Sumpah. Gue nggak bilang soal Galih.”

“Nggak ada yang perlu dibilang soal Galih.”

“Jen.”

“Kami udah tiga minggu nggak ngomong, Han. Nggak ada yang perlu dibilang.”

Hana diam lama. Lalu, sangat pelan, “Lo mau ketemu dia?”

“Cuma ngopi.”

“Di mana?”

Jenar tidak menjawab langsung. Ia memandangi langit-langit. Noda berbentuk pulau.

“Kemang,” katanya.

“Kemang di mana?”

“Kedai yang biasa.”

Hening di seberang. Lama sekali. Jenar bisa mendengar sesuatu di latar belakang Hana. Angin. Sepeda. Bel sepeda yang berdering di jalan Belanda yang basah.

“Jen,” kata Hana akhirnya. “Lo sadar nggak lo baru bilang apa?”

“Apa?”

“Lo ngajak Kak Hanif. Cinta pertama lo. Yang baru putus dari tunangannya. Ketemu di kedai kopi Galih.”

Jenar membuka mulut. Menutupnya lagi.

“Cuma ngopi, Han,” katanya.

“Iya,” kata Hana. “Cuma ngopi.”

Nadanya jelas sekali mengatakan gue nggak percaya satu kata pun.


Hari Jumat jam empat kurang lima, Jenar sudah duduk di meja pojok dekat jendela.

Ia datang lebih dulu. Sengaja. Supaya ia bisa duduk di kursinya sendiri. Kursi kayu yang satu kakinya lebih pendek, yang menghadap ke pintu. Tas kerjanya ia letakkan di kursi seberang, seperti biasa.

Dita sudah menyeduhkan Senior tanpa ditanya. Cangkir putih. Mengepul. Di sebelahnya, piring kecil berisi dua keping kue kering cokelat.

“Dari aku, Kak,” bisik Dita. “Masih belum rela Kakak lupa ulang tahun.”

Jenar tertawa. Dita kembali ke bar.

Lonceng di atas pintu kaca berbunyi jam empat lewat dua menit.

Hanif masuk dengan kemeja biru muda yang lengannya digulung sampai siku, celana bahan abu-abu, dan kacamata berbingkai tipis. Wajahnya lebih kurus dari tiga bulan lalu. Ada bayangan gelap di bawah matanya, bayangan dokter yang terlalu sering jaga malam. Ia berhenti di ambang pintu, mencari-cari, lalu menemukan Jenar di pojok dekat jendela dan tersenyum.

Senyum yang dulu. Senyum di meja makan rumah Hana, di atas buku integral dan gelas teh manis.

Jenar menunggu jantungnya melompat.

Tidak melompat.

Hanif berjalan ke mejanya. Jenar mengangkat tas kerjanya dari kursi seberang, memindahkannya ke lantai.

Hanif duduk.

Di kursi itu.

Jenar memandanginya. Laki-laki berkemeja biru muda, duduk di kursi di seberangnya, di tempat yang dulu selalu diduduki Astri. Kaki disilangkan. Tangan di atas meja. Kacamata yang ia dorong ke atas hidung dengan jari telunjuk.

Rasanya salah.

Bukan salah dengan cara yang dramatis. Salah dengan cara yang kecil dan terus-menerus, seperti sepatu yang dipakai di kaki yang keliru. Seperti gambar kerja yang skalanya meleset dua milimeter. Tidak ada yang bisa melihatnya kecuali Jenar. Tapi Jenar tidak bisa berhenti melihatnya.

Kursi itu bukan untuk Hanif.

Kursi itu untuk cardigan cokelat susu dan latte susu oat dan tawa yang terlalu keras. Kursi itu untuk make a wish, Jen, yang gede, jangan yang kecil-kecil.

“Kamu kurusan,” kata Hanif.

“Kakak juga.”

Hanif tertawa kecil. Dita datang ke meja dengan buku pesanan kecil. Hanif melirik papan menu kapur di belakang bar.

“Senior itu apa?”

“Gayo, Kak,” kata Dita. “Ada rasa cokelat, kayu manis, sama pala. Menu baru. Paling laris.”

“Itu aja.”

Dita mencatat. Melirik Jenar sekilas. Ada sesuatu di matanya. Rasa ingin tahu. Jenar pura-pura tidak melihat.

Hanif memandangi Jenar setelah Dita pergi.

“Kamu sering ke sini?”

“Lumayan. Deket kantor.”

“Kata Hana kamu dulu sering ke sini sama Kak Astri.”

Jenar mengangkat kepala.

“Hana cerita,” kata Hanif pelan. “Katanya kalian punya meja sendiri. Di pojok.” Ia memandangi meja kayu di antara mereka. Kursi yang ia duduki. “Ini, ya?”

Jenar tidak menjawab. Tapi Hanif membaca wajahnya.

Ia menggeser kursinya sedikit. Tidak jauh. Hanya beberapa senti. Seperti orang yang tiba-tiba sadar ia duduk di tempat yang bukan miliknya.

“Maaf,” katanya.

“Nggak apa-apa, Kak.”

Senior Hanif datang. Ia menyesapnya. Diam. Lalu memandangi cangkir itu dengan alis terangkat.

“Ini enak,” katanya. “Beneran enak.”

“Iya.”

“Yang bikin siapa?”

Jenar memandangi cangkirnya sendiri. “Bosnya.”

Hanif tidak bertanya lebih jauh. Ia meletakkan cangkirnya. Menautkan jari-jarinya di atas meja. Kebiasaan dokter yang akan menyampaikan kabar penting.

“Jen,” katanya. “Aku sama Yuna udah nggak jadi.”

“Hana cerita.”

“Oh.” Hanif tersenyum tipis. “Hana cerita semuanya, ya.”

“Hampir semuanya.”

“Yuna yang mutusin.” Hanif memandangi jarinya sendiri. “Dia bilang aku kayak orang yang nggak di sini. Udah lama. Sejak...” Ia berhenti. “Sejak Purwakarta.”

Jenar menahan napas.

“Dia bener,” lanjut Hanif pelan. “Aku nggak di sini. Aku masih di ruang operasi itu. Masih pegang bayi itu. Empat puluh menit.” Ia menggeleng. “Tiap malem aku mimpi. Tiap malem. Terus aku bangun, terus yang aku pikirin bukan Yuna. Yang aku pikirin kamu. Di kursi plastik biru di depan ruang operasi. Nggak nangis. Cuma bilang makasih, Kak, udah coba.”

Jenar tidak bergerak.

“Aku kenal kamu dari kamu kelas satu SMP,” kata Hanif. “Kamu selalu di rumah. Di meja makan. Ngerjain PR sama Hana. Aku ngajarin kamu integral. Aku nggak pernah bener-bener lihat kamu, Jen. Kamu adiknya Hana. Kamu selalu ada di sana, kayak meja makan itu sendiri.”

Ia mengangkat kepala. Menatap Jenar lewat kacamata berbingkai tipis.

“Terus di Purwakarta aku lihat kamu,” katanya. “Pertama kali. Beneran lihat.”

Kedai itu sunyi. Musik jazz pelan dari speaker di langit-langit. Dita di balik bar, mengelap mesin espresso yang sudah bersih. Dua pelanggan di meja tengah dengan laptop.

Jenar memandangi laki-laki di seberangnya.

Tujuh tahun.

Tujuh tahun ia menunggu kalimat ini. Tujuh tahun ia membayangkannya di halaman belakang buku catatan fisika, di kamar mandi dengan keran menyala, di bus dari Bandung, di pinggir pantai dengan kacang rebus di tangan. Tujuh tahun ia membayangkan Hanif menatapnya seperti ini, di seberang meja, dan bilang aku lihat kamu.

Sekarang kalimat itu datang. Persis seperti yang ia bayangkan. Mungkin lebih baik.

Dan yang ia rasakan hanyalah kopi pagi.

Bukan kopi di cangkir di depannya. Kopi di meja makan bundar di rumah Kenanga dua belas. Kopi yang dulu selalu ada di depan kursinya jam enam kurang lima, masih mengepul, dengan dua lembar roti bakar selai kacang yang dipotong diagonal. Kopi yang berhenti tiga minggu lalu, dan sejak itu meja makan di pagi hari terasa seperti ruangan yang lampunya dicabut.

Ia memikirkan tangan yang meletakkan cangkir itu. Tangan yang menulis kamu bisa di pintu kulkas dengan spidol yang hampir habis. Tangan yang menyelipkan kartu krem dengan sketsa rumah kecil di bawah pintunya.

Kalau kamu lupa, biar aku yang inget.

Jenar menunduk ke cangkir Senior di depannya.

“Kak,” katanya pelan.

Hanif menunggu.

“Aku pernah suka sama Kakak.”

Hanif tidak bergerak. Wajahnya tidak kaget. Seolah ia sudah tahu. Seolah ia sudah tahu sejak lama, dan baru sekarang mengizinkan dirinya tahu.

“Lama,” lanjut Jenar. “Dari kelas dua SMP. Tujuh tahun. Aku nggak pernah bilang. Aku nggak berani.” Ia tersenyum kecil. “Waktu Kakak tunangan, aku kabur ke Pangandaran. Aku nangis di depan penjual kacang rebus.”

“Jen...”

“Tapi sekarang udah nggak, Kak.”

Hanif memandanginya.

“Aku nggak tahu kapan berhentinya,” kata Jenar jujur. “Aku nggak sadar. Tapi pas di Purwakarta, pas Kakak jongkok di depan aku dan bilang Kakak minta maaf, aku nunggu jantung aku lompat. Kayak dulu. Terus nggak lompat.” Ia memandangi cangkirnya. “Tadi juga. Pas Kakak masuk pintu. Aku nunggu. Nggak lompat.”

Hanif diam lama. Lalu, pelan, ia tertawa. Bukan tawa yang pahit. Tawa yang lelah dan jujur.

“Aku telat, ya,” katanya.

“Tujuh tahun, Kak.”

“Tujuh tahun.” Hanif menggeleng. Mengusap wajahnya dengan dua tangan, mengangkat kacamatanya sampai ke dahi. “Aku dokter spesialis anak. Aku bisa lihat bayi demam dari jarak lima meter. Tapi aku nggak bisa lihat anak SMP yang suka sama aku selama tujuh tahun di meja makan rumah aku sendiri.”

Jenar tertawa. Tawa yang pecah di tengah. Hanif ikut tertawa. Dita di balik bar memandangi mereka dengan dahi berkerut.

Setelah tawa mereka reda, Hanif memakai kacamatanya lagi. Memandangi Jenar lama. Lalu memandangi cangkir Senior di depannya.

“Siapa?” tanyanya pelan.

“Apa?”

“Yang bikin jantung kamu lompat sekarang.”

Jenar tidak menjawab.

Hanif tidak mendesak. Ia menyesap kopinya. Menahannya di mulut, seperti orang yang baru belajar cara minum kopi. Lalu menelannya.

“Bosnya yang bikin kopi ini,” katanya. Bukan pertanyaan.

Jenar menunduk.

Hanif mengangguk pelan. Senyum kecil yang sedikit sedih, sedikit geli.

“Adiknya Kak Astri,” katanya. “Yang di IGD. Yang mukanya kayak mau mukul aku.”

“Kak...”

“Kulkas,” kata Hanif. “Kamu yang bilang. Mukanya emang gitu.”

Jenar menutup wajahnya dengan dua tangan.


Fadlan menyampaikannya dengan cara yang sangat buruk.

Hari Sabtu siang, di dapur kedai Mampang, di antara karung-karung goni dan mesin roasting industri yang bunyinya seperti pesawat mau lepas landas. Galih sedang mencicipi hasil sangrai biji Flores Bajawa yang baru, memuntahkannya ke wastafel, mencatat di buku kecil. Fadlan bersandar di pintu dengan ponsel di tangan.

“Gal.”

“Hm.”

“Hana cerita sesuatu.”

Galih mencatat. Bajawa, roasting 12 menit, terlalu asam. Coba 13.

“Hanif putus sama tunangannya,” kata Fadlan.

Pulpen Galih berhenti.

“Dua minggu lalu,” lanjut Fadlan. “Terus kemarin dia ngajak Jenar ngopi.”

Galih tidak mengangkat kepala. Pulpennya masih di atas kertas. Satu titik tinta mulai membesar di ujung huruf 3.

“Hana panik,” kata Fadlan. “Dia telepon gue jam tiga pagi waktu Belanda. Katanya dia takut Jenar...” Ia berhenti. “Pokoknya dia panik.”

Galih meletakkan pulpen di buku. Pelan. Menutup buku itu.

“Di mana?” tanyanya.

“Apa?”

“Ngopinya. Di mana?”

Fadlan ragu. Lalu menjawab, dengan suara orang yang tahu ia akan menyesal, “Kemang. Di kedai lo.”

Galih mengangkat kepala.

“Kata Hana,” lanjut Fadlan hati-hati, “di meja pojok. Yang deket jendela.”

Mesin roasting industri berbunyi. Drum besar berputar. Biji-biji kopi retak di dalamnya seperti hujan di atap seng.

Galih tidak mendengarnya.

Meja pojok dekat jendela. Kursi kayu yang satu kakinya lebih pendek, kata catatan Dita di laporan. Enam belas bulan riwayat transaksi. Kopi hitam. Latte susu oat. Berpasangan. Setiap minggu. Sampai minggu kecelakaan.

Lalu satu minuman. Kopi hitam. Lalu Senior. Satu minuman. Selalu satu.

Karena kursi di seberang kosong. Karena kursi di seberang untuk Astri.

Dan kemarin, di kursi itu, duduk laki-laki berkemeja biru muda yang memeluk Jenar di meja makan dengan tangan di rambutnya.

“Gal?” Fadlan melangkah masuk. “Gal, lo nggak apa-apa?”

Galih berdiri. Mengambil kunci mobil dari meja.

“Gal, lo mau ke mana?”

“Pulang.”

“Ini baru jam dua.”

“Gue pulang, Lan.”

“Gal...” Fadlan menangkap lengannya di ambang pintu dapur. “Gal. Dengerin gue dulu. Hana bilang dia nggak tahu mereka ngomongin apa. Hana cuma tahu mereka ketemu. Jangan...”

“Jangan apa?”

Fadlan memandanginya. Tatapan delapan tahun.

“Jangan kabur,” katanya pelan. “Kalau lo mau marah, marah. Kalau lo mau nanya, nanya. Tapi jangan kabur.”

Galih memandangi tangan Fadlan di lengannya.

“Gue nggak kabur,” katanya. “Gue pulang.”

Ia melepaskan lengannya. Pelan. Dan pergi.


Jenar pulang jam tujuh malam, lebih cepat dari tiga minggu terakhir, dan menemukan lampu ruang tengah menyala.

Ia berhenti di teras. Memandangi jendela yang terang.

Mobil Galih ada di depan pagar. Jam tujuh malam, di hari Sabtu. Tiga minggu terakhir, mobil itu tidak pernah ada sebelum jam sebelas.

Ia membuka pintu. Melepas sepatu. Masuk.

Galih duduk di sofa ruang tengah.

Tidak menonton televisi. Tidak membuka laptop. Hanya duduk. Punggung tegak. Kedua tangan di atas lutut. Di bawah foto pernikahan dalam bingkai kayu jati.

Ia mengangkat kepala waktu Jenar masuk.

Wajahnya datar. Seperti di Casa Lidia. Seperti di kolam koi. Wajah petugas bank.

Tapi matanya tidak.

“Hai,” kata Jenar pelan. Kata pertama yang ia ucapkan padanya dalam tiga minggu.

“Kamu ngopi sama dia,” kata Galih.

Jenar berhenti di tengah ruang tengah. Tas kerja masih di bahu.

“Kok tahu?”

“Fadlan.”

“Fadlan tahu dari Hana.”

“Iya.”

Jenar meletakkan tas kerjanya di kursi. Pelan. Berdiri di depan sofa. Tidak duduk.

“Terus?” tanyanya.

Galih memandanginya. Rahangnya bergerak.

“Di Kemang,” katanya.

“Iya.”

“Di kedai aku.”

“Iya.”

“Di meja pojok.”

Jenar tidak menjawab.

Galih berdiri. Pelan. Sekarang mereka berhadapan di tengah ruang tengah, setengah meter di antara mereka, di bawah foto dua orang yang tersenyum di pelaminan.

“Itu kursi Kak Astri,” kata Galih.

Suaranya tidak keras. Tidak berteriak. Justru terlalu pelan. Seperti orang yang menahan sesuatu yang besar di belakang giginya.

Jenar merasakan napasnya berhenti.

“Kamu...” Ia menatap wajah Galih. “Kamu tahu soal itu?”

“Aku lihat laporannya.” Galih tidak memalingkan wajah. “Enam belas bulan. Kopi hitam sama latte susu oat. Tiap minggu. Kak Astri selalu pesen latte susu oat. Terus berhenti pas minggu kecelakaan. Terus cuma satu minuman. Selalu satu.” Suaranya bergetar sedikit. “Kamu selalu duduk sendirian di meja itu. Kursi di seberang kamu kosong. Kata barista, kamu selalu naruh tas di kursi itu. Biar nggak ada yang duduk.”

Jenar menutup mulutnya dengan tangan.

“Terus kemarin,” kata Galih. “Kamu bawa dia. Dan dia duduk di kursi itu.”

“Galih...”

“Kamu bawa dia ke meja kamu sama Kak Astri.”

Diam.

Jam dinding berdetak. Di luar, suara motor lewat. Di jendela dapur Bu Ratmi, lampu menyala.

Jenar menurunkan tangannya dari mulut.

“Kamu lihat riwayat transaksi aku,” katanya pelan.

“Aku lihat laporan kedai aku sendiri.”

“Enam belas bulan riwayat transaksi aku.”

Galih tidak menjawab.

“Kenapa?” Jenar melangkah maju. Setengah meter jadi tiga puluh senti. “Kenapa kamu buka riwayat transaksi aku, Galih? Kenapa kamu peduli aku duduk di mana? Kenapa kamu peduli siapa yang duduk di kursi itu?”

“Karena itu kursi Kak Astri.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu jawaban.”

“Bukan.” Jenar merasakan sesuatu naik di tenggorokannya. Panas. Tajam. Sudah tiga minggu terkunci di sana, sejak lantai dapur dan lilin vanila dan listrik yang menyala terlalu cepat. “Kamu yang bilang itu kesalahan. Kamu yang bilang kayak setengah yang pertama. Kamu yang berhenti bikin kopi. Kamu yang pulang jam sebelas malem tiap hari selama tiga minggu biar nggak ketemu aku.”

“Kamu yang nggak minum kopinya.”

“Karena kamu bilang itu kesalahan!”

Suaranya naik. Menggema di ruang tengah. Jenar mendengarnya sendiri dan tidak mengenalinya. Suara orang yang sudah terlalu lama tidak berteriak.

Galih mundur setengah langkah.

“Terus kenapa kamu marah?” lanjut Jenar. Lebih pelan sekarang. Tapi tidak lebih tenang. “Kalau itu cuma kesalahan. Kalau aku cuma ipar. Kalau setengah yang kedua sama kayak setengah yang pertama. Kenapa kamu marah aku ngopi sama Kak Hanif?”

Galih membuka mulut.

Menutupnya.

Jenar memandanginya. Wajah itu. Rahang yang mengeras. Telinga yang mulai memerah. Tangan yang mengepal di sisi tubuh, persis seperti di dermaga hutan bakau, di bawah langit jingga, waktu ia memalingkan wajah dan bibir Galih hanya mengenai pipinya.

Dan untuk kedua kalinya, di ruang yang sama, di bawah foto yang sama, ia mengatakannya.

“Kamu cemburu.”

Kali ini bukan pertanyaan. Kali ini bukan tidak percaya. Kali ini ia mengatakannya dengan suara yang pelan dan jelas, seperti orang yang meletakkan kartu terakhir di atas meja.

Galih memandanginya lama.

“Aku nggak...” katanya.

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Ia berbalik. Berjalan ke dapur. Jenar mengikutinya dengan mata.

Galih membuka pintu kulkas. Mengambil botol air. Tidak meminumnya. Hanya memegangnya. Berdiri di depan kulkas yang terbuka dengan cahaya kuning kekuningan di wajahnya.

Lalu ia menutup pintu kulkas.

Sangat pelan. Sangat, sangat pelan. Dengan dua tangan. Seperti menutup pintu kamar bayi yang sedang tidur. Pintu itu menempel ke badan kulkas tanpa bunyi sama sekali. Tidak ada magnet yang bergoyang.

Aturan nomor sembilan. Pintu kulkas jangan dibanting.

Ia berdiri di sana dengan tangan masih di pintu kulkas. Punggungnya ke arah Jenar. Bahunya naik turun.

Jenar memandangi punggung itu dari ruang tengah.

Dan di tengah semua kemarahan di dadanya, di tengah tiga minggu kopi yang tidak diminum dan jam sebelas malam dan roti bakar yang tidak disentuh, sesuatu yang lain mulai naik. Kecil. Hangat. Sangat berbahaya.

Ia hampir tertawa.

Karena Galih Pratama, kulkas dua pintu, laki-laki yang pergi tanpa satu kata dari Pangandaran dan memanggilnya Mbak di samping kolam koi dan bilang itu kesalahan di lantai dapur, baru saja menutup pintu kulkas dengan sangat hati-hati karena ia terlalu marah untuk membantingnya dan terlalu patuh untuk melanggar aturan yang ia tulis sendiri.

Karena ia cemburu. Cemburu sampai pulang jam dua siang dari kedai. Cemburu sampai membuka enam belas bulan riwayat transaksi. Cemburu sampai tahu soal latte susu oat dan kursi kosong dan tas di atas kursi.

Biar aku yang inget.

Jenar bisa bilang semuanya sekarang. Ia bisa bilang aku nolak dia. Ia bisa bilang aku bilang ke dia jantung aku nggak lompat lagi. Ia bisa bilang dia yang nebak siapa yang bikin jantung aku lompat sekarang, dan dia bener.

Kata-kata itu ada di ujung lidahnya.

Tapi Galih memunggunginya. Di depan kulkas. Dengan tangan di pintunya.

Dan harga diri itu lagi. Baju zirah yang sudah setahun setengah ia pakai. Naik lebih cepat dari kebenaran.

Kalau ia bilang sekarang, ia yang kalah. Ia yang mengaku lebih dulu. Lagi. Seperti di Pangandaran, waktu ia bilang aku takut ini cuma karena aku lagi patah dan Galih bilang jangan jadiin aku apa-apa dulu. Seperti di teras, waktu ia hampir bilang karena kamu dan malah bilang kasih aku waktu sampai Bandung. Dan Galih pergi.

Ia tidak mau jadi yang lebih dulu lagi.

“Selamat malam, Galih,” katanya.

Galih tidak menoleh.

Jenar mengambil tas kerjanya dari kursi. Berjalan ke lorong. Masuk ke kamarnya. Menutup pintu.

Tidak dibanting. Pelan.

Ia bersandar di balik pintu. Dan di kamar yang gelap, dengan punggung di kayu pintu dan tas kerja yang jatuh ke lantai, Jenar Masayu tersenyum.

Kecil. Tidak bisa ditahan. Senyum yang sampai ke mata.

Lalu, sedetik kemudian, rasa bersalah menyusul. Karena Galih masih berdiri di dapur dengan tangan di pintu kulkas, dan ia membiarkannya di sana. Karena ia tahu apa yang Galih pikirkan sekarang, dan ia bisa mengubahnya dengan satu kalimat, dan ia memilih tidak.

Ia merosot sampai duduk di lantai. Menekan kerah kemejanya. Liontin kecil di baliknya.

Senyumnya tidak pergi. Rasa bersalahnya juga tidak.


Galih berdiri di dapur sampai jam sembilan.

Lalu ia berjalan ke ruang kerja. Duduk di sofa kulit yang retak. Membuka laptop.

Email dari Uluwatu. Masih di kotak masuk. Belum dijawab.

Di bawahnya, email baru. Datang tadi sore, waktu ia di jalan pulang dari Mampang.

Following up on our partnership proposal. We would appreciate your decision within two weeks, as we need to finalize the launch team. We are very much hoping you will join us in Bali.

Dua minggu.

Galih memandangi layar itu. Kursor berkedip di kolom balasan.

Kamu cemburu.

Ia memikirkan laki-laki berkemeja biru muda di kursi Astri. Tangan di rambut Jenar di meja makan. Kalung perak di balik kerah yang selalu dikancing rapat.

Anggap aja ini mengisi waktu gue melupakan kakak lo.

Dan sekarang kakak itu sudah bebas. Tidak ada tunangan. Tidak ada Yuna. Laki-laki yang tujuh tahun ditunggu, yang akhirnya melihat. Mengajak ngopi. Duduk di kursi di seberang.

Enam bulan di Bali. Enam bulan, tepat sisa syarat wasiat.

Kalau ia pergi, rumah ini dijual. Pohon mangga. Kamar hijau pupus. Pintu kulkas dengan sebelas aturan dan gambar krayon dinosaurus.

Kalau ia tetap tinggal, ia harus menonton.

Galih menutup laptop tanpa mengetik apa-apa.

Tapi kali ini ia tidak memejamkan mata. Ia duduk di sofa dalam gelap, memandangi rak buku di sebelahnya. Kotak kecil berpita krem. Foto akad dalam bingkai kecil.

Astri tersenyum dari balik kaca.

Nunggu siapa yang duluan nggak kuat.

“Aku nggak tahu, Kak,” bisik Galih ke foto itu. “Aku nggak tahu harus gimana.”

Foto itu tidak menjawab.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk