Jenar terbangun jam setengah enam karena bau kopi.
Bukan bau kopi yang biasa. Bukan bau yang samar dari dapur, yang sudah setengah dingin waktu ia keluar kamar mandi, yang berarti seseorang sudah menyeduhnya dan pergi. Bau yang ini tebal dan hangat dan baru. Bau biji yang baru digiling. Bau air yang baru dituang.
Dan bunyi. Bunyi penggiling kayu berengkol besi. Krek. Krek. Krek. Pelan. Berirama.
Jenar berbaring di kasur single dan mendengarkannya.
Pintu kamarnya masih terbuka sejari. Cahaya dari lorong masuk lewat celah itu, kuning dan tipis, jatuh di lantai kayu.
Aku juga nggak mau.
Ia bangun. Tidak mandi dulu. Tidak keramas satu jam. Ia keluar kamar dengan kaus piyama dan rambut yang berantakan dan liontin hati kecil yang tergantung di luar kerah, dan berjalan pelan menyusuri lorong.
Dapur terang. Lampu di bawah lemari atas menyala kuning.
Galih duduk di meja makan bundar.
Di kursi tamu. Kursinya. Di seberang kursi Jenar. Di depannya, secangkir kopi. Di depan kursi Jenar, secangkir kopi. Dua lembar roti bakar selai kacang di piring kecil di masing-masing tempat. Dipotong diagonal.
Ia tidak berdiri waktu Jenar muncul di ambang dapur. Ia tidak mengambil kunci mobil. Ia tidak pergi.
Ia hanya mengangkat kepala.
“Pagi,” katanya.
Jenar memandanginya. Kaus abu-abu. Rambut yang sudah basah dari mandi setengah enam. Cangkir di tangannya, masih mengepul.
“Kamu nggak ke kedai?” tanyanya.
“Nanti.”
“Kedai buka jam tujuh.”
“Ada kepala barista.” Galih menyesap kopinya. Tidak memandanginya. Memandangi cangkir. “Aku mau di sini.”
“Kenapa?”
Galih meletakkan cangkirnya. Memandangi roti bakar di piringnya.
“Kak Astri bilang,” katanya pelan, “jagain itu bukan diem-diem bikin kopi terus kabur sebelum orangnya bangun. Itu ngumpet.” Ia berhenti. Telinganya memerah. “Jagain itu tetep di sana pas orangnya bangun.”
Jenar berdiri di ambang dapur tanpa bisa bergerak.
Lalu, pelan, ia berjalan ke meja makan. Menarik kursinya. Duduk.
Di depannya, secangkir kopi. Mengepul. Untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan, masih panas waktu ia menyentuhnya.
Ia menyesapnya.
Manis tanpa gula.
“Makasih,” katanya.
“Sama-sama.”
Mereka sarapan. Berhadapan. Di meja makan bundar dengan dua kursi kosong di antara mereka. Tidak banyak bicara. Galih menanyakan jadwal Jenar hari itu. Jenar menanyakan biji kopi apa yang sedang ia sangrai. Galih bilang Flores Bajawa, dan terlalu asam, dan ia sudah mencoba tiga belas menit. Jenar bilang coba dua belas setengah. Galih mengangkat alis dan bertanya sejak kapan ia jadi ahli sangrai. Jenar bilang sejak ia tinggal serumah dengan orang yang menulis catatan sangrai di kulkas.
Galih tertawa. Tawa pagi yang serak.
Waktu Jenar selesai dan berdiri untuk mandi, ia melewati pintu kulkas.
Di bawah Aku nggak mau kayak setengah yang pertama, ada tulisan baru. Miring ke kanan. Huruf g-nya seperti kail pancing. Tintanya masih mengilap, belum kering sepenuhnya.
12. Sarapan bareng.
Jenar berdiri di depan kulkas lama sekali.
Lalu ia mengambil spidol dari laci. Di bawahnya, dengan tulisan tegak dan kecil-kecil:
Setuju.
Hari-hari setelah itu terasa seperti hari-hari yang dipinjam dari hidup orang lain.
Mereka sarapan bareng setiap pagi. Jam setengah enam, di meja makan bundar, dengan dua cangkir kopi dan roti bakar yang tidak pernah gosong lagi. Galih berangkat ke kedai jam tujuh, bukan jam enam kurang. Kepala baristanya, seorang laki-laki muda bernama Rendi, mengirim pesan keluhan di grup kedai di minggu pertama. Pak, bapak telat terus sekarang. Bapak sakit? Galih membalas dengan satu kata. Sehat.
Di hari ketiga, Jenar bangun jam lima dan menemukan Galih di teras depan, memakai sepatu lari.
“Kamu mau ke mana?”
“Jalan.”
“Jam lima?”
“Kamu mau ikut?”
Ia ikut. Dengan sandal jepit dan kaus kebesaran dan jaket Leknor yang terlalu besar. Mereka berjalan mengelilingi kompleks, di jalan-jalan yang masih gelap dan basah embun, di bawah lampu jalan yang belum padam. Kucing oranye dengan ekor yang masih samar-samar hijau pupus mengikuti mereka dua putaran, lalu bosan.
Mereka tidak banyak bicara. Hanya berjalan. Berdampingan. Kadang lengan mereka bersentuhan dan tidak ada yang menariknya.
Di putaran ketiga, di depan pagar rumah Bu Ratmi, mereka berpapasan dengan Bu Ratmi yang sedang menyapu dedaunan yang tidak ada, memakai daster batik.
Bu Ratmi berhenti menyapu.
Ia memandangi mereka. Galih dengan sepatu lari. Jenar dengan jaket kebesaran. Lengan mereka yang bersentuhan.
Lalu matanya turun. Ke leher Jenar. Ke liontin hati kecil yang tergantung di luar kaus kebesaran.
Senyumnya pelan-pelan melebar. Sangat lebar. Sampai ke telinga.
“Pagi, Mas. Pagi, Mbak.”
“Pagi, Bu.”
“Jalan pagi, ya?”
“Iya, Bu.”
“Bagus. Bagus.” Bu Ratmi mengangguk-angguk. Masih tersenyum. “Lampu dapur udah nyala lagi, ya. Jam enam kurang.”
Jenar merasakan wajahnya memanas. Galih memandangi langit yang mulai kelabu.
“Mbak nggak pakai kerah lagi,” tambah Bu Ratmi. Sangat polos. Sangat tidak polos. “Udah nggak gampang masuk angin?”
“Udah sembuh, Bu,” kata Jenar.
“Alhamdulillah.”
Siang itu, di grup WhatsApp RT 05 Kenanga Asri, Bu Endang mengirim pesan.
Info dari Bu Ratmi: lampu dapur Kenanga 12 udah nyala lagi jam 6 pagi. Alhamdulillah. 🥰
Tiga puluh dua balasan.
Alhamdulillah.
Aamiin.
Kenapa emang Bu?
Kemaren sempet mati 1 bulan.
Oh berantem?
Udah baikan.
AAMIIN.
Galih mengirim tangkapan layar percakapan itu ke Jenar dengan satu kata. Tolong.
Jenar membalas. Salah kamu. Kamu yang nyalain lampunya.
Di minggu kedua, Jenar sedang di meja pojok kedai Kemang, jam tiga sore, dengan laptop terbuka dan gambar detail tangga sekolah Bintaro di layar, waktu lonceng kecil di atas pintu kaca berbunyi.
Ia tidak mengangkat kepala. Pelanggan datang dan pergi. Ia sedang menghitung tinggi anak tangga untuk anak umur enam tahun.
Lalu ia mendengar bunyi gelas pecah di balik bar.
Ia mengangkat kepala.
Dita berdiri di balik bar dengan wajah pucat pasi. Di lantai di kakinya, pecahan cangkir keramik putih dan genangan susu. Dua barista lain juga membeku, satu dengan portafilter di tangan, satu dengan lap di bahu. Mereka semua memandang ke arah pintu.
Galih berdiri di ambang pintu. Kemeja hitam Pratama Coffee. Tas kerja di bahu. Ia memandangi pecahan cangkir di lantai dengan alis terangkat.
“Pak... Pak Galih,” kata Dita. Suaranya bergetar. “Pak, ada sidak? Kok nggak dikabarin? Pak, saya bersihin sekarang, Pak, maaf...”
“Bukan sidak, Dit.”
“Pak tahu nama saya?”
“Aku baca laporan kamu tiap minggu. Catatan kamu yang paling rapi dari sepuluh cabang.”
Dita membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar.
Galih tidak berjalan ke bar. Ia menoleh. Ke pojok. Ke meja dekat jendela. Ke kursi kayu yang satu kakinya lebih pendek.
Ke Jenar.
Jenar merasakan seluruh kedai menoleh mengikuti tatapannya. Dita. Dua barista lain. Seorang mahasiswi dengan laptop di meja tengah. Bapak-bapak dengan koran di dekat pintu.
Galih berjalan ke meja pojok.
Ia tidak duduk di kursi di seberang Jenar. Kursi yang tasnya selalu diletakkan Jenar di sana. Kursi Astri.
Ia mengambil kursi dari meja sebelah. Menariknya. Meletakkannya di sisi meja yang lain. Di samping. Membentuk segitiga. Jenar di satu sisi, kursi Astri di seberang, dan kursinya sendiri di tengah, di antara mereka.
Ia duduk.
Lalu ia menoleh ke bar.
“Dit,” katanya. “Satu Senior. Sama satu latte susu oat.”
Dita memandanginya. Lalu memandangi Jenar. Lalu kursi kosong di seberang Jenar, dengan tas kerja Jenar di atasnya.
Dan Jenar melihat wajah Dita berubah. Pelan. Seperti gambar yang baru selesai dimuat di sinyal lemah. Kak Astri. Latte susu oat. Kursi di seberang. Dita menoleh ke Galih. Pratama. Bos. Lalu ke Jenar. Senior. Yang ngasih nama bukan bosnya. Orang lain.
Mata Dita terbelalak.
“Latte-nya taruh di sana, ya,” kata Galih, menunjuk kursi kosong dengan dagu. “Di depan tasnya.”
Dita mengangguk. Kaku. Berbalik ke mesin espresso dengan gerakan seperti robot.
Jenar memandangi Galih.
“Kamu ngapain di sini?”
“Minum kopi.”
“Di kedai kamu sendiri?”
“Di kedai aku sendiri.”
“Kamu hampir nggak pernah ke cabang ini.”
“Makanya.” Galih meletakkan tas kerjanya di lantai. Membuka laptop. “Aku mau tahu kenapa ada member yang dateng tiap minggu selama enam belas bulan dan nggak pernah pakai diskon.”
Jenar menutup wajahnya dengan dua tangan.
Kopi mereka datang lima menit kemudian. Dita meletakkannya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Senior di depan Jenar. Senior di depan Galih. Dan latte susu oat, dengan gambar hati dari busa susu di permukaannya, di depan kursi kosong. Di depan tas kerja Jenar.
Dita tidak langsung pergi. Ia berdiri di sebelah meja dengan nampan di dada.
“Kak Jenar,” bisiknya. “Kakak kenal Pak Galih?”
Jenar menurunkan tangannya dari wajah.
“Kami tinggal serumah, Dit.”
Dita menjatuhkan nampannya.
Mereka bekerja di meja pojok sampai jam enam sore.
Jenar dengan gambar tangga. Galih dengan laporan stok biji kopi dan jadwal pelatihan barista. Mereka tidak banyak bicara. Hanya sesekali. Ini tinggi anak tangganya lima belas senti. Terlalu tinggi nggak buat anak umur enam? Aku nggak tahu, Jen. Aku tukang kopi. Tukang kopi juga pernah umur enam. Waktu umur enam aku jatuh dari tangga rumah nenek. Tuh kan.
Latte susu oat di depan kursi kosong pelan-pelan mendingin. Gambar hati dari busa susunya melebar, lalu pecah, lalu hilang.
Tidak ada yang meminumnya. Tidak ada yang memindahkannya.
Di balik bar, Dita dan dua barista lain berbisik-bisik tanpa henti dan pura-pura mengelap mesin yang sudah bersih.
Waktu mereka akhirnya berdiri untuk pulang, Galih mengambil cangkir latte yang sudah dingin itu. Memandanginya sebentar. Lalu membawanya ke bar sendiri, menyerahkannya pada Dita.
“Makasih, Dit,” katanya. “Buat udah jagain meja ini.”
Dita mengangguk. Matanya basah. Ia tidak tahu kenapa. Atau mungkin ia tahu.
Waktu mereka keluar lewat pintu kaca, lonceng kecil di atasnya berbunyi, dan Jenar menoleh sekali ke belakang.
Dita sedang berdiri di depan meja pojok. Mengelapnya dengan lap basah. Pelan. Hati-hati. Terutama di bagian depan kursi kosong.
Di minggu ketiga, Jenar mulai menggambar dapur.
Ia tidak berencana. Ia sedang duduk di meja makan bundar di hari Minggu sore dengan kertas kalkir dan pensil 2B, niatnya mengerjakan revisi detail taman atap sekolah. Di dapur, Galih sedang memasak nasi goreng. Bukan nasi goreng yang terlalu asin di satu sisi. Nasi goreng yang ia latih diam-diam tiga minggu terakhir di kedai Mampang, setelah jam tutup, dengan resep dari ibu-ibu penjual nasi goreng di dekat kampusnya dulu yang ia telepon khusus untuk bertanya.
Jenar memperhatikannya bergerak di dapur. Dari kompor ke rak bumbu. Dari rak bumbu ke kulkas. Dari kulkas ke kompor lagi. Ia harus menunduk di bawah lemari atas setiap kali mengambil garam. Siku kanannya menyenggol pinggiran rak piring setiap kali ia mengaduk wajan terlalu keras.
Dapur itu tidak dirancang untuk dua orang. Dapur itu dirancang Leknor sepuluh tahun lalu untuk satu orang. Untuk dirinya sendiri, yang tidak pernah memasak apa pun selain mi instan dan telur rebus.
Pensil Jenar mulai bergerak.
Bukan di detail taman atap. Di sudut kertas kalkir yang kosong.
Dapur. Denahnya. Dinding yang digeser tiga puluh senti ke arah ruang makan. Lemari atas yang dinaikkan supaya kepala tidak terbentur. Rak bumbu yang dipindahkan ke sebelah kompor. Meja dapur yang dibuat berbentuk huruf L, supaya dua orang bisa berdiri di sana bersamaan tanpa saling menyenggol. Jendela di atas wastafel diperlebar, supaya cahaya pagi masuk.
Ia menggambar tanpa berpikir. Sama seperti di kedai Kang Ujang, di tisu dengan noda saus.
Pensilnya terus bergerak. Melewati dinding dapur. Ke ruang depan.
Meja jati panjang. Mesin roasting. Jendela besar yang menghadap halaman depan dan pohon kamboja. Ia menggambar ulang ruang itu. Tanpa sadar. Dinding di bawah jendela dibongkar sebagian. Bar panjang dari kayu, menempel di jendela. Menghadap ke luar. Ke halaman. Ke pagar. Ke jalan kompleks. Supaya orang yang berdiri di balik bar bisa melihat orang-orang lewat.
Dua kursi di teras. Pohon kamboja. Pintu depan yang diganti pintu kaca.
Plang kayu kecil di atas pintu. Dengan huruf miring yang belum ia isi namanya.
Pensilnya berhenti.
Jenar memandangi gambarnya. Detail taman atap sekolah di tengah kertas. Dan di sudut, dapur yang digeser tiga puluh senti. Dan ruang depan yang berubah jadi kedai kecil dengan bar menghadap ke luar.
Ia buru-buru membalik kertas itu.
Terlambat.
Galih berdiri di sebelah meja makan dengan dua piring nasi goreng di tangan. Ia tidak berkata apa-apa. Ia meletakkan satu piring di depan Jenar. Satu di depan kursinya sendiri.
Lalu ia mengulurkan tangan. Telapak menghadap ke atas. Menunggu.
Seperti di kedai Kang Ujang. Seperti di Pangandaran.
“Galih...”
Ia menunggu. Dengan kesabaran yang membuat Jenar kesal.
Jenar membalik kertas itu kembali. Menyerahkannya.
Galih memandanginya lama. Dapur yang digeser. Meja berbentuk L. Lemari atas yang dinaikkan.
Lalu ruang depan.
Bar kayu yang menghadap ke luar. Pohon kamboja. Dua kursi di teras. Plang kosong.
Ia tidak berkata apa-apa. Ia menyentuh gambar bar itu dengan ujung telunjuk. Sangat hati-hati. Seperti takut grafitnya luntur.
Jenar melihat tangannya. Tangan yang dulu melipat tisu dengan noda saus jadi empat dan menyelipkannya di balik KTP.
“Iseng,” katanya cepat. “Cuma iseng. Dapurnya kekecilan buat kamu. Kamu kepentok lemari terus.”
“Terus ruang depannya?”
“Iseng juga.”
Galih memandanginya. Lalu memandangi gambar itu lagi.
“Boleh aku simpen?” tanyanya.
“Itu kertas kalkir kantor.”
“Aku ganti.”
“Ada revisi taman atap di tengahnya.”
“Kamu bisa gambar ulang.”
Jenar memandanginya. Lalu memandangi nasi goreng di depannya, yang mengepul, yang baunya harum dan tidak gosong dan tidak terlalu asin di satu sisi.
“Makan dulu,” katanya. “Nanti dingin.”
Galih tersenyum. Miring di satu sisi. Ia melipat kertas kalkir itu. Pelan. Rapi. Jadi empat. Dan memasukkannya ke saku belakang celananya.
Jenar tidak memintanya kembali.
Nasi gorengnya enak sekali.
Ciuman itu terjadi di teras belakang, di hari Kamis malam di minggu keempat, di bawah pohon mangga.
Tidak ada listrik yang padam. Tidak ada hujan. Tidak ada lilin vanila atau anjing di lorong atau satpam yang menggedor pintu.
Hanya malam yang hangat dan lembap, seperti malam-malam Jakarta di akhir musim kemarau. Suara jangkrik dari rumpun pandan di sudut halaman. Lampu teras yang berkedip.
Lampu itu sudah berkedip sejak Jenar SMA. Neon panjang di atas pintu belakang yang tidak pernah benar-benar padam dan tidak pernah benar-benar menyala. Leknor bilang akan menggantinya. Ia tidak pernah sempat.
Mereka duduk di tangga semen yang turun ke halaman. Tempat Galih dan Fadlan duduk di malam Kiki menginap, dengan dua rokok yang tidak pernah dinyalakan. Dua cangkir di anak tangga di sebelah mereka. Bukan kopi. Teh melati, dari toples di rak paling bawah, dengan gula batu dari laci ketiga.
“Jen.”
“Hm.”
“Lampunya kayak lampu di teras hotel.”
Jenar menoleh.
Galih tidak memandanginya. Ia mendongak ke neon di atas pintu. Terang. Gelap. Terang.
Kata-kata itu melayang di udara teras. Teras hotel. Pangandaran. Kursi rotan yang anyamannya lepas. Selimut tipis di lutut. Obrolan sampai subuh.
Aturan nomor enam.
Jenar menunggu Galih menariknya kembali. Menunggu wajahnya menutup. Menunggu maaf atau nggak jadi atau berdiri dan masuk ke dalam.
Galih tidak menariknya kembali.
Ia menoleh. Memandangi Jenar. Wajahnya terbuka. Tidak takut. Tidak juga berani. Sesuatu di antaranya. Seperti orang yang baru mengulurkan tangan ke seberang sungai dan belum tahu apakah ada yang akan meraihnya.
Jenar memandanginya.
Ia bisa bilang aturan nomor enam. Ia bisa pura-pura tidak mendengar.
“Iya,” katanya pelan. “Kayak lampu di teras hotel.”
Hening. Jangkrik. Neon yang berkedip.
“Waktu itu,” kata Galih, “aku mau nyentuh pipi kamu. Terus aku berhenti.”
“Aku tahu.”
“Sesenti.”
“Aku tahu, Galih.”
“Aku nyesel.”
Jenar menahan napas.
“Aku nyesel berhenti,” lanjut Galih pelan. “Aku nyesel banyak hal. Tapi yang itu yang paling sering aku inget. Kenapa aku berhenti.”
Jenar memandanginya. Neon di atas mereka menyala. Padam. Menyala.
“Kamu bilang aku baru patah hati sembilan hari,” katanya. “Kamu nggak mau manfaatin.”
“Aku tahu.”
“Itu bukan hal yang harus disesali.”
“Aku tahu,” ulang Galih. “Tapi aku tetep nyesel.”
Ia mengangkat tangan. Pelan. Sangat pelan. Seperti memberi waktu bagi Jenar untuk mundur.
Jarinya mendekati pipi Jenar. Lima senti. Tiga.
Sesenti.
Berhenti.
Jenar memandangi tangan itu. Menggantung di udara, di bawah neon yang berkedip. Persis seperti di teras hotel. Persis seperti di atas bahunya di lantai dapur. Persis seperti di atas liontin di lantai kamar hijau pupus.
Sesenti.
Selalu sesenti.
Jenar yang bergerak.
Ia mencondongkan wajahnya. Satu senti. Pipinya menyentuh ujung jari Galih.
Galih menarik napas. Tajam. Seperti tersengat.
Lalu tangannya tidak lagi menggantung. Telapak tangannya menangkup pipi Jenar. Hangat. Sedikit kasar di bagian dalam jari-jari, seperti tangan orang yang sering memegang sesuatu yang panas. Ibu jarinya bergerak pelan di tulang pipi Jenar.
“Jen,” bisiknya.
“Hm.”
“Boleh?”
Pertanyaan yang sama. Dari malam pertama di teras hotel, dua tahun lalu. Pertanyaan yang waktu itu tidak pernah terucap, karena ia berhenti sebelum sempat bertanya.
Jenar tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memejamkan mata.
Galih menciumnya.
Pelan. Sangat pelan. Tidak seperti di balik pintu kamar dua-empat-satu, yang canggung dan penuh gigi. Tidak seperti di teras dengan lampu neon di malam terakhir, yang dalam dan terburu-buru, seperti orang yang takut waktu habis. Tidak seperti di lantai dapur dengan lilin vanila, yang ragu-ragu dan meraba-raba dalam gelap.
Ciuman ini tidak terburu-buru. Tidak meraba. Tidak takut.
Ciuman ini dipilih.
Jenar merasakannya. Di cara Galih menciumnya, seperti tidak ada tempat lain yang ingin ia tuju. Di cara tangannya di pipinya tidak bergerak ke mana pun. Di cara ia menarik diri sesenti, lalu kembali lagi, seperti memastikan bahwa ini nyata.
Jenar meletakkan tangannya di dada Galih. Di atas kaus abu-abu.
Detak jantung. Kencang. Tidak beraturan.
Sama seperti di Pangandaran. Sama seperti di Green Canyon, di balik pintu kamar hotel, di lantai dapur. Tidak pernah melambat. Hanya sekali ia mendengarnya pelan. Pagi ini. Minggu lalu. Waktu Galih tertidur di karpet dengan Jenar di pelukannya.
Pelan hanya saat tidur. Saat bangun, tidak pernah.
Mereka menarik diri. Dahi Galih menempel di dahi Jenar. Napas mereka bercampur di ruang sempit di antara wajah mereka. Neon di atas berkedip.
Jenar menunggu.
Menunggu kata itu. Kesalahan. Menunggu Galih berdiri, berbalik, memunggunginya, menghadap wastafel atau pintu atau pohon mangga.
Galih tidak berdiri.
“Ini bukan kesalahan,” katanya.
Pelan. Di dahi Jenar. Di ruang sempit di antara mereka.
Jenar memejamkan mata. Lebih rapat.
“Bukan,” katanya.
“Yang di dapur juga bukan.”
“Aku tahu.”
“Aku bohong waktu itu.”
“Aku juga.”
Galih tertawa. Pelan. Tawa yang pecah di tengah. Ia menarik diri sedikit, cukup untuk memandangi wajah Jenar di bawah neon yang berkedip.
“Kita bego, ya,” katanya.
“Kak Astri udah bilang.”
“Di surat.”
“Adik-adikku yang bego.”
Mereka tertawa. Di tangga semen di teras belakang, di bawah pohon mangga yang Leknor tanam waktu Jenar masuk SD, di bawah lampu neon yang tidak pernah diganti, dengan dua cangkir teh melati yang sudah dingin di anak tangga di sebelah mereka.
Lalu Galih menciumnya lagi. Dan tidak ada yang menyebutnya kesalahan.
Mereka tidak membicarakan pantai.
Jenar menyadarinya malam itu, berbaring di kasur single dengan pintu kamar terbuka sejari dan bibir yang masih hangat. Menyadarinya dengan cara yang pelan dan dingin, seperti air yang merembes ke bawah pintu.
Kayak lampu di teras hotel. Galih yang menyebutnya. Dan ia menjawab iya. Dan mereka berbicara soal sesenti, dan soal menyesal, dan soal berhenti.
Tapi mereka tidak berbicara soal pagi terakhir. Soal lorong lantai dua dan kamar yang kosong. Soal satu centang abu-abu. Soal kenapa.
Aturan nomor enam masih di pintu kulkas. Tulisannya sendiri. Jangan bahas pantai. Tidak dicoret. Tidak digaris putus-putus seperti aturan nomor tujuh.
Mereka membicarakan teras. Bukan pantai. Seperti orang yang mengetuk pintu tetangga dan bertanya soal cuaca, padahal yang ingin ditanyakan adalah kenapa rumah tetangga itu terbakar.
Ngomong. Apa pun yang kalian tahan. Sekali aja. Sama orangnya langsung.
Nanti, pikir Jenar. Minggu depan. Waktu yang tepat.
Masih ada tiga bulan.
Ia memejamkan mata dan tertidur dengan liontin hati kecil di genggamannya dan senyum yang tidak mau pergi.
Galih membuka laptop di ruang kerja jam satu pagi.
Email dari Uluwatu. Masih di kotak masuk. Tenggat jawaban mereka tinggal dua hari.
Ia membacanya lagi. Resor di tebing. Roastery sendiri. Program pelatihan barista lokal. Konsep yang sudah ia impikan sejak gerobak di depan kampus, sejak ia dan Fadlan berdiri di trotoar jam lima pagi dengan termos air panas dan mimpi yang terlalu besar untuk gerobak sekecil itu.
We would require you to personally lead the launch on-site for the first six months.
Enam bulan. Di Bali.
Ia memandangi layar itu. Lalu menoleh ke rak buku di sebelahnya. Kotak kecil berpita krem. Foto akad dalam bingkai kecil. Leknor dan Astri. Tersenyum.
Lalu ke saku belakang celananya, yang ia gantung di sandaran kursi meja gambar. Di sana, terlipat empat, kertas kalkir dengan detail taman atap sekolah di tengahnya. Dan di sudutnya, dapur yang digeser tiga puluh senti, dan bar kayu yang menghadap ke luar.
Ia mengklik balas.
Ia mengetik pelan. Dalam bahasa Inggris yang kaku, bahasa Inggris orang yang belajar dari menonton film tanpa takarir dan membaca label biji kopi.
Dear Mr. Kusuma,
Thank you for your generous offer and for your belief in Pratama Coffee. It would have been an honor.
Unfortunately, I am not able to leave Jakarta in the coming months.
Ia berhenti. Jarinya melayang di atas papan ketik.
Lalu ia menambahkan satu kalimat. Kalimat yang tidak perlu. Kalimat yang tidak akan dipahami oleh laki-laki bernama Kusuma di Uluwatu, yang tidak akan pernah tahu soal kopi pagi dan pintu kulkas dan kamar hijau pupus.
I made a promise to stay, and I intend to keep it.
Ia membacanya sekali. Dua kali.
Lalu menekan kirim.
Email itu hilang dari layar. Terkirim.
Galih bersandar di kursi meja gambar Leknor. Memejamkan mata. Menunggu penyesalan datang. Menunggu rasa panik yang biasa muncul setiap kali ia menutup pintu yang tidak bisa dibuka lagi.
Tidak datang.
Yang datang adalah sesuatu yang lain. Ringan. Seperti orang yang baru meletakkan ransel yang terlalu berat setelah berjalan sangat jauh.
Cinta seharusnya membuatmu ringan.
Ia mengatakannya dulu. Di restoran hotel. Di atas piring cumi saus padang. Kalau rasanya sesakit itu, mungkin itu bukan cinta.
Ia membuka mata.
Lalu ia membuka mesin pencari di laptop. Mengetik pelan.
Perak Tasik Pangandaran.
Nomor telepon toko itu masih sama. Terpampang di halaman ulasan di internet, di antara foto-foto etalase kaca dengan lampu kuning dan komentar-komentar pembeli. Ibunya ramah! Harganya pas. Perak asli, nggak luntur.
Galih menelepon keesokan paginya. Jam sembilan. Dari teras depan, dengan pagar besi hijau di depannya dan pohon kamboja yang bergoyang.
Nada sambung. Satu. Dua. Tiga.
“Halo, Perak Tasik, mangga.”
Suara perempuan. Tua. Serak dan ramah. Logat Sunda yang kental.
“Halo, Bu. Maaf ganggu pagi-pagi.”
“Mangga, A. Cari apa?”
“Saya...” Galih menelan ludah. “Bu, saya pernah beli kalung di toko Ibu. Dua tahun lalu. Kalung perak. Liontinnya hati kecil.”
Hening di seberang. Lalu tawa kecil. “Aduh, A. Kalung hati kecil mah Ibu jual ratusan tiap tahun. Semua cowok ujung-ujungnya beli yang itu.”
Galih tertawa. Keras. Sampai Bu Ratmi, yang sedang menyiram tanaman di halaman sebelah, menoleh.
“Iya, Bu,” katanya. “Ibu bilang gitu juga waktu itu.”
“Ya udah, A. Terus kenapa? Rusak? Hitam?”
“Nggak, Bu.” Galih memandangi pohon kamboja. “Nggak hitam sama sekali. Masih terang. Kayak baru.”
“Wah, berarti dipakai terus, A. Perak mah gitu. Kalau disimpen jadi hitam. Kalau dipakai...”
“Makin terang,” kata Galih. “Iya, Bu. Ibu yang bilang.”
Hening di seberang. Lalu, pelan, dengan suara yang tiba-tiba berbeda:
“A. Aa yang dulu bajunya kancingnya salah pasang?”
Galih mengerjap.
“Terus pas bayar, Aa lirik-lirik ke ujung jalan terus. Ke Teteh yang pakai kaus putih. Terus Ibu bilang, buat pacarnya, A? terus Aa bilang, belum, Bu.”
Galih tidak bisa bicara.
“Ibu inget, A,” kata perempuan itu. Tertawa pelan. “Soalnya Aa balik lagi nanya kalung itu tahan air laut atau nggak. Terus Aa bilang, soalnya dia suka pantai tapi nggak bisa renang. Ibu ketawa sampai sore.”
Galih menutup mata. Ia tidak ingat itu. Ia tidak ingat bertanya soal air laut. Ia tidak ingat bilang dia nggak bisa renang.
Tapi ia pasti bilang. Karena itu benar.
“Iya, Bu,” katanya. Suaranya serak. “Itu saya.”
“Terus, A? Mau apa sekarang?”
Galih membuka mata. Memandangi pohon kamboja. Memandangi pagar besi hijau. Memandangi rumah bercat putih yang mengelupas di bawah jendela, dengan lampu dapur yang menyala setiap pagi jam enam kurang.
“Bu,” katanya. “Ibu bisa bikin cincin?”
Fadlan memeluknya di dapur kedai Mampang sampai mereka berdua hampir menjatuhkan karung biji Bajawa.
“CINCIN?”
“Diem, Lan.”
“LO PESEN CINCIN?”
“Lo teriak kayak orang kesurupan.”
“Ya Allah. Ya Allah, Gal.” Fadlan melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Galih. Matanya berkaca-kaca. “Kulkas dua pintu. Delapan tahun gue kenal lo. Lo nggak pernah pesen apa pun buat cewek. Lo bahkan lupa ulang tahun pacar pertama lo waktu SMA.”
“Itu udah lama.”
“Lo mutusin dia lewat nggak bales SMS.”
“Lan.”
“Cincin apa? Emas? Berlian?”
“Perak.”
Fadlan mengerjap. “Perak?”
“Dari toko yang sama.” Galih memandangi karung-karung goni di rak. “Tempat gue beli kalungnya dulu. Ibu yang punya toko inget gue. Katanya dia bisa bikin cincin yang polanya sama. Hati kecil. Di dalemnya. Nggak kelihatan dari luar.”
Fadlan memandanginya lama. Wajahnya berubah. Tidak lagi menggoda.
“Dia masih pakai kalung itu,” katanya pelan.
“Tiap hari. Hampir dua tahun.”
“Lo baru tahu?”
“Gue baru lihat.” Galih tersenyum kecil. “Gue baru berani lihat.”
Fadlan menghela napas panjang. Lalu duduk di atas karung biji Bajawa. Karungnya mengeluh.
“Gal.”
“Hm.”
“Lo udah nanya?”
Galih tidak menjawab.
“Soal pantai. Soal telepon itu.” Fadlan memandanginya. “Lo udah nanya ke dia?”
Galih memandangi karung-karung goni. Gayo. Kintamani. Toraja. Flores Bajawa.
“Belum.”
“Gal.”
“Nanti. Pas cincinnya dateng.”
“Lo mau ngelamar dia sebelum nanya soal itu?”
“Nggak penting lagi, Lan.” Galih menoleh. Wajahnya tenang. Lebih tenang dari yang pernah Fadlan lihat. “Apa pun maksud kalimat itu. Apa pun yang gue denger malem itu. Dia masih pakai kalungnya. Dua tahun. Tiap hari. Di balik kerah. Pas gue pura-pura nggak kenal dia. Pas gue manggil dia Mbak. Pas gue bilang kesalahan.” Suaranya sedikit bergetar. “Itu nggak penting lagi.”
Fadlan memandanginya lama sekali.
“Kalau itu nggak penting,” katanya pelan, “terus kenapa lo nggak nanya aja?”
Galih tidak menjawab.
“Gue nanya karena gue sayang lo, Gal.” Fadlan berdiri dari karung. Menepuk bahunya. “Lo boleh bilang itu nggak penting. Tapi lo udah dua tahun nyimpen kalimat itu di kepala lo kayak prasasti. Hal kayak gitu nggak ilang cuma karena lo liat kalung.”
“Gue tahu.”
“Terus?”
“Terus gue bakal nanya,” kata Galih. “Pas cincinnya dateng. Gue bakal nanya, terus dengerin jawabannya sampai habis. Kayak dia nyuruh gue dengerin lo dulu, di Pangandaran. Terus apa pun jawabannya, gue tetep kasih cincinnya.”
Fadlan memandanginya.
“Janji?”
“Janji.”
Fadlan tersenyum. Menepuk bahunya lagi. Keras.
“Kapan dateng cincinnya?”
“Tiga minggu. Ibunya harus bikin cetakan dulu.”
“Tiga minggu.” Fadlan mengangguk. “Oke. Tiga minggu.”
Malam itu, Galih berdiri di depan pintu kulkas dengan cangkir teh melati di tangan.
Rumah sunyi. Pintu kamar Jenar terbuka sejari. Pintu kamar hijau pupus terbuka lebar. Cahaya lampu jalan jatuh di lantai kayunya.
Dua belas aturan. Aturan nomor tujuh dengan garis putus-putus. Gambar krayon dinosaurus. Kertas USG hitam putih dengan magnet bola voli. Aku nggak mau kayak setengah yang pertama. 12. Sarapan bareng. Setuju.
Matanya naik. Ke aturan nomor enam.
Tulisan tegak dan kecil-kecil. Tulisan arsitek.
6. Jangan bahas pantai.
Ia memandanginya lama.
Spidol ada di laci. Tintanya masih cukup untuk satu garis.
Ia membuka laci. Mengambil spidol. Membuka tutupnya.
Tangannya melayang di atas aturan nomor enam.
Lalu ia menutup spidol lagi.
Nanti. Tiga minggu lagi. Waktu cincinnya datang. Waktu ia bisa mencoretnya dan langsung bicara, dan tidak mundur lagi, dan tidak ada sesenti di antara mereka.
Ia memasukkan spidol kembali ke laci.
Ia punya waktu, pikirnya. Masih ada tiga bulan.
Ia mematikan lampu dapur dan berjalan ke ruang kerja. Di lorong, di depan celah sejari di pintu kamar Jenar, ia berhenti.
Dua detik. Tiga.
Napas yang teratur di balik pintu. Tidur yang sungguhan.
Ia tersenyum ke arah kegelapan dan melanjutkan langkah.
Di pintu kulkas, di belakangnya, aturan nomor enam tetap di tempatnya. Tidak dicoret.
Tiga minggu, pikirnya.
Ia tidak tahu bahwa tiga minggu adalah waktu yang terlalu lama.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!