Jenar terbangun karena lehernya pegal dan ada sesuatu yang berdetak di bawah telinganya.
Pelan. Teratur. Tidak seperti semalam.
Ia membuka mata. Cahaya pagi yang kelabu dari jendela ruang tengah. Karpet di bawah pinggulnya. Kain batik cokelat keemasan menyelimuti bahunya. Dan lengan. Satu lengan melingkar di pinggangnya, di atas kain batik, tidak erat lagi. Hanya diam di sana, seperti lupa sedang memeluk.
Ia tidak bergerak.
Kepalanya di dada Galih. Entah kapan, entah bagaimana, dalam tidur, ia berputar. Dari punggung di dada menjadi pipi di dada. Galih bersandar di sofa di belakang mereka, kepalanya miring ke samping, ke dudukan sofa, mulut sedikit terbuka. Tidur. Masih tidur.
Detak jantung di bawah telinga Jenar pelan dan teratur.
Satu-satunya kali ia mendengar detak itu tidak kencang.
Ia berbaring di sana dan mendengarkannya. Satu menit. Dua. Seperti mendengarkan lagu yang tidak pernah ia dengar versi pelannya.
Lalu ia ingat.
Dapur. Aku jual bagianku. Kunci mobil. Pintu depan yang ditutup pelan dari luar. Karpet. Foto. Kenapa semua orang ninggalin aku. Langkah kaki yang hampir berlari di teras. Lengan dari belakang. Aku nggak ke mana-mana. Aku janji.
Wajahnya memanas sampai ke ujung telinga.
Ia mengangkat kepala. Pelan. Sangat pelan.
Galih membuka mata.
Mereka saling pandang dari jarak dua puluh senti. Pagi yang kelabu. Kain batik. Lengan di pinggang Jenar yang tiba-tiba sadar ia sedang memeluk.
Lengan itu tidak ditarik cepat-cepat, seperti biasanya. Pelan. Sangat pelan. Seperti meletakkan sesuatu yang bisa pecah.
“Pagi,” kata Galih. Suaranya serak.
“Pagi.”
Hening. Jam dinding berdetak. Dari dapur, kulkas berdengung.
“Leher kamu pegel?” tanya Galih.
“Iya.”
“Aku juga.”
“Punggung kamu?”
“Kayak habis ditabrak angkot.”
Jenar tertawa. Kecil. Tidak sengaja. Lalu berhenti, karena ia ingat kenapa mereka tidur di karpet.
Ia duduk. Menjauh setengah meter. Menarik kain batik ke bahunya. Galih duduk tegak, bersandar di sofa, mengusap wajahnya dengan dua tangan.
“Jen,” katanya dari balik tangannya.
“Galih,” kata Jenar di saat yang sama.
Mereka berhenti. Kompak lagi.
“Kamu duluan,” kata Galih.
“Kamu.”
“Kamu.”
Jenar menarik napas. Memandangi kain batik di pangkuannya.
“Maaf,” katanya. “Aku bilang kamu selalu pergi. Itu nggak adil.”
“Itu adil.”
“Nggak.”
“Itu adil, Jen.” Galih menurunkan tangan dari wajahnya. Matanya merah. “Aku emang selalu pergi. Kamu cuma bilang yang bener.”
Jenar mengangkat kepala.
“Aku yang harusnya minta maaf,” lanjut Galih. “Aku keluar. Nggak bilang ke mana. Aku tahu...” Ia berhenti. Rahangnya bergerak. “Aku tahu itu hal yang paling nggak boleh aku lakuin ke kamu. Kamu pernah cerita. Soal ibu kamu. Di hutan bakau. Aku inget. Aku inget semuanya. Terus aku tetep ngelakuin itu.”
Jenar tidak bisa bicara.
Aku inget. Di hutan bakau. Dua tahun kurang. Di bawah langit jingga. Ia menceritakannya, dan Galih mengingatnya. Setiap kata.
“Kamu ke mana?” tanyanya pelan. “Semalem.”
Galih memandangi karpet di antara mereka. “Tanah Kusir.”
Jenar menutup mulutnya dengan tangan.
“Gerbangnya udah dikunci,” kata Galih. “Aku cuma duduk di mobil. Ngomong sama Kak Astri.” Ia tertawa kecil, kering. “Kayak orang gila.”
“Kamu ngomong apa?”
Galih tidak menjawab. Tapi telinganya memerah.
“Soal rumah,” kata Jenar setelah beberapa saat.
“Aku belum tahu,” kata Galih cepat. “Aku nggak mau ngomongin itu sekarang. Aku nggak mau ngomongin itu sambil kabur. Kita masih punya empat bulan.” Ia memandanginya. “Boleh?”
Jenar mengangguk.
Mereka duduk di karpet dalam diam. Pagi pelan-pelan terang di jendela. Di balik dinding, dari arah rumah Bu Ratmi, bunyi radio dan panci yang beradu.
Lalu Galih berdiri. Lututnya berbunyi krek. Ia meringis.
“Aduh. Umur.”
“Umur kamu dua puluh delapan.”
“Justru itu.”
Ia berjalan ke dapur. Jenar mendengarnya membuka laci. Bunyi spidol yang tutupnya dicabut.
Jenar bangkit, menyampirkan kain batik di bahunya, dan mengikutinya ke ambang dapur.
Galih berdiri di depan pintu kulkas. Spidol di tangan kanan. Ia memandangi daftar aturan. Tulisan tegak dan kecil-kecil, tulisan miring ke kanan, bergantian. Sebelas aturan.
Matanya berhenti di aturan nomor tujuh. Tulisannya sendiri. Huruf g-nya seperti kail pancing.
7. Jangan buka kamar itu.
Ia memandanginya lama.
Lalu ia menarik satu garis. Lurus. Dari kata pertama sampai kata terakhir. Tintanya hampir habis, jadi garisnya putus-putus di tengah, dan ia menariknya sekali lagi sampai tidak ada satu huruf pun yang tidak tercoret.
Ia menutup spidol. Berbalik.
Jenar berdiri di ambang dapur dengan kain batik di bahu.
Mereka saling pandang.
“Sekarang?” tanya Jenar pelan.
“Kalau kamu mau.”
Jenar memandangi garis putus-putus di pintu kulkas. Lalu lorong di belakangnya. Pintu di ujungnya, dengan stiker awan kecil di bagian atas.
“Aku mandi dulu,” katanya.
Ia memakai jins hitam itu.
Tidak sengaja. Atau sengaja. Ia tidak tahu. Ia membuka lemari untuk mengambil celana, dan tangannya menemukan jins hitam yang terlipat di rak paling bawah. Jins yang ia gosok di bak semen di lorong samping, di bawah bohlam kuning, di malam kedua mereka tinggal di sini. Yang lututnya pudar jadi abu-abu, bukan hitam lagi. Seperti bekas luka.
Ia belum memakainya lagi sejak itu. Sembilan bulan.
Ia memakainya sekarang.
Dan kaus. Kaus polo biru muda yang kancing keduanya sudah dijahit ulang. Ia mengancingkannya sampai atas. Seperti biasa. Di balik kerah, liontin kecil itu, hangat di kulit.
Waktu ia keluar kamar, Galih sudah berdiri di lorong. Kaus abu-abu. Celana training. Rambut basah. Ia berdiri di depan pintu dengan stiker awan, tidak menyentuhnya. Menunggu.
Ia melihat jins yang Jenar pakai. Lututnya yang pudar.
Ia tidak berkata apa-apa. Tapi matanya berhenti di sana. Lama.
Mereka berdiri berdampingan di depan pintu itu.
Stiker awan. Putih, dengan garis tepi biru muda. Sudut kanannya sedikit mengelupas, terangkat, karena lem stikernya tidak kuat menahan kelembapan Jakarta selama setahun. Astri menempelkannya sendiri. Berdiri di atas bangku kayu dari dapur, perut yang baru mulai membulat, lidah menjulur di sudut bibir karena konsentrasi. Leknor memegang pinggangnya dari bawah dan terus bilang hati-hati, hati-hati, hati-hati, sampai Astri membentaknya dan bilang aku atlet voli, Leknor, aku bisa berdiri di atas bangku.
Jenar ada di sana waktu itu. Duduk di lantai lorong dengan meteran di pangkuan, tertawa.
Ia mengangkat tangan. Menyentuh sudut stiker yang mengelupas. Menekannya kembali ke pintu dengan ibu jari. Tidak menempel. Lemnya sudah habis.
Galih meletakkan tangannya di gagang pintu.
Ia tidak memutarnya.
“Jen.”
“Hm.”
“Kalau kamu belum siap...”
“Aku nggak bakal pernah siap,” kata Jenar. “Kamu juga nggak.”
Galih memandanginya. Lalu memandangi tangannya sendiri di gagang pintu.
Jenar meletakkan tangannya di atas tangan Galih. Di gagang pintu. Jari-jarinya dingin. Tangan Galih hangat.
Mereka memutarnya bersama.
Kamar itu berbau debu dan cat dan sesuatu yang sangat samar, manis, seperti bedak bayi.
Tirai jendelanya tertutup. Tirai katun warna krem yang Jenar pilih di toko kain di Pasar Baru, karena kainnya tipis dan bisa meneruskan cahaya pagi tanpa membuat silau. Cahaya itu masuk sekarang, kelabu dan lembut, jatuh di lantai kayu yang dilapisi debu tipis.
Dinding hijau pupus.
Jenar berdiri di ambang pintu dan memandanginya. Hijau yang sangat pucat, seperti daun muda yang baru keluar, seperti cahaya matahari yang jatuh di balik pohon. Warna yang ia temukan jam tiga lewat dua puluh pagi di meja lipat apartemennya di Tebet, dengan pensil 2B di tangan dan kertas kalkir di bawah siku.
Leknor mengecatnya dua lapis. Dengan kuas kecil untuk sudut-sudut dan rol untuk bidang lebar. Di dekat jendela, di dinding sebelah kiri, ada satu bercak kecil yang lebih gelap dari yang lain. Bekas Leknor yang terpeleset di tangga lipat dan kuasnya menempel terlalu lama di satu tempat. Ia bilang akan memperbaikinya. Ia tidak pernah sempat.
Boks bayi berdiri di tengah kamar. Kayu jati. Menghadap jendela.
Jenar melangkah masuk.
Lantai kayu berderit di bawah kakinya. Debu terangkat, melayang di cahaya kelabu dari jendela.
Kursi goyang di pojok. Rotan dan kayu jati, dengan bantal duduk dari kain batik biru. Astri yang memilihnya, dari pengrajin di Jepara yang sama yang membuat boks bayi. Buat nyusuin, katanya. Biar aku bisa goyang-goyang sambil tidur sambil nyusuin. Multitasking.
Rak buku rendah di bawah jendela. Setinggi lutut orang dewasa. Supaya anak kecil bisa menjangkaunya sendiri. Rak itu penuh. Buku-buku bergambar. Buku kain yang bisa dicuci. Buku bayi dengan gambar hewan-hewan dan tekstur yang bisa diraba. Satu buku dengan sampul dinosaurus hijau.
Lemari kecil di dinding seberang. Kayu jati juga. Tiga laci. Di setiap laci, label kecil dari kertas, ditempel dengan selotip bening. Tulisan yang tegak dan rapi. Tidak pernah melenceng dua milimeter.
Baju 0-3 bulan.
Baju 3-6 bulan.
Popok & lain-lain.
Tulisan Leknor.
Jenar berdiri di depan lemari itu dan tidak bisa bergerak.
Ia merasakan seseorang berdiri di belakangnya. Tidak menyentuh. Hanya ada.
Ia membuka laci pertama.
Baju-baju. Kecil sekali. Terlalu kecil. Terlipat rapi dalam tumpukan, disusun berdasarkan warna. Putih. Krem. Kuning pucat. Hijau pupus, sama seperti dindingnya. Tidak ada pink. Tidak ada biru. Aku nggak mau tahu jenis kelaminnya sampai lahir.
Jenar mengambil satu. Baju terusan kecil dari katun putih, dengan kancing-kancing di bagian depan dan gambar awan kecil di dada. Masih ada label harganya. Masih ada lipatan dari toko.
Ia memegangnya dengan dua tangan. Terentang di udara. Baju itu lebih kecil dari telapak tangannya yang terbuka.
Lebih kecil dari ibu jari Jenar. Sepuluh jari kaki yang mungil, masing-masing seperti biji kacang hijau.
Kakinya tertekuk.
Ia duduk di lantai kayu yang berdebu. Di depan lemari kecil yang dilabeli Leknor. Dengan baju terusan putih dengan gambar awan di pangkuannya.
Dan ia menangis. Di kamar yang ia rancang sendiri. Di bawah dinding yang warnanya ia pilih jam tiga pagi. Di depan boks bayi yang ia rakit bersama laki-laki yang sekarang berlutut di sebelahnya.
Galih tidak memeluknya. Tidak kali ini. Ia berlutut di lantai di sebelahnya. Dan ia mengambil sesuatu dari laci pertama. Kaus kaki. Sepasang. Rajutan tangan, warna krem, dengan jahitan yang tidak rata dan satu kaki yang sedikit lebih panjang dari yang lain.
Ia memandanginya lama.
“Kak Astri yang rajut,” katanya. Suaranya pecah. “Dia belajar dari YouTube. Tiga minggu. Dia telepon aku tiap malem buat ngeluh soal benangnya yang kusut.”
Ia tertawa. Tawa yang pecah di tengah jadi sesuatu yang lain.
“Satunya lebih panjang,” katanya. “Dia bilang nggak apa-apa. Dia bilang bayinya pasti nggak protes.”
Ia menunduk. Kaus kaki rajutan di tangannya. Dan Galih Pratama, yang menangis di rest area tanpa suara dan di makam dengan suara, menangis sekarang di lantai kamar bayi di sebelah Jenar, dengan bahu yang berguncang dan napas yang tersedak.
Mereka menangis bersama. Di lantai kayu yang berdebu. Di antara boks jati dan kursi goyang dan rak buku rendah. Di kamar yang dicat hijau pupus untuk seorang anak yang tidak pernah melihatnya.
Tidak ada yang berusaha berhenti. Tidak ada yang berusaha menghibur. Mereka hanya menangis, berdampingan, bahu bersentuhan, sampai tidak ada lagi yang tersisa untuk ditangiskan.
Mereka membereskan kamar itu sampai siang.
Bukan membongkar. Merapikan. Membersihkan debu dari rak buku. Menyapu lantai. Membuka tirai krem lebar-lebar supaya cahaya masuk. Jenar mengelap boks jati dengan kain lembap. Galih menata ulang buku-buku di rak rendah, satu per satu, dan menemukan di antaranya sebuah buku harian kecil bersampul kain batik. Buku harian kehamilan Astri. Setiap halaman diberi tanggal. Setiap minggu ada catatan. Minggu ke-12: Dedek segede jeruk nipis. Leknor nangis pas USG. Dia bilang kena debu. Minggu ke-20: Dedek nendang pertama kali! Pas Leknor lagi pidato soal struktur balok. Dedek juga bosen. Minggu ke-28: Galih bawa rujak. Pedes. Pasti cewek.
Galih menutup buku itu setelah membaca tiga halaman. Meletakkannya di rak. Menyentuh sampulnya dengan ujung jari.
“Nanti,” katanya.
Jenar mengangguk.
Jam dua belas lewat sedikit, Jenar membuka laci terakhir di lemari kecil. Laci ketiga. Popok & lain-lain.
Popok newborn dalam kemasan plastik yang belum dibuka. Tisu basah. Minyak telon. Sisir bayi dengan bulu yang sangat lembut. Termometer.
Dan di dasar laci, di bawah semuanya, sebuah amplop.
Amplop cokelat ukuran besar. Tebal. Tertutup, tapi tidak dilem. Hanya dilipat ujungnya ke dalam.
Di bagian depannya, tulisan tangan yang bulat dan besar dan sedikit miring. Lingkaran kecil di atas huruf i.
Buat adik-adikku. Kalau kalian baca ini, berarti kalian udah berani buka kamar ini. Bagus. Sekarang baca.
Jenar memandangi amplop itu.
Di belakangnya, Galih berhenti menata buku. Ia berdiri. Berjalan pelan ke lemari. Berlutut di sebelah Jenar.
Mereka memandangi tulisan itu bersama.
Jenar membuka amplopnya. Tangannya gemetar.
Di dalamnya ada dua benda.
Yang pertama adalah amplop kecil. Putih. Dilem rapat. Di depannya, tulisan tangan yang sama. Buat Jihan. Buka pas kamu umur 17. Jangan intip, Om sama Tante!
Jenar memegangnya dengan dua tangan. Amplop itu ringan. Satu lembar kertas, mungkin dua.
Ia menyerahkannya pada Galih tanpa berkata apa-apa. Galih menerimanya. Memandanginya lama. Lalu memasukkannya ke saku celananya. Pelan. Dengan tangan yang sedikit gemetar.
Yang kedua adalah beberapa lembar kertas bergaris, dilipat tiga. Kertas dari buku tulis anak sekolah, dengan pinggiran yang sedikit robek karena disobek terburu-buru.
Jenar membukanya.
Tulisan tangan Astri memenuhi setiap baris. Bulat dan besar dan miring. Ada coretan di beberapa tempat. Ada bekas cangkir kopi di pojok kanan atas.
Jenar mulai membaca. Keras. Supaya Galih bisa mendengar.
Adik-adikku yang bego,
Hai. Ini aku. Kak Astri. Kakak ipar paling cantik sedunia.
Kalau kalian baca ini, berarti ada dua kemungkinan. Satu, aku lupa ambil surat ini dari laci dan kalian nemu pas lagi bantuin aku nyari popok. Kalau gitu, BALIKIN SEKARANG dan pura-pura nggak pernah baca. Dua, aku sama Leknor udah nggak ada.
Aku harap yang satu. Tapi kalau yang dua, maaf ya. Pasti nyebelin. Pasti kalian lagi nangis. Galih pasti lagi pura-pura nggak nangis. Jenar pasti lagi nangis tapi pura-pura nggak apa-apa. Aku tahu kalian.
Aku nulis ini abis dari notaris. Tadi aku sama Leknor tanda tangan wasiat. Leknor bingung kenapa aku mau bikin syarat aneh soal rumah. Aku bilang nanti aku jelasin. Aku nggak jelasin. Aku jelasin di sini aja.
Aku yang minta syarat itu. Satu tahun. Tujuh malam. Semuanya.
Soalnya aku lihat kalian di Casa Lidia.
Kalian kira aku nggak lihat? Aku mantan atlet voli, Dek. Aku bisa baca gerakan lawan dari seberang net. Kamu, Galih, masuk restoran terus berhenti setengah detik. Setengah detik. Kamu nggak pernah berhenti setengah detik di mana pun. Kamu kulkas. Kulkas nggak berhenti. Terus kamu nginjek kaki Jenar di bawah meja. Aku lihat bahu kamu gerak. Terus Jenar keselek air lemon pas aku sebut Pangandaran.
Terus kalian teriak APA barengan.
Aku nggak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Aku nggak mau nebak. Tapi aku tahu satu hal. Kalian berdua kayak dua orang yang lagi nahan napas di dalem air. Nunggu siapa yang duluan nggak kuat.
Dan aku kenal kalian berdua. Galih, kamu nggak bakal pernah duluan. Kamu bakal nahan napas sampai pingsan. Terus pas udah pingsan kamu bakal pergi diem-diem biar nggak ngerepotin orang. Jenar, kamu juga nggak bakal duluan. Kamu bakal senyum terus sampai giginya kering. Kamu takut kalau kamu yang duluan, kamu yang ditinggal.
Jadi aku bikin syarat. Biar kalian nggak bisa kabur. Biar kalian terpaksa tinggal di rumah yang sama cukup lama, sampai salah satu dari kalian nggak kuat nahan napas lagi.
Aku tahu ini curang. Maaf. Tapi aku kakak kalian. Kakak boleh curang.
Rumah ini, kamar ini, Jenar yang gambar. Dia pilih warnanya jam tiga pagi. Dia pikir aku nggak tahu. Aku tahu. Leknor cerita. Dia bangun jam empat buat sholat subuh terus lihat lampu apartemen Jenar masih nyala di grup video call keluarga yang dia lupa matiin.
Galih, kamu yang rakit boksnya. Sama Jenar. Aku yang atur. Aku bilang pinggangku pegel terus pura-pura tidur di kamar utama. Aku denger kalian dari balik pintu. Dua jam. Kalian cuma ngomongin sekrup. Tapi di akhir, Galih, kamu manggil dia Jen. Aku denger. Terus kamu buru-buru ganti jadi Mbak. Aku ketawa di bantal sampai Dedek nendang.
Oke. Intinya.
Aku nggak minta kalian jadi apa-apa. Aku nggak minta kalian pacaran atau nikah atau apa pun. Itu urusan kalian. Aku cuma minta satu hal.
Ngomong.
Apa pun yang kalian tahan. Apa pun yang kalian takutin. Ngomong. Sekali aja. Sama orangnya langsung. Bukan sama kakaknya. Bukan sama sahabatnya. Bukan sama kulkas.
Kalau udah ngomong, dan ternyata jawabannya jelek, ya udah. Jual rumahnya. Pergi. Aku nggak marah.
Tapi kalian harus ngomong dulu. Kalau nggak, aku gentayangan. Serius. Aku bakal nyanyi dangdut di kamar kalian tiap malem.
Satu lagi. Buat Galih.
Dek. Kamu inget kan yang aku bilang di dapur pas tujuh bulanan? Kalau suatu hari aku sama Leknor nggak ada, jagain dia. Aku serius. Jenar itu anak baik. Dia nggak punya siapa-siapa. Dan senyumnya kayak orang yang lagi nahan sesuatu biar nggak jatuh.
Tapi aku lupa bilang satu hal waktu itu.
Jagain dia bukan berarti diem-diem bikinin kopi terus kabur sebelum dia bangun. Itu bukan jagain. Itu ngumpet.
Jagain dia itu berarti kamu tetep di sana pas dia bangun.
Oke. Udah. Tanganku pegel. Leknor manggil dari mobil. Katanya aku kelamaan di toilet. Dia nggak tahu aku lagi nulis surat wasiat versi nggak resmi di toilet notaris.
Aku sayang kalian berdua. Adik-adikku yang bego.
Kak Astri.
P.S. Jenar, kalau kamu nemu surat ini sendirian, jangan kasih tahu Galih dulu. Biar dia nemu sendiri. Dia harus belajar buka pintu.
P.P.S. Galih, kalau kamu nemu sendirian, KASIH TAHU JENAR. Jangan diem aja kayak kulkas.
P.P.P.S. Kalau kalian nemu barengan, berarti aku menang. Hehe.
Jenar berhenti membaca.
Kertas bergaris di tangannya bergetar. Ada tetesan air yang jatuh di atasnya, di kata menang, membuat tintanya melebar jadi lingkaran biru kecil.
Ia tidak tahu kapan ia mulai menangis lagi. Ia tidak tahu kapan ia mulai tertawa. Ia melakukan keduanya sekarang, di lantai kamar bayi, dengan surat Astri di tangan dan wajah yang basah dan bahu yang berguncang.
Di sebelahnya, Galih menutup wajahnya dengan dua tangan.
Bahunya juga berguncang. Jenar tidak bisa tahu apakah ia menangis atau tertawa.
Lalu Galih menurunkan tangannya. Wajahnya basah. Tapi ia tertawa. Tawa yang pecah dan serak dan jelek, dari perut.
“Dia menang,” katanya.
“Dia menang,” ulang Jenar.
“Toilet notaris.”
“Dia nulis wasiat nggak resmi di toilet notaris.”
“Kak Leknor nungguin di mobil.”
“Nggak tahu apa-apa.”
“Nyanyi dangdut tiap malem.”
“Pakai suara kucing kejepit pintu.”
Mereka tertawa sampai terjatuh. Sampai punggung Jenar menyentuh lantai kayu dan ia berbaring telentang di tengah kamar hijau pupus, dengan surat Astri di dada, memandangi langit-langit. Galih berbaring di sebelahnya. Tidak menyentuh. Hanya berbaring. Bahu mereka berjarak lima senti.
Di atas mereka, tergantung dari langit-langit di atas boks bayi, sebuah mainan gantung. Awan-awan kecil dari kain flanel putih, dengan satu bulan sabit kuning dan tiga bintang. Berputar sangat pelan karena angin dari jendela yang terbuka.
Mereka memandanginya.
Tawa mereka pelan-pelan reda. Seperti gelombang yang sampai di pantai dan surut dengan tenang.
Ngomong.
Apa pun yang kalian tahan. Ngomong. Sekali aja. Sama orangnya langsung.
Jenar merasakan liontin kecil di balik kerah kaus polonya. Hangat. Menekan kulitnya di tempat yang sama selama hampir dua tahun.
Ia tidak bisa bicara. Belum. Kata-kata itu masih terlalu besar. Aturan nomor enam masih di pintu kulkas, di atas garis putus-putus aturan nomor tujuh.
Tapi ada satu hal yang bisa ia lakukan tanpa bicara.
Ia duduk.
Tangannya naik ke kerah kaus polo biru muda. Ke kancing pertama. Membukanya. Kancing kedua, yang sudah dijahit ulang. Membukanya.
Jarinya menemukan rantai tipis. Menariknya pelan.
Liontin kecil itu keluar dari balik kerah. Jatuh di atas kain kaus. Di depan dadanya. Di tempat yang bisa dilihat siapa pun.
Untuk pertama kalinya sejak pagi terakhir di Pangandaran.
Ia tidak memandang Galih. Ia memandangi mainan gantung di atas boks bayi. Awan-awan flanel yang berputar. Jantungnya berdebar sangat keras sampai ia yakin seluruh kamar bisa mendengarnya.
Galih melihatnya.
Ia masih berbaring di lantai. Kepala sedikit terangkat. Ia melihat tangan Jenar di kerah bajunya. Melihat kancing pertama terbuka. Kancing kedua.
Ia melihat rantai perak tipis ditarik keluar.
Dan ia melihat liontin itu.
Hati. Kecil. Tidak lebih besar dari kuku kelingking. Permukaannya polos dan mengilap, memantulkan cahaya dari jendela yang terbuka sampai ia harus menyipitkan mata.
Ia mengenalinya.
Etalase kaca kecil dengan lampu kuning. Papan nama kayu. Perak Tasik. Ibu gemuk berkerudung ungu yang terus tersenyum dan melirik ke arah perempuan berkaus putih polos di ujung deretan kios. Deretan liontin di atas kain beludru merah. Bintang. Bulan. Ikan. Hati.
Semua cowok ujung-ujungnya beli yang ini, A.
Kaitan yang kecil sekali. Tiga kali mencoba di pasir di bawah pohon ketapang. Satu umpatan pelan. Tengkuk Jenar yang hangat di bawah jari-jarinya.
Leher yang kosong.
Pagi sebelumnya, di pantai, waktu Jenar membuka kancing kemeja flanel kebesaran dan menyesalinya dan memeluk lututnya. Ia menyampirkan kain pantai biru putih ke bahunya tanpa menyentuh kulitnya, dan ia ingat, bahkan waktu ia memaksa matanya ke laut, bahwa leher itu kosong. Tidak ada kalung. Tidak ada rantai. Tidak ada apa pun.
Tidak ada kalung sebelum Pangandaran.
Galih duduk. Pelan. Seperti orang yang baru bangun dari mimpi yang terlalu panjang.
Ia memandangi liontin di dada Jenar.
Mengilap. Terang. Tidak ada noda hitam sedikit pun. Tidak di lekukan hatinya. Tidak di sambungan rantainya. Tidak di kaitannya yang kecil sekali.
Kata ibunya perak itu aneh. Kalau disimpen terus di laci, lama-lama jadi hitam. Tapi kalau dipakai tiap hari, kena kulit, dia malah makin terang.
Ia yang mengatakan itu. Di bawah pohon ketapang. Menatap laut karena tidak berani menatap wajah Jenar. Jadi, kalau kamu mau, dipakai aja. Jangan disimpen.
Hampir dua tahun.
Lorong hotel yang kosong. Satu centang abu-abu. Kaki yang ia injak di bawah meja di Casa Lidia. Mbak. Saya udah ngerti. Anggap aja itu nggak pernah ada. Tiga minggu ia pulang jam sebelas malam. Itu kesalahan.
Setiap hari. Di balik kerah yang selalu dikancing sampai atas. Di rumah yang panas. Di Jakarta yang lembap. Mungkin dia gampang masuk angin, Bu.
Dan Jenar tidak pernah melepasnya.
Galih merasakan sesuatu di dadanya yang sudah hampir dua tahun terkunci, seperti pintu dengan stiker awan, bergeser. Tidak terbuka. Belum. Tapi bergeser. Seperti engsel yang berkarat akhirnya mengalah sedikit.
Anggap aja ini mengisi waktu gue melupakan kakak lo.
Kalimat itu masih di sana. Di kepalanya. Masih terukir seperti prasasti. Ia masih bisa mendengarnya, suara Jenar yang keras dan datar menembus kayu pintu.
Tapi di depannya, di atas kaus polo biru muda, liontin hati kecil itu berkilau di cahaya pagi, tanpa noda hitam sedikit pun.
Dua hal itu tidak bisa sama-sama benar.
Atau bisa. Ia tidak tahu. Ia tidak tahu lagi mana yang lebih ia percaya. Kalimat yang ia dengar sekali, dari balik pintu, satu malam, hampir dua tahun lalu. Atau kalung yang ia lihat sekarang, yang dipakai setiap hari, selama hampir dua tahun, oleh perempuan yang tidak pernah bilang apa-apa.
Tangannya bergerak. Naik. Pelan.
Ke arah liontin itu.
Jenar tidak bergerak. Ia masih memandangi mainan gantung di atas boks bayi. Tapi napasnya berhenti. Galih bisa melihatnya. Dadanya yang berhenti naik turun.
Jari Galih mendekat. Lima senti. Tiga.
Sesenti dari liontin itu.
Berhenti.
Sama seperti dulu. Seperti jarinya yang berhenti sesenti dari pipi Jenar di dermaga hutan bakau. Seperti tangannya yang berhenti di atas bahu Jenar yang tertidur di lantai dapur, dengan kain batik di tangan dan rantai perak berkilau di balik kerah piyama.
Sesenti.
Ia menurunkan tangannya.
Tidak karena tidak mau. Karena kalau ia menyentuhnya sekarang, ia harus bicara. Dan ia belum tahu apa yang akan keluar dari mulutnya kalau ia bicara. Terima kasih. Maaf. Kenapa. Kenapa kamu bilang aku cuma pengisi waktu kalau kamu nggak pernah lepas kalung ini?
Aturan nomor enam. Masih di pintu kulkas.
Ngomong. Sekali aja. Sama orangnya langsung.
Belum. Belum sekarang. Tidak di lantai kamar bayi, di hari mereka membuka pintu ini untuk pertama kali, dengan surat Astri yang masih basah air mata di pangkuan Jenar.
Jenar akhirnya menoleh.
Ia memandangi Galih. Memandangi tangannya yang baru saja turun. Memandangi wajahnya.
Dan Galih tahu ia melihatnya. Wajahnya sendiri. Yang tidak lagi datar. Yang tidak bisa lagi datar. Wajah orang yang baru menemukan potongan puzzle yang hilang di bawah sofa dan sadar gambarnya sama sekali berbeda dari yang ia kira.
Mereka saling pandang di lantai kamar hijau pupus.
Tidak ada yang bicara.
Tidak ada yang perlu bicara. Tidak sekarang.
Di atas mereka, mainan gantung berputar pelan. Awan. Bulan sabit. Tiga bintang.
Mereka menyimpan surat Astri di rak buku rendah. Di sebelah buku harian kehamilan bersampul kain batik. Amplop kecil untuk Jihan tetap di saku Galih. Ia memindahkannya malam itu ke kotak kecil berpita krem di rak ruang kerja, di sebelah gelang rumah sakit dan cap kaki biru tua. Tiga benda. Semuanya untuk Jihan.
Mereka meninggalkan pintu kamar hijau pupus itu terbuka.
Jenar tidak mengancingkan kerah kausnya lagi. Sepanjang sore. Sepanjang makan malam, nasi padang bungkus dari warung di ujung jalan yang mereka makan di meja bundar. Liontin kecil itu di sana. Di luar. Berkilau di bawah lampu makan.
Galih tidak menyebutnya. Tidak sekali pun.
Tapi Jenar melihat matanya. Setiap kali ia menunduk ke piring. Setiap kali ia mengangkat gelas air. Setiap kali ia tertawa. Mata itu turun, ke dada Jenar, ke liontin itu. Sebentar. Lalu kembali ke wajahnya.
Dan setiap kali, ada sesuatu di sana yang belum pernah Jenar lihat. Sesuatu yang bukan petugas bank. Bukan kulkas. Sesuatu yang terbuka dan bingung dan sangat, sangat berhati-hati. Seperti orang yang memegang sesuatu yang bisa pecah.
Jam sebelas malam, Jenar berdiri di depan pintu kulkas.
Rumah sunyi. Galih sudah di ruang kerja. Tapi pintunya tidak ditutup rapat. Ada cahaya lampu meja gambar Leknor yang jatuh di lantai lorong, kuning dan sempit. Pintu kamar hijau pupus juga terbuka. Cahaya lampu jalan dari jendela jatuh di lantai kayunya.
Sebelas aturan. Aturan nomor tujuh dengan garis putus-putus. Gambar krayon dinosaurus. Kertas USG hitam putih.
Dan di bawah semuanya.
Setengah jalan.
Setengahnya lagi gimana?
Kayak setengah yang pertama.
Dan ruang putih di bawahnya. Empat minggu kosong.
Jenar mengambil spidol dari laci. Membuka tutupnya.
Ia memandangi ruang putih itu lama.
Lalu ia menulis. Tulisan tegak dan kecil-kecil. Tulisan arsitek. Pelan. Satu huruf demi satu huruf.
Aku nggak mau kayak setengah yang pertama.
Ia memandanginya. Tangannya gemetar sedikit.
Lalu ia menutup spidol, meletakkannya kembali di laci, dan berjalan ke kamarnya. Di lorong, ia melewati pintu ruang kerja yang terbuka sedikit. Cahaya kuning. Bayangan seseorang yang duduk di meja gambar Leknor. Tidak bergerak.
Ia tidak berhenti. Ia masuk ke kamarnya. Menutup pintu.
Tapi tidak rapat. Ia meninggalkan celah sejari.
Seperti pintu ruang kerja.
Seperti pintu kamar hijau pupus.
Ia berbaring di kasur single dengan seprai motif bunga-bunga kecil yang sudah pudar, dengan liontin hati kecil di atas kaus polonya, di luar, di tempat yang bisa dilihat siapa pun. Ia menggenggamnya. Bukan untuk menyembunyikannya. Hanya untuk memegangnya.
Di lorong, lima menit kemudian, langkah kaki. Pelan. Dari ruang kerja ke dapur.
Pintu kulkas terbuka. Lampu kuning kekuningan. Lalu, tidak ada bunyi apa pun. Hanya diam yang panjang. Terlalu panjang untuk orang yang hanya mau mengambil air.
Lalu alarm pintu kulkas berbunyi. Bip. Bip. Bip.
Pintu kulkas ditutup. Sangat pelan.
Langkah kaki kembali ke lorong. Berhenti di depan pintu kamar Jenar. Di depan celah sejari.
Dua detik. Tiga. Lima.
Lalu, hampir tidak terdengar, suara di balik pintu. Rendah. Serak.
“Aku juga nggak mau.”
Langkah kaki itu melanjutkan ke ruang kerja.
Jenar berbaring di kegelapan dengan liontin di genggamannya, dan tidak tidur sampai subuh. Bukan karena sedih.
Untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun, bukan karena sedih.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!