Ibu Ratna datang untuk pemeriksaan kedua di hari Rabu sore, di pertengahan bulan kedelapan.
Kali ini ia tidak berjalan dari ruang ke ruang. Ia duduk di sofa ruang tengah, di bawah foto pernikahan dalam bingkai kayu jati, dengan map merah terbuka di pangkuan dan secangkir kopi Senior yang Galih seduhkan tanpa ditanya.
Jenar duduk di kursi di sebelah sofa. Galih berdiri di ambang ruang depan, bersandar di kusen pintu.
Mereka tidak saling memandang.
Empat hari sejak malam di ruang tengah. Sejak kamu cemburu dan pintu kulkas yang ditutup terlalu pelan. Empat hari yang aneh. Tidak sama seperti tiga minggu jarak sebelumnya. Mereka sekarang bertemu di dapur, di lorong, di depan kamar mandi. Mereka bilang pagi dan malam. Galih pulang jam delapan lagi, bukan jam sebelas. Jenar mandi di jadwalnya yang lama.
Tapi kopi pagi belum kembali. Dan pintu kulkas masih sunyi.
Ibu Ratna menyesap kopinya. Diam sebentar. Lalu memandangi cangkir itu dengan alis terangkat, persis seperti Hanif di kedai Kemang.
“Ini enak,” katanya.
“Makasih, Bu,” kata Galih.
Ibu Ratna meletakkan cangkirnya di meja kecil. Membalik halaman map merah. Melepas kacamata.
“Rumahnya masih ditempati dengan baik,” katanya. “Saya lihat tidak ada pelanggaran. Tidak ada yang meninggalkan rumah lebih dari tujuh malam.” Ia berhenti. Memandangi mereka berdua bergantian. “Tinggal empat bulan lagi.”
Jenar merasakan perutnya jatuh sedikit.
Empat bulan. Ia tahu. Ia menghitungnya setiap malam di kalender toko bangunan di sebelah kulkas. Tapi mendengarnya diucapkan dengan suara notaris yang tenang, di ruang tengah rumah ini, membuatnya terasa seperti pintu yang mulai menutup.
“Saya perlu menyampaikan sesuatu,” lanjut Ibu Ratna. “Supaya kalian bisa mempersiapkan diri. Setelah satu tahun terpenuhi, syarat wasiat selesai. Rumah ini sepenuhnya milik kalian berdua, dengan hak yang sama. Kalian bebas memutuskan apa pun. Tetap tinggal bersama. Salah satu membeli bagian yang lain. Atau menjualnya bersama dan membagi hasilnya.”
Ia memakai kacamatanya lagi.
“Kalau ada rencana untuk balik nama atau penjualan, sebaiknya mulai dibicarakan dari sekarang. Prosesnya bisa memakan waktu.” Ia menutup map merah. “Saya tidak menyarankan apa-apa. Itu keputusan kalian. Saya hanya ingin kalian tahu pilihannya.”
Jenar mengangguk. Di ambang pintu, Galih juga mengangguk.
Ibu Ratna memandangi mereka berdua sekali lagi. Lama. Dengan mata yang sama lembutnya seperti di kantor di Kuningan, waktu ia menceritakan Astri yang tertawa.
Lalu ia berdiri, menghabiskan kopinya dalam dua tegukan, dan pamit.
Jenar tidak tahu kenapa ia menanyakannya malam itu.
Mungkin karena kata empat bulan masih bergema di kepalanya. Mungkin karena empat hari terakhir terasa seperti berdiri di atas lantai es yang tipis, dan ia lelah menunggu retaknya. Mungkin karena Galih ada di dapur jam delapan malam, mencuci dua mangkuk bekas mi instan yang mereka makan tanpa janjian di meja yang sama, di kursi masing-masing yang tetap paling berjauhan, dan untuk sesaat rumah itu terasa seperti dulu.
Ia berdiri di ambang dapur dengan lap di tangan, mengeringkan mangkuk yang sudah dicuci Galih.
“Galih.”
“Hm.”
“Kamu udah mikirin?”
“Mikirin apa?”
“Yang Ibu Ratna bilang.” Jenar mengelap mangkuk itu terlalu lama. “Setelah setahun.”
Keran di wastafel masih menyala. Galih tidak mematikannya.
“Udah,” katanya.
Jenar menunggu. Galih tidak melanjutkan. Ia mencuci sendok yang sudah bersih.
“Terus?” tanya Jenar. Ringan. Dibuat ringan. Seperti menanyakan cuaca. “Rencana kamu apa?”
Galih mematikan keran.
Dapur tiba-tiba sangat sunyi. Kulkas berdengung. Jam dinding di ruang tengah berdetak.
Ia tidak berbalik. Ia berdiri di depan wastafel dengan tangan basah di pinggirannya.
“Aku jual bagianku,” katanya.
Jenar berhenti mengelap.
“Kamu bisa beli,” lanjut Galih, masih ke arah wastafel. Suaranya datar. Terlalu datar. Seperti kalimat yang sudah dilatih berkali-kali. “Kalau kamu mau. Aku kasih harga yang masuk akal. Atau kalau kamu nggak mau, kita jual semua. Bagi dua.”
Mangkuk di tangan Jenar terasa sangat berat.
“Kamu mau jual rumah ini,” katanya.
“Bagianku.”
“Rumah ini, Galih.”
Galih akhirnya berbalik. Wajahnya tenang. Sopan. Petugas bank.
“Aku nggak bisa tinggal di sini, Jen.”
“Kenapa?”
“Kamu tahu kenapa.”
“Nggak. Aku nggak tahu.” Jenar meletakkan mangkuk di meja dapur. Pelan. “Kasih tahu aku.”
Galih memandanginya. Lalu memandangi pintu kulkas. Kertas USG hitam putih dengan magnet bola voli. Gambar krayon dinosaurus. Sebelas aturan.
“Tiap pagi,” katanya pelan, “aku lewat pintu itu. Pintu yang ada stiker awannya. Tiap pagi aku inget Kak Astri berdiri di atas bangku nempelin stiker itu, sementara Kak Leknor megangin sambil bilang hati-hati, hati-hati.” Rahangnya bergerak. “Tiap malem aku tidur di ruang kerja Kak Leknor. Di sofa yang dia pakai buat tidur siang. Di sebelah meja gambar yang gambarnya belum selesai. Tiap aku masuk dapur, aku lihat itu.” Ia menunjuk kertas USG dengan dagu. “Tiap aku duduk di ruang tengah, aku lihat foto itu.”
“Aku juga lihat semua itu.”
“Aku tahu.”
“Aku juga lewat pintu itu tiap pagi. Aku juga lihat foto itu.”
“Aku tahu, Jen.”
“Terus kenapa aku bisa tinggal, dan kamu nggak?”
Galih tidak menjawab.
Jenar memandanginya. Di belakang wajah petugas bank itu, ia melihat sesuatu. Sesuatu yang tidak ia mengerti. Bukan hanya duka. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat Galih menghindari matanya.
“Ini rumah Kak Leknor,” kata Jenar. Suaranya mulai bergetar. “Rumah aku dari kecil. Kamar aku yang itu, dari umur dua tahun. Kamar yang sekarang hijau pupus itu dulu kamar nenek. Aku yang gambar ulang kamar itu. Aku yang pilih warnanya. Pohon mangga di belakang itu, Kak Leknor yang tanam pas aku masuk SD. Aku nggak bisa jual rumah ini, Galih.”
“Makanya kamu yang beli.”
“Aku nggak punya uang buat beli setengah rumah di Cilandak!”
“Aku kasih harga yang masuk akal. Kamu bisa nyicil. Aku nggak buru-buru.”
“Bukan soal uang!”
Suaranya menggema di dapur. Galih mundur setengah langkah, punggungnya menyentuh wastafel.
Jenar menarik napas. Lagi. Mencoba menenangkan diri. Tidak berhasil.
“Kamu mau pergi,” katanya.
“Aku nggak pergi. Aku cuma pindah.”
“Itu sama aja.”
“Nggak sama. Aku bakal tetep...”
“Tetep apa?” Jenar melangkah maju. “Tetep dateng pas arisan? Tetep kirim kopi lewat ojek online? Tetep jadi ipar yang sopan yang manggil aku Mbak pas ketemu di acara keluarga yang udah nggak ada keluarganya?”
Galih memandanginya.
“Kamu nggak butuh aku di sini, Jen,” katanya pelan.
Jenar berhenti.
“Setelah setahun,” lanjut Galih, “kamu nggak butuh aku. Kamu punya biro. Kamu punya Pak Hendro sama sekolah di Bintaro. Kamu punya Hana. Kamu punya...” Ia berhenti. Rahangnya mengeras. “Kamu punya orang lain.”
“Orang lain siapa?”
Galih tidak menjawab.
“Orang lain siapa, Galih?”
Ia tidak menjawab. Ia memandangi lantai dapur. Dan Jenar, yang kepalanya penuh dengan empat bulan dan pintu dengan stiker awan dan pohon mangga yang ditanam Leknor, tidak menangkap apa yang tidak ia ucapkan. Tidak menangkap nama yang tergantung di udara di antara mereka, berkemeja biru muda, duduk di kursi di seberang meja pojok dekat jendela.
Yang ia tangkap hanya satu hal.
Galih mau pergi.
Laki-laki ini mau pergi. Lagi. Dengan kalimat yang sudah dilatih. Dengan wajah petugas bank. Dengan alasan yang terdengar masuk akal dan tidak menjelaskan apa-apa.
Seperti lorong lantai dua di Pangandaran. Kamar kosong. Satu centang abu-abu.
Seperti pintu depan rumah nenek, dua puluh dua tahun lalu. Cuma keluar beli sesuatu.
“Kamu selalu gitu,” kata Jenar.
Galih mengangkat kepala.
“Kamu selalu pergi.” Suaranya tidak lagi bergetar. Justru terlalu tenang. Seperti es. “Kalau udah terlalu sakit, kamu pergi aja. Diem. Nggak usah ribut. Kamu sendiri yang bilang. Dari dulu. Dari...”
“Jangan.”
Satu kata. Keras. Tajam. Seperti pisau yang dijatuhkan di lantai keramik.
Jenar berhenti. Di ujung lidahnya, kata yang hampir keluar. Dari Pangandaran.
Galih memandanginya dengan wajah yang tidak lagi datar. Wajah yang terbuka dan pucat dan sangat, sangat marah. Atau sangat takut. Jenar tidak bisa membedakannya.
“Aturan nomor enam,” kata Galih. Pelan. Hampir berbisik.
Jenar menatapnya.
“Kamu yang bikin,” lanjut Galih. “Kamu yang nulis. Jangan bahas pantai.”
“Aku nggak bahas pantai.”
“Kamu mau.”
“Terus kenapa kalau aku mau?” Jenar merasakan air mata naik ke matanya, panas dan tidak diundang. “Kenapa kalau aku mau bahas? Kenapa kita nggak pernah boleh bahas? Sembilan bulan, Galih. Kita tinggal di sini sembilan bulan. Kita tidur di bawah atap yang sama. Kita minum kopi dari mesin yang sama. Kita nangis di lantai dapur yang sama. Terus kita nggak boleh ngomongin satu-satunya hal yang...”
Ia berhenti.
Galih sudah berbalik.
Ia berjalan melewati Jenar. Cepat. Keluar dari dapur. Melewati ruang tengah. Tangannya menyambar kunci mobil dari gantungan di dekat pintu depan. Bunyi logam yang berdenting.
“Galih.”
Ia membuka pintu depan.
“Galih!”
Ia tidak menoleh. Pintu depan tertutup di belakangnya. Tidak dibanting. Pelan. Klik.
Jenar berdiri di ambang dapur. Mendengarkan.
Langkah kaki di teras. Pagar besi hijau berderit. Pintu mobil terbuka. Tertutup. Mesin menyala.
Lampu depan mobil menyapu jendela ruang tengah. Putih. Lalu bergeser. Lalu hilang.
Bunyi mesin menjauh di jalan kompleks. Makin kecil. Makin kecil.
Lalu tidak ada apa-apa.
Rumah itu sunyi.
Bukan sunyi yang biasa. Bukan sunyi jam sebelas malam waktu Galih belum pulang dari kedai. Bukan sunyi tiga minggu jarak, waktu mereka hidup di jadwal yang tidak pernah bersinggungan.
Sunyi yang lain. Sunyi yang Jenar kenal dari tempat yang jauh sekali. Dari tempat yang tidak pernah ia ingat tapi selalu ia rasakan. Sunyi rumah yang pintunya baru saja ditutup dari luar oleh seseorang yang bilang akan kembali.
Ia berdiri di ambang dapur lama sekali.
Lalu kakinya membawanya ke ruang tengah.
Ia berhenti di tengah ruangan. Di atas karpet tempat Kiki tertidur di dadanya. Di bawah lampu yang terlalu terang.
Di dinding di atas sofa, foto pernikahan dalam bingkai kayu jati.
Lima orang di pelaminan. Leknor dengan beskap putih, wajah yang berusaha tidak tersenyum dan gagal. Astri dengan kebaya putih dan siger yang berkilau, tertawa, hidungnya yang sedikit bengkok. Keluarga besar Garut di belakang.
Dan dua orang di tengah. Dengan bahu yang bersentuhan. Dengan senyum yang tidak sampai ke mata.
Jenar memandangi foto itu.
Kakinya tertekuk. Pelan. Seperti gedung yang akhirnya menyerah. Ia duduk di karpet di depan sofa, dengan lutut di dada, dan mendongak ke foto itu.
“Kak,” bisiknya.
Leknor tidak menjawab. Astri tidak menjawab.
“Kak Leknor,” bisiknya lagi. Lebih keras. Suaranya pecah. “Kak Astri.”
Hening. Jam dinding berdetak.
“Kenapa semua orang ninggalin aku?”
Kalimat itu keluar dari tempat yang sangat dalam. Dari umur dua tahun. Dari pintu depan rumah nenek yang tertutup dari luar dan tidak pernah terbuka lagi. Dari nenek di ranjang rumah sakit dengan selang oksigen dan tangan yang semakin dingin di genggaman Jenar yang berumur tujuh belas. Dari lorong lantai dua di Pangandaran dengan lampu yang berkedip dan kamar di ujungnya yang kosong. Dari telepon jam satu lewat tujuh belas menit dan dua centang yang tidak pernah biru.
“Ibu pergi,” bisiknya ke foto itu. “Katanya cuma beli sesuatu. Nggak pulang. Nenek pergi. Kakak pergi. Kak Astri pergi. Jihan...” Suaranya hilang. “Jihan bahkan nggak sempet dateng.”
Air matanya turun. Tidak pelan. Tidak diam-diam seperti di sofa menonton film tentang anjing di stasiun. Turun sekaligus, deras, seperti hujan di malam mati listrik.
“Terus dia,” bisiknya. “Dia juga pergi. Dua kali. Sekarang tiga kali.”
Ia memeluk lututnya lebih erat. Membungkuk sampai dahinya menyentuh lutut. Bahunya berguncang.
“Aku capek, Kak. Aku capek ditinggalin. Aku capek jadi orang yang selalu nunggu di dalem rumah, dengerin pintu, nunggu siapa yang pulang dan siapa yang nggak.”
Tidak ada yang menjawab. Hanya jam dinding. Hanya kulkas yang berdengung dari arah dapur. Hanya lampu dapur Bu Ratmi di balik jendela belakang, yang padam jam sembilan seperti biasa.
Jenar menangis di karpet ruang tengah, sendirian, di bawah foto kakak-kakaknya.
Ia tidak tahu berapa lama.
Galih tidak tahu ke mana ia menyetir.
Ia keluar dari kompleks. Belok kiri di Fatmawati. Lurus. Lampu merah. Lurus lagi. Tangannya di setir, posisi jam sepuluh dan jam dua, seperti Leknor di malam makan malam di Casa Lidia. Kakinya di pedal gas. Kepalanya kosong.
Bukan kosong. Penuh. Terlalu penuh sampai tidak ada satu pikiran pun yang bisa ia pegang.
Kamu selalu pergi.
Lampu merah lagi. Ia berhenti. Di sebelahnya, sebuah angkot dengan musik dangdut yang terlalu keras. Di trotoar, penjual martabak dengan lampu petromaks. Penjual yang sama. Gerobak yang sama. Tempat ia membeli martabak cokelat keju berbulan-bulan lalu, di sore ketika ia pulang dan menemukan Jenar menangis di pelukan Hanif.
Kalau udah terlalu sakit, kamu pergi aja.
Lampu hijau. Ia melaju.
Ia tidak tahu kenapa ia belok ke Jalan Veteran. Tidak tahu kenapa ia menyusuri jalan itu sampai ke ujungnya. Tidak tahu kenapa ia menepi di depan gerbang besi hitam yang sudah dikunci, di bawah pohon kamboja besar yang daunnya bergoyang ditiup angin malam.
TPU Tanah Kusir.
Ia mematikan mesin. Duduk di dalam mobil yang gelap. Memandangi gerbang yang tertutup.
Di balik gerbang itu, di Blok AA, di dekat pohon kamboja yang besar, tiga makam. Dua besar. Satu kecil. Nisan-nisannya sekarang sudah diganti batu. Marmer abu-abu. Nama-nama yang diukir, bukan ditulis dengan spidol dan kuas.
Jihan binti Leknor Masayu.
Galih memandangi gerbang itu lama.
“Kak,” katanya ke dalam mobil yang gelap.
Tidak ada yang menjawab.
“Aku kabur lagi.”
Hening. Angin di daun kamboja.
“Dia bener. Aku selalu kabur.” Ia menutup wajah dengan kedua tangan. “Aku kabur dari rapat Fadlan. Aku kabur dari Pangandaran. Aku kabur tiga minggu dari rumah itu, pulang jam sebelas malem tiap hari biar nggak ketemu dia. Sekarang aku kabur lagi. Dengan kunci mobil. Kayak anak kecil.”
Ia menurunkan tangannya.
“Aku takut, Kak.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Ia belum pernah mengatakannya. Tidak pada Fadlan. Tidak pada Astri, dulu, waktu Astri menggedor pintu kamarnya tiga hari setelah pemakaman ayah mereka. Tidak pada siapa pun.
“Aku takut sama dia,” bisiknya. “Aku takut kalau aku tetep di rumah itu, aku bakal nunggu. Tiap pagi bikin kopi. Tiap malem berdiri di depan pintu kamarnya. Terus suatu hari dia bilang dia mau pindah. Ke rumah orang lain. Ke orang yang dia tunggu tujuh tahun. Terus aku yang ditinggal. Di rumah yang penuh kalian berdua.”
Ia memandangi gerbang besi hitam.
“Jadi aku mau pergi duluan,” katanya. “Sebelum dia pergi.”
Angin di daun kamboja. Satu bunga putih jatuh dari pohon, melayang pelan, mendarat di kap mobil.
Galih memandangi bunga itu.
Kalau suatu hari aku sama Leknor nggak ada, jagain dia, ya.
Jangan kabur. Kalau lo mau marah, marah. Kalau lo mau nanya, nanya. Tapi jangan kabur.
Kalau kamu lupa, biar aku yang inget.
Ia menulis kalimat itu sendiri. Di kartu krem dengan sketsa rumah buatan tangan Leknor. Empat minggu lalu. Biar aku yang inget.
Dan malam ini, ia meninggalkan perempuan itu sendirian di rumah yang sunyi, di rumah yang pintunya baru saja ditutup dari luar, persis seperti yang ia tahu paling menyakitkan baginya.
Ibu pergi waktu aku dua tahun. Kata nenek, beliau cuma pamit keluar beli sesuatu. Belum pulang sampai sekarang.
Jenar menceritakannya di dermaga hutan bakau. Dua tahun lalu. Di bawah langit jingga. Ia mendengarkan. Ia ingat setiap kata.
Dan ia baru saja keluar lewat pintu depan dengan kunci mobil di tangan, tanpa bilang ke mana, tanpa bilang kapan kembali.
Galih memandangi bunga kamboja putih di kap mobil.
Lalu ia menyalakan mesin.
Jenar mendengar mobil itu sebelum ia menyadari bahwa ia mendengarnya.
Bunyi mesin di jalan kompleks. Mendekat. Melambat. Berhenti.
Ia masih duduk di karpet. Lutut di dada. Dahi di lutut. Matanya bengkak dan panas. Ia tidak mengangkat kepala.
Pagar besi hijau berderit. Langkah kaki di teras. Cepat. Hampir berlari.
Pintu depan terbuka.
Hening.
Langkah kaki di lantai kayu. Pelan sekarang. Sangat pelan. Berhenti di ambang ruang tengah.
Jenar tidak mengangkat kepala. Ia tidak bisa. Kalau ia mengangkat kepala dan melihat wajah itu, ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Berteriak. Menangis lebih keras. Melempar sesuatu. Atau, yang paling ia takutkan, lari dan memeluknya.
Langkah kaki itu bergerak lagi. Mendekat. Melewati sofa. Berhenti di belakangnya.
Ia merasakan seseorang berlutut di karpet. Di belakang punggungnya. Sangat dekat. Ia bisa merasakan hangat tubuh itu sebelum tubuh itu menyentuhnya. Bau udara malam. Bau daun. Bau sesuatu yang manis dan samar, seperti bunga kamboja.
Lalu dua lengan melingkar di tubuhnya.
Dari belakang. Pelan. Hati-hati. Seperti memeluk sesuatu yang bisa pecah. Satu lengan di bahunya. Satu lengan di pinggangnya, di atas lututnya yang ditekuk. Dagu di puncak kepalanya. Napas yang masih memburu di rambutnya.
Jenar membeku.
Tubuh di belakangnya gemetar. Sedikit. Ia bisa merasakannya lewat punggungnya. Seperti orang yang habis berlari jauh, atau habis menangis, atau keduanya.
“Aku nggak ke mana-mana,” bisik Galih.
Suaranya serak. Pecah di tengah.
Jenar tidak bergerak. Tidak bisa bergerak.
“Aku nggak ke mana-mana, Jen,” ulangnya. Lebih pelan. Lengannya mengencang. “Maaf. Maaf aku keluar. Maaf aku nggak bilang ke mana. Aku...”
Ia berhenti. Menarik napas. Napas yang bergetar.
“Aku janji,” katanya. “Aku nggak ke mana-mana. Aku janji.”
Jenar memandangi foto di dinding di atas sofa. Leknor. Astri. Dua orang di tengah dengan bahu yang bersentuhan.
Tangannya bergerak sendiri. Pelan. Naik dari lututnya. Menemukan lengan Galih yang melingkar di bahunya. Menggenggamnya. Erat. Seperti orang tenggelam yang akhirnya menemukan sesuatu yang tidak mengapung pergi.
“Janji?” bisiknya.
Satu kata. Suara kecil. Suara anak umur dua tahun yang berdiri di depan pintu.
Galih menempelkan pipinya di puncak kepala Jenar.
“Janji,” katanya.
Jenar menangis lagi. Tapi berbeda sekarang. Tidak di dahi lutut. Tidak sendirian. Ia menangis dengan punggung di dada seseorang, dengan dua lengan di sekeliling tubuhnya, dengan tangan yang menggenggam lengan itu seperti tidak akan pernah melepaskannya lagi.
Galih tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya memeluknya. Di karpet ruang tengah. Di bawah foto pernikahan dalam bingkai kayu jati. Lengannya tidak mengendur sekali pun.
Jam dinding berdetak.
Di luar, angin malam. Di dapur, kulkas berdengung. Di pintu kulkas, sebelas aturan dan gambar krayon dinosaurus dan kertas USG hitam putih, dan ruang putih di bawah Kayak setengah yang pertama yang sudah empat minggu tidak diisi.
Mereka tidak membahas pantai. Mereka tidak membahas rumah, atau setahun, atau Hanif, atau kalung perak di balik kerah piyama yang sekarang menekan lengan Galih di tempat lengannya melingkar di bahu Jenar.
Mereka tidak membahas apa pun.
Mereka hanya duduk di sana. Lama sekali. Sampai tangis Jenar berubah jadi napas yang tersendat. Lalu napas yang pelan. Lalu napas yang teratur.
Sampai kepala Jenar jatuh ke samping, ke lengan Galih.
Sampai Galih menyadari ia tertidur.
Ia tidak memindahkannya. Ia menarik kain batik cokelat keemasan dari sandaran sofa dengan satu tangan, pelan, supaya tidak membangunkan. Menyelimuti mereka berdua. Lalu bersandar ke sofa di belakangnya, dengan Jenar di pelukannya, dan memandangi foto di dinding.
Astri tertawa di foto itu. Hidungnya yang sedikit bengkok.
Nunggu siapa yang duluan nggak kuat.
“Aku, Kak,” bisik Galih ke foto itu. “Aku yang duluan nggak kuat.”
Ia memejamkan mata.
Di pelukannya, Jenar menggenggam lengannya dalam tidur. Tidak melepaskannya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!